Beranda blog Halaman 1957

Calon Siswa yang Mendaftar di MTs NU TBS Kudus Semuanya Diterima, Tapi…

0

SEPUTARKUDUS, KAJEKSAN – Suasana kelas di lantai dua tampak sunyi. Puluhan anak terlihat duduk di dalam kelas dengan beberapa kertas di atas meja dan bolpoin di tangannya. Mereka serius mengerjakan soal tes seleksi masuk Madrasah Tsanawiyyah (MTs) NU Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) yang diberikan oleh pengawas, Senin (20/6/2016).

Noor Habib (40), Panitia Pendaftaran Peserta Didik Baru MTs NU TBS Kudus, mengatakan, peserta yang mengikuti tes seleksi berjumlah 484 orang. Menurutnya, seluruh calon siswa tersebut akan diterima menjadi murid di TBS. “Yang mengikuti seleksi ada 484 anak. Dari jumlah tersebut, yang lolos akan langsung masuk kelas tujuh. Jika gagal tes akan masuk di Madrasah Persiapan Tsanawiyyah (MPTs),” ungkapnya.

Sejak MTs NU TBS Kudus berdiri tahun 1934, kata Habib, tidak pernah menolak siswa yang ingin belajar. Perihal tersebut diperintahkan oleh masyayikh-masyayikh TBS. “Di TBS semua anak yang mendaftar diterima. Niatnya ingin tolabul ilmi (mencari ilmu) jadi kami tidak akan menolak. Perintah tersebut langsung dari masyayikh-masyayikh TBS,” terangnya.

Habib menjelaskan, untuk calon siswa yang mendaftar di MTs NU TBS, jika seleksi masuk kelas tujuh gagal, disarankan untuk belajar di MPTs yang juga bagian dari TBS. “MPTs yakni kelas persiapan untuk masuk Mts TBS. Peserta yang gagal seleksi masuk MTs disarankan untuk masuk kelas persiapan. Mungkin ada lulusan SD yang secara pemahaman agamanya kurang,” tambahnya.

Menurutnya, MPTs akan mempelajari tentang ilmu agama. Setelah satu tahun di MPTs baru kemudian melanjutkan di kelas tujuh MTs. “Jalur langsung tanpa tes menjadi siswa MTs di TBS ada dua, yakni siswa yang dulu sekolah madrasah ibtidaiyyah (MI) di TBS dan lulusan MPTs,” terangnya.

Habib memberitahukan, jumlah kelas yang akan ditempati murid kelas tujuh MTs ada 11 kelas. Setiap kelas dihuni 42-44 siswa. “Rata-rata kelas tujuh ada sekitar 473 siswa. Memang kelas kami kelas besar,” tuturnya.

Habib menambahkan, peserta calon didik baru nanti akan diterima dengan sistem pararel. Nilai tertinggi akan masuk di kelas tujuh MTs. Ketika ditanya Seputarkudus.com mengenai kuota yang disedikan untuk peserta yang mengikuti tes seleksi, dia menyatakan belum ditentukan.

Menurutnya, dia masih menunggu siswa MI TBS dan MPTs yang mendaftar ulang di MTs. “Jika dari MI dan MPTs sudah mendaftar di MTs, baru kuota peserta yang mengikuti tes seleksi masuk ditentukan,” jelasnya. Untuk tahun 2016, katanya, jumlah pendaftar di MTs NU TBS Kudus ada 484 orang dan yang langsung di MPTs 36 orang.

- advertisement -

Kisah Teladan (11) Kedermawanan yang Membawa Derajat Kewalian

0

Dikisahkan, ada seorang pemuda berbadan kurus dengan rambut panjang terurai duduk di antara pusara sebuah kuburan. Sesekali pipinya disandarkan di atas tanah kuburan, dan sesekali matanya memandang ke langit. Mulutnya tak berhenti menyebut nama Allah.

Pria tersebut dulu merupakan orang yang fasiq, suka bermaksiyat. Pada suatu malam dirinya bermimpi, kemaluannya menjadi ular yang dari mulutnya menyembur api dan membakar tubuhnya. Ketika dirinya terjaga, dia merasa ketakutan dan lari dari tempat tinggalnya. Dia tidak ingin berada dalam keramaian tempat tinggalnya, dan memilih menyendiri.

Dalam keterasingannya, dia bertaubat dan selalu beribadah serta menyebut nama Allah. Suatu ketika, ada seorang pengemis yang menghampirinya dan meminta baju yang ia kenakan. Pemuda itu kemudian melepas baju dan memberikannya pada pengemis tersebut. 

Suatu ketika, ada orang alim yang melihat pemuda kurus tersebut berada di kuburan. Ketika dihampiri, pemuda tersebut lari tunggang langgang. “Perlahan wahai waliyullah, tunggulah aku,” ujar orang alim tersebut kepada pemuda kurus. 

“Allah,” jawab pemuda kurus tersebut sambil mengangkat tangannya memberi tanda tidak pada orang alim tersebut. “Jika benar demikian, tunjukkan kepadaku atas kesungguhanmu,” kata orang alim tersebut.

Seketika itu pemuda kurus tersebut berteriak menyebut nama Allah dan kemudian pingsan. Orang alim menghampirinya dan menemukan pemuda tersebut dalam keadaan meninggal. Orang alim tersebut kaget dan tak tahu apa yang harus dia lakukan. Tak beberapa lama dia pergi meninggalkan pemuda tersebut dan meminta bantuan penduduk kampung untuk mengurus jasadnya.

Setelah kembali ke tempat pemuda itu pingsan, dia tak melihat jasad pemuda itu. Tiba-tiba dia mendengar suara bahwa pemuda tersebut telah diurus malaikat. “Pemuda ini telah menyelesaikan urusannya dan sekarang sudah dirawat oleh malaikat. Bersedekah dan beribadahlah seperti pemuda ini.”

Kedermawanan adalah pohon di dalam surga yang dahannya menjulur ke dunia. Barang siapa yang berpegang pada dahan itu, dia akan dibimbing menuju ke surga. Sedangkan bakhil, adalah pohon tang ada di dalam neraka yang dahannya menjulur ke dunia. Siapa yang perpegang dahannya, dia akan tersesar ke dalam neraka karena dahan itu. (HR Bukhari dan Baihaqi)

- advertisement -

Sebelum Mudik Lebaran, Inilah Tips Aman Berkendara Motor yang Perlu Diketahui

0

SEPUTARKUDUS.COM – Tak lama lagi musim mudik Lebaran segera tiba. Berbagai alat transportasi bisa dipilih sebagai sarana mudik, di antaranya bus, kereta, mobil bahkan sepeda motor. Bagi masyarakat yang akan mudik dari atau menuju Kudus menggunakan sepeda motor, ini beberapa tips aman berkendara yang perlu diketahui.

Agusti Tunggalsih Priyoko (34), Kepala cabang Yamaha Mataram Sakti Kudus, menuturkan, sebelum berkendara sepeda motor untuk mudik, dianjurkan bagi mereka untuk memeriksa kondisi mesin dan pastikan dalam keadaan baik. Bila tidak mengetahui tentang mesin motor, para calon pemudik bisa memeriksakan motornya di bengkel resmi motor yang dimiliki.

“Membawa surat kendaraan, membawa SIM dan STNK adalah hal yang wajib dilakukan bagi pengendara motor selama perjalanan mudik. Karena kejadian tak terduga di jalan sering membutuhkan kedua surat tersebut,” kata pria yang biasa disapa Agusti kepada Seputarkudus.com.

Dia menambahkan, selama berkendara hendaklah memakai perlengkapan pelindung tubuh yang standar. Beberapa perlengkapan di antaranya helm standar dan berkualitas SNI, memakai pelindung dada serta jaket, serta dianjurkan memakai sepatu.

“Dan jangan lupa membawa persiapan  uang tunai. Berkendara motor dengan jarak tempuh yang jauh belum tentu perjalanan akan lancar. Ada kalanya muncul masalah di jalan, yang solusinya mungkin memerlukan uang,” ungkap Agusti.

Hal yang sama juga dikatakan Asyrofi (34), supervisor di CM Jaya Kudus. Kepada Seputarkudus.com, dia mengatakan, selain beberapa hal tersebut, hal yang juga perlu diperhatikan lainnya yakni terkait kondisi fisik pemudik.

Menurutnya, berkendara motor apalagi dengan jarak tempuh jauh, ketika badan tidak fit bisa berakibat fatal. Tidak jarang terjadinya kecelakaan di jalan raya disebabkan oleh faktor kesalahan pengendara motor tersebut.

“Dan hal yang penting juga , jangan membawa barang terlalu berlebihan. Karena hal tersebut bisa merepotkan dan membahayakan bagi dirinya dan pengendara yang lain,” tambahnya.

  

- advertisement -

Tak Tega Anak Autis Jadi Pengemis, Faiq Dirikan Ponpes Anak Berkebutuhan Khusus

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEDAWANG – Siang itu Muhammad Faiq Afthoni sedang sibuk menyiapkan sesuatu di Pondok Modern Al-Achsaniyyah Kudus. Pondok khusus membimbing santri berkebutuhan khusus yang ia dirikan sekitar tuhuh tahun silam. Dia mendirikan pondok tersebut karena rasa empati terhadap anak-anak autis dan down syndrome yang pernah ia temui di jalan.

Pondok Pesantren Modern Al-Achsaniyyah terletak di Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, sekitar 200 meter masuk ke gang Jalan Mayor Kusmanto. Dibangun di area lahan seluas 3.850 meter persegi, terdapat bangunan musala, beberapa kelas dan kamar-kamar kecil yang digunakan untuk tempat tinggal para santri.

“Pendirian Pondok Modern Al-Achsaniyyah tahun 2007, bermula karena rasa empati saya terhadap anak-anak yang pernah saya temui di jalanan,” ujar Faiq kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.

Dia menceritakaan, saat itu dia menemui anak autis yang dipekerjakan orang untuk mengemis di jalanan. Karena tidak tega, anak tersebut dibawanya untuk dirawat.

“Saya kasihan kepada anak-anak berkebutuhan khusus kurang mendapatkan perhatian yang layak. Akhirnya keinginan saya untuk mendirikan pondok seperti Pondok Modern Darussalam Gontor berganti dengan mendirikan Pondok Autis ” tutur Faiq yang pernah nyantri di Pondok Modern Ar-Risalah Ponorogo dan Ponpes Tambak Beras, Jombang.

Keinginannya menguat setelah mengetahui  anak-anak autis menjadi target agama tertentu. “Selain ada rasa empati, ternyata anak-anak autis juga menjadi target agama tertentu. Akhirnya saya semakin yakin mendirikan pondok penyandang autis kemudian saya beri nama Pondok Modern Al-Achsaniyyah,” terangnya.

Dia melanjutkan, hingga sekarang Pondok Modern Al-Achsaniyyah mempunyai santri 80 orang dan 55 pendamping. Di atas tanah wakaf dari Kusmin (almarhum) menurutnya sudah dibangun beberapa bangunan kelas untuk Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Sunan Muria, musala, aula dan kamar tidur untuk santri tinggal.

“Tempatnya sudah penuh. Kemarin ada dari Iraq dan Malaysia telepon ingin memondokkan anaknya. Namun saya tolak, karena keterbatasan tempat dan komunikasi Bahasa Arab dari pembimbing yang minim,” ungkap lulusan Jurusan Syariah Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Pondok yang letaknya di tengah persawahan Desa Pedawang, selain mengajarkan santrinya ilmu agama juga membimbing mereka untuk bisa hidup mandiri sesuai minat dan bakatnya. Menurutnya santri juga dididik untuk bisa menerima instruksi dari orang lain dengan pendampingan dan terapi. Di antaranya, terapi okupasi, perilaku, integrasi, wicara, irama atau musik, aktivitas sehari-hari, fisioterapi, hypnoterapi dan akupuntur.

“Pengajaran tidak fokus pelajaran seperti di sekolah formal, melainkan lebih kemandiran dan minat bakat,” tutur Faiq yang sudah mengahabiskan enam tahun untuk mendalami ilmu dasar Tibuun Nabawi dan bekam spesialis ilmu kedokteran islam di International Cultural Center (ICC) Mesir dan mendalami homoepathy (Ilmu tentang obat herbal) di The Faculty of Homeopathy Malaysia.

- advertisement -

Toko Makanan Ringan di Wergu Kudus Ini Keawalahan Layani Pembeli Jelang Lebaran

0

SEPUTARKUDUS.COM, WERGU KULON – Di tepi Jalan Johar, Kudus, tepatnya di sebelah barat Taman Wergu, terlihat sebuah toko dengan bangunan dua lantai tampak ramai. Di dalam bangunan terlihat penuh tumpuk kardus snack makanan ringan tersusun rapi. Puluhan orang memilih dan mengambil barang yang akan mereka beli. Toko tersebut yanki Seneng Santoso, toko snack dan makanan ringan di Kudus yang selalu dipenuhi pembeli, khususnya saat Ramadan dan menjelang Lebaran.

Sulistiowati (46), pemilik Toko Seneng Santoso mengatakan, toko miliknya menjual berbagai macam makanan ringan dan snack. Dan pembelinya selalu meningkat dua kali lipat pada Ramadan. Mereka yang belanja kebanyakan para pedagang di Kudus, maupun pedagang dari luar Kudus.

“Setiap hari pada Ramadan tokoku memang selalu ramai pembeli, apalagi nanti mendekati Lebaran. Toko Seneng Santoso miliku semakin ramai pembeli yang membeli berbagai makanan ringan serta snack untuk dijual lagi sebelum Lebaran,” kata wanita yang biasa disapa Cik Lilis kepada Seputarkudus.com.

Cik Lilis mengaku mendapatkan berbagai macam makanan ringan dan snack dari pelaku industri rumahan di Kudus. Ada juga yang dikirim dari distributor produk makanan ataupun minuman dengan merek yang sudah terkenal.

“Toko ku ini dikenal orang dengan toko yang menjual berbagai makanan ringan serta snack, tetapi untuk melengkapinya aku juga menjual berbagai barang yang berhubungan dengan minuman, di antaranya susu, sirup, minuman bersoda,” ujar Lilis.

Didirikan Tahun 1995

Lilis mengatakan, toko yang berada di Desa Wergu Kulon, Kecamatan Kota, Kudus, dia dirikan pada tahun 1995 tanpa mempekerjakan satu orang sekalipun. Selang beberapa tahun ada peningkatan penjualan, baru dirinya mencari tenaga kerja untuk membantu melayani para pembeli. Dan sekarang ada sekitar 10 orang yang bekerja di Toko Seneng Santoso.

Sepuluh pekerja tersebut, katanya, ada yang bertugas menjadi kasir, tukang angkat barang para pembeli ke mobil, serta ada beberapa orang bertugas mengepak barang dagangan di lantai dua.

“Meskipun ada 10 pekerja aku tidak serta merta hanya mengawasi. Pada waktu ramai pembeli, dan terlihat ada karyawan yang kewalahan, aku dan suamiku tidak segan untuk membantu mereka,” ujarnya.

Di balik meja kerja, sambil berdiri Lilis sesekali memperhatikan sebuah layar monitor yang terhubung dengan kamera CCTV. Dia juga kadang memberi imbauan kepada para karyawanya lewat pengeras suara.

“CCTV ini sangat membantu sekali dalam pengawasan toko, selain dari tangan jahil juga bisa mengawasi barang pembeli yang ketinggalan. Soalnya dulu pernah belanjaan pembeli ketinggalan di toko ini. Jadi barang tersebut bisa kami cek lewat CCTV,” ungkap Lilis.

- advertisement -

Mbah Parman Bersepeda Jual Pepaya Karena Tak Ingin Repotkan Anak-Anaknya

0

SEPUTARKUDUS.COM, CENDONO – Di bawah gerimis seorang pria tua tampak memegangi sepedanya di tepi jalan antara Desa Singocandi dan Kelurahan Kajeksan, Kecamatan Kota, kudus. Di boncengan sepeda ontel miliknya tersebut terlihat dua keranjang bamu di kiri serta kanan. yang dipenuhi pepaya. Suparman (70), nama lelaki tua tersebut, hidup sendiri dan menjual pepaya untuk menyukupi kebutuhan.

Pada Ramadan tahun ini dia berpuasa, seperti tahun-tahun sebelumnya. Suparman menuturkan, sudah puluhan tahun dirinya hidup menduda. Dan sejak itu saat Ramadan datang, dia sahur dan berbukanya membeli makan di warung, tak jarang dia juga memasak sendiri.

“Seringnya aku membeli makanan di warung untuk sahur dan berbuka, soalnya kalau masak sendiri tidak sempat. Paling nanti, aku juga berbuka di warung yang aku lewati dalam perjalanan pulang, soalnya sudah sore, pepaya juga masih banyak,” kata Suparman kepada Seputarkudus.com.

Pria tua yang mengenakan kemeja batik tersebut mengatakan, sebenarnya dia memiliki empat anak tetapi sudah menikah semua. Dia mengaku tidak mau bila merepotkan kehidupan ke empat anaknya.

“Aku bisa saja menggantungkan hidup kepada ke empat anaku, atau satu di antara mereka. Tetapi aku tidak mau merepotkan mereka, karena mereka juga sudah berumah tangga dan punya tanggung jawab untuk keluarganya. Selagi aku masih bisa bekerja, aku selalu berusaha memenuhi kebutuhanku sendiri. Dan bila ada sisanya bisa memberi uang sekedar buat jajan cucu-cucuku,” kata Suparman.

Warga Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kudus, itu mengatakan, sudah berjualan buah keliling sekitar 25 tahun. Dia tidak melulu berjualan pepaya, terkadang dia juga menjual mangga atau buah lain.

Pria yang mempunyai tujuh cucu tersebut mengungkapkan, tiap pagi dia belanja ke Pasar Dawe membeli pepaya lalu menjualnya. Harga pepaya sekitar Rp 3 ribu dan yang paling mahal Rp 20 ribu per buah.  “Tidak semua Pepaya ku bisa habis terjual dalam sehari, biasanya membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga hari untuk menjual habis pepaya ini,” ungkap Suparman.  

- advertisement -

Inilah Asal Nama dan Sejarah Berdirinya Ponpes Yanbuul Quran Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, KAJAKSAN – Letaknya kurang lebih 1,5 kilometer dari pusat  Kabupaten Kudus. Jarak dari Menara Kudus hanya sekitar satu kilometer. Dari depan, bangunan pondok tersebut tampak berlantai satu. Tertulis di papan nama yang terbuat dari semen, Yayasan Arwaniyyah Ma’had Al-Khafid Yanbuul Quran (Pondok Tanfidh Yanbuul Quran).

Hilmi, Pengurus Pondok Tanfidh Yanbuul Quran Kudus menjelaskan, nama Yanbu’ diambil dari ayat Al-Quran Surat Al-Isra ayat 90. “Waqoluu lannu’mina laka khattaa tafjuralanaa minal ardhi yanbuaa’,” ungkapnya.

Nama tersebut, kata Hilmi, dipilih langsung oleh pendiri Pondok Yanbuul Qur’an yakni KH M Arwani Amin. Menurut cerita, Yanbuul Quran berarti mata air (sumber) Al-Quran. Pendiri berharap Pondok Tanfidh Yanbuul Qur’an bisa benar-benar menjadi sumber ilmu. “Nama tersebut dipilih langsung oleh KH M Arwani Amin, pendiri pondok ini,” ungkapnya ketika ditemui di Pondok Yanbu’ul Qur’an Dewasa.

Dia menceritakan, cikal bakal berdirinya pesantren Pondok Tanfidh Yanbuul Quran berawal dari pengajian yang diampu oleh KH M Arwani Amin tahun 1942 di Majid Kenepan. Di masjid tersebut, dia menerima santri yang ingin mengaji Al-Quran baik Bin Nadhor maupun Bil Ghoib. Namun pengajian tersebut sempat terhenti sebab kesibukan KH M Arwani Amin yang menuntut ilmu Trariqoh di Pesantren Popongan, Solo. “Rentang waktunya antara tahun 1947 hingga 1957,” tuturnya.

Selanjutnya, tahun 1957 pengajian tersebut kembali dilanjutkan di Masjid Busyro Latif. Tepatnya tahun 1962 KH M Arwani Amin memindahkan pengajian di rumahnya yang baru, tidak jauh dari Masjid Busyri Latif. Letaknya di Kelurahan Kajeksan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. “KH Arwani mempunyai rumah baru di Kelurahan Kajeksan, dan pengajiannya dipindah di rumahnya,” terangnya.

Hilmi meneruskan cerita, berjalannya waktu santri yang belajar dengannya semakin bertambah. KH Arwani berniat mendirikan sebuah pesantren yang bisa menampung santri-santri yang belajar kepadanya. Tahun 1973 berdirilah pesantren dengan nama Yanbuul Qur’an.

Menurut cerita yang didapat Hilmi, ada empat tujuan pokok berdirinya Pondok Tanfidh Yanbuul Quran, yakni menyediakan pemukiman bagi santri yang ingin belajar dan menghafal Al-Quran, memudahkan kontrol santri yang sedang belajar, menjaga kemurnian Al-Quran. “Terakhir, turut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa,” terangnya.

Dia memberitahukan, pada 1 Oktober 1994, KH M Arwani Amin berpulang ke Rahmatullah. Pengelolaan pondok dilanjutkan oleh anaknya KH M Ulin Nuha Arwani dan KH M Ulil Albab Arwani, serta seorang murid kesayangan KH Arwani yakni KH Muhammad Mansur Maskan. “Namun (KH Muhammad Mansur Maskan ) sudah meninggal.” Tuturnya.

- advertisement -

Anggota Darbuka Kudus Club Tetap Latihan Tiap Akhir Pekan Selama Ramadan

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Di waktu sore menjelang Maghrib, tampak puluhan orang pria dan wanita duduk membentuk lingkaran di lantai Alun-alun Simpang Tujuh, Kudus. Mereka memainkan alat perkusi darbuka di pangkuanya. Puluhan orang tersebut merupakTan anggota komunitas darbuka, yang tergabung dalam Darbuka Kudus Club (DKC).

Mereka memukul secara bersamaan alat tersebut dengan tempo yang berbeda. Hingga terdengar sinkronsinasi suara dari alat satu dengan alat yang lainya. Itu menjadikan suara yang dihasilkan enak didengar. Dani Raka Syahputra (23), Ketua DKC mengatakan, sebelum Ramadan DKC setiap Sabtu sore pukul 16.00 WIB berkumpul serta latihan di Simpang Tujuh Kudus.

Sejak puasa, latihan di Simpang Tujuh Kudus menjadi dua mingggu sekali. Karena menurutnya pada bulan Puasa latihan tidak maksimal. “Makanya pada bulan Ramadan ini kami tetap berkumpul tetapi waktunya dibuat dua pekan sekali,” ujar pria yang akrab disapa Dani kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.

Bagi anggota wanita, katanya, mereka pulang setelah salat Maghrib di Masjid Agung. Sedangkan untuk yang pria melanjutkan latihan sampai larut malam atau mengobrol tentang kegiatan hadroh di grup masing-masing.

Dani menuturkan, semua yang terdaftar anggota Darbuka Kudus Club kebanyakan ikut hadroh. Jadi mereka hampir semua sudah ahli memainkan alat tersebut. Sedangkan di DKC mereka mengasah ke kompakan, serta tempo penabuhan darbuka biar tidak tumpang tindih satu dengan yang lainya.

Pria yang tercatat sebagai warga Desa Prambatan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, mengatakan, DKC tebentuk pada 2013, dengan anggota saat itu hanya lima orang. Saat ini sekarang anggota DKC sudah sekitar 40 orang yang semuanya orang Kudus, Meskipun berasal dari desa yang berbeda.

“Sebenarnya yang ingin ikut masuk komunitas DKC banyak, tetapi mereka kebanyakan terkendala harga darbuka yang lebih dari Rp 1 juta. Untuk seif percusion harga paling murahnya mencapai Rp 1,4 juta, sedangkan untuk yang ukuran jumbo harganya sekitar Rp 2,2 juta,” ungkap Dani.

- advertisement -

Di Kajeksan Ada Masjid Seribu Saka, Meski di Dalamnya Hanya Ada 10 Tiang

0

SEPUTARKUDUS.COM, KAJEKSAN – Suasana disekitar masjid tampak sepi. Terlihat dari depan bangunan masjid berlantai satu dengan halaman yang cukup luas. Letaknya di sebelah timur Pondok Ma’hadul ‘Ulumisy Syar’iyyah Yanbu’ul Qur’an Putra, Kelurahan Kajeksan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Masjid Kuwanaran, nama masjid itu, yang dikenal dengan sebutan masjid seribu tiang (saka).

masjid kuwanaran kudus

Arifin, alumni Pondok Ma’hadul ‘Ulumisy Syar’iyyah Yanbu’ul Qur’an Putra yang lulus tahun 2011, menceritakan, ketika dia masih mondok dulu, santri-santri pondok dan masyarakat sekitar lebih akrab menyebut Masjid Kuwanaran dengan sebutan masjid seribu tiang.

“Populernya dengan nama masjid 1000 tiang,” ungkap Arifin kepada Seputarkudus.com, ketika ditemui di kediamannya, Kelurahan Kajeksan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jumat (17/6/2016).

Bangunan Masjid Kuwanaran berlantai satu dengan teras bagian depan yang terdapat bedug. Di ruang utama solat sepuluh tiang berdiri kokoh dengan ruang pengimaman yang menjorok ke dalam. Sebelah selatannya, tempat wudlu berhiaskan cermin lebar. Di sebelah barat tempat wudlu terdapat ruangan yang penuh dengan Al-Quran dengan tiga tiang berwarna merah yang terbuat dari kayu.

masjid kuwanaran kudus

Pengurus Masjid Kuwanaran, Djasiran (65) mengungkapkan, kebanyakan para santri menyebut Masjid Kuwanaran dengan nama masjid seribu tiang. Itu karena mungkin terdapat banyak tiang di ruang utama salat. Namun menurutnya tidak sampai seribu, cuma sepuluh saja. “Aneh-aneh saja anak pondok. Cuma ada 10 tiyang di ruang utama solat. Memang terlihat berbeda dengan masjid-masjid lain,” terangnya.

Menurutnya, bangunan tiang tersebut masih asli dari pertama kali berdiri. Dia memberitahukan, di sebelah kanan-kiri bangunan asli sudah ditambah bangunan baru. “Yang asli bangunan yang berada di tengah. Bagian depan, kanan dan kiri sudah ditambah ruangan baru untuk salat,” tambahnya.

Djasiran mengungkapkan, pendirian Masjid Kuwanaran sampai hari ini tidak ada yang tahu. Hanya diketahui renovasi masjid yang dilakukan sekitar tahun 1960 oleh Sumardi, putra Kiai Hambali. Masjid Kuwanaran digunakan untuk pusat pengajian Thoriqoh Naqsyabandiyah. “Pendiri dan tahun berdirinya belum ada yang mengetahuinya. Kalau dikira-kira sebelum tahun 1960,” tuturnya.

masjid kuwanaran kudus

Menurutnya ada satu tokoh yang dimakamkan di belakang masjid, yakni Mbah Wanar. Namun masyarakat tidak mengetahui nama asli Mbah Wanar, berasal dari mana dan meninggalnya kapan. “Masyarakat percaya Mbah Wanar ialah tokoh di Dukuh Kuwanaran yang sekaligus digunakan menjadi nama masjid tersebut,” jelasnya.

Dia memberitahukan, selain untuk salat, masjid juga digunakan untuk mengaji Jamaah Thoriqoh Naqsyabandiyah. “Masjid Kuwanaran tidak digunakan untuk salat Jumat. Tempat tersebut hanya untuk salat lima waktu dan tempat mengaji jamaah Thoriqoh Naqsyabandiyah,” tuturnya.

- advertisement -

PO Haryanto, Bus Bergambar Menara Kudus yang Setia Layani Penumpang Hinga Lebaran

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBAL – Di sebelah barat Jalan lingkar Desa Ngembal Kudus, Kecamatan Bae, terdapat sebuah lorong menyerupai gang. Panjangnya sekitar 15 meter. Lorong tersebut merupakan jalan masuk menuju pul Perusahaan Otobus (PO) Haryanto. Perusahan yang memiliki armada bus bergambar Menara Kudus ini tetap memberangkatkan penumpangnya ke berbagai tujuan, meski saat Ramadan dan menjelang Lebaran jumlah penumpang tak banyak.

bus haryanto kudus

Rajamudin (32), staf PO Haryanto menuturkan, selama Ramadan penumpang bus manapun terbilang sepi. Apalagi Ramadan tanggal 10 sampai 20, jumlah penumpang semakin menurun. Meski begitu, sebagai perusahaan jasa pihaknya senantiasa melayani penumpang sebaik mungkin.

“Demi kenyamanan para pelanggan PO Haryanto, kami tetap memberangkatkan para penumpang yang tidak seberapa jumlahnya tersebut ke tujuan masing-masing, sesuai yang tertulis di tiket,” kata pria yang biasa disapa Raja kepada Seputarkudus.com.

Raja menuturkan, saat Ramadan seperti ini, PO Haryanto melayani pembelian tiket serta pemberangkatan sampai tanggal 23 Ramadan. Setelah tanggal tersebut PO Haryanto tidak melayani pembelian tiket, tetapi tetap memberangkatkan para pelanggan yang sudah memesan tiket pada jauh hari sebelumnya.

“Logikanya kan pada tanggal tersebut, masyarakat Kudus jarang yang pergi ke Jakarta atau daerah sekitarnya. Kalaupun ada pasti mereka sudah pesan jauh hari dari tanggal hari pemberangkatan,” ujar Raja.

Di papan informasi tertulis, harga tiket bus Haryanto tujuan Pulogadung Rp 180 ribu, kota-kota di Jabotabek Rp 200 ribu, sedangkan untuk Balaraja, Serang, Merak, Cilegon, Rp 220 ribu.

Di dalam area pul PO Haryanto Desa Ngembal, Kecamatan Bae, mirip sebuah Show Room bus. Di sana terdapat puluhan bus berjajar. Terlihat beberapa bus diservis oleh beberapa teknisi untuk keamanan mesin saat berkendara. Di sudut lain tampak beberapa wanita sedang menjemur ratusan selimut dan sarung bantal.

“Di PO Haryanto keadaan mesin selalu dicek saat bus masuk pul. Ini demi menjaga keselamatan serta jangan sampai mogok di jalan, dan memperlambat para penumpang sampai tujuan. Kebersihan bus, selimut serta sarung Bantal selalu dijaga. Pokoknya keselamatan, kenyaman, ketepatan waktu bagi penumpang itu nomer satu,” terang Raja.

- advertisement -

Kisah Teladan (10) Sahabat Nabi yang Celaka Karena Terlalu Menyintai Hartanya

0

Pada masa Rasulullah ada seorang sahabat bernama Tsa’labah Bin Hatib. Dia merupakan sahabat yang tergolong miskin. Saking miskinnya, dia hanya memiliki sehelai kain yang digunakan bergantian bersama istrinya. Suatu hari selesai salat bersama Rasulullah di masjid, Tsa’labah tergesa-gesa pergi tanpa berdoa. Lalu dia ditegur Rasulullah. 

 “Ya Rasul, saya hanya punya sehelai kain. Setelah saya selesai salat, istri saya di rumah sedang menunggu kain ini untuk digunakannya salat. Doakan saya ya Rasul agar Allah memberi rezeki harta kepada saya,” ucap Tsa’labah kepada Rasul, yang setiap waktu datang ke masjid untuk salat berjamaah.

“Sedikit tapi engkau syukuri lebih baik daripada banyak tapi kamu tidak kuat menerimanya,” sabda Nabi kepadanya.

Di lain waktu, Tsa’labah memberanikan diri untuk didoakan Nabi untuk kedua kalinya. Namun Nabi lagi-lagi menolak. Tsa’labah kemudian datang kali ketiga, dan meminta Nabi mendoakannya agar diberikan rezeqi harta.

“Demi Allah yang telah mengutus-Mu, jika aku diberikan rezeqi akan aku berikan kepada siapa saja yang berhak menerimanya (zakat),” kata Tsa’labah. Nabi pun kemudian berdoa kepada Allah agar sahabat-Nya itu diberi rezeqi harta oleh Allah. 

Mula-mula Tsa’labah diberi seekor kambing oleh Nabi, dan kemudian dipelihara. Kambing itu berkembang biak, sehingga Tsa’labah memiliki banyak sekali kambing untuk diternak. Bahkan, saking banyaknya, dia harus menjauh dari Madinah, untuk menggembalakan kambing-kambingnya.

Tsa’labah yang dulu selalu datang ke masjid untuk salat berjamaah, kini hanya sempat menunaikan salat Jumat sepekan sekali saat pulang ke madinah. Kambing yang semakin banyak, membuatnya bahkan suatu ketika tak bisa ke masjid untuk salat meski sepekan sekali.

Suatu ketika, Nabi teringat dengan Tsa’labah. Dia menanyakan kepada sahabat yang lain perihal Tsa’labah yang tak pernah datang ke masjid. Mendengar cerita dari para sahabat, Nabi bersabda,”Celaka Tsa’labah.”

Suatu hari Nabi mengutus dua orang untuk datang kepada Tsa’labah. Mereka diutus untuk meminta zakat harta yang dimiliki Tsa’labah. Setelah menerima surat yang dibawa dua utusan itu dari Nabi, Tsa’labah membacanya. 

“Ini semacam pajak ya. Nanti saya akan pikir-pikir dulu,” ujar Tsa’labah yang kemudian meminta dua utusan itu pulang tanpa diberikan apapun.

Mendapat laporan dari dua utusan, Nabi kemudian bersabda, “Celakalah Tsa’labah untuk kedua kalinya.” Allah kemudian berfirman menurunkan ayat Taubat, terkait peristiwa tersebut. 

Ketika Nabi membacakan wahyu yang diturunkan Allah tersebut, ada seorang kerabat Tsa’labah yang mendengarnya. Dia pun memberitahukan kepada Tsa’labah. Tak berselang lama, sahabat yang dulu selalu bersalat jamaah dengan Nabi di masjid itu kemudian datang dengan membawa sedekah hartanya.

Namun, Nabi menolah menerima zakat yang diberikan Tsa’labah karena dilarang oleh Allah. Tsa’labah kemudian datang kepada Abu Bakar, Umar, dan Utsman, namun mereka juga menolaknya. Tsa’labah meninggal pada masa kepemimpinan Khalifah Utsman. 

- advertisement -

Ini Syarat-Syarat Mondok di Yanbuul Quran Kudus untuk Anak-Anak

0

SEPUTARKUDUS.COM, KAJEKSAN – Lima orang masih duduk di Kantor Pengurus Pondok Tahfid Yanbu’ul Quran Dewasa, Desa Kajeksan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Mereka hadir menanyakan pendaftaran santri baru di pondok tersebut belum lama ini. Seorang perempuan dari rombongan itu bertanya tentang pendaftaran Yanbu’ul Quran anak-anak.

Hilmi (21) Pengurus Pondok Tahfid Yanbu’ul Quran menuturkan, syarat mendaftar untuk anak-anak putra maupun putri maksimal harus berumur tujuh tahun. Nantinya juga masih ada seleksi tes hafalan. “Jadi syarat mutlaknya, umur maksimal tujuh tahun. Nanti ada seleksi bacaan Al-Quran dan hafalan wajib,” tuturnya.

Menurutnya, untuk pendaftaran Yanbu’ul Quran Anak-anak putra dapat mendatangi di alamat Jalan  KH. Muhammad Arwani No.12 Krandon. Untuk Yanbu’ul Quran Anak-anak putri di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kudus. “Namun sayang pendaftarannya sudah tutup,” terangnya.

Hilmi memberitahukan, pendaftaran Pondok Tahfid Yanbu’ul Quran anak-anak mengikuti tahun ajaran baru. “Yakni bulan Sya’ban kemarin” ungkapnya ketika ditemui belum lama ini.

Kepada Seputarkudus.com, dia menuturkan, Pondok Tahfid Yanbu’ul Quran Anak-anak Putra maupun Putri semunya sudah ditutup. Yang sekarang masih buka ialah Pondok Tahfid Yanbu’ul Quran Remaja dan Dewasa.

“Untuk Tahfid Yanbu’ul Quran Remaja tanggal 18 hingga 19 Juni 2016 dan Tahfid Yanbu’ul Quran Dewasa tanggal 16 sampai 25 Juli 2016. Pendaftaran bisa melalui online dengan mengunjungi web www.arwaniyyah.com,” terangnya.

Menurut penjelasannya, Pondok Tahfid Yanbu’ul Quran Remaja bertempat di Bejen Kelurahan Kajeksan, Kecamatan Kota, Kudus. Santri-santri yang mondok di Yanbu’ul Quran Remaja masih mengikuti sekolah formal. Mereka sambil bersekolah di Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) dari tingkatan MTs maupun MA. “Kalau yang Yanbu’ul Quran Dewasa, fokus menghafalkan Al-Quran saja,” tuturnya.

Hilmi menambahkan, untuk Pondok Tahfid Yanbu’ul Quran Remaja nantinya ada seleksi dengan sistem karantina selama tiga hari dimulai tanggal 21 sampai 23 Juni 2016. Mereka akan dites bacaan Al-Quran dan sikapnya selama karantina. “Pengumuman hasil seleksi akan diumumkan tanggal 25 Juni 2016,” ungkapnya.

Dia memberitahukan, calon wali santri biasanya ke Pondok Tahfid Yanbu’ul Quran Dewasa untuk mendapatkan informasi. Selain tempat ini digunakan untuk hafalan santri, Pondok Tahfid Yanbu’ul Quran Dewasa ialah Pondok pusat Yanbu’ul Quran yang dinaungi Yayasan Arwaniyyah Kudus.

- advertisement -

Anggota PMII UMK Keluarkan Iuran untuk Sediakan Takjil Gratis Bagi Pengemis

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Sejumlah mahasiswa mempersiapkan es buah sebelah kawasan Ruko Ronggolawe, Kudus. Mereka dengan sigap menyebar di sekitar Jalan Jendral Ahmad Yani, Jalan Mayor Basuno dan Pasar Bitingan. Dengan membawa kardus, mereka membagikan takjil gratis berupa es buah kepada pengemis, tukang becak dan tukang parkir untuk berbuka puasa, Kamis (16/6/2016).

Imam Hasan Ansori menuturkan, pembagian takjil gratis tersebut dilakukan oleh Anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Sunan Muria Universitas Muria Kudus (UMK) sejumlah 150 gelas. Menurutnya, dana untuk menyediakan takjil dia dapatkan dari iuran anggota PMII. “Kami iuran untuk berbagi kebahagian di bulan penuh berkah ini,” tuturnya.

Imam yang juga Ketua Komisariat PMII Sunan Muria menuturkan, walaupun takjilnya terbilang sedikit, namun dia tetap bangga kepada anggotanya yang sudah mau iuran untuk membagikan takjil gratis. “Esensinya anggota PMII diajarkan untuk berjiwa sosial,” ungkapnya.

Hasan memberitahukan, Nilai Dasar Pergeraka PMII senantiasa berperilaku baik dengan dengan sesama manusia. Terutama dengan kaum mustada’fin. “Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII yakni, Taukhid, Hablumminallah (hubungan dengan Allah), Hablumminannas (hubungan dengan sesama manusia)dan Hablumminal alam (hubungan dengan alam),” terangnya.

Menurutnya, dengan cara iuran bersama bisa mengajarkan anggota PMII tentang makna berbagi. “Ini salah satu cara kami untuk mengajarkan kader PMII peduli dengan masyarakat,” ungkapnya.

Kegiatan berbagi takjil gratis menurut Hasan diikuti tiga organisasi di bawah kepemimpinannya. Yakni, PMII Rayon Teknik, Rayon Ki Hadjar Dewantara Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan Rayon Mohammad Hatta Fakultas Ekonomi. “Tiga organisasi tersebut kepengurusan PMII di lingkup fakultas di UMK,” tuturnya.

- advertisement -

Masjid yang Dibangun Sunan Kudus Ini Tak Digunakan untuk Jumatan

0

SEPUTARKUDUS.COM, LANGGAR DALEM – Bangunan masjid di Desa Langgar Dalem, Kecamatan Kota, Kudus, ini tampak seperti kebanyakan masjid di Kudus. Bagian depan terdapat serambi beralas keramik. Bagian dalam terdapat karpet memanjang dan di bagian depan terdapat mimbar khotbah dan pengimaman. Namun, siapa sangka, Masjid Jami Kaujon ini dulu dibangun Sunan Kudus, di masa yang sama ketika membangun Masjid Menara Kudus.

masjid kaujon kudus

Iqomat salat Ashar terdengar keras dari speaker Masjid Jami Kaujon. Sejumlah jamaah bergegas menuju ruang utama untuk menunaikan salat Ashar. Seusai salat, Mustamir (60), Takmir Masjid Kaujon berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang masjid itu.

Mustamir menceritakan, Masjid Kaujon dibangun oleh Sunan Kudus bersamaan dengan berdirinya Masjid Menara. Namun secara bangunan, bentuk dari Masjid Kaujon masih kecil seperti musala. Menurutnya, Sunan Kudus sudah menamainya dengan nama masjid bukan musala, dengan alasan agar bisa digunakan untuk salat Tahiyatul Masjid.

masjid kaujon kudus

“Bersamaan dengan berdirinya Masjid Kaujon, Sunan Kudus mendirikan beberapa tempat beribadah dan mengaji berukuran kecil di sejumlah tempat yang ada di Kudus. Namanya sudah masjid. Karena Sunan Kudus ingin setiap jamaah yang salat Tahiyatul Masjid,” terangnya.

Dia menceritakan, dulu Masjid Kaujon kecil tak sebesar sekarang. Aktivitas masjid hanya untuk salat lima waktu dan pengajian saja. “Masjid Kaujon belum digunakan untuk ibadah salat Jumat. Bentuknya seperti  musala namun namanya masjid. Kalau salat Jumat semuanya ke Masjid Menara Kudus,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com, Rabu (15/6/2016).

Tahun 2005 Mulai Digunakan untuk Jumatan

Menurut cerita, katanya, Masjid Kaujon direnovasi sekitar tahun 1985. Saat itu fungsinya masih tetap hanya digunakan untuk salat lima waktu dan mengaji kitab kuning saja. Lalu, sekitar 2005 masjid itu mulai digunakan untuk salat Jumat. “Sekarang Masjid Kaujon sudah luas. Jamaah ketika salat Jumat penuh,” tuturnya.

Mustamir memberitahukan, bangunan yang masih asli dari Masjid Kaujon yakni empat saka masjid dan pengimaman. Dari namanya, Masjid Kaujon diambil dari nama dukuh letak masjid berdiri. “Masjidnya terletak di Dukuh Kaujon, masuk Desa Langgar Dalem,” terangnya.

Jamaah Masjid Kaujon, kata Mustamir, dulu dipimpin KH Turaichan Adjhuri. Setelah itu dilanjutkan oleh KH Ma’ruf Irsyad yang juga mempunyai Pondok Pesantren Roudlotul Muta’allimin, yang letak tidak jauh dari masjid tersebut. “Masjid Kaujon sering digunakan tempat mengaji santri-santri Pondok Pesantren Roudlotul Muta’allimin,” tambahnya.

- advertisement -

Jika Kerupuknya Terjual, Jumisih Bisa Memasak untuk Buka Puasa Bersama Suami dan Anaknya

0

SEPUTARKUDUS.COM, PLOSO – Di bawah terik matahari di pertigaan barat Pasar Bitingan tampak seorang perempuan mengenakan baju merah motif kembang. Perempuan mengenakan caping itu sedang bersandar tembok sebuah pabrik rokok, sambil memegangi sepedanya. Di boncengan sepeda terlihat bungkusan plastik besar berisi kerupuk, yang hendak ia jual kepada para buruh pabrik. Setelah mendapat uang dari menjul kerupuk, dia belanja kebutuhan dapur, kemudian memasak untuk buka puasa bersama suami dan anaknya.

Jumisih (53), nama perempuan penjual kerupuk tersebut. Biasanya selain dia bisa menjual habis dua kantong plastik besar yang berisi 2 ribu kerupuk. Dari hasil penjualan dua kantong besar plastik tersebut Jumisih mendapatkan untung Rp 30 ribu. Tetapi pada Ramadan ini dia hanya mampu menjual seprauh dari hari biasa, dan hanya bisa mendapat untung Rp 15 ribu.

“Hari ini termasuk bagus, aku sudah menjual habis seribu kerupuk dan tadi ambil lagi dan tinggal separuhnya. Lumayan hari ini sudah mendapat untung sekitar Rp 20 ribu. Tetapi para buruh pabrik rokok sudah pulang jadi yang separuh itu tidak bakal habis terjual,” kata Jumisih kepada Seputarkudus.com.

Warga Desa Pasuruhan, Kecamatan Jati, Kudus, mengaku sudah tiga tahun berjualan kerupuk. Dia berjualan sejak tak bekerja lagi sebagai buruh pabrik rokok tiga tahun silam.

Dia berangkat dari rumah sekitar pukul 07.00 WIB, lalu belanja kerupuk yang tidak jauh dari rumahnya. Setelah itu menuju tempat dia berjualan di samping Pabrik Nojorono, di Jalan KH Wahid Hasyim, Kudus. Jumisih pulang tidak lama setelah para buruh pulang meskipun kerupuk yang dia jual belum habis.

“Kalau buruh rokok semua sudah pulang, aku ya pulang meskipun belum habis. Soalnya yang biasa beli kerupukku itu mereka. Aku pulang lalu belanja dari untung yang aku dapat dari menjual kerupuk. Sampai di rumah masak seadanya buat persiapan buka puasa, aku, suamiku serta anaku,” ujar Jumisih.

Editor: Suwoko

- advertisement -