Beranda blog Halaman 6

Kombel Bergema Diluncurkan, Jadi Wadah Guru Tingkatkan Kompetensi dan Kreativitas Mengajar

0

BETANEWS.ID, KUDUS — Kelompok Kerja Guru (KKG) Kecamatan Mejobo bersama Koordinator Wilayah Kecamatan (Korwilcam) Pendidikan Mejobo meresmikan Komunitas Belajar (Kombel) Bergema, Jumat (8/5/2026).

Peluncuran komunitas yang digelar di Pusat Belajar Guru (PBG) Kabupaten Kudus tersebut diharapkan dapat meningkatkan kompetensi guru serta memperkuat mutu pendidikan di Kabupaten Kudus, khususnya di wilayah Kecamatan Mejobo.

Dalam peluncuran tersebut hadir jajaran guru sekolah dasar, pengurus KKG, Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S), serta perwakilan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus.

Staf Kurikulum pada Disdikpora Kabupaten Kudus, Rohmat, menyampaikan bahwa pembentukan Kombel Bergema dapat menjadi wadah kolaborasi guru dalam meningkatkan mutu pendidikan. Mereka bisa belajar bersama dalam satu ruang untuk meningkatkan kompetensi guru.

“Tujuannya untuk meningkatkan mutu kompetensi guru melalui kolaborasi dengan berbagai pihak. Tentunya ini sangat bagus agar potensi belajar guru semakin meningkat dan berdampak pada kualitas pendidikan, khususnya di Kecamatan Mejobo,” ujarnya usai acara.

Baca juga : Konsep Satu Kampus Satu Dapur MBG, Rektor UMK Sebut Perguruan Tinggi Tak Harus Dirikan Dapur

Korwilcam Pendidikan Mejobo, Masrukan, mengatakan terbentuknya komunitas tersebut dapat memberi dampak positif bagi guru di wilayah tersebut. Ia berharap kegiatan tersebut tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga berdampak positif terhadap perkembangan pembelajaran yang dilakukan guru serta pelajar yang menerima ilmu yang diajarkan.

Ia menuturkan, komunitas yang baru saja diresmikan itu tidak hanya diperuntukkan bagi pengurus, tetapi juga semua guru untuk berbagi praktik baik agar bisa berinovasi dan berkreativitas dalam mengajar.

“Muara dari semua ini adalah terpenuhinya hak-hak anak dalam menerima pembelajaran yang berkualitas. Guru harus terus berinovasi dan berkreativitas agar proses kegiatan belajar mengajar (KBM) semakin baik dan meningkat,” terangnya.

Berbagai program akan dilakukan untuk mendukung pengembangan kompetensi guru. Setidaknya ada empat aspek yang ditekankan dalam meningkatkan mutu kualitas pendidikan, di antaranya meliputi pelatihan KKA (Koding dan Kecerdasan Artifisial), pembelajaran mendalam (PM), KSE (Kompetensi Sosial Emosional), dan SSE (Keterampilan Sosial Emosional).

“Kita akan responsif dalam mendukung program pemerintah. Jadi, apa pun program yang sudah menjadi kebijakan, akan kita ikuti bersama,” jelasnya.

Penanggung Jawab Kombel Bergema, Eko Mardiana, mengungkapkan pembentukan komunitas belajar dilatarbelakangi kebutuhan peningkatan kualitas pendidikan di tengah tantangan globalisasi dan transformasi digital. Menurutnya, guru saat ini dituntut tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga pembelajar yang terus berkembang sesuai kebutuhan murid dan perkembangan zaman.

“Kombel menjadi ruang kolaboratif bagi guru untuk saling bertukar gagasan, berbagi pengalaman, serta membangun inovasi pembelajaran secara berkelanjutan,” ujarnya.

Output dari komunitas belajar tersebut, kata dia, diharapkan dapat berdampak langsung terhadap pelajar yang menerima pembelajaran dari guru yang mendapatkan program pelatihan yang akan dijalankan.

Namun sebelum itu, pelatihan yang dilaksanakan kepada guru mengharuskan para pengurus Kombel Bergema terlebih dahulu mengikuti Training of Trainers (TOT) sebagai fasilitator. Melalui TOT tersebut, fasilitator akan mempelajari materi yang nantinya disampaikan kepada guru di delapan gugus sekolah sehingga materi yang diterima dapat seragam dan terstruktur.

“Program ini tidak sekadar pelatihan, tetapi harus berdampak dan berkelanjutan. Karena itu digunakan sistem in-on-in, di mana guru belajar melalui pelatihan langsung, dilanjutkan pembelajaran mandiri melalui learning management system, kemudian berbagi praktik baik,” jelasnya.

Ia menambahkan, program pelatihan akan difokuskan pada penguatan kompetensi guru, seperti implementasi Kurikulum Merdeka, pembelajaran coding, hingga penguatan karakter dan kompetensi siswa.

“Kalau guru sudah menguasai pembelajaran yang menjadi kebijakan pemerintah, maka implementasinya kepada siswa juga akan lebih baik, baik secara akademik maupun nonakademik,” terangnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Stadion Wergu Wetan Segera Dibangun, Proses Lelang Diklaim Masuk Tahap Final

0
Bupati Kudus meninjau Stadion Wergu Wetan. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS — Rencana pembangunan ulang Stadion Wergu Wetan Kudus terus menunjukkan perkembangan. Pemerintah Kabupaten Kudus melalui Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) saat ini masih intens berkomunikasi dengan pemerintah pusat terkait tahapan pelaksanaan pembangunan stadion tersebut.

Kepala Bidang (Kabid) Olahraga Disdikpora Kabupaten Kudus, Widhoro Heriyanto, menyampaikan bahwa proses pembangunan stadion saat ini masih berada dalam koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU), termasuk terkait tahapan lelang proyek dalam waktu dekat.

“Soal stadion, kami terus berkomunikasi dengan pihak kementerian terkait pelaksanaan pembangunan. Insyaallah bulan-bulan ini ada kabar baik, artinya proses lelang dan lain sebagainya sudah bisa dipastikan untuk pelaksanaan pembangunan Stadion Wergu Wetan,” ujarnya.

Baca juga : Persiku Aman di Liga Pegadaian Championship, Manajemen Siapkan Bonus untuk Tim

Menurut Widhoro, seluruh proses lelang pembangunan dilakukan langsung oleh pemerintah pusat melalui kementerian terkait. Sementara itu, pemerintah daerah hanya berperan sebagai penerima manfaat dari hasil pembangunan tersebut.

“Untuk lelang semuanya di pusat. Proses lelang berada di Kementerian PU. Daerah hanya penerima manfaat dari hasil proses pembangunan stadion itu,” jelasnya.

Ia berharap tahapan administrasi dan lelang dapat segera rampung agar proses pembangunan fisik Stadion Wergu Wetan bisa segera dimulai. Mengingat, stadion tersebut nantinya diharapkan menjadi fasilitas olahraga representatif untuk mendukung pembinaan atlet dan kegiatan olahraga di Kabupaten Kudus.

Sebelumnya, Stadion Wergu Wetan direncanakan akan direnovasi secara menyeluruh oleh pemerintah pusat. Sejumlah persiapan juga mulai dilakukan, termasuk pengecekan hingga pembongkaran fasilitas penunjang seperti sistem sprinkler lapangan dan penyelamatan rumput stadion agar dapat dimanfaatkan kembali di lokasi lain.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Tebar Kepedulian Sosial di Kudus, Jaleca Sancaya Santuni 57 Anak Yatim

0

BETANEWS.ID, KUDUS — PT Jaleca Tri Tunggal melalui sayap Corporate Social Responsibility (CSR) Jaleca Sancaya menebar kepedulian sosial dan semangat berbagi. Perusahaan produsen rokok Tobaco One dan Tobaco Natural tersebut menggelar kegiatan santunan bagi 57 anak yatim di Gokil Restaurant, Kudus, Kamis (7/5/2026) malam.

Kegiatan yang bertajuk “Peduli Penuh Kasih” tersebut berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan. Tak hanya memberikan santunan dan bingkisan, panitia juga menghadirkan berbagai hiburan serta interaksi bersama anak-anak untuk membangun semangat dan motivasi mereka.

Founder Jaleca Sancaya sekaligus Vice Director PT Jaleca Tri Tunggal, Leon Ridi Wisanto, menyampaikan bahwa kegiatan yang diselenggarakan itu merupakan bentuk komitmen perusahaan untuk tumbuh bersama masyarakat. Untuk itu, melalui kegiatan santunan kepada puluhan anak yatim, pihaknya ingin menebarkan semangat berbagi hingga harapan bagi mereka yang membutuhkan.

“Kami percaya bahwa keberhasilan sebuah perusahaan harus dapat berjalan berdampingan dengan kepedulian sosial. Melalui Jaleca Sancaya, kami ingin terus menebarkan semangat berbagi, memberikan kebahagiaan, dan menghadirkan harapan bagi mereka yang membutuhkan,” ujarnya.

Selain kegiatan tersebut, Jaleca Sancaya saat ini tengah menyiapkan agenda sosial lainnya. Pada 7 Juni 2026 mendatang, perusahaan berencana menggelar khitanan massal di kantor pusat PT Jaleca Tri Tunggal, Kudus.

Baca juga : 562 Atlet Muda Ramaikan MilkLife Archery Challenge Seri 1 2026 di Kudus

“Khitanan massal tersebut merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan kami dalam mendukung bidang kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,” terangnya.

Sementara itu, Wakil Direktur PT Jaleca Tri Tunggal, Sandung Hidayat, menambahkan kegiatan santunan diawali dengan doa bersama dan tausiyah singkat sebelum dilanjutkan hiburan ramah anak. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menciptakan suasana akrab antara manajemen perusahaan dengan penerima manfaat.

“Agenda ini diharapkan dapat mempererat tali silaturahmi antara perusahaan dengan masyarakat sekitar,” jelasnya.

Sebagai bagian dari CSR PT Jaleca Tri Tunggal, Jaleca Sancaya terus berkomitmen menjalankan berbagai kegiatan sosial, kemanusiaan, pendidikan, serta kepedulian masyarakat secara berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, Jaleca Sancaya berharap dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk terus berbagi kebaikan dan menumbuhkan rasa kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Kasus Dugaan Pencabulan Santri di Jepara Jadi Sorotan Kemenag RI, Ponpes Dilarang Terima Santri Baru

0
Foto Ilustrasi

BETANEWS.ID, JEPARA — Kasus dugaan pencabulan terhadap seorang santri perempuan yang dilakukan oleh AJ, pimpinan salah satu pondok pesantren (ponpes) di Jepara, mulai memasuki babak baru.

Kementerian Agama (Kemenag) RI melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam mengeluarkan surat rekomendasi terkait penanganan lanjutan kasus kekerasan seksual di ponpes milik AJ.

Surat bernomor B-608.1/DJ.I/PP.00.7/03/2026 tertanggal 5 Maret 2026 itu ditujukan kepada Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Provinsi Jawa Tengah serta Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren.

Surat tersebut diterbitkan sebagai tindak lanjut atas surat dari Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah Nomor R-620/Kw.11.3/Ba.01.1/03/2026 tertanggal 4 Maret 2026 mengenai jawaban atas penanganan kasus kekerasan seksual di lingkungan pondok pesantren.

Surat tersebut ditandatangani Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren pada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI, Basnang Masaid. Dalam surat tersebut, Basnang merekomendasikan tiga hal.

“Pertama, kami merekomendasikan penghentian sementara pendaftaran santri baru pada pondok pesantren yang bersangkutan,” tulis Basnang dalam salinan surat yang diterima Betanews.id.

Baca juga : Remaja Perempuan di Jepara Jadi Korban Rudapaksa Delapan Pria

Penghentian itu dilakukan sampai seluruh permasalahan selesai ditangani secara tuntas dan terdapat kepastian bahwa sistem pengasuhan, perlindungan anak, serta tata kelola kelembagaan telah memenuhi standar yang ditetapkan.

“Kedua, perlunya pemberhentian tenaga pendidik yang merupakan terduga pelaku,” lanjut Basnang.

Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa terduga pelaku, yakni AJ yang saat ini menjabat sebagai tenaga pendidik atau ustaz, diminta diberhentikan sementara dari layanan pendidikan dan tidak diperkenankan lagi mengajar sebagai ustaz maupun kiai.

Rekomendasi itu mengacu pada Pasal 13 Angka 2 Peraturan Menteri Agama Nomor 73 Tahun 2022 hingga adanya keputusan inkrah.

Kemudian, rekomendasi terakhir yaitu apabila pondok pesantren tidak menjalankan rekomendasi penghentian penerimaan santri baru dan pemberhentian sementara tenaga pendidik terduga pelaku, maka pihak terkait diminta mempertimbangkan usulan penonaktifan pondok pesantren kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.

Penonaktifan itu dilakukan sebagai bentuk konsekuensi atas dugaan pengabaian pengasuhan yang ramah dan aman bagi santri.

Dalam bagian akhir surat, Basnang berharap rekomendasi tersebut dapat menjadi acuan bersama bagi Kantor Kemenag dan penegak hukum.

Dalam penanganan kasus, diharapkan tetap mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak, perlindungan santri, serta menjaga marwah dan keberlangsungan pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Kasus TBC di Jepara Masih Tinggi, Kader PKK Diminta Ikut Aktif Berikan Pendampingan

0

BETANEWS.ID, JEPARA — Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara, jumlah penderita TBC yang ditemukan pada Januari hingga Mei 2026 sebanyak 678 kasus.

Untuk itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara menyiapkan 160 kader PKK desa dan kelurahan yang diharapkan aktif memberikan pendampingan bagi masyarakat yang menderita TBC di daerahnya.

Sebelum diterjunkan ke masyarakat, mereka diberikan pembekalan untuk mengenali gejala hingga mendampingi pasien agar tidak putus berobat.

Pembekalan dilakukan melalui sosialisasi pencegahan dan penanggulangan TBC di Pendopo Kartini Jepara pada Kamis (7/5/2026).

Ketua I TP PKK Jepara, Syahnez Danniar Yusuf, mengatakan TBC masih menjadi perhatian dalam upaya kesehatan masyarakat. Karena itu, kader dinilai memiliki peran penting membantu pencegahan penularan di lingkungan warga.

“TBC bisa disembuhkan jika pasien disiplin menjalani pengobatan sampai tuntas,” ujar Inez.

Baca juga : Waspada! Tren Penjualan Narkoba Mulai Merambah Media Sosial, Remaja Paling Banyak Jadi Korban

Ia menjelaskan, pasien TBC harus minum obat secara teratur selama enam hingga delapan bulan. Dalam proses tersebut, kader diharapkan dapat menjadi pendamping sekaligus penyemangat agar pasien tidak putus berobat.

Inez juga meminta masyarakat tidak memberikan stigma kepada penderita TBC. Menurutnya, keterbukaan dan deteksi dini menjadi langkah penting untuk membantu memutus rantai penularan.

“TBC bukan hanya soal medis, tetapi juga kemanusiaan. Jangan ada lagi stigma atau rasa malu terhadap penderita,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada DKK Jepara, Agus Carda, mengatakan pemerintah menargetkan eliminasi TBC pada 2030.

Karena itu, pihaknya terus memperkuat pengendalian TBC melalui evaluasi rutin dan pemantauan indikator program hingga tingkat desa. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan berjalan optimal.

Selain penguatan layanan kesehatan, upaya pengendalian juga dilakukan melalui edukasi masyarakat dan pendampingan pasien agar pengobatan tidak terputus.

“Kasus TBC harus ditemukan lebih dini agar segera diobati dan tidak menular,” ujarnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Waspada Ternak Sakit Dijual Bebas, DKPP Jepara Perketat Pengawasan Kurban

0

BETANEWS.ID, JEPARA – Tiga pekan menjelang perayaan Iduladha 1447 Hijriah/2026 Masehi, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Jepara gencar melakukan pengawasan hewan ternak yang dijual di pasar hewan.

Kepala DKPP Jepara, Mundhofir, mengatakan pengawasan mulai diperketat karena setiap tahun masih ditemukan potensi oknum yang menjual hewan ternak dalam kondisi sakit di pasar hewan.

“Dari tahun ke tahun selalu ada oknum yang menjual hewan ternak yang tidak sepenuhnya sehat. Karena itu, setiap pasaran atau saat pasar hewan buka, kami turun langsung untuk mengecek kesehatan ternak,” ungkap Mundhofir melalui sambungan telepon pada Kamis (7/5/2026).

Penyakit yang ditemukan saat pengecekan, kata dia, masih berupa penyakit umum, seperti virus parasit, gangguan pada mata, dan gangguan pencernaan.

Meski demikian, hingga saat ini potensi penyebaran virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Lumpy Skin Disease (LSD) masih ada. Karena itu, pengecekan rutin tetap diperlukan.

Baca juga : 60 Peserta Ikuti Pelatihan Juleha di Kudus, Persiapan Jelang Iduladha 2026

“Saat pengecekan, penyakit yang kami temukan masih penyakit umum. Namun, PMK dan LSD masih menjadi perhatian utama karena di daerah lain kasusnya masih ada,” beber Mundhofir.

Saat menemukan hewan ternak yang akan dijual dalam kondisi sakit, Mundhofir mengimbau agar hewan tersebut tidak langsung disembelih, melainkan menunggu hingga kondisinya sehat terlebih dahulu.

“Secara aturan memang tidak ada larangan hewan ternak sakit untuk disembelih. Hanya saja, kami berupaya menjaga kualitasnya,” ujarnya.

Selain pengecekan di pasar hewan, Mundhofir mengatakan pihaknya juga rutin melakukan vaksinasi dan pemberian vitamin kepada hewan ternak.

DKPP Jepara menerjunkan tim yang datang langsung ke kandang peternakan milik masyarakat. Meski begitu, upaya tersebut belum bisa menjangkau seluruh kandang peternakan.

Namun, ia berharap melalui kunjungan tersebut para peternak semakin sadar untuk memperhatikan kondisi kesehatan hewan ternaknya.

“Langkah itu sebagai upaya kami untuk merangsang peternak agar melakukan hal serupa secara swadaya, sehingga mereka bisa menyediakan hewan kurban yang sehat,” katanya.

Selain itu, DKPP Jepara juga menyediakan layanan respons cepat bagi peternak yang belum sempat dikunjungi tim secara langsung. Dengan begitu, saat terjadi masalah pada hewan ternak, masyarakat tidak perlu panik.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Pemprov Gelontorkan Rp28,01 Miliar untuk Pengentasan Kemiskinan dan Swasembada Pangan di Brebes

0

BETANEWS.ID, BREBES — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggelontorkan bantuan untuk Kabupaten Brebes senilai total Rp28,01 miliar. Bantuan untuk percepatan penanganan kemiskinan dan swasembada pangan tersebut diserahkan langsung oleh Gubernur Ahmad Luthfi di Pendopo Kabupaten Brebes, Kamis, 7 Mei 2026.

Secara rinci, bantuan tersebut terdiri atas bantuan kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) pada empat titik senilai Rp921 juta. Kemudian bantuan sektor pertanian dan peternakan Rp7,03 miliar, meliputi rehabilitasi jaringan irigasi tersier 920 paket senilai Rp3,5 miliar, irigasi perpipaan delapan paket senilai Rp752 juta, bantuan benih padi, jagung, dan durian senilai Rp1,524 miliar, bantuan sarana produksi bawang merah Rp53,07 juta, serta pengembangan budidaya tanaman tebu, kelapa genjah, tembakau, dan cengkeh Rp1,201 miliar.

Selanjutnya, bantuan cadangan pangan pemerintah daerah untuk daerah rawan pangan kepada 127 orang masing-masing Rp20 juta; bantuan sosial pembangunan hunian baru korban bencana sebanyak 18 unit senilai total Rp900 juta; bantuan sambungan listrik gratis dan bantuan pompa air tenaga surya Rp131,611 juta; serta bantuan sosial berupa Usaha Ekonomi Produktif (UEP), Kelompok Usaha Bersama (KUBE), dan Kartu Jateng Ngopeni senilai Rp1,515 miliar.

Selain itu, Pemprov Jateng juga menyalurkan bantuan internet desa dan desa wisata untuk delapan titik senilai Rp502,9 juta; bantuan uang sekolah/lembaga pendidikan Rp16,545 miliar; bantuan peralatan kerja penambak garam, sarana dan prasarana Pokmaswas, premi asuransi nelayan Rp127 juta; serta hibah pendidikan keagamaan untuk delapan lembaga senilai Rp320 juta.

Baca juga : Presensi Fiktif, Sekda Jateng Ancam Sanksi Tegas 3.000 ASN Brebes

Gubernur Ahmad Luthfi mengatakan, Kabupaten Brebes merupakan satu dari sepuluh daerah yang menjadi prioritas intervensi untuk pengentasan kemiskinan dan kemiskinan ekstrem di Jawa Tengah. Bahkan, kabupaten ini merupakan daerah yang luas dan memiliki jumlah penduduk yang banyak. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

“Kalau mereka tidak kita beri atensi untuk mengembangkan wilayahnya, maka akan tertinggal. Untuk itu, bantuan ini kita berikan sebagai bentuk kolaborasi dalam pengentasan kemiskinan,” katanya.

Menurut Luthfi, pengentasan kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah bagi Pemprov Jateng. Angka kemiskinan Jawa Tengah pada Maret 2025 sebesar 9,48 persen. Angka tersebut turun pada September 2025 menjadi 9,39 persen. Sementara data BPS pada Maret 2025 menyebutkan persentase penduduk miskin di Brebes tertinggi di Jawa Tengah, yakni 14,15 persen.

Sebagai informasi, berbagai upaya telah dilakukan Pemprov Jateng untuk menangani kemiskinan dan kemiskinan ekstrem. Mulai dari memberikan bantuan renovasi rumah tidak layak huni (RTLH), penanganan stunting, cek kesehatan gratis dan dokter spesialis keliling (Speling), sekolah gratis untuk anak dari keluarga miskin dan kurang mampu, hingga penyaluran bantuan sosial.

Di samping itu, Pemprov Jateng juga gencar menarik investasi ke wilayahnya sehingga berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Begitu pula dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) agar lebih memiliki daya saing dan mudah terserap investasi.

“Maka saya minta semua daerah menyiapkan kawasan industri baru. Brebes menjadi salah satu yang akan kita kembangkan terkait hal ini,” katanya.

Sementara itu, Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma menyampaikan terima kasih atas perhatian dan bantuan dari Pemprov Jateng kepada Kabupaten Brebes. Bantuan senilai Rp28,01 miliar tersebut merupakan dukungan yang sangat besar bagi Brebes karena menjangkau seluruh dimensi yang berhubungan dengan pengentasan kemiskinan.

“Sudah kami catat semua arahan Gubernur, bantuan ini akan kami kawal agar tepat sasaran,” katanya.

Ia menambahkan, persoalan kemiskinan dan kemiskinan ekstrem di Brebes masih cukup besar. Tercatat, dari 297 desa dan lima kelurahan masih banyak yang membutuhkan perhatian. Ia berharap bantuan tersebut dapat mempercepat penyelesaian persoalan kemiskinan di Brebes.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Pertahankan Ajaran Sunan Kudus, Warga Masih Lebih Pilih Kurban Kerbau Ketimbang Sapi

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Tradisi berkurban menggunakan kerbau masih kuat di Kabupaten Kudus hingga saat ini. Hewan tersebut tetap menjadi pilihan utama masyarakat saat Iduladha.

Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kudus, Arin Nikmah, mengatakan dominasi kerbau sudah berlangsung lama. Hal ini tidak lepas dari nilai sejarah yang diwariskan secara turun-temurun.

“Di Kudus memang masih didominasi kerbau untuk dijadikan hewan kurban,” ujar Arin di ruang kerjanya belum lama ini.

Ia menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir jumlah pemotongan kerbau berkisar antara 1.700 hingga 2.000 ekor. Bahkan, angka tersebut pernah mencapai lebih dari 2.000 ekor dalam satu musim kurban.

Menurutnya, tradisi tersebut berkaitan dengan ajaran Sunan Kudus pada masa lalu. Masyarakat dianjurkan tidak menyembelih sapi sebagai bentuk toleransi terhadap umat Hindu.

“Ini bagian dari nilai toleransi yang sudah diajarkan sejak zaman dulu. Masyarakat Kudus masih memegang ajaran tersebut hingga sekarang,” jelasnya.

Baca juga : Kebutuhan Hewan Kurban di Kudus Diprediksi Meningkat Tahun Ini

Meski demikian, lanjutnya, perkembangan zaman mulai membawa perubahan di tengah masyarakat. Saat ini sudah ada sebagian warga yang mulai berkurban menggunakan sapi.

“Sejak beberapa tahun terakhir memang ada warga Kudus yang berkurban dengan ternak sapi. Tahun ini kami memprediksi ada 681 ekor sapi yang digunakan untuk kurban,” bebernya.

Arin mengungkapkan, kebutuhan kerbau untuk kurban di Kudus tidak sepenuhnya bergantung pada populasi lokal. Pasokan dari luar daerah masih menjadi andalan untuk memenuhi permintaan.

“Kerbau ini memang banyak didatangkan dari luar daerah karena populasi lokal terbatas,” ungkap Arin.

Ia menyebut, menjelang Iduladha para pedagang biasanya mulai meningkatkan pasokan ternak. Bahkan, jumlah ternak di kandang bisa meningkat hingga 300 sampai 400 persen.

Meski mulai ada perubahan pola pilihan hewan kurban, tradisi lama masih tetap dijaga. Nilai kearifan lokal tersebut menjadi ciri khas masyarakat Kudus yang terus bertahan hingga kini.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Persiku Aman di Liga Pegadaian Championship, Manajemen Siapkan Bonus untuk Tim

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Klub kebanggaan masyarakat Kabupaten Kudus, Persiku berhasil bertahan di Liga Pegadaian Championship musim 2026/2027. Atas prestasi tersebut, jajaran pemain dan pelatih akan mendapat apresiasi dari manajemen berupa bonus.

Diketahui, hingga akhir musim 2025/2026, Persiku berhasil menempati posisi ketujuh klasemen akhir Grup B. Hasil tersebut membuat Persiku dipastikan bertahan di Liga Pegadaian Championship musim depan.

Manajer Persiku, Widhoro Heriyanto mengatakan, bonus yang akan diterima jajaran pemain dan pelatih telah disampaikan kepada pimpinan direksi PT Relasi Sport Muria Indonesia (Resmi). Meski begitu, pihaknya masih akan berkoordinasi dengan direksi terkait bonus yang akan diberikan.

“Ini kan keputusan bersama. Kelihatannya dari pihak direksi sudah berpikir ke arah sana (memberikan bonus) dan pasti direalisasikan,” bebernya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, belum lama ini.

Ia menjelaskan, untuk nominal bonus yang akan diberikan, pihaknya belum mengetahui secara pasti. Namun, ia sangat mengapresiasi dan bersyukur karena Persiku mampu bertahan di Liga Pegadaian Championship.

Menurutnya, pada putaran pertama Persiku sempat terseok-seok di papan bawah klasemen. Namun, semangat juang yang ditunjukkan para pemain hingga akhir musim membuat performa tim terus meningkat dan berhasil bertahan.

Baca juga : Popda Kudus 2026 Resmi Digelar, 28 Cabor Siap Cetak Atlet Muda Berprestasi

“Setelah pertengahan putaran kedua sampai akhir putaran ketiga, alhamdulillah grafik permainan dan kondusivitas Persiku semakin baik,” jelasnya.

Ia menambahkan, beberapa pemain kemungkinan akan dipertahankan, sementara lainnya dilepas ke klub lain. Menurutnya, pihak manajemen dan direksi sudah mulai berkomunikasi terkait pemain-pemain yang akan dipertahankan.

“Tapi mohon maaf belum bisa saya sampaikan saat ini. Karena kami masih harus bernegosiasi dan melihat kesiapan pemain untuk bertahan atau tidak. Masih butuh komunikasi lagi,” ungkapnya.

Ia berharap, pada kompetisi berikutnya Persiku bisa meraih prestasi lebih tinggi hingga mampu promosi ke liga yang lebih tinggi.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Awal 2026 Positif, Penerimaan Bea Cukai Kudus Lampaui Target

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Bea Cukai Kudus mencatat capaian positif pada awal 2026 dengan realisasi penerimaan negara yang melampaui target periode berjalan. Hingga akhir April 2026, penerimaan tercatat mencapai Rp12,65 triliun.

Jumlah tersebut setara 28,75 persen dari target tahunan sebesar Rp44 triliun. Capaian itu juga melampaui target bulanan periode berjalan sebesar Rp11,92 triliun atau mencapai 106,09 persen.

Kepala Bea Cukai Kudus, Nur Rusydi, menyebut capaian tersebut tidak lepas dari sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Menurutnya, kolaborasi menjadi faktor penting dalam menjaga kepatuhan serta iklim usaha yang sehat.

“Kolaborasi menjadi kunci dalam menjaga kepatuhan sekaligus memastikan iklim usaha yang sehat dan berkeadilan,” ujarnya di Kantor Bea Cukai Kudus, Kamis (7/5/2026).

Dalam menjalankan tugas, lanjutnya, Bea Cukai Kudus mengawasi ratusan pelaku industri hasil tembakau. Hingga saat ini, terdapat 218 pabrik hasil tembakau, empat Tempat Penjual Eceran (TPE), dan tujuh penyalur barang kena cukai yang berada dalam pengawasan.

Sementara di bidang kepabeanan, layanan diberikan kepada puluhan perusahaan penerima fasilitas kepabeanan. Di antaranya 31 kawasan berikat, enam perusahaan penerima fasilitas KITE Besar, 12 penerima fasilitas KITE IKM, serta satu perusahaan penerima fasilitas gudang berikat.

Baca juga : 46 CPNS Kudus Resmi Jadi PNS, Bupati Tekankan Peningkatan Pelayanan Publik

“Selain penerimaan negara, kualitas layanan publik juga mengalami peningkatan. Nilai Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) Triwulan I 2026 mencapai 3,72 atau meningkat dibanding periode sebelumnya sebesar 3,62,” bebernya.

Nur Rusydi mengatakan capaian tersebut menjadi motivasi untuk terus meningkatkan pelayanan dan pengawasan. Pihaknya juga berkomitmen menjaga integritas dalam pelaksanaan tugas di bidang kepabeanan dan cukai.

“Capaian ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kinerja, menjaga integritas, serta memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat dan dunia usaha,” imbuhnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Konsep Satu Kampus Satu Dapur MBG, Rektor UMK Sebut Perguruan Tinggi Tak Harus Dirikan Dapur

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Rektor Universitas Muria Kudus (UMK), Darsono menilai perguruan tinggi seharusnya mengambil peran strategis dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama pada aspek evaluasi, pengawasan, dan pengembangan kualitas program.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki fungsi utama sebagai pusat pengembangan akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang tidak boleh ditinggalkan.

“Perguruan tinggi itu secara prinsip adalah center of excellency dalam pengembangan akademik, penelitian, dan pengabdian. Prinsip itu tidak boleh ditinggalkan,” katanya.

Darsono menjelaskan, program MBG sebagai program nyata pemerintah memang bisa melibatkan kampus. Namun keterlibatan tersebut sebaiknya disesuaikan dengan kompetensi dasar perguruan tinggi, bukan seluruh kampus harus terlibat langsung mengelola dapur umum.

“Mestinya tidak semua perguruan tinggi punya dapur. Ada yang mungkin menjadi penjamin mutu, ada yang melakukan asesmen, ada yang melakukan evaluasi sehingga sistemnya saling mengontrol dan menghasilkan optimasi yang baik,” katanya.

Ia mengusulkan agar perguruan tinggi lebih diarahkan pada fungsi evaluasi, konsultasi, audit, hingga evaluasi pelaksanaan program MBG. Dengan begitu, kampus tetap menjalankan perannya sebagai pengembang ilmu pengetahuan.

Baca juga : Wisuda UMK ke-76, 864 Lulusan Didorong Siap Hadapi Tantangan Kerja

“Kalau saya mengusulkan, perguruan tinggi tidak harus dalam kerangka mendirikan dapur, tapi mengekspresikan kompetensinya melalui evaluasi, asesmen, konsulting, auditing, dan fitting evaluasi terhadap program yang berjalan,” jelasnya.

Darsono juga mengingatkan agar keterlibatan kampus dalam pengelolaan dapur MBG tidak sampai mematikan pelaku UMKM yang sudah bergerak di sektor tersebut.

“Kalau kampus langsung membuat dapur, kasihan UMKM di luar. Harus ada balancing peran,” tegasnya.

Terkait sejumlah kasus keracunan makanan yang sempat muncul di beberapa daerah dalam pelaksanaan program MBG, Darsono menyebut UMK sejauh ini belum terlibat langsung di Kabupaten Kudus karena belum ada kerja sama resmi maupun skema keterlibatan yang jelas.

“Dalam konteks dinamika MBG, UMK memang belum berperan di Kudus karena belum ada link atau persenyawaan kerja sama,” ungkapnya.

Meski demikian, ia memastikan perguruan tinggi tetap siap berkontribusi apabila nantinya diminta terlibat. Salah satunya melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) maupun pengembangan instrumen evaluasi program.

“Kalau nanti diperankan, bisa melalui KKN untuk melakukan valuasi. Kampus juga bisa mengembangkan instrumen evaluasi, asesmen kualitas, asesmen visibilitas, dan sebagainya,” terangnya.

Menurutnya, kontribusi perguruan tinggi dalam MBG harus berbasis keilmuan agar manfaatnya lebih optimal dan tetap sesuai dengan identitas akademik kampus.

“Perguruan tinggi tidak bisa cuci tangan, tetap harus ikut berperan. Tapi perannya harus sesuai kompetensi dasar sebagai pengembang ilmu pengetahuan,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Waspada! Tren Penjualan Narkoba Mulai Merambah Media Sosial, Remaja Paling Banyak Jadi Korban

0

BETANEWS.ID, JEPARA – Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah, Toton Rasyid, mengungkapkan tren transaksi penjualan narkoba saat ini mulai merambah media sosial (medsos).

“Yang paling bahaya sekarang itu terbuka di media sosial. Media sosial sudah menjadi sarana. Orang memesan sekarang melalui medsos,” katanya saat ditemui di Pendopo Jepara beberapa waktu lalu.

Berdasarkan laporan data dari BNN pada tahun 2025, usia remaja hingga dewasa awal, yakni 15–23 tahun, termasuk kelompok yang paling banyak menjadi korban penyalahgunaan narkoba.

Toton menyebutkan media sosial yang paling banyak digunakan untuk transaksi narkoba ialah Instagram dan Facebook. Modus yang digunakan, yakni memakai akun privat.

“Medsosnya paling banyak Instagram dan Facebook. Jadi memang ada beberapa akun yang perlu diwaspadai. Akun itu biasanya tertutup atau dikunci.

Remaja itu kan suka penasaran, mereka kemudian membuka, mengklik, lalu mengikuti,” sebut Toton.

Baca juga : Polisi Masih Dalami Kasus Bayi yang Ditemukan Mengambang di Aliran Sungai Jepara

Saat sudah menjadi pengikut, admin media sosial tersebut kemudian menawarkan narkoba. Transaksi pembayaran juga dilakukan melalui akun tersebut. Setelah itu, barang dikirim melalui jasa ekspedisi.

Kasus semacam itu, menurut Toton, pernah terungkap. Namun, untuk langkah pencegahan, pihaknya mengaku cukup kesulitan.

“Medsosnya kita tahu akunnya apa, tapi itu kerja samanya kan dengan Meta. Kalau Kominfo kita minta untuk memblokir bisa, tapi kan tidak bisa menemukan pelaku atau adminnya itu,” ujar Toton.

Karena itu, untuk mencegah semakin meluasnya kasus penyalahgunaan narkoba, menurut Toton, harus dilakukan secara bersama-sama.

Gerakan pencegahan dan penanganan narkoba, menurutnya, tidak bisa dikerjakan secara parsial atau hanya oleh satu lembaga saja.

“Sehingga kepedulian ini harus ditingkatkan. Kami menggugah semua pihak, termasuk pemda (pemerintah daerah), karena gerakannya ini harus gerakan bersama untuk menjaga ketahanan masyarakat dari ancaman bahaya narkoba,” harapnya.

Adapun alasan remaja menggunakan narkoba, menurut Toton, biasanya berawal dari rasa penasaran hingga akhirnya coba-coba. Faktor lingkungan juga menjadi salah satu hal yang cukup berpengaruh.

“Awalnya nyoba gratis dulu, dan jahatnya narkoba kan dia langsung menyerang otak. Hormon dopamin itu langsung keluar sehingga membuat bahagia dan berhalusinasi,” ujar Toton.

Jenis narkoba yang paling sering dikonsumsi kalangan remaja, yakni sabu-sabu serta vape yang di dalamnya dicampur cairan narkoba.

“Vape yang di dalamnya mengandung narkoba, ini juga jadi media baru yang sekarang perlu diwaspadai,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Dua Calhaj Kudus Dipulangkan dari Asrama Haji Donohudan

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Dua calon jemaah haji (calhaj) asal Kudus dipulangkan ke rumah masing-masing setelah tidak lolos tes kesehatan (istitaah) di Asrama Haji Donohudan. Keduanya adalah Suginah dan Abdul Mun’im yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 43.

Saat ini, keduanya dilaporkan sudah berada di kediamannya masing-masing.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kudus, Masruroh, membenarkan bahwa ada dua calhaj asal Kudus yang dipulangkan. Sementara itu, proses pemberangkatan calhaj ke Tanah Suci masih terus berjalan.

“Mereka dipulangkan karena hasil tes kesehatan mereka tidak lolos, sehingga harus dipulangkan demi prosedur yang ada,” jelasnya.

Sementara itu, Subkoordinator Surveilans dan Imunisasi pada Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Aniq Fuad, menjelaskan bahwa kedua calhaj yang gagal berangkat karena terkendala tes kesehatan saat ini sudah berada di rumah. Proses pemulangan dilakukan setelah keduanya dinyatakan tidak lolos tes.

“Mereka dipulangkan ke rumahnya masing-masing,” ungkapnya saat dimintai keterangan melalui sambungan telepon, Rabu (6/5/2026).

Ia menuturkan, hasil tes kesehatan terhadap calhaj asal Kudus yang dipulangkan tersebut sudah sesuai dengan aturan dan ketentuan internasional penerbangan.

Sementara itu, perkembangan calhaj yang sebelumnya dirujuk ke rumah sakit dilaporkan dalam kondisi baik. Bahkan, calhaj bernama Faiz Daironi yang tergabung dalam kloter 41 dapat diberangkatkan ke Tanah Suci.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Polisi Masih Dalami Kasus Bayi yang Ditemukan Mengambang di Aliran Sungai Jepara

0

BETANEWS.ID, JEPARA – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Kepolisian Resor (Polres) Jepara mulai mendalami kasus penemuan bayi laki-laki yang ditemukan mengambang di aliran Sungai SWD II, Desa Kedungmalang, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara.

Kasat Reskrim Polres Jepara, AKP M. Faizal Wildan Umar Rela, mengatakan bahwa pada Selasa (5/5/2026), pihaknya telah mengambil sampel DNA dari bayi tersebut.

“Saat ini masih dalam proses penyelidikan. Kemarin sudah kami bawa dan kami ambil sampel DNA,” kata Wildan saat ditemui di Mapolres Jepara, Rabu (6/5/2026).

DNA tersebut dibutuhkan sebagai salah satu barang bukti apabila nantinya penyidik telah menemukan terduga pelaku yang tega membuang bayi laki-laki tersebut.

“Apabila kami sudah mengantongi nama terduga pelaku, hasil DNA nanti bisa menjadi alat bukti untuk dicocokkan antara DNA bayi dengan ibu yang membuang bayi,” jelasnya.

Selain mengambil DNA bayi, Wildan menambahkan bahwa dokter juga telah melakukan pemeriksaan luar terhadap kondisi bayi tersebut.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bayi tersebut diperkirakan berusia sekitar satu hingga dua hari saat ditemukan. Dari kondisi tubuh bayi, menurutnya juga tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.

Baca juga : Bikin Gempar, Warga Kedungmalang Jepara Temukan Mayat Bayi Laki-laki Mengambang di Sungai

“Tidak ada tanda kekerasan. Ari-ari masih lengkap sehingga dimungkinkan setelah lahir langsung dibuang oleh ibunya. Meninggalnya diperkirakan satu hingga dua hari sebelum ditemukan,” lanjut Wildan.

Namun, Wildan belum bisa memastikan penyebab pasti bayi tersebut meninggal dunia. Pihaknya juga berencana melakukan pemeriksaan organ dalam bayi tersebut.

“Belum bisa kami simpulkan apa penyebab kematiannya, karena baru pemeriksaan luar dan akan kami lakukan pemeriksaan dalam pada bayi tersebut,” ujarnya.

Sebagai informasi, bayi laki-laki tersebut pertama kali ditemukan oleh anak-anak yang sedang bermain layang-layang di aliran Sungai SWD II pada Selasa (5/5/2026) sekitar pukul 13.00 WIB.

Saat ditemukan, posisi bayi berada di tengah aliran sungai. Namun kemudian terdorong arus air hingga posisinya berada di tepi sungai.

Bayi tersebut kemudian ditolong oleh Muzaenah (72), warga Kedungmalang, dan diangkat dari tepi sungai. Oleh warga, bayi tersebut dimasukkan ke dalam kardus dan dibawa ke gubuk di dekat jalan raya untuk selanjutnya dibawa oleh pihak terkait.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

60 Peserta Ikuti Pelatihan Juleha di Kudus, Persiapan Jelang Iduladha 2026

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Menjelang Hari Raya Iduladha 2026, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Kudus menggelar bimbingan teknis (bimtek) juru sembelih halal (Juleha). Kegiatan tersebut berlangsung di Masjid At-Taqwa, Desa Gondosari, Kecamatan Gebog.

Dalam bimtek tersebut dihadirkan narasumber dari DPW Juleha Jawa Tengah, Eri Gunarto, yang memberikan materi terkait tata cara penyembelihan sesuai syariat dan standar kesejahteraan hewan.

Kepala Bidang Peternakan pada Dispertan Kudus, Arin Nikmah, menjelaskan bahwa pelatihan ini diikuti 60 peserta yang merupakan perwakilan takmir masjid se-Kabupaten Kudus. Program ini mendapat dukungan anggaran dari Dinas Peternakan Jawa Tengah serta kolaborasi dengan pihak swasta, PT Sukun Wartono Indonesia, dan takmir masjid.

“Peserta berasal dari takmir masjid. Harapannya, saat Iduladha nanti mereka dapat menjalankan penyembelihan hewan kurban secara profesional,” ujarnya.

Ia menyebutkan, pelatihan Juleha di Kudus tahun ini telah dilaksanakan dua kali. Sebelumnya, kegiatan serupa diikuti 187 peserta yang diselenggarakan oleh DPD (Dewan Pimpinan Daerah) Juleha, kemudian dilanjutkan pelatihan oleh provinsi dengan 60 peserta.

Baca juga : Kebutuhan Hewan Kurban di Kudus Diprediksi Meningkat Tahun Ini

Menurutnya, profesionalitas juru sembelih tidak hanya terkait aspek teknis, tetapi juga pemahaman syariat Islam dan kesejahteraan hewan. Selain itu, daging yang dihasilkan harus memenuhi prinsip ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal).

“Tujuannya agar hewan kurban yang disembelih benar-benar menghasilkan daging yang halal dan layak dikonsumsi oleh masyarakat,” jelasnya.

Di sisi lain, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Veteriner pada Disnakkeswan Provinsi Jawa Tengah, Budy Astiantoro, menambahkan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari kesiapan menjelang Hari Raya Iduladha. Melalui kegiatan tersebut, pihaknya ingin agar para petugas pemotongan hewan memahami proses dengan baik.

“Petugas harus memahami mulai dari pemilihan hewan sehat, proses penyembelihan sesuai syariat, hingga distribusi daging yang aman dan halal,” katanya.

Ia menyebutkan, kegiatan bimtek dilakukan secara rutin setiap tahun untuk meningkatkan kapasitas petugas di lapangan. Selain pelatihan, pemerintah juga melakukan langkah antisipasi lain, seperti pengecekan kesehatan hewan di lapak penjualan serta pengawasan lalu lintas ternak antar daerah.

“Kami melakukan pengawasan di titik perbatasan Jawa Tengah, baik dari Jawa Barat, Jawa Timur, maupun DIY, karena mobilitas ternak cukup tinggi menjelang Iduladha,” jelasnya.

Terkait potensi penyakit, Budy mengungkapkan bahwa pihaknya terus melakukan vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK) sejak awal tahun. Selain itu, pengawasan terhadap penyakit antraks juga diperketat.

“Untuk tahun ini kondisi antraks aman, namun tetap kami lakukan pengawasan dan vaksinasi,” tandasnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -