BETANEWS.ID,KUDUS-Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan derasnya arus informasi digital dinilai menjadi tantangan serius bagi dunia pers saat ini. Di tengah situasi tersebut, insan pers diminta semakin memperketat proses verifikasi dan validasi sebelum menyampaikan informasi kepada publik.
Pesan itu disampaikan Komandan Kodim (Dandim) 0722/Kudus, Letkol Arh Yuusufa Allan Andriasie, dalam resepsi dan sarasehan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Kudus, Senin (16/2/2026) malam.Kegiatan yang berlangsung di Rumah Dinas Wakil Bupati Kudus tersebut dipandu moderator Ali Bustomi dan menghadirkan dua pembicara, yakni Letkol Arh Yuusufa serta anggota DPRD Kudus, Kholid Mawardi.
Baca juga:Pemprov Jateng Kebut Perbaikan Jalan, Jelang Mudik Lebaran Dipastikan Mantap
Dalam paparannya, Dandim menegaskan, bahwa pers memiliki posisi strategis sebagai salah satu unsur pendukung ketahanan nasional. Ia menilai, media berperan besar dalam membentuk opini publik, menjaga stabilitas, hingga mencegah potensi konflik sosial.
Menurutnya, kerja jurnalistik dalam menghimpun data dan mengolah informasi memiliki kemiripan dengan fungsi intelijen. Pengalaman yang pernah ia peroleh saat belajar jurnalistik di Filipina turut memperkaya pandangannya terhadap peran media.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa teknologi AI juga berpotensi disalahgunakan untuk memproduksi informasi yang bias atau manipulatif.
“Kalau teknologi itu dipakai untuk memutarbalikkan fakta, tentu sangat berbahaya. Di sinilah pentingnya verifikasi dan validasi,” tegasnya.
Ia berharap, insan pers tetap berdiri di garis depan dalam menghadirkan informasi yang akurat sekaligus berkontribusi terhadap stabilitas bangsa.
“Saya mengajak jurnalis dan seluruh elemen yang hadir untuk menjadi pejuang bangsa, menyajikan fakta yang valid dan membangun,” ujarnya.
Sementara itu, pembicara lainnya, Kholid Mawardi, menyoroti dinamika media di era digital yang menurutnya semakin kompleks. Mantan aktivis pergerakan 1998 tersebut menyebut, perubahan lanskap informasi membuat media harus bekerja lebih keras menjaga eksistensi dan kredibilitasnya.
Ia menekankan bahwa kritik tetap menjadi bagian penting dalam sistem demokrasi. Namun, tantangan muncul ketika media arus utama harus bersaing dengan derasnya arus informasi di media sosial.
“Tanpa kritik, demokrasi tidak sehat. Tapi hari ini media juga menghadapi tekanan besar dari perkembangan media sosial,” katanya.
Kholid menambahkan, saat ini hampir setiap orang dapat menjadi penyebar informasi. Kondisi itu membuat peran pers profesional semakin krusial dalam menyaring dan memastikan kebenaran data.
“Ketika manipulasi informasi terjadi, insan pers punya tanggung jawab turun langsung melakukan pengecekan,” ujarnya.
Ia juga menyinggung dilema yang kerap dihadapi perusahaan media, yakni menjaga independensi redaksi sekaligus mempertahankan keberlangsungan usaha.
“Keseimbangan antara idealisme redaksi dan kebutuhan bisnis tidak mudah. Di situlah tantangan media sekarang,” imbuhnya.
Ketua PWI Kudus, Saiful Annas, menjelaskan bahwa resepsi dan sarasehan tersebut merupakan rangkaian puncak peringatan HPN 2026 di Kabupaten Kudus. Menurutnya, forum diskusi ini membuka ruang refleksi bagi insan pers dalam melihat jurnalisme dari berbagai perspektif.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, Kapolres Kudus, jajaran pejabat daerah, aktivis mahasiswa, serta para tamu undangan yang turut hadir.
Anas berharap momentum HPN kali ini semakin memperkuat komitmen pers untuk menyajikan informasi yang akurat, mempererat kolaborasi dengan pemerintah, sekaligus menangkal penyebaran informasi manipulatif di tengah masyarakat.
Editor: Kholistiono

