Beranda blog Halaman 58

Ajak Damai, Pimpinan Ponpes di Jepara yang Diduga Cabuli Santrinya Pernah Tawari Uang hingga Tanah ke Korban

0
Foto Ilustrasi

BETANEWS.ID,JEPARA– Oknum pimpinan salah satu Pondok Pesantren (Ponpes) di Kabupaten Jepara diduga telah melakukan tindakan asusila terhadap santrinya sendiri.

Peristiwa itu terungkap pada 24 Juli 2025 lalu. Terduga pelaku diduga melakukan tindakan pencabulan sejak 27 April 2025 sebanyak kurang lebih 25 kali.

Kuasa Hukum Korban, Erlinawati mengatakan, setelah peristiwa bejat itu terbongkar, terduga pelaku dan keluarga korban sempat bertemu untuk menyeleseikan masalah secara internal.

Baca juga: Miris! Santri di Jepara Diduga Jadi Korban Pencabulan Pimpinan Ponpes

Saat itu, Erlina melanjutkan, terduga pelaku sudah mengakui perbuatannya dan meminta maaf kepada keluarga korban dengan menawari uang sebesar Rp5 juta agar kasus tersebut diselesaikan secara damai.

Namun, dari pihak keluarga korban tidak mau menerima. Mengetahui respon itu, terduga pelaku kemudian kembali mengajak damai dengan menambah pemberian berupa dua petak sawah di Kecamatan Batealit.

“Saat ditawari (uang dan tanah), pihak keluarga menolak. Pelaku sebenarnya sudah mengakui dan meminta maaf, tapi yang diinginkan pihak keluarga kan bukan itu (uang dan tanah), tapi pelaku dipenjara,” ungkap Erlina, Senin (17/2/2026).

Erlina mengatakan, kasus itu saat ini sudah dilaporkan ke pihak Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Jepara pada tanggal 22 November 2025 lalu.

Kemudian pada tanggal 9 Desember 2025, korban sudah dimintai keterangan oleh pihak penyidik. Termasuk dua orang saksi yang merupakan teman pondok korban juga sudah dipanngil untuk dimintai keterangan pada tanggal 22 Desember 2025.

“Kiai-nya katanya juga sudah dipanggil dua kali. Satu kali mangkir, satu kali datang tapi tidak mau mengakui,” kata Erlina.

Sampai saat ini ia masih menunggu langkah selanjutanya dari pihak kepolisan sebab belum ada informasi lebih lanjut.

Dalam laporannya, Erlina mengatakan, ia sudah memberikan barang bukti berupa tangkapan layar pesan WhastApp dari terduga pelaku kepada korban yang berisi pesan bernada seksual, serta foto terduga pelaku yang dipotret sendiri oleh pelaku usai melakukan tindakan seksual kepada korban.

Baca juga: Kronologi Santri di Jepara yang Diduga Jadi Korban Pencabulan Pimpinan Ponpes 

“Setiap melakukan (adegan seksual) pelaku ini selfie kemudian dikirim ke HP korban. Ada juga foto alat kelamin pelaku yang di-pap ke korban,” ungkapnya.

Selain dua bukti itu, saat ini ia juga masih menunggu bukti selanjutnya berupa hasil visum yang seharusnya keluar pada tanggal 22 Januari 2026 kemarin dari salah satu rumah sakit di Kabupaten Jepara.

Hasil visum itu merupakan visum kedua, sebab di rumah sakit pertama hasil visum menyatakan tidak ada bukti pelecehan seksual sehingga disarankan untuk visum di rumah sakit lain.

“Sebelum membuat laporan ke Polisi, saya juga sudah melayangkan surat somasi tiga kali. Yang pertama direspon, tetapi jawaban pelaku malah dialihkan ke hal yang lain. Yang kedua saya didatangi pihak yang katanya kuasa hukum pelaku dan terakhir ada orang yang ngakunya dari Polda datang, mintanya sama ngajak damai,” ungkapnya.

Editor:Kholistiono

- advertisement -

Kesal Tiap Tahun Kebanjiran, Warga Karangrowo Kudus Patungan Tinggikan Jalan

0
Warga melakukan pengurugan untuk peninggian jalan dengan biaya sendiri. Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID,KUDUS-Masyarakat Dukuh Krajan, Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus merogoh kocek pribadi untuk meninggikan jalan. Hal tersebut dilakukan karena sudah kesal, hampir tiap tahun akses utama mereka selalu kebanjiran.

Tokoh masyarakat setempat, Hawi Sukamto menyampaikan, swadaya pengurugan jalan memang sudah jadi kesepakatan warga 10 RT di RW 2 Desa Karangrowo. Sebab selama lima tahun terakhir jalan tersebut selalu kebanjiran ketika musim hujan datang.

“Bahkan kemarin, jalan kami terendam banjir hingga 1,3 meter. Oleh karenanya atas kesepakatan, kami inisiatif iuran untuk meninggikan jalan dengan diurug menggunakan batu kapur,” ujar Hawi kepada awak media, Selasa (17/2/2026).

Baca juga: Sempat Diperbaiki Warga dengan Uang Pribadi, Jalan Berlubang Pati-Kayen Akhirnya Diaspal

Hawi mengungkapkan, ketika banjir akses utama selalu ikut terendam sangat tinggi. Hal itu mengakibatkan warga terisolasi

“Dengan adanya pengurugan ini, nantinya jika ada banjir jalannya masih aman. Warga masih tetap bisa berangkat kerja dan aktifitas lainnya, meski rumahnya kebanjiran,” bebernya.

Dia menuturkan, swadaya masyarakat ini bersifat sukarela. Ada yang iuran Rp 50 ribu, ada juga yang senilai batu kapur sebanyak 10 dump truk.

“Satu dump truk batu kapur kita beli dengan harga Rp 500 ribu. Kita juga sewa alat berat ekskavator kecil untuk proses pengurugan dan perataan,” bebernya.

Hal senada juga disampaikan warga lainnya yakni Siswoyo. Menurutnya, peninggian jalan atas kesepakatan warga. Namun, sudah sepengetahuan pemerintah desa.

Baca juga: Pemprov Jateng Kebut Perbaikan Jalan, Jelang Mudik Lebaran Dipastikan Mantap

“Rencana jalan yang kita urug untuk ditinggikan kurang lebih sepanjang 200 meter. Sementara untuk lebarnya sekitar enam meter,” ujar Siswoyo.

Ketinggian urugan bervariasi antara 50 sentimeter hingga 80 sentimeter. Ia memperkirakan pengurugan jalan tersebut menghabiskan 150 batu kapur dump truk.

“Dari warga mampunya swadaya untuk peninggian jalan. Terkait pengaspalan jalan, kita berharap ada bantuan dari pemerintah,” harapnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

168 Pelita Harapan Terangi Perayaan Malam Tahun Baru Imlek Etnis Thionghoa di Jepara

0
Etnis Thionghoa di Kabupaten Jepara merayakan malam pergantian tahun baru Imlek 2577 Kongzili dengan menggelar sembahyang bersama yang dilanjut dengan penyalaan 168 pelita harapan. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID,JEPARA– Etnis Thionghoa di Kabupaten Jepara merayakan malam pergantian tahun baru Imlek 2577 Kongzili atau 2026 Masehi dengan menggelar sembahyang bersama yang dilanjut dengan penyalaan 168 pelita harapan pada Senin, (16/2/2026) malam hingga dini hari.

Sembahyang dimulai pada pukul 23.00 WIB di Klenteng Hok Tek Bio Welahan. Puluhan umat Thionghoa yang datang mengikuti prosesi sembahyang dengan khidmat.

Sembahyang kemudian dilanjut di Klenteng Hian Thian Siang Tee Welahan. Di Klenteng yang dikenal sebagai dewa obat, setelah menyembah tuhan dan dewa, ritual sembahyang dilanjut dengan pembacaan arwah dan penyalaan pelita harapan.

Seluruh rangkaian prosesi sembahyang selesai dilakukan sekitar pukul 00.30 WIB.

Baca juga: Potret Inklusivitas Perayaan Imlek di Pasar Semawis Semarang

Pemimpin Ibadah Sembahyang di Klenteng Hok Tek Bio dan Klenteng Hian Thian Siang Tee Welahan, Budianto menjelaskan ritual ibadah dimulai pukul 23.00 WIB, karena menyesuaikan dengan malam pergantian tahun baru di Tiongkok, yang lebih cepat 1 jam dari Indonesia.

“Untuk perayaannya sebenarnya sudah dimulai sejak jam 10 pagi, (Senin,16/2/2026) kita ibadah bersama sekitar satu jam, kemudian dilanjut ritual sembahyang bersama lagi pada malam pergantian tahun baru imlek,” kata Budianto saat ditemui usai pelaksaan sembahyang pada Selasa, (17/2/2026) dini hari.

Kemudian terkait penyalaan 168 pelita harapan, jumlah itu menurutnya sudah menjadi lambang khusus. Dimana dalam kepercayaan Umat Thionghoa, angka 168 dipercaya memiliki makna sebagai berkah yang tidak akan terputus.

“Atau juga bisa juga diartikan 68 itu artinya bisa jadi orang yang sukses,” jelasnya.

Baca juga: Siswa SMA di Jepara Ciptakan Alat Pendeteksi Kebakaran pada Kompor Gas Berbasis IoT 

Sehingga dengan menyalakan 168 pelita harapan, diharapkan mereka yang menyalakan lilin atau pelita bisa mendapat keberkahan, kehidupannya selalu disinari, dijauhkan dari segala marabahaya, diberikan kesehatan, panjang umur, serta rejeki yang berlimpah.

168 pelita harapan itu akan dinyalakan selama 15 hari atau hingga pelaksanaan Sembahyang Cap Go Meh yang jatuh pada tanggal 15 di bulan pertama perayaan Tahun Baru Imlek atau hingga Selasa, (3/3/2026).

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Jalur Grobogan—Semarang Putus, Gubernur Luthfi Instruksikan Percepat Pemasangan Jembatan Armco

0
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi saat meninjau lokasi tanggul Sungai Tuntang yang jebol di Desa Tinanding, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Selasa (17/2/2026). Foto: Ist

BETANEWS.ID,GROBOGAN — Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menginstruksikan kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Jateng agar mempercepat pemasangan jembatan armco di jalur utama Grobogan—Kota Semarang.

Pemasangan jembatan itu tepatnya jalan yang berdekatan dengan di titik jebolnya tanggul sungai Tuntang yang mengakibatkan jalan utama itu putus total.

Hal itu disampaikan oleh Luthfi saat meninjau lokasi tanggul Sungai Tuntang yang jebol di Desa Tinanding, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Selasa (17/2/2026).

Ia menyatakan, jalan tersebut sangat krusial bagi masyarakat, karena sebagai jalur utama penghubung logistik dan jalur mudik lebaran. Karenanya, ia ingin segera jalan tersebut bisa digunakan secara operasional.

“Yang penting jalan ini bisa dipakai dulu karena ini jalur utama mudik,” ucap Luthfi.

Baca juga: Potret Inklusivitas Perayaan Imlek di Pasar Semawis Semarang

Ia menjelaskan, ada beberapa langkah penanganan terkait kejadian tanggul jebol tersebut. Yaitu penanganan jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendeknya adalah penutupan tanggul jebol yang akan dilakukan oleh Dinas PUPR Provinsi berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), selain itu pembangunan jembatan untuk menghubungkan jalur utama.

Penutupan sementara tanggul sungai tersebut dilakukan selama tiga hari ke depan. Sementara penguatan tanggul dilakukan hingga satu pekan berikutnya.

Dalam kesempatan itu, Luthfi juga akan meminta kepada Kementerian PUPR untuk melakukan normalisasi sungai Tuntang sebagaimana dilakukan terhadap sungai Wulan. Saat di lokasi, ia bahkan menelepon langsung Menteri PUPR untuk meminta segera ada normalisasi untuk Sungai Tuntang.

“Sedimennya yang sangat tinggi, saya akan mengusulkan ke kementrian, karena itu kewenangan BBWS, minimal dinormalisasi,” tegasnya.

Luthfi menjelaskan, ada dua kabupaten yang terdampak dari jebolnya tanggul sungai Tuntang tersebut, yaitu Kabupaten Demak dan Kabupaten Grobogan. Sungai Tuntang yang melintas di wilayah tersebut sudah beberapa kali jebol.

Kepala Dinas PUPR Provinsi Jawa Tengah Henggar Budi Anggoro, menyampaikan jembatan armco milik Provinsi Jawa Tengah sudah digeser dari Pati ke Tinanding, Godong. Dijadwalkan akan tiba di lokasi pada Selasa malam, 17 Februari 2026.

Baca juga: Pemprov Jateng Luncurkan ‘Ngopeni Omah Nglakoni Sesarengan’, Strategi Ampuh Tuntaskan Masalah Hunian

“Targetnya, satu minggu kami yakin bisa menyelesaikan jembatan armco,” katanya.

Sebagai informasi, tanggul sungai Tuntang jebol pada Senin, 16 Februari 2026, sore. Titik jebol di Desa Tinanding mengakibatkan jalan utama Grobogan-Semarang terputus total. Kejadian tersebut disebabkan oleh curah hujan tinggi dan kiriman air dari hulu sungai Glugu, dan Sungai Tuntang.

Dampaknya 42 desa yang tersebar di 10 kecamatan wilayah Kabupaten Grobogan terendam banjir. Setidaknya ada 9.000 KK terdampak dan ratusan hektare sawah terendam.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Lagi, Tanggul Sungai Wulan di Undaan Lor Alami Sleding Sepanjang 20 Meter

0
Tanggul Sungai Wulan yang berada di titik Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kudus kembali longsor. Foto: Kaerul Umam.

BETANEWS.ID,KUDUS-Tanggul Sungai Wulan yang berada di titik Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan,Kudus, kembali mengalami sleding atau longsor. Kali ini titik tanggul sleding berada di gang 2, berbeda dengan longsoran sebelumnya yang berada di titik Undaan Lor Gang 1.

Tanggul sleding baru diketahui warga dan dilaporkan ke pihak terkait pada 29 Januari 2026. Namun, penanganan darurat baru dilakukan Senin (16/2/2026) malam, mengingat debit air di Sungai Wulan saat ini mulai naik, akibat kiriman air dari dulu.

Camat Undaan Arief Budiyanto menyampaikan, kejadian tanggul sleding di daerahnya bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, di titik lain yakni di Gang 1 Undaan Lor, tanggul juga mengalami longsor dan sudah dilakukan penanganan.

Baca juga: Bendung Wilalung Berstatus Awas, Pintu Arah Sungai Juwana Dibuka 20 Cm

“Tanggul saat ini sudah mulai tertangani secara darurat. Kemungkinan nanti sore pihak BBWS Pemali Juwana akan mengirimkan satu alat berat berupa Long ARM, untuk menuntaskan penanganan tanggul agar lebih kuat,” katanya saat ditemui di lokasi, Selasa (17/2/2026).

Ia menjelaskan, sledingan tanggul dengan panjang sekitar 20 meter dan kedalaman longsor sekitar 1 meter. Menurutnya, penanganan tersebut baru dilakukan, karena air kiriman dari hulu sampai di Sungai Wulan diperkirakan akan mencapai 1.000 meter kubik per detik lebih.

“Saat ini dengan debit air Bendung Klambu mencapai 950 meter kubik per detik per pukul 9.00 WIB, kami laporkan bahwa tanggul masih aman terkendali. Maka dari itu kami lakukan pantauan secara periodik dan melaporkan ke pihak terkait agar tanggul segera tertangani,” sebutnya.

Ia menyebut, bahwa faktor terjadi tanggul sleding di sepanjang tanggul disebabkan karena banyaknya pohon pisang yang tumbuh, baik secara liar maupun ditanami warga. Oleh karena itu pihaknya akan melakukan perampasan dan mengimbau masing-masing desa untuk membuat perda tentang menanam pohon pisang di sepanjang tanggul.

“Karena dengan adanya pohon pisang itu membuat tanggul menjadi rawan akan longsor. Pohon pisang yang busuk membuat tanah menjadi gembur, sehingga mengakibatkan tanggul rawan longsor,” jelasnya.

Baca juga: Baru Awal 2026, Investasi Emas Warga Kudus Tembus 4,8 kilogram

Ia menambahkan, ketika aturan itu sudah dibuat dan masih ada warga yang masih melakukan penanaman pohon pisang di sepanjang tanggul biar sangksi sosial yang berjalan. “Karena peraturan itu atas kesepakatan bersama,” imbuhnya.

Salah satu anggota Destana, Yoto Suyono mengaku, mendapati tanggul sleding pada 29 Januari 2026 lalu. Kemudian ia langsung melaporkan kejadian tersebut ke pihak terkait dalam hal ini BBWS Pemali Juwana, agar tanggul segera mendapat penanganan.

“Kami laporkan bahwa tanggul mengalami penurunan muka tanah sepanjang 20 meter. Kemudian berselang satu pekan atau 8 Februari 2026, tanggul terjadi patah sampai kedalaman 1,5 meter. Alhamdulillah tadi malam mulai dilakukam secara darurat dan kemungkinan nanti BBWS Pemali Juwana akan menerjunkan alat berat yang lebih besar untuk melakukan penanganan dengan pancang,” terangnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Kronologi Santri di Jepara yang Diduga Jadi Korban Pencabulan Pimpinan Ponpes 

0
Foto Ilustrasi: Fahri

BETANEWS.ID,JEPARA– Peristiwa memilukan di lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes) kembali terjadi. Seorang santri salah satu Ponpes di Jepara diduga menjadi korban pencabulan oleh kiai yang merupakan pimpinan ponpes tersebut. 

Kuasa Hukum Korban, Erlinawati mengatakan, peristiwa memilukan itu terjadi  Bulan April 2025 lalu saat usia korban masih 18 tahun. 

Korban yang saat ini berusia 19 tahun merupakan santri di Ponpes tersebut selama enam tahun. Yaitu sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyyah (MTS) hingga Madrasah Aliyah (MA). 

Erlinawati bercerita, kejadian itu berawal saat korban kakinya terkilir usai diwisuda pada tanggal 26 April 2025. Paginya, di tanggal 27 April 2025, salah satu alumni di ponpes tersebut ada yang menikah. Karena kakinya masih sakit, korban berniat untuk meminta izin tidak ikut datang. 

“Korban awalnya meminta izin ke Bu Nyai (istri pimpinan ponpes) tapi tidak direspon. Akhirnya WA langsung ke pak kianya dan dibalas, “yo wes sesok pijet dianter temen-temen'” kata Erlina saat ditemui Betanews.id, Senin (17/2/2026). 

Baca juga: Miris! Santri di Jepara Diduga Jadi Korban Pencabulan Pimpinan Ponpes

Kemudian di tanggal 27 April malam sekitar pukul 23.00 WIB, korban diminta datang ke sebuah gudang yang menjadi tempat produksi air mineral buatan ponpes itu sendiri. 

Di gudang itu, terduga pelaku yang merupakan pimpinan ponpes bukan memijat kaki korban, justru melakukan perbuatan asusila. 

“Gudang ini yang menjadi tempat pelaku melakukan perbuatan asusila, karena kalau malam sudah tidak ada karyawan,” ungkap Erlina. 

Tiga hari berselang, di tanggal 30 April 2025, korban mendapat pesan dari terduga pelaku yang berisi video adegan seksual. 

Korban sempat mempertanyakan kepada terduga pelaku bahwa hal tersebut bukankah haram dan dilarang dalam ajaran agama. Namun, terduga pelaku justru menjawab bahwa korban nanti akan dijelaskan agar hal tersebut tidak melanggar ajaran agama. 

Kemudian sekitar pukul 24.00 WIB, korban diminta kembali datang ke gudang. Disana korban diberi selembar kertas berisi tulisan arab. Dari cerita korban, Erlina mengatakan, korban tidak terlalu paham apa isi dari tulisan tersebut. 

“Yang dipahami, intinya ada ijab qobul, terus dikasih uang Rp100 ribu bilangnya buat uang jajan,” kata Erlina. 

Setelah peristiwa itu, tiga hari berselang di tanggal 3 Mei 2025, terduga pelaku kembali memanggil korban untuk datang ke gudang. 

Di saat itu, terduga pelaku mulai meminta korban untuk melakukan adegan seksual. Saat melakukan aksi bejatnya, terduga pelaku sembari menceritakan kisah para nabi dan ulama. Serta mengatakan kepada korban untuk menuruti permintaanya agar ilmunya menjadi berkah dan barokah. 

Tidak hanya itu, dari penuturan korban, Erlina mengatakan, aksi bejat serupa tidak hanya dilakukan kepada korban. Santri yang sekarang sudah menjadi alumni juga pernah menjadi korban tindakan serupa. 

“Korban saat itu menangis dan ketakutan. Tapi diomongin, ‘tenang wae mengko nek hamil digugurke wae’,” kata Erlina menirukan penjelasan korban. 

Erlina melanjutkan, saat terjadi peristiwa memilukan itu, korban yang sudah diwisuda dan seharusnya sudah kembali ke rumah serta diminta orang tuanya untuk pulang. 

Akan tetapi, terduga pelaku meminta korban untuk mengabdi menjadi guru di ponpes tersebut seminggu dua kali. Karena sudah terikat perjanjian, korban akhirnya tetap datang ke ponpes.  

“Setiap datang itu, paginya ngajar, kemudian malamnya terjadi peristiwa itu (pelecehan seksual),” ungkap Erlina.

Setiap kali melakukan aksi bejatnya, Erlina mengatakan, terduga pelaku juga selalu mendokumentasikan dengan berfoto selfie kemudian dikirim kepada korban. 

Peristiwa itu baru terungkap pada 24 Juli 2025 oleh adik korban yang tidak sengaja melihat isi pesan di HP korban dari kiainya yang berisi pesan-pesan seksual. 

“Adiknya kemudian kabur (dari pondok) pulang ke rumah memberitahu orang tuanya,” katanya. 

Setelah peristiwa itu terbongkar, keluarga sempat kesulitan untuk meminta korban agar mau bercerita sebab korban masih mengalami trauma.

Sehingga kasus itu baru dilaporkan kepada pihak Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Jepara pada 22 November 2025 lalu. 

Setelah dilaporkan, baik korban, terduga pelaku, maupun saksi sudah pernah dilakukan pemanngilan. Namun, sampai saat ini, terduga pelaku belum ditahan dan kuasa hukum korban masih menunggu tindak lanjut dari kepolisian. 

“Bukti sudah kita lampirkan, screenshoot WA yang juga ada foto terduga pelaku. Sudah pernah melakukan visum juga, tapi dirumah sakit pertama tidak terbukti dan diarahkan untuk visum lagi di rumah sakit lain. Hanya saja hasilnya saat ini belum keluar,” katanya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Baru Awal 2026, Investasi Emas Warga Kudus Tembus 4,8 kilogram

0
Aktivitas di Pegadaian Kudus. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID,KUDUS-Lonjakan harga emas dalam tiga tahun terakhir berdampak langsung pada meningkatnya minat investasi masyarakat. Di Kabupaten Kudus, pembelian emas melalui Pegadaian terus menunjukkan tren kenaikan.

Hingga awal 2026, total investasi emas masyarakat melalui Pegadaian Kudus tercatat mencapai 4,8 kilogram. Angka tersebut mendekati 40 persen dari target penjualan emas tahun 2026 sebesar 13 kilogram atau senilai hampir Rp40 miliar.

Pemimpin Cabang Pegadaian Kudus, Endang Sulastri, menyebut, emas kini menjadi instrumen investasi favorit. Stabilitas nilai dan tren kenaikan harga membuat masyarakat beralih dari pola konsumsi ke investasi jangka panjang.

Baca juga: Pawai Barongsai yang Digelar BRI Meriahkan Dandangan Kudus, 400 QRIS Disebar ke Pedagang

“Sekarang masyarakat semakin paham bahwa emas memiliki nilai yang stabil dan cenderung naik. Emas batangan dan perhiasan menjadi pilihan utama,” ujarnya saat ditemui di Kantor Pegadaian Cabang Kudus, belum lama ini

Minat pembelian emas fisik juga terlihat di Galeri 24 Pegadaian Kudus. Saat stok tersedia, pembeli bahkan rela mengantre karena tingginya permintaan.

Sementara itu, Kepala Departemen Gadai Kantor Area Pati, Tarjo Ali Sofiin, menilai perubahan pola pikir masyarakat menjadi faktor utama peningkatan investasi emas. Ia menyebut dalam tiga tahun terakhir harga emas rata-rata naik sekitar 40 persen.

“Bahkan di 2025 kenaikannya di atas 50 persen. Ini jauh lebih tinggi dibandingkan instrumen lain seperti deposito,” ungkapnya.

Dengan tren tersebut, Pegadaian Kudus optimistis target penjualan emas 2026 dapat tercapai, bahkan berpotensi terlampaui sebelum akhir tahun. Mengingat ini masih awal tahun.

“Melihat potensinya, kami optimis bisa mencapai target bahkan bisa melampui,” ucapnya.

Baca juga: Telan Rp 99,6 M, Gedung Sehat RSUD Kudus Segera Dibangun di Eks Matahari Mall

Tarjo menambahkan, masyarakat yang ingin berinvestasi emas Pegadaian saat ini lebih praktis dengan adanya aplikasi Tring by Pegadaian. Melalui platform tersebut masyarakat bisa melakukan jual beli emas Pegadaian tanpa harus datang ke outlet.

Menariknya lagi, kata dia, emas yang dimiliki nasabah juga bisa didepositokan dengan bunga satu persen melalui aplikasi Tring. Jadi nasabah punya keuntungan dobel, selain dapat kenaikan harga emas juga dapat bunga deposito.

“Pokoknya lebih praktis. Melalui aplikasi Tring nasabah bisa investasi emas, nyicil emas dan pelayanan lain yang ada di Pegadaian,” imbuhnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Bendung Wilalung Berstatus Awas, Pintu Arah Sungai Juwana Dibuka 20 Cm

0

BETANEWS. ID, KUDUS– Intensitas curah hujan tinggi di daerah hulu, tepatnya di Kabupaten Grobogan memicu debit air di Bendung Wilalung saat ini berstatus awas. Status awas di bendung pengendalian air yang berada di Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan itu terjadi mulai Senin (16/2/2026).

Operator dan Pemeliharaan (Operasional) Bendung Wilalung, Karno menyampaikan, bahwa saat ini kondisi debut air terbilang tinggi. Hari Selasa (17/2/2026) pukul 9.00 WIB ini, debit air di angka 950 meter kubik per detik.

Mengingat angka sudah melebihi standart operasional prosedur (SOP), yakni angka 800 meter kubik per detik, saat ini pintu ke arah Sungai Juwana dibuka 20 sentimeter secara bertahap.

“Jadi bukaan pintu nomor 8 sudah dibuka secara bertahap. Total bukaan saat ini 20 sentimeter ke arah Sungai Juwana. Pertama dibuka kemarin pukul 13.00 WIB, ketika debit air di angka 866 m³/detik, lalu bukaan ditambah 10 sentimeter, karena debit terus bertambah menjadi 900 m³/detik,” katanya saat ditemui di kantornya, Selasa (17/2/2026).

Ia menjelaskan, bahwa kondisi debit air di Bendung Wilalung saat ini dengan elevasi walking tanggul di angka 248 sentimeter dan tinggi jagaan tanggul hanya tinggal 48 sentimeter saja.

Baca juga :Sepanjang 2025, Kinerja Pegadaian Kudus Lampaui Target

Meski debit air hampir mencapai angka 1.000 meter kubik per detik, Karno menyebut, bahwa saat ini kondisinya terkendali. Hal itu dikarenakan ada proyek normalisasi di Sungai Wulan pada titik muara di Wedung, Jepara hingga Karanganyar Demak.

“Normalisasi sungai sangat membantu sekali. Biasanya debit air di angka 700 m³/detik, membuat ramai orang dan kondisi pintu Bendung Wilalung nomor 10 dan 11 biasanya banjir. Tapi ini di angka 950 m³/detik Alhamdulillah masih aman terkendali,” bebernya.

Ia menuturkan, kondisi cuaca di hulu saat ini masih mendung. Sehingga pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada dan berhati-hati, mengingat bencana alam tidak ada yang tahu.

“Meski debit air saat ini tinggi, tren menunjukkan penurunan tipis-tipis. Bagi warga terus waspada dan menjaga tanggul di masing-masing daerah,” terangnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Puluhan Pelaku UMKM di Jepara Terima Bantuan Tenda dan Gerobak, Akses KUR Bakal Dipermudah

0
Salah satu pelaku UMKM di Jepara mendapatkan bantuan gerobak. Foto: Umi Nurfaizah.

BETANEWS.ID,JEPARA– Puluhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Jepara menerima bantuan tenda dan gerobak di Pendopo RA Kartini pada Senin, (16/02/2026).

Bantuan untuk pelaku UMKM ini diserahkan oleh Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Abdul Wachid. Ia mengatakan, bantuan tersebut merupakan program BAZNAS yang memang mitra kerja Komisi VIII DPR RI. Gerobak dan tenda itu diproyeksikan untuk pemberdayaan masyarakat sekaligus upaya pengentasan kemiskinan melalui penguatan sektor usaha kecil.

“Program ini kami peruntukkan bagi masyarakat usaha kecil menengah agar bisa meningkatkan pendapatan dan tidak perlu mencari pekerjaan hingga ke luar daerah,” katanya usai kegiatan penyerahan bantuan tenda dan gerobak.

Baca juga: Siswa SMA di Jepara Ciptakan Alat Pendeteksi Kebakaran pada Kompor Gas Berbasis IoT 

Sementara itu, Bupati Jepara, Witiarso Utomo menyampaikan, total bantuan yang disalurkan meliputi 30 unit tenda dan 30 unit gerobak untuk 60 pelaku UMKM yang tersebar di berbagai desa di Jepara. Selain itu, terdapat tambahan 10 unit tenda UMKM dari CV Indah Jaya Toys.

“Kami juga berkomitmen mendorong akses permodalan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Setiap bulan, sekitar 250 hingga 300 UMKM yang telah siap akan difasilitasi untuk mendapatkan pembiayaan KUR,” ujarnya.

Wiwit mengatakan, saat ini pemerintah pusat mendorong optimalisasi penyaluran KUR karena tersedia alokasi anggaran besar dari perbankan. Bahkan, kebijakan terbaru memungkinkan pelaku UMKM mengakses KUR hingga tiga kali, dengan plafon pembiayaan mulai dari nominal kecil hingga maksimal Rp1 miliar.

“Melalui program ini, diharapkan pelaku UMKM Jepara dapat berkembang lebih profesional, tertata, serta mampu naik kelas menjadi usaha yang berdaya saing dan berkelanjutan,” harapnya.

Baca juga: Pemprov Jateng Luncurkan ‘Ngopeni Omah Nglakoni Sesarengan’, Strategi Ampuh Tuntaskan Masalah Hunian

Wiwit melanjutkan, kolaborasi antara pemerintah pusat, DPR RI, pemerintah daerah, dan dunia usaha dapat terus diperkuat guna membangun ekosistem UMKM yang tangguh dan mampu menopang perekonomian daerah.

Salah seorang penerima gerobak, Suwarsono (69) berteri makasih atas bantuan yang diterimanya. Menurut lansia penjual kerang ini, bantuan tersebut sangat membantu aktivitas usaha yang telah dijalaninya 30 tahun terakhir.

“Kebetulan gerobak jualan saya di SCJ itu sudah berlubang dan belum ada biaya untuk perbaikan. Kalau hasil jualan saat ini hanya cukup untuk menutup kebutuhan harian, jadi saya sangat berterimakasih atas bantuan ini,” ucapnya.

Eitor: Kholistiono

- advertisement -

Dugderan Menyambut Ramadan Kembali Menggema di MAJT Jateng, Tradisi yang Perlu Terus Dilestarikan

0

BETANEWS.ID,SEMARANG – Dentuman bedug dan gelegar meriam Kolontoko kembali menandai hadirnya Ramadan di Kota Semarang. Pada akhir Sya’ban 1447 Hijriah, tradisi menyongsong bulan suci ini  kembali digelar meriah melalui Kirab Dugderan di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) pada Senin (16/2026).

Tradisi yang telah ada sejak 1881 ini kembali menghadirkan nuansa khas budaya Semarang. Dalam kirab dugderan ini,  Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, berperan sebagai Kanjeng Adipati Raden Mas Tumenggung Prawirapradja. Sementara Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, tampil sebagai Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Purbadiningrum.

Sesaat sebelum bedug ditabuh, Suhuf Halaqah dibacakan oleh Sumarno setelah diterima secara simbolis dari Wali Kota Semarang. Bedug Ijo Mangunsari sepanjang 3,1 meter dengan diameter 2,2 meter pun ditabuh, diiringi bunyi meriam Kolontoko yang memecah langit Semarang.

Baca juga: Pemprov Jateng Luncurkan ‘Ngopeni Omah Nglakoni Sesarengan’, Strategi Ampuh Tuntaskan Masalah Hunian

Tak ayal, tradisi Dugderan ini menyedot perhatian masyarakat. Sepanjang perjalanan kirab, banyak warga antusias menyaksikan acara tersebut.

Sumarno menegaskan, Dugderan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan tradisi sarat makna spiritual dan sosial.

“Ini adalah tradisi yang mempunyai nilai yang perlu kita lestarikan. Dugderan menjadi bagian dari kesiapan kita menghadapi bulan Ramadan. Harapannya, kita semua bisa menjalankan ibadah Ramadan dengan sebaik-baiknya, meningkatkan ketakwaan kepada Allah,” ujarnya disela acara.

Ia juga menyampaikan harapan agar Ramadan membawa keberkahan bagi Jawa Tengah.

“Kami berharap Jawa Tengah terhindar dari bencana dan kesejahteraan masyarakat semakin baik,” tambahnya.

Sementara itu, Agustina Wilujeng Pramestuti menyebut Dugderan tahun ini terasa lebih semarak. Ia menekankan filosofi unik yang selalu menjadi daya tarik tradisi tersebut.

“Yang unik hari ini, semua warak wajib ngendok. Kalau warak tidak ngendok nanti bisa congkrah, bisa bertengkar, tidak ada rezeki yang dibagi,” tuturnya.

Menurutnya, keterlibatan generasi muda menjadi kunci keberlanjutan tradisi. “Saya senang tadi anak-anak kecil mulai ikut menari. Ini menjadi transfer pengetahuan dan tradisi. Mereka adalah generasi penerus kita,” katanya.

Baca juga: Potret Inklusivitas Perayaan Imlek di Pasar Semawis Semarang

Menariknya, Dugderan tahun ini bertepatan dengan perayaan Imlek serta masa puasa Paskah bagi umat Kristen. Momentum ini dinilai semakin memperkuat harmoni keberagaman di Semarang.

“Harmoni ini akan terjalin lebih erat. Kalau Semarang damai, wisatawan akan lebih banyak berkunjung dan investasi pun meningkat,” pungkas Agustina.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Potret Inklusivitas Perayaan Imlek di Pasar Semawis Semarang

0
Wapres Gibran Rakabuming dan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi saat meninjau Pasar Imlek Semawis 2026 di Kawasan Pecinan, Kota Semarang. Foto: Ist.

BETANEWS.ID,SEMARANG — Imlek bukan lagi menjadi perayaan tahun baru bagi masyarakat etnis Tionghoa saja, melainkan sudah inklusif dan diramaikan oleh hampir seluruh etnis di Jawa Tengah maupun nusantara.

Hal itu sebagaimana terlihat dalam Pasar Imlek Semawis 2026 di Kawasan Pecinan, Kota Semarang, yang dikunjungi oleh Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka dan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Sabtu (14/2/2026).

Pasar Imlek Semawis yang digelar dari Jalan Gang Pinggir sampai ujung Jalan Wotgandul Timur tersebut penuh sesak dengan masyarakat dari berbagai etnis, mulai dari pedagang sampai pengunjung. Keberagaman memang menjadi konsep yang ditonjolkan pada gelaran tahun ini. Sebagai bentuk kebersamaan dan kekuatan yang membuat Pasar Imlek Semawis Semarang terus hidup dan tumbuh hingga saat ini.

Baca juga: Program Satu OPD Satu Desa Dampingan Pemprov Jateng Tuai Apresiasi

Pengurus Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis), Harjanto Halim menyatatakan, Pasar Imlek Semawis memang untuk menghidupkan tradisi di Kota Semarang untuk menyambut Imlek yang sudah ada sejak dulu.

“Dulu, orang Tionghoa saat menjelang Imlek itu belanja sampai malam, itu cuma semalam. Lalu dihidupkan kembali menjadi sebuah perayaan tiga hari menjadi Pasar Imlek Semawis. Tidak cuma jajanan pasar, saja tetapi juga ada banyak kuliner dan UMKM, pernik-pernik, acara budaya dan sosial, yang menunjukkan keberagaman di Kota Semarang,” katanya.

Dalam Pasar Imlek Semawis tahun ini, panitia sengaja menghadirkan tokoh-tokoh mitos Tionghoa seperti Sun Go Kong dan Dewi Kwan Im dipadukan dengan tokoh-tokoh wayang Jawa. Pada acara pembukaan juga disediakan makanan muslim Tionghoa yang didatangkan dari Xin Jiang.

“Tahun ini kami juga mengimbau untuk mengenakan kebaya untuk pengunjungnya. Tadi memang terlihat belum banyak tapi sudah ada juga yang mulai mengenakan kebaya kalau saya lihat,” ujarnya.

Harjanto menuturkan bahwa keberagaman di Pecinan Semarang sudah seperti Indonesia mini. Bahkan di kawasan Pecinan ada warung nasi ayam Bu Pini. Seorang etnis Jawa yang berjualan pakai gendongan sampai sekarang mampu membeli ruko untuk warung.

“Beliau Jawa dan bisa bersaing dengan orang Tionghoa di Pencinan. Jadi kalau enak dan harganya masuk akal ya pasti laku,” tuturnya.

Sisi keberagaman yang ada di Pasar Imlek Semawis tersebut membuat kagum Wapres Gibran dan Gubernur Ahmad Luthfi. Kekaguman itu disampaikan langsung saat keduanya berkeliling sepanjang Pasar Imlek Semawis.

Keduanya tampak menikmati suasana yang diciptakan oleh Pasar Imlek Semawis tersebut. Mereka tampak berbaur dengan para pengunjung, bahkan Gibran sempat berbelanja di beberapa tenant dan melayani permintaan foto dari pengunjung.

Baca juga: Pemprov Jateng Luncurkan ‘Ngopeni Omah Nglakoni Sesarengan’, Strategi Ampuh Tuntaskan Masalah Hunian

“Beliau senang dengan kegiatan ini karena bisa menghidupkan usaha ekonomi rakyat. Keberagamannya juga terasa sekali. Beliau berpesan agar tradisi Pasar Imlek Semawis ini jangan sampai hilang. Tradisi ini kan susah untuk memulai, jadi kalau yang sudah berjalan yang dirawat apalagi melihat keberagaman yang sudah terjadi di sini,” kata Harjanto terkait kesan Wapres dan Gubernur Jateng.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi sempat menyampaikan bahwa tradisi yang sudah ada tersebut harus di-uri-uri (dilestarikan). Ia juga menyatakan dukungan terkait rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menyambut tahun baru Imlek. Baik Pasar Imlek Semawis maupun kegiatan yang digelar di tempat lain seperti di Klenteng Sam Poo Kong.

Banyaknya event yang diselenggarakan akan sangat membantu pertumbuhan pariwisata di Kota Semarang dan Jawa Tengah. Selain itu, juga dapat menunjukkan bagaimana toleransi dan keberagaman di Jawa Tengah sangat besar, serta menjadi kekuatan dan nafas dari pembangunan wilayah.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Kopi Khas Turki Kini Hadir di Kudus, Sensasi Kopi Ala Timur Tengah yang Jadi Idaman Baru

0

BETANEWS.ID,KUDUS – Sensasi kopi khas Timur Tengah kini bisa dinikmati tanpa harus jauh-jauh ke luar negeri. Di kawasan wisata Pijar Park, Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, pengunjung dapat mencicipi kopi ala Turki yang baru diluncurkan pada Januari lalu.

General Manager Pijar Park, Pujiharto mengatakan, kopi tersebut diracik dengan menyesuaikan cita rasa lokal agar tetap cocok di lidah masyarakat Kudus.

“Rasanya pasti lebih kuat, karena kalau di Timur Tengah biasanya kaya akan rempah. Jadi kita sesuaikan dengan lidah warga Kudus,” ujarnya, Minggu (15/2/2026).

Baca juga: Laris Manis, Cireng Kuah Creamy di Tayu Ini Ludes Setiap Hari

Ia menjelaskan, pengunjung memiliki beragam pilihan menu, mulai dari kopi santan, kopi rempah, hingga kopi original. Bahan utamanya menggunakan biji Robusta khas Colo yang merupakan produk lokal Muria.

Keunikan lainnya terletak pada teknik penyajian yang menggunakan metode ibrik, yakni cara tradisional dari Turki. Teknik ini menghasilkan tekstur kopi lebih pekat dengan aroma rempah yang kuat.

“Teknik yang kita bawa memakai ibrik dari Turki, jadi proses penyajian benar-benar ala Timur Tengah,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menyambut baik inovasi tersebut. Ia menyebut kehadiran kopi Turki menjadi daya tarik baru wisata di daerah pegunungan Muria.

“Di sini sudah ada kopi Turki. Ini oleh-oleh dari Mbak Yanti saat pameran ke Libya dan Turki,” katanya.

Baca juga: Obong Satay, Sate Ayam Khas Kudus yang Tak Pernah Sepi Pembeli

Ia menambahkan, kopi tersebut memiliki variasi unik, seperti menggunakan gula semut, santan, hingga campuran alpukat. 

“Menu ini sangat berbeda. Setelah minum, rasanya menambah energi dan semangat. Jadi tidak perlu jauh-jauh ke Turki, di Pijar Park saja sudah ada kopi Turki,” tuturnya.

Pemerintah daerah berharap inovasi kuliner seperti ini dapat memperkuat daya tarik wisata sekaligus mendorong promosi pariwisata Kudus.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Sepanjang 2025, Kinerja Pegadaian Kudus Lampaui Target

0

BETANEWS.ID,KUDUS-Kinerja Pegadaian Cabang Kudus sepanjang 2025 menunjukkan capaian signifikan. Hingga awal 2026, realisasi bisnis tercatat mencapai 160 persen dari target yang telah ditetapkan.

Pemimpin Cabang Pegadaian Kudus, Endang Sulastri, menyebut, lonjakan tersebut tidak lepas dari meningkatnya aktivitas pembiayaan berbasis emas. Kenaikan harga emas pada akhir 2025 turut mendorong pertumbuhan outstanding loan (OSL).

“Alhamdulillah pencapaian kami di 2025 mencapai 160 persen dari target. Ini sangat dipengaruhi oleh kenaikan harga emas yang cukup tajam, sehingga berdampak langsung pada perolehan outstanding loan Pegadaian Kudus,” ujarnya, Sabtu (14/2/2026).

Baca juga : Telan Rp 99,6 M, Gedung Sehat RSUD Kudus Segera Dibangun di Eks Matahari Mall

Hingga Januari–Februari 2026, total OSL Pegadaian Kudus telah mencapai Rp240 miliar. Angka tersebut melampaui target awal sebesar Rp239 miliar.

Endang menjelaskan, OSL merupakan total posisi pinjaman yang masih berjalan, bukan akumulasi pencairan dalam periode tertentu. Nilai tersebut berasal dari seluruh produk, baik gadai emas, non-gadai, maupun layanan berbasis emas lainnya.

“Angka Rp240 miliar itu adalah total pinjaman yang sedang berjalan dari seluruh produk kami. Jadi bukan target bulanan atau tahunan,” jelasnya.

Saat ini, Pegadaian Kudus mengoperasikan tujuh outlet yang tersebar di sejumlah wilayah, termasuk unit pelayanan di Jekulo, Mejobo, Prambatan, Pasar Wates, serta layanan co-location di BRI.

Baca juga: Dishub Kudus Sediakan 7 Kantong Parkir Dandangan 2026, Ini Lokasinya

Setiap outlet memiliki target kinerja masing-masing yang berkontribusi pada capaian cabang.Untuk produk gadai, sekitar 90 persen barang jaminan didominasi emas, baik perhiasan maupun emas batangan.

Sementara barang elektronik seperti ponsel dan televisi jumlahnya relatif kecil.Pegadaian Kudus optimistis tren positif ini berlanjut sepanjang 2026, seiring tingginya minat masyarakat terhadap produk pembiayaan berbasis emas.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Miris! Santri di Jepara Diduga Jadi Korban Pencabulan Pimpinan Ponpes

0
Foto Ilustrasi: Fahri

BETANEWS.ID,JEPARA– Seorang santri perempuan berusia 19 tahun diduga menjadi korban pencabulan oleh pimpinan salah satu pondok pesantren (ponpes) yang berada di Kabupaten Jepara. Mirisnya, hal itu dilakukan oleh pelaku sebanyak 25 kali.

Pengacara Korban, Erlinawati mengungkapkan, peristiwa itu terungkap pada Bulan Juli 2025 lalu oleh adik korban yang juga merupakan santri di ponpes tersebut.

Saat itu, adik korban tidak sengaja melihat isi percakapan di HP korban dengan terduga pelaku yang berisi pesan seksual.

“Mengetahui itu, adik korban kemudian kabur dari ponpes, pulang ke rumah, memberitahu orang tuanya,” kata Erlinawati, Senin, (16/2/2026).

Baca juga: Polisi Masih Dalami Kasus Pencabulan Anak Usia 14 Tahun di Jepara 

Setelah mengetahui peristiwa itu, orang tua korban kemudian memboyong korban beserta tiga adiknya yang juga menjadi santri di ponpes tersebut.

Saat peristiwa miris itu terjadi, korban sebenarnya sudah tidak menjadi santri di ponpes tersebut karena baru saja mengikuti wisuda santri pada tanggal 26 April 2025.

Namun, berdasarkan cerita korban, Erlina mengatakan, pimpinan ponpes meminta korban untuk mengabdi menjadi guru di ponpes itu.

“Korban seharusnya ini sudah boyongan, tapi oleh pak kiainya diminta untuk ngabdi ngajar di sana. Awalnya diminta seminggu tiga kali, tapi ditawar akhirnya jadinya seminggu dua kali,” ungkapnya.

Peristiwa bejat itu menurut Erlina bermula pada saat korban kakinya terkilir ketika mengikuti prosesi wisuda. Kemudian di tanggal 27 April 2025, korban bersama teman-temannya seharusnya menghadiri acara pernikahan alumni pondok.

Akan tetapi, karena kakinya masih sakit, korban kemudian meminta izin kepada bu nyai atau istri pelaku untuk tidak ikut, namun tak kunjung direspon.

“Akhirnya izin ke pak kiainya langsung. Dibilang sesok (besok) pijet dianter temen-temen,” katanya.

Malamnya, korban kemudian diobati oleh kiainya yang merupakan pimpinan ponpes sekitar pukul 23.00 WIB di sebuah kamar gudang yang digunakan untuk menyimpan air mineral produksi dari ponpes itu sendiri.

“Pada saat bilangnya diobati itu, pelaku pertama kali melakukan perbuatan (seksual) kepada korban,” ungkapnya.

Tiga hari berselang, pada tanggal 30 April 2025, pelaku mengirim link video youtube berisi adegan seksual kepada korban. Saat dikirimi pesan tersebut, pelaku sempat mempertanyakan kepada pelaku.

“Korban sempat membalas.Dia (korban) bilang itu kan hal yang tidak diperbolehkan dalam agama, pak kiai seharusnya paham. Tapi dijawab pak kianya, wes tah nanti tak ajarin hukumnya biar ngga jadi haram,” tutur Erlina.

Baca juga: Hasil Asesmen, Korban Dugaan Pencabulan oleh Kiai di Pati Alami Trauma Berat

Korban yang hormat kepada kianya, kemudian menuruti pelaku untuk datang kembali ke gudang. Saat itu, pelaku memberi secarik kertas berisi tulisan arab yang salah satu maknanya berisi kalimat ijab qabul. Korban juga diberi uang sebesar Rp 100 ribu oleh pelaku.

Setelah peristiwa itu, korban kemudian diminta melakukan hubungan seksual dengan pelaku. Peristiwa tragis itu dilakukan hampir setiap kali korban datang untuk mengajar di ponpes.

“Dilakukannya itu sekitar 25 kali. Dari 27 April – 24 juli 2025,” ungkapnya.

Akibat peristiwa bejat itu, korban yang merupakan Hafidzah atau penghafal Alquran, saat ini mengalami trauma. Trauma itu bahkan juga dialami oleh tiga orang adiknya yang tidak mau lagi melakukan muroja’ah atau mengulang kembali hafalan Alquran.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Siswa SMA di Jepara Ciptakan Alat Pendeteksi Kebakaran pada Kompor Gas Berbasis IoT 

0

BETANEWS.ID,JEPARA– Dua orang siswa dari Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Jepara menciptakan alat untuk mendeteksi kebakaran pada kompor gas berbasis Internet of Things (Iot).

Alat itu bernama Stovix (Stove Internet) atau kompor internet Stovix yang diciptakan oleh Vreshita Rahmi Alfira PF (16) siswa kelas XI 5 dan M. Hasan Rabbani (16) siswa kelas XI 3.  

M. Hasan Rabbani, warga Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan itu bercerita ide tersebut muncul atas rasa keprihatinannya terhadap peristiwa kebakaran yang menghanguskan ratusan motor milik karyawan PT Hwaseung Indonesia (HWI) di Desa Gemulung, Kecamataan Pecangaan, Kabupaten Jepara pada Senin, (5/5/2025) lalu. 

Baca juga : Berawal dari Tak Sengaja, Dimsum Receh Milik Supri Bisa Ludes Hanya Dalam Dua Jam Saja

Kebakaran yang terjadi di lokasi lahan parkir milik warga itu dipicu akibat ledakan kompor gas di salah satu warung yang kemudian merembet ke area parkiran motor dengan kerugian ditaksir mencapai Rp2,2 miliar.

Dari peristiwa itu, ia bersama rekannya dengan didampingi oleh guru pendamping melakukan riset untuk mencari solusi agar peristiwa serupa bisa dicegah.

“Dari peristiwa itu kita kemudian merancang ide, kenapa kok kompor sangat berbahaya sampai bisa terjadi kebakaran sebesar itu? kami terus meriset, alasan utamanya karena ditinggal pergi,” katanya pada Betanews,id pada Senin, (16/2/2026). 

Hasan menjelaskan, alat itu terdiri dari dua dua komponen box yang saling terhubung melalui jaringan wireless berupa bluetooth. 

Alat pertama yang berisi jaringan solenoid dan baterai dihubungkan pada regulator dan jaringan pipa gas. Kemudian alat kedua yang berisi berbagai macam komponen elektronik sebagai pengatur utama digantung berdekatan dengan posisi kompor. 

Dua komponen alat itu memiliki tiga fungsi utama, yaitu untuk melihat keberadaan orang di sekitar lokasi melalui sensor, mematikan kompor dari jarak jauh, dan mendeteksi adanya api. 

“Cara kerjanya itu dikontrol lewat aplikasi dan harus conncet dengan Wifi. Jadi misalnya ngidupin kompor terus lupa, itu bisa dimaatiin otomatis, bisa diatur juga waktunya. Dan misalnya ada sumber api yang terdeteksi menimbulkan bahaya, itu nanti alatnya akan bunyi,” jelasnya. 

Inovasi alat tersebut berhasil membuat ia dan rekannya memperoleh juara 1 Jepara Innovation Award (JIA) Volume 2 yang diadakan oleh Universitas Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara. 

“Tapi masih ada beberapa evaluasi yang kemarin diberikan untuk pengembangan ke depan, yaitu ditambah sensor pendeteksi bau gas, boxnya diringkas, dan supaya bisa digunakan secara mekanik tanpa harus terhubungan dengan Wifi,” ungkapnya. 

Baca juga : Program Satu OPD Satu Desa Dampingan Pemprov Jateng Tuai Apresiasi

Sementara itu, Muhammad Taufiq Muslih, Guru Mata Pelajaran (Mapel) Informatika yang menjadi guru pendamping mengatakan penciptaan alat itu merupakan pengembangan dari mapel yang menuntut siswa untuk berpikir kritis dan mampu menganalisa masalah, kemudian mencari solusinya. 

“Di mapel itu kita ajari juga tentang sistem koding dan di salah satu fasenya itu ada pelajaran yang fokus pada Iot. Dari sanalah karya itu kemudian muncul,” kata Taufiq. 

Ke depan, dengan evalusia yang sudah diberikan, ia bersama anak didiknya berencana untuk mengembangkan kembali alat itu untuk diikutkan dalam lomba selanjutnya. Yaitu ajang Kreativitas dan Inovasi (Krenova).

Editor: Kholistiono

- advertisement -