Beranda blog Halaman 56

Bertemu Dubes dan Pengusaha India, Gubernur Luthfi Tawarkan Investasi di Sejumlah Sektor

0
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi saat menerima kunjungan kehormatan dari Duta Besar (Dubes) India untuk Indonesia Shri Sandeep Chakravorty di kantornya, Kamis (19/2/2026). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menawarkan peningkatan investasi dan peluang investasi baru kepada pengusaha asal India.

Tawaran tersebut disampaikan Ahmad Luthfi saat menerima kunjungan kehormatan dari Duta Besar (Dubes) India untuk Indonesia Shri Sandeep Chakravorty di kantornya, Kamis (19/2/2026). Dubes India datang bersama sejumlah pengusaha asal India yang sudah memulai investasi di Indonesia.

Luthfi membeberkan, investasi India di Jawa Tengah menempati urutan ke-17 dengan total realisasi investasi senilai Rp646,52 miliar. Realisasi investasi itu terdiri dari beberapa sektor seperti industri tekstil sekitar 62%, hotel dan restoran 16%, perdagangan dan reparasi sekitar 12%, industri kayu 4%, serta industri dan sektor lainnya.

Baca juga: Gubernur Luthfi Tinjau Huntara Korban Tanah Gerak Tegal, Siap Dihuni Sebelum Lebaran

Dalam kesempatan itu, Luthfi menawarkan kepada para pengusaha India untuk melakukan investasi di berbagai sektor, di antaranya di bidang ekonomi hijau (green economy), tenaga medis, serta industri garmen yang bersifat padat karya.

Ia menjelaskan, investasi baru tersebut sangat diharapkan dapat terlaksana, sehingga pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah terus meningkat. Tercatat pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada tahun 2025 sebesar 5,37%. Hal itu diikuti dengan penurunan angka kemiskinan menjadi 9,39%.

“Itu semua berkat investasi yang datang dari luar negeri, salah satunya India, (dan investasi dalam negeri). Jawa Tengah adalah provinsi yang ramah untuk berinvestasi,” ujar Luthfi.

Sementara itu Dubes India untuk Indonesia, Shri Sandeep Chakravorty mengatakan, pemerintah India dan para pengusaha asal India sangat tertarik berinvestasi di Jawa Tengah. Daya tariknya adalah adanya kesamaan antara India dan Indonesia, khususnya Jawa Tengah, yang memiliki jumlah penduduk yang besar.

“Saya mengapresiasi terkait iklim investasi di Jawa Tengah yang stabil, termasuk dalam hal sosial dan ekonomi. Perusahaan kami sangat bahagia di Jawa Tengah, seperti di rumah sendiri,” katanya.

Baca juga: Wagub Jateng Tegaskan Tak Ada Kenaikan Pajak Baru 2026, Diskon Pajak Kendaran Masih Dibahas

Sandeep menambahkan, sekitar Agustus 2026 nanti akan ada groundbreaking salah satu perusahaan dari India di Jawa Tengah. Nilai investasi perusahaan tersebut mencapai sekitar USD 30 juta.

Sebagai informasi, berdasarkan data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, nilai realisasi investasi Jawa Tengah pada tahun 2025 mencapai Rp88,50 triliun, terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp50,86 triliun, serta Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp37,64 triliun. Diketahui, angka ini menjadi capaian tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Dari nilai investasi itu, terdapat sebanyak 105.078 proyek yang terealisasi, dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 418.138 orang.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Lewat QRIS BRI, UMKM Kudus Disebut Bisa Terbantu Naik Kelas, Begini Penjelasannya

0
Ilustrasi QRIS BRI

BETANEWS.ID, KUDUS – Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Kudus berkomitmen mewujudkan agar Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lokal untuk naik kelas. Satu di antaranya dengan cara penggunaan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).

Dengan penerapan QRIS, maka setiap transaksi di UMKM tersebut bisa terekam atau tercatat dengan baik. Hal itu akan bermanfaat ketika pengajuan pembiayaan dari perbankan.

Pimpinan Cabang BRI Kudus, Yudiarto, mengatakan, salah satu kendala utama UMKM untuk naik kelas ada di permodalan. Sementara dalam mengakses kredit dari perbankan, pencatatan administrasi belum tertib, sehingga nilai pendapatannya tak terekap dengan baik.

Baca juga: Panitia dan BRI Tegas Bantah Dugaan Jual Beli Data Pedagang Dandangan 2026, Begini Penjelasannya

“Melalui transaksi digital berbasis QRIS, omzet usaha dapat tercatat otomatis dalam rekening. Hal itu sangat membantu perbankan dalam menilai kelayakan pembiayaan,” ujar Yudiarto belum lama ini.

Menurutnya, QRIS tidak hanya mempermudah konsumen, tetapi juga pedagang. Di era digital, masyarakat kini lebih sering membawa ponsel dibanding uang tunai.

“Sekarang orang lebih berat ketinggalan HP daripada dompet. Dengan HP, mereka bisa transaksi lewat e-wallet atau mobile banking. QRIS mempermudah itu,” jelasnya.

Selain praktis, QRIS juga menghilangkan persoalan uang kembalian. Pedagang tidak perlu repot mencari uang pas saat menerima pembayaran.

“Misal transaksi Rp 127.500 dan pembeli bayar Rp150 ribu, pedagang harus cari kembalian. Dengan QRIS, nominal tinggal diketik, tidak ada repot kembalian,” bebernya.

Lebih jauh, Yudiarto menjelaskan, bahwa pencatatan omzet secara digital membuka peluang UMKM naik kelas. Mulai dari ultra mikro dengan pembiayaan Rp5–10 juta, bisa berkembang ke mikro Rp100 juta hingga ritel ratusan juta rupiah.

“Kalau omzetnya tercatat jelas di rekening, bank lebih mudah memberikan tambahan modal kerja. Harapannya usaha bisa berkembang, omset naik, dan laba meningkat,” terangnya.

BRI sendiri, lanjut dia, memiliki fokus kuat pada sektor UMKM. Pembiayaan diberikan mulai dari segmen ultra mikro melalui PNM, mikro, hingga ritel bahkan di atas Rp50 miliar.

Baca juga: Pembayaran Pajak Kendaraan di Jepara Masih Tinggi, Diskon 5% Belum Berlaku

“BRI itu bank UMKM. Market share kami di sektor ini cukup tinggi. Kami ingin UMKM tidak hanya dapat kredit kecil, tapi benar-benar berkembang,” tegasnya.

Terkait penggunaan QRIS di Kabupaten Kudus, Yudiarto menilai potensinya besar. Ia menyebut, masyarakat Kudus tergolong adaptif terhadap teknologi dan memiliki daya beli yang cukup baik.

“Saya yakin penggunaan QRIS di Kudus cukup tinggi. Masyarakatnya sudah modern,” ujarnya.

Ia berharap digitalisasi pembayaran, termasuk dalam event seperti Dandangan, dapat menjadi pintu masuk bagi UMKM agar lebih siap menghadapi sistem pembayaran non-tunai yang ke depan diproyeksikan semakin dominan.

“Ke depan, QRIS diharapkan menjadi alat pembayaran utama. Kami membantu UMKM agar tidak kaget dengan perubahan itu,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Warga Jurang Kudus yang Diduga Terpeleset dan Jatuh ke Sungai Gelis Ditemukan Meninggal Dunia

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Operasi pencarian dan pertolongan (Opsar) terhadap orang hilang yang diduga mengalami laka air di Sungai Gelis, akhirnya membuahkan hasil. Korban bernama Sumantri (53), warga Desa Jurang RT 1 RW 6, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Kamis (19/2/2026) pukul 14.10 WIB.

Kepala Seksi (Kasi) Kedaruratan pada BPBD Kudus, Ahmad Munaji membenarkan, bahwa korban kini sudah ditemukan sekitar pukul 14.10 WIB atau kurang lebih 500 ke arah selatan dari titik awal diduga terpeleset. Tepatnya di sebelah selatan bawah Jembatan Plengkung Sungai Gelis.

“Ya, sudah ditemukan,” katanya singkat melalui aplikasi pengirim pesan WhatsApp saat dikonfirmasi, Kamis (19/2/2026) sore.

Baca juga: Pencarian Orang yang Diduga Hanyut di Sungai Gelis Masih Dilakukan, Tim SAR Gabungan Dikerahkan

Sebelum pencarian dimulai, sebanyak 70 personel tim SAR gabungan mengikuti apel dan briefing yang dipimpin Komandan Basarnas Kantor Jepara, Mohammad Ali Ushman. Tim gabungan terdiri dari Basarnas, BPBD, Polsek Gebog, Polres Kudus K-9, TNI, serta relawan dari FRPB Kudus, MDMC, BAGANA, LPBI NU, MED-A, BKPB PP, dan warga sekitar.

Dalam operasi tersebut, tim dibagi menjadi dua regu, yakni tim darat dan tim air. Tim air yang berjumlah sembilan orang melakukan penyisiran menggunakan metode mountaineering atau vertical rescue di titik-titik yang dicurigai.

Namun proses evakuasi sempat terkendala derasnya arus Sungai Gelis dan kedalaman sungai yang diperkirakan mencapai 2 hingga 5 meter. Karena faktor keselamatan, pencarian melalui jalur air dihentikan sementara pada pukul 10.25 WIB.

Sementara itu, tim darat menyusuri bantaran sungai dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 500 meter dari titik awal korban diduga terpeleset. Hingga menjelang siang, hasil pencarian masih nihil.

Kedua tim kemudian dikumpulkan untuk evaluasi pada pukul 10.30 WIB hingga 10.45 WIB. Setelah evaluasi, operasi dihentikan sementara untuk istirahat hingga waktu salat dzuhur.

Pencarian kembali dilanjutkan pada pukul 13.15 WIB dengan memperluas area penyisiran ke arah hilir sungai. Sekitar pukul 14.10 WIB, korban akhirnya ditemukan sekitar 800 meter ke arah selatan dari titik awal, tepatnya di bawah sisi selatan Jembatan Plengkung Sungai Gelis.

Baca juga: Diduga Terpeleset saat Panen Jagung, Warga Jurang Kudus Hilang di Sungai Gelis

Proses evakuasi berlangsung cukup menantang karena lokasi penemuan berada di area tebing terjal. Tim SAR menggunakan metode vertical rescue untuk mengangkat jenazah korban dari dasar sungai.

Evakuasi berhasil dilakukan pada pukul 15.40 WIB.Dari hasil pemeriksaan awal di lokasi, korban mengalami luka pada bagian kepala depan sisi kiri serta luka pada bagian bibir yang diduga akibat benturan dengan bebatuan saat hanyut terbawa arus.

Jenazah kemudian dibawa ke rumah duka dan tiba pada pukul 16.02 WIB untuk diserahkan kepada pihak keluarga.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pemprov Jateng Perbaiki Ribuan Jalan Berlubang, Jelang Mudik Lebaran Harus Rampung

0
Kondisi jalan Randudongkal–Moga yang sudah dilakukan perbaikan. Foto: Ist

BETANEWS.ID, PEMALANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berkomitmen menuntaskan ribuan titik lubang di jalan provinsi sebelum arus mudik dan balik Lebaran. Langkah itu sebagai prioritas demi keselamatan pengguna jalan sekaligus penguatan konektivitas ekonomi daerah.

Hal itu ditegaskan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi usai meresmikan hasil preservasi Jalan Randudongkal–Moga dan Jalan Pemalang–Bantarbolang, Rabu (18/2/2026).

Ahmad Luthfi menjelaskan, total panjang jalan provinsi di Jawa Tengah mencapai sekitar 2.362 kilometer. Berdasarkan pendataan terbaru, terdapat 4.870 titik lubang yang kini menjadi prioritas penanganan.

Baca juga: Pemprov Jateng Luncurkan ‘Ngopeni Omah Nglakoni Sesarengan’, Strategi Ampuh Tuntaskan Masalah Hunian

“Target kami menjelang arus mudik dan balik, lubang-lubang tersebut sudah tertutup dan jalan dalam kondisi mantap. Ini menjadi komitmen kami demi keselamatan pengguna jalan,” ujarnya.

Menurut dia, pembangunan dan perbaikan infrastruktur jalan tidak semata proyek fisik, melainkan menyangkut aspek keselamatan dan perputaran ekonomi masyarakat.

“Pertama untuk keselamatan berlalu lintas. Kedua, mendukung pergerakan ekonomi karena konektivitas jalan memperlancar distribusi barang dan jasa. Ketiga, mendorong tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Ahmad Luthfi juga menegaskan pemerintah provinsi terbuka terhadap masukan dari berbagai pihak, mulai dari bupati dan wali kota hingga wartawan, serta masyarakat.

“Kami terbuka terhadap semua masukan. Apa pun yang kami lakukan ini untuk masyarakat Jawa Tengah,” tegasnya.

Dua ruas yang diresmikan merupakan jalur strategis mobilitas warga dan distribusi barang. Jalan Randudongkal–Moga memiliki panjang 4,180 kilometer dengan nilai kontrak Rp 26,32 miliar. Adapun Jalan Pemalang–Bantarbolang sepanjang 5,731 kilometer dikerjakan dengan nilai kontrak Rp 24,5 miliar.

Ahmad Luthfi berharap peresmian penggunaan dua ruas tersebut dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama dalam memperlancar arus kendaraan dan aktivitas ekonomi.

“Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, hari ini saya resmikan penggunaan hasil preservasi dua ruas jalan ini. Semoga bermanfaat bagi masyarakat,” ucapnya.

Asa, warga Desa Kecepit, mengaku merasakan dampak perbaikan Jalan Randudongkal–Moga. Ia menuturkan, sebelumnya kondisi jalan sempit dan kerap menimbulkan kemacetan, terutama saat Lebaran.

“Terima kasih Pemerintah Provinsi Jawa Tengah atas perbaikan jalan di sini. Semoga bermanfaat untuk warga sekitar,” katanya.

Suripto, warga Desa Kecepit, Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang, mengaku senang karena jalan raya di depan rumahnya tersebut akhirnya dicor dan sekarang mulus.

Pria yang membuka usaha kelontong di teras rumah tersebut mengaku sudah lama menginginkan ada pelebaran dan perbaikan jalan di depan rumahnya tersebut.

Baca juga: Gandeng Sektor Swasta, Pemprov Jateng Masifkan Gerakan Sumur Resapan Murah

“Dulu jalannya tidak selebar ini dan kondisinya berlubang. Membahayakan pengendara. Kalau hujan kondisinya payah. Sekarang alhamdulillah sudah mulus dan lebar. Dicor pula,” ungkapnya.

Senada, Panji Prayoga, warga Desa Sima, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang, pun senang kini jalan yang dilaluinya tiap hari sudah lapang dan mulus.

“Saya kerja jadi enak pulang perginya. Sekarang jalannya sudah bagus sekali. Matur nuwun Pak Gubernur,” kata Panji.

Adapun Fatimah Azahra, warga Desa Kecepit, Kecamatan Randudongkal, girang karena jalan yang dilalui bertahun-tahun algirnya diperbaiki dan kondisinya sekarang jadi seperti jalan raya. Tidak lagi sempit dan berlubang.

Tempat makan dia bekerja di sepanjang jalan raya Randudongkal juga merasakan dampaknya dari perbaikan jalan provinsi tersebut.

“Lalu lintas kendaraannya jadi lancar. Jalannya halus dan bagus. Banyak yang mampir makan ke sini. Lebaran besok mudik di sini pasti lancar laku lintasnya,” kata Azahra.

Editor:Kholistiono

- advertisement -

Bupati Imbau Puskesmas di Kudus Rujuk Pasien Hanya ke RSUD Loekmono Hadi

0
Bupati Kudus, Sam'ani Intakoris. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Loekmono Hadi Kudus diproyeksikan jadi rujukan utama di wilayah eks-Karesidenan Pati. Oleh karena itu, seluruh puskesmas di Kabupaten Kudus diimbau agar tak merujuk pasien ke rumah sakit lain.

Imbauan tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Kudus Sam’ani Intakoris saat peresmian Gedung IGD PONEK serta Gedung Stroke dan Onkologi (Fresia) RSUD dr. Loekmono Hadi, belum lama ini.

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengimbau kepada seluruh puskesmas agar merujuk pasiennya ke RSUD Loekmono Hadi. Pasalnya, rumah sakit umum tersebut milik bersama warga Kabupaten Kudus.

Baca juga: Gubernur Luthfi Tinjau Huntara Korban Tanah Gerak Tegal, Siap Dihuni Sebelum Lebaran

“Rumah sakit umum daerah ini kan milik kita bersama. Jadi puskesmas-puskesmas yang ada di Kudus ketika memberikan rujukan, langsung ke RSUD Loekmono Hadi,” ujar Sam’ani.

Menurutnya, perlu ada penyatuan persepsi untuk bersama-sama membesarkan RSUD Loekmono Hadi. Satu di antaranya, rujukan pasien dari puskesmas jangan ke rumah sakit lain.

“Selain itu, kalau terjadi persoalan misalnya terkait BPJS Kesehatan biar bisa segera ditangani oleh RSUD Loekmono Hadi,” bebernya.

Dia mengungkapkan, selama ini sebenarnya puskesmas – puskesmas di Kudus sudah banyak merujuk pasiennya ke RSUD Loekmono Hadi. Namun, masih ada sebagian yang dirujuk ke rumah sakit lain.

“Kalau bisa jangan dirujuk ke rumah sakit lain. Kalau bisa rujukan pasien dari puskesmas itu total 100 persen ke RSUD Loekmono Hadi,” tandasnya.

Baca juga: Panitia dan BRI Tegas Bantah Dugaan Jual Beli Data Pedagang Dandangan 2026, Begini Penjelasannya

Dia menyampaikan, bahwa RSUD Loekmono Hadi terus berbenah untuk pelayanan terhadap pasien. Baik dari Sumber Daya Masyarakat (SDM) maupun fasilitasnya.

Terbaru, RSUD Loekmono Hadi meresmikan gedung IGD PONEK serta Gedung Stroke dan Onkologi (Fresia). Adanya gedung tersebut, pasien stroke dan kanker tak perlu dirujuk lagi ke Semarang.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Taj Yasin Pastikan Percepatan Penutupan Tanggul Sungai Tuntang

0
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, meninjau langsung progres perbaikan tanggul Sungai Tuntang yang jebol di Desa Tinanding, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, pada Rabu (18/2/2026). Foto: Ist

BETANEWS.ID, GROBOGAN – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, meninjau langsung progres perbaikan tanggul Sungai Tuntang yang jebol di Desa Tinanding, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, pada Rabu (18/2/2026).

Kunjungan ini merupakan langkah lanjutan setelah sebelumnya Gubernur Ahmad Luthfi juga melakukan tinjauan serupa, untuk memastikan penanganan darurat berjalan optimal.

“Kemarin Pak Gubernur sudah menginstruksikan. Saya ingin memastikan pekerjaan dijalankan. Alhamdulillah, tinggal 2–3 hari lagi tanggulnya selesai,” ujarnya.

Baca juga: Wagub Jateng Tegaskan Tak Ada Kenaikan Pajak Baru 2026, Diskon Pajak Kendaran Masih Dibahas

Selain fokus pada titik yang rusak, Tak Yasin juga meminta pemerintah desa dan masyarakat aktif memantau kondisi tanggul di sepanjang aliran Sungai Tuntang.

Menurutnya, banyak bagian tanggul yang membutuhkan perawatan rutin agar tidak menimbulkan risiko baru saat curah hujan tinggi.

“Kalau ada yang membahayakan, segera dilaporkan ke kami. Nanti kami koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), supaya saat hujan tinggi, air susulan tidak mengakibatkan jebol lagi,” tegasnya.

Ia menambahkan, penanganan kali ini tidak semata memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi, tetapi juga langkah antisipatif di seluruh bentang tanggul.

“Saat ini kita tidak hanya menangani yang jebol, tetapi juga sepanjang tanggul Kali Tuntang akan kita antisipasi semuanya,” katanya.

Terkait kondisi warga terdampak, Taj Yasin menyampaikan bahwa kebutuhan logistik relatif aman.

Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Alam (OP SDA) IV BBWS Pemali Juana, Heri Santoso, menyebutkan bahwa pihaknya telah memobilisasi sembilan alat berat untuk mempercepat penutupan tanggul di dua titik jebol.

“Per hari ini kami memobilisasi sembilan alat berat di dua lokasi. Titik pertama sekitar lima alat, terdiri satu dozer dan empat ekskavator. Titik kedua empat ekskavator. Kami juga menambah satu alat kecil untuk normalisasi saluran irigasi di kaki tanggul,” ungkap Heri.

Menurutnya, target penutupan tanggul diproyeksikan selesai dalam 3 hari, setelah itu akan dilakukan penguatan tanggul dalam waktu 7 hari.

“Insyaallah hari Jumat selesai penutupan, setelah itu dilakukan penguatan dengan bronjong,” jelasnya.

BBWS juga terus melakukan pengawasan debit air, mengingat cuaca masih tergolong ekstrem. Pengendalian aliran Sungai Tuntang dilakukan melalui titik kontrol sesuai prosedur operasional standar (SOP).

Baca juga: Gandeng Sektor Swasta, Pemprov Jateng Masifkan Gerakan Sumur Resapan Murah

“Untuk Sungai Tuntang ada dua titik kontrol poin, salah satunya di Bendung Gelapan. Debit air yang masuk berasal dari Bancak maupun Rawapening. Rawapening bisa ditutup sementara, tetapi debit terbesar sebenarnya dari Bancak, yang belum memiliki kontrol poin buka-tutup debit,” terangnya.

Ia menegaskan, kondisi cuaca menjadi faktor krusial dalam pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

“Cuaca sangat berpengaruh pada kegiatan di Sungai Tuntang,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Tanggul Sungai Tuntang jebol pada Senin, 16 Februari 2026, mengakibatkan jalur provinsi Semarang-Grobogan terputus.

Sebelumnya, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Jateng akan memasang jembatan armco dalam satu pekan agar jalan raya bisa dilalui kembali.

Editor:Kholistiono

- advertisement -

Diperiksa Polisi, Begini Pengakuan Oknum Pimpinan Ponpes yang Diduga Cabuli Santrinya

0
Kasat Reskrim Polres Jepara, AKP M. Faizal Wildan Umar Rela. Foto: Umi Nurfaizah.

BETANEWS.ID, JEPARA– Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Jepara sudah memanggil oknum pimpinan salah satu pondok pesantren (ponpes) di Kabupaten Jepara yang diduga melakukan tindakan pencabulan terhadap santrinya sendiri.

Kasat Reskrim Polres Jepara, AKP M. Faizal Wildan Umar Rela mengatakan, terduga pelaku sudah dipanggil untuk dimintai klarifikasi.

“Terduga pelaku sudah kami klarifikasi, tapi masih melakukan penolakan, tidak pernah melakukan itu,” ungkap AKP Wildan pada Betanews.id, Kamis (19/2/2026).

Akan tetapi, untuk terduga, saat ini belum ditahan karena masih dalam tahap penyelidikan. Selain memanggil terduga pelaku, Wildan mengatakan, pihaknya juga sudah memanggil empat orang saksi. Yaitu korban, ibu korban, saudara korban, dan teman korban.

Baca juga: Ajak Damai, Pimpinan Ponpes di Jepara yang Diduga Cabuli Santrinya Pernah Tawari Uang hingga Tanah ke Korban

Hasil visum dari rumah sakit, saat ini juga sudah keluar. Wildan mengatakan, untuk tahap selanjutnya, pihaknya akan melakukan pemeriksaan kepada dokter yang mengeluarkan hasil visum.

“Hasil visum sudah kami dapatkan, rencana tindak lanjut kami akan melakukan pemeriksaan kepada dokter yang mengeluarkan hasil visum dan apabila alat bukti yang kami terima sudah cukup akan kami naikkan ke tahap penyidikan,” bebernya.

Wildan mengatakan kasus itu saat ini menjadi perhatian khusus. Terlebih kasus itu sudah menjadi perhatian masyarakat di media sosial. Ia juga mengimbau kepada masyarakat untuk bersabar selama pihaknya melakukan proses penyelidikan.

“Iya, jadi atensi khusus. Kami menghimbau masyarakat untuk bersabar terkait penanganan kasus ini, kami juga tidak gegabah dalam melakukan penyelidikan,” ujarnya.

Baca juga: Gudang Berisi Tembakau di Kudus Terbakar, Kerugian Ditaksir Miliaran Rupiah

Sebagai informasi, sebagaimana diberitakan sebelumnya kasus itu baru terungkap dan diketahui oleh pihak keluarga korban pada tanggal 24 Juli 2025 lalu.

Kasus itu pertama kali diketahui oleh adik korban yang juga menjadi santri di ponpes itu. Saat itu adik korban tidak sengaja melihat isi percakapan korban dengan terduga pelaku. Adik korban kemudian melapor kepada orang tuanya.

Mengetahui anaknya menjadi korban pencabulan, orang tua korban kemudian memboyong korban beserta tiga adiknya. Sebelum akhirnya dilaporkan ke pihak kepolisian, keluarga korban dan terduga pelaku sudah sempat bertemu, namun mediasi gagal menemui kesepakatan.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Berkat GPS, Mobil Biduan Jepara yang Digondol Maling Berhasil Ditemukan

0
Kasat Reskrim Polres Jepara, AKP M. Faizal Wildan Umar Rela menyerahkan kunci mobil kepada korban. Foto: Umi Nurfaizah.

BETANEWS.ID, JEPARA– Masyarakat Kabupaten Jepara dihebohkan dengan pencurian mobil milik seorang penyanyi dangdut atau biduan. Beruntungnya, berbekal pelacakan melalui GPS, mobil itu kini berhasil kembali dan pelaku juga sudah diamankan.

Kasat Reskrim Polres Jepara, AKP M Faizal Wildan Umar Rela mengatakan, peristiwa pencurian itu terjadi pada Senin, (16/2/2026) lalu sekitar pukul 03.00 WIB di rumah kediaman korban. Yakni, Ratna Dwi Annisa (43) atau dikenal dengan nama panggung Moza Paloza, warga Desa Slagi, Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara.

Adapun tersangka yaitu RK (45), Warga Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat dan ML (46), Warga Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara.

Baca juga: Ajak Damai, Pimpinan Ponpes di Jepara yang Diduga Cabuli Santrinya Pernah Tawari Uang hingga Tanah ke Korban

“Dua orang tersangka berhasil kita amankan kemarin (Selasa, 17/2/2026) saat membawa kabur mobil curian di daerah Pemalang,” kata Wildan saat menggelar Konferensi Pers di Kantor Satreskrim Polres Jepara, Rabu (18/2/2026).

Wildan melanjutkan, dua orang tersangka tersebut merupakan residivis dengan kasus yang sama.

Adapun kronologinya, dua tersangka itu sebelumnya berkeliling di sekitar area rumah milik korban. Setelah menemukan target, mereka kemudian masuk ke dalam rumah korban dengan mencongkel jendela samping rumah menggunakan pahat dan obeng.

“Setelah berhasil masuk, tersangka tidak hanya membawa kunci mobil tapi juga membawa empat buah handphone milik korban,” katanya.

Peristiwa itu baru diketahui, saat suami korban tiba-tiba terbangun dan melihat pintu kamarnya dalam kondisi terbuka serta kunci mobil yang digantung di bagian belakang pintu tidak ada.

Suami korban kemudian mengecek mobil yang diparkir di halaman rumah juga sudah dibawa kabur.

Baca juga: Gudang Berisi Tembakau di Kudus Terbakar, Kerugian Ditaksir Miliaran Rupiah

“Mengetahui mobilnya hilang, suami korban yang merupakan pelapor mau memberi tahu orang tua, tapi handphonenya ternyata ikut diambil,” jelasnya.

Adapun barang bukti yang berhasil diamankan yaitu surat keterangan leasing, empat buah dusbox Hp, satu obeng, satu pahat, satu pakaian hoodie warna abu-abu, satu sepeda motor milik tersangka, dan satu buah mobil merek Honda HRV warna merah milik korban.

Akibat perbuatannya, dua orang tersangka itu kini kembali terancam hukuman pasal 477 Bagian 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 dengan ancaman hukuman penjara maksimal sembilan tahun.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Pencarian Orang yang Diduga Hanyut di Sungai Gelis Masih Dilakukan, Tim SAR Gabungan Dikerahkan

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Proses pencarian terhadap Sumantri (53), warga Desa Jurang RT 1 RW 6, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, yang diduga terpeleset dan hanyut di Sungai Gelis, masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan, Kamis (19/2/2026).

Operasi SAR (Opsar) kembali dilanjutkan sejak pukul 08.00 WIB setelah sebelumnya dihentikan sementara pada Rabu (18/2/2026) malam akibat derasnya arus sungai, cuaca kurang mendukung, serta minimnya pencahayaan di lokasi kejadian.

Kabid Kedaruratan Logistik BPBD Kudus, Any Wilianti mengatakan, pihaknya mengerahkan tim gabungan untuk melakukan penyisiran di sekitar titik terakhir korban beraktivitas.

“Kita melakukan operasi pencarian warga Jurang atas nama Sumantri. Diduga korban terpeleset saat mengambil atau panen jagung. Proses pencarian mulai dilakukan kemarin dan hari ini dilanjutkan,” bebernya.

Baca juga: Diduga Terpeleset saat Panen Jagung, Warga Jurang Kudus Hilang di Sungai Gelis

Tim SAR gabungan terdiri dari BPBD Kudus, Polsek Gebog, Koramil Gebog, serta relawan dari FRPB, LPBI NU, MDMC, MED-A, BAGANA, BKPB PP, dan warga sekitar.

Penyisiran difokuskan di sepanjang aliran Sungai Gelis, termasuk area tebing dan titik yang diduga menjadi lokasi korban terpeleset.Pencarian dilakukan secara manual dengan menyusuri bantaran sungai hingga ke hilir.

Tim juga melakukan pemantauan di sejumlah titik rawan pusaran air yang berpotensi menjadi lokasi korban tersangkut.

Sebelumnya, korban dilaporkan hilang setelah sepeda motor miliknya ditemukan terparkir di tepi tebing Sungai Gelis sekitar pukul 17.50 WIB. Warga yang curiga kemudian melakukan pencarian awal, namun korban tidak ditemukan sehingga laporan diteruskan ke perangkat desa dan pihak kepolisian.

Menurut keterangan warga, korban diduga terpeleset saat bolak-balik mengangkut hasil panen jagung menggunakan dua karung dan melintasi jembatan kecil yang kondisinya miring.

Hingga kini, tim SAR masih terus melakukan pencarian dan berkoordinasi dengan warga setempat untuk memperluas area penyisiran. Proses opsar akan terus dilanjutkan sesuai perkembangan di lapangan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan arus Sungai Gelis.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Diduga Terpeleset saat Panen Jagung, Warga Jurang Kudus Hilang di Sungai Gelis

0
Tim SAR gabungan sedang melakukan pencarian orang hilang yang diduga hanyut di Sungai Gelis. Foto: Kaerul Umam.

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang warga Desa Jurang RT 1 RW 6, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, dilaporkan hilang diduga hanyut di Sungai Gelis, Rabu (18/2/2026) petang. Korban diketahui bernama Sumantri, berusia 53 tahun.

Kejadian itu bermula sekitar pukul 17.50 WIB saat seorang tetangga korban, Joko (48), menemukan sepeda motor milik korban jenis Yamaha Vega bernomor polisi K 4369 RT terparkir di tepi tebing Sungai Gelis menjelang Magrib. Merasa curiga karena sepeda motor tidak kunjung diambil, ia kemudian mencari keberadaan korban di ladang jagung yang berada di sekitar sungai.

Namun, hingga dilakukan pencarian awal, korban tidak ditemukan di lokasi. Kejadian tersebut kemudian dilaporkan ke perangkat desa dan pihak kepolisian.

Baca juga: Gudang Berisi Tembakau di Kudus Terbakar, Kerugian Ditaksir Miliaran Rupiah

Saat itu, rumah korban dalam keadaan sepi. Istri korban, Lis Suryani, tengah berada di rumah sakit menunggui anaknya yang sedang sakit. Keluarga juga telah menghubungi sejumlah kerabat, namun korban tidak berada di kediaman saudara.

Kabid Kedaruratan Logistik BPBD Kudus, Any Wilianti mengatakan, pihaknya langsung melakukan operasi SAR setelah menerima laporan orang hilang.

“Kita melakukan operasi pencarian warga Jurang atas nama Sumantri. Diduga korban terpeleset saat mengambil atau panen jagung,” katanya saat ditemui di sela-sela pencarian korban, Kamis (19/2/2026).

Tim SAR gabungan yang terdiri dari BPBD Kudus, Polsek Gebog, Koramil Gebog, serta sejumlah relawan dari FRPB, LPBI NU, MDMC, MED-A, BAGANA, BKPB PP dan warga sekitar, mulai melakukan penyisiran sekitar pukul 21.00 WIB tadi malam.

Namun, derasnya arus Sungai Gelis, kondisi cuaca yang kurang mendukung, serta minimnya pencahayaan membuat operasi pencarian dihentikan sementara pada pukul 23.20 WIB. Opsar dilanjutkan kembali pada Kamis (19/2/2026) pukul 08.00 WIB.

Seorang warga Dukuh Sungging RT 2 RW 6 Desa Jurang, Hariyanti mengungkapkan, korban diduga terpeleset saat bolak-balik mengambil jagung hasil panen di ladang dekat sungai.

“Motornya masih terparkir sampai setengah enam sore. Dikira cuma sebentar, tapi kok tidak diambil-ambil. Warga lalu mencari ke rumahnya, ternyata kosong karena istrinya berada di rumah sakit,” tuturnya.

Baca juga: Soal Pengurugan Jalan dengan Uang Pribadi, Kades Karangrowo: “Yang Diurug Warga Itu Jalan Kabupaten”

Ia menyebut, korban sebelumnya sempat mengangkut jagung dua karung. Diduga saat hendak mengambil muatan kedua, korban melewati jembatan kecil yang kondisinya miring.

“Kemungkinan kepleset di jembatan itu. Warga sudah mencari sampai ke arah hilir, tapi belum ketemu,” tambahnya.

Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan dengan menyusuri aliran Sungai Gelis dan titik-titik yang diduga menjadi lokasi korban terpeleset.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Gubernur Luthfi Tinjau Huntara Korban Tanah Gerak Tegal, Siap Dihuni Sebelum Lebaran

0
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meninjau lokasi pembangunan Hunian Sementara (Huntara) bagi warga terdampak bencana tanah gerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Rabu (18/2/2026). Foto: Ist

BETANEWS.ID, TEGAL – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meninjau lokasi pembangunan Hunian Sementara (Huntara) bagi warga terdampak bencana tanah gerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Rabu (18/2/2026).

Huntara ini akan dibangun di atas lahan bengkok milik Pemerintah Desa Capar. Awalnya lahan yang disiapkan seluas 121.820 meter persegi, namun berdasarkan rekomendasi teknis Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, area yang dinyatakan aman untuk dimanfaatkan seluas 42.720 meter persegi.

Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum, Affi Triato, melaporkan, jadwal pelaksanaan pembangunan huntara tercatat mulai 15 Februari 2026 hingga 15 Maret 2026.

Baca juga: Pemprov Jateng Kebut Perbaikan Jalan, Jelang Mudik Lebaran Dipastikan Mantap

“Lahan tersebut direncanakan dapat digunakan untuk kurang lebih 500 unit huntara tipe 24/36 dari total 900 rumah yang terdampak,” ujarnya.

Rencananya, huntara ini terbagi menjadi beberapa blok hunian. Berdasarkan data di papan proyek, total direncanakan 456 unit hunian sementara yang tersebar dalam 38 blok. Setiap blok terdiri atas 2 hingga 5 unit bangunan modular.

Dipaparkan Affi, pembangunan huntara menggunakan konsep Modular Lite yakni sistem konstruksi prefabrikasi inovatif yang lebih ringan, ringkas, dan praktis. Bangunan tersebut dirancang untuk pemasangan cepat tanpa memerlukan alat berat.

Adapun fasilitas penunjang (PSU) yang disiapkan meliputi jalan lingkungan, drainase, air bersih, sanitasi, penerangan jalan umum (PJU), serta fasilitas sosial berupa masjid atau mushola.

“Pembangunan masih tahap perataan lahan, dengan target seluruh unit siap huni sebelum Lebaran,” kata Affi.

Sementara itu, Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi menekankan agar huntara tidak hanya sekadar tempat tinggal sementara, tetapi benar-benar layak dan mengurangi beban psikologis warga.

“Saya ingin fasilitas umum di huntara ini dibuat detail dan manusiawi. Kalau perlu, bukan hanya fasilitas dasar, tetapi juga mesin cuci bersama, agar warga tidak semakin terbebani,” tegasnya.

Ia menilai warga yang kehilangan rumah tidak boleh kembali menghadapi kesulitan baru di tempat pengungsian.

“Jangan sampai mereka sudah kehilangan rumah, lalu ditempatkan di hunian sementara dengan banyak kekurangan,” ujarnya.

Luthfi juga meminta pendataan penghuni dilakukan secara cermat, terutama bagi keluarga rentan seperti perempuan kepala keluarga atau keluarga yang ditinggal merantau.

“Kita harus memilah keluarga yang benar-benar rentan. Saat pemindahan dari pengungsian ke huntara, datanya harus jelas supaya tidak menimbulkan persoalan sosial,” katanya.

Baca juga: Wagub Jateng Tegaskan Tak Ada Kenaikan Pajak Baru 2026, Diskon Pajak Kendaran Masih Dibahas

Selain percepatan huntara, Luthfi meminta agar perencanaan hunian tetap (huntap) segera disusun karena masa transisi tidak boleh terlalu lama.

“Segera siapkan rencana hunian tetap. Prinsipnya, huntap harus membuat warga mandiri, bukan sekadar memindahkan mereka,” ujarnya.

Menurutnya, pembangunan hunian tetap harus mempertimbangkan mata pencaharian dan kondisi sosial ekonomi warga, agar kehidupan mereka dapat pulih secara berkelanjutan.

Sebagai informasi, bencana tanah gerak yang terjadi di daerah tersebut pada 2 Februari 2026 itu mengakibatkan sekitar 900 rumah terdampak dan ratusan kepala keluarga harus mengungsi. Pemerintah menyiapkan huntara sebagai solusi transisi sebelum pembangunan hunian tetap.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Dua Mobil Polres Jepara Disulap Jadi Dapur Umum Selama Ramadan

0
Mobil boks milik Polres Jepara disulap jadi dapur umum selama Ramadan ini. Foto: Umi Nurfaizah.

BETANEWS.ID, JEPARA – Kepolisian Resor (Polres) Jepara menyulap dua mobil boks menjadi dapur umum lengkap dengan segala peralatan untuk memasak. Dua mobil berwarna biru bertuliskan mobil dapur umum Polres Jepara itu juga disiapkan untuk berbagai kegiatan selama Ramadan.

Dalam soft openingnya yang dibarengkan dengan sosialisasi tentang Taman Kanak-kanak Kemala Bhayangkari, ibu-ibu bhayangkari Polres Jepara memasak langsung di tempat.

Menu nasi goreng, kerupuk dan susu formula langsung dibagikan kepada anak-anak dan warga yang melintas di Alun-alun Jepara 1.

Kasi Humas Polres Jepara, AKP Dwi Prayitna mengatakan, dapur umum ini sebenarnya tidak secara khusus disiapkan untuk bulan Ramadan. Tetapi, mobil itu disiagakan untuk membantu masyarakat apabila terjadi bencana.

Baca juga: Melihat dari Dekat Tradisi Tabuh Bedug Dandangan Sebagai Penanda Awal Ramadan

Hanya saja, karena peresmian ini bersamaan dengan momentum Ramadan, maka dapur umum itu akan difungsikan untuk memasak berbagai menu takjil dan akan dibagikan kepada masyarakat.

“Untuk jangka pendek, mobil dapur umum ini akan disiapkan untuk bagi-bagi takjil kepada masyarakat. Sedangkan untuk jangka panjangnya, disiagakan untuk kebutuhan mendesak, seperti ketika ada bencana alam,” jelas AKP Dwi pada Rabu, (18/2/2026).

Kehadiran mobil dapur umum itu disambut antusias oleh masyarakat. Para pengendara yang melintas di alun-alun, maupun warga yang sedang bersantai di sana, langsung menyerbu mobil unik milik Polres Jepara itu. Ratusan paket makanan dan minuman ludes dalam waktu kurang dari satu jam.

Dengan hadirnya mobil dapur umum itu, lanjut AKP Dwi, Polres Jepara berharap akan memberikan manfaat kepada seluruh lapisan masyarakat. Terutama bagi mereka yang membutuhkan. Seperti ketika masyarakat sedang dilanda bencana alam.

“Kami berharap inovasi ini dapat memberikan manfaat nyata kepada masyarakat. Inovasi ini juga diniatkan dengan semangat berbagi antar sesama,” pungkas AKP Dwi.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Melihat dari Dekat Tradisi Tabuh Bedug Dandangan Sebagai Penanda Awal Ramadan

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Sejumlah orang mengenakan baju putih serta ikat kepala terlihat berbondong-bondong menempati tempat yang sudah di sediakan di area Menara Kudus, Rabu (18/2/2026) sore. Tak lama kemudian tampak rombongan berjalan kaki menuju sebuah bangunan untuk menabuh bedug yang berada di atas Menara tersebut.

Acara itu merupakan sebuah acara Tabuh Bedug Dandangan sebagai penanda ataupun peristiwa pengumuman jatuhnya awal bulan Ramadan tahun ini. Tradisi turun temurun dari Kanjeng Sunan Kudus itu masih dilestarikan dan dijaga hingga sekarang.

Pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, Ahmad Arinal Haq menyampaikan, dulu setiap akhir bulan Sya’ban Kanjeng Sunan Kudus selalu mengumumkan jatuhnya awal bulan Ramadhan kepada santri maupun masyarakat sekitar Menara Kudus, dengan tabuh bedug. Maka dari itu tradisi itu kita jaga hingga kini.

Baca juga: 523 Jiwa di Brebes Terdampak Tanah Gerak, Gubernur Luthfi Pastikan Percepatan Penanganan

“Mengumumkannya dari dulu memang di atas menara. Masyarakat berbondong-bondong menyaksikan pangumuman tersebut, dan masyarakat berjualan di sekitaran menara menjelang puasa,” katanya.

Tidak hanya pengumuman secara lisan, Kata dia, pengumuman yang dilakukan adalah menabuh bedug di Menara Kudus itu berbunyi Ndang-ndang, hingga tradisi tersebut kini dinamakan tradisi Dandangan. Hal itu dilakukan setiap setahun sekali, untuk memberi tahu kepada santri maupun masyarakat sekitar.

Sekertaris Daerah Kabupaten Kudus, Revlisianto Subekti yang mewakili Bupati Kudus dalam sambutannya menyampaikan, bahwa agama dan budaya di Kabupaten Kudus merupakan dua hal yang saling berkaitan serta saling mengingatkan. Dua hal tersebut menunjukan bahwa itu merupakan jati diri Kudus yang selalu menjunjung tinggi toleransi antarberagama.

“Tabuh Bedug Dandangan ini bagian dari panggilan untuk berbenah diri dengan membersihkan diri, menjaga hati, serta meningkatkan ketaqwaan dan keimanan diri. Dan doa yang dipanjatkan sebagai wujud syukur kepada Allah SWT,” jelasnya.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus turut memberi apresiasi setinggi-tingginya dan berterimakasih kepada pihak yayasan yang telah melestarikan budaya setiap tahunnya.

Salah satu pengunjung, Tasya Kurnianingsih (19) mengaku pertama kalinya datang untuk melihat tradisi tabuh bedug tersebut. Awalnya, ia berniat untuk datang ke Dandangan, namun karena ada prosesi Tabuh Bedug Dandangan ia bersama temannya sengaja datang ke sana karena penasaran.

“Kesannya ya unik, karena baru pertama kali ini melihat tradisi ini,” kata warga Besito, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus itu.

Baca juga: Resepsi HPN 2026 di Kudus, Insan Pers Didorong Perkuat Verifikasi di Tengah Gempuran AI

Senada dengan Tasya, Gozali yang datang dari Semarang mengaku terkesan dengan adanya tradisi itu. Menurutnya, selain Menara Kudus sebagai bangunan yang ikonik Kota Kretek, tabuh bedug yang dilaksanakan di Menara itu sebagai penanda awal Ramadan 1447 Hijriah.  

“Sangat berkesan ya, karena ini momentum satu tahun dalam sekali,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Panitia dan BRI Tegas Bantah Dugaan Jual Beli Data Pedagang Dandangan 2026, Begini Penjelasannya

0

BETANEWS.ID, KUDUS– Gelaran Tradisi Dandangan 2026 di Kabupaten Kudus diterpa isu miring. Tradisi tahunan menyambut bulan suci Ramadan itu dikabarkan menjadi ajang jual beli data pedagang kepada Bank BRI untuk pembukaan rekening tanpa izin.

Menanggapi kabar tersebut, Pimpinan Cabang BRI Kudus, Yudiarto, membantah keras adanya praktik jual beli data. Ia menegaskan, kehadiran BRI dalam Dandangan semata untuk memfasilitasi pedagang melalui sistem pembayaran digital QRIS guna mempermudah transaksi.

“Tidak benar ada jual beli data. Kami di BRI memfasilitasi pedagang dengan QRIS untuk mempermudah transaksi, itu pun sudah dengan persetujuan nasabah dan kerja sama dengan panitia,” ujar Yudiarto di salah satu resto Kudus, Rabu (18/2/2026).

Baca juga: UMKM Kudus Didorong Manfaatkan KUR, Hindari Jeratan Pinjol

Ia menjelaskan, sebagian besar pedagang sebenarnya sudah memiliki rekening, baik di BRI maupun bank lain. Bagi pedagang yang belum memiliki rekening BRI, pembukaan rekening dilakukan atas persetujuan yang bersangkutan dan tetap melalui tahapan aktivasi.

“Kalau belum punya rekening memang dibuatkan, tapi tetap perlu approval nasabah. Kalau tidak setuju, tidak akan ditindaklanjuti. Aktivasi juga harus melalui proses, misalnya lewat BRImo,” tegasnya.

Sementara itu, Panitia Penyelenggara Tradisi Dandangan Kudus 2026, Anjas Pramono, menyebut isu yang beredar sebagai bentuk kesalahpahaman. Ia memastikan tidak ada praktik penjualan data ratusan pedagang kepada pihak bank.

“Kalau jual beli, tentu data semua pedagang. Faktanya tidak seperti itu. Jadi isu jual beli data, sangat tidak berdasar,” ujar Anjas.Menurutnya, Dandangan 2026 menampung sekitar 520 tenda dengan kurang lebih 400 pedagang terdaftar. Program QRIS diterapkan sebagai upaya mendorong kemudahan transaksi sekaligus meningkatkan literasi keuangan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

“Penerapan QRIS itu sesuai arahan dari pemerintah guna digitalisasi pembayaran. Tujuannya, agar UMKM Kudus bisa naik kelas,” jelasnya.

Ia menegaskan, seluruh proses pendataan dan fasilitasi pembayaran digital dilakukan secara transparan dan atas persetujuan masing-masing pedagang. Bahkan sebagian pedagang sangat antusias.Hingga saat ini, lanjutnya, tercatat 216 QRIS telah didistribusikan kepada pedagang. Pada hari terakhir pendistribusian, ada tambahan sekitar 18 QRIS yang siap dibagikan setelah melalui proses validasi.

“Prosesnya tidak instan. Ada validasi 1×24 jam hingga maksimal 2×24 jam, termasuk approval dari Bank Indonesia sebelum QRIS dicetak dan dibagikan kepada pedagang,” ungkapnya.

Terkait munculnya notifikasi pembukaan rekening yang sempat dipersoalkan salah satu pedagang, ia menyebut kemungkinan terjadi miskomunikasi saat proses pendataan di lapangan. Serta, rekening tersebut tidak serta merta langsung aktif.

“Tetapi harus ada aktifasi lagi. Masih ada tahapan verifikasi dan persetujuan ulang. Dan, tim kami sebelumnya sudah bertemu dengan pedagang tersebut. Jadi tidak benar, jika tiba-tiba ada notifikasi pembukaan rekening,” tandasnya.

Dia berharap, adanya klarifikasi ini masyarakat tidak terprovokasi isu yang belum tentu kebenarannya serta tetap mendukung digitalisasi UMKM dalam Tradisi Dandangan Kudus 2026.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Wagub Jateng Tegaskan Tak Ada Kenaikan Pajak Baru 2026, Diskon Pajak Kendaran Masih Dibahas

0
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS-Warga Provinsi Jawa Tengah (Jateng) resah adanya informasi kenaikan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) yang naik sangat signifikan. Adanya informasi tersebut, muncul ajakan di berbagai platform media sosial untuk tidak membayar pajak kendaraan sampai ada pemutihan.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Taj Yasin Maimoen, menegaskan tidak ada kenaikan pajak baru pada tahun 2026. Ia menjelaskan, kebijakan yang belakangan dipersoalkan masyarakat merupakan dampak penerapan aturan lama yang mulai diberlakukan efektif pada 2025.

Menurutnya, dasar kebijakan tersebut mengacu pada Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 2022 tentang hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah yang mengatur mekanisme opsen pajak. Namun, regulasi itu tidak bisa langsung diterapkan pada tahun tersebut karena harus menunggu peraturan presiden serta ditindaklanjuti dengan peraturan daerah (Perda).

Baca juga: Jelang Ramadan 2026, Pertamina Tambah 1,1 Juta Gas Melon di Jateng dan DIY

“Tidak ada kenaikan di tahun 2026. Undang-undangnya memang sudah ada sejak 2022, tetapi pelaksanaannya harus menunggu Perpres dan Perda. Perda di Jawa Tengah baru selesai 2024, sehingga mulai berlaku Januari 2025,” ujar Taj Yasin saat ditemui usai meninjau sumur resapan di Lapangan Gondosari, Kudus, Rabu (18/2/2026).

Ia mengungkapkan, pada 2025, masyarakat sebenarnya sudah terdampak penyesuaian tarif. Namun, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah saat itu memberikan dua kompensasi berupa diskon dan penghapusan denda atau pemutihan pajak sehingga beban kenaikan tidak terlalu dirasakan.

“Tahun lalu sebenarnya sudah ada kenaikan, tetapi karena ada diskon dan pemutihan, masyarakat tidak terlalu merasakan,” katanya.

Saat ini, Pemprov Jateng melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait masih membahas besaran diskon pajak kendaraan bermotor (PKB) yang akan diberlakukan. Opsi yang mengemuka di antaranya diskon 5 persen, setelah sebelumnya diskon 13 persen dinilai cukup membebani APBD.

“Diskon 13 persen kemarin cukup menjadi beban APBD. Sekarang muncul wacana 5 persen, tapi masih dalam pembahasan. Kami cari jalan tengah agar masyarakat ringan, tapi pembangunan tetap jalan,” jelasnya.

Baca juga: Baru Awal 2026, Investasi Emas Warga Kudus Tembus 4,8 kilogram

Taj Yasin juga meminta masyarakat menunggu keputusan resmi pemerintah dan tidak terprovokasi ajakan yang berpotensi mengganggu stabilitas penerimaan daerah. Ia menegaskan, penerimaan dari sektor PKB telah dihitung dalam struktur APBD kabupaten/kota untuk mendukung berbagai program pembangunan 2025.

“Kalau penerimaan terganggu, banyak program bisa terkendala. Sistem opsen ini juga sudah diperhitungkan oleh kabupaten/kota dalam penyusunan anggaran mereka,” tegasnya.

Ia menambahkan, penyesuaian pajak bukan hanya terjadi di Jawa Tengah, melainkan juga di sejumlah provinsi lain sebagai bagian dari implementasi regulasi nasional. Keputusan final terkait besaran diskon akan diumumkan setelah pembahasan rampung.

Editor: Kholistiono

- advertisement -