Beranda blog Halaman 74

Dalih Buat Hiasan Kamar, Bocil Undaan Kudus Pesan Sajam Online

0
Kepolisian Sektor (Polsek) Undaan, Kudus mengamankan sejumlah senjata tajam. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Kepolisian Sektor (Polsek) Undaan, Kudus mengamankan sejumlah senjata tajam setelah menerima laporan adanya pengiriman paket mencurigakan melalui salah satu jasa ekspedisi di wilayah Kecamatan Undaan.

Pengungkapan kasus ini bermula dari informasi yang diterima Bhabinkamtibmas Desa Kalirejo pada Senin (26/1/2026) sekitar pukul 16.30 WIB. Informasi tersebut menyebutkan adanya kiriman senjata tajam jenis cobek atau celurit panjang yang masuk ke wilayah Desa Kalirejo.

Baca Juga: Rabu Pon di Kudus, Ratusan Ayam Petelur dan Bibit Tanaman Dibagikan ke Warga

Menindaklanjuti laporan itu, Unit Reskrim Polsek Undaan langsung melakukan penyelidikan dengan berkoordinasi bersama aparat desa setempat. Dari hasil pendalaman, polisi mengidentifikasi adanya tiga orang pemesan senjata tajam.

Kapolsek Undaan, AKP Uji Andi Haryono, menjelaskan bahwa dari tiga pemesan tersebut, dua di antaranya masih berstatus anak di bawah umur, sementara satu orang lainnya sudah dewasa.

“Setelah dilakukan penyelidikan, diketahui ada tiga orang pemesan. Dua di antaranya masih anak-anak dan satu orang sudah dewasa,” ujar AKP Uji Andi Haryono melalui siaran tertulisnya, Rabu (27/1/2026).

Petugas kemudian mendatangi rumah masing-masing pemesan dan mengamankan dua paket senjata tajam. Paket pertama berisi satu parang panjang atau cobek berukuran sekitar 1,5 meter, satu celurit panjang sekitar 50 cm, serta dua celurit kecil berukuran kurang lebih 30 cm.

Sementara paket kedua berisi satu parang panjang berukuran sekitar dua meter dan satu celurit kecil berukuran sekitar 30 cm. Seluruh senjata tajam tersebut kemudian diamankan sebagai barang bukti di Mapolsek Undaan.

Berdasarkan hasil klarifikasi kepada para pemesan, senjata tajam tersebut rencananya akan digunakan sebagai hiasan dinding kamar. Meski demikian, pihak kepolisian tetap mengambil langkah pembinaan, mengingat sebagian pemesan masih di bawah umur.

“Alasannya untuk hiasan kamar. Namun karena ini senjata tajam dan ada anak di bawah umur, kami tetap melakukan pembinaan dan membuat surat pernyataan agar perbuatan serupa tidak terulang,” jelas Kapolsek.

Surat pernyataan tersebut ditandatangani oleh para pemesan, orang tua masing-masing, Bhabinkamtibmas, Babinsa, serta Kepala Desa setempat. Seluruh barang bukti senjata tajam kini diamankan oleh pihak kepolisian.

Baca Juga: Dua Pelajar di Kudus Pesan Paket Celurit, Ngakunya Buat Konten di Medsos

AKP Uji Andi Haryono juga mengimbau masyarakat, khususnya para orang tua, agar lebih mengawasi aktivitas anak-anak, termasuk dalam penggunaan media sosial dan transaksi jual beli secara daring.

“Kami mengingatkan agar orang tua lebih mengawasi anak-anaknya dan tidak membiarkan kepemilikan senjata tajam, karena berpotensi membahayakan diri sendiri maupun orang lain,” imbaunya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

RSI Sunan Kudus Luncurkan Klinik Eksekutif, Solusi Atasi Antrean Panjang

0
Rumah Sakit Islam (RSI) Sunan Kudus resmi meluncurkan layanan klinik eksekutif serta taman pada Rabu (28/1/2026). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Rumah Sakit Islam (RSI) Sunan Kudus resmi meluncurkan layanan klinik eksekutif serta taman pada Rabu (28/1/2026). Kehadiran dua fasilitas baru tersebut diharapkan mampu meningkatkan kenyamanan pasien sekaligus mendukung proses pemulihan kesehatan secara lebih menyeluruh.

Pembangunan taman di area rumah sakit mendapat dukungan dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF). Selain itu, RSI Sunan Kudus juga menerima bantuan satu unit mobil ambulans dari PT Sukun serta hibah tiga unit sepeda listrik dari Bank Jateng sebagai bentuk sinergi lintas pihak dalam mendukung layanan kesehatan.

Baca Juga: Rabu Pon di Kudus, Ratusan Ayam Petelur dan Bibit Tanaman Dibagikan ke Warga

Direktur RSI Sunan Kudus, dr. Ahmad Syaifuddin, menyampaikan bahwa pembukaan poliklinik eksekutif karena melihat kebutuhan pasar. Menurutnya, banyak warga Kudus dan sekitarnya yang selain memiliki BPJS Kesehatan mereka juga punya asuransi tambahan. 

“Sehingga mereka butuh privasi, kenyamanan ketika dilakukan perawatan. Oleh karena itu kami meluncurkan poliklinik eksekutif,” ujar pria yang akrab disapa dr. Ipul tersebut. 

Selain itu, kata dia, poliklinik eksekutif, merupakan bagian dari strategi rumah sakit dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih terintegrasi dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

“Poliklinik eksekutif ini kami siapkan untuk menjawab kebutuhan pasien yang menginginkan pelayanan lebih cepat dan nyaman, namun tetap menjunjung prinsip keadilan bagi pasien BPJS Kesehatan,” bebernya.

Menurutnya, pemisahan layanan antara pasien BPJS dan non-BPJS justru membawa dampak positif bagi kedua kelompok. Pasalnya, tak akan ada lagi antrean panjang. 

“Selama ini antrean kerap menumpuk karena pasien BPJS dan non-BPJS bercampur. Dengan sistem baru ini, pasien BPJS justru bisa mendapatkan pelayanan yang lebih optimal dan efisien,” jelasnya. 

Berdasarkan data internal rumah sakit, sekitar 85 persen pasien RSI Sunan Kudus merupakan peserta BPJS Kesehatan. Dengan sistem layanan yang terpisah, waktu tunggu pasien BPJS diproyeksikan berkurang secara signifikan.

“Selain mempercepat layanan, poliklinik eksekutif juga menyediakan sejumlah tindakan medis yang belum terakomodasi dalam skema BPJS Kesehatan. Beberapa di antaranya meliputi layanan regenerative medicine, stem cell, pain management, serta tindakan medis khusus lainnya,” rinci dr. Ipul.

Dari sisi fasilitas, lanjutnya, layanan ini ditunjang sistem pendaftaran online berbasis browser yang memungkinkan pasien memilih dokter sebelum datang ke rumah sakit. Seluruh layanan penunjang, mulai dari laboratorium, radiologi, hingga farmasi, terintegrasi dalam satu area pelayanan.

Ruang tunggu poliklinik eksekutif pun dirancang dengan konsep lounge yang lebih nyaman dan humanis, lengkap dengan fasilitas minuman mandiri seperti kopi dan teh. Seluruh dokter spesialis yang bertugas di RSI Sunan Kudus juga melayani di poliklinik ini melalui optimalisasi sumber daya manusia yang telah tersedia.

Baca Juga: Dua Pelajar di Kudus Pesan Paket Celurit, Ngakunya Buat Konten di Medsos

Pada kesempatan yang sama, RSI Sunan Kudus juga meresmikan taman ruang hijau sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan rumah sakit yang lebih ramah pasien dan keluarga. Menurut dr. Ipul, keberadaan taman diharapkan mampu mengurangi kejenuhan pasien serta memberikan manfaat psikologis.

“Orang sakit maupun keluarga yang menunggu pasti merasa lelah dan jenuh. Dengan adanya taman, mereka bisa berinteraksi, bersantai, dan mendapatkan paparan sinar matahari langsung. Harapannya, ini bisa ikut membantu mempercepat proses pemulihan pasien,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Tahun Ini Hanya 47 Sekolah Rusak di Kudus yang Bakal Diperbaiki

0
Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Dasar Disdikpora Kudus, Anggun Nugroho. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tengah berkurangnya dana Transfer ke Daerah (TKD) 2026 dari Pemerintah Pusat, perbaikan sekolah rusak, utamanya di Kabupaten Kudus sangat berdampak. Di tahun ini perbaikan sekolah hanya dialokasikan sebesar Rp13 miliar untuk 47 sekolah, baik SD maupun SMP.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar pada Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus, Anggun NUgroho menyampaikan, penurunan proyek rehabilitasi sekolah sudah mulai terasa sejak 2025. Di mana di tahun tersebut hanya mendapatkan alokasi Rp9,3 miliar untuk 58 sekolah. 

Baca Juga: Rabu Pon di Kudus, Ratusan Ayam Petelur dan Bibit Tanaman Dibagikan ke Warga

Padahal menurutnya, di tahun-tahun sebelumnya perbaikan sekolah di Kudus hingga seratusan sekolah dengan alokasi anggaran lebih dari Rp20 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Kudus. Itupun belum terhitung dengan tambahan perbaikan di APBD Perubahan.

“Untuk itu, dengan anggaran tersebut kami maksimalkan dan prioritaskan untuk sekolah-sekolah rusak dengan kondisi yang membutuhkan penanganan secepatnya dan mendesak,” bebernya.

Dari total perbaikan sekolah yang diperuntukkan di tahun ini, kata dia, ditujukan untuk tujuh SMP dan 40 SD. Di antaranya meliputi, SMP 1 Dawe, SD 2 Sidomulyo, dan beberapa SD di Kecamatan Bae.

Adapun beberapa pekerjaan paket yang dilakukan dalam program perbaikan tersebut meliputi perbaikan ruang kelas, ruang guru, serta jamban.

“Kalau untuk SMP 1 Dawe nanti ada perbaikan untuk talud dan jamban. Sedangkan rebabilitasi sekolah rusak lainnya rata-rata merehab ruang guru dan ruang kelas,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, bahwa saat ini proses perbaikan sekolah di Kudus masih dalam tahap perencanaan. Meski begitu, pihaknya menargetkan Februari 2026, proyek sudah masuk dalam penyediaan barang dan jasa.

“Sehingga di minggu kedua di bulan Maret sudah mulai melakukan pengerjaan fisik. Setidaknya satunpaket sudah bisa dikerjakan,” terangnya.

Ia menuturkan, upaya perbaikan fasilitas pendidikan akan terus dilakukan, mengingat jumlah sekolah rusak di Kota Kretek tercatat selalu ada setiap tahunnya. Namun hal itu terkendala adanya keterbatasan anggaran, sehingga proyek perbaikan sekolah belum bisa menyentuh secara keseluruhan.

Demi memaksimalkan rehabilitasi sekolah yang mengalami kerusakan mendadak dan mendesak, Pemkab Kudus sudah menyusun skema melalui alokasi anggaran perawatan. DIa menyebut, tahun ini, anggaran perawatan sekolah dialokasikan sekitar Rp3,7 miliar.

Baca Juga: Dua Pelajar di Kudus Pesan Paket Celurit, Ngakunya Buat Konten di Medsos

“Anggaran perawatan ini merupakan kebijakan dari Bupati Kudus. Harapannya, sekolah yang mengalami rusak mendadak dan tidak masuk dalam anggaran perbaikan reguler, bisa ditanganu lewat alokasi anggaran ini,” tuturnya.

Anggun menambahkan, setidaknya ada dua sekolah yang telah masuk dalam daftar perbaikan melalui skema anggaran perawatan dengan kerusakan pada atap. Keduanya yakni SD 1 Sidomulyo dan SD 4 Bulungcangkring di Kecamatan Jekulo.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

54 Rumah Terdampak Bencana Jepara Terima Bantuan Stimulan

0
Penyerahan bantuan RTLH di Jepara. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Perasaan trauma masih dirasakan Solehah (48), Warga RT 5 RW 1, Desa Welahan, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara saat mendengar suara reruntuhan. 

Rumahnya hancur lebur akibat diterjanga angin dan hujan deras yang terjadi pada Senin, (5/1/2026) lalu sekitar pukul 08.00 WIB. 

Baca Juga: Rabu Pon di Kudus, Ratusan Ayam Petelur dan Bibit Tanaman Dibagikan ke Warga

Saat itu, Solehah hanya seorang diri di dalam rumah. Ia sedang memasak di dapur, tiba-tiba genteng rumahnya jatuh lalu disusul tembok rumahnya ambruk. 

Beruntung ia berhasil menyelamatkan diri dan bisa keluar lewat pintu belakang. Hampir seluruh perabotan rumahnya rusak, tertimbun reruntuhan bangunan rumah. 

“Ada hujan terus gentengnya runtuh semua habis itu temboknya ikut ambruk. Pas kejadian saya lagi di dapur, sambil nutupin kepala, saya keluar pelan-pelan. Kalau inget itu rasanya masih trauma,” tuturnya saat ditemui di kediamannya, Rabu (28/1/2026). 

Rumah tersebut merupakan peninggalan orang tua Solehah yang dibangun sekitar 50 tahun yang lalu. Usianya yang sudah tua, membuat rumah tersebut menurut Solehah memang rawan ambruk. 

Sehingga pada saat terjadi hujan dan angin kencang, Solehah biasanya memilih mengungsi ke rumah saudaranya yang berada di samping rumahnya persis. 

Sebenarnya pada tahun 2022 lalu, rumahnya sudah sempat diusulkan oleh pihak desa agar mendapat bantuan renovasi rumah. 

“Dulu sudah sempat diusulkan, sebelum ibu saya meninggal, tapi ngga jadi (dapat bantuan),” katanya. 

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman (Disperkim) Kabupaten Jepara, Moh. Eko Udyyono mengatakan total terdapat 54 rumah yang mendapat bantuan Rumah Tak Layak Huni (RTLH) akibat terdampak bencana. 

Rinciannya 30 rumah berada di daerah Jepara bagian selatan dan sisanya, 24 rumah di daerah Jepara bagian utara. 

“Total ada 54 rumah di 10 kecamatan yang mendapat bantuan RTLH, hari ini yang sudah kita serahkan untuk 24 rumah di Jepara bagian selatan,”  sebutnya. 

Apapun anggarannya, Eko menyebutkan untuk di Jepara bagian selatan diambilkan dari dana Bantuan Tak Terduga (BTT) yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jepara 2026. 

Baca Juga: Dua Pelajar di Kudus Pesan Paket Celurit, Ngakunya Buat Konten di Medsos

Sedangkan sisanya, 24 rumah di Jepara bagian utara dimintakan dari bantuan sosial perusahaan atau CSR. 

“Yang dari BTT total anggarannya Rp119,5 juta. Per rumah alokasi anggarannya berbeda-beda, rusak ringan Rp1,5 juta, berat Rp15 juta, dan yang sangat berat Rp20 juta,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Banjir di Pati Naik Lagi, Puluhan Desa Masih Terendam 

0
Banjir yang melanda Kabupaten Pati tak kunjung surut. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Banjir yang melanda Kabupaten Pati tak kunjung surut. Bahkan, genangan banjir kembali meninggi setelah hujan mengguyur beberapa hari belakangan ini.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati, masih ada 50 desa di 7 kecamatan yang tergenang banjir. Antara lain  di Kecamatan Pati ada 7 desa yang terdampak, Juwana (9 desa), Kayen (5 desa), Jakenan (8 desa), Sukolilo (3 desa), Gabus (13 desa).

Baca Juga: AMPB Curigai Adanya Pesanan di Balik Perkara Botok Cs

Akibat banjir ini, kurang lebih ada 3.650 rumah warga yang dihuni 4.606 KK dan 12.581 jiwa yang terdampak. Dari jumlah itu, ada 447 kepala keluarga atau 1.096 jiwa yang mengungsi. Pengungsian tersebar di tempat umum dan di tempat saudara atau kerabat yang tidak terdampak banjir.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Pati, Martinus Budi Prasetya mengungkapkan, pihaknya tak hanya mencatat wilayah yang permukiman warganya terdampak. Melainkan juga area sawah maupun tambak yang terdampak banjir.

Dari puluhan desa itu, sawah yang terendam banjir kurang lebih seluas 4475 hektare. Sementara untuk lahan tambak ada seluas kurang lebih 872 hektare. 

“Banjir saat ini masih di wilayah 7 kecamatan yang terdampak. Kemudian 50 desa yang masih ada genangan. Genangan itu ada wilayah pemukiman, genangan yang ada area sawah maupun di area tambak kita catat sebagai dampak banjir ini,” ucapnya. 

Ia menyebut, banjir sebelumnya sempat mulai surut. Namun genangan air kembali meninggi setelah hujan mengguyur kawasan hulu, baik itu Pegunungan Kendeng maupun Muria.

Baca Juga: ICW Minta KPK Telusuri Jejak Pencucian Uang Dalam Kasus Sudewo

Genangan banjir yang kembali meninggi utamanya di desa yang lokasinya berada aliran Sungai Silugonggo. Mengingat aliran sungai tersebut tak lagi kuat menampung air kiriman dari hulu.

“Semalam hujan tidak deras di Pati, barangkali deras di Muria Timur dan Kendeng. Tinggi muka air Silugonggo Juwana terdampak, beberapa desa yang kemarin sempat surut, seperti di Mintobasuki, Ngastorejo, wilayah Jakenan dan Juwana, Kendungpancing, dan Tluwah akhirnya infonya naik lagi. Ada yang selutut” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Komunitas PSSS Hadir Perkuat UMKM Lokal Kudus

0
Perkumpulan Srikandi Sejahtera Sehat (PSSS) Kabupaten Kudus resmi dilaunching di Gedung Setda A Lantai 4, Rabu (28/1/2026). Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Perkumpulan Srikandi Sejahtera Sehat (PSSS) Kabupaten Kudus resmi dilaunching di Gedung Setda A Lantai 4, Rabu (28/1/2026). Komunitas tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya di bidang sosial dan pemberdayaan UMKM lokal.

Tak hanya kegiatan launching, acara tersebut juga digelar sosialisasi pencegahan kekerasan pada perempuan dan anak, hingga dimeriahkan dengan bazar dari IKM Dekranasda Kudus, berupa produk makanan dan minuman, serta kreasi.

Baca Juga: Tak Cuma Ukir, Jepara Juga Krisis Regenerasi Pengrajin Remitan

Ketua PSSS Kudus, Martha Ngatmiati menjelaskan, sejak awal PSSS menitikberatkan pada kegiatan aksi sosial. Beberapa kegiatan telah dilakukan, di antaranya pemberian santunan kepada anak yatim hingga memberikan tambahan bantuan logistik bagi para korban terdampak bencana banjir. 

Dengan kehadiran komunitas yang kini beranggotakan 58 orang itu, bisa membantu masyarakat yang mengalami kesulitan dalam pengurusan administrasi seperti pembuatan KTP dan lain sebagainya.

“Banyak masyarakat yang merasa dipersulit karena kondisi ekonomi. Di situ kami hadir untuk membantu mereka, baik dalam pendampingan maupun pemberdayaan,” katanya.

Sekertaris Daerah Kabupaten Kudus, Revlisianto Subekti mengapresiasi peluncuran PSSS yang dinilai sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, meskipun baru dilaunching, namun sejatinya komunitas yang di dalamnya para pelaku UMKM hingga tenaga kesehatan itu, sudah menjalankan kegiatan sosial terhadap masyarakat sekitar.

“Mudah-mudahan bisa mewadahi berbagai kegiatan. Seperti halnya seperti adanya sosialisasi pencegahan perundungan terhadap perempuan dan anak, hingga peningkatan UMKM,” bebernya.

Saat disuinggung terkait angka kekerasan perempuan di Kudus, Revlisianto menyampaikan tidak mengethui secara pasti, hanya saja ia menyebut bahwa jumlahnya relatif kecil. Pihaknya juga telah mensinkronkan laporan masuk dengan PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak).

Sementara itu, Ketua TP PKK Kudus, Endhah Endhayani mengatakan, bahwa PSSS merupakan wadah bagi para pelaku UMKM kecil di Kudus. Menurutnya, dengan dilaunchingnya komunitas tersebut, pelaku UMKM Kudus bisa lebih terarah dan dapat berkembang dengan lebih baik.

“Harapannya, ketika UMKM masuk ke komunitas ini mereka mempunyai rumah bersama. Dari Pemkab kudus juga siap membantu mereka, mengingat pelaku UMKM Kudus terdapat banyak pelaku,” ungkapnya.

Baca Juga: Mulai Dibangun 2027, Jalur Alternatif Sumanding-Tempur Bakal Difokuskan Jadi Jalur Mitigasi 

Pihaknya menekankan, komunitas tersebut tak hanya sebatas peluncuran organisasi, namun juga harus memberikan manfaat secara luas bagi masyarakat. Maka dari itu, dalam launching tersebut digelar sosialisasi kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak.

“Tidak hanya soal UMKM, tetapi juga bagaimana perempuan bisa memahami dan menghindari kekerasan, yang sebagian besar korbannya adalah perempuan,” tambahnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Terungkap! Pria di Jepara yang Diduga Meninggal Usai Nonton Orkes Ternyata…

0
Kasat Reskrim Polres Jepara, AKP M. Wildan Faizal Umar Rela. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Warga Kabupaten Jepara sempat digegerkan oleh seorang pria yang diduga meninggal karena menjadi korban pengeroyokan setelah menonton pertunjukan orkes. 

Kasatreskrim Polres Jepara, AKP M Faizal Wildan Umar Rela mengatakan setelah melakukan penyelidikan mendalam, pihaknya memastikan penyebab pria asal Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo itu meninggal karena mengalami kecelakaan tunggal. 

Baca Juga: Tak Cuma Ukir, Jepara Juga Krisis Regenerasi Pengrajin Remitan

“Penyebab kematiannya bukan karena dikeroyok atau dianiaya. Tetapi karena laka tunggal,” kata Wildan pada Selasa, (27/1/2026). 

Wildan melanjutkan penyelidikan dilakukan kepada beberapa orang saksi. Diantaranya teman yang diboncengkan korban dan warga sekitar di tempat kejadian perkara (TKP). Tepatnya di jalan raya wilayah Desa Tengguli, Kecamatan Bangsri.

“Kami klarifikasi ke pemboncengnya, dan dia mengakui memang kecelakaan tunggal. Ada saksi di TKP yang mendengar kejadian tersebut,” ungkap Wildan. 

Saat itu, Wildan mengatakan korban dan temannya dalam pengaruh minuman beralkohol. Sehingga pada saat terjadi kecelakaan, teman korban juga dalam kondisi tidak sadar. 

Dari hasil autopsi, Wildan mengatakan korban mengalami benturan benda tumpul pada bagian kepala.

“Benturan benda tumpul di kepala itulah yang menyebabkan kematian korban,” jelasnya. 

Karena hasil penyelidikan disimpulkan kematian korban karena kecelakaan lalulintas, maka Wildan menyerahkan kasus ini kepada Satlantas Polres Jepara.

Baca Juga: Mulai Dibangun 2027, Jalur Alternatif Sumanding-Tempur Bakal Difokuskan Jadi Jalur Mitigasi 

Diberitakan sebelumnya, warga Jepara digegerkan dengan kematian Ary. Banyak asumsi liar yang menyebut Ary meninggal karena dikeroyok ketika atau usai nonton orkes di Desa Guyangan.

Ary meninggal dunia sekitar pukul 07.00 WIB, Minggu (25/1/2026) di rumah sakit. Karena insiden itu menimbulkan asumsi liar, maka oleh pihak Kepolisian dilakukan autopsi dan penyelidikan untuk memperoleh fakta sesungguhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pendapatan Pemkab Kudus dari Sektor Pajak Ditarget Rp335,6 M di 2026

0
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus menargetkan pendapatan dari sektor pajak kurang lebih sebesar Rp335,6 miliar pada tahun 2026. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus menargetkan pendapatan dari sektor pajak kurang lebih sebesar Rp 335,6 miliar pada tahun 2026. Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) ditargetkan jadi penyumbang terbesar.

Pendapatan daerah dari sektor pajak terdiri dari sembilan jenis penerimaan. Antara lain adalah PBJT yang ditarget sebesar Rp 103,9 miliar. Target ini merupakan yang terbesar dibanding jenis penerimaan pajak lain.

Baca Juga: Rabu Pon di Kudus, Ratusan Ayam Petelur dan Bibit Tanaman Dibagikan ke Warga

Kemudian terbesar kedua yakni Opsen Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) yang ditarget kurang lebih sebesar Rp 79,3 miliar. Di posisi berikutnya ada Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) yang ditarget Rp 55,5 miliar.

Lalu ada Pajak Bea Perolehan Hak Tanah dan Banguna! (BPHTB) – Pemindahan Hak ditarget sebesar Rp 47,5 miliar. Pajak Opsen Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) ditarget kurang lebih sebesar Rp 39,5 miliar.

Pajak Air Tanah ditarget sebesar Rp 5,5 miliar. Pajak reklame ditarget kurang lebih sebesar Rp4,2 miliar. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan (MBLB) ditarget Rp 20 juta. Serta paling kecil yakni Pajak Sarang Burung Walet ditarget sebesar Rp 5 juta.

Pendapatan PBJT yang merupakan ditarget penyumbang terbesar dari sektor pajak terdiri dari lima objek. Antara lain, PBJT Makanan-Minuman yang ditarget kurang lebih sebesar Rp 18,9 miliar.

Kemudian PJBT – Tenaga Listrik ditarget sebesar Rp 79 miliar. Jasa Perhotelan ditarget Rp 4,5 miliar. Jasa Parkir ditarget Rp 700 juta serta PBJT Jasa Kesenian dan Hiburan ditarget sebesar Rp 800 juta.

Baca Juga: Dua Pelajar di Kudus Pesan Paket Celurit, Ngakunya Buat Konten di Medsos

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang (Kabid) Pendapatan Badan Pengelolaan Pendapatan, Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Kudus, Rama Rizkika menyampaikan bahwa target pendapatan daerah dari sektor pajak naik di tahun ini. Menurutnya, pada tahun lalu target pendapatan dari sektor yang sama sebesar Rp309,3 miliar.

“Target pendapatan daerah dari sektor pajak tahun ini sebesar Rp 335,6 miliar. Target tersebut mengalami kenaikan dibanding tahun lalu. Meski begitu kami optimis bisa capai target,” ujar Rama di ruang kerjanya belum lama ini. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Banjir Jetiskapuan Naik 5 Cm Usai Hujan Semalam

0
Banjir di Desa Jetiskapuan, Kecamatan Jati, Kudus. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Genangan banjir di Desa Jetiskapuan, Kecamatan Jati, kembali naik setelah diguyur hujan deras pada Senin (26/1/2026) malam. Air yang sempat surut kini bertambah sekitar 5 centimeter, merendam pemukiman warga hingga ketinggian 30–70 centimeter.

“Genangan air kembali naik karena hujan semalam,” ujar Das’an, warga RT 2 RW 3, Selasa (27/1/2026).

Baca Juga: Rabu Pon di Kudus, Ratusan Ayam Petelur dan Bibit Tanaman Dibagikan ke Warga

Banjir di Jetiskapuan sudah bertahan sejak Rabu (13/1/2026) lalu. Sebagian warga yang sempat mengungsi di Gedung Muslimat NU Loram Kulon kini mulai kembali ke rumah dan membersihkan sisa lumpur banjir, meski akses jalan masih terendam.

Menurut warga, lambatnya surut banjir disebabkan aliran air ke sungai yang terhambat. Dua sungai yang menjadi jalur buangan, yakni Sungai Gayam dan Sungai Ngemeh, masih menampung debit tinggi.

“Air tidak bisa dialirkan ke Sungai Ngemeh karena debitnya masih tinggi, terutama dari Desa Karangrowo yang juga tergenang,” jelas Das’an.

Baca Juga: Dua Pelajar di Kudus Pesan Paket Celurit, Ngakunya Buat Konten di Medsos

Warga berharap pemerintah segera melakukan normalisasi sungai agar banjir bisa cepat teratasi.

“Kalau sungai dinormalisasi, air bisa mengalir lancar dan genangan tidak bertahan lama,” tambahnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Menu MBG Minimalis, Pengelola SPPG Akan Lakukan Evaluasi Meski Sudah Sesuai Standar Gizi

0
Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD 1 Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 1 Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, sempat menuai keluhan dari wali murid penerima manfaat. Menu tersebut dinilai terlalu minimalis dibandingkan penyedia MBG lain di wilayah Kabupaten Kudus.

Sorotan terhadap menu MBG itu semakin meluas setelah fotonya beredar di media sosial. Sejumlah masyarakat menilai tampilan menu tersebut kurang layak, sehingga memunculkan perbandingan dengan menu MBG dari SPPG lain.

Baca Juga: Rabu Pon di Kudus, Ratusan Ayam Petelur dan Bibit Tanaman Dibagikan ke Warga

Dalam pemberitaan sebelumnya, menu MBG yang menjadi perhatian publik tersebut terdiri dari kentang, saus sambal, buah melon, kedelai rebus, serta fillet ikan lele. Penggunaan kentang sebagai sumber karbohidrat pengganti nasi menjadi salah satu alasan menu tersebut tampak lebih sederhana secara visual.

Menanggapi hal itu, Pengelola SPPG 1 Kedungdowo, Nanik Faizah, memberikan klarifikasi terkait menu MBG yang disalurkan kepada siswa. Ia menegaskan bahwa menu tersebut telah disusun sesuai standar gizi yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

“Menu yang kami salurkan sudah sesuai dengan standar gizi yang telah ditetapkan,” ujar Nanik kepada awak media di Loeminto Cafe Kudus, Selasa (27/1/2026).

Ia menjelaskan, untuk porsi kecil yang diperuntukkan bagi siswa TK hingga kelas 3 SD sederajat, menu MBG tersebut mengandung energi sekitar 581,31 kilokalori. Kandungan gizinya meliputi karbohidrat sekitar 44 gram, protein hampir 17 gram, lemak 39 gram, serta serat pangan 1,35 gram.

Sementara itu, porsi besar yang diberikan kepada siswa kelas 4 SD ke atas memiliki kandungan energi sekitar 639,16 kilokalori. Komposisi gizinya mencakup karbohidrat 51 gram, protein 20,34 gram, lemak 41,34 gram, serta serat pangan 1,53 gram.

“Menu tersebut menggunakan potato wedges sebagai pengganti nasi, sehingga secara tampilan memang terlihat lebih kecil. Namun dari sisi kandungan gizi, tetap setara sebagai pengganti nasi,” jelasnya.

Nanik menyampaikan, penggantian nasi dengan kentang dilakukan sebagai bentuk inovasi menu agar siswa penerima manfaat tidak merasa jenuh. Terlebih, SPPG 1 Kedungdowo diketahui baru mulai beroperasi sekitar sepekan terakhir.

“Kemarin kami memang baru mencoba inovasi menu pengganti nasi, karena SPPG kami juga baru beroperasi sekitar satu minggu,” katanya.

Baca Juga: Dua Pelajar di Kudus Pesan Paket Celurit, Ngakunya Buat Konten di Medsos

Lebih lanjut, Nanik mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan sekolah-sekolah terkait keluhan yang disampaikan wali murid. Masukan tersebut, kata dia, akan menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan menu ke depan.

“Kami menerima seluruh masukan dan akan terus melakukan evaluasi. Dalam waktu dekat, menu MBG dari SPPG kami juga akan dibagikan melalui media sosial agar bisa dipantau langsung oleh masyarakat,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Kagum Desa Wisata Dukuhwaringin, Ketua TP PKK Jateng Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Inovasi Lokal

0
Desa Dukuhwaringin, Kecamatan Dawe, mendapat kunjungan Ketua TP PKK Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Desa Dukuhwaringin, Kecamatan Dawe, menjadi sorotan Ketua TP PKK Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin. Dalam kunjungan perdananya, Selasa (27/1/2026), Nawal mengaku takjub dengan potensi wisata dan UMKM yang tumbuh dari kekuatan lokal.

Dari wisata jeep yang menantang hingga kuliner di Warung Alas Pijar 2 di perbukitan, Nawal melihat Dukuhwaringin sebagai contoh nyata desa wisata yang mampu menggerakkan ekonomi warga.

Baca Juga: Rabu Pon di Kudus, Ratusan Ayam Petelur dan Bibit Tanaman Dibagikan ke Warga

“Saya pertama kali ke sini dan ternyata ada desa wisata yang luar biasa. Ini potensi yang sangat bagus,” ujarnya.

Tak hanya wisata, UMKM Dukuhwaringin juga mencuri perhatian. Produk kopi dengan campuran bubuk alpukat menjadi inovasi unik yang merepresentasikan kekayaan lokal. Tape produksi warga bahkan sudah menembus Galeri Dekranasda, bukti kualitas UMKM desa tak kalah dengan produk besar.

Nawal menegaskan, TP PKK Jateng bersama Dekranasda Kabupaten siap mendampingi UMKM agar naik kelas. Mulai dari kurasi produk, penguatan pemasaran digital, hingga membuka peluang ekspor.

“Kami akan membantu agar UMKM bisa menembus pasar yang lebih luas,” tambahnya.

Endang Adminingsih, pemilik Warung Alas Pijar 2, menyebut dukungan ini sebagai suntikan semangat. Saat ini ada sekitar 20 UMKM aktif di Dukuhwaringin, ditambah UMKM penyangga yang memasok produk.

Baca Juga: Dua Pelajar di Kudus Pesan Paket Celurit, Ngakunya Buat Konten di Medsos

Ke depan, warga berencana membudidayakan rempah-rempah agar Dukuhwaringin menjadi destinasi wisata rempah satu-satunya di Jawa Tengah.

“Alhamdulillah, kami sangat kaget dan bersyukur. Ternyata hasil kerja kami benar-benar dihargai,” ungkap Endang penuh haru.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Tak Cuma Ukir, Jepara Juga Krisis Regenerasi Pengrajin Remitan 

0
Proses pembuatan remitan di Jepara. Foto: Umi

BETANEWS.ID, JEPARA – Dikenal sebagai daerah yang memiliki banyak peninggalan budaya, Kabupaten Jepara kini menghadapi tantangan serius berupa krisis regenerasi. 

Tantangan itu tidak hanya di sektor kerajinan ukir yang menjadi ikon Jepara, tetapi juga pada kerajinan remitan. Yaitu mainan gerabah yang terbuat dari tanah liat.  

Baca Juga: Mulai Dibangun 2027, Jalur Alternatif Sumanding-Tempur Bakal Difokuskan Jadi Jalur Mitigasi 

Di Kabupaten Jepara, daerah yang dikenal sebagai sentra atau Kampung Remitan berada di Desa Mayong Lor, Kecamatan Mayong. 

Camat Mayong, Muh Taufik mengatakan saat ini total terdapat 89 pengrajin Remitan di Desa Mayong Lor. Namun, 22 dari 89 pengrajin saat ini sudah tidak aktif memproduksi Remitan. 

“Jumlah pengrajin remitan saat ini semakin sedikit akibat generasi muda cenderung bekerja di pabrik paska lulus sekolah. Sehingga regenerasi pengrajin menurun,” katanya saat kegiatan Bupati Ngantor di Desa Rajekwesi, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Selasa (27/1/2026). 

Produk yang dihasilkan dari Kampung Remitan diantaranya, celengan tanah liat, guci, serta mainan peralatan memasak untuk anak-anak. Mulai dari kendil, uleg-uleg, spatula, centong, cobek, gelas, dan mangkok. 

Sebagai upaya untuk melestarikan kerajinan tersebut, Taufik mengatakan pihaknya membuka trip atau paket wisata outing class bagi anak-anak sekolah agar mengenal kerajinan remitan. 

“Kita ada paket eduwisata untuk anak-anak sekolah, meliputi Kampung Remitan, Monumen Ari-Ari Kartini, dan Wisata Tengah Sawah,” ujarnya. 

Tidak hanya itu, pihaknya juga mengusulkan kepada Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara untuk memasukkan Remitan dalam kurikulum muatan lokal. 

“Iya harapannya ada dukungan untuk memasukkan muatan lokal kerajinan gerabah atau remitan di sekolah melalui pelajaran P5,” katanya. 

Sementara itu, Kepala Disdikpora Kabupaten Jepara, Ratib Zaini mengatakan saat ini pihaknya sudah membuat surat himbauan, baik SD maupun SMP untuk memasukkan kerajinan remitan dalam salah satu pilihan ekstrakurikuler di sekolah. 

Baca Juga: Geger! Pria di Jepara Diduga Meninggal Usai Nonton Orkes 

Hanya saja, karena di Kabupaten Jepara tidak semua daerah memproduksi remitan, sehingga himbauan tersebut tidak semua sekolah menerapkan. 

“Akhir tahun kemarin kita sudah mengeluarkan surat himbauan kepada sekolah untuk memasukkan remitan dalam pilihan ekstrakurikuler,” katanya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Rabu Pon di Kudus, Ratusan Ayam Petelur dan Bibit Tanaman Dibagikan ke Warga

0
Ratusan ayam petelur lengkap dengan kandang, pakan, dan pendampingan diberikan kepada warga Kabupaten Kudus, Selasa (27/1/2026). Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Gerakan Rabu Pon yang digagas Ketua TP PKK Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, kembali hadir dengan gebrakan nyata. Kali ini, ratusan ayam petelur lengkap dengan kandang, pakan, dan pendampingan diberikan kepada warga Kabupaten Kudus, Selasa (27/1/2026).

Program ini bukan sekadar simbol, melainkan langkah konkret untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga: Tangani Dampak Bencana, Pemkab Kudus Ajukan Dana ke Pusat Rp394,2M

“Halaman rumah bisa jadi sumber gizi, sumber pangan, bahkan sumber income,” tegas Nawal saat meninjau peternakan ayam bantuan di Desa Tergo, Kecamatan Dawe.

Rabu Pon mengintegrasikan tiga program utama, yaitu pemberdayaan keluarga, ketahanan pangan, dan kesiapsiagaan bencana. Dengan lima ekor ayam per rumah, keluarga penerima manfaat diharapkan bisa memenuhi kebutuhan protein sekaligus menambah penghasilan dari hasil telur.

Tak berhenti di situ, kolaborasi dengan Djarum Oasis menghadirkan bibit tanaman gratis. Gerakan menanam pohon pun berjalan beriringan dengan pengelolaan lingkungan, termasuk peninjauan konsep pengelolaan sampah di kawasan Oasis yang dinilai bisa ditiru daerah lain di Jawa Tengah.

300 ekor ayam petelur dibagikan kepada keluarga yang terdata dalam DTSEN kategori kemiskinan.

“Setiap rumah mendapat lima ekor ayam, kandang sudah disiapkan, dan perawatannya didampingi dinas terkait. Model seperti ini sudah terbukti berhasil di Purworejo,” jelas Nawal.

Ketua TP PKK Kabupaten Kudus, Endhah Endhayani, menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan provinsi.

Baca Juga: Tak Ingin Ada Gejolak Seperti di Pati, Pemkab Kudus Tak Naikkan PBB-P2 Tahun 2026

“Ayam dan telur bisa untuk konsumsi keluarga, sekaligus menambah penghasilan. Ditambah bibit tanaman, manfaatnya akan berlipat,” ujarnya penuh harap.

Dengan semangat gotong royong, Gerakan Rabu Pon di Kudus menjadi bukti bahwa ketahanan pangan bukan sekadar wacana, melainkan gerakan nyata yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Dua Pelajar di Kudus Pesan Paket Celurit, Ngakunya Buat Konten di Medsos

0
Polsek Jati, Kudus, mengamankan pengiriman senjata tajam yang dipesan secara daring oleh anak di bawah umur. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Polsek Jati, Kudus, mengamankan pengiriman senjata tajam yang dipesan secara daring oleh anak di bawah umur. Senjata tajam tersebut ditemukan di salah satu jasa ekspedisi yang berada di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus, Senin (26/1/2026).

Pengungkapan kasus ini bermula dari kecurigaan karyawan jasa ekspedisi terhadap isi sebuah paket kiriman dengan tujuan wilayah Kecamatan Jati. Kecurigaan itu kemudian dilaporkan kepada pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti.

Baca Juga: Tangani Dampak Bencana, Pemkab Kudus Ajukan Dana ke Pusat Rp394,2M

Setelah dilakukan pemeriksaan, petugas mendapati paket tersebut berisi dua bilah parang panjang dengan ukuran sekitar 145 centimeter dan satu bilah celurit kecil sepanjang kurang lebih 30 centimeter. Senjata tajam tersebut langsung diamankan oleh Unit Reskrim Polsek Jati.

Polisi selanjutnya melakukan penelusuran terhadap pemesan dan penerima paket. Dari hasil pendalaman, diketahui bahwa paket senjata tajam itu dipesan oleh dua remaja yang masih berstatus pelajar.

Kapolres Kudus AKBP Heru Dwi Purnomo melalui Kapolsek Jati AKP Hadi Noor Cahyo menjelaskan, berdasarkan hasil klarifikasi, para remaja tersebut mengaku memesan senjata tajam untuk keperluan pembuatan konten di media sosial.

“Yang bersangkutan mengaku senjata tajam tersebut dipesan untuk kepentingan konten kreatif di media sosial,” kata AKP Hadi Noor Cahyo, Selasa (27/1/2026).

Karena para pemesan masih di bawah umur, pihak kepolisian tidak menempuh jalur penegakan hukum pidana. Polsek Jati memilih langkah pembinaan dengan melibatkan orang tua, perangkat desa, serta pihak terkait lainnya.

“Yang bersangkutan kami lakukan pembinaan dengan menghadirkan orang tua dan perangkat desa. Mereka juga membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya,” imbuhnya.

Baca Juga: Tak Ingin Ada Gejolak Seperti di Pati, Pemkab Kudus Tak Naikkan PBB-P2 Tahun 2026

AKP Hadi menegaskan bahwa kepolisian tidak hanya berfokus pada penindakan, tetapi juga mengedepankan upaya pencegahan dan edukasi. Langkah tersebut dinilai penting agar generasi muda tidak terjerumus pada perilaku yang berpotensi membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

“Kami mengimbau para orang tua agar lebih mengawasi aktivitas anak-anaknya, termasuk dalam penggunaan media sosial, supaya tidak salah arah dan tidak melanggar hukum,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Mulai Dibangun 2027, Jalur Alternatif Sumanding-Tempur Bakal Difokuskan Jadi Jalur Mitigasi 

0
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara bakal membuka jalur alternatif ke Desa Tempur, Kecamatan Keling melalui Desa Sumanding, Kecamatan Kembang. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara berencana membuka jalur alternatif menuju Desa Tempur, Kecamatan Keling melalui Desa Sumanding, Kecamatan Kembang. 

Bupati Jepara, Witiarso Utomo mengatakan jalur alternatif itu rencananya baru akan dibangun pada tahun 2027 mendatang. 

Baca Juga: Geger! Pria di Jepara Diduga Meninggal Usai Nonton Orkes 

Jalur alternatif dengan panjang sekitar 7 km itu, nantinya juga bisa dilalui untuk kendaraan roda empat. Sehingga bisa digunakan sebagai jalur mitigasi bencana. 

“Kami akan mengupayakan jalur alternatif ke Tempur. Roda empat nanti juga bisa lewat supaya alat berat bisa masuk. Karena tujuannya untuk mitigasi bencana supaya ada jalur alternatif,” kata Wiwit saat ditemui di Balai Desa Rajekwesi, Kecamatan Mayong, Selasa (27/1/2026). 

Sebagaimana diketahui pada Jumat, (9/1/2026) lalu jalur menuju Desa Tempur melalui Desa Damarwulan terputus total akibat tertutup material longsor. Total terdapat 18 titik longsor besar yang melumpuhkan akses jalan menuju Desa Tempur. 

Penanganan akses jalan yang tertimpa material longsor kemarin sempat terkendala karena alat berat tidak bisa melintas. Untuk itu, jalur alternatif nantinya juga difokuskan sebagai jalur mitigasi bencana. 

“Sehingga kita dalam mitigasi bencana seperti kemarin, kita punya akses untuk menyelesaikan bencana,” tambahnya. 

Di tahun ini, Wiwit mengatakan persiapan pembukaan jalur alternatif akan difokuskan pada penghitungan anggaran yang dibutuhkan untuk membuka jalur. 

Sebab jalur itu saat ini masih berupa jalan setapak. Di area sekitar jalur tersebut juga masih dipenuhi semak belukar.  

“Kemarin kita sudah cek sampai ke atas. Kita akan segera agendakan untuk pembiayaannya di tahun 2026,” katanya. 

Anggaran untuk pembukaan jalur nanti menurut Wiwit masih cukup dinamis. Terdapat tiga opsi sumber pembiayaan, yaitu dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), pengajuan bantuan baik ke pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat. 

Baca Juga: Terdampak Musim Baratan, Pemkab Jepara Kirim 10 Ton Beras ke Karimunjawa 

“Kemarin kita diskusi, (sumber anggaran) bisa dari Banprov, sebagain APBD atau dari pemerintah pusat,” katanya. 

Selain jalur alternatif melalui Desa Sumanding, Pemkab Jepara juga berencana untuk membuka jalur alternatif Tempur-Rahtawu di Kecamatan Kudus. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -