Beranda blog Halaman 57

Pembayaran Pajak Kendaraan di Jepara Masih Tinggi, Diskon 5% Belum Berlaku

0
Sejumlah warga sedang membayar pajak kendaraan di Kantor Unit Pengelolaan Pendapatan Daerah (UPPD) Kabupaten Jepara. Foto: Umi Nurfaizah.

BETANEWS.ID, JEPARA– Seruan #StopBayarPajak untuk kendaraan bermotor di Jawa Tengah kini sedang viral di media sosial. Namun, di Kabupaten Jepara seruan itu ternyata tidak terlalu berpengaruh.

Antusias masyarakat yang akan membayar pajak kendaraan bermotor (PKB) masih cukup tinggi. Hal itu terlihat dari banyaknya antrean masyarakat yang akan membayar pajak di Kantor Unit Pengelolaan Pendapatan Daerah (UPPD) Kabupaten Jepara.

Kepala Kantor UPPD Kabupaten Jepara, Djoko Sudarto menjelaskan, saat ini tarif pembayaran PKB memang mengalami kenaikan karena adanya tarif baru bernama opsen PKB dan opsen BBNKB (Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor).

Tarif itu berlaku setelah diberlakukannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (HKPD).

Baca juga: Pemprov Jateng Luncurkan ‘Ngopeni Omah Nglakoni Sesarengan’, Strategi Ampuh Tuntaskan Masalah Hunian

Di Jawa Tengah, kebijakan itu sebenarnya mulai diberlakukan per tanggal 5 Januari 2025 lalu berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Jawa Tengah Nomor 12 Tahun 2023.

“Untuk Jawa Tengah, tarif (PKB) yang semula 1,50 persen, setelah diberlakukannya opsen, (tarif PKB-nya) naik menjadi 1,74 persen,” katanya saat ditemui di Kantor UPPD Kabupaten Jepara, Rabu (18/2/2026).

Djoko menjelaskan, opsen merupakan pungutan tambahan yang dikenakan pada tarif PKB dan BBNKB. Dimana nantinya pembayaran pajak yang dibayarkan oleh masyarakat akan langsung masuk ke rekening kas pemerintah kabupaten/kota. Besaran opsen yang ditetapkan yaitu sebesar 66 persen.

“Alhamdulillah meskipun ada isu (seruan stop bayar pajak), untuk Kabupaten Jepara tidak berpengaruh. Karena kita rutin memberikan sosialisasi manfaat opsen kepada masyarakat,” ungkapnya.

Djoko menyebutkan, target pendapatan daerah dari pembayaran PKB per Bulan Januari 2026 saat ini sudah terealisasi sebesar 6,77 persen atau Rp9,69 miliar. Dari jumlah total yang ditargetkan yaitu Rp143,27 miliar.

Baca juga: Jelang Ramadan 2026, Pertamina Tambah 1,1 Juta Gas Melon di Jateng dan DIY

Kemudian untuk opsen PKB sendiri, per Bulan Januari 2026 sudah terealisasi 8,1 persen atau Rp5,8 miliar dari jumlah yang ditargetkan yaitu Rp72,2 miliar.

Untuk itu Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berencana untuk memberikan diskon pembayaran PKB di tahun 2026 sebesar 5 persen. Akan tetapi, kebijakan itu saat ini masih dalam tahap pengkajian.

“Diskon masih menunggu dari Bapak Gubernur Jawa Tengah. Kita sebagai pemerintah di daerah hanya melaksanakan saja,” ujarnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Tradisi Dandangan Dongkrak Penjualan Telur Ayam

0
Tradisi Dandangan berdampak terhadap naiknya penjualan telur di Kudus. Foto: Kaerul Umam.

BETANEWS.ID, KUDUS-Tradisi Dandangan menjelang Ramadan membawa berkah tersendiri bagi para pedagang bahan pokok. Salah satunya dirasakan pedagang telur ayam di Pasar Bitingan, Kudus, yang mengalami lonjakan penjualan selama event yang berlangsung 7–18 Februari 2026.

Pedagang telur ayam, Erma Siti Khoiriyah mengaku, permintaan meningkat tajam karena banyak pedagang kuliner Dandangan yang membutuhkan pasokan telur dalam jumlah besar.

“Yang saya kirim ke pedagang Dandangan ada sekitar empat sampai lima pedagang. Mereka seperti penjual pancake, siomay, dan lain sebagainya itu ramai sekali,” ujarnya.

Baca juga: Tak Hanya Cabai Setan, Harga Telur di Kudus Juga Naik Signifikan

Ia menjelaskan, selama berlangsungnya event Dandangan, permintaan penjualan melonjak hingga 70–80 kilogram per hari.

“Kalau di tahun ini sehari bisa menjual sampai 80 kilogram untuk even Dandangan. Dibanding tahun lalu, sepertinya tahun ini lebih ramai,” katanya.

Erma menuturkan, peningkatan tersebut membuat omzetnya naik sekitar 50 persen dari hari biasa. Ia menyebut, di hari biasa, penjualan telur di lapaknya bisa menjual 100 kilogram atau 1 kuital telur ayam per hari. Sementara adanya event tersebut penjualan bertambah dan semakin ramai.

Baca juga: Baru Awal 2026, Investasi Emas Warga Kudus Tembus 4,8 kilogram

Bahkan, kata dia, satu pedagang kuliner bisa mengambil hingga 10-20 kilogram telur ayam per hari. Menurutnya, keramaian Dandangan sangat berpengaruh terhadap pedagang bahan baku seperti dirinya. Ia berharap suasana ramai terus berlangsung hingga menjelang Ramadan.

“Bersyukur sekali dengan adanya event ini. Penjual Dandangan ramai, kami yang menyuplai bahan juga ikut merasakan dampak positif,” imbuhnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Gandeng Sektor Swasta, Pemprov Jateng Masifkan Gerakan Sumur Resapan Murah

0
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, saat meninjau pembangunan sumur resapan di Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, pada Rabu (18/2/2026). Foto: Ist

BETANEWS.ID,KUDUS – Genangan air saat musim hujan tak hanya memicu banjir, tetapi juga menjadi salah satu penyebab utama kerusakan jalan. Karenanya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kini mendorong pembuatan sumur resapan sebagai solusi sederhana, murah, namun berdampak luas bagi lingkungan sekaligus infrastruktur jalan.

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, saat meninjau pembangunan sumur resapan di Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, pada Rabu (18/2/2026).Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PT Sukun Wartono Indonesia.

Menurut Taj Yasin, sumur resapan bukan sekadar proyek konservasi air, tetapi juga strategi efektif untuk menjaga ketahanan infrastruktur jalan.

Baca juga: 523 Jiwa di Brebes Terdampak Tanah Gerak, Gubernur Luthfi Pastikan Percepatan Penanganan

“Ketika musim penghujan, yang paling rawan merusak jalan itu genangan air. Kalau genangan air ini bisa kita hilangkan, saya rasa jalannya juga semakin lebih awet,” ujarnya.

Ia mengapresiasi langkah PT Sukun Wartono Indonesia yang telah membangun sumur resapan di sejumlah titik. Di Lapangan Jogging Track Taman Desa Gondosari sendiri, telah dibuat 15 sumur resapan.

“Ini gerakan yang sederhana, tapi dampaknya besar. Satu gerakan bisa menyelamatkan beberapa program pekerjaan, baik dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, sampai desa,” kata Taj Yasin.

Genangan air, lanjutnya, selama ini menjadi faktor utama yang mempercepat kerusakan lapisan jalan. Air yang mengendap berpotensi merusak struktur, memicu retakan, hingga lubang yang berujung pada tingginya biaya perbaikan.

Karena itu, Pemprov Jawa Tengah mendorong gerakan sumur resapan agar lebih dimassifkan. Namun, Wagub mengingatkan bahwa pembangunan sumur resapan harus disertai edukasi teknis kepada masyarakat.

“Kalau tanahnya tanah liat atau lempung, harus sampai ketemu pasir. Jangan sampai resapan justru merusak struktur tanah,” tegasnya, merujuk pada pengalaman di wilayah lain.

Untuk mendukung kebijakan tersebut, Pemprov Jawa Tengah telah menerjunkan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bekerja sama dengan kampus-kampus guna memetakan karakteristik tanah di berbagai wilayah.

“Kita petakan mana yang cocok sumur resapan, mana yang cukup biopori, mana yang perlu kedalaman tertentu,” jelasnya.

Selain pendekatan teknis, penguatan regulasi juga menjadi perhatian. Taj Yasin menegaskan bahwa kewajiban sumur resapan sebenarnya telah diatur dalam perda maupun pergub, termasuk dikaitkan dengan perizinan bangunan.

Pemerintah Kabupaten Kudus pun menyatakan komitmennya mendukung kebijakan tersebut.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, mengatakan bahwa kewajiban sumur resapan telah dimasukkan dalam proses perizinan bangunan.

“Di Kabupaten Kudus, setiap izin Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) maupun Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) ada surat pernyataan wajib membuat sumur resapan,” katanya.

Ia menilai gerakan sumur resapan menjadi semakin relevan di tengah cuaca ekstrem yang belakangan terjadi. Curah hujan tinggi, menurutnya, menjadi ujian tersendiri bagi sistem drainase dan pengendalian banjir.

Baca juga: Pemprov Jateng Luncurkan ‘Ngopeni Omah Nglakoni Sesarengan’, Strategi Ampuh Tuntaskan Masalah Hunian

“Minimal satu rumah ada satu sumur resapan. Kita menabung air sehingga cadangan air tanah terisi,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Sukun Wartono Indonesia, Yusuf Wartono, menegaskan bahwa keterlibatan perusahaan dalam pembangunan sumur resapan merupakan bentuk kepedulian terhadap isu lingkungan.

“Kami berharap ada kolaborasi positif antara perusahaan dengan pemerintah di semua tingkatan untuk menjaga lingkungan hidup,” katanya.

Sebagai informasi, sumur resapan di Kudus yang dibangun memiliki spesifikasi sederhana, dengan kedalaman sekitar 1,5 meter menggunakan dua buis beton berdiameter 60 sentimeter.

Biayanya pembuatan juga tidak mahal, kurang dari Rp1 juta per sumur. Dengan biaya relatif rendah dan manfaat yang luas sumur resapan dinilai menjadi solusi praktis yang dapat diterapkan secara masif di berbagai wilayah.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Dari Kolong Imajinasi, Teater 9,9 Lahir di Desa Megawon Kudus

0
Teater 9,9 saat pentas membawakan karya mereka di Balai Desa Megawon. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS– Aula Balai Desa Megawon, Kecamatan Jati, Sabtu (14/2/2026) malam, tak lagi sekadar ruang rapat warga. Di tempat sederhana itu, sebuah komunitas teater desa resmi memperkenalkan diri lewat pementasan perdana mereka.

Namanya Teater 9,9 dibaca Sembilan koma Sembilan. Komunitas ini lahir dari inisiatif Karang Taruna Desa Megawon dan dirawat selama lima tahun sebelum akhirnya berani tampil di hadapan publik.

Yang membuat publik terkejut, kelompok yang baru naik panggung ini tidak memilih naskah ringan. Mereka membawakan RT Nol RW Nol, karya sastrawan Indonesia Iwan Simatupang.

Baca juga: Pagi Ijab Sah, Siang Dapat Ijazah, Momen Mahasiswi UIN Kudus Dobel Bahagia Dalam Sehari

Dalam sejarah teater modern Indonesia, Iwan dikenal lewat gaya absurdis yang kerap disejajarkan dengan semangat karya Samuel Beckett, penulis Waiting for Godot.

RT Nol RW Nol mengisahkan sekelompok gelandangan yang hidup di kolong jembatan dan membentuk struktur pemerintahan sendiri, lengkap dengan ketua, sekretaris, hingga bendahara, meski secara administratif mereka tak pernah diakui. Nol. Kosong. Tak tercatat. Namun, dari ruang “nol” itulah mereka memperjuangkan harga diri.

Bagi kelompok teater desa yang baru pertama kali tampil, pilihan naskah ini terbilang berani. Selama enam bulan, para pemain membaca, membedah, berlatih, dan mendiskusikan dialog-dialog panjang yang sarat metafora dan tafsir filosofis.

Di atas panggung, Lis Sofiana Putri memerankan Ani, Firda Nadila sebagai Ina, Cindy Artha Marcela sebagai Ati, Muhammad Daffa Yudistira sebagai Bopeng, Roy Indriansyah Putra sebagai Kakek, dan Muhammad Ryan Adi Saputro sebagai Pincang.

Sebagian dari mereka adalah pekerja. Siang hari mencari nafkah, malam hari berlatih memahami kalimat-kalimat yang tak selalu mudah dicerna. Teater bagi mereka bukan sekadar hobi, melainkan proses belajar tentang kehidupan.

Pementasan perdana itu menjadi penanda bahwa Desa Megawon kini memiliki ruang ekspresi baru.

Di Kudus, jumlah kelompok teater tidak sebanyak dulu. Regenerasi berjalan perlahan. Di era gawai dan media sosial, panggung sering kalah cepat dari layar. Karena itu, lahirnya Teater 9,9 menjadi kabar baik bagi ekosistem kesenian lokal.

Dukungan pemerintah desa turut menjadi faktor penting. Kepala Desa Megawon, Nurasag, memberi ruang bagi anak-anak muda untuk berproses dan menggunakan balai desa sebagai panggung. Usai pentas, digelar sarasehan sederhana.

Zaki Zamani dari Keluarga Segitiga Teater mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan pada pementasan pertama, melainkan menjaga konsistensi setelahnya.

“Melahirkan komunitas teater di kampung bukan perkara mudah. Yang lebih berat adalah merawatnya agar tidak padam,” ujarnya.

Baca juga: Bangkit dari PHK, Ferry Kini Sukses Buka Seafood Kerang Kaki Lima

Aktris senior Pipiek Isfianti yang telah lebih dari tiga dekade berkecimpung di dunia teater juga berbagi pengalaman tentang pentingnya proses, kedewasaan, dan menjaga keseimbangan antara kesenian dan kehidupan pribadi.

Pementasan malam itu mungkin sederhana, dengan lampu panggung seadanya dan tikar balai desa sebagai alas duduk penonton. Namun dari ruang sederhana itulah mimpi dirawat.

Teater 9,9 membuktikan bahwa kesenian tidak harus lahir di kota besar. Ia bisa tumbuh di desa, dari keberanian untuk memulai dan komitmen untuk bertahan. Langkah pertama telah diambil. Kini, harapannya sederhana: semoga perjalanan Teater 9,9 tidak berhenti di angka nol.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Sambut Ramadan, Warga Ketitangwetan Gelar Tradisi Makan Bareng di Tambak

0
Sejumlah warga terlihat makan bareng di sebuah pondok yang ada di tambak Ketitangwetan. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID,PATI – Matahari siang itu tepat berada di atas kepala, namun keriuhan di pesisir Desa Ketitangwetan tak surut sedikit pun. Di sela-sela hamparan tambak Kecamatan Batangan, warga berkumpul dengan antusias.Mereka sedang bersiap menyambut datangnya bulan suci Ramadan dengan sebuah tradisi.

Mereka tampak berkumpul di pondok-pondok sambil menikmati jajanan yang dibawa dari rumah masing-masing. Sebagian lain terlihat turun ke tambak untuk menangkap ikan bandeng dengan jaring.

Sedangkan para ibu-ibu terlihat sedang menyiapkan masakan, mulai dari membersihkan bandeng, menyiapkan bumbu-bumbu hingga memasak kuliner khas pesisir seperti kelo mrico hingga bandeng bakar.

Setelah semua masakan selesai, belasan warga kemudian bergiliran mengambil makan. Mereka tampak begitu menikmati hidangan sederhana itu. Tak lupa, dalam acara makan-makan itu juga terselip doa agar selama Ramadan mereka diberikan kelancaran dalam beribadah dan bekerja.

Kepala Desa Ketitangwetan, Ali Muntoha, menjelaskan, tradisi makan bersama di tambak menjelang Ramadan ini telah dilakukan secara turun-temurun sejak para pendiri desa. Tradisi tersebut menjadi wujud rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT kepada masyarakat pesisir.

Baca juga : Resepsi HPN 2026 di Kudus, Insan Pers Didorong Perkuat Verifikasi di Tengah Gempuran AI

“Menu yang disajikan wajib ikan bandeng segar yang dipanen langsung dari tambak milik warga. Ikan kemudian dimasak menjadi bandeng kuah khas pesisir dan sebagian lainnya dibakar, untuk disantap bersama di pondok-pondok tambak,” katanya, Rabu (17/2/2026).

Meski sederhana, lanjut dia, suasana kebersamaan, gotong royong, dan silaturahmi yang terjalin membuat hidangan terasa semakin nikmat.

Salah satu warga, Kholis mengaku setiap tahun selalu mengikuti tradisi ini. Menurutnya, tradisi ini jadi momentum mempererat persaudaraan sebelum menjalankan ibadah puasa.

“Setiap menjelang Ramadan selalu mengikuti tradisi ini. Selain sebagai bentuk syukur juga menjaga kerukunan warga,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

523 Jiwa di Brebes Terdampak Tanah Gerak, Gubernur Luthfi Pastikan Percepatan Penanganan

0
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meninjau langsung lokasi pengungsian di Brebes, Rabu (18/2/2026). Foto: Ist

BETANEWS.ID,BREBES – Sebanyak 175 kepala keluarga atau 532 jiwa terdampak pada bencana tanah gerak di Dukuh Bojongsari, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes. Tak pelak, sebagian warga yang terdampak tersebut harus tinggal di pengungsian, sebab pergerakan tanah dilaporkan belum sepenuhnya berhenti.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meninjau langsung lokasi pengungsian sekaligus memimpin Rapat Penanganan dan Penyerahan Bantuan di Pondok Pesantren Bahrul Qur’an Al Munawir, Sirampog, Brebes, Rabu (18/2/2026).

Luthfi memastikan percepatan penanganan, termasuk pembangunan hunian sementara (huntara) di lokasi yang telah direkomendasikan aman secara teknis.

“Untuk tanah gerak ini yang bisa dilakukan adalah memindah orang dan barang,” kata dia.

Baca juga: Jalur Grobogan—Semarang Putus, Gubernur Luthfi Instruksikan Percepat Pemasangan Jembatan Armco

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Brebes, sedikitnya 143 rumah terdampak, dengan rincian 10 rumah rusak berat, dan 124 rumah lainnya dalam kondisi terancam. Selain itu, juga ada dua tempat ibadah dan dua fasilitas pendidikan turut terdampak. Akses utama jalan desa sepanjang kurang lebih 700 meter juga ambles.

Kondisi terkini menunjukkan pergerakan tanah masih aktif akibat tingginya curah hujan di wilayah perbukitan Sirampog. Arah longsoran bergerak ke barat daya dengan potensi pergerakan susulan yang masih tinggi.

Dengan situasi seperti ini, Luthfi meminta kepada warga agar tidak kembali ke rumah masing-masing, karena kondisinya masih berbahaya.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah berkoordinasi dengan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Rencananya, huntara akan dibangun di lahan petak 34G milik KPH Perhutani Pekalongan Barat.

Sementara itu, pengungsian dipusatkan di Pondok Pesantren Bahrul Qur’an Al-Munawir, Dukuh Limbangan. Dapur umum telah didirikan menggunakan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT).

Pada kesempatan itu, Luthfi juga menyalurkan bantuan total Rp175,97 juta. Bantuan tersebut berasal dari BPBD Provinsi Jateng (Rp18,24 juta), Dinsos Jateng (Rp90,77 juta), Dishanpan (Rp18 juta), Dinas Kesehatan (Rp11,77 juta), Dinas Pendidikan (Rp27 juta), dan PMI (Rp 10,19 juta).

Sementara itu, Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma mengapresiasi respons cepat Pemprov Jateng pada penanganan bencana di wilayahnya.

“Terima kasih banyak atas bantuan dan penanganan yang cepat. Bahkan datang bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Masyarakat Brebes tidak perlu khawatir lagi, kita gotong royong, semua sudah disiapkan oleh dinas Provinsi Jawa Tengah,” katanya.

Salah seorang warga Dukuh Bojongsari, Desa Sridadi, Susi Susanti mengaku, harus mengungsi bersama tiga anaknya, termasuk yang bayi 10 bulan. Ia memilih mengungsi demi keselamatan anak-anaknya. Di pengungsian, ia berharap bantuan kebutuhan bayi seperti pampers, sabun, minyak telon, dan perlengkapan mandi tetap tersedia.

Baca juga: Gubernur Luthfi Upayakan Penanganan Jangka Pendek hingga Panjang Banjir Grobogan dan Demak

Warga lain, Tona, yang rumah kayunya berada di pinggir hutan dan dekat sungai, tak pernah tenang ketika hujan menderas. Sebab garis tepi kali atau sungai semakin dekat ke rumahnya.

“Sekarang lebih parah. Tanahnya cepat sekali bergerak. Kalau malam hujan deras, saya tidak bisa tenang,” katanya.

Ia berharap bisa direlokasi ke tempat yang benar-benar aman. “Kalau hunian tetap, saya mau sekali. Supaya bisa hidup tenang,” ujarnya.

Sebagai informasi, bencana tanah gerak di Sirampog Brebes tersebut terjadi pada Rabu (28/1/2026) sekitar pukul 18.00 WIB. Peristiwa ini dipicu cuaca ekstrem yang menyebabkan pergerakan tanah di lereng, dengan kemiringan sekitar 45 derajat mengarah ke aliran Kali Keruh di kawasan perbukitan tinggi Kecamatan Sirampog

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Debit Air di Bendung Klambu Sempat Sentuh Angka 1.000 M³/Detik, Begini Kondisinya Sekarang

0
Warga terlihat melintas di area Bendung Wilalung. Foto: Kaerul Umam.

BETANEWS.ID,KUDUS– Debit air di Bendung Klambu sempat menyentuh angka 1.000 meter kubik per detik, bahkan bertahan hingga 8 jam, pada Selasa (17/2/2026) malam. Meski demikian, debit air kiriman itu kini mulai menunjukan penurunan.

Hari ini, Rabu (18/2/2026) pukul 9.00 WIB tadi, debit air di Bendung Klambu di angka 893.2 meter kubik per detik. Sedangkan untuk elevasi walking tanggul Bendung Wilalung saat ini mencapai 217 sentimeter dan tinggi jagaan tanggul hanya tinggal 17 sentimeter.

Tingginya debit air tersebut, air bahkan mengalami limpasan di sebagian besar pintu di Bendung Wilalung. 

Baca juga: Gudang Berisi Tembakau di Kudus Terbakar, Kerugian Ditaksir Miliaran Rupiah

Operator dan Pemeliharaan (OP) Bendung Wilalung, Achmad Ulin Nuha menyampaikan, bahwa saat ini debit air mulai berangsur-angsur turun. Tingginya debit air disebabkan karena adanya kiriman air dari Sungai Serang hingga 800 meter kubik per detik.

“Ditambah air dari anak sungai juga tinggi, sehingga mengakibatkan debit air di Bendung Wilalung tinggi. Bahkan kemarin debit air mencapai hingga 1.000 meter kubik per detik, kemarin malam. Alhamdulillah sekarang ini mulai turun,” bebernya saat dikonfirmasi usai pengecekan elevasi, Rabu (18/2/2026).

Ia mengatakan, bukaan ke arah Sungai Juwana kembali diberlakukan atau dilakukan penambahan ketika debit air mencapai 1.000 meter kubik per detik. Sehingga total bukaan pintu 8 Bendung Wilalung saat ini mencapai 30 sentimeter. 

“Bukaan ditambah 10 sentimeter lagi Selasa (17/2/2026) pukul 20.25 WIB. Mengingat debit air saat ini mulai menurun, sekitar pukul 10.00 WIB, bukaan pintu kami turunkan 10 sentimeter,” sebutnya.

Meski mengalami penurunan, pihaknya mengimbau kepada masyarakat agar tetap waspada dan selalu berhati-hati. Mengingat kondisi debit air masih tinggi.

Baca juga: Material Penuh dan Bangunan Rapuh, Pemadaman Gudang Tembakau di Kudus Alami Hambatan

Terlebih, kata dia, kondisi di Bendung Wilalung terutama di pintu 11 dan 12 terdapat genangan air dengan ketinggian sekitar 30 sentimeter. Oleh karena itu ia mengimbau kepada warga yang sering melintasi jalan tersebut untuk selalu berhati-hati.

“Karena aliran air sangat deras, bahkan beberapa pesepeda motor ada yang jatuh karena derasnya air,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jelang Ramadan 2026, Pertamina Tambah 1,1 Juta Gas Melon di Jateng dan DIY

0
Petugas sedang melakukan pengisian ulang gas elpiji. Foto: Ist

BETANEWS.ID,KUDUS-Menjelang Ramadan 2026, PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah (JBT) menambah pasokan elpiji 3 kilogram sebanyak 1,1 juta tabung untuk wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tambahan ini setara dengan 3.544 metrik ton dan mulai disalurkan sejak 17 Februari 2026.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan stok elpiji 3 kilogram tetap aman menjelang dan selama bulan suci Ramadan, di tengah potensi kenaikan konsumsi rumah tangga.

Dari total tambahan tersebut, sebanyak 144 ribu tabung dialokasikan untuk wilayah DIY. Sementara lebih dari 1 juta tabung disalurkan ke berbagai daerah di Jawa Tengah.

Jumlah tambahan ini setara dengan peningkatan lebih dari 75 persen dibandingkan penyaluran normal harian.

Baca juga: Sepanjang 2025, Kinerja Pegadaian Kudus Lampaui Target

Area Manager Communication, Relations, & CSR Regional Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan, memastikan distribusi tambahan pasokan telah dipersiapkan hingga tingkat pangkalan resmi.

“Kami memastikan tambahan pasokan ini dapat menjaga kehandalan stok di lapangan, terutama di tingkat pangkalan, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan elpiji 3 kilogram selama Ramadan,” ujarnya melalui siaran tertulis, Selasa (17/2/2026).

Pertamina juga mengimbau masyarakat untuk membeli elpiji 3 kg di pangkalan resmi agar harga sesuai dengan ketentuan pemerintah. Harga Eceran Tertinggi (HET) elpiji 3 kilogram ditetapkan sebesar Rp18 ribu.

Selain itu, masyarakat mampu diminta menggunakan elpiji non subsidi agar penyaluran subsidi tetap tepat sasaran. Pertamina menyediakan produk Bright Gas non subsidi dalam dua ukuran, yakni 5,5 kilogram dan 12 kilogram.

Untuk memudahkan masyarakat menemukan pangkalan resmi terdekat, Pertamina menyediakan akses informasi melalui laman subsiditepatlpg.mypertamina.id.

Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas pasokan energi, khususnya pada momentum penting seperti Ramadan, guna mendukung kelancaran aktivitas masyarakat di Jawa Tengah dan DIY.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Material Penuh dan Bangunan Rapuh, Pemadaman Gudang Tembakau di Kudus Alami Hambatan

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Proses pemadaman kebakaran gudang tembakau milik PT Jaleca di Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, menghadapi sejumlah kendala. Selain material tembakau yang mudah terbakar, struktur bangunan yang mulai rusak membuat petugas tidak berani melakukan pemadaman dari dalam gedung.

Kepala Pemadam Kebakaran PT Djarum Kudus, Hadi Cahyana, mengatakan gudang yang terbakar berukuran kurang lebih 20 x 100 meter dan seluruhnya dipenuhi tembakau dengan tinggi tumpukan lebih dari empat meter.

“Luasannya sekitar 20 x 100 meter dan full material tembakau. Tingginya lebih dari empat meter. Jadi kami harus maksimal,” ujar Hadi di lokasi kejadian, Rabu (18/2/2026).

Ia menjelaskan, material tembakau kering yang sudah siap pakai tergolong mudah terbakar. Api tidak hanya membakar bagian atas, tetapi juga sudah membakar tembakau yang ada di bagian bawah, sehingga menyulitkan proses pemadaman.

“Kalau kita pukul dari atas, yang bawah belum tentu kena. Harusnya diurai, tapi itu butuh air sangat banyak supaya bisa menembus sampai bawah,” jelasnya.

Selain faktor material, kondisi bangunan menjadi kendala utama. Bagian selatan gudang dilaporkan mulai roboh, sementara sisi lainnya tampak melengkung dan berpotensi ambruk.

Baca juga: Gudang Berisi Tembakau di Kudus Terbakar, Kerugian Ditaksir Miliaran Rupiah

“Yang selatan sudah mulai roboh, yang samping temboknya sudah melengkung. Ini membahayakan. Maka kami tidak berani masuk” bebernya.

Hadi menambahkan, karena api sudah membakar hampir seluruh bagian gudang, petugas hanya bisa melakukan penyemprotan dari luar. Upaya pemadaman dilakukan semaksimal mungkin sambil mempertimbangkan keselamatan personel.

“Kendalanya jelas karena sudah menyeluruh terbakar. Sementara petugas pemadam tidak berani masuk, karena kondisi gudang rawan rubuh ,” katanya.

Dia mengungkapkan, sebanyak delapan armada pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi, melibatkan unsur dari PT Djarum, PT Nojorono, PT Pusaka Raya (Pura), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus, PT Sukun, serta dukungan kepolisian.

Dari total enam gudang yang berada di kawasan tersebut, sementara ini kebakaran terjadi di satu bangunan. Petugas kini berupaya menahan agar api tidak merembet ke gudang lainnya.

“Total ada enam gudang di sini. Kami berusaha menahan di gudang pertama saja agar api tak merembet,” ujarnya.

Terkait penyebab kebakaran, pihaknya belum dapat memastikan. Namun, dugaan sementara mengarah pada kemungkinan fermentasi tembakau yang tidak terurai dengan baik.

“Belum tahu penyebab pastinya. Tapi melihat kondisi seperti ini, bisa saja karena proses fermentasi tembakau,” ungkapnya.

Dengan kondisi api yang masih terus menyala dan bangunan yang rawan ambruk, proses pemadaman diperkirakan berlangsung hingga malam hari.“Bisa sampai malam, karena kami tidak berani masuk. Ini rawan rubuh,” imbuh Hadi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kerugian akibat kebakaran tersebut ditaksir mencapai miliaran rupiah. Hingga kini petugas masih terus berupaya melakukan pemadaman si jago merah di area gudang.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Gudang Berisi Tembakau di Kudus Terbakar, Kerugian Ditaksir Miliaran Rupiah

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebuah gudang milik PT Jaleca yang berada di Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, terbakar pada Selasa pagi, Rabu (18/2/2026). Api melalap bangunan seluas sekitar 100 x 20 meter tersebut beserta seluruh isinya berupa tembakau.

Pantauan di lokasi, kobaran api masih membara dan menghanguskan isi gudang. Sejumlah petugas pemadam kebakaran tampak berjibaku memadamkan api agar tidak merembet ke bangunan lain di sekitarnya.

Kapolsek Bae, Iptu Mardiono, mengatakan, pihaknya menerima laporan kebakaran sekitar pukul 05.30 WIB. Saat petugas tiba di lokasi, api sudah dalam kondisi membesar.

“Kami mendapat laporan sekitar pukul 05.30 WIB dan langsung menuju lokasi. Saat itu api sudah membesar,” ujar Iptu Mardiono di lokasi kejadian.

Ia mengungkapkan, saat peristiwa terjadi terdapat penjaga gudang yang sedang bertugas. Namun, kebakaran baru diketahui ketika api sudah membesar dan sulit dikendalikan.

Baca juga : Kesal Tiap Tahun Kebanjiran, Warga Karangrowo Kudus Patungan Tinggikan Jalan

“Ada penjaganya, tetapi mengetahui kebakaran saat api sudah membesar,” tandasnya.

Objek yang terbakar merupakan tembakau sebagai bahan baku rokok. Material tersebut diketahui mudah terbakar sehingga proses pemadaman cukup terkendala.

“Saat ini masih dalam proses pemadaman. Beberapa mobil pemadam kebakaran dari BPBD dan perusahaan swasta dikerahkan untuk menjinakkan api,” jelasnya.

Terkait penyebab kebakaran, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan. Tim Inafis Polres Kudus telah berada di lokasi dan akan melakukan olah tempat kejadian perkara setelah api benar-benar padam.

“Tim Inafis sudah di lokasi. Pendeteksian penyebab kebakaran akan dilakukan setelah api padam,” ungkapnya.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang dihimpun, kerugian akibat kebakaran tersebut ditaksir mencapai miliaran rupiah. Hingga kini petugas masih terus berupaya melakukan pendinginan di area gudang

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Resepsi HPN 2026 di Kudus, Insan Pers Didorong Perkuat Verifikasi di Tengah Gempuran AI

0

BETANEWS.ID,KUDUS-Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan derasnya arus informasi digital dinilai menjadi tantangan serius bagi dunia pers saat ini. Di tengah situasi tersebut, insan pers diminta semakin memperketat proses verifikasi dan validasi sebelum menyampaikan informasi kepada publik.

Pesan itu disampaikan Komandan Kodim (Dandim) 0722/Kudus, Letkol Arh Yuusufa Allan Andriasie, dalam resepsi dan sarasehan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Kudus, Senin (16/2/2026) malam.Kegiatan yang berlangsung di Rumah Dinas Wakil Bupati Kudus tersebut dipandu moderator Ali Bustomi dan menghadirkan dua pembicara, yakni Letkol Arh Yuusufa serta anggota DPRD Kudus, Kholid Mawardi.

Baca juga:Pemprov Jateng Kebut Perbaikan Jalan, Jelang Mudik Lebaran Dipastikan Mantap

Dalam paparannya, Dandim menegaskan, bahwa pers memiliki posisi strategis sebagai salah satu unsur pendukung ketahanan nasional. Ia menilai, media berperan besar dalam membentuk opini publik, menjaga stabilitas, hingga mencegah potensi konflik sosial.

Menurutnya, kerja jurnalistik dalam menghimpun data dan mengolah informasi memiliki kemiripan dengan fungsi intelijen. Pengalaman yang pernah ia peroleh saat belajar jurnalistik di Filipina turut memperkaya pandangannya terhadap peran media.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa teknologi AI juga berpotensi disalahgunakan untuk memproduksi informasi yang bias atau manipulatif.

“Kalau teknologi itu dipakai untuk memutarbalikkan fakta, tentu sangat berbahaya. Di sinilah pentingnya verifikasi dan validasi,” tegasnya.

Ia berharap, insan pers tetap berdiri di garis depan dalam menghadirkan informasi yang akurat sekaligus berkontribusi terhadap stabilitas bangsa.

“Saya mengajak jurnalis dan seluruh elemen yang hadir untuk menjadi pejuang bangsa, menyajikan fakta yang valid dan membangun,” ujarnya.

Sementara itu, pembicara lainnya, Kholid Mawardi, menyoroti dinamika media di era digital yang menurutnya semakin kompleks. Mantan aktivis pergerakan 1998 tersebut menyebut, perubahan lanskap informasi membuat media harus bekerja lebih keras menjaga eksistensi dan kredibilitasnya.

Ia menekankan bahwa kritik tetap menjadi bagian penting dalam sistem demokrasi. Namun, tantangan muncul ketika media arus utama harus bersaing dengan derasnya arus informasi di media sosial.

“Tanpa kritik, demokrasi tidak sehat. Tapi hari ini media juga menghadapi tekanan besar dari perkembangan media sosial,” katanya.

Kholid menambahkan, saat ini hampir setiap orang dapat menjadi penyebar informasi. Kondisi itu membuat peran pers profesional semakin krusial dalam menyaring dan memastikan kebenaran data.

“Ketika manipulasi informasi terjadi, insan pers punya tanggung jawab turun langsung melakukan pengecekan,” ujarnya.

Ia juga menyinggung dilema yang kerap dihadapi perusahaan media, yakni menjaga independensi redaksi sekaligus mempertahankan keberlangsungan usaha.

“Keseimbangan antara idealisme redaksi dan kebutuhan bisnis tidak mudah. Di situlah tantangan media sekarang,” imbuhnya.

Ketua PWI Kudus, Saiful Annas, menjelaskan bahwa resepsi dan sarasehan tersebut merupakan rangkaian puncak peringatan HPN 2026 di Kabupaten Kudus. Menurutnya, forum diskusi ini membuka ruang refleksi bagi insan pers dalam melihat jurnalisme dari berbagai perspektif.

Ia menyampaikan apresiasi kepada Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, Kapolres Kudus, jajaran pejabat daerah, aktivis mahasiswa, serta para tamu undangan yang turut hadir.

Anas berharap momentum HPN kali ini semakin memperkuat komitmen pers untuk menyajikan informasi yang akurat, mempererat kolaborasi dengan pemerintah, sekaligus menangkal penyebaran informasi manipulatif di tengah masyarakat.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Soal Pengurugan Jalan dengan Uang Pribadi, Kades Karangrowo: “Yang Diurug Warga Itu Jalan Kabupaten”

0

BETANEWS.ID,KUDUS– Kepala Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Heri Darwanto angkat suara terkait warganya yang swadaya meninggikan jalan dengan batu kapur. Ia membenarkan aktivitas tersebut sudah jadi kesepakatan warga.

Lebih lanjut Heri menuturkan, bahwa kegiatan pengurugan jalan tersebut sudah izin kepada pihak desa. Namun, jalan tersebut merupakan jalan Kabupaten.

“Jalan yang diurug warga itu jalan kabupaten. Makanya desa tidak berani mengurug. Karena ini inisiatif warga, ya bagaimana lagi,” ujar Heri melalui sambungan telepon, Selasa (17/2/2026).

Dia menuturkan, jalan yang ditinggikan warga dengan cara diurug tersebut memang selalu terendam banjir tiap tahun. Untuk keadaan jalan sebenarnya masih cukup baik.

“Jalan sebelum diurug masih cukup baik, tetapi memang sering kebanjiran. Makanya warga kemudian gotong royong untuk mengurugnya,” beber Heri.

Baca juga: Lagi, Tanggul Sungai Wulan di Undaan Lor Alami Sleding Sepanjang 20 Meter

Menurutnya, swadaya warga hanya sampai tahap peninggian dengan mengurug menggunakan batu kapur. Untuk betonisasi atau pengaspalan jalan akan diajukan ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus.

“Total warga Desa Karangrowo yang ikut swadaya peninggian jalan itu seluruh RW 2. Totalnya kurang lebih ada 400 Kepala Keluarga (KK),” bebernya.

Sementara itu saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kudus, Harry Wibowo belum merespon. Telepon dan pesan watshap wartawan Betanews.id belum dibalas.

Diberitakan sebelumnya, masyarakat Dukuh Krajan, Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kabupateb Kudus merogoh kocek pribadi untuk meninggikan jalan. Hal tersebut dilakukan karena sudah geregetan, hampir tiap tahun akses utama mereka selalu kebanjiran.

Tokoh masyarakat setempat, Hawi Sukamto menyampaikan, swadaya pengurugan jalan memang sudah jadi kesepakatan warga 10 RT di RW 2 Desa Karangrowo. Sebab selama lima tahun terakhir jalan tersebut selalu kebanjiran ketika musim hujan datang.

“Bahkan kemarin, jalan kami terendam banjir hingga 1,3 meter. Oleh karenanya atas kesepakatan, kami inisiatif iuran untuk meninggikan jalan dengan diurug menggunakan batu kapur,” ujar Hawi kepada awak media, Selasa (17/2/2026).

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Tak Hanya Cabai Setan, Harga Telur di Kudus Juga Naik Signifikan

0
Harga telur di Pasar Bitingan Kudus kini naik menjadi Rp 32 ribu per kilogram. Foto: Kaerul Umam.

BETANEWS.ID,KUDUS– Harga kebutuhan pokok di Kabupaten Kudus menjelang Ramadan tahun ini mengalami kenaikan. Tak hanya cabai setan yang tembus di harga Rp100 ribu per kilogram, harga telur di Pasar Bitingan juga naik signifikan sampai tembus di angka Rp32 ribu per kilogramnya.

Harga tersebut mengalami kenaikan secara drastis beberapa hari terkahir, mengingat harga normal telur biasanya hanya berkisar antara Rp27-28 ribu per kilogramnya.

Pedagang telur di Pasar Bitingan, Erma Siti Khoiriyah mengatakan, kenaikan harga telur sudah terjadi sejak satu pekan terakhir. Menurutnya, kenaikan harga telur disebabkan karena momen menjelang puasa. Kenaikan harga menjelang Ramadan itu disebutnya menjadi siklus tahunan.

Baca juga: UMKM Kudus Didorong Manfaatkan KUR, Hindari Jeratan Pinjol

“Untuk hari ini naik ya mas, harga eceran Rp32 ribu, sedangkan grosir Rp31 ribu. Semenjak ada tradisi Dandangan ini loh, harga telur mulai naik,” terangnya, Selasa (17/2/2026).

Kenaikan harga tersebut, kata dia, terjadi secara berangsur-angsur. Mulai dari harga normalnya Rp27 ribu per kilogram, sekarang menjadi Rp32 ribu. Ia menyebut, meski ada kenaikan harga, penjualan di lapaknya justru semakin ramai.

“Daya beli masyarakat Alhamdulillah ramai. Permintaan ada banyak ini, karena selain mendistribusikan ke pedagang di pasar Bitingan, ini ada permintaan untuk penjual Dandangan,” sebutnya.

Ia menuturkan, meningkatnya permintaan telur jelang Ramadan ini, berdampak penjualan sehari mencapai 1,5 kuwintal hingga 2 kuwintal. Tingginya harga tersebut, diperkirakan bertahan hingga satu pekan puasa berlangsung.

Baca juga: Ini Rencana Strategis Disbudpar Kudus untuk Dongkrak Pesona Colo dan Museum Kretek

“Kalau biasanya setelah satu pekan puasa itu harga akan kembali ke harga normal. Naik lagi nanti kalau mau mendekati lebaran,” jelasnya.

Salah satu pembeli, Joko mengaku, bahwa harga telur saat ini mengalami kenaikan harga secara drastis. Hal itu membuat dia terdampak pada kenaikan harga, karena telur yang dibeli biasanya dibuat menu pendamping soto yang diperjualbelikan setiap harinya.

“Kenaikan ini sangat luar biasa tinggi. Semoga saja harga tinggi ini tidak bertahan lama dan bisa kembali normal,” imbuhnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Gubernur Luthfi Upayakan Penanganan Jangka Pendek hingga Panjang Banjir Grobogan dan Demak

0

BETANEWS.ID,GROBOGAN — Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menyampaikan berbagai upaya yang perlu dilakukan untuk menangani banjir yang terjadi di Kabupaten Demak dan Grobogan akibat tanggul Sungai Tuntang yang jebol.

Hal itu disampaikan saat memimpin rapat koordinasi penanganan darurat banjir di Kantor Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Selasa (17/2/2026).

Dalam rapat tersebut, selain fokus pada penanganan tanggul jebol dan menghubungkan kembali jalan utama Grobogan—Kota Semarang yang putus, Luthfi memberikan beberapa instruksi penanganan jangka pendek atau yang harus segera dilakukan. Terutama yang bersentuhan dengan warga terdampak. Mulai distribusi bantuan permakanan dan logistik, bantuan alat tulis dan perlengkapan sekolah, hingga pendataan untuk asuransi gagal panen yang mungkin dialami oleh warga. Termasuk bantuan kesehatan dengan menerjunkan tenaga kesehatan dan mobil Speling.

Baca juga: Jalur Grobogan—Semarang Putus, Gubernur Luthfi Instruksikan Percepat Pemasangan Jembatan Armco

“Dinas pendidikan mengintervensi 26 SMA yang terendam, termasuk SD dan SMP juga sudah dilakukan intervensi. Inventarisir dampak yang diderita warga termasuk memberikan trauma healing,” ujarnya.

Adapun penanganan jangka panjangnya, Luthfi meminta agar dilakukan normalisasi sungai Tuntang. Saat di lokasi, Ahmad Luthfi sempat menelepon Menteri Pekerjaan Umum yang menaungi Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Dalam panggilan telepon tersebut Menteri memberikan jawaban bahwa sudah ada anggaran untuk normalisasi sungai Tuntang pada tahun 2026, tinggal menunggu realisasi.

“Semoga dengan normalisasi sungai tidak terjadi banjir  lagi,” jelasnya.

Sementara itu, sembari menunggu pemasangan jembatan armco, Luthfi menginstruksikan kepada Polres setempat untuk segera menyediakan jalur alternatif. Jalur-jalur alternatif tersebut harus disebarluaskan secara masif, mengingat jalan yang terputus merupakan jalan utama untuk pergerakan masyarakat dan logistik.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi juga menginstruksikan kepada seluruh dinas dan stakeholder terkait untuk fokus membantu warga terdampak. Seluruh warga terdampak dipastikan didata dan dibantu secara komprehensif.

Baca juga: Bendung Wilalung Berstatus Awas, Pintu Arah Sungai Juwana Dibuka 20 Cm

Penanganan ini, lanjut dia, harus ada sinergitas antara Pemprov Jateng, Pemkab Grobogan, Pemkab Demak, maupun kementerian terkait. 

“Bencana ini adalah milik bersama. Bukan untuk saling menyalahkan melainkan saling mengisi mana peran kementerian, mana provinsi, mana kabupaten untuk mengatasi permasalahan terkait banjir ini,” katanya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Jelang Ramadan, Harga Cabai Setan di Kudus Tembus Rp100 Ribu Per Kilogram

0
Salah satu pedagang cabai di Pasar Bitingan Kudus. Foto: Kaerul Umam.

BETANEWS.ID,KUDUS– Menjelang bulan suci Ramadan, harga bahan pokok di Kabupaten Kudus mulai berangsur naik. Seperti yang ada di Pasar Tradisional Bitingan, sejumlah bahan pokok mengalami kenaikan Harga.

Kenaikan harga secara signifikan terjadi pada cabai rawit merah atau cabai setan yang kini tembus di angka Rp100 ribu per kilogramnya. Harga cabai lainnya dan kebutuhan pokok lainnya mengalami kenaikan, namun tak seugal-ugalan harga cabai setan.

Salah satu pedagang Pasar Bitingan, Wiji Lestari mengungkapkan, bahwa harga cabai setan saat ini melonjak tajam. Hal itu dipengaruhi karena sebentar lagi bulan puasa, keduanya karena stok barang yang tersedia tidak melimpah seperti biasanya.

Baca juga: Bendung Wilalung Berstatus Awas, Pintu Arah Sungai Juwana Dibuka 20 Cm

“Cabai setan yang naiknya signifikan. Dari kemarin harganya Rp85 ribu per kilogram, sekarang harganya menjadi Rp100 ribu. Kalau harga cabai lainnya maupun kebutuhan lainnya ada kenaikan tapi tidak seperti cabai setan,” bebernya saat ditemui di lapaknya yang berada di Lantai 2 Pasar Bitingan, Selasa (17/2/2026).

Meski harga cabai setan mengalami kenaikan harga, daya beli masyarakat disebut tak terpengaruh dan masih seperti biasanya. Hanya saja, para pembeli menurunkan porsi belanjaannya agar seluruh kebutuhannya bisa terbeli semua.

“Mereka lebih mengurangi porsi belian, dari yang biasanya membeli kiloan, sekarang belinya setengah kilo atau bahkan seperempatnya. Tapi Alhamdulillah masih seperti biasa,” ujarnya.

Ia mengaku, kenaikan harga mulai terjadi sejak dua hari lalu. Bahkan pihaknya memprediksi harga akan bertahan hingga lebaran di tahun ini.

Baca juga: Sepanjang 2025, Kinerja Pegadaian Kudus Lampaui Target

Hal senada juga dikatakan oleh pedagang Pasar Bitingan lainnya, yakni Bu Sol Sayur. Menurutnya harga cabai setan di lapaknya dijual dengan harga Rp92 ribu per kilogramnya. Harga tersebut mengalami kenaikan dari hari sebelumnya di angka Rp80 ribu.

“Iya kalau harga cabai setan memang mengalami kenaikan secara drastis. Namun untuk harga kebutuhan lainnya masih stabil, ada kenaikan tapi tidak tinggi,” terangnya.

Ia merinci, untuk harga bahan pokok per kiogramnya yang dijual di lapaknya pada Selasa (17/2/2026), mulai cabai rawit putih Rp30 ribu, cabai rawit hijau Rp70 ribu, cabai keriting merah Rp40 ribu, cabai keriting hijau Rp20 ribu. Kemudian lompong merah Rp50 ribu, lompong hijau Rp25 ribu, sayur kol Rp20 ribu, brokoli Rp24 ribu, sawi putih Rp8 ribu, sawi hijau Rp8 ribu, terong Rp8 ribu, terong hijau Rp10 ribu.

Editor: Kholistiono

- advertisement -