BETANEWS.ID, JEPARA – Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah, Toton Rasyid, mengungkapkan tren transaksi penjualan narkoba saat ini mulai merambah media sosial (medsos).
“Yang paling bahaya sekarang itu terbuka di media sosial. Media sosial sudah menjadi sarana. Orang memesan sekarang melalui medsos,” katanya saat ditemui di Pendopo Jepara beberapa waktu lalu.
Berdasarkan laporan data dari BNN pada tahun 2025, usia remaja hingga dewasa awal, yakni 15–23 tahun, termasuk kelompok yang paling banyak menjadi korban penyalahgunaan narkoba.
Toton menyebutkan media sosial yang paling banyak digunakan untuk transaksi narkoba ialah Instagram dan Facebook. Modus yang digunakan, yakni memakai akun privat.
“Medsosnya paling banyak Instagram dan Facebook. Jadi memang ada beberapa akun yang perlu diwaspadai. Akun itu biasanya tertutup atau dikunci.
Remaja itu kan suka penasaran, mereka kemudian membuka, mengklik, lalu mengikuti,” sebut Toton.
Baca juga : Polisi Masih Dalami Kasus Bayi yang Ditemukan Mengambang di Aliran Sungai Jepara
Saat sudah menjadi pengikut, admin media sosial tersebut kemudian menawarkan narkoba. Transaksi pembayaran juga dilakukan melalui akun tersebut. Setelah itu, barang dikirim melalui jasa ekspedisi.
Kasus semacam itu, menurut Toton, pernah terungkap. Namun, untuk langkah pencegahan, pihaknya mengaku cukup kesulitan.
“Medsosnya kita tahu akunnya apa, tapi itu kerja samanya kan dengan Meta. Kalau Kominfo kita minta untuk memblokir bisa, tapi kan tidak bisa menemukan pelaku atau adminnya itu,” ujar Toton.
Karena itu, untuk mencegah semakin meluasnya kasus penyalahgunaan narkoba, menurut Toton, harus dilakukan secara bersama-sama.
Gerakan pencegahan dan penanganan narkoba, menurutnya, tidak bisa dikerjakan secara parsial atau hanya oleh satu lembaga saja.
“Sehingga kepedulian ini harus ditingkatkan. Kami menggugah semua pihak, termasuk pemda (pemerintah daerah), karena gerakannya ini harus gerakan bersama untuk menjaga ketahanan masyarakat dari ancaman bahaya narkoba,” harapnya.
Adapun alasan remaja menggunakan narkoba, menurut Toton, biasanya berawal dari rasa penasaran hingga akhirnya coba-coba. Faktor lingkungan juga menjadi salah satu hal yang cukup berpengaruh.
“Awalnya nyoba gratis dulu, dan jahatnya narkoba kan dia langsung menyerang otak. Hormon dopamin itu langsung keluar sehingga membuat bahagia dan berhalusinasi,” ujar Toton.
Jenis narkoba yang paling sering dikonsumsi kalangan remaja, yakni sabu-sabu serta vape yang di dalamnya dicampur cairan narkoba.
“Vape yang di dalamnya mengandung narkoba, ini juga jadi media baru yang sekarang perlu diwaspadai,” pungkasnya.
Editor: Kholistiono

