Beranda blog Halaman 1857

Tak Lagi Jualan, Kartini Kini Hanya Andalkan Belas Kasih para Dermawan

0
Kapolres Kudus AKBP Catur Gatot Efendi saat memberikan bantuan sembako kepada warga terdampak Covid-19, Jumat (24/4/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Kawasan pemukiman di pinggir sungai Kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, siang itu tampak ramai. Hari itu, Jumat (24/4/2020), mereka kedatangan rombongan Polisi Resor (Polres) Kudus yang memberikan sembako.

Salah satu penghuni kawasan tersebut adalah Kartini (55). Dia bersama sang suami, Musnan (64) merupakan pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di Balai Jagong Kudus. Mereka terpaksa berhenti jualan sejak adanya pemberlakuan jam malam selama pandemi Covid-19.

Warga terdampak Covid-19 yang mendapatkan bantuan dari Kapolres Kudus AKBP Catur Gatot Efendi. Foto: Imam Arwindra.

Saat ditemui, Kartini mengaku sudah berjualan nasi di kawasan Sport Center Balai Jagong Kudus sejak 2016. Sebelum di tempat tersebut, ia sudah berjualan di beberapa tempat sejak 2006.

“Sejak virus ramai, kami tidak boleh berdagang lagi. Sekarang sudah tak punya penghasilan lagi,” keluh Kartini saat ditemui di rumahnya yang berdinding papan dan beratapkan asbes itu.

Ia mengakui, saat ini hanya mengandalkan tabungan dan bantuan dari pihak lain untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, lantaran belum punya pandangan usaha lain, selain jualan nasi.

“Kami sama sekali tidak ada pendapatan. Jadi ya, menunggu bantuan,” beber Kartini.

Uang tabungannya juga harus diirit-irit, karena dua anak laki-lakinya yang masih kecil butuh banyak biaya untuk pendidikan mereka.

“Yang paling besar duduk di bangku SMP kelas dua dan satunya duduk di kelas tiga SD,” katanya.

Baca juag: 155 Ton Beras Disiapkan Baznas Kudus untuk Bantu Warga Terdampak Covid-19

Sementara itu, Kapolres Kudus AKBP Catur Gatot Efendi mengaku akan berupaya membantu masyarakat yang kesulitan, terutama masyarakat yang terkena efek Covid-19.

“Ini program berkelanjutan. Pembagian bantuannya seminggu dua kali di hari Rabu dan Jumat,” jelasnya saat memeberikan bantuan sembako kepada Kartini dan penghuni lain.

Baca juga: Roemah Goegah Luncurkan Program Donasi Beras Lewat Beli Kaos

Kali ini, Polres Kudus membagikan sekitar 100 paket sembako berisi beras, telur, susu, mi instan dan kebutuhan lainnya. Sasarannya yakni warga miskin, PKL, tukang ojek pangkalan, ojek online, tukang becak dan warga kurang mampu yang terkena PHK.

“Hari ini kami menyalurkan bantuan di tiga titik. Yang pertama di Kecamatan Kota, kemudian di Jekulo dan di Bae,” tutup Catur.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Desa Tambirejo Demak Siapkan Rp 193 Juta untuk Tangani Covid-19

0
Kepala Desa Tambirejo Agus Suryanto saat menjaga pemudik yang dikarantina, Rabu (22/4/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, DEMAK – Langit mendung tampak menyelimuti Desa Tambirejo, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak, sore itu. Dari kejauhan, tiga orang pria terlihat duduk di depan Aula Balai Desa yang menjadi tempat isolasi pemudik perempuan. Satu diantaranya adalah Agus Suryanto (55), kepala desa setempat.

Dirinya mengatakan, pihak Desa Tambirejo sudah menyiapkan anggaran Rp 193 juta untuk menangi virus corona di desanya. Anggaran tersebut digunakan untuk beberapa kegiatan pencegahan Covid-19, seperti pembagian masker, penyemprotan disinfektan, dan membuat tempat isolasi bagi para pemudik.

“Seharusnya setiap desa punya anggaran yang sama untuk pencegahan Covid-19 ini. Makanya, saya mengajak desa-desa se Kecamatan Gajah khususnya, untuk membuat tempat isolasi warga. Tidak hanya menyediakan tempat, tetapi juga difasilitasi,” tegas pria berkumis tebal itu, Rabu (22/4/2020).

Agus menambahkan, jika sebelumnya warga disuruh untuk isolasi mandiri di rumah, pihak desa kemudian memilih untuk memusatkannya. Menurutnya, hal itu dirasa lebih efektif untuk mencegah penularan Covid-19.

“Saat ini di ada tiga warga yang diisolasi. Dua orang pria dari Bali dan Sulawesi. Sedangkan yang perempuan dari Jakarta,” ungkap pria yang merangkap Ketua Relawan Covid-19 itu.

Sementara itu, Wakil ketua Relawan Covid-19 di Desa Tambirejo Fatkhur Rohman (39) menambahkan, saat ini kapasitas isolasi baru bisa menampung 10 orang. Rinciannya, Sekolah Dasar Negeri Tambirejo yang ditempati pemudik pria bisa menampung 7 orang dan balai desa untuk isolasi wanita dapat digunakan 3 orang.

Baca juga: Desa Tambirejo Demak Sediakan Tempat Karantina, Dapat Uang Makan 

“Tidak menutup kemungkinan, jika pemudik semakin bertambah akan ditambah lagi,” beber pria yang juga menjabat Ketua BPD desa setempat itu.

Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini relawan dibagi empat kelompok. Tugasnya yaitu menginventarisir warga yang merantau di setiap RW di desanya. Teknisnya, warga yang hendak mudik akan segera dijemput sebelum sampai rumah dan berkumpul dengan keluarga.

Baca juga: Ganjar Minta Pemerintah Pusat Perhatikan Perantau yang Tidak Mudik

Relawan Covid-19 di desa tersebut terdiri dari perangkat desa, bhabinkamtibmas, TNI dan relawan kesehatan. Selain itu juga melibatkan RT dan RW untuk melakukan pemantauan warga yang masih merantau.

“Jadi kelempok ini nanti akan mendata warga yang merantau. Jika pulang akan kami jemput dan kami bawa ke tempat karantina. Jadi jangan sampai berkumpul keluarga dulu,” tutup Fatkhur.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Roemah Goegah Luncurkan Program Donasi Beras Lewat Beli Kaos

0
Perwakilan Roemah Goegah dan Dadiwae Dimas Ting sedang menyablon kaos. Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, PATI –  Suara musik punk rock terdengar cukup keras dari sebuah ruangan yang dindingnya dipenuhi poster. Di tempat yang cukup gelap itu terlihat beberapa orang sedang membungkus beras. Setelah dibungkus, beras tersebut kemudian dikumpulkan jadi satu dengan beberapa kebutuhan pokok lain yang sudah disiapkan.

Rupanya, kegiatan itu menjadi bagian dari kampanye yang diinisiasi Komunitas Roemah Goegah dan Dadiwae Sablon Kaos untuk membantu warga terdampak Covid-19. Program tersebut adalah donasi beras 10 kilogram dengan cara membeli kaos di Toko Dadiwae.

Anggota Roemah Goegah sedang membungkus beras yang akan diberikan kepada warga terdampak Covid-19. Foto: Titis Widjayanti.

Perwakilan Roemah Goegah Dimas Ting (29) menyampaikan, kampanye ini merupakan inisiatif anggota untuk menyikapi dampak-dampak setelah merebaknya virus Corona.

“Ya, ini inisiatif bersama. Karena dengan kondisi semacam ini, ya kita harus bersama-sama peduli. Apalagi mereka yang masih harus kerja di jalan. Yang belum pakai masker atau yang memang harus dibantu,” papar Dimas saat ditemui, Kamis (16/4/2020).

Baca juga: Sambil Gowes, Pati Kolektif Bagikan Sembako dan Masker

Dia melanjutkan, kampanye ini sudah dimulai kurang lebih seminggu yang lalu. Cara penyebarannya melalui aplikasi pesan WhatsApp dan dari mulut ke mulut.

“Respon teman-teman cukup bagus. Minggu lalu kami memperoleh sekitar 500 kilogram beras, yang kemudian kami bagikan kepada warga terdampak Corona,” beber tutup lelaki yang akrab disapa Attak itu.

Baca juga: 155 Ton Beras Disiapkan Baznas Kudus untuk Bantu Warga Terdampak Covid-19

Sebelumnya, komunitas tersebut juga sudah sering mengadakan kegiatan sosial seperti suplai air bersih kepada warga terdampak kekeringan, dan beberapa kegiatan lain.

“Hal ini terus kami lakukan untuk membantu sesama atas dasar kemanusiaan dan sosial,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Desa Tambirejo Demak Sediakan Tempat Karantina, Dapat Uang Makan

0
Kepala Desa Tambirejo Agus Suryanto saat menjaga pemudik yang dikarantina, Rabu (22/4/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

BETANEWS.ID, DEMAK – Dua orang pria tampak sedang bercengkerama dengan jarak lebih dari satu meter di Sekolah Dasar Negeri Tambirejo, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak, Rabu (22/4/2020) sore. Mereka yakni warga yang mudik dari perantauan dan sedang diisolasi selama dua pekan.

Sesekali, dua warga tersebut menyahuti obrolan tiga orang pria yang berada di luar gedung. Satu diantaranya yakni Agus Suryanto (55), Kepala Desa Tambirejo yang sedang berjaga dan memastikan kebutuhan warganya yang dikarantina tercukupi.

Baliho protokol pencegahan Covid-19 yang dipasang Pemdes Tambirejo di beberapa tempat. Foto: Ahmad Rosyidi.

Saat ditemui, Agus menjelaskan, isolasi bagi pemudik sudah dimulai sejak 19 April 2020. Fasilitas yang disediakan oleh pemerintah desa (pemdes) diantaranya tempat tidur, dispenser, Wifi dan televisi.

“Karena Virus Covid-19 semakin merebak, jadi kami siapkan tempat isolasi desa. Kebetulan tempat isolasi sudah ada wifinya, jadi bisa digunakan. Kami juga memberi uang makan sejumlah Rp 30 ribu per hari,” jelasnya.

Sambil duduk di atas motornya, dia melanjutkan, jika sebelumnya warga disuruh untuk isolasi mandiri di rumah, pihak desa kemudian memilih untuk memusatkannya. Menurutnya, hal itu dirasa lebih efektif untuk mencegah penularan Covid-19.

“Saat ini ada tiga warga yang diisolasi. Dua orang pria dari Bali dan Sulawesi. Sedangkan yang perempuan dari Jakarta,” ungkap pria yang merangkap Ketua Relawan Covid-19 itu.

Baca juga: Setiap Ketua RW Bakal Pimpin Satgas Jogo Tonggo untuk Antisipasi Warga Kelaparan

Selain itu, dia juga lebih memilih memberi subsidi berupa uang agar pihak keluarga bisa mengirimkan makanan sesuai selera pemudik. Dengan begitu, selera makan dan kesehatannya bisa terjaga.

“Kalau malam kami ada yang jaga dari relawan Covid-19. Selain itu juga pihak keluarga ada yang ikut jaga. Jadi kami terus mengontrol warga yang sedang dalam proses isolasi,” tambahnya.

Baca juga: Pembina PKH Berikan Sembako pada Warga Terdampak Covid-19

Ketua BPD dan wakil ketua relawan Covid-19 Fatkhur Rohman (39) menambahkan, tempat isolasi dibagi menjadi dua lokasi. Untuk pria ada di SD dan wanita di balai desa.

“Selain untuk perempuan, di balai desa nantinya juga akan digunakan untuk isolasi keluarga yang mudik. Karena warga sini juga ada yang satu keluarga merantau. Jadi kami sediakan tempat khusus,” tutup Fatkhur.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

KJ Grup Rambah Bisnis Vape

0
Alan Morita Setya Wardani menunjukkan salah satu jenis produk vape yang dijual di KJ Vape Store, Selasa (14/4/2020). Foto: Titis Widjayanti.

BETANEWS.ID, PATI –  Tak banyak pekerjaan yang bisa dilakukan Alan Morita Setya Wardani (29) di KJ Vape Store, siang itu. Sambil menunggu pembeli, pria berambut lurus itu lebih sering memainkan telepon seluler (ponsel) pintarnya yang digunakannya untuk promosi di media sosial.

Alan mengatakan, KJ Vape Store merupakan bisnis terbaru dari KJ grup yang sebelumnya sudah punya usaha di bidang kuliner, toko ponsel, bengkel, dan usaha lain.

Alan Morita Setya Wardani sedangh menunggu pembeli di KJ Vape Store, Selasa (14/4/2020). Foto: Titis Widjayanti.

“Latar belakang adanya toko ini, ya karena vape banyak digemari. Bahkan untuk wilayah Pati, banyak sekali pengguna vape terutama di kalangan anak muda,” katanya saat ditemui, Selasa (14/4/2020).

Meski baru buka, lanjut dia, KJ Grup sudah ancang-ancang untuk mendirikan toko yang sama di daerah lain. Termasuk juga menggencarkan pemasaran di toko daring.

“Jadinya nggak cuma area Pati saja. Harapannya bisa dipasarkan secara global melalui internet,” papar Alan yang siang itu menggunakan kaos motif loreng.

Sambil mempraktikkan cara menggunakan vape, Alan menambahkan, KJ Vape Store menyediakan vaporizer berbagai jenis dan merek, baterai coil, kawat, dan liquid lengkap dengan berbagai rasanya.

Baca juga: Ponsel Ini Dijual Rp 80 Ribu, Apa Istimewanya?

Berbagai rasa liquid yang tersedia adalah rasa buah-buahan, cheese cake, susu, kopi dan banyak lagi. Volumenya dari 15 sampai 100 mililiter dengan harga mulai dari Rp 50 ribu sampai Rp 200 ribu. Sedangkan untuk harga vape pod-nya dari Rp 180 ribu sampai Rp 500 ribu.

“Tapi memang enaknya pengguna vape itu ya, bisa mixing dan ganti varian rasa sesuai selera. Karena caranya juga mudah untuk mengganti liquid dan tentu lebih hemat,” pungkas Alan.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Ngabuburit ala Ganjar, Motoran Kunjungi Mahasiswa Luar Daerah

0
Sambil menunggu waktu berbuka puasa, Gubernur Ganjar Pranowo mengunjungi asrama mahasiswa asal Sumatera Barat di Sekaran, Gunungpati, Semarang, Jumat (24/4/2020). Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Sambil menunggu buka puasa, dimanfaatkan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo untuk berbagi. Sambil menggeber sepeda motornya, Ganjar ngabuburit keliling Kota Semarang untuk melihat kondisi mahasiswa luar daerah yang masih ada di Jawa Tengah.

Seperti biasanya, asrama mahasiswa atau kos-kosan mahasiswa luar daerah menjadi jujugan Ganjar Jumat (24/4/2020) sore itu. Tiga tempat ia kunjungi, yakni kos-kosan mahasiswa Sumatera Barat dan Jawa Timur di Sekaran Gunungpati dan kos-kosan yang dihuni mahasiswa Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten di Ngaliyan Semarang.

Di tempat-tempat itu, Ganjar disambut dengan penuh antusias dan suka cita. Candaan serta obrolan santai menghiasi pertemuan singkat tersebut. Ada juga yang curhat bagaimana kondisi mereka yang kesulitan karena virus corona ini.

Baca juga : Seluruh Pasar dan Pabrik di Semarang Wajib Terapkan Protokol Kesehatan

“Kangen sama orang tua pak, tapi ndak bisa pulang. Itu sampai temen saya ada yang nangis saat video call dengan ibunya. Kiriman dari rumah juga sering macet sekarang,” curhat Arifin (22), salah satu mahasiswa asal Jawa Timur.

Selain memastikan kesehatan, Ganjar juga membagikan sembako kepada mahasiswa dari luar daerah itu. Kepada mereka, Ganjar meminta untuk tetap di kos, tidak keluar apabila tidak penting dan rajin cuci tangan.

“Jangan mudik ya, di sini saja. Nanti pulangnya kalau kondisi sudah membaik. Ini saya kasih sembako, dimasak bareng-bareng biar irit. Ndak usah beli dulu,” kata Ganjar.

Ganjar juga mengajak para mahasiswa itu memberikan contoh yang baik kepada masyarakat. Kampanye pentingnya menggunakan masker, cuci tangan serta jaga jarak harus terus dilakukan.

“Kalau ketemu orang berkerumun dikandani (dinasehati), kalau tidak pakai masker diminta pakai masker. Kita harus genjot sosialisasi ini karena peningkatan wabah Covid-19 ini terus meningkat. Apalagi di Kota Semarang ini, yang jumlah kasus positifnya tertinggi di Jawa Tengah,” pintanya.

Salah satu mahasiswa asal Bogor, Aditya Dwiansyah mengatakan sangat senang mendapat kunjungan dari Ganjar. Ia tidak menduga, orang nomor satu di Jawa Tengah itu mau mampir di tempat tinggalnya.

Baca juga : Mahasiswa ke Ganjar, ‘Sekarang Lebih Sering Masak Telur Pak, Lebih Irit’

“Senang sekali, tidak menyangka meskipun kami bukan warga Jateng, tapi tetap diperhatikan. Apalagi pak Ganjar datang membawa bantuan, kami terharu sekali,” kata dia.

Aditya mengatakan, wabah covid-19 membuat ia bersama sembilan orang lainnya tidak bisa pulang kampung. Mereka yang berasal dari DKI Jakarta, Jabar dan Banten tidak bisa pulang karena di daerahnya semua menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Daerah kami PSBB, jadi tidak bisa pulang. Alhamdulillah ini dapat bantuan pak Ganjar, ini sangat membantu. Terharu rasanya, saat sedang kondisi krisis, akhir bulan belum dapat kiriman, tiba-tiba pak Ganjar datang kasih bantuan. Kami terharu dan benar-benar mengucapkan terima kasih,” tutupnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Bukan PSBB, Senin Depan Kota Semarang Berlakukan Jogo Tonggo

0
Walikota Semarang, Hendrar Prihardi. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Saat ini, jumlah kasus Covid-19 di Kota Semarang merupakan yang terbesar di Jawa Tengah. Hendrar Prihadi, Walikota Semarang mengatakan, saat ini total pasien terkonfirmasi Covid-19 sebanyak 148. Dengan total sembuh 50, sementara 29 pasien meninggal yang terdiri dari 21 orang merupakan warga Semarang serta 8 orang warga luar kota.

Menyikapi perkembangan yang signifikan tersebut Hendi mengatakan intensif berkonsultasi dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, kaitannya apakah akan diberlakukan PSBB atau tidak. Salah satu hasil konsultasi itu adalah pilihan memberlakukan Jogo Tonggo, yakni pembatasan sosial non PSBB.

“Sudah kami rapatkan Perwalkot pembatasan wilayah non PSBB yaitu dengan model Jogo Tonggo. Hari Senin gerakan itu kita berlakukan. Dasarnya semangat kondisi tanggap bencana, yang nanti akan mengatur tempat kerja, usaha, pendidikan dan kegiatan masyarakat,” kata Hendi, panggilan akrab Walikota Semarang itu usai mengikuti rapat bersama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo beserta bupati dan walikota di Semarang Raya, Jumat (24/4/2020).

Baca juga : Semarang Zona Merah, Walikota Diminta Tak Ragu Terapkan PSBB

Dengan pemberlakuan Jogo Tonggo, Hendi menjelaskan, di tingkat kelurahan dipersilakan melakukan karantina wilayah dengan portal, kalau tidak ada dari bambu atau apa saja.

“Saat ini kami juga sudah melaksanakan sistem lumbung pangan kelurahan, meskipun basis kegiatannya ada di tingkat RW. Tapi ini sudah ready,” katanya.

Pemberlakuan Jogo Tonggo tersebut nantinya bakal mendapat support penuh dengan keberadaan pos pantau. Total ada 16 pos pantau yang disiapkan Pemkot Semarang. Di mana setiap satu pos pantau akan dijaga oleh tiga tim.

“Kita menaruh 16 pos pantau, 8 pos ditaruh di perbatasan dengan wilayah lain, 8 pos pantau di kota. Yang setiap pos pantau ada tiga tim patroli. Anggotanya TNI Polri, dishub, Satpol-PP dan tenaga kesehatan. Total ada 48 tim patroli,” katanya.

Hendi mengatakan, Jogo Tonggo tersebut bakal mulai diberlakukan pada Senin (27/4/2020) lusa. Sementara Sabtu dan Minggu besok dimanfaatkan untuk persiapan dan sosialisasi ke masyarakat. Hendi berharap dengan cara tersebut penurunan kasus Covid-19 di Semarang bisa menurun.

“Pergerakan di Semarang tidak pernah ada berita klaim penurunan. Mudah-mudahan dengan banyaknya tim dan pos pantau, angka Covid-19 di Semarang bisa menurun,” katanya.

Baca juga : Jika Kota Semarang Ditetapkan PSBB, Ini yang Harus Dilakukan Pemkab Demak dan Kendal

Sementara itu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan dalam pemberantasan Covid-19 ini jangan sampai membiarkan tenaga medis jadi benteng terdepan. Masyarakat lah yang mestinya menjadi garda terdepan dengan bersenjatakan air mengalir, sabun dan masker. Dan menerapkan strategi inti, tetap tinggal di rumah dan jaga jarak.

“Basisnya desa atau kampung. Kenapa? Ruang yang lebih kecil bisa kita lakukan kendali yang lebih manageble. Kalau kita mau tetapkan PSBB, sudahkah kita menghitung dan siap? Kalau belum, kita latihan dulu dengan melakukan tindakan seperti PSBB. Pasar mulai kita ubah mulai besok. Yang ke sana harus cuci tangan, wajib pakai masker, kalau tidak suruh pulang,” kata Ganjar.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

155 Ton Beras Disiapkan Baznas Kudus untuk Bantu Warga Terdampak Covid-19

0
Baznas Kudus siapkan 155 ton beras untuk bantu warga terdampak Covid-19. Foto : Ahmad Rosyidi

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara lalu-lalang kendaraan yang melaju di Jalan Mejobo, terdengar dari halaman kantor Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kudus. Memasuki kantor tersebut, tampak sejumlah pria bergantian masuk mengambil map yang berisi data penerima zakat. Satu di antara pengurus Baznas Kudus yakni Sulthon, Sekretaris dan Tata Kelola Baznas Kudus. Ia katakan, bahwa saat ini masih proses verifikasi data mustahik.

Baznas Kudus salurkan bantuan beras untuk warga terdampak Covid-19. Foto : Ahmad Rosyidi

Saat ini Baznas sudah menyiapkan 155 ton beras untuk dibagikan kepada warga Kudus yang terdampak Covid-19. Selain masih proses pengecekan data agar tepat sasaran, Baznas juga masih menunggu semua desa sudah menerima beras dari supplier. Sehingga bisa dibagikan secara serentak nantinya.

Baca juga : GP Ansor Jateng Bagikan Ribuan Sembako Pada Warga Terdampak Covid-19

“Kami masih kroscek data agar tepat sasaran. Selain itu, rencana akan ada penyerahan secara simbolik oleh pak Plt Bupati Kudus. Kemudian baru dibagikan secara serentak,” terangnya kepada betanews.id, Kamis (23/4/2020).

Meski menyiapkan 155 ton beras, Baznas Kudus akan membagikan 150 ton terlebih dahulu. Dengan jumlah penerima sebanyak 15 ribu mustahik. 5 ton beras akan disiapkan untuk mengantisipasi jika ada nama-nama susulan yang membutuhkan.

“Baznas mengeluarkan anggaran sebesar Rp 1.436.750.000 untuk beras 150 ton beras. Yang 5 ton beras juga sudah kami siapkan anggarannya,” jelas Warga Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus itu.

Beras yang akan dibagikan tersebut, diambil dari Demak dan dikemas di Kudus. Dalam pelaksanaan kegiatan itu, Baznas Kudus berkoordinasi dengan camat dan penyuluh agama di setiap kecamatan. Selain itu juga melibatkan perangkat desa.

Baca juga : Guru SMP di Kudus Sumbang Rp 100 Juta untuk Beli APD

Pendistribusian ke desa sudah dipakukan sejak Selasa (21/4/2020) di Kecamatan Bae dan Kaliwungu. Hari Rabu (22/4/2020) di Kecamatan Kota dan Dawe. Kemudian hari Kamis (23/4/2020) di Kecamatan Jati dan Mejobo.

“Sebelumnya, Senin (13/4/2020) kami juga sudah menyalurkan bantuan berupa kaki palsu kepada 5 orang mustahik. Pada bulan Maret 2020, Baznas melakukan renovasi rumah tidak layak huni, dua di Kecamatan Gebog, dan satu di Kecamatan Kaliwungu. Penyemprotan disinfektan di tempat ibadah dan ponpes juga sudah akhir Maret kemarin,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pemkab Kudus Gratiskan Retribusi Pasar Selama Tiga Bulan

0
Beberapa pengguna jalan saat melintasi Pasar Kliwon, Kamis (23/4/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus akan menggratiskan retribusi pasar selama tiga bulan untuk mengurangi beban pedagang di tengah wabah Covid-19.

Plt Bupati Kudus HM Hartopo mengatakan, pembebasan retribusi pasar ini berlaku pada April, Mei dan Juni 2020. Kebijakan tersebut berlaku di seluruh pasar yang ada di Kota Kretek.

“Kami sudah gratiskan retribusinya. Semoga bisa membantu pedagang pasar,” jelasnya saat ditemui, Kamis (23/4/2020).

Salah seorang pedagang menunjukkan kartu pembayaran retribusi pasar di Pasar Kliwon, Kamis (23/4/2020). Foto: Imam Arwindra.

Untuk menguatkan aturan ini, Hartopo sedang menggodok landasan hukum berupa peraturan bupati (perbup) yang prosesnya dalam percepatan. Meski belum punya landasan hukum, pihaknya menjamin tidak ada penarikan retribusi lagi di pasar.

“Perbupnya masih proses, tapi di lapangan sudah jalan,” tuturnya.

Di sisi lain, salah satu pedagang di Pasar Kliwon Nurfaiz (52) membenarkan adanya penggratisan retribusi pasar yang berlaku mulai April hingga Juni.

“Iya, mas. Sudah tidak bayar. Itu mulai bulan ini,” jelasnya saat ditemui di kios miliknya.

Baca juga: Warga Kudus Dilarang Bunyikan Tongtek untuk Bangunkan Sahur

Pria yang memiliki satu kios dan satu los itu mengungkapkan, setiap bulannya ia membayar retribusi sebesar Rp 195 ribu untuk kios dan Rp 45 ribu untuk los. Keseluruhannya untuk menjual baju anak-anak dan dewasa.

“Untuk pembayarannya pakai kartu. Nanti ditransfer,” ungkapnya yang berada di Blok A lantai dasar.

Baca juga: Jadikan Stay at Home Gak Ngebosenin dengan Cara Ini

Dengan adanya penggratisan retribusi, dirinya merasa terbantu. Menurutnya, adanya pandemi Covid-19 menurunkan hasil penjualannya. Selain itu barang baru dari Jakarta pun sulit didatangkan.

“Saya sudah 26 tahun jualan disini. Saya generasi kedua,” tutup warga Desa Burikan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus itu.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Seluruh Pasar dan Pabrik di Semarang Wajib Terapkan Protokol Kesehatan

0
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto: Ist.

BETANEWS.ID – SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengintruksikan kepada seluruh pasar dan pabrik di Semarang Raya wajib menerapkan protokol kesehatan jika tetap ingin beroperasi. Kebijakan ini akan berlaku mulai Senin (27/4/2020).

Hal tersebut diungkapkan Ganjar saat memimpin rapat dengan Forkopimda Semarang Raya, baik walikota/bupati beserta para Dandim dan Kapolres di Gedung Gradhika Bakti Praja Semarang, Jumat (24/4/2020).

Ganjar mengatakan, pihaknya akan melakukan penataan pedagang pasar dan juga pengawasan secara ketat pada perusahaan atau pabrik, terutama soal jarak duduk para buruh saat kerja.

“Kita menyepakati satu dua hari ini atau sampai Minggu kita akan pra kondisi. Sampaikan pada masyarakat untuk pasar-pasar, mari tertibkan bersama. Nanti pak bupati, walikota akan atur semuanya. Kedua, pabrik tolong semua gunakan protokol yang ketat, dalam dua hari ini kita akan sosialisasikan,” kata Ganjar.

Baca juga: Pemprov Jateng Siapkan Aset untuk Karantina Pekerja Migran

Saat sudah resmi berlaku, Ganjar menegaskan akan melakukan tindakan-tindakan yang lebih keras untuk masyarakat agar bisa lebih tertib. Semarang Raya, kata Ganjar, belum menuju Pembatasan sosial berskala Besar (PSBB). Namun sebagai imbasnya, masyarakat mesti patuh terhadap protokol kesehatan yang telah ditetapkan.

“Hari ini saya minta semua ikuti protokol yang baik. Selalu pakai masker dan wajib hukumnya. Sekali lagi wajib hukumnya pakai masker. Dan wajib menjaga jarak 1,5 meter,” kata Ganjar.

Baca juga: Doa Lintas Agama Digelar, Taslim : ‘Kami Mohon Pada Tuhan Agar Covid-19 Segera Sirna’

Teknisnya, pemerintah kabupaten/kota bakal mendapat dukungan dari TNI dan Polri, untuk memantau ketaatan masyarakat terhadap protokol kesehatan tersebut. Beberapa sanksi juga sudah disiapkan, di antaranya jika ada masyarakat yang tidak mengenakan masker saat ke pasar maupun pabrik, maka dipersilakan untuk balik kanan atau pulang ke rumah sampai mendapat masker.

“TNI Polri sudah mendukung bupati walikota. Semua sudah siap berikut perangkatnya. Kita akan sosialisasi terus sekaligus melakukan patroli. Mudah-mudahan masyarakat semua bisa ikuti dan memahami semua ini,” tutup Ganjar.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Tanpa Surat Jalan, Mobil Pribadi Dilarang Masuk Jateng

0
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Tengah, Satriyo Hidayat. Foto : Twitter Perhubungan Jateng

BETANEWS.ID, SEMARANG – Mulai hari ini, Jumat (24/04/2020), sejak diberlakukannya larangan mudik, setiap kendaraan pribadi dari arah Barat menuju Jateng harus menunjukkan surat jalan. Tanpa surat jalan, kendaraan tersebut harus putar arah alias tidak bisa masuk Jateng. Surat jalan dikeluarkan oleh gugus tugas daerah domisili pemudik di perantauan. Aturan ini berlaku hingga 7 Mei 2020. Selanjutnya mulai 8 Mei, polisi akan memberlakukan tilang.

“Yang boleh lewat hanya kendaraan logistik, kendaraan yang bertujuan khusus dari pemerintahan, atau kendaraan pribadi yang dilengkapi surat jalan untuk meneruskan perjalanan tertentu. Artinya, mereka yang diloloskan kalau sudah mempunyai surat keterangan dari gugus tugas asal, baru bisa lewat. Selain itu semua, kendaraan dari yang dikecualikan itu diputarbalikkan untuk menuju asal perjalanan,” ujar Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Tengah, Satriyo Hidayat, usai video conference (vidcon) dengan Plt Menhub Luhut Binsar Panjaitan di Kantor Gubernur Jateng, Kamis (23/4/2020).

Baca juga : Angka Pemudik di Brebes Tertinggi se Jawa Tengah

Menurutnya, hal itu merupakan tindak lanjut dari keputusan Presiden Joko Widodo yang melarang mudik. Jateng akan memberlakukan check point yang bertujuan melakukan penyekatan. Lokasi check point itu ada di Terminal Truk Losari Brebes, Gerbang Tol Pejagan, Terminal Bus Kota Tegal, Lapangan Wanareja, dan Gerbang Tol Pungkruk. Hal itu dilakukan secara nasional. Sedangkan pemerintah provinsi akan menambah check point di rest area Klonengan Brebes dan Terminal Dukuhsalam Slawi, Kabupaten Tegal.

Titik pengecekan memang baru dibuat untuk pemudik dari arah Barat. Sebab saat ini PSBB baru diberlakukan di Jabodetabek dan Bandung Raya. Tapi jika nanti Surabaya Raya, meliputi Gresik, Surabaya, dan Sidoarjo ada keputusan PSBB, maka check point akan ditambah.

“Penambahan check point yakni Sarang, Cepu dan Solo. Jadi kendaraan dari arah timur masuk Jateng akan dikembalikan lagi,” ucapnya.

Baca juga : Ganjar Minta Pemerintah Pusat Perhatikan Perantau yang Tidak Mudik

Satriyo menambahkan, saat ini sudah 665 ribu orang pemudik sudah ada di desa masing-masing. Mungkin hari ini, dia memprediksi, akan ada warga yang melakukan pulang kampung. Karena keputusan 24 April tidak boleh ada mudik, memang sudah terinfokan terlebih dahulu. Tidak heran, semalam sudah ada puluhan unit bus yang membawa pemudik.

“Pak Gubenur perintah coba sampling salah satu itu menggunakan rapid test. Dari sampling itu berapa positif. Itu sedang akan kita lakukan. Kami koordinasi dengan Gugus Tugas Provinsi nantinya. Karena alat Covid adanya di gugus tugas provinsi. Dan kami akan menentukan samplingnya di mana,” pungkasnya.


Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pembina PKH Berikan Sembako pada Warga Terdampak Covid-19

0
Pembina PKH Kudus saat memberikan paket sembako kepada tukang becak, Kamis (24/4/2020). Foto: Imam Arwindra.

BETANEWS.ID, KUDUS – Ratusan bingkisan warna biru terlihat dimasukkan ke dalam sebuah mobil. Bingkisan berisi beras, minyak goreng, susu dan biskuit itu merupakan sumbangan pembina Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten Kudus yang akan diberikan kepada warga terdampak Covid-19 untuk menyambut bulan Ramadan.

Setelah penuh, mobil-mobil tersebut kemudian segera meluncur ke sekitar jalan raya di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus untuk dibagikan kepada tukang becak, tukang ojek, pedagang asongan, pedagang kaki lima dan tenaga kerja yang terkena PHK.

Pembina PKH Kudus saat memberikan paket sembako kepada warga terdampak Covid-19, Kamis (24/4/2020). Foto: Imam Arwindra.

Koordinator pembina PKH Habib Rifai (45) mengatakan, bantuan berupa sembako memang sengaja diberikan menjelang puasa. Menurutnya, sembako yang diberikan bisa untuk sahur dan berbuka.

“Kami memang sengaja memberikan bantuan mendekati hari puasa, supaya bisa digunakan para tukang becak dan pedagang asongan untuk sahur dan berbuka,” tuturnya saat ditemui, Kamis (24/4/2020).

Rifai sadar, dengan adanya pandemi Covid-19 ini, pendapatan mereka berkurang. Mereka harus tetap bekerja mencari uang demi menafkahi keluarganya, terutama untuk memenuhi kebutuhan selama bulan Ramadan.

“Kami sebagai tenaga sosial merasa terketuk untuk memberikan bantuan pada masyarakat terdampak Covid-19. Ya memang tidak banyak. Semampunya,” beber Rifai.

Dia menjelaskan, bantuan yang diberikan tersebut berasal dari hasil iuran anggota PKH sendiri. Kemudian untuk pembagiannya disebar ke beberapa titik di Kabupaten Kudus.

“Ada 130 paket sembako dan makan siang yang kami bagikan. Termasuk juga pembagian 300 masker kepada mereka,” ungkap Rifai.

Baca juga: Warga Kudus Dilarang Bunyikan Tongtek untuk Bangunkan Sahur

Sementara itu, penerima sembako Sobiron (60) mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan. Dia yang berprofesi sebagai tukang becak di daerah Museum Kretek merasa terbantu. Menurutnya, sembako yang diberikan akan digunakan untuk sahur dan berbuka di rumah.

“Terima kasih. Bisa untuk sahur besok,” jelasnya warga yang tinggal di Desa Mojodemak, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak itu.

Baca juga: Jelang Ramadan, Penjual Bunga di Kudus Laris Manis

Sambil duduk di becaknya, dia mengaku pendapatannya sepi sejak ada pandemi Covid-19. Bahkan ia cukup sering tidak mendapatkan pendapatan sama sekali setelah seharian menunggu penumpang.

“Sepi, Mas. Sepi. Saya juga bingung harus bagaimana,” tutupnya berkeluh kesah.

Editor: Ahmad Muhlisin

- advertisement -

Kisah Mbah Mo Rintis Usaha Airbrush Hingga Mampu Bertahan Satu Dekade

0
Mbah Mo sedang mengecat airbrush selebor motor. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara mesin pompa angin terdengar di teras rumah yang berada di RT 5 RW 3, Dukuh Waduk, Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Cuaca yang cukup terik membuat pria yang tidak jauh dari mesin pompa angin itu menyemprot selebor motor hanya menggunakan kaus tanpa lengan. Pria tersebut yakni Tarmo, pemilik usaha cat airbrush.

Terlihat tangan kanan Tarmo begitu terampil, serta tampak meliuk – liuk memegangi ujung selang pompa udara untuk mewarnai perabot motor tersebut. Setelah dirasa warna yang dihasilkan sudah sesuai harapan, kemudian selebor itu pun dijemurnya.

Proses pengecatan bodi sepeda motor di bengkel Mbah Mo. Foto : Rabu Sipan

“Saya menekuni usaha cat airbrush ini sudah 10 tahun. Sejak 2009 hingga sekarang. Alhamdulillah masih dipercaya para pelanggan,” ujar pria yang akrab disapa Mbah Mo kepada betanews.id, Jumat (10/4/2020).

Sebelum membuka usaha sendiri, Mbah Mo mengaku terlebih dulu merantau ke Ibu Kota untuk kerja bangunan. Karena kerja kuli bangunan dirasanya cukup berat, dia pun pindah kerja di bidang furniture. Pekerjaan yang disebut terakhir itu dia mengaku betah hingga bertahan cukup lama.

Baca juga : Berawal dari Hobi, Kini Kustom Motor jadi Ladang Rezeki Bagi Juned

“Saya kerja di mebel itu dari 1986 sampai 1996. Dari buruh ngamplas hingga mahir melitur pakai mesin pompa angin,” ungkap pria berkaca mata tersebut.

Di sela bekerja di mebel itu lanjutnya, Mbah Mo juga belajar mengecat mobil di bengkel yang tidak jauh dari kerjaannya. Dari para pekerja bengkel tersebut, ia mempelajari cara mengoplos warna cat. Karena, terkadang untuk menghasilkan sebuah warna itu diharuskan mengoplos warna satu dengan yang lainnya.

“Saat kerja ikut orang itu saya masih lajang. Hingga pada tahun 1996 saya menikah dan menetap di kampung,” tuturnya.

Pria yang sudah dikaruniai tiga anak itu mengatakan, setelah menikah dan menetap di tanah kelahirannya, dia mengaku kerja seadanya. Dari kuli, buruh tani, hingga jadi buruh bangunan pun dia lakoni.

“Saat itu saya kerja apa saja, serabutan lah pokoknya. Yang penting bisa mencukupi keluarga dan menabung untuk modal usaha,” kenangnya.

Setelah tabungannya terkumpul pada tahun 2009, Mbah Mo pun nekat buka usaha cat airbrush impiannya. Dia mengaku melayani pengecatan motor jenis apa pun. Dari pengecatan full bodi hingga beberapa bagian saja dari kendaraan roda dua.

Untuk pengecatan motor full bodi, Mbah Mo mematok harga mulai Rp 500 ribu hingga Rp 700 ribu. Menurutnya, harga tergantung dari jenis motor serta besar dan kecil bodi motor.

Baca juga : Menengok Bengkel Mobil Offroad BSR Fabrication yang Selalu Puaskan Pelanggan

Sedangkan untuk pengecatan bagian tertentu antara lain, selebor, dek motor bagian samping dan lainnya dia bebankan biaya mulai Rp 40 ribu per item. “Untuk waktu pengerjaan paling sehari, tapi untuk full bodi saya butuh waktu sekitar delapan hari,” paparnya.

Dia bersyukur usaha airbrushnya mampu bertahan hingga sekarang. Meski pelanggan tahunya dari mulut ke mulut, bengkel catnya itu sudah punya banyak pelanggan. Dari orang Kudus, Pati, Demak hingga Purwodadi.

“Alhamdulillah satu dekade menjalani usaha airbrush belum ada pelanggan yang komplain. Malah seringnya mereka cocok dan datang lagi untuk jadi pelanggan tetap,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Perpusda Kudus Sediakan 326 E-Book di Aplikasi iKudus

0
Ninik Mustikawati, Kasi Pengelola Pustaka menunjukkan aplikasi iKudus. Foto : Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Tampak aktivitas sejumlah orang mengenakan seragam berwarna putih, di sebuah ruangan lantai dua Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Kudus. Satu di antara mereka, terlihat seorang perempuan sedang memandang layar laptop berwarna pink. Dia adalah Ninik Mustikawati, Kasi Pengelola Pustaka di dinas tersebut.

Di sela-sela kesibukannya, dia sudi berbagi informasi kepada betanews.id tentang aplikasi iKudus. Aplikasi tersebut, merupakan bagian dari upaya untuk memfasilitasi warga agar bisa mengakses buku bacaan dengan mudah. Terlebih saat situasi pandemi Virus Covid-19 seperti saat ini.

Baca juga : Siswa di Pati Ini Keheranan Lihat Mesin Ketik

“Sebenarnya aplikasi ini sudah ada sejak tahun 2018. Tetapi pada tahun itu e-book yang ada masih pinjam. Kami baru membeli e-book sendiri mulai 2019. Saat ini ada 326 judul e-book yang tersedia di aplikasi iKudus,” terangnya, Kamis (16/4/2020).

Sambil memegang telepon seluler di tangan kirinya, perempuan yang akrab disapa Ninik itu, menunjukan tampilan aplikasi iKudus. Menurutnya, syarat untuk mendaftar aplikasi tersebut cukup mudah. Yang perlu dipersiapkan adalah data diri.

“Download saja aplikasi iKudus di Play Store. Siapkan KTP, email dan nomor handphone. Setelah itu tinggal mengikuti langkah yang ada. Kemudian nanti kita akan disuruh upload foto KTP dan foto selfie juga,” jelasnya.

Baca juga : SMK RUS Kudus Menuju Revolusi Industri 4.0, Ita : ’Keterampilan Saja Belum Cukup’

Perempuan berkaca mata itu juga menambahkan, saat ini aplikasi iKudus sudah diakses lebih dari tujuh ribu warga. Dengan jumlah anggota yang menggunakan iKudus lebih dari 300 orang.

“Kami update terus jika ada pengguna baru. Jadi, jika ada orang yang mendaftar akan segera kami konfirmasi, agar tidak terlalu lama menunggu,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Doa Lintas Agama Digelar, Taslim : ‘Kami Mohon Pada Tuhan Agar Covid-19 Segera Sirna’

0
FKUB Jateng menggelar doa lintas agama untuk memohon kepada Tuhan agar Covid-19 segera sirna. Foto : Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Dihelat di Gedung Ghradika Bakti Utama Lantai 2, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggelar doa bersama antarumat beragama. Secara bergantian, enam pemimpin umat memanjatkan doa, kepada Tuhan, agar bangsa ini segera dibebaskan dari Covid-19.

Acara ini dihadiri oleh pemimpin umat enam agama. Yakni, WS Liem Ping An dari Agama Konghucu, Anak Agung Ketut Darmaja dari Agama Hindu, Romo Angga Dhammo Warto dari Agama Budha, Pendeta Bambang Pujianto dari Agama Kristen, Romo Aloysius Budi Poernomo dari Agama Katolik dan Islam Ustadz Danusiri dari Agama Islam.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah Taslim Syahlan mengatakan, acara ini merupakan ikhtiar untuk memperkuat spiritual dan memberi dukungan moral pada segenap warga Jateng di tengah Pandemi Covid-19.

Baca juga : Setiap Ketua RW Bakal Pimpin Satgas Jogo Tonggo untuk Antisipasi Warga Kelaparan

“Kami bermohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Covid-19 segera sirna dan menyelamatkan masyarakat Jawa Tengah dari penyakit tersebut. Kami juga mendoakan pemimpin bangsa, relawan dan petugas medis diberi kekuatan menghadapi pandemi ini,” ujarnya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berharap, pemimpin-pemimpin umat beragama menjadi contoh bagi warga. Ia ingin, warga selalu menjaga kebersihan dalam memerangi Covid-19.

Ganjar juga memaparkan, betapa Covid-19 memengaruhi seluruh lini kehidupan. Secara fisik, ia dan pemprov Jateng berusaha maksimal untuk menekan persebaran virus itu. Mulai dengan pengawasan pemudik, menjaga jarak sosial hingga penguatan di bidang kesehatan. Termasuk, para perantau yang rela untuk tidak mudik, pada lebaran tahun ini.

Baca juga : ASN Jangan Kaget Jika Nanti THR Dipotong

Maka, ia berharap acara doa bersama ini, merupakan upaya spiritual. “Ini merupakan usaha dua Matra, materi dan batin. Dan saya titip agar para pemimpin agama sosialisasi pada umatnya untuk menjadi garda terdepan pemberantasan Covid-19 dan agar itu disampaikan hingga tingkat terbawah,” ujar Ganjar.

Dirinya menjelaskan, garda terdepan pemberantasan virus ini berada di tangan warga. Lantaran, virus ini sejatinya bisa diberantas dengan mengedepankan kebersihan secara sederhana namun disiplin.

“Senjata kita adalah air mengalir dan sabun. Jaga jarak, olahraga dan makan-makanan bergizi,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -