Beranda blog Halaman 122

Punya Lahan Terluas Se-Jateng, SR di Jepara Bakal Punya 27 Gedung 

0
Kepala Bidang Cipta Karya pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Jepara, Hanief Kurniawan. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Pemerintah pusat rencananya akan segera membangun Sekolah Rakyat (SR) di Kabupaten Jepara pada tahun ini yang berlokasi di Bumi Perkemahan (Buper) Pakis Adhi, Desa Suwawal Timur, Kecamatan Pakis Aji. 

Kepala Bidang Cipta Karya pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Jepara, Hanief Kurniawan mengatakan dalam pembangunannya, Jepara mendapat alokasi pengadaan tahap dua dalam proyek pembangunan SR. 

Baca Juga: Dapat Evaluasi Kemendagri, Besaran Pajak dan Retribusi Jepara Bakal Berubah 

“Seperti yang kemarin disampaikan Wamensos, kami mendapatkan alokasi tahap dua pengadaan Sekolah Rakyat. Ada 11 kabupaten/kota di Jawa Tengah, dibagi dalam dua paket kegiatan,” kata Hanief pada Senin, (1/12/2025). 

Dalam pembagian paket tersebut, menurut Hanief Jawa Tengah terbagi menjadi Jateng 1 dan Jateng 2.

Jepara masuk dalam Jateng 2, bersama Sukoharjo, Sragen, Pati, Rembang, dan Kota Semarang.

Sementara Jateng 1 meliputi Brebes, Cilacap, Banyumas, Temanggung, dan Wonosobo. Hanief melanjutkan bahwa Jepara menjadi daerah dengan penyediaan lahan terbesar di antara seluruh kabupaten/kota penerima. Sebab daerah lain rata-rata hanya dapat menyediakan 5–6 hektare.

“Jepara bisa menyediakan 10,2 hektare. Tentunya kalau tidak salah, nilai paketnya untuk Kabupaten Jepara sekitar Rp 300 miliar,” ujarnya.

Meski nilai resmi paket belum diterima karena masih dalam proses di Kementerian PUPR, Hanief menjelaskan bahwa kapasitas lahan menjadi faktor utama besarnya alokasi anggaran. 

Pada lahan seluas 10,2 hektare itu, rencananya akan dibangun 27 bangunan, mulai jenjang SD hingga SMA.

Fasilitas yang masuk dalam konsep kawasan meliputi, Gedung sekolah, Asrama, Gedung olahraga, Ruang pertemuan, Tempat ibadah, Area olahraga, Dapur dan fasilitas pendukung lainnya.

Baca Juga: Museum Kartini Jepara Diproyeksikan Jadi Pusat Studi Perempuan Indonesia

“Ini satu kawasan untuk seluruh kegiatan pendidikan. Luas bangunan hanya sekitar 27 ribu meter persegi dari total 100 ribu meter persegi. Ruang Terbuka Hijau mencapai 74 persen, jauh di atas syarat minimal 30 persen,” jelasnya.

Sesuai rencana dari Kementerian Pekerjaan Umum, kontrak pembangunan kawasan SR di Jepara ditargetkan berjalan selama delapan bulan. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Bakal Direlokasi ke Pasar Anyar, Begini Keluhan Para Pedagang Pasar Bitingan Kudus

0
Pedagang Pasar Bitingan sedang menanti pembeli. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah pedagang angkat suara terkait wacana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus yang bakal merelokasi semua pedagang di Pasar Bitingan. Relokasi tersebut imbas rencana pengembangan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Loekmono Hadi di lahan eks Matahari Mall.

Salah satu pedagang yakni, Masruni (67) mengaku sudah tahu informasi relokasi tersebut. Ia pun bakal mengikuti kemauan Pemkab Kudus. Hak Guna Bangunan (HGB) para pedagang juga sudah habis pada tahun 2026.

Baca Juga: Kuota Haji Kudus 2026 Menurun, tapi Kuota Lansia Naik 5 Persen

“Saya mengikuti saja mas. HGB kita juga habis pada tahun depan,” ujar Masruni kepada Betanews.id saat ditemui di kiosnya, Senin (1/12/2025).

Hal berbeda disampaikan oleh pedagang lainnya yakni, Sulis Pujiati (50). Ia mengaku belum membuat surat pernyataan bersedia direlokasi. Sebab, pedagan pakaian di Pasar Bitingan masih ragu.

“Bukannya kita menentang,.tapi kita ragu ketika relokasinya ke pasar anyar di Wergu Kulon. Sebab, di sana itu lebih di dalam dan tidak di pinggir jalan raya seperti Pasar Bitingan,” tuturnya.

Pasar Bitingan yang di tepi jalan raya dan dipusat kota saja, kata dia, kondisinya sepi. Apalagi jika direlokasi ke pasar anyar yang berada agak pelosok dan tak ada akses angkutan kota (angkot).

“Jika benar nanti direlokasi ke Pasar Anyar di Wergu Kulon, kami ingin akses jalannya diperlebar. Selain itu, kalau bisa diberi akses jalur angkot,” harapnya.

Sementara pedagang lain secara tegas menolak rencana relokasi, di antaranya disampaikan oleh Rumisih (57). Menurutnya, mengatakan konsep relokasinya belum jelas.

Ia juga mempertanyakan terkait uang sewa dan retribusi di Pasar Anyar. Rumisih juga mempertanyakan rencana penggratisan retribusi di Pasar Anyar yang sebagai iming-iming saja.

“Jika gratis selamanya tidak apa-apa, tapi lokasi Pasar Anyar juga terpencil. Gratis retribusi tapi pasar sepi dan tidak menghasilkan, untuk apa?,” ujar Rumisih.

Rumisih pun berharap kepada pemerintah daerah agar punya solusi tepat. Ketika pasar sepi, harusnya diupayakan agar kembali ramai lagi.

“Harusnya pemerintah itu punya solusi agar Pasar Bitingan kembali ramai, bukan malah merelokasi pedagang,” tandasnya.

Penolakan juga disampaikan pedagang daging yang ada di lantai 2 Pasar Bitingan Kudus. Satu di antaranya yakni Suriah. Perempuan yang sudah berjualan puluhan tahun di Pasar Bitingan Kudus tersebut tidak setuju jika dipindah ke Pasar Anyar di Wergu Kulon.

“Saya sangat tidak setuju. Karena rencana lokasi Pasar Anyar itu masuk ke dalam. Selain itu, di dekatnya itu sudah ada Pasar Baru,” ujarnya.

Secara jujur, Suriah mengaku bersedia untuk direlokasi tetapi lokasinya yang dekat dengan jalan raya. Bila perlu lebih strategis dari Pasar Bitingan.

“Kita ingin aspirasi pedagang ini didengar oleh pemerintah. Kami bersedia dipindah, tapi jangan di dekat Pasar Baru. Bukannya makin ramai, tapi nanti malah makin sepi,” tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus bakal melakukan pengembangan dan perluasan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Leokmono Hadi. Demi pembangunan gedung baru di lahan eks Matahari Mall tersebut, Pasar Bitingan pun bakal dirobohkan.

Baca Juga: Jelang Nataru, Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp70 Ribu per Kilogram

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kabupaten Kudus, Djati Solechah menyampaikan, informasinya pembangunan rumah sakit di lahan eks Matahari dilakukan pada tahun 2026. Dan, itu sudah dituangkan dalam Peraturan Daerah (Perda) Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2026.

“Gedung baru RSUD di eks lahan Matahari Mall nantinya enam lantai. Karena butuh sarana dan prasarana pendukung, serta akses emergency dan sebagainya, sehingga nantinya bangunan Pasar Bitingan akan dirobohkan,” ujar Djati saat sosialisasi dengan pedagang sayur di Pasar Saerah Kudus, belum lama ini.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pasca-Posko Mencari Keadilan Dibubarkan, Satpol PP Siagakan Mobil Patroli di Alun-Alun Pati

0
Satpol PP Pati menyiagakan satu mobil patroli di lokasi bekas pendirian posko, Senin (1/12/2025). Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Pasca-pembubaran Posko Mencari Keadilan yang berada di depan Kantor Bupati Pati dibubarkan pada Jumat (28/11/2025),  kini Satpol PP Pati menyiagakan satu mobil patroli di lokasi yang sama pada Senin (1/12/2025).

Tampak mobil patroli Satpol PP Pati terparkir di kawasan Simpang 5 Pati, tepatnya di bawah videotron. Mobil tersebut sebelumnya sudah terlihat di lokasi saat pembongkaran posko.

Baca Juga: Pati Darurat HIV/AIDS, Satu Hari Satu Kasus

Kepala Satpol PP Pati Tri Wijanarko menyebut, mobil tersebut disiagakan di sana untuk mengantisipasi adanya upaya berbagai pelanggaran. Baik pendirian posko ilegal oleh warga maupun PKL yang nekat berjualan di kawasan Alun-alun Pati.

”Ya salah satunya itu (mencegah berdirinya posko). Tapi yang utamanya adalah kita tiap hari itu naruh mobil patroli itu ada dua, minimal dua (mobil),” ujar Tri Wijanarko, Senin (1/12/2025).

Menurutnya, selain siaga di kawasan Alun-alun Pati, mobil patroli juga disiagakan untuk menindak berbagai pelanggaran. Seperti papan reklame yang tidak berizin hingga baliho yang sudah kedaluwarsa.

”Terus sekaligus juga muter di seputaran Alun-alun situ untuk menghalau PKL ataupun yang berjualan yang di seputaran Alun-alun. Terus yang satunya lagi itu memang kita standby, kan di situ suatu saat anggota kita butuh untuk muter dua mobil patrol itu kita gunakan semuanya gitu,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, upaya ini merupakan inisiatif pihaknya. Begitu juga saat meminta warga yang mendirikan posko untuk membongkar sendiri. Tri menyebut, hal itu sesuai UU Nomor 23 tahun 2014.

”Otomatis, dari Satpol itu kan tugas kami. Jadi di dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintah daerah, itu di dalamnya itu kan ada pasal 255 itu ada tupoksi Satpol PP. Yang mana Satpol PP sebagai penegak perda, penegak peraturan kepala daerah dan memberikan pelayanan tibum teranmas kepada masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga mengaku berdirinya Posko Mencari Keadilan untuk Botok cs menyalahi aturan Perda Nomor 7 tahun 2018. Dalam aturan tersebut, seseorang dilarang mengganggu ketertiban umum dengan mendirikan posko atau lainnya.

”Kalau untuk yang mobil patroli, yang satu standby 24 jam di situ. Yang satu standby 24 jam juga. Jadi kami nanti pagi, mungkin nanti coba jalan ke mana kok. Cek di Alun-alun. Pagi kita muter, ada yang muter,” tegasnya.

Baca Juga: Nelayan Tewas Terseret Ombak Saat Cari Kerang di Perairan Dukuhseti Pati

Ia pun mengimbau kepada masyarakat untuk menaati regulasi yang ada. Pihaknya tidak mau keberadaan posko menganggu ketertiban masyarakat.

”Jadi, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, tolong bisa menghormati hak dan kewajiban orang lain. Jadi, selama dia melaksanakan kegiatannya, dia, seharusnya dia juga harus menghormati hak orang lain. Karena di situ juga ada hak orang lain yang mungkin nantinya dilanggar kalau dia melanggar regulasi yang ada, seperti itu ya,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Membludak, Pendaftar Petugas Haji 2026 di Kudus Capai 123 Orang

0
Ribuan koper calhaj telah terkumpul di Gedung Jemaah Haji Kudus (JHK), Senin (27/5/2024) sore. Foto: Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Pendaftar calon pendamping petugas haji Kabupaten Kudus untuk musim haji 2026 membludak. Proses rekrutmen yang telah dibuka pada 22-28 November 2025 lalu setidaknya ada ratusan pendaftar. Padahal secara kuota hanya tersedia enam kuota saja, yakni 3 orang untuk kuota ketua kloter dan 3 lainnya untuk pembimbing ibadah haji. 

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kudus, Sony Wardhana menyampaikan, antusiasme pendaftar untuk petugas haji musim 2026 sangat tinggi. Menurutnya, terdapat 123 pendaftar untuk berbagai formasi yang dibutuhkan dalam petugas penyelenggaraan ibadah haji (PPIH) Kabupaten Kudus.

Baca Juga: Kuota Haji Kudus 2026 Menurun, tapi Kuota Lansia Naik 5 Persen

“Jumlah peminat untuk petugas pendamping haji saat ini tinggi. Melihat dari kuota sebanyak enam orang, sedangkan jumlah peminatnya lebih dari 100 orang,” tuturnya.

Ia merinci, pendaftar untuk posisi kutua kloter ada 15 pendaftar, pembimbing ibadah kloter ada 17 pendaftar. Bagian akomodasi tercatat menjadi formasi dengan peminat terbanyak, yakni 49 pendaftar. 

Disusul bagian konsumsi 28 orang, bagian transportasi 11 orang, bagian Siskohat (Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji terpadu) sebanyak dua orang, serta satu pendaftar untuk PPIH Arab Saudi. Seleksi ini merupakan bagian penting dalam memastikan kualitas layanan bagi calon jemaah haji asal Kudus.

Baca Juga: Aisyiyah Kudus Luncurkan Program DSMA untuk Perkuat Kemandirian Kesehatan Warga

“Untuk keputusan seleksi rekrutmen pendamping haji ini ditentukan langsung oleh Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Jawa Tengah. Kami hanya memfasilitasi proses pendaftaran dan verifikasi berkas,” sebutnya.

Dengan jumlah pendaftar yang melampaui kuota, kompetisi untuk menjadi bagian dari petugas haji tahun depan diprediksi berlangsung ketat. Pihaknya berharap para calon petugas dapat menjalani proses seleksi dengan profesional dan siap memberikan pelayanan terbaik ketika terpilih.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Warga Gunungsari Pati Tolak Rencana Pembentukan Tahura Muria

0
Rencana pembentukan Taman Hutan Raya (Tahura) di kawasan Pegunungan Muria mendapat penolakan dari warga Desa Gunungsari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Rencana pembentukan Taman Hutan Raya (Tahura) di kawasan Pegunungan Muria mendapat penolakan dari warga Desa Gunungsari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati. Mereka khawatir, penetapan Tahura akan berdampak pada lahan kebun komunal milik warga serta memicu masuknya investor besar yang berpotensi meminggirkan masyarakat lokal.

Penolakan itu tampak melalui sejumlah selebaran dan baliho yang dipasang di berbagai titik desa. Baliho tersebut bertuliskan “Warga Gunungsari Tolak Tahura” dan “Petani Lereng Muria Talak Hutan Tahura”.

Baca Juga: Pati Darurat HIV/AIDS, Satu Hari Satu Kasus

Ulil, salah satu warga menyebut, kekhawatiran terbesar warga adalah berubahnya status hutan yang dinilai membuka peluang investasi besar dan mengurangi akses masyarakat terhadap hasil hutan.

”Adanya Tahura, bisa mengakibatkan masyarakat tidak bisa lagi mendapatkan hasil dari hutan. Nanti banyak investor yang masuk,” ujarnya.

Selain kekhawatiran soal lahan, warga juga menilai kehadiran Tahura berpotensi menghambat pengembangan wisata desa. Saat ini, Gunungsari tengah mengembangkan sejumlah destinasi wisata melalui anggaran pemerintah desa.

”Pemerintah desa sudah menganggarkan pembangunan wisata. Karena itu masyarakat menolak Tahura di Desa Gunungsari,” imbuhnya.

Sementara, Kepala Desa Gunungsari Sudadi menegaskan, bahwa warga lebih menginginkan skema perhutanan sosial sebagai alternatif. Menurutnya, skema tersebut dinilai lebih memberi keuntungan ekonomi bagi masyarakat sekaligus tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Baca Juga: Nelayan Tewas Terseret Ombak Saat Cari Kerang di Perairan Dukuhseti Pati

Sudadi menjelaskan, warga telah menggarap kawasan hutan itu sejak 1965, kemudian memperluas lahan garapan pada periode 1988–1989. Ia mengatakan penolakan mencuat setelah tim terpadu dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) datang ke lokasi. Warga kemudian memasang spanduk berisi penolakan.

”Tulisan itu disampaikan langsung kepada tim terpadu,” jelas Sudadi.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Jelang Nataru, Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp70 Ribu per Kilogram

0
Pedagang Pasar Bitingan, Kudus sedang melayani pembeli. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Awal Desember 2025 harga bahan pokok di pasar tradisional Kudus melonjak naik secara signifikan. Hal itu dipengaruhi faktor cuaca dan menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025.

Terlebih pada harga cabai rawit merah dan cabai rawit hijau yang mengalami kenaikan hingga dua kali lipat dari sebelumnya. Sehingga banyak pembeli yang mengurangi porsi belanjaannya.

Baca Juga: Aisyiyah Kudus Luncurkan Program DSMA untuk Perkuat Kemandirian Kesehatan Warga

Salah satu pedagang di Pasar Bitingan, Tutik Asiani mengatakan, bahwa beberapa komoditas bahan pokok saat ini mengalami kenaikan harga. Menurutnya paling mencolok terjadi pada harga cabai rawit merah (cabai setan) yang saat ini mencapai harga Rp70 ribu per kilogramnya. 

“Satu Minggu yang lalu, harganya Rp35 ribu dan saat ini harganya mencapai Rp70 ribu. Selain itu juga ada cabai rawit hijau juga mengalami kenaikan dua kali lipat, dari sebelumnya Rp20 ribu kini menjadi Rp40 ribu,” bebernya saat ditemui di lokasi, Senin (1/12/2025).

Sementara untuk harga cabai merah keriting masih terbilang stabil, yakni dari harga Rp50 ribu kini menjadi Rp55 ribu. Selain itu, harga bawang merah juga naik. Ia merinci, untuk bawang merah kecil yang biasanya Rp30 ribu naik menjadi Rp35 ribu, bawang merah besar dari sebelumnya Rp40 ribu menjadi Rp50 ribu. 

Tak hanya harga cabai, sayuran wortel kini juga mengalami kenaikan harga yang signifikan. Menurutnya, kenaikan harga wortel dipengaruhi oleh adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk didistribusikan kepada siswa sekolah di seluruh Indonesia.

“Wortel saat ini mahal mas, sebelumnya Rp12 ribu saat ini meningkat menjadi Rp18 ribu. Ini karena MBG,” jelasnya sambil tersenyum.

Akibat adanya kenaikan beberapa bahan pokok saat ini, membuat daya beli masyarakat menurun. Dari sebelumnya konsumen yang membeli 1 kilogram, kini hanya membeli setengah kilogram. 

“Jadinya pembeli mengurangi porsi belanjaan mereka, dari sebelumnya yang biasa membeli satu kilo kini hanya setengahnya,” ujarnya. 

Ia menuturkan, kondisi harga bahan pokok mengalami kenaikan secara signifikan sejak tiga hari lalu. Di mana kenaikan harga sangat mempengaruhi terhadap penjualan di pasar saat ini. 

“Untuk harga saat ini bisa saja bertahan hingga Nataru. Karena biasanya kalau mendekati Nataru harga akan bertahan bahkan naik signifikan,” imbuhnya.

Baca Juga: MilkLife Athletics Challenge Seri 2, Ribuan Atlet Pelajar Unjuk Bakat di Kudus

Salah satu pembeli, Sholihah mengaku hal tersebut sudah terbiasa terjadi menjelang Nataru. Meski begitu, ia berharap agar kenaikan harga ini secepatnya bisa menurun.

“Kalau biasanya harga seperempat Rp9 ribu saat ini Capai Rp14 ribu. Tetap membeli karena memang untuk kebutuhan. Harapanya cepat turun supaya harga stabil,” jelasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Dapat Evaluasi Kemendagri, Besaran Pajak dan Retribusi Jepara Bakal Berubah 

0
Peraturan Daerah (Perda) Jepara Nomor 1 Tahun 2024 tentang pajak dan retribusi akan segera dilakukan penyesuaian. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Peraturan Daerah (Perda) Jepara Nomor 1 Tahun 2024 tentang pajak dan retribusi akan segera dilakukan penyesuaian. Hal itu setelah keluarnya surat hasil evaluasi dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). 

Wakil Bupati Jepara, Muhammad Ibnu Hajar menjelaskan evaluasi itu tertuang dalam surat dari Kemendagri Nomor:900.1.13.1/7966/Keuda pada tanggal 18 November 2025 lalu. 

Baca Juga: Museum Kartini Jepara Diproyeksikan Jadi Pusat Studi Perempuan Indonesia

Dalam surat tersebut, menurut Hajar terdapat beberapa poin dalam Perda Jepara Nomor 1 Tahun 2024 yang harus dilakukan penyesuaian. 

Meliputi, penyesuain ambang batas peredaran usaha untuk Pajak Barang dan Jasa Tertentu agar tidak membebani pelaku UMKM, serta tarif Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan mengikuti penerapan opsen provinsi. 

Perubahan mengenai Opsen Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), termasuk  penghapusan salah satu ayat pada Pasal 61 yang  dinilai tidak lagi memiliki substansi pengaturan.

Penyesuaian tarif retribusi untuk layanan kesehatan, pasar, dan jasa kepelabuhanan serta memperjelas struktur tarif retribusi agar memberi kepastian dan menghindari tumpang tindih. 

“Jika perubahan perda tidak dilakukan, pemerintah daerah dan DPRD dapat dikenai sanksi administratif berupa penundaan atau pemotongan Dana Alokasi Umum dan Dana Bagi Hasil, maupun sanksi lainnya,” kata Hajar dalam sidang rapat paripurna di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jepara, Senin (1/12/2025). 

Dalam surat tersebut, Pemkab Jepara menurutnya diberikan tenggat waktu untuk segera melaporkan hasil pembahasan selama 15 hari kerja, terhitung sejak tanggal surat diterbitkan atau paling lambat pada tanggal 8 Desember 2025. 

Sesuai surat dari Kemendagri, evaluasi Perda Jepara juga merujuk pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. Serta Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2023. 

“Perubahan Peraturan Daerah ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga krusial dalam menjaga stabilitas fiskal daerah,” ujarnya. 

Sementara itu, Ketua DPRD Jepara, Agus Sutisna mengatakan bahwa pembahasan ranperda akan dilakukan secara intensif oleh pimpinan DPRD, Bapemperda, dan Ketua Komisi A-D. 

Proses itu dijadwalkan berlangsung mulai 1 – 4 Desember 2025. Rapat paripurna penetapan akan digelar pada Jumat (5/12/2025). Untuk itu ia meminta jajaran eksekutif menyesuaikan jadwal pembahasan agar tenggat pemerintah pusat dapat dipenuhi. 

Baca Juga: Tiap Bulan Ribuan Warga Jepara Dicoret dari Peserta PBI JKN 

Sementara terkait penyesuaian tarif tersebut, Agus mengatakan bahwa seluruh anggota DPRD Jepara mendukung penuh pelaksanaan perubahan tarif pajak dan retribusi. 

“Dampaknya tentu saja bisa meningkatkan PAD, dan perubahan ini juga bukan serta merta kita yang melakukan, tetapi memang rekomendasi dari kementerian,” kata Agus. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Kelompok Segitiga Teater Kudus Persembahkan ‘Parade Kost Pak Uger’

0
Pada Kamis, 4 Desember 2025, Kelompok Segitiga Teater Kudus dengan dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan mempersembahkan acara “Parade Kost Pak Uger" yang digelar di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS — Dunia teater kembali mendapat ruang istimewa di Jawa Tengah melalui sebuah helatan seni yang merayakan kerja kreatif lintas generasi. Pada Kamis, 4 Desember 2025, Kelompok Segitiga Teater Kudus dengan dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan mempersembahkan acara “Parade Kost Pak Uger” yang digelar di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai.

Gelaran ini menghadirkan konsep yang beda. Dengan mengusung format dramatic reading, fokus pertunjukan diletakkan pada kekuatan teks, eksplorasi suara, dan interpretasi aktor dalam menyampaikan pesan dramatik. Format ini menghadirkan pengalaman menonton yang lebih intim, sekaligus membuka ruang bagi publik untuk mengapresiasi esensi teater dari sisi paling mendasar: kata demi kata yang menghidupkan cerita.

Baca Juga: Berikan Sajian Tak Biasa, Teater Minatani Pati Bakal Pentaskan “MARTIR” di Kudus dan Semarang

Di antara pementasan yang ditunggu, karya “Kost Pak Uger” menjadi sajian utama. Naskah ini merupakan adaptasi dari Naskah “Kos Bebas Campur” karya Idham Ardi Nurcahyo, seorang teaterawan asal Solo yang dikenal tajam dalam menyoroti dinamika sosial masyarakat urban. Adaptasi baru ini menghadirkan pendekatan segar, tanpa meninggalkan atmosfer asli yang telah menjadi identitas karya tersebut. Kehadiran naskah ini menjadi bentuk penghormatan terhadap perjalanan teater daerah sekaligus kontribusi bagi pengembangan khasanah teater kontemporer di Jawa Tengah.

Parade Teater tahun ini juga akan diwarnai penampilan dari beberapa kelompok teater yang mewakili keberagaman latar komunitas. Selain Kelompok Segitiga Teater Kudus selaku penggagas, hadir pula Teater Matra MA Al-Hidayah yang mengusung naskah “Dipaksa Dewasa” dengan pendekatan Teater Realis. Serta Teater Tutur Marjuki Kudus dengan “P. Info” sebagai naskah lakonnya. Kehadiran kelompok pelajar, sekolah, hingga komunitas umum menjadi bukti bahwa ekosistem teater di Kudus dan sekitarnya sedang bertumbuh dengan dinamis. Interaksi antar-kelompok dalam kegiatan ini diharapkan melahirkan pertukaran gagasan, pengalaman, dan motivasi untuk terus berkarya.

Selain berfungsi sebagai panggung apresiasi, helatan ini menjadi momentum penting bagi upaya memperkuat regenerasi teater daerah khususnya di kabupaten Kudus dan sekitarnya. Dukungan pemerintah provinsi Jawa Tengah menjadi dorongan berarti untuk memastikan seni pertunjukan tetap hidup dan mendapatkan tempat yang layak di tengah masyarakat. Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun kolaborasi yang lebih luas serta tercipta ruang kreatif berkelanjutan bagi para pelaku seni.

Baca Juga: Teater As STAI Pati Hidupkan Kembali Panggung Kesenian Lewat Pentas Produksi “Sukma”

Dengan rangkaian agenda yang terancang dan partisipasi komunitas teater yang beragam, “Parade Kost Pak Uger” diharapkan menjadi salah satu agenda seni yang tak hanya menghibur, tetapi juga memperkaya khazanah kebudayaan lokal. Masyarakat luas diundang untuk hadir dan menikmati pengalaman teater yang berbeda—lebih dekat, lebih jujur, dan lebih menggugah.

Jangan lupa datang dan saksikan
Parade Kost Pak Uger
Kamis, 4 Desember 2025
Di Auditorium Universitas Muria Kudus
Mulai pukul 16.00 WIB – selesai
HTM = Free (GRATIS) dan terbuka untuk umum

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Kuota Haji Kudus 2026 Menurun, tapi Kuota Lansia Naik 5 Persen

0
Praktik manasik haji di Kudus, Rabu (7/5/2025). Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah saat ini telah menetapkan kuota haji tahun 2026 di masing-masing daerah di seluruh wilayah Indonesia. Termasuk Kabupaten Kudus, yang saat ini juga mendapatkan kuota haji sebanyak 1.245 orang. 

Jumlah tersebut menurun dari kuota haji pada tahun sebelumnya yang berjumlah sekitar 1.400 jemaah. Meski begitu, kuota haji untuk lansia di tahun ini tambah sekitar 5 persen dari pada tahun lalu. 

Baca Juga: MilkLife Athletics Challenge Seri 2, Ribuan Atlet Pelajar Unjuk Bakat di Kudus

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kudus, Shony Wardhana mengatakan, bahwa kuota haji Kudus 2026 menurun sekitar 155 jemaah. Di mana tahun 2026, Kudus hanya mendapat kuota haji sebanyak 1.245 jemaah. 

Menurutnya, jumlah itu terbagi menjadi dua kelompok, yakni sebanyak 1.194 orang kuota berdasarkan porsi urutan haji, dan 51 orang untuk kuota haji bagi lanjut usia (lansia). 

“Dibandingkan tahun sebelumnya (kuota haji di Kudus) turun, tapi untuk kuota haji lansia tambah sekitar 5 persen atau dengan jumlah 51 orang dibandingkan tahun lalu yang hanya 31 orang saja,” jelasnya saat ditemui di kantornya, Senin (1/12/2025). 

Kuota haji 2026, sebutnya, diperuntukan bagi calon jemaah haji yang mendaftar hingga 12 Februari 2013 lalu. Penurunan kuota haji untuk Kabupaten Kudus, kata Shony, juga dipengaruhi jumlah pendaftar dan antrean yang ada di Kudus yang hanya berjumlah sesuai data tersebut. 

“Jadi yang mendaftar hingga 12 Februari 2013 memang hanya itu saja,” ujarnya. 

Ia menjelaskan, bahwa untuk pelunasan haji tahun 2026 tahap 1 mulai dilakukan pada 24 November sampai 23 Desember 2025. Ia mengimbau, bagi para calon jemaah haji yang mendapat porsi haji 2026 diharapakan bisa melunasi sampai dengan waktu yang telah ditetapkan.

Baca Juga: Pemkab Kudus Raih Penghargaan Antikorupsi dari KPK RI

“Sementara untuk pendamping haji atau Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) untuk Kudus total ada 6 orang. Terdiri, kuota 3 orang untuk ketua kloter dan 3 orang lainnya untuk pembimbing ibadah haji,” tuturnya. 

Shony menyebut, sesuai dengan Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 34 Tahun 2025, tentang Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 1447 H/2026 M, yang bersumber dari Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) dan nilai manfaat, untuk Embarkasi Solo sebesar Rp86.448.981. Sedangkan untuk Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) yang harus ditanggung calhaj Kudus pada Embarkasi Solo sebesar Rp53.233.422. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Jadi Ruang Dekatkan Seni Pada Masyarakat, Gelar Budaya Plat K Kembali Digelar 

0
Seniman enam daerah yang berasal dari Pati, Grobogan, Rembang, Kudus, Jepara, dan Blora kembali mengadakan Gelar Budaya Plat K yang ke-tiga kalinya di Joglo Garuda Gung, Desa Srobyong, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara pada Sabtu-Minggu (29 November - 1 Desember, 2025). Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Seniman enam daerah yang berasal dari Pati, Grobogan, Rembang, Kudus, Jepara, dan Blora kembali mengadakan Gelar Budaya Plat K yang ke-tiga kalinya di Joglo Garuda Gung, Desa Srobyong, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara pada Sabtu-Minggu (29 November – 1 Desember, 2025).

Terdapat berbagai jenis kesenian yang ditampilkan, mulai dari pameran seni rupa berupa lukisan, instalasi dan patung hingga penampilan musik, kentrung, barongan, puisi, serta perform art. 

Baca Juga: Berikan Sajian Tak Biasa, Teater Minatani Pati Bakal Pentaskan “MARTIR” di Kudus dan Semarang

Koordinator Lapangan (Korlap) Gelar Budaya Plat K, Citra Dwi Kurniawan dari Dapur Seni Studio Welahan mengatakan dalam pelaksanaannya, Gelar Budaya Plat K sengaja diadakan di daerah desa. 

Dengan tujuan untuk memperkenalkan dan mendekatkan pertunjukan seni kepada masyarakat. Selain itu, Citra melanjutkan masyarakat juga bisa menyaksikan hiburan seni lewat berbagai pertunjukan yang ditampilkan. 

“Di Jepara, kita sengaja pilih di Daerah Mlonggo. Selain karena memang ada yang memfasilitasi, lokasinya juga dekat dengan pemukiman warga. Sehingga saat ada suara gamelan misalnya, masyarakat akan langsung datang,” kata Citra saat ditemui di lokasi, Sabtu (29/11/2025). 

Citra mengatakan Gelar Budaya Plat K sendiri berangkat dari keresahan para seniman yang merasa bahwa kesenian dari daerah utara belum bisa berkembang luas seperti di daerah selatan. Seperti Yogyakarta, Solo, dan Magelang. 

Citra melanjutkan, kesenian di daerah utara yang melingkupi enam wilayah seperti sudah disebutkan sebelumnya, selama ini memang masih hidup dan masih membuat pertunjukan. 

“Hanya saja dengan adanya Plat K ini, kita ingin kesenian di wilayah utara spesifikasinya bisa lebih dipertajam lagi,” ujarnya. 

Melalui seni pertunjukan, Citra ingin bisa menularkan spirit energi kepada masyarakat untuk mengingatkan hal-hal yang sekarang ini sedang terjadi. 

“Seperti misalnya adanya hutan gundul, tanah longsor. Lewat seni pertunjukan kita ingin menyadarkan masyarakat terkait isu-isu yang memang butuh untuk kita perhatikan,” katanya. 

Baca Juga: Teater As STAI Pati Hidupkan Kembali Panggung Kesenian Lewat Pentas Produksi “Sukma”

Citra berharap, melalui Gelar Budaya Plat K yang digelar selama tiga hari, tidak hanya memberikan hiburan seni pertunjukan kepada masyarakat, tetapi juga bisa menumbuhkan ruang ekonomi. 

“Harapan kita seni pertunjukan ini tidak hanya bisa dinikmati, tapi bisa juga membuat ruang ekonomi di masyarakat ini bisa tumbuh,” tambahnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Aisyiyah Kudus Luncurkan Program DSMA untuk Perkuat Kemandirian Kesehatan Warga

0
Majelis Kesehatan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kabupaten Kudus resmi meluncurkan program Desa Sehat Mandiri ‘Aisyiyah (DSMA). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Majelis Kesehatan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kabupaten Kudus resmi meluncurkan program Desa Sehat Mandiri ‘Aisyiyah (DSMA), sebuah gerakan kesehatan berbasis komunitas yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui edukasi, pembiasaan hidup sehat, serta pencegahan berbagai penyakit.

Acara pencanangan yang berlangsung pada Senin, 1 Desember 2025, di Convention Hall RS Sarkies ‘Aisyiyah Kudus tersebut dihadiri Ketua PCA, Majelis Kesehatan PCA, serta perwakilan PRA dari seluruh kecamatan di Kabupaten Kudus.

Baca Juga: Pemkab Kudus Raih Penghargaan Antikorupsi dari KPK RI

Ketua Majelis Kesehatan PDA Kudus, Muslimah, menjelaskan bahwa DSMA merupakan tindak lanjut dari program PWA Jawa Tengah yang harus diterapkan secara konkret hingga tingkat ranting.

“Peran kami di PDA adalah memastikan konsep DSMA yang digagas PWA Jawa Tengah dapat dijalankan secara optimal di desa-desa,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (1/12/2025).

Ia menyebutkan bahwa DSMA diproyeksikan menjadi pusat edukasi kesehatan masyarakat yang mencakup pembiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), peningkatan kesadaran gizi, hingga pencegahan penyakit menular maupun tidak menular. Program ini mengusung tiga misi utama: membentuk Desa Sehat Mandiri di seluruh ranting ‘Aisyiyah, memberdayakan masyarakat dalam isu-isu kesehatan, dan menjadikan DSMA sebagai pusat pembelajaran serta advokasi kesehatan.

Ketua PDA Kudus, Eny Alifah Kurnia, menambahkan bahwa masyarakat perlu didorong untuk lebih mengedepankan pola pikir pencegahan.

“Desa Sehat Mandiri ‘Aisyiyah bukan hanya tentang ketersediaan fasilitas, tetapi bagaimana membangun kesadaran kolektif untuk hidup sehat,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa edukasi yang berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan program ini.

Turut hadir Tri Hartiti dari Majelis Kesehatan PWA Jawa Tengah yang memberikan pemaparan teknis mengenai tahapan pembentukan DSMA. Ia menjelaskan bahwa aktivitas inti DSMA meliputi PHBS, kesehatan ibu dan anak, gizi, sanitasi lingkungan, pencegahan penyakit, dan kesehatan jiwa.

“Pelaksanaannya dijalankan melalui empat pokja: pusat pembelajaran, literasi, penyebaran informasi, dan promosi kesehatan,” jelasnya.

PDA Kudus juga menegaskan bahwa keberhasilan DSMA memerlukan dukungan lintas sektor. Kolaborasi dengan Puskesmas, pemerintah desa, dan amal usaha Muhammadiyah–‘Aisyiyah seperti posyandu, klinik, hingga rumah sakit dinilai sangat penting untuk memperkuat implementasi program.

Baca Juga: Terdampak Pengembangan RSUD, Pasar Bitingan Kudus Bakal Dirobohkan

Pada tahap awal, setiap PCA ditargetkan memiliki sedikitnya satu desa binaan untuk dijadikan model DSMA. Desa percontohan tersebut diharapkan menjadi rujukan yang dapat direplikasi di seluruh wilayah Kudus sehingga gerakan kemandirian kesehatan masyarakat semakin meluas.

Pencanangan DSMA menjadi langkah signifikan bagi PD ‘Aisyiyah Kudus dalam memperkuat pelayanan sosial dan kesehatan berbasis komunitas, sekaligus mendukung arah kebijakan PWA Jawa Tengah dalam mewujudkan program kesehatan yang berkelanjutan.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

MilkLife Athletics Challenge Seri 2, Ribuan Atlet Pelajar Unjuk Bakat di Kudus

0
Ajang MilkLife Athletics Challenge Seri 2 2025 kembali digelar di Supersoccer Arena, Rendeng, Kudus. Foto: MilkLife Athletics Challenge

BETANEWS.ID, KUDUS – Ajang MilkLife Athletics Challenge Seri 2 2025 kembali digelar di Supersoccer Arena, Rendeng, Kudus. Kompetisi yang diinisiasi Bakti Olahraga Djarum Foundation dan MilkLife bekerja sama dengan Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Kabupaten Kudus ini berlangsung sejak Rabu (26/11/2025) hingga Sabtu (29/11/2025).

Sebanyak 2.188 atlet muda dari 184 sekolah, mulai dari jenjang MI/SD, MTs/SMP hingga SMA, ambil bagian dalam perhelatan ini. Peserta tak hanya berasal dari Kudus, tetapi juga dari wilayah sekitarnya.

Baca Juga: Pemkab Kudus Raih Penghargaan Antikorupsi dari KPK RI

Pada seri kedua ini, penyelenggara menambah satu Kategori Usia (KU) dan tujuh nomor lomba baru. Secara keseluruhan, terdapat empat divisi umur (KU 10, KU 12, KU 15, dan KU 18) dengan total 22 nomor pertandingan, meliputi lari berbagai jarak, estafet, jalan cepat, hingga nomor-nomor fun seperti Kanga’s Escape, Formula 1, Frog Jump, Turbo Throw, serta cabang teknik seperti tolak peluru, lempar lembing, lempar cakram, lompat jauh, dan lompat jangkit.

Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, menjelaskan bahwa kompetisi ini tidak hanya menghadirkan pengalaman bertanding, namun juga mengenalkan gerak dasar atletik sejak dini. Ia menegaskan, melalui kompetisi yang menyenangkan, karakter positif seperti percaya diri, sportivitas, tanggung jawab, dan kejujuran dapat terbentuk.

Menurutnya, ajang ini menjadi bagian penting dari upaya merawat regenerasi atlet atletik yang nantinya diharapkan mampu bersaing di level nasional maupun internasional.

“Kami ingin para siswa merasakan keseruan berkompetisi di atletik, olahraga yang menjadi ‘mother of sport’ dan mudah dipelajari. Kami berharap sekolah dan orang tua terus mendukung anak-anak ini agar kelak bisa mencetak prestasi yang membanggakan,” ujar Yoppy, Sabtu (29/11/2025).

Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PASI Kudus, Noor Akhmad, menilai MilkLife Athletics Challenge merupakan langkah strategis dalam pembinaan atlet usia muda. Ia menyebut, kompetisi berjenjang dan berkelanjutan seperti ini terbukti mampu melahirkan atlet bertalenta yang dapat bersinar di ajang bergengsi, termasuk Porprov Jateng 2026 hingga Popnas.

“Ajang ini memberi ruang bagi atlet muda Kudus untuk berkompetisi sambil terus dibina. Banyak atlet Porprov nanti adalah jebolan program ini. Kami berterima kasih kepada Djarum Foundation dan MilkLife yang telah turut menumbuhkan bibit atlet potensial,” kata Noor.

Turut hadir pada kesempatan tersebut, perwakilan PASI Jawa Tengah, Firdaus, yang memberikan apresiasi terhadap komitmen pembinaan atletik usia dini di Kudus. Ia berharap kompetisi reguler seperti ini dapat melahirkan generasi atletik yang unggul dan mampu mengharumkan nama daerah.

Salah satu peserta yang tampil menonjol adalah Irgi Candra Pranata, siswa kelas XII SMAN 2 Bae Kudus. Turun di nomor lari 100 meter, 400 meter, dan estafet 4 x 400 meter, Irgi sukses membawa pulang dua trofi. Catatan waktunya di nomor 400 meter mencapai 50.57 detik, sementara di 100 meter ia mencatat 11.18 detik.

Prestasi Irgi tidak hanya terlihat di ajang ini. Ia sebelumnya juga menjadi bagian tim juara estafet 4 x 400 meter pada Popnas 2025. Irgi menyebut latihan interval dan penguatan otot menjadi kunci peningkatan performanya.

“Bangga bisa mewakili sekolah. Ajang ini membantu saya mengukur kemampuan sekaligus persiapan untuk Porprov. Untuk adik-adik, tetap semangat dan jangan takut bersaing,” ujarnya.

Tak kalah membanggakan, tim SMA NU Al Ma’ruf berhasil meraih gelar juara umum KU 18 dengan raihan 8 emas, 6 perak, dan 4 perunggu. Tim yang dibina Miqdam Maulana itu tampil solid dengan kekuatan 18 atlet.

Latihan intensif selama satu setengah bulan akhirnya berbuah manis.

Baca Juga: Terdampak Pengembangan RSUD, Pasar Bitingan Kudus Bakal Dirobohkan

“Kami senang bisa ikut berpartisipasi. Kompetisi ini jadi ajang yang tepat bagi siswa dari KU 10 hingga KU 18 untuk memahami lintasan sekaligus batas kemampuan mereka. Atletik menjadi salah satu ekstrakurikuler unggulan di sekolah kami, dan ajang seperti ini sangat membantu mematangkan kemampuan mereka,” jelas Miqdam.

Gelaran MilkLife Athletics Challenge Seri 2 2025 ini kembali memperlihatkan semangat atlet muda Kudus dan semakin menegaskan komitmen daerah dalam membina generasi atletik yang kompetitif.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pati Darurat HIV/AIDS, Satu Hari Satu Kasus

0
Warga dan lintas komunitas di Kabupaten Pati menggelar aksi edukasi dan solidaritas di depan GOR Pesantenan Pati, pada Senin (1/12/2025). Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia yang bertepatan pada 1 Desember, warga dan lintas komunitas di Kabupaten Pati menggelar aksi edukasi dan solidaritas di depan GOR Pesantenan Pati, pada Senin (1/12/2025).

Sejumlah, relawan membagikan bunga dan buku kepada pengendara sebagai simbol dukungan, sekaligus menyampaikan pesan darurat tentang lonjakan kasus HIV/AIDS di Pati.

Baca Juga: Nelayan Tewas Terseret Ombak Saat Cari Kerang di Perairan Dukuhseti Pati

Prasetyo dari komunitas Rumah Matahari menegaskan, bahwa gerakan ini bukan sekadar seremoni, tetapi respons langsung atas situasi epidemi yang semakin meningkat dan kerap disertai stigma sosial.

“Kami komunitas non-profit yang mendampingi teman-teman ODHA, mendukung kesehatan mereka, edukasi, bimbingan, termasuk memastikan pengobatan ARV tetap kontinu agar imunitas tidak terganggu,” ujarnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jawa Tengah yang dihimpun hingga September 2025, total kasus HIV/AIDS di Pati mencapai 3.217 kasus sejak tahun 1996.

Namun yang lebih mengkhawatirkan, menurut Prasetyo, temuan kasus baru rata-rata muncul setiap hari.

“Iya, satu kasus sehari. Itu baru temuan kami di lapangan. Seperti gunung es, angka sebenarnya bisa jauh lebih besar,” jelasnya.

Kasus dominan terjadi pada rentang usia produktif 20-40 tahun, dengan faktor penyumbang terbesar justru dari ibu rumah tangga, termasuk temuan terbaru pada ibu hamil dan anak-anak.

“Trennya meningkat selama setahun terakhir, terutama ibu rumah tangga yang tanpa merasa berisiko, tiba-tiba sudah terjangkit. Ada juga anak-anak, sebagian karena terpapar dari orang tua, akibat edukasi yang kurang,” imbuhnya.

Untuk itu, Rumah Matahari saat ini juga aktif melakukan pendampingan bagi 30 anak usia SD hingga SMA serta menggiatkan edukasi ke komunitas ibu hamil.

Prasetyo mengungkapkan, dalam sejumlah kasus, ada ibu hamil yang positif, tetapi anaknya negatif, menunjukkan bahwa intervensi ARV berperan besar mencegah transmisi vertikal.

Rumah Matahari juga menggandeng komunitas penintas, seni, dan lingkungan untuk menyebarkan edukasi, salah satunya lewat podcast dan lomba poster di gedung DPRD Pati. Menurut Prasetyo, pendekatan kolaboratif ini penting karena stigma di tengah masyarakat masih sangat kuat.

Aksi pembagian bunga dan buku ini dimaksudkan agar pesan kesehatan terjamin sampai ke publik luas secara santun, simbolik, dan menyentuh.

“Kami ingin semua paham HIV/AIDS di Pati itu naik setiap hari, satu kasus per hari. Ini bukan aib, ini tanda kita harus makin peduli dan makin waspada,” jelasnya.

Di lokasi kegiatan yang sama, programmer HIV/AIDS dari Puskesmas Jakenan, Dwi Sri Susiloningsih, mengungkap bahwa puskesmasnya menangani 102 pasien HIV/AIDS, mayoritas bukan warga Pati, melainkan pasien rujukan dari luar kecamatan, luar kabupaten, bahkan luar provinsi, seperti dari Tuban dan Lamongan.

“Obat ARV dan pendaftarannya gratis, kami berikan pelayanan sebulan sekali untuk memastikan kepatuhan pengobatan,” katanya.

Meskipun ada 5 pasien yang sempat putus pengobatan, 2 orang sudah kembali menjalani terapi, berkat koordinasi pelacakan bersama Rumah Matahari.

Baca Juga: Warga Puncel Kembali Gelar Aksi, Tuntut Penutupan Hotel D’Ayana

Hingga November 2025, Puskesmas Jakenan mencatat 19 pasien baru yang memulai terapi ARV. Namun, Dwi menekankan bahwa data yang besar di Pati tidak selalu mencerminkan domisili, karena mayoritas pasien yang berobat bukan asli wilayah Pati.

“Jadi kalau data Pati tinggi, perlu kami luruskan, yang berobat di sini banyak yang dari luar kabupaten dan provinsi,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Bisa Custom Desain, Kenes Kidswear di Jepara Sediakan Baju Anak Harga Merakyat 

0
Effy Retno Indarwati, Pemilik Kenes Kidswear. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Tidak hanya menjual pakaian jadi, Kenes Kidswear, toko pakaian anak yang berlokasi di Jalan Dr. Sutomo, Kelurahan Kauman, Kecamatan/Kabupaten Jepara juga melayani pesanan dengan desain khusus atau costum. 

Pemilik Kenes Kidswear, Effy Retno Indarwati (36) bercerita usaha pakaian yang ia rintis pada tahun 2022 lalu itu terinspirasi dari anak perempuannya. 

Baca: SYAM’S Indonesia Handicraft, Produk Tas Anyaman Limbah Plastik yang Tembus Pasar Global

Effy yang senang mendadani anaknya, kemudian berpikir untuk mengembangkan minatnya di dunia pakaian menjadi peluang usaha. 

Sebelumnya, sekitar tahun 2014, Effy mengatakan ia memang sudah pernah merintis usaha pakaian melalui sistem Pre Order (PO), tetapi khusus untuk pakaian dewasa. 

Usaha itu ia jalankan saat masih menjadi karyawan di salah satu perusahaan swasta di Jepara selama 13 tahun. 

“2022, setelah saya di PHK akhirnya kepikiran untuk buka usaha lagi. Terus 2023 buka toko ini,” kata Effy saat ditemui di tokonya, Sabtu (29/11/2025). 

Untuk mengembangkan peluang pasar, Effy mengatakan ia juga melayani pembeli yang ingin membuat baju dengan desain khusus. Pembeli menurut Effy boleh membawa desain sendiri atau dari desain yang sudah dimiliki di tokonya. 

“misalnya mau request desain kita juga melayani, ngga cuma yang dijual di toko aja,” ujar Effy. 

Harga pakaian yang dijual juga cukup murah, mulai dari Rp50-200 ribu untuk anak baru lahir hingga berumur 12 tahun. 

Untuk memenuhi permintaan pembeli, saat ini Effy memiliki tiga penjahit khusus yang merupakan penjahit di sekitar kediaman rumahnya yaitu Di Desa Srobyong, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara.

“Untuk harga, kita menjual dengan harga yang merakyat, mulai Rp50-200 ribu,” sebut Effy. 

Saat ini, Effy mengatakan ia memang sedang fokus untuk memperlebar target pembeli bajunya di dalam daerah sendiri. 

Namun, meski masih berfokus untuk mengembangkan penjuaan dia area Kabupaten Jepara, produknya saat ini sudah mampu menjangkau pembeli dari luar daerah. Seperti Bandung dan Jakarta. 

Dalam sebulan Effy biasanya mampu memproduksi pakaian sekitar 50-70 pakaian.

Baca Juga: Mudah Diternak, Budidaya Kambing Boer Mulai Diminati Peternak Jepara 

“Untuk penjualan ini masih fokus dulu yang pesan secara online ya, yang di toko masih kita kembangkan, jadi stoknya memang ngga terlalu banyak yang di toko,” katanya. 

Selain menjual pakaian yang dikenakan sehari-hari, Effy mengatakan ia juga memiliki produk baru berupa pakaian yang dikombinasikan dengan kain tradisional. Berupa Batik dan Tenun.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Mi Ayam di Pati Ini Cuma Rp5 Ribu Seporsi, Kisah di Baliknya Menyentuh Hati

0
Mi Ayam Rp5000 di samping Kantor Desa Tamansari, Kecamatan Tlogowungu (Jalan Pati-Tlogowungu). Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Di tengah gempuran harga kebutuhan yang terus melambung, sebuah warung sederhana di Pati, menjadi oase kebaikan. Mi Ayam 5000, demikian nama warung milik Rustin, yang menarik perhatian karena konsisten menjual seporsi mi ayam yang lezat dengan harga yang nyaris tak masuk akal, hanya Rp5.000.

Padahal, harga normal mi ayam ini, dulunya Rp10.000. Lantas, apa yang membuat Ibu Rustin rela memangkas keuntungannya hingga 50 persen?

Baca Juga: Sajian Laut Bumbu Padang Partner Seafood Bikin Ketagihan

Rustin, yang membuka warung mi ayam  di samping Kantor Desa Tamansari, Kecamatan Tlogowungu (Jalan Pati-Tlogowungu) bercerita, bahwa keputusan besar ini lahir dari naluri keibuannya dan rasa prihatin yang mendalam.

Semua bermula saat warungnya masih dibuka di rumah, sekitar empat tahun lalu.

“Awalnya itu, teman-teman anakku saat main, kalau beli, ada yang bilang uang saku tinggal Rp5.000, bagaimana kalau beli Rp5.000 boleh tidak,” kenang Rustin.

Melihat kondisi anak-anak yang uang sakunya pas-pasan, apalagi lokasi rumahnya dekat dengan sekolah dan pondok pesantren, naluri keibuannya tak tega menolak.

“Naluri ibu ya nggak apa-apa. Kemudian dari situ timbul gimana kalau buka Rp5.000. Alhamdulillah banyak peminatnya,” ujarnya.

Tak hanya didorong oleh kepedulian pada anak-anak, Rustin juga menyadari betapa beratnya tekanan ekonomi saat ini. Ia berkaca dari pengalamannya sendiri saat jajan bersama keluarga.

“Terus pengalaman saya sendiri, jajan biasanya 4 orang, kalau satu mi Rp10 ribu atau Rp12 ribu, bawa uang Rp100 ribu itu pas. Zaman sekarang itu ekonomi nggak baik, jadi (saya ingin) meminimalisir pembeli supaya bisa menikmati bersama keluarga dengan jajan relatif murah,” jelasnya.

Keputusan menjual Rp5.000 adalah caranya untuk memastikan masyarakat, terutama keluarga dengan dana terbatas, tetap bisa menikmati makanan lezat tanpa harus menguras dompet.

Meskipun harganya dipotong drastis, warung yang buka setiap sore, pukul 16.00 hingga 23.00 WIB ini selalu dipadati pembeli. Dalam sehari, Rustin bisa menghabiskan 6 hingga 7 kilogram mi, yang jika dihitung bisa mencapai 150 hingga 175 porsi mie ayam.

“Insyaallah soal rasa tetap sama,” tegas Rustin.

Ia menjelaskan, untuk menyesuaikan harga, ia hanya mengurangi porsi mi menjadi separuh atau sedikit lebih sedikit dari porsi harga normal, namun rasa dan kualitas ayam tetap dijaga.

Selain mi ayam biasa seharga Rp5.000, Rustin juga menjual bakso: Rp5.000, mi ayam bakso komplet  Rp8.000.

Baca Juga: Luk Chup, Jajanan Imut Khas Thailand yang Mulai Digemari Warga Kudus

Salah satu pembeli, Kodari mengaku penasaran dan sengaja datang.

“Rasanya enak lezat, cocok untuk pelajar atau yang uang sakunya tipis,” katanya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -