Beranda blog Halaman 44

Sempat Tertunda, Gaji Ratusan Guru dan Tendik PPPK Paruh Waktu di Kudus Dipastikan Cair Sebelum Lebaran

0
Ilustrasi

BETANEWS.ID, KUDUS – Kabar baik datang bagi ratusan guru dan tenaga kependidikan (tendik) yang berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu di Kabupaten Kudus. Gaji yang sempat tertunda sejak Januari 2026 dipastikan akan dibayarkan sebelum Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriyah.

Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah (Setda) Kudus, Dwi Agung Hartono mengatakan, pemerintah daerah telah menyiapkan skema pembayaran agar gaji yang tertunda selama tiga bulan bisa segera dicairkan. Hal tersebut disampaikan usai rapat koordinasi bersama Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) serta para kepala SD dan SMP di Gedung Pusat Belajar Guru (PBG) Kudus, Jumat (6/3/2026).

“Kami upayakan gaji yang belum diterima sejak Januari sampai Maret ini bisa diselesaikan. Selambat-lambatnya 16 sampai 17 Maret 2026 sudah bisa dibayarkan, sehingga mereka menerima gaji tiga bulan sekaligus,” tuturnya.

Agung menjelaskan, keterlambatan pembayaran gaji terjadi karena adanya kendala regulasi terkait penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dalam aturan tersebut, dana BOS APBN tidak diperbolehkan digunakan untuk membayar honor Aparatur Sipil Negara (ASN).

Sebagai solusi, pemerintah daerah akan menggunakan dana BOS yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Kudus untuk membayar gaji para guru dan tendik PPPK paruh waktu tersebut.

Baca juga: Tak Dapat Nafkah Lahir, Guru PPPK di Kudus Gugat Cerai

“Gaji merupakan belanja wajib yang harus dipenuhi karena itu adalah hak mereka setelah menjalankan tugas. Maka akan segera kita bayarkan, tergantung juga dari pengajuan masing-masing sekolah,” jelasnya.

Ia mengimbau pihak sekolah untuk segera mengajukan pencairan dana agar proses pembayaran bisa dilakukan lebih cepat.

“Semakin cepat sekolah mengajukan, maka semakin cepat pula gaji bisa diterima,” tambahnya.

Besaran gaji yang diterima para guru dan tenaga kependidikan PPPK paruh waktu bervariasi, mulai dari sekitar Rp1 juta hingga Rp3,8 juta per bulan.

Setelah pembayaran gaji yang tertunda hingga Maret selesai, penyaluran gaji untuk bulan berikutnya diharapkan dapat berjalan normal setiap bulan. Anggaran untuk pembayaran tersebut rencananya akan dimasukkan dalam APBD Perubahan Kabupaten Kudus Tahun 2026.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Dasar pada Disdikpora Kudus, Anggun Nugroho menyebut, total kebutuhan anggaran gaji bagi PPPK paruh waktu di sekolah mencapai sekitar Rp15,1 miliar untuk 1.039 guru dan tenaga kependidikan di jenjang SD dan SMP.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 219 guru dan 246 tenaga kependidikan telah menerima gaji sejak Januari hingga Maret 2026 karena sebelumnya sudah masuk dalam skema pendanaan BOS yang bersumber dari APBD.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Cari Cuan Jelang Lebaran, Warga Kudus Malah Terancam 15 Tahun Penjara, Ini Sebabnya

0
Kasatreskrim Polres Kudus AKP Kanzi Fathan menunjukkan barang bukti. Foto: IRabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Niat hati meraup untung di momen jelang Lebaran, seorang warga Dukuh Gondang, Desa Ternadi, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus justru harus berhadapan dengan hukum. Pria berinisial DA terancam pidana hingga 15 tahun penjara karena memproduksi dan menjual petasan yang dilarang oleh pemerintah.

Kasatreskrim Polres Kudus AKP Kanzi Fathan mengatakan, pengungkapan kasus tersebut bermula dari laporan masyarakat yang curiga dengan aktivitas pembuatan petasan di rumah pelaku. Informasi itu kemudian ditindaklanjuti oleh petugas Satreskrim Polres Kudus.

“Pada tanggal 26 Februari 2026 sekitar pukul 11.00 WIB, petugas melakukan penangkapan terhadap pelaku di rumahnya,” ujar AKP Kanzi saat konferensi pers di Mapolres Kudus belum lama ini.

Dari hasil pemeriksaan, pelaku mengaku sudah memproduksi sekaligus menjual petasan sejak sekitar satu tahun terakhir. Aktivitas tersebut biasanya meningkat setiap memasuki bulan Ramadan hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri.

“Petasan yang diproduksi kemudian dijual melalui media sosial. Setelah terjadi kesepakatan harga, pembeli datang langsung ke rumah pelaku untuk mengambil barang,” jelasnya.

AKP Kanzi mengungkapkan, satu petasan dijual oleh pelaku dengan harga Rp 18 ribu. Selain itu, pelaku juga menjual klongsongan petasan atau petasan tanpa bahan peledak dengan harga Rp 6 ribu per buah.

Baca juga: RSUD Kudus Terapkan Tarif Parkir Progresif, Begini Alasannya

Saat penggerebekan dilakukan, petugas turut mengamankan sejumlah barang bukti dari lokasi. Di antaranya 34 petasan siap ledak, 100 klongsongan petasan, sumbu petasan, timbangan digital, serta satu unit telepon genggam yang digunakan untuk transaksi penjualan.

“Atas perbuatannya tersebut, pelaku dikenakan Pasal 306 Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) terkait kepemilikan dan penjualan bahan peledak yang dilarang negara,” ungkapnya.

Menurut AKP Kanzi, ancaman hukuman yang menjerat pelaku tidak main-main. Jika terbukti bersalah, pelaku terancam pidana penjara hingga 15 tahun.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak memproduksi maupun memperjualbelikan petasan, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran. Selain melanggar hukum, penggunaan petasan juga berpotensi membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang lain.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuat atau menjual petasan. Selain melanggar hukum, bahan peledak seperti ini juga sangat berbahaya dan dapat mengancam keselamatan,” tegas AKP Kanzi.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Antisipasi Peredaran Uang Palsu, Polres Kudus Sidak Jasa Penukarang Uang

0
Polisi melakukan sidak di lokasi jasa penukaran uang. Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Kepolisian Resor Kudus meningkatkan pengawasan di sejumlah titik jasa penukaran uang menjelang Hari Raya Idulfitri. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi peredaran uang palsu yang rawan terjadi saat aktivitas transaksi tunai meningkat.

Patroli digelar di beberapa lokasi yang setiap tahun menjadi pusat jasa penukaran uang baru, seperti kawasan Jalan Sunan Kudus hingga Alun-Alun Simpang Tujuh. Kehadiran aparat kepolisian bertujuan menjaga situasi tetap aman sekaligus meminimalkan peluang beredarnya uang palsu di tengah masyarakat.

Kasat Samapta Polres Kudus AKP Noor Alifi mengatakan kegiatan tersebut merupakan langkah preventif guna memberikan rasa aman bagi warga yang melakukan penukaran uang.

“Kami melakukan patroli sekaligus pemantauan langsung di lapangan. Tujuannya untuk mengantisipasi peredaran uang palsu serta memberikan edukasi kepada masyarakat agar lebih waspada,” ujar AKP Alifi belum lama ini.

Dari hasil pengecekan sementara, lanjutnya, petugas belum menemukan indikasi adanya uang palsu di lokasi jasa penukaran yang dipantau. Meski demikian, pihak kepolisian tetap meningkatkan kewaspadaan karena transaksi uang tunai biasanya melonjak menjelang Lebaran.

Baca juga: Imajinasi Reformasi Jilid-ll Menggema di UMK, Ratusan Mahasiswa Antusias Ikut Diskusi

AKP Alifi juga mengingatkan masyarakat untuk memahami cara sederhana mengenali keaslian uang melalui metode 3D. Yakni dilihat, diraba, dan diterawang.

“Cara tersebut dapat membantu masyarakat memastikan ciri-ciri keamanan pada uang rupiah,” jelasnya.

Selain itu, kata dia, para pelaku jasa penukaran uang untuk lebih berhati-hati karena aktivitas mereka memiliki potensi kerawanan cukup tinggi. Hal ini disebabkan transaksi yang dilakukan umumnya melibatkan uang tunai dalam jumlah besar.

“Untuk mendukung keamanan, Polres Kudus juga menyediakan layanan pengawalan gratis bagi pelaku usaha penukaran uang. Masyarakat yang membutuhkan pengamanan dapat menghubungi petugas di pos polisi terdekat atau melalui layanan darurat 110,” imbuhnya.

Salah satu penyedia jasa penukar uang yakni, Wulan Novianti mengaku senang ada patroli dari Polres Kudus. Menurutnya, tindakan tersebut bisa memberikan rasa aman bagi dirinya dan pelaku usaha lain.

“Tadi uang kami dicek untuk.memastikan tak ada yang palsu. Kami tadi juga diimbau, kalau butuh pengamanan atau bantuan untuk menghubungi 110 atau pos polisi terdekat,” ujarnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Upaya Pemprov Jateng Menjaga Ketahanan Pangan Jelang Lebaran

0

BETANEWS.ID,  SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga ketahanan pangan menjelang Lebaran 2026.

Berbagai upaya telah dilakukan seperti operasi pasar, gerakan pangan murah, sampai penyaluran subsidi distribusi bahan pokok penting. Intervensi tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak terkait.

“Bahan pokok penting ini sangat krusial. Beras kita surplus, beberapa komoditas juga surplus. Untuk harga saat ini yang terpantau naik adalah cabai, kita sudah siapkan langkah intervensi dan penetrasi harga,” kata Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi saat menerima kunjungan kerja Reses Komisi VI DPR RI masa persidangan III tahun sidang 2025-2026 di Hotel Tentrem, Kota Semarang, Jumat (6/3/2026).

Pertemuan tersebut membahas terkait kesiapan Jawa Tengah dalam menghadapi perayaan idulfitri 1447 Hijriah. Terutama terkait ketahanan pangan dan kesiapan pelayanan publik perbankan.

Luthfi mengatakan, pemetaan secara komprehensif telah dilakukan agar Jawa Tengah siap menghadapi arus mudik dan perayaan idulfitri. Mulai dari kesiapan sarana prasarana, ketahanan pangan, hingga pemantapan pelayanan publik di berbagai sektor, termasuk ketersediaan pasokan energi.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Adisatrya Suryo Sulisto mengatakan, kesiapan terkait ketahanan pangan dan pelayanan perbankan sangat penting untuk menghadapi lalu-lalang mudik selama hari raya idulfitri. Maka dari itu, dalam Reses kali ini juga dihadirkan Bulog, ID Food, serta bank-bank himbara seperti BRI, Mandiri, BNI, dan BTN.

“Kami ingin mendengar tentang ketahanan pangan serta persiapan berbagai komoditas untuk masyarakat, ini kaitannya dengan harga bahan pokok penting yang wajar. Untuk perbankan tentu kesiapan terkait likuiditas selama hari raya idulfitri, jangan sampai masyarakat kesulitan,” katanya.

Sementara itu, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Kementerian Perdagangan, Iqbal Shoffan Shofwan mengatakan, sejumlah barang kebutuhan pokok relatif aman dan cukup untuk memenuhi kebutuhan sampai tiga bulan ke depan, termasuk selama idulfitri. Namun masih ada komoditas di bawah pasokan normal, sehingga menjadi penyebab tingginya harga komoditas tersebut, yaitu cabai rawit merah.

“Harga kebutuhan pokok di Jawa Tengah sangat bagus, tidak ada yang melebihi dari HET, hanya satu yaitu cabai rawit merah. Terima kasih Pak Gubernur telah menjaga harga kebutuhan pokok di Jawa Tengah yang sangat kondusif,” jelasnya.

Iqbal menambahkan, sudah ada komitmen terkait distribusi barang ke kebutuhan pokok untuk ramadan dan idulfitri dilakukan lebih awal. Hal itu dilakukan karena ada informasi dari BMKG bahwa ada anomali cuaca dengan curah hujan tinggi hingga akhir Maret 2026.

“Komitmen ini sudah dilakukan sejak rapat koordinasi pada akhir Januari lalu,” katanya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

RSUD Kudus Terapkan Tarif Parkir Progresif, Begini Alasannya

0
Gedung RSUD Loekmono Hadi Kudus. Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus telah mengenakan tarif progresif untuk parkir Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Loekmono Hadi. Hal tersebut guna mengantisipasi adanya pemarkir selundupan.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris menyampaikan, selama ini banyak orang yang numpang parkir di RSUD Loekmono Hadi, padahal mereka bukan dari keluarga pasien. Sehingga, kendaraan tersebut malah memenuhi area parkir, tanpa punya kepentingan di rumah sakit.

“Oleh karena itu, parkir RSUD Loekmono Hadi bakal dikenakan tarif progresif. Hal ini untuk mencegah yang tidak berkepentingan, tidak parkir di rumah sakit,” ujar Sam’ani di Pendopo Kudus belum lama ini.

Tarif parkir progresif adalah, sistem biaya parkir yang meningkat berdasarkan lamanya waktu parkir. Umumnya, menggunakan tarif sama pada satu atau dua jam pertama, kemudian ada kelipatan harga per jam setelahnya.

Disinggung tarif parkir progresif bakal memberatkan keluarga pasien, Sam’ani menuturkan bakal ada pembedaan. Keluarga pasien nantinya bakal diberikan tanda agar tak terkena tarif progresif.

Baca juga: PO New Shantika Siapkan 50 Armada untuk Mudik dan Arus Balik Lebaran 2026

“Nanti keluarga pasien bisa diberi stiker atau tanda lainnya biar beda dengan orang parkir di RSUD tapi tak ada kepentingan,” sebutnya.

Sam’ani mengungkap, selama ini banyak orang janjian titik temunya itu di RSUD Loekmono Hadi. Datang dengan dua kendaraan, tapi yang satu diparkir di RSUD dan kemudian pergi ke tempat tujuan dengan satu kendaraan.

“Ketika nanti diterapkan parkir progresif hal bagitu tentu bakal berkurang. Sebab, jika tidak mereka akan terkena tarif parkir yang berlipat,” tandasnya.

Sementara itu direktur RSUD Loekmono Hadi, dr Mustiko Wibowo mengatakan, tarif progresif sudah diterapkan pada pekan kedua Februari 2026. Terkait tarifnya tentu lebih murah dari pada parkir rumah sakit tipe B lainnya di Kudus.

“Harapannya dengan penerapan tarif progresif, pelayanan parkir di RSUD Loekmono Hadi lebih optimal kepada pelanggan,” ujarnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Jumlah Pemudik pada Lebaran Tahun Ini Diprediksi Turun hingga 30 Persen

0
Bus milik PO New Shantika sedang menjalani persiapan untuk mengangkut pemudik dari Jabodetabek. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Perusahaan Otobus (PO) New Shantika memprediksi jumlah penumpang pada arus mudik Lebaran 2026 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 30 persen.

Manajer Operasional PO New Shantika, Hartotok Priyo Wiyono mengatakan, hingga pertengahan bulan Ramadan, tingkat pemesanan tiket bus masih relatif rendah. Mengaca tahun lalu, di pertengahan Ramadan, pesanan tiket mudik biasanya bisa sampai 70-80 persen.

“Biasanya saat ini (pertengahan puasa) pemesanan tiket sudah mencapai sekitar 70 sampai 80 persen dari kapasitas bus. Namun saat ini belum sampai 50 persen,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya kondisi ekonomi yang dinilai belum stabil. Selain itu, beberapa kejadian bencana serta berkurangnya jumlah pekerja perantauan juga turut memengaruhi tingkat mobilitas masyarakat saat musim mudik.

Baca juga: PO New Shantika Siapkan 50 Armada untuk Mudik dan Arus Balik Lebaran 2026

“Kalau dilihat dari kondisi saat ini memang ada penurunan sekitar 30 persen dibandingkan tahun lalu,” jelasnya.

Meski demikian, PO New Shantika tetap mempersiapkan armada untuk melayani kebutuhan masyarakat yang akan pulang ke kampung halaman. Pada puncak arus mudik, perusahaan tersebut menargetkan mampu melayani sekitar 1.000 penumpang setiap harinya dari wilayah barat, khususnya Jabodetabek menuju Kudus, Jepara, Pati, dan Kembang.

Priyo menambahkan, pihaknya tetap melakukan berbagai persiapan untuk memastikan perjalanan mudik berlangsung aman dan nyaman bagi para penumpang. Armada yang disiapkan juga telah melalui pengecekan teknis serta kesiapan kru sebelum diberangkatkan.

Dengan berbagai persiapan tersebut, PO New Shantika berharap, pelayanan kepada masyarakat tetap optimal meskipun terjadi penurunan jumlah penumpang pada musim mudik tahun ini.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Konflik Timur Tengah Memanas, Pemerintah Terus Pantau Kondisi Pekerja Migran Asal Jateng

0
Gubernur Ahmad Luthfi bersama Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) Dzulfikar Ahmad Tawalla. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG — Gubernur Ahmad Luthfi bersama Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) terus memantau kondisi pekerja migran Indonesia (PMI) dari Jawa Tengah, yang berada di kawasan Timur Tengah.

Pantauan secara intensif tersebut dilakukan menyusul eskalasi konflik di wilayah tersebut dalam beberapa waktu terakhir.

Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Dzulfikar Ahmad Tawalla mengatakan, komunikasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di wilayah negara Timur Tengah sudah dilakukan sejak hari pertama kondisi geopolitik di sana memanas.

“Kita sudah lakukan komunikasi, kita pantau terus pergerakannya,” katanya usai bertemu Ahmad Luthfi di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kamis (5/3/2026)

Selain itu, nomor hotline juga sudah disebar di kalangan pekerja migran dan warga Indonesia yang sedang berada di wilayah Timur Tengah. Nomor tersebut dapat dihubungi sewaktu-waktu oleh para pekerja migran Indonesia (PMI).

“Prinsipnya, negara selalu hadir dalam setiap perubahan eskalasi yang ada di Timur Tengah,” jelasnya.

Disinggung terkait apakah ada warga asal Jawa Tengah maupun Indonesia yang terjebak di sekitar wilayah konflik, Dzulfikar belum dapat memastikan. Sebab, saat ini masih dilakukan pendataan dan menunggu laporan dari teman-teman pekerja migran di Timur Tengah.

Baca juga: Warga Sragen Kini Nikmati Infrastruktur Jalan Provinsi yang Layak

“Sekarang ini kan selain pekerja migran, ada juga jemaah umroh. Sejauh ini ya, kalau kita lihat komposisinya pasti sejauh ini aman terkendali,” ujarnya.

Sementara itu selama pertemuan dengan Wakil Menteri P2MI, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi juga menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk ikut menjaga dan menjamin keamanan dan keselamatan pekerja migran Indonesia, khususnya yang berasal dari Jawa Tengah.

Pemantauan yang dilakukan saat ini merupakan salah satu bentuk komitmen tersebut, bahkan jika situasi mendesak Pemprov Jateng siap mengambil langkah untuk memulangkan warganya. Tentu saja berkolaborasi dengan KP2MI dan Kementerian Luar Negeri.

Selain terkait dampak eskalasi konflik, pantauan dan upaya perlindungan kepada pekerja migran asal Jawa Tengah juga terus dilakukan. Misalnya, ketika ada pekerja migran yang terkena masalah atau berangkat tidak sesuai prosedur, Pemprov Jateng langsung berkoordinasi untuk upaya pamulangan. Sebagaimana dilakukan belum lama ini terhadap belasan orang dari total sekitar 50an PMI yang bermasalah di negara tempat bekerja.

“Kalau perlu kami pulangkan, maka akan kami lakukan,” ujar Ahmad Luthfi saat berdialog dengan Dzulfikar.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Perbaikan Jalan Amblas di Guwosobokerto Jepara Dikebut Jelang Lebaran Idulfitri

0
Proses perbaikan jalan amblas di Desa Guwosobokerto, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara. Foto: Umi Nurfaizah.

BETANEWS.ID, JEPARA– Perbaikan jalan amblas di Desa Guwosobokerto, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara terus dikebut menjelang Lebaran Idulfitri.

Kepala Bidang Bina Marga pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Jepara, Dimas Hanantio mengatakan, pengerjaan perbaikan jalan amblas dikebut agar pada saat lebaran Idul Fitri nanti, ruas jalan tersebut bisa dilewati oleh warga masyarakat. Terutama kendaraan roda empat.

Sebab di sebagian sisi, jalan yang amblas hampir di seluruh bagian badan jalan. Sehingga, ruas jalan itu hanya bisa dilewati kendaraan roda dua.

Pengerjaan jalan amblas tersebut menurutnya sudah mulai dilakukan sekitar 10 hari yang lalu.

“Jalan amblas di Guwosobokerto saat ini sudah kita tangani. Diusahakan sebelum lebaran sudah selesai, andaikan belum selesai minimal sudah bisa dilewati,” katanya melalui sambungan telepon, Jumat (6/3/2026).

Dimas menjelaskan, untuk penanganan jalan yang amblas dan retak, pihaknya sudah melakukan pengerukan untuk mengetahui penyebab amblasnya jalan.

Baca juga: Penanganan Jalan Amblas di Guwosobokerto Jepara Masih Tunggu Hasil Kajian

Setelah dilakukan penggalian sedalam kurang lebih satu meter, kondisi subgrade atau bagian lapisan tanah paling dasar yang berada di bawah perkerasan jalan menurut Dimas dalam kondisi baik.

“Karena kondisi subgradenya masih baik, jalan yang sudah digali kita tutup kembali menggunakan LPA (Lapis Pondasi Agregat) secara berlapis dan kita tutup menggunakan lapensheet,” jelasnya.

Berdasarkan penuturan warga, Dimas mengatakan, ruas jalan itu sudah tiga kali ini mengalami amblas dan retak.

Kejadian pertama yaitu pada tahun 2024 pada saat terdapat proyek normalisasi dan peninggian tanggul Sungai SWD II yang dilakukan oleh BBWS Pemali Juana.

Saat itu penanganan perbaikan jalan sudah dilakukan oleh BBWS Pemali Juwana berupa peninggian aspal pada jalan yang amblas.

Kedua, yaitu tahun 2025, lokasi jalan itu kembali amblas. Saat itu penanganan dilakukan oleh DPUPR Kabupaten Jepara melalui pemeliharaan rutin atau klinik jalan.

Di tahun ini, ruas jalan itu kembali amblas sekitar awal bulan Februari lalu. Panjang jalan yang amblas yaitu sekitar 70 meter dengan kedalaman sekitar 50 sentimeter.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Warga Sragen Kini Nikmati Infrastruktur Jalan Provinsi yang Layak

0
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi saat meresmikan peningkatan dan preservasi jalan ruas Kuwu–Galeh hingga Galeh–Ngrampal di Kabupaten Sragen, Rabu (4/3/2026). Foto: Ist

BETANEWS.ID, SRAGEN – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus menyempurnakan kondisi infasrtruktur jalan di wilayahnya, guna mendukung mobilitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah.

“Kalau infrastrukturnya baik, konektivitas wilayah juga meningkat. Bahkan, ekonomi masyarakat juga ikut bergerak,” kata Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi saat meresmikan peningkatan dan preservasi jalan ruas Kuwu–Galeh hingga Galeh–Ngrampal di Kabupaten Sragen, Rabu (4/3/2026).

Dikatakan dia, pembangunan infrastruktur jalan menjadi salah satu prioritas pemerintah provinsi Jateng, karena berperan penting dalam mendukung mobilitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah.

“Jalan ini kita bangun bukan sekadar fisiknya, tetapi agar pergerakan orang dan barang bisa berjalan dengan lancar dan aman,” ujarnya.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur jalan juga menjadi bagian dari upaya membuka pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah.

Sebagai informasi, proyek peningkatan jalan ruas Kuwu–Galeh tersebut nilai kontraknya mencapai Rp8,509 miliar, dengan panjang pembangunan mencapai 0,557 kilometer. Penanganan mencakup perkerasan beton, pelebaran dan perkerasan aspal dua lapis, pembangunan saluran drainase, hingga pemasangan marka jalan.

Selain itu juga dilakukan preservasi ruas Galeh–Ngrampal sepanjang 1,613 kilometer dengan nilai kontrak Rp11,991 miliar, yang meliputi perkerasan beton, pelebaran jalan, overlay aspal, serta pembangunan bangunan pelengkap jalan.

Baca juga: Jateng Jadi Motor MBG Nasional, Capaian Sasarannya Sentuh 96,98 Persen

Ruas jalan tersebut memiliki nilai strategis karena menjadi jalur alternatif yang menghubungkan wilayah Gesi dan Tanon di Kabupaten Sragen dengan Kradenan di Kabupaten Grobogan. Wilayah ini dikenal sebagai kawasan pertanian dengan komoditas utama seperti padi, jagung, dan tebu.

Selain itu, jalur Galeh–Ngrampal juga menjadi akses menuju Exit Tol Sragen Timur di wilayah Pungkruk, sehingga diharapkan dapat memperlancar distribusi hasil pertanian masyarakat.

Salah seorang warga Kabupaten Sragen, Joko Mulyono mengaku, menyambut baik pembangunan jalan tersebut. Perbaikan jalan ini telah lama dinantikan masyarakat.

“Kami sampaikan terima kasih atas dibangunnya jalan ruas Kuwu–Galeh sampai Ngrampal ini. Ini seperti mimpi. Dulu orang naik sepeda saja susah lewat sini, sekarang jalannya sudah mulus seperti jalan nasional,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Sragen Sigit Pamungkas menyampaikan terima kasih atas dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam pembangunan infrastruktur di daerahnya.

“Terima kasih atas prioritas yang diberikan oleh Bapak Gubernur untuk membangun jalan Kuwu–Galeh sampai Ngrampal. Ini mimpi panjang bagi warga di wilayah ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Sragen juga terus mengalokasikan anggaran untuk pembangunan infrastruktur daerah.

“Tahun ini Kabupaten Sragen mengalokasikan lebih dari Rp80 miliar untuk pembangunan infrastruktur,” kata Sigit.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Gubernur Ahmad Luthfi Bantah Pernyataan Bupati Pekalongan Fadia Arafiq

0
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi kaget saat namanya disebut-sebut oleh Bupati Pekalongan Fadia Arafiq saat dilakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Fadia menyebut, bahwa saat OTT KPK, dirinya sedang bersama Gubernur Jawa Tengah. Pernyataan Fadia itu tegas dibantah oleh Gubernur Ahmad Luthfi. Hal itu diperkuat pernyataan KPK melalui Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu saat konferensi pers bersama wartawan.

Ahmad Luthfi menuturkan dirinya baru mendengar Fadia terkena OTT KPK dari berita pada Selasa, 3 Maret 2026 pagi.

“Saya malah baru tahunya pas Selasa Pagi dari media,” kata Ahmad Luthfi, Rabu 4 Maret 2026.

Ketika ditanya perihal kata-kata Fadia yang menyatakan pada Senin (2/3/2026) malam datang di kediaman Ahmad Luthfi, ia membenarkan. Namun ia menegaskan, bahwa pertemuan itu tak hanya mereka berdua melainkan ada sejumlah pejabat. Di antaranya Bupati Tegal dan Wakil Bupati Purbalingga. Mereka membahas progres Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah masing-masing jelang Rakor MBG di Pemprov Jateng pada Selasa siang tanggal 3 Maret 2026.

Pada rakor MBG di Pemprov Jateng itu diketahui di pimpin oleh Menko Pangan Zulkifli hasan dan dihadiri Mendikdasmen, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), hingga Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).

Pada Senin malam, lanjut Luthfi, Fadia juga menyampaikan izin untuk tidak bisa mengikuti Rakor MBG di Pemprov Jateng tersebut.

“Senin malam itu saya ada acara buka bersama teman-teman Anshor. Setelah itu Bupati Pekalongan, Tegal dan Wakil Bupati Purbalingga laporan progres MBG. Kemudian Bu Fadia minta izin ndak bisa ikut Rakor pada hari Selasa bersama Pak Menteri. Setelah selesai, masing-masing pulang,” jelas Luthfi.

Baca juga: Genjot Investasi, Pemprov Jateng Siap Pasok Energi Baru Terbarukan di Kawasan Industri Batang

Lebih jauh, Ahmad Luthfi menyampaikan bahwa kejadian ini menjadi pembelajaran bagi seluruh bupati dan wali kota. Apalagi Pemprov Jateng telah bekerjasama dengan KPK untuk melakukan pencegahan tindak pidana korupsi.

Pemprov Jateng bekerjasama dengan Korsupgah KPK telah memberikan pengarahan pada kepala daerah hingga anggota DPRD. Tak hanya itu, saat peringatan Hari Korupsi Dunia, mereka juga telah diperingatkan jangan sampai melakukan penyimpangan anggaran.

Tindakan preemtif juga dilakukan. Lantaran kejadian itu bisa jadi bermula dari adanya kesempatan dan niat yang tidak baik.

Gubernur menekankan bahwa kejadian ini adalah pembelajaran bagi semua kepala daerah, termasuk ASN untuk terus menciptakan pemerintahan yang bersih dan baik. Paling penting lagi, tak boleh melanggar hukum. Pejabat publik, tegasnya, harus menjadi suri tauladan karena menurutnya “ikan busuk itu berawal dari kepalanya”. Kepala daerah wajib memberikan contoh yang baik.

Ia juga berpesan, kepala daerah tak boleh bergaya hidup hedon dan flexing harta maupun aset yang dimiliki. “Harus jadi contoh yang baik, Dengan cara apa? Ya birokrasi yang sehat, bersih dan sesuai rule of law,” tandasnya.

Sementara itu, saat jumpa pers, KPK membantah anggapan Bupati Fadia tertangkap bersama Gubernur Jateng.

“Selama kami di Posko, tidak ada informasi itu. Di posko itu kami komunikasi terus dengan petugas yang di lapangan,” kata Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu.

Sebelumnya, beredar pernyataan Bupati Arafiq setelah tertangkap KPK bahwa saat itu ia sedang bersama Gubernur Ahmad Luthfi. Banyak yang mengartikan, Fadia ditangkap bersama Ahmad Luthfi. Pernyataan KPK dan Gubernur ini sekaligus membantah pernyataan Fadia.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Buruh Jepara Desak Pemkab Segera Realisasikan Daycare di Perusahaan

0
Aktivitas buruh di salah satu perusahaan di Jepara. Foto: Umi Nurfaizah.

BETANEWS.ID, JEPARA– Serikat buruh di Kabupaten Jepara mendesak kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara agar kebutuhan daycare atau tempat penitipan anak di perusahaan bisa segera terealisasi.

Ketua Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Jepara Raya, Yopi Priambudi mengatakan, ketersediaan daycare di perusahaan sangat dibutuhkan terutama oleh para ibu yang bekerja sebagai buruh atau karyawan di perusahaan.

Terlebih rata-rata perusahaan di Jepara lebih banyak menerima karyawan perempuan dibanding laki-laki. Sehingga hal tersebut turut berdampak pada tingginya angka perceraian di Kabupaten Jepara.

“Kami meminta agar daycare di perusahaan ini segera direalisasikan. Karena kesejahteraan ini tidak hanya upah, tapi daycare ini juga bagian dari kesejahteraan buruh,” katanya melalui sambungan telepon, Kamis (5/3/2026).

Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Jepara Nomor 5 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Pembangunan Ketahanan Keluarga menurutnya juga mengamanatkan adanya daycare di perusahaan.

Baca juga: Jelang Mudik Lebaran 2026, Bupati Kudus Targetkan 99 Persen Lubang Jalan Tertambal

Menanggapi hal tersebut, Bupati Jepara, Witiarso Utomo mengatakan, akan mendukung realisasi program daycare di perusahaan. Ia juga akan pro aktif berkomunikasi dengan perusahaan-perusahaan untuk merealisasikan program nasional daycare tersebut.

“Nanti akan kita datangi semua perusahaan dan kita sampaikan program nasional daycare ini. Ini juga bertujuan untuk mencegah stunting serta menyiapkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.

Ia melanjutkan Teknis pelaksanaan (juknis) nantinya akan segera dirapatkan kembali, termasuk memanggil manajemen perusahaan guna membahas implementasi program tersebut. Skema yang dirancang akan mengedepankan kolaborasi antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja.

“Kita akan support penuh untuk daycare ini. Tahun ini kita usahakan sudah berdiri semua daycare. Ini adalah investasi jangka panjang untuk menyiapkan SDM unggul dalam rangka mewujudkan Indonesia Emas 2045, sekaligus menjalankan amanah undang-undang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Oplos Gas Subsidi, Warga Kudus Terancam 6 Tahun Penjara

0
Kapolres Kudus Heru Dwi Purnomo menunjukkan barang bukti. Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang warga Desa Prambatan Kidul, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus terancam pidana dan denda Rp 60 miliar. Pasalnya, pria berinisial HS (48) tersebut kedapatan memindahkan isi gas elpiji 3 kilogram bersubsidi ke tabung 12 kilogram non-subsidi untuk dijual kembali demi meraup keuntungan.

Kapolres Kudus Heru Dwi Purnomo mengatakan, kasus ini terungkap pada 11 Februari 2026. Berawal dari laporan warga, polisi kemudian melakukan pengecekan di lokasi yang dicurigai menjadi tempat praktik pengoplosan gas.

“Anggota melakukan pengecekan pada 11 Februari 2026 sekitar pukul 11.00 WIB dan mendapati adanya aktivitas pemindahan isi tabung elpiji 3 kilogram bersubsidi ke tabung 12 kilogram non-subsidi,” kata AKBP Heru saat gelar perkara di Mapolres Kudus, Kamis (5/3/2026).

Baca juga: Disnaker Kudus Bakal Buat Posko Aduan THR

Lokasi praktik ilegal tersebut berada di garasi rumah milik tersangka. Saat digerebek, pelaku sedang melakukan proses pemindahan gas menggunakan alat suntik khusus.

“Dari lokasi kejadian, polisi menyita sejumlah barang bukti. Di antaranya delapan alat suntik gas, satu kantong plastik berisi segel tabung warna kuning, satu timbangan elektronik, serta satu unit kipas angin yang digunakan saat proses pemindahan gas,” bebernya.

Selain itu, lanjutnya, petugas juga mengamankan puluhan tabung gas. Terdiri dari sekitar 100 tabung elpiji 3 kilogram bersubsidi dan 20 tabung elpiji 12 kilogram non-subsidi yang telah diisi ulang.

“Polisi juga menyita satu unit mobil Daihatsu Grand Max tahun 2015 yang digunakan pelaku untuk mengangkut gas,” sebutnya.

Menurut Heru, pelaku memperoleh tabung elpiji 3 kilogram dalam jumlah banyak dari para pengecer. Gas tersebut kemudian dipindahkan ke tabung 12 kilogram sebelum dijual kembali kepada pelanggan.

“Gas hasil pemindahan ini dijual ke sejumlah warung makan dan toko lontong di wilayah Kudus dan Pati,” jelasnya.

Dari hasil pemeriksaan sementara, kata Kapolres, pelaku mengaku telah menjalankan praktik tersebut selama sekitar satu setengah bulan. Seluruh proses pengoplosan dilakikan seorang diri tanpa melibatkan karyawan.

Baca juga: Angin Kencang di Kudus Tumbangkan Pohon di Belasan 15 Titik

“Motif pelaku diduga murni untuk mencari keuntungan. Setiap tabung elpiji 12 kilogram yang berhasil diisi gas bersubsidi bisa memberikan keuntungan sekitar Rp40 ribu,” jelasnya.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 55 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi yang telah diperbarui melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja.

“Ancaman hukumannya tidak main-main. Pelaku terancam pidana penjara maksimal enam tahun serta denda paling tinggi Rp60 miliar,” ungkapnya.

Kapolres Kudus mengimbau masyarakat untuk tidak menyalahgunakan gas LPG bersubsidi karena peruntukannya ditujukan bagi masyarakat kecil. Selain merugikan negara, praktik seperti ini juga berpotensi membahayakan keselamatan warga.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Kandang Ayam Dekat Sekolah Tuai Penolakan, SD di Mejobo Khawatir Ganggu KBM dan Kesehatan Siswa

0
Gedung SDN 5 Mejobo. Foto: Kaerul Umam.

BETANEWS.ID, KUDUS – Keberadaan kandang ayam petelur yang dibangun di dekat lingkungan sekolah di Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, menuai penolakan dari pihak sekolah dan warga. Kandang tersebut berada tepat di sebelah timur dengan jarak sekitar lima meter dari kompleks sekolah dasar (SD) 5 Mejobo, sehingga dikhawatirkan mengganggu kegiatan belajar mengajar (KBM) serta kesehatan siswa.

Kepala SD 5 Mejobo, Nur Cholis mengatakan, pihak sekolah awalnya mengetahui pembangunan kandang ayam tersebut dari pihak komite sekolah. Lokasi kandang berada di sebelah timur SD 5 Mejobo dan jaraknya sangat dekat sekitar 5 meter dengan sekolah.

“Awalnya kami tahu dari komite sekolah bahwa di sebelah timur sekolah ada pembangunan kandang ayam. Jaraknya hanya sekitar lima meter dari sekolah,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan kandang ayam berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sekolah. Selain mengganggu proses KBM, keberadaan kandang tersebut juga dikhawatirkan menimbulkan bau serta risiko kesehatan bagi siswa.

Di sekitar lokasi tersebut terdapat beberapa lembaga pendidikan, yakni SD 5 Mejobo, SD 1 Mejobo, serta TK Pertiwi.

Baca juga: Terancam Badai PHK, Buruh Rokok Kudus Tolak Penerapan Layer Baru SKM dan Aturan Nikotin

“Kami khawatir ini mengganggu proses belajar mengajar dan berdampak pada kesehatan siswa,” jelasnya.

Atas kondisi tersebut, pihak sekolah bersama guru kemudian sepakat menyampaikan keberatan kepada pihak desa setempat. Surat penolakan resmi dilayangkan ke desa.

Sekitar sepekan setelah surat tersebut dikirim, pihak sekolah dipanggil oleh pemerintah desa untuk mengikuti mediasi bersama pemilik usaha kandang ayam tersebut.

Dalam pertemuan itu, pemilik usaha awalnya berencana mengisi kandang dengan 1.000 ekor ayam petelur. Namun setelah adanya keberatan dari sekolah dan warga, jumlah tersebut sempat diturunkan menjadi 500 ekor.

“Kami tetap menolak, berapapun jumlahnya, karena lokasinya terlalu dekat dengan sekolah,” tegasnya.

Meski demikian, kandang yang tak disetujui berbagai pihak tersebut kini telah diisi ayam petelur. Pihak sekolah mengaku baru mengetahui bahwa kandang tersebut ternyata sudah diisi ayam petelur.

“Baru kemarin kami tahu ternyata kandang itu sudah diisi ayam,” ungkapnya.

Pihak sekolah bersama warga berencana melaporkan persoalan tersebut kepada dinas terkait agar mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SD 1 Mejobo, Lilik Subandriyo, mengaku baru mengetahui adanya kandang ayam tak jauh dari sekolahannya setelah mendapat informasi dari pihak SD 5 Mejobo.

“Baru tahu hari ini setelah diberi tahu kepala SD 5 Mejobo. Kalau memang mengganggu lingkungan, tentu kami juga keberatan,” ujarnya.

Kepala Desa mejobo, Sueb Jamaludin saat dikonfirmasi tak ada jawaban. Baik saat dikonfirmasi melalui telepon beberapa kali tidak menjawab, bahkan panggilan sempat ditolak. Namun beberapa menit kemudian, Sueb mengirim pesan melalui WhatsApp.

“WA riyen njeh,” katanya.

Baca juga: Jelang Mudik Lebaran 2026, Bupati Kudus Targetkan 99 Persen Lubang Jalan Tertambal

Namun saat dimintai keterangan soal keberadaan kandang ayam dekat dengan lingkungan sekolah di wilayahnya, Sueb hingga kini tak ada jawaban

Menanggapi hal tersebut, Camat Mejobo, Amin Rahmad mengatakan, pihak kecamatan sudah menerima informasi terkait pembangunan kandang ayam tersebut dan telah berkoordinasi dengan pemerintah desa.

“Dari desa sudah ada komunikasi dengan warga. Ada yang setuju dan ada juga yang menolak,” jelasnya.

Ia menyebut saat dilakukan pengecekan sebelumnya kandang ayam belum beroperasi, namun bangunan dan fasilitasnya sudah siap digunakan.

Pihaknya juga memastikan akan terus memantau perkembangan di lapangan. Jika nantinya keberadaan kandang ayam menimbulkan gangguan bagi lingkungan sekitar, langkah lanjutan akan dilakukan bersama unsur Muspika (Musyawarah Pimpinan Kecamatan).

“Kalau nanti benar-benar menimbulkan gangguan, kami akan koordinasi dengan Polsek dan Koramil untuk menindaklanjuti,” katanya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Imajinasi Reformasi Jilid-ll Menggema di UMK, Ratusan Mahasiswa Antusias Ikut Diskusi

0
Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Muria Raya memadati Lapangan Basket Universitas Muria Kudus (UMK), Rabu (4/3/2026) malam. Foto: Rabu SIpan

BETANEWS.ID, KUDUS – Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Muria Raya memadati Lapangan Basket Universitas Muria Kudus (UMK), Rabu (4/3/2026) malam. Mereka mengikuti forum diskusi terbuka bertajuk “Imajinasi Reformasi Jilid II: Menyelamatkan Indonesia dari Kegelapan” yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMK.

Diskusi yang dimulai sekitar pukul 20.30 WIB itu menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Dekan Fakultas Hukum UMK Hidayatullah, aktivis reformasi 1998 Edy Supratno, serta Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) Tiyo Ardianto. Forum berlangsung hingga sekitar pukul 23.00 WIB dengan diwarnai diskusi kritis mengenai situasi politik nasional.

Dalam pemaparannya, Tiyo menilai, gagasan Reformasi Jilid II muncul sebagai respons atas kondisi politik yang sudah diambang krisis. Ia melihat sejumlah kebijakan dalam negeri belum sepenuhnya menjawab kepentingan masyarakat luas.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena berpotensi memunculkan tekanan politik maupun ekonomi apabila tidak direspons dengan kebijakan yang tepat.

Baca juga: Inayah Wahid hingga Eks Wakapolri Turun Gunung, Kawal Sidang Vonis Botok Cs di PN Pati

“Kalau tidak ada perubahan cara pemerintah merumuskan kebijakan publik, dalam beberapa bulan ke depan bukan tidak mungkin muncul krisis politik maupun ekonomi. Tapi itu masih bisa dicegah kalau ada evaluasi serius,” ujar Tiyo.

Tiyo menyinggung beberapa kebijakan Presiden Prabowo yang lebih mementingkan Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pada pendidikan. Bahkan, ia menyindir akronim MBG sebagai “Maling Berkedok Gizi” karena program tersebut menelan anggaran yang sangat besar, mencapai sekitar Rp 233 triliun.

Menurutnya, program MBG tidak sepenuhnya berorientasi pada perbaikan gizi anak bangsa. Ia menilai menu yang dibagikan dalam program tersebut masih jauh dari standar gizi yang ideal.

Tiyo menilai program tersebut lebih mengarah pada kepentingan bisnis tertentu yang berpotensi memberi keuntungan bagi sejumlah pihak, terutama mereka yang berada di lingkaran kekuasaan.

“Program MBG ini yang untung adalah para pemilik SPPG. Dan mereka rata-rata punya kedekatan dengan partai politik pengusung Prabowo-Gibran,” bebernya.

Ia juga menilai program MBG sudah melenceng dari tujuan awalnya, yakni mengentaskan stunting dan memperbaiki gizi anak bangsa.

“Kalau untuk penanganan stunting, kenapa semuanya dapat MBG, termasuk anak SMA sederajat. Itu sudah terlambat. Penanganan stunting dan perbaikan gizi seharusnya dilakukan sejak balita dan ibu hamil,” jelasnya.

Karena itu, menurut Tiyo, program MBG terkesan hanya mengejar target penyerapan anggaran dalam jumlah besar. Selain itu, ia juga menyinggung lemahnya pengawasan dalam pelaksanaannya.

“Anggarannya sangat besar, tetapi implementasi di lapangan tidak sesuai harapan. MBG yang katanya bergizi, ternyata tidak,” tandasnya.

Ia juga menyoroti sumber anggaran MBG yang disebut diambil dari alokasi anggaran pendidikan. Hal tersebut, menurutnya, menimbulkan pertanyaan mengenai arah kebijakan pemerintah.

“Anggaran MBG dalam satu tahun itu Rp 233 triliun. Padahal uang tersebut cukup untuk membiayai seluruh anak di Indonesia sekolah gratis hingga lulus perguruan tinggi,” sebutnya

Berbagai kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat tersebutlah yang kemudian muncul konsep imajinasi Reformasi Jilid II. Tiyo menilai peluang terjadinya perubahan besar tetap terbuka apabila masyarakat mulai menyadari berbagai persoalan yang terjadi.

“Reformasi biasanya terjadi ketika krisis politik bertemu dengan krisis ekonomi. Jika dalam enam bulan ke depan tidak ada perubahan mendasar dalam cara pemerintah membuat kebijakan publik, potensi itu bisa saja menjadi kenyataan,” ujarnya.

Baca juga: Pengamanan Sidang Putusan Botok Cs Diperketat, 1.300 Personel Kepolisian Dikerahkan

Selain itu, lanjutnya, ada tiga faktor yang bisa melengkapi terjadinya reformasi. Antara lain kesadaran kolektif rakyat, kelas menengah yang mulai merasakan dampak kebijakan pemerintah, serta keajaiban Tuhan yang menguatkan rakyat sekaligus melemahkan kekuasaan..

Ia juga mengajak mahasiswa untuk memperkuat solidaritas dan kesiapan menghadapi dinamika politik yang mungkin terjadi. Menurutnya, mahasiswa perlu belajar dari sejarah agar tidak terkejut apabila terjadi perubahan kekuasaan seperti yang pernah terjadi pada 1966.

Melalui forum diskusi tersebut, Tiyo mendorong mahasiswa memulai langkah sederhana dengan membangun kesadaran kolektif, baik di kalangan mahasiswa maupun masyarakat luas.

“Mahasiswa memiliki hutang kepada rakyat. Cara membalasnya adalah dengan membela rakyat ketika mereka mengalami ketidakadilan. Jika kesadaran kolektif itu terbangun, maka perubahan atau reformasi bisa terjadi dengan sendirinya,” katanya.

Tiyo mengatakan, diskusi tentang imajinasi reformasi jilid ll akan terus berlanjut di kota-kota lain. Selain di Kudus, ia akan mendatangi diskusi serupa di Jakarta, Banten, Surabaya, Gresik, hingga Kalimantan.

“Diskusi tentang imajinasi reformasi jilid ll alan terus berlanjut di kota lain. Pokoknya H-1 lebaran baru sampai Kudus lagi,” imbuhnya

Editor: Kholistiono

- advertisement -

PWI Jepara Gelar Sosialisasi UU Pers Kepada Ratusan Kades

0

BETANEWS.ID, JEPARA– Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Jepara menggelar Sosialisasi Undang-Undang Pers dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) di Aula Lantai III, Gedung OPD Bersama pada Rabu, (4/3/2026). Kegiatan itu diikuti oleh 184 Kepala Desa se-Kabupaten Jepara. 

Asisten Administrasi Umum pada Sekretariat Daerah Jepara yang mewakili Bupati Jepara, Florentina Budi Kurniawati menyampaikan, pers merupakan mitra strategis pemerintah daerah dalam menyampaikan informasi pembangunan sekaligus mengawal transparansi dan akuntabilitas. 

Ia menilai, pemahaman yang baik terhadap undang-undang pers akan membuat para pemimpin desa lebih bijak dalam berkomunikasi serta mampu membangun sinergi yang sehat dengan media.

“Desa yang kuat bukan hanya yang maju pembangunannya secara fisik, tetapi juga transparan dan dipercaya masyarakatnya,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan, pemerintah desa agar bisa bijak dalam mengelola informasi. Di era keterbukaan, disinformasi bisa muncul kapan saja dan berpotensi merusak kepercayaan publik.

“Hindari disinformasi. Bangun sinergi dengan media massa agar masyarakat tidak terjebak berita palsu. Desa dan media harus saling menguatkan, bukan saling melemahkan,” tegasnya.

Ketua PWI Kabupaten Jepara, Septina Nafiyanti, mengatakan, sosialisasi UU Pers sebenarnya bukan hal baru. Namun, pihaknya merasa perlu kembali menguatkan pemahaman tersebut di tengah menjamurnya kanal informasi berbasis media sosial.

“Sekarang banyak portal yang tampak seperti media massa, tapi produknya belum tentu karya jurnalistik. Padahal wartawan bekerja berdasarkan kode etik, memiliki uji kompetensi, dan berada di bawah perusahaan berbadan hukum yang terverifikasi Dewan Pers,” paparnya.

Ia menegaskan, wartawan profesional tidak meminta imbalan atas pemberitaan dan tidak melakukan intimidasi. Karena itu, pemerintah desa diharapkan mampu membedakan mana wartawan profesional dan mana oknum yang berpotensi mencederai marwah pers.

“Kami mitra pemerintah sebagai penyalur informasi pembangunan kepada masyarakat. Mari bangun komunikasi yang sehat agar publik benar-benar mendapatkan manfaatnya,”  ujarnya.

Dalam sesi materi, salah satu wartawan PWI Jepara, Budi Santoso memaparkan poin-poin penting dalam Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Ia memaparkan bahwa pers memiliki fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, sekaligus kontrol sosial.

Sebagai kontrol sosial, pers tidak dapat bekerja sendiri. Wartawan sebagai ujung tombak membutuhkan mitra untuk menghasilkan produk jurnalistik yang berimbang.

“Pers berkewajiban menyampaikan peristiwa dan opini dengan menghormati norma agama, kesusilaan, serta asas praduga tak bersalah,” sebutnya.

Menurutnya, pemerintah desa tidak perlu alergi terhadap pers. Justru sebaliknya, pers dapat membantu mempublikasikan potensi desa, mengawal dana desa secara berimbang, dan menjadi jembatan informasi kepada masyarakat.

“Cara kerja wartawan jelas, ada etika dan pedoman hukum. Bukan datang tiba-tiba untuk menekan atau menakut-nakuti,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jepara, Budhi Sulistyawan mengingatkan, apa yang dianggap penting oleh media kerap menjadi perhatian publik. Karena itu, pemerintah desa perlu aktif mengelola informasi.

“Ketika ada hal negatif mencuat, imbangi dengan informasi positif yang lebih banyak. Tapi tetap lakukan perbaikan atas kritik yang ada,” ucapnya.

Ia juga menyoroti, tantangan derasnya arus media sosial. Menurutnya, kondisi tersebut bisa disiasati dengan pengelolaan kanal resmi desa secara optimal.

“Manfaatkan media sosial official desa untuk menyampaikan potensi dan program. Bangun cerita yang kuat, karena dari cerita itu terbentuk opini publik dan pemahaman bersama,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -