Beranda blog Halaman 123

Cilok Celup, Jajanan Baru yang Sedang Ngetren di Mayong Jepara

0
Dunia kuliner di kawasan Branang Singorojo, Kecamatan Mayong, Jepara, semakin beragam dengan hadirnya sebuah jajanan baru bernama Cilok Celup. Foto: Luthfia Himma Soraya

BETANEWS.ID, JEPARA – Dunia kuliner di kawasan Branang Singorojo, Kecamatan Mayong, Jepara, semakin beragam dengan hadirnya sebuah jajanan baru bernama Cilok Celup. Usaha ini belum lama dirintis oleh Alifia (19), gadis yang baru lulus SMAN Pecangaan.

Warung kecil Alifia tampak tertata rapi. Di atas meja kayu beralas plastik merah, deretan wadah saus berjajar, mulai dari saus keju, bumbu kacang, hot lava, asam manis, hingga sambal meriah. Di sebelahnya, loyang berisi cilok dan dimsum siap disajikan. Sebuah kompor besar dengan penutup stainless berada di sisi kanan meja, sementara sebuah stand banner di sisi kiri membantu pembeli mudah mengenali lapaknya dari jauh.

Baca Juga: Sajian Laut Bumbu Padang Partner Seafood Bikin Ketagihan

Ia menjelaskan, bahwa menu Cilok Celup cukup bervariasi. Selain cilok original, Alifia menyediakan Cilok Ayam Suir, Cilok Ayam Teriyaki, Cilok Tahu, Pentol, hingga Dimsum.

“Untuk saat ini, menu dengan harga Rp500-an, seperti Cilok Ayam Suir, Cilok Tahu, dan Pentol menjadi yang paling digemari. Terutama anak-anak yang mampir setelah mengaji di sekitar sini,” terangnya.

Setiap hari, Alifia mengolah sekitar 3 kilogram adonan cilok. Proses produksi ia kerjakan dengan bantuan sang ibu.

“Produksinya masih dibantu ibu. Kalau jualan saya sendiri. Biasanya warung mulai buka pukul 12.00 hingga 20.00 WIB. Biasanya mulai ramai ya sore sampai malam,” bebernya saat ditenui beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Luk Chup, Jajanan Imut Khas Thailand yang Mulai Digemari Warga Kudus

Meski belum lama berjalan, Alifia yakin jika usahanya bisa berkembang dan dikenal lebih luas.

“Harapannya ya bisa berkembang. Yang penting yakin dulu lah,” tambahnya.

Penulis: Luthfia Himma Soraya, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Bebek Sanjaya, Bebek Bumbu Ireng Khas Madura yang Laris Manis di Tayu

0
Warung Bebek Sanjaya di Tayu, Pati. Foto: Wulan Divatia Dewi

BETANEWS.ID, PATI – Pada malam hari, kawasan Tayu harum dengan aroma makanan dari para pedagang kaki lima. Di antara deretan gerobak tersebut, sebuah tenda biru bertuliskan Bebek Sanjaya menjadi salah satu yang menarik perhatian. Tempat makan ini dikenal sebagai pelopor bebek bumbu ireng khas Madura pertama di Tayu.

Bella (30), pemilik usaha tersebut, bercerita bahwa keluarganya telah lama berkecimpung di bidang kuliner melalui warung Nasi Padang Tresno Bundo milik ibunya. Dari pengalaman itu, membuatnya tertarik membuka usaha sendiri.

Baca Juga: Sajian Laut Bumbu Padang Partner Seafood Bikin Ketagihan

“Karena memang sudah terbiasa di dunia kuliner, saya jadi terpikir buat buka usaha lain. Apalagi di Tayu waktu itu belum ada yang jual bebek bumbu ireng khas Madura,” ungkapnya.

Ide tersebut muncul saat ia kuliah di Yogyakarta, di mana bebek bumbu hitam Madura cukup populer. Kemudia ia ingin mencobanya di Tayu.

“Saya pikir, kenapa nggak dicoba di Kota Tayu? Di Jogja saja bisa diminati, mungkin di sini juga banyak yang suka,” katanya.

Nama Bebek Sanjaya terinspirasi dari Bebek Sinjay, kuliner terkenal asal Madura. Bella menambahkan, ia memilih nama itu karena terdengar baik dan mudah diingat.

“Harapannya dengan nama Sanjaya usaha ini bisa terus jaya,” jelasnya saat ditemui di lapaknya yang berlokasi di Desa Jepat Lor, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, beberapa waktu lalu.

Warung ini buka setiap hari pukul 16.00–23.00 WIB. Menu yang paling banyak dipesan adalah Bebek Hemat seharga Rp15.000, lengkap dengan nasi, sambal, dan lalapan. Ada juga Bebek Kemangi serta pilihan sambal bawang dan sambal ijo bagi pelanggan yang menyukai rasa pedas.

Baca Juga: Luk Chup, Jajanan Imut Khas Thailand yang Mulai Digemari Warga Kudus

Melihat potensi usahanya, ke depan Bella berencana membuka cabang di daerah sekitar.

“Mimpi saya bisa buka cabang di beberapa tempat seperti Kota Pati, Kajen, dan Kelet,” tambahnya.

Penulis: Wulan Divatia Dewi, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Museum Kartini Jepara Diproyeksikan Jadi Pusat Studi Perempuan Indonesia

0
Sejarah perjuangan perempuan Jepara kembali dihidupkan melalui Seminar Kebangsaan dan Bedah Buku berjudul "Roekmini: Kisah yang Terlupakan" yang digelar di Pendopo R.A. Kartini, Sabtu (29/11/2025). Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID,JEPARA – Sejarah perjuangan perempuan Jepara kembali dihidupkan melalui Seminar Kebangsaan dan Bedah Buku berjudul “Roekmini: Kisah yang Terlupakan” yang digelar di Pendopo R.A. Kartini, Sabtu (29/11/2025). 

Napak tilas Roekmini melalui seminar kebangsaan dan bedah buku ini menjadi momentum penting untuk membuka kembali lembaran sejarah perjuangan perempuan setelah Kartini. Khususnya kiprah Roekmini sebagai motor pendidikan perempuan di Jepara.

Baca Juga: Tiap Bulan Ribuan Warga Jepara Dicoret dari Peserta PBI JKN 

Bupati Jepara Witiarso Utomo menyampaikan kegiatan ini tidak sekadar diskusi intelektual, namun sebuah langkah strategis mengembalikan ingatan sejarah Jepara dan peran besar perempuan asal Kota Ukir dalam perjalanan bangsa.

“Ini adalah hari yang istimewa. Di pendopo ini, kita menandai langkah penting dalam sejarah kebudayaan daerah kita, peluncuran gagasan dan pembacaan ulang sejarah melalui seminar dan bedah buku Roekmini: Kisah yang Terlupakan,” ujarnya.

Menurut Bupati, Roekmini bukan hanya nama yang menyertai Kartini, tetapi sosok dengan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan perempuan. Ia turut mendirikan sekolah perempuan, membangun jaringan sosial dengan berbagai kalangan, dan menggerakkan organisasi pendidikan.

“Kartini menyalakan api, dan Roekmini menjaga nyala itu agar tetap hidup. Kini kita melihat Roekmini bukan hanya sebagai ‘adik Kartini’, tetapi sebagai tokoh yang membangun institusi, praktik pendidikan, dan organisasi sosial,” lanjutnya.

Bupati menegaskan Pemerintah Kabupaten Jepara berkomitmen menjadikan Museum Kartini sebagai pusat studi perempuan Indonesia.

“Harapannya, inspirasi perempuan yang lahir di sini dapat kembali dirasakan dan menjadi teladan generasi berikutnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengungkapkan kegiatan ini merupakan buah dari diskusi bersama Bupati Jepara mengenai masa depan Museum Kartini.

“Ide kegiatan ini sebenarnya datang dari pak bupati. Saat membangun kembali Museum Kartini, beliau ingin memastikan museum ini memiliki makna, bukan sekadar tempat menyimpan koleksi,” jelasnya.

Mbak Rerie, panggilan akrab Lestari Moerdijat kemudian menemukan buku terkait Roekmini dan mendiskusikannya dengan Bupati Witiarso hingga akhirnya lahir gagasan mengundang penulis dan para ahli untuk membuka ruang diskusi publik.

“Roekmini mungkin hanya dikenal sebagai nama jalan atau catatan kecil sejarah. Padahal pemikirannya sangat besar dalam perjuangan perempuan. Maka acara ini penting untuk mengenali kembali tokoh yang terlupakan,” tambahnya.

Ia mengapresiasi dukungan Pemkab Jepara yang membuka ruang dialog dan pelestarian gagasan perempuan.

Baca Juga: Sempat Dipandang Sebelah Mata, Effy Kini Tampil Percaya Diri Kembangkan Kenes Kidswear Berkat Pelatihan BRI

“Terima kasih kepada pemerintah daerah yang memberi kesempatan bagi kami untuk mengekspresikan pemikiran, terutama yang menyangkut perjuangan perempuan,” pungkasnya.

Seminar ini diharapkan menjadi langkah awal kelanjutan kegiatan serupa yang membuka ruang penelitian, diskusi publik, dan ekspedisi literasi sejarah perempuan Jepara, sehingga nilai perjuangan R.A. Kartini dan Roekmini tetap hidup dan relevan sepanjang zaman.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Persipa Takluk dari Dejan FC pada Laga Perdana Liga Nusantara

0
Persipa Pati menelan kekalahan saat melakoni laga perdana Liga Nusantara yang berlangsung di Stadion Moch Soebroto Kota Magelang. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Persipa Pati menelan kekalahan saat melakoni laga perdana Liga Nusantara yang berlangsung di Stadion Moch Soebroto Kota Magelang. Laskar Saridin takluk dari Dejan FC dengan skor 1-2.

Pada awal pertandingan, kedua tim langsung bermain terbuka dan sama-sama menampilkan permainan yang agresif. Di menit 10, peluang didapat oleh Persipa Pati. Dua pemain Laskar Saridin yang berada di depan berhasil lolos dari offside.

Baca Juga: Persipa Launching Tim dan Jersey Jelang Liga Nusantara Bergulir 

Namun, satu pemain yang mendapatkan bola dan mencoba memanfaatkan situasi emas itu dengan melesakkan bola ke arah gawang. Namun, bola masih mengarah ke atas gawang dan gagal membuahkan gol.

Semangat wani ngeyel terus digelorakan Persipa. Hingga akhirnya berhasil mencuri gol pada menit 22 lewat sepakan Fatkur Rohman. Kemelut di depan gawang Dejan FC mampu dimanfaatkan oleh Fatkur dengan baik hingga membuahkan satu gol. Skor 1-0 untuk Persipa.

Tertinggal oleh Persipa, pemain Dejan FC mencoba menaikkan tempo. Serangan demi serangan terus dibangun untuk bisa menyusul ketertinggalan. Hingga akhirnya pada menit 33, Dejan FC mendapatkan kesempatan tendangan bebas.

Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Arai Suhendri yang mengambil tendangan bebas. Dengan sepakan yang langsung mengarah ke kiri gawang yang dijaga oleh Ferdinand Putra, bola berhasil melesak manis dan gagal ditangkap oleh sang kiper. Gol 1-1 untuk kedua kesebelasan hingga turun minum.

Usai babak pertama, kedua tim masih sama-sama bermain agresif. Petaka dialami Persipa Pati yang harus kehilangan satu pemainnya karena mendapatkan kartu merah. Sang kapten tim,  Ikhfanul Alam diganjar kartu merah pada menit 64 dan harus meninggalkan lapangan.

Kehilangan satu pemainnya, Persipa tetap mencoba tidak mengurangi tempo permainan. Begitu juga dengan Dejan FC yang mencoba terus menekan dengan memanfaatkan keunggulan satu pemain.

Tak berselang lama dari keluarnya sang kapten dari lapangan hijau, Dejan FC berhasil menambah keunggulan satu gol lewat tendangan pemain berpengalaman dari Dejan yakni, Donald Bissa pada menit 69. Skor 2-1 untuk keunggulan Dejan FC.

Tertinggal dari Dejan, Persipa mencoba menyamakan kedudukan dengan sepuluh pemainnya. Beberapa peluang berhasil didapatkan, namun hingga peluit akhir, Laskar Saridin harus mengakui keunggukan Dejan FC.

Dengan hasil tersebut, Persipa gagal merebut poin pada laga perdana Liga Nusantara.

Baca Juga: Lawan PSDS Deli Serdang hingga Persikabo, Ini Deretan Musuh Berat Persipa di Liga Nusantara

Pelatih Persipa Pati Rudi Widodo berharap, masyarakat Pati dan suporter terus memberikan semangat kepada Persipa untuk melakoni laga pada Liga Nusantara.

“Kami berharap, masyarakat maupun suporter terus memberikan dukungan dan semangat, ” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pemkab Kudus Raih Penghargaan Antikorupsi dari KPK RI

0
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional setelah menerima penghargaan pada Puncak Apresiasi Pariwara Antikorupsi & ACFFEST 2025. Penghargaan kategori Media On Ground Activation itu diserahkan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (28/11/2025). Foto: Ist

BETANEWS.ID, JAKARTA — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional setelah menerima penghargaan pada Puncak Apresiasi Pariwara Antikorupsi & ACFFEST 2025. Penghargaan kategori Media On Ground Activation itu diserahkan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (28/11/2025).

Penghargaan yang diberikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Republik Indonesia tersebut diterima langsung oleh Bupati Kudus Sam’ani Intakoris bersama Wakil Bupati Bellinda Birton. Keduanya dinilai berhasil mendorong kampanye antikorupsi secara konsisten dan nyata di berbagai layanan publik.

Baca Juga: Desa Rahtawu Kudus Sambut Baik Rencana Tahura, Jadi Opsi Bagus Demi Tingkatkan PADes 

Bupati Sam’ani Intakoris menegaskan bahwa penanaman budaya antikorupsi harus dilakukan sejak dini dan diwujudkan melalui birokrasi yang transparan, bebas pungli, dan tidak berbelit-belit.

“Penghargaan ini menjadi pengingat sekaligus tanggung jawab bagi kita semua untuk terus menjaga integritas. Kekompakan dan komitmen bersama adalah modal besar agar praktik korupsi tidak terjadi di Kabupaten Kudus,” ujar Sam’ani.

Di sisi lain, Wakil Bupati Bellinda Birton menilai penghargaan tersebut sebagai bukti bahwa kampanye antikorupsi yang dilakukan Pemkab Kudus benar-benar berjalan di lapangan, bukan hanya sebatas slogan.

“Kami tidak berhenti pada pembuatan materi kampanye. Semua kami wujudkan dalam praktik langsung. Ketika birokrasi sehat, budaya antikorupsi akan tumbuh kuat di masyarakat,” tegas Bellinda.

Wakil Ketua KPK, Ibnu Basuki Widodo, menekankan perlunya perubahan cara pandang dalam upaya pemberantasan korupsi. Menurutnya, pencegahan hanya bisa berhasil jika dibarengi perubahan budaya dan lingkungan sosial.

“Penindakan saja tidak cukup. Kita butuh perubahan sikap. Pesan integritas harus disampaikan secara luas dan konsisten,” ungkap Ibnu.

Sementara itu, Deputi Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK, Wawan Wardiana, menjelaskan bahwa Pariwara Antikorupsi dan ACFFEST 2025 digelar untuk memperkuat kampanye integritas melalui berbagai media komunikasi publik.

Baca Juga: Respon Peneliti Soal Wacana Gunung Muria Jadi Tahura, Ingatkan Harus Berpihak pada Masyarakat

“Antikorupsi bukan sekadar slogan, tetapi gerakan bersama. Harapannya, kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan memperkuat nilai-nilai kejujuran,” jelasnya.

Dengan capaian ini, Pemkab Kudus menegaskan komitmennya untuk terus mendorong tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan bebas korupsi, demi memberikan pelayanan publik yang lebih baik bagi seluruh masyarakat.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Terdampak Pengembangan RSUD, Pasar Bitingan Kudus Bakal Dirobohkan

0
Pasar Bitingan Kudus nampak sepi. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus bakal melakukan pengembangan dan perluasan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Leokmono Hadi. Pembangunan gedung baru di lahan eks Matahari Mall tersebut juga akan membuat Pasar Bitingan dirobohkan.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kabupaten Kudus, Djati Solechah menyampaikan, informasinya pembangunan rumah sakit dilakukan pada tahun 2026. Dan, itu sudah dituangkan dalam Peraturan Daerah (Perda) Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2026.

Baca Juga: Desa Rahtawu Kudus Sambut Baik Rencana Tahura, Jadi Opsi Bagus Demi Tingkatkan PADes 

“Gedung baru RSUD di eke lahan Matahari Mall nantinya enam lantai. Karena butuh sarana dan prasarana pendukung, serta akses emergency dan sebagainya, sehingga nantinya bangunan Pasar Bitingan akan dirobohkan,” ujar Djati saat sosialisasi dengan pedagang sayur di Pasar Saerah Kudus, belum lama ini.

Djati menuturkan, untuk para pedagang nantinya bakal direlokasi. Para pedagang sayur, ikan, tahu, bumbu dan lainnya bakal direlokasi ke Pasar Saerah.

“Untuk pemindahan para pedagang sayur ke Pasar Saerah masih kita sosialisasikan. Semoga saja nanti ada titik temu,” bebernya.

Sedangkan untuk pedagang hasil konfeksi, lanjut Djati, rencananya nanti akan dibangunkan pasar baru di Wergu Kulon, Kecamatan Kota. Pasar baru tersebut nantinya menempati lahan seluas dua hektare.

“Pasar Baru tersebut nantinya untuk menampung padagang dari Pasar Bitingan. Luasnya dua hektar dan satu lantai. Sebab, kalau dua lanti kasihan yang dilantai atas, biasanya sepi,” ungkapnya.

Terkait dana pembangunan pasar baru tersebut, tutur Djati, saat ini sedang proses pengajuan ke pemerintah pusat. Estimasi hitung-hitungan sementara, pembangunan pasar baru tersebut menelan anggaran kurang lebih sebesar Rp 30 miliar.

“Anggaran sedang proses. Semoga pengusulan tersebut nantinya disetujui, sehingga pembangunan pasar baru di Kudus bisa dilaksanakan,” harapnya.

Sebagai informasi, saat ini Pemerintah Kabupaten Kudus sedang berupaya merelokasi pedagang sayur di Pasar Bitingan ke Pasar Saerah. Sosialisasi telah dilakukan, tetapi sangat alot terkait tarif retribusi kios dan lapak.

Baca Juga: Respon Peneliti Soal Wacana Gunung Muria Jadi Tahura, Ingatkan Harus Berpihak pada Masyarakat

Pihak Pasar Saerah menawarkan tarif retribusi kios sebesar Rp50 ribu dan los Rp18 ribu per hari. Tarif tersebut berlaku untuk 24 jam dan sudah berikut listrik, keamanan serta kebersihan.

Namun, para pedagang mengaku keberatan dengan tarif yang ditawarkan oleh pihak Pasar Saerah. Tarif Rp50 ribu untuk kios dan Rp18 ribu untuk los per hari tersebut dianggap terlalu mahal. Para pedagang pun meminta agar tarif retribusi disamakan dengan Pasar Bitingan, yakni separuh dari yang ditawarkan pihak Pasar Saerah.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Tangguh Jaga Inflasi 2025, Pemprov Jateng Pertahankan Prestasi TPID Terbaik Tingkat Provinsi

0
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berhasil mempertahankan prestasi sebagai Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) berkinerja terbaik tingkat provinsi kawasan Jawa-Bali pada 2025. Foto: Ist

BETANEWS.ID, JAKARTA — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berhasil mempertahankan prestasi sebagai Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) berkinerja terbaik tingkat provinsi kawasan Jawa-Bali pada 2025.

Hal itu karena provinsi yang dipimpin oleh Gubernur Ahmad Luthfi tersebut tangguh dalam menjaga laju inflasi di wilayahnya sepanjang 2025.

Baca Juga: Inilah Strategi Pemprov Jateng dalam Menggenjot PAD pada 2026

“Prestasi TPID kita nomor satu,” kata Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi saat ditemui usai menerima penghargaan dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia dan Rakornas Pengendalian Inflasi di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (28/11/2028) malam.

Sebagai informasi, upaya pengendalian inflasi di Jawa Tengah mengusung program REGA TATAS (Rega tumata, aman, terjangkau, adil, dan stabil). Program tersebut diimplementasikan melalui strategi pengendalian inflasi “4K”, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan komoditas, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Dikatakan Luthfi, sudah sejak 2024 lalu Pemprov Jateng melakukan berbagai upaya dan sinergi untuk pengendalian inflasi. Di antaranya menjaga stabilitas harga, keterjaminan pasokan pangan, serta kelancaran pendistribusian barang. Melalui harga yang stabil di pasar maka daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah kondisi ekonomi saat ini.

Tak ayal, pada tahun itu mengantarkan Provinsi Jawa Tengah sebagai TPID berkinerja terbaik tingkat provinsi kawasan Jawa-Bali pada tahun 2024. Prestasi itu kemudian dipertahankan pada 2025. Hal itu juga tak lepas dari kolaborasi, sinergi, dan inovasi dari seluruh stakeholder terkait, termasuk pemerintah kabupaten/kota.

“Ini menjadikan kita untuk lebih efektif kembali dalam rangka penetrasi harga, khususnya inflasi di wilayah kita,” jelasnya.

Adapun pada 2025 ini, kondisi inflasi Jawa Tengah menunjukkan laju yang stabil. Inflasi Oktober 2025 tercatat pada angka 2,86%, artinya masih dalam rentang sasaran 2,5 plus minus 1%. Di sisi lain, realisasi investasi Januari-September 2025 mencapai Rp66, 13 triliun.

Dampak positifnya adalah pertumbuhan ekonomi triwulan III-2025 mencapai 5,37% (yoy), lebih tinggi dari nasional (5,04% yoy). Kemudian angka kemiskinan turun dari 9,58% pada September 2024 menjadi 9,48% pada Maret 2025. Begitu juga dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2025 sebesar 4,66% atau turun 0,12%.

Upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah provinsi Jawa Tengah tersebut juga sejalan dengan program dari pemerintah pusat.

Baca Juga: Gubernur Ahmad Luthfi Pastikan Kondisi Seni, TKI Asal Temanggung yang 20 Tahun Hilang di Malaysia Sehat dan Aman

Presiden RI Prabowo Subianto dalam sambutannya mengatakan, di tengah kondisi politik global yang berdampak pada perekonomian dunia, perkonomian Indonesia masih tumbuh baik.

“Ini adalah sinergi dan kerja sama yang cukup baik di antara pengelola perekonomian kita. Ini membuktikan kepada rakyat, memberikan optimisme kepada kita bahwa Indonesia tangguh dan mandiri, dapat berdiri di kaki sendiri,” kata Prabowo.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

UMKM Jateng Tembus Pasar Global, Gubernur Ahmad Luthfi Lepas Ekspor Senilai Rp10,1 Miliar

0
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi melepas ekspor berbagai produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di wilayahnya senilai Rp10,1 miliar di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, pada Sabtu (29/11/2025). Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi melepas ekspor berbagai produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di wilayahnya senilai Rp10,1 miliar di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, pada Sabtu (29/11/2025).

Komoditas yang diekspor tersebut di antaranya sarang burung walet, ikan pari, keripik udang, kopi, cincau, kapulaga, dan berbagai produk lokal lainnya. Seluruh komoditas tersebut merupakan hasil usaha petani dan UMKM.

Baca Juga: Inilah Strategi Pemprov Jateng dalam Menggenjot PAD pada 2026

Ketua Balai Karantina Indonesia (Barantin), Sahat mengatakan, produk-produk yang diekspor tersebut hasil kerja para Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan UMKM yang dibina oleh Balai Karantina. Sebab, lembaganya kini tak hanya melakukan proses sertifikasi, tetapi juga mendampingi UMKM agar memenuhi standar ekspor.

“Yang kita dorong adalah ekspor UMKM. Banyak komoditas yang tidak bisa dihasilkan negara tujuan, tetapi sangat dibutuhkan di sana dengan syarat tertentu,” jelasnya.

Sahat juga menyampaikan hingga November 2025, nilai ekspor Jateng sudah mencapai Rp18,2 triliun dengan 24.935 sertifikasi karantina. Tahun sebelumnya, ekspor mencapai Rp19,5 triliun. Barantin menargetkan tahun 2026 ekspor dapat menembus Rp20 triliun.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi menyampaikan, terus memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan UMKM di wilayahnya. Sebab, UMKM adalah tulang punggung ekonomi daerah.

“Produk unggulan Jawa Tengah banyak sekali. Jangan berpikir ekspor itu hanya untuk perusahaan besar. UMKM kita boleh dan mampu melakukan ekspor,” tegas Luthfi.

Ia mengatakan Pemprov Jateng memberikan ruang selebar-lebarnya bagi UMKM untuk naik kelas, termasuk melalui pendampingan karantina.

“Kita punya banyak komoditas, termasuk ikan cupang, bawang merah, sarang burung walet, ikan, dan lainnya. Semuanya punya daya saing,” jelasnya.

Ia berharap agar nilai ekspor UMKM di wilayahnya terus meningkat. Oleh karenanya, pendampingan dari Barantin sangat dibutuhkan untuk membantu para pelaku UMKM. Ia juga menegaskan kondisi keamanan yang kondusif bagi investasi dan ekspor.

Berkat kondisivitas itu, pertumbuhan ekonomi Jateng pada Triwulan III 2025 mencapai 5,37 persen (yoy), lebih tinggi dari nasional yang berada di angka 5,04 persen.

Baca Juga: Gubernur Ahmad Luthfi Pastikan Kondisi Seni, TKI Asal Temanggung yang 20 Tahun Hilang di Malaysia Sehat dan Aman

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Abdul Haris menekankan pentingnya memperbaiki persepsi masyarakat bahwa ekspor itu rumit.

“Banyak warga yang ingin ekspor tetapi takut duluan karena merasa prosesnya ribet. Ini salah persepsi. Karantina dan Bea Cukai harus mendekat ke masyarakat,” tegasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Ahmad Luthfi: Investor Malaysia dan Fujian Komitmen Investasi Rp62,3 T

0
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, saat menghadiri acara pengukuhan Prof Dr Ir Adies Kadir sebagai Profesor Kehormatan, dalam rapat senat terbuka Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Sabtu (29/11/2025). Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Provinsi Jawa Tengah berhasil menggaet investasi dari para pengusaha dari Malaysia dan Fujian, China. Investasi tersebut bahkan sudah ditandatangani melalui Letter of Intent (LoI) dengan nilai total Rp62,3 triliun.

Nilai itu hasil kerja terkoordinasi antara Pemprov Jateng dan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).

Baca Juga: Inilah Strategi Pemprov Jateng dalam Menggenjot PAD pada 2026

Hal tersebut disampaikan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, usai menghadiri acara pengukuhan Prof Dr Ir Adies Kadir sebagai Profesor Kehormatan, dalam rapat senat terbuka Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Sabtu (29/11/2025).

“Totalnya ada Rp62,3 triliun. Dari Malaysia sekitar Rp6,9 triliun, dan dari Fujian, China, mencapai Rp55,4 triliun,” ujar Ahmad Luthfi.

Dijelaskan, Provinsi Fujian, China, yang sudah 20 tahun menjadi ‘sister province’ Jawa Tengah, menyampaikan komitmen investasi besar mencakup berbagai sektor.

Mulai dari pembangunan jalan, pendirian pabrik beton dan material konstruksi, industri komponen mobil, hingga infrastruktur perumahan. Perusahaan barang pecah belah serta industri energi terbarukan, seperti solar panel, juga masuk di dalamnya.

“Mereka tertarik ke Jawa Tengah karena tenaga kerja kita kompetitif. Daerah kita padat modal dan padat karya, serta iklim investasinya nyaman. Perizinan juga kita permudah, meskipun mereka PMA. Semua akan kita kawal,” kata Gubernur.

Selain investasi, sejumlah kerja sama bidang pendidikan juga berhasil dibukukan. Salah satunya kesepakatan beasiswa dan magang SMK bidang IT, antara Jateng dan perusahaan Ruijie Network, China.

Kerja sama ini dimotori Dinas Pendidikan. Pertukaran pelajar antara Provinsi Fujian dan Jawa Tengah juga diperkuat untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), terutama di sektor vokasi.

“Kita siapkan sekolah vokasi untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil. Apa yang dibutuhkan industri, itu yang kita latih,” tegasnya.

Gubernur juga mengungkapkan, Pemerintah Provinsi Fujian berkomitmen membuka penerbangan langsung Fujian–Semarang. Namun realisasi rute masih terkendala panjang landasan pacu bandara.

Hal ini telah dikoordinasikan dengan pemerintah pusat dan Angkasa Pura, agar runway Bandara Internasional Ahmad Yani bisa segera diperpanjang.

Sementara itu, untuk jalur laut, Pelabuhan Tanjung Emas saat ini sudah memiliki rute langsung ke Fujian dengan frekuensi dua minggu sekali.

Kendati demikian, revitalisasi pelabuhan tetap dibutuhkan agar layanan semakin optimal. Pemprov Jateng, kata Gubernur, sudah bersurat ke Kementerian Perhubungan terkait kebutuhan revitalisasi tersebut.

Dari sisi perdagangan, Gubernur juga menyebut adanya kerja sama antara Asian Trade, Tourism and Economic Council (ATTEC) bersama para pengusaha Asia untuk mendorong peningkatan investasi di Jawa Tengah. Upaya ini dimotori Kadin dan Hipmi.

Baca Juga: Gubernur Ahmad Luthfi Pastikan Kondisi Seni, TKI Asal Temanggung yang 20 Tahun Hilang di Malaysia Sehat dan Aman

Ia optimistis seluruh kerja sama ini akan memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai magnet investasi baru di kawasan regional.

“Dengan semua dukungan ini, investasi, pendidikan, konektivitas, dan SDM Jawa Tengah kita targetkan jadi pusat investasi baru,” ungkapnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Tiap Bulan Ribuan Warga Jepara Dicoret dari Peserta PBI JKN 

0
Ilustrasi.

BETANEWS.ID, JEPARA – Kementrian Sosial (Kemensos) RI setiap bulan selalu melakukan pembaruan Data Peserta Bantuan Iuran-Jaminan Kesehatan Nasional (PBI JKN). Pembaruan itu berdampak pada naik turunnya peserta PBI JKN di daerah.

Di Kabupaten Jepara, setiap bulan rata-rata terdapat ribuan peserta PBI JKN yang dicoret sebagai penerima manfaat. 

Baca Juga: Sempat Dipandang Sebelah Mata, Effy Kini Tampil Percaya Diri Kembangkan Kenes Kidswear Berkat Pelatihan BRI

Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial dan Fakir Miskin (PSFM) pada Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsospermades) Kabupaten Jepara, Zulaekhah Almunawaroh menyebutkan jika di total mulai dari bulan Januari-September, jumlah masyarakat Jepara yang dinonaktifkan sebagai peserta PBI-JKN sebanyak 71.389 peserta. 

Rinciannya pada Bulan Januari jumlah peserta yang non aktif sebanyak 1.483, Bulan Februari 1.401, Bulan Maret 756, Bulan April 774, Bulan Mei 53.772, Bulan Juni 3.951, Bulan Juli 671, Bulan Agustus 1.622, dan Bulan September 6.959. 

“Jadi setiap bulan, peserta PBI JKN itu ada SK-nya yang aktif dan non aktif,” kata Zulaekhah pada Betanews.id, Sabtu (28/11/2025). 

Adapun jumlah peserta PBI-JKN di Kabupaten Jepara per Bulan September yang masih aktif yaitu sebanyak 344.523 penerima manfaat. Dari jumlah peserta aktif pada Bulan Januari sebanyak 408.621 penerima manfaat. 

Zulaekhah menjelaskan penghapusan data penerima manfaat PBI-JKN terjadi karena saat ini data penerima bantuan sosial (bansos) didasarkan pada Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang digolongkan per desil. 

Syarat masyarakat yang bisa menerima bansos yaitu berada di desil 1-5. 

“Jadi secara otomatis masyarakat yang berada di desil 6-10 tidak bisa dicover. Tapi kalau memang faktanya ada masyarakat yang desil rendah tapi di DTSEN desil tinggi bisa diajukan pembaharuan DTSEN,” jelas Zulaekhah.

Bagi masyarakat yang tidak tercover PBI-JKN, Zulaekhah mengatakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara memang menyediakan anggaran kesehatan bagi masyarakat melalui program bantuan bagi Pekerja Bukan Penerima Upah dan Bukan Pekerja (PBPU BP). 

Baca Juga: Jelang Musim Penghujan, Pemkab Jepara Kebut Normalisasi Aliran Sungai

Namun jumlahnya disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah. Untuk itu Zulaekhah menghimbau bagi masyarakat yang sudah dihapus dari peserta PBI-JKN namuan sudah mampu, agar mendaftar sebagai peserta JKN mandiri. 

“Per bulan November 2025 peserta PBPPU BP yang dicover pemda sejumlah 102.645 penerima manfaat, dengan biaya iuran yang ditanggung sebesar Rp37.800 per penerima manfaat,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Desa Rahtawu Kudus Sambut Baik Rencana Tahura, Jadi Opsi Bagus Demi Tingkatkan PADes 

0
Penjabat (Pj) Kepala Desa Rahtawu, Sukono. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Penjabat (Pj) Kepala Desa Rahtawu, Sukono menyatakan dukungannya terhadap rencana peningkatan status kawasan Gunung Muria menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Menurutnya, kebijakan tersebut tidak hanya berdampak baik pada konservasi, tetapi juga berpotensi meningkatkan pendapatan asli desa (PADes).

Sukono mengatakan, Rahtawu perlu memaksimalkan potensi wilayah agar mampu menutup prediksi penurunan dana transfer dari pemerintah pusat pada tahun mendatang. Justru menurutnya, wacana peningkatan status jadi tahura akan berdampak bagus bagi masyarakat, terutama desa Rahtawu.

Baca Juga: Respon Peneliti Soal Wacana Gunung Muria Jadi Tahura, Ingatkan Harus Berpihak pada Masyarakat

“Kami menyambut baik, karena ini juga bisa meningkatkan pendapatan kas desa. Tahun depan ada penurunan dana dari pusat, sehingga kami perlu mendorong potensi yang ada supaya PADes Rahtawu meningkat,” ujarnya.

Sebagai desa yang berada di lereng Muria dan masuk dalam kawasan konservasi, Rahtawu telah mendorong warga untuk menjaga lingkungan dengan menerapkan pola tanam berkelanjutan. Menurut Sukono, warga kini tidak lagi menanam komoditas musiman seperti jagung di area tersebut.

“Wilayah konservasi kita jaga bersama. Saat ini tidak ada yang menanam jagung, dan kami upayakan masyarakat menanam tanaman jangka panjang seperti kopi, pete, durian, dan alpukat. Ini penting untuk menjaga alam di wilayah lereng Muria,” jelasnya.

Ia berharap, peningkatan status Muria menjadi Tahura dapat berjalan selaras dengan kepentingan masyarakat, sekaligus memperkuat upaya konservasi yang sudah dilakukan warga Rahtawu selama ini.

Diketahui, Kabupaten Kudus terdapat enam desa yang ditetapkan masuk dalam kawasan tahura, yakni Rahtawu, Colo, Japan, Ternadi, Soco, dan Kajar. Keenam wilayah tersebut selama ini menjadi kantong keanekaragaman hayati sekaligus ruang hidup bagi satwa liar.

Baca Juga: Anggaran Minim, Kudus Ajukan Rp85 M ke Kementerian PU untuk Bangun Jalan dan Jembatan 2026

Kepala Bidang Pengelolaan DAS dan Konservasi SDA DLHK Provinsi Jawa Tengah, Soegiharto mengungkapkan, perubahan status dilakukan berdasarkan kajian ekologi yang menunjukkan kuatnya fungsi kawasan tersebut. Terbukti, adanya hewan yang masih hidup di kawasan tersebut.

“Indikasinya ada 16 macan tutul sebagai rantai puncak. Ini menandakan ekosistem di sana masih sangat baik,” jelasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Sempat Dipandang Sebelah Mata, Effy Kini Tampil Percaya Diri Kembangkan Kenes Kidswear Berkat Pelatihan BRI

0
Effy Retno Indarwati, Pemilik Kenes Kidswear. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Layaknya seorang ibu yang memiliki anak perempuan, Effy Retno Indarwati (36) memiliki rasa kepuasan tersendiri saat bisa mendandani putri semata wayangnya dengan berbagai pakain yang membuat anaknya tampil menggemaskan.

Bagi perempuan asal Desa Srobyong, Mlonggo, Jepara, itu, pakaian tidak sekedar penutup tubuh. Melalui pakaian, ia mampu mengeksplor kemampuannya, sehingga berhasil mendirikan Kenes Kidswear dengan memberdayakan penjahit sekitar.

Baca Juga: Jelang Musim Penghujan, Pemkab Jepara Kebut Normalisasi Aliran Sungai

Ditemui di tokonya yang berlokasi di Jalan Dr. Sutomo, Kelurahan Kauman, Kecamatan/Kabupaten Jepara, Effy bercerita nama Kenes terinspirasi dari nama putrinya, yang berarti perempuan yang cantik dan menggemaskan.

Arti kata itu yang kemudian menjadi dasar baginya dalam menciptakan berbagai desain pakaian anak yang ia produksi.

“Saya ingin setiap anak bisa tampil sesuai umurnya, tentunya dengan harga merakyat namun tetap berkualitas,” ujarnya.

Sebelum mendirikan Kenes Kidswear, dulunya ia merupakan karyawan perusahaan swasta ternama di Kabupaten Jepara selama 13 tahun. Akan tetapi, pada tahun 2023 kontrak kerjanya tidak diperpanjang.

Tak patah arang, Effy kemudian membuka kembali bisnis pakaiannya. Sebenarnya, bisnis itu sudah dimulai pada 2014, namun terhenti di 2020 karena melahirkan.

“Di awal merintis kembali, banyak tantangannya, salah satunya yaitu dipandang sebelah mata oleh masyarakat karena merknya merk lokal,” katanya.

Tidak ingin menyerah, Effy kemudian mencoba berinovasi dengan memadupadankan pakain anak yang ia buat dengan kain wastra atau kain tradisional, berupa batik dan tenun.

Inovasi itu ia dapatkan saat mengikuti program BRIncubator, yaitu program pendampingan secara intensif yang diselenggarakan oleh Bank BRI untuk membantu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) agar naik kelas dan bisa bersaing di pasar global.

Effy Retno Indarwati (36) (kiri) bersama Syamsul Arifin, mentor Program BRIncubator (kanan) saat menerima penghargaan sebagai juara ke-II program BRIncubator Batch II yang diselenggarakan oleh Rumah BUMN BRI Jepara pada bulan November 2023. Foto: Dok Pribadi.

Effy sudah dua kali mengikuti program BRIncubator. Pertama pada Bulan Oktober-November 2023. Di program itu ia mendapat Juara II peserta terbaik Program BRINcubator Batch II 2023 yang diselenggarakan oleh Rumah BUMN BRI Jepara.

Di tahun selanjutnya, ia berhasil lolos kurasi dan kembali menjadi peserta BRIncubator Nasional yang diadakan pada bulan November-Desember 2024 secara daring.

“Saat di BRIncubator Nasional itu saya diajari bagaimana membuat inovasi sebuah produk. Karena di Jepara (brand) saya ini dipandang sebelah mata. Kemudian saya berinovasi menggunakan bahan yang terbuat dari kain wastra untuk membuat pakaian dari brandnya kenes. Alhamdulillah sejak itu, Kenes mulai dilirik,” tuturnya.

Produk pakaian dari Kenes menurutnya juga semakin berkembang dan memiliki pasar yang meluas hingga luar kota, setelah ia mengikuti pameran BRI UMKM EXPO(RT) pada 30 Januari – 2 Februari 2025 di ICE BSD City, Tangerang.

Jika tadinya, pembeli brand pakaian anak miliknya didominasi dari Kabupaten Jepara dan sekitarnya, sekarang menurut Effy ada juga berasal dari Jakarta dan Bandung.

Baca Juga: Kawasan Hutan Gunung Muria di Jepara Ikut Diusulkan Jadi Hutan Konservasi, Ini Lokasinya 

Effy bercerita, ia kini semakin percaya diri untuk mengembangkan Kenes Kidswear setelah mengikuti program pelatihan dan pameran yang diselenggarakan oleh Bank BRI.

“Ilmu yang saya dapat dari BRIncubator sangat menunjang bisnis saya di Kenes. Bisnis saya jadi lebih terarah, saya jadi punya planning, di tahun ini saya mesti ngapain, tahun depan mesti apa, itu sudah ada plan,” ujar Effy dengan penuh percaya diri.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Nelayan Tewas Terseret Ombak Saat Cari Kerang di Perairan Dukuhseti Pati

0
Seorang nelayan asal Desa Bakalan, Dukuhseti, Pati bernama Mas'ut (57), meninggal dunia setelah terjatuh dari perahu dan terseret ombak besar saat mencari kerang di perairan Alasdowo, Sabtu (29/11/2025). Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Seorang nelayan asal Desa Bakalan, Dukuhseti, Pati bernama Mas’ut (57), meninggal dunia setelah terjatuh dari perahu dan terseret ombak besar saat mencari kerang di perairan Alasdowo, Sabtu (29/11/2025). Insiden terjadi sekitar pukul 08.00 WIB saat korban tengah mengangkat garuk bukur bersama rekannya.

Kapolsek Dukuhseti AKP Ali Mashuri memgatakan, korban berangkat melaut sejak subuh dan saat menarik alat pencari kerang, perahu dihantam ombak sehingga korban terjatuh.

Baca Juga: Warga Puncel Kembali Gelar Aksi, Tuntut Penutupan Hotel D’Ayana

Upaya penyelamatan sempat dilakukan oleh rekan korban. Namun besarnya gelombang membuat pertolongan terlambat.

“Saksi sudah berupaya memutar haluan perahu dan memanggil rekan lainnya, tetapi korban lebih dulu terseret arus,” ujar Kapolsek.

Korban akhirnya ditemukan mengapung dalam posisi tengkurap dan langsung diangkat ke perahu. Meski telah diberi pertolongan pertama, nyawanya tak terselamatkan.

“Saat dinaikkan ke perahu, korban sudah dalam kondisi tidak bernyawa,” kata AKP Ali Mashuri.

Jenazah kemudian dibawa ke rumah duka di Desa Bakalan. Pihak keluarga menolak autopsi dan menerima kejadian tersebut sebagai musibah laut.

“Keluarga membuat surat pernyataan resmi bahwa kejadian ini murni kecelakaan dan tidak menuntut proses autopsi,” imbuh Kapolsek.

Petugas Polsek Dukuhseti juga telah melakukan pemeriksaan lokasi serta pendataan saksi. “Kami sudah mendatangi lokasi, mencatat keterangan saksi, dan melengkapi administrasi laporan termasuk surat pernyataan menerima kematian dari pihak keluarga,” kata Kapolsek.

Baca Juga: Baru Satu Jam Berdiri, Posko Pencari Keadilan Dibubarkan Satpol PP

AKP Ali Mashuri menambahkan, cuaca laut Dukuhseti sejak pagi memang tidak stabil. Gelombang bisa tiba-tiba tinggi, dan hal inilah yang sering menjadi ancaman bagi nelayan tradisional.

Ia mengimbau para nelayan untuk selalu memperhatikan kondisi cuaca serta menggunakan alat keselamatan saat melaut. “Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang. Keselamatan harus menjadi prioritas,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Respon Peneliti Soal Wacana Gunung Muria Jadi Tahura, Ingatkan Harus Berpihak pada Masyarakat

0
Peneliti MRC sekaligus dosen UMK, Mochamad Widjanarko. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Wacana peningkatan status kawasan Muria menjadi Taman Hutan Raya (Tahura) disambut baik oleh akademisi Universitas Muria Kudus (UMK). Namun, Peneliti MRC sekaligus dosen UMK, Mochamad Widjanarko mengingatkan bahwa perubahan status tersebut tak boleh berhenti pada tataran administratif semata, melainkan harus benar-benar diterapkan dengan mempertimbangkan kepentingan masyarakat lokal.

Dia membenarkan bahwa Tahura dapat menjadi instrumen penting untuk menjaga ekosistem Muria, apalagi kawasan itu memiliki sejarah panjang sebagai hutan lindung dengan ekosistem unik. Namun, ia menegaskan bahwa implementasi kebijakan tersebut harus membumi.

Baca Juga: UMKU Tegaskan Komitmen Wujudkan Kampus Aman dan Bebas Kekerasan

“Saya menyambut baik kalau Muria jadi Tahura. Tapi yang saya khawatirkan, jangan sampai ini hanya sekadar administratif, sama seperti ketika kawasan disebut taman nasional atau cagar biosfer,” katanya saat dimintai keterangan, Jumat (28/11/2025).

Menurutnya, penetapan kawasan konservasi sering kali terkesan hanya berorientasi pada status hukum, tetapi tidak mempertimbangkan bagaimana masyarakat yang tinggal dan menggantungkan hidup di kawasan tersebut akan berinteraksi dengan aturan baru.

“Ketika Tahura ditetapkan, misalnya Rahtawu masuk kawasan itu, apakah masyarakat boleh masuk? Nah ini yang harus disinkronkan. Jangan sampai masyarakat justru terpinggirkan,” tegasnya.

Widjanarko menekankan perlunya riset yang dilakukan oleh tim riset mengedepankan life in bersama masyarakat yang menjadi titik tempat tahura berfungsi. Dengan cara itu, analisis positif dan negatif bagi warga bisa terlihat jelas sebelum kebijakan final diberlakukan.

“Harapan saya, tim riset betul-betul melakukan life in dengan masyarakat yang akan terdampak. Kalau masyarakat belum disosialisasikan, kan repot. Apa saja dampaknya, baik positif maupun negatif, harus dibicarakan,” tambahnya.

Ia menilai perencanaan kawasan konservasi di berbagai tempat sering kali tidak melibatkan masyarakat lokal. Padahal, mereka adalah pihak yang paling sering berinteraksi dengan hutan.

Dari sisi historis, menurutnya kawasan Muria sejak lama berada dalam status hutan lindung terbatas. Perhutani pun pernah berada dalam posisi dilematis karena harus menjaga kawasan konservasi, namun di sisi lain masih ada area yang dianggap sebagai kawasan produksi.

Baca Juga: Akademisi UMK Fasilitasi Penataan Jalur Pendakian Muria, Targetkan Pengelolaan Lebih Profesional 

“Perhutani setelah ada DP-KLH, daerah perlindungan kawasannya semakin sempit dan mereka mulai melepaskan banyak titik. Tapi bagaimanapun, kalau Muria benar-benar jadi Tahura, ya harus membumi,” tegasnya.

Ia berharap penetapan Tahura Muria nantinya tidak hanya memberikan perlindungan ekologis, tetapi juga memastikan masyarakat tetap memiliki akses, peran, dan manfaat dari keberadaan kawasan konservasi tersebut.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Anggaran Minim, Kudus Ajukan Rp85 M ke Kementerian PU untuk Bangun Jalan dan Jembatan 2026

0
Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kudus, Harry Wibowo. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus mengajukan pembiayaan pembangunan infrastruktur ke Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum (PU) di tahun 2026. Hal tersebut dikarenakan pada tahun depan alokasi untuk pembangunan infrastruktur sangat minim.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kudus, Harry Wibowo menyampaikan, minimnya alokasi anggaran untuk pembangunan infrastruktur tak terlepas dari pemangkasan dana transfer ke daerah (TKD) yang cukup besar. Total pembiayan infrastruktur yang diajukan kurang lebih sebesar Rp85 miliar.

Baca Juga: UMKU Tegaskan Komitmen Wujudkan Kampus Aman dan Bebas Kekerasan

“Ada dua ruas jalan dan tiga jembatan yang kami usulkan pembangunanya ke Kementerian PU. Pembangunan tersebut kurang lebih menelan sebesar Rp85 miliar,” ujar Harry kepada Betanews.id melalui sambungan telepon, belum lama ini.

Harry kemudian merinci infratruktur mana saja yang diajukan pembiayaannya ke Kementerian PU. Antara lain, pembangunan sesi dua untuk Jalan R Agil Kusumadya dengan alokasi anggaran Rp20 miliar.

“Pembangunan Jalan R Agil Kusumadya sesi 2, ruasnya lebih panjang yakni 1,4 kilometer dibanding sesi satu yang 1,1 kilometer. Lebarnya juga mencapai 17 meter,” bebernya.

Kemudian, kata Harry, ada Jalan Kudus-Kaliwungu. Menurutnya, ruas tersebut statusnya adalah jalan provinsi. Jadi biaya pembangunannya diusulkan ke Kementerian PU.

“Pembiayaan pembangunan Jalan Kudus-Kaliwungu diusulkan kurang lebih sebesar Rp 15 miliar,” ungkapnya.

Selain dua ruas jalan tersebut, lanjut Harry, ada tiga jembatan yang diusulkan pembangunanya ke Kementerian PU. Yakni Jembatan Merah di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo sesar Rp15 miliar. Jembatan Braholo Desa Hadiwarno, Kecamatan Mejobo dengan anggaran Rp10 miliar.

Baca Juga: Akademisi UMK Fasilitasi Penataan Jalur Pendakian Muria, Targetkan Pengelolaan Lebih Profesional 

“Serta jembatan penghubung antara Desa Cranggan-Tergo Kecamatan Dawe yang arah ke Kabupaten Pati dengan anggaran Rp25 miliar. Usulan pembiayan jembatan ini memang lebih besar, karena lebih panjang dan lebar dibanding jembatan lain,” jelasnya.

Harry berharap, pengajuan pembiayaan pembangunan infrastruktur baik jalan dan jembatan di tahun depan bisa diakomodir oleh Kementerian PU. Sebab, alokasi anggaran di tahun depan untuk infrastruktur sangat minim.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -