Beranda blog Halaman 1954

Inilah Masjid Muhammadiyah Terbesar di Kudus yang Meniru Masjid di Kalimantan

0
SEPUTARKUDUS.COM, GRIBIG – Masjid dengan dominan warna merah ini terletak di Jalan Raya Sudimoro, Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Di depan tapak dua
menara yang mengapit kubah besar dengan pengubinan berwarna merah
dan putih. Terlihat jelas di bagian depan nama masjid ini, Al-Firdaus, yang diklaim sebagai masjid Muhammadiyah terbesar di Kudus.

Sebuah tulisan Arab terpampang di bagian depan, nama empat Khulafaur Rasyidin, Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Di ruang utama masjid, terlihat bagian dalam kubah berbentuk
lingkaran besar dengan dominan warna kuning emas. Di kubah itu tertulis Ayat Kursi melingkar seirama bentuk
kubah. 

Syuaibul Huda

Menurut Syu’aibul Huda, pengurus Masjid Al-Firdaus, masjid tersebut merupakan masjid Muhammadiyah terbesar yang ada di Kudus. Bangunan masjid menempati lahan luas sekitar
setengah hektare. Arsitektur dibuat mirip dengan bangunan masjid di Timur Tengah dengan bagian depan
dominan warna merah. 

“Bisa dibilang Masjid Al-Firdaus merupakan masjid Muhammadiyah
tersebar di Kudus,” ungkapnya ketika ditemui Seputarkudus.com di Masjid Al-Firdaus, belum lama ini.

Masjid Muhammadiyah di Kudus

Menurutnya, dana yang digunakan untuk membangun masjid Al-Firdauh sebesar Rp 3 miliar lebih. Uang tersebut hasil dari swadaya masyarakat. “Ketua
panitia pembangunanan namanya Pak Mu’arif, pemilik Profotex,” tuturnya.

Huda menjelaskan, Masjid Al-Firdaus pertama kali didirikan
tahun 1960 dan direnovasi akhir tahun 2010. Menurutnya, kubah masjid mirip masjid yang ada di Kalimantan. Kubahnya berwarna merah, yang kemudian menjadi warna dominan bagunan masjid.

Masjid Muhammadiyah di Kudus

Proses penentuan bentuk dan gambar masjid, menurutnya, melalui rapat
pengurus. Dia memberitahukan, Masjid Al-Firdaus pertama kali dirancang oleh
seorang warga bernama Ali. Sedangkan untuk renovasi dirancang
oleh Mu’arif dan Rumadi. 

“Prosesnya, arsitek mengusulkan beberapa contoh
bangunan masjid. Setelah itu pengurus menentukan bentuk bangunan masjid secara
musyawarah. Kebetulan yang dipilih masjid dari Kalimantan yang kubahnya
berwarna merah,” terangnya.

Masjid Muhammadiyah di Kudus

Selain untuk beribadah, kata anggota DPRD Kudus dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, Masjid Al-Firdaus juga digunakan
untuk kegiatan keagamaan. “Kemarin kami kedatangan Syeikh Yusif Mustafa dari
Palestina, ke masjid ini. Selain untuk beribadah, Masjid Al-Firdaus juga untuk kegiatan keagamaan,” tuturnya.

- advertisement -

Toko Ema, Toko Sarung di Dekat Menara Kudus yang Kebanjiran Pembeli Jelang Lebaran

0
SEPUTARKUDUS.COM, LANGGAR DALEM – Ratusan sarung tertata rapi di toko tak jauh dari Masjid Menara Kudus. Beberapa orang mengantre untuk membeli pakaian khas bagi warga Muslim tersebut. Terlebih pekan terakhir menjelang Lebaran seperti sekarang, Toko Ema kebanjiran pembeli. Toko yang berada di Jalan Madurekso, Langgar Dalem, Kota, Kudus, itu memberi potongan harga khusus bagi pembeli yang datang.

Toko Ema jual busana muslim di Kudus

Wilmy Noor, pemilik Toko Ema, mengatakan potongan harga sarung yang diberikan kepada pembeli sebesar 15 persen. Potongan tersebut diberikan untuk pembelian secara grosir.

“Aku menjual sarung secara ecer dan grosir. Bagi pelanggan yang membeli secara grosir, minimal lima pcs sarung, akan mendapatkan
potongan harga 15 persen. Ini bukan promo, karena berlaku tidak hanya menjelang Lebaran saja, tapi berlaku pada bulan-bulan setelah Lebaran,” ujarnya kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Pria yang biasa disapa Wilmy tersebut mengatakan, di tokonya
dia menjual beberapa merek sarung. Di antaranya Wadimor yang dijual seharga Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Selain itu ada merk Atlas dia jual dengan harga Rp
60 ribu hingga Rp 200 ribu. Sedangkan untuk sarung dengan merek Cap Mangga dia
hargai sama dengan sarung Wadimor.

“Dari ketiga sarung tersebut yang paling laris merek Wadimor,
karena sarung merek ini memiliki banyak motif, dan harganya terjangkau. Selain
sarung dewasa aku juga menjual sarung untuk anak-anak dengan harga
sekitar Rp 25 ribu. Sarung tersebut untuk anak usia paud sampai umur sekitar 10
tahun,” ungkap Wilmy.

Dia mengungkapkan, sebenarnya toko miliknya tersebut tidak hanya menjual sarung, tetapi
juga menjual berbgai macam pakaian muslim, di antaranya, baju koko, gamis, hijab, peci, dan mukena.

Dia juga mengatakan, potongan 15 persen tidak hanya berlaku
untuk pembelian sarung saja, tetapi untuk semua barang yang dijual di
Toko Ema. Wilmy pun berharap dengan memberi potongan harga tersebut penjualan produk meningkat.

“Bagi seluruh masyarakat, khususnya di Kudus, yang berkunjung ke Masjid Menara Kudus, mampirlah ke toko kami. Produk kami lengkap dan ada potongan harga,” harap ayah empat anak tersebut.

- advertisement -

Jelang Lebaran, Pembuat Tas Spunbond di Ploso Ini Kebanjiran Order untuk Parsel

0
SEPUTARKUDUS.COM, PLOSO – Toko dengan lebar
sekitar tiga meter  berwarna biru
terlihat penuh sesak. Toko yang
menyatu dengan rumah induk tersebut tampak beberapa barang berwarna-warni  terbungkus plastik dan tersusun di dalam maupun
di atas lemari kaca. Di lantai terlihat seorang pria sedang sibuk memotong kain spunbond. Toko tersebut juga memproduksi pembuatan berbagai macam tas souvenir,
yang menjelang Lebaran ini penjualannya meningkat.

tas sovenir spunbond

 Suyono (38), pemilik usaha tersebut, menuturkan, memasuki Ramadan penjualan tas souvenir yang dia produksi mengalami peningkatan sekitar 30 persen. Meskipun begitu dia tetap mempekerjakan satu orang di rumahnya, karena peningkatannya tak terlalu signifikan.

“Aku memang tidak menambah pekerja di rumahku, karena semua
masih bisa di handle sama satu orang
pekerja. Dia bertugas memotong bahan sesuai pola dengan jumlah yang sudah
ditentukan,” kata Suyono kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.
Warga Desa Ploso, Kecamatan Jati,
Kudus, mengatakan, bahan hasil potongan tersebut nantinya diambil para
penjahit yang berjumlah sekitar 10 orang, dan dikerjakan di rumahnya masing-masing. Untuk upah
jahit dihitung secara borong dengan harga dan kerumitan yang berbeda.
Suyono menuturkan, selama Ramadan dia bisa menjual sekitar 8.000 tas kepada para pelangganya. Jumlah tersebut naik sekitar
3.000 dibanding sebelum Ramadan. “Ya kalau dihitung penjualan pada Ramadan menghasilkan omzet sekitar Rp 26 juta, sedangkan bulan sebelum puasa
omzetnya sekitar Rp 20 juta,”
ungkapnya.
Dia juga mengungkapkan, untuk jenis tas yang paling laris pada Ramadan ini yakni tas souvenir untuk tempat parcel Lebaran. “Aku menjual tas souvenir dengan harga Rp 2.800 hingga Rp 5.000 per tas.
Sedangkan untuk penjualan, selama ini melalui online. Hampir 90 persen tas aku
jual via online, sedangkan sisanya diambil beberapa orang di wilayah Kudus,”
ujarnya.

- advertisement -

Warga Krandon Ini Tak Mengeluh Meski Harus Berkursi Roda Jadi Loper dan Penjual Koran

0
SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Di atas sebuah kursi roda, seorang laki-laki memegangi beberapa
koran dan menawarkanya ke setiap pengendara yang melintas. Tampak beberapa
tabloid dan koran tergantung di kursi roda dan menutupi ke dua
lututnya. Muhammad Arif (30), nama lelaki itu, yang setiap hari menjadi loper dan penjual koran menggunakan kursi roda. Pada Ramadan ini, dia harus menempuh jarak puluhan kilometer untuk menuju agen, mengantar koran ke pelanggan dan ke tempat berjualan dalam keadaan berpuasa.

kisah inspiratif penjual koran di kudus
Arif, menawarkan koran kepada pengendara di Jalan Mangga, Kudus. Meski lumpuh, dia tak mengeluh harus bekerja menjadi loper dan penjual koran. Foto: Rabu Sipan

Sambil menawarkan koran kepada para pengguna jalan, Arif berbagi kisah kepada Seputarkudus.com, belum lama ini. Dia bercerita, setiap hari sesudah salat Subuh dia berangkat dari rumahnya
di Desa Krandon, Kecamatan Kota, Kudus. Untuk menjual koran dan
tabloid kepada para pengendara yang melintas di Jalan Mangga. Jarak dari rumah ke tempat dia berjualan sekitar 10 kilometer, harus dia tempuh menggunkan kursi roda.

“Setelah salat Subuh, aku berangkat dari rumah menuju ke Kudus
Agency untuk mengambil koran, tabloid dan majalah. Setelah itu aku berkeliling
menggunakan kursi roda untuk mengantarkan ke tiga barang tersebut kepada
beberapa pelanggan,” ujar pria yang biasa disapa Arif kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.
Arif mengatakan, biasanya beberapa pelanggan yang pada hari
itu akan melintas di Jalan Mangga, mereka akan mengabari melalui telepon agar dia
tidak usah mengantar koran ke rumah pelangganya. Karena
mereka akan mengambilnya saat melintas di tempat dirinya berjualan.
“Aku berjualan hanya sampai Dzuhur, setelah itu aku pulang. Selain sudah sepi pembeli, cuacanya juga panas, takutnya nanti puasaku
tidak sampai Maghrib karena kepanasan,” ungkapnya.

Anak kedua dari delapan bersaudara
tersebut sudah berjualan koran, tabloid dan majalah sejak tahun
2010. Penghasilan yang didapat sekitar Rp 20 ribu sehari.
“Biarpun baru berpenghasilan Rp 20 ribu sehari, setidaknya
uang tersebut bisa membantu kebutuhan kedua orang tuaku untuk keperluan adik-adiku. Soalnya kedua orang tuaku kerjanya hanya sebagai buruh serabutan,”
ujar Arif.
Pria yang sempat menamatkan pendidikan SMP tersebut mengaku lumpuh sejak usia 16 tahun karena gangguan saraf tulang
belakang akibat jatuh dari sepeda. Dia juga mengatakan selama 10 tahun
hanya diam di rumah, tidak bisa berbuat apa-apa akibat sakit yang dia
derita.
“Hingga di suatu hari ada orang yang memberikan kursi roda. Sejak
ada kursi roda tersebut aku mulai berpikir untuk ke luar rumah dan berbuat
sesuatu yang bisa membantu keluarga. Akhirnya aku mencoba untuk berjualan
koran. Aku juga punya keinginan bila punya modal nanti ingin punya toko
sembako,” harap Arif.

- advertisement -

Anak Autis di Ponpes Al-Achsaniyyah Kudus Tak Makan Mi, Roti dan Susu

0
SEPUTARKUDUS.COM, PEDAWANG – Keriuhan terdengar dari dalam
kelas Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Sunan Kudus. Mereka tampak belajar dengan
ditemani guru pendamping. Ruangan mereka terbagi menjadi dua tanpa sekat. Di sebelah
barat untuk perempuan dan sebelah timur untuk laki-laki. Dengan duduk di atas
kursi mereka terlihat mengamati dengan seksama apa yang guru ajarkan, walaupun
ada beberapa yang bermain sendiri.

Ponpes Al-Achsaniyah Kudus Khusus Anak Berkebutuhan Khusus
Santri berkebutuhan khusus di Ponpes Al-Achsaniyyah Kudus tengah mengikuti kegiatan Ramadan untuk mengisi waktu menjelang buka puasa. Foto: Imam Arwindra
Mereka anak-anak berkebutuhan khusus yang sedang
belajar SDLB Sunan Kudus, kawasan Pondok Modern
Al-Achsaniyyah Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Mohammad Faiq
Afthoni, Pengasuh Pondok Modern Al-Achsaniyyah menuturkan, anak-anak penderita
autis dan down syndrome yang tinggal di pondoknya berjumlah 80 anak dengan 55
orang guru pendamping.
Menurutnya, mereka bukan sakit, melainkan belum mandiri dan
belum memahami intruksi yang diberikan oleh orang lain. Agar mereka cepat bisa mandiri dan mampu
memahami intruksi, perlu ada kerjasama dengan orang tua wali dan guru
pendamping. 

“Kadang orang tua wali komplain dan minta ini itu. Saya berpesan untuk
orang tua wali harus pasrah. Selain itu, pola makan anak juga kita atur. Tidak boleh
makan mi, susu, roti, keju,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, anak-anak autis tidak diperbolehkan makan
mie, susu, roti dan keju karena di dalamnya terkandung gluten. Menurutnya, zat
gluten yang terkandung dalam makanan atau minuman dapat menimbulkan jamur di
dalam tubuh manusia. Efeknya akan menimbulkan emosi. 

“Kalau orang normal tidak
apa-apa. Namun untuk penderita autis sangat berbahaya. Karena emosinya akan menyebabkan
dia tidak terkendali, akhirnya mereka sulit menerima intruksi dari orang lain,”
jelasnya.

Menurutnya, gluten ialah sejenis protein yang biasanya
terdapat pada tepung dan gandum. Gluten mengandung komponen yang disebut peptida.
Gluten juga terdapat pada susu. “Olahan makanan yang mengandung gluten
di antaranya, mi, biskuit, roti, sereal, pasta, keju,” sebutnya.
Faiq menuturkan, dengan tiga cara tersebut mereka akan berubah
menjadi lebih baik. Yakni, kerjasama dengan orang tua wali, guru pendamping
yang sabar dan mengerti serta pola makan anak yang tidak mengandung gluten. 

“Kalau
normal seperti umumnya manusia tidak bisa, karena watak manusia tidak bisa
dirubah. Yang penting mereka bisa mandiri dan mampu berinteraksi dengan orang
lain itu sudah cukup,” terangnya.

- advertisement -

Pesantren Mahasiswa STAIN Kudus, Punya Gedung Tiga Lantai dan 27 Kamar Santri

0

SEPUTARKUDUS.COM, STAIN KUDUS – Bangunan tiga lantai ini terletak di kampus timur Sekolah Tinggi
Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus. Di depannya terdapat dua tempat duduk
melingkar, dan di tengahnya terdapat pohon kecil yang tingginya sekitar tiga meter. Bangunan tersebut asrama sekaligus pesantren mahasiswa Ma’had Al-Jamiah. 

Asrama STAIN Kudus

Di teras lantai dua, beberapa pakaian laki-laki terlihat
sedang di jemur. Gedung tersebut memiliki warna
dominan hijau, dengan 27 kamar yang jendelanya terlihat dari luar gedung. 


Menurut Muhammad
Sajudin (27), pengelola Ma’had Al-Jamiah STAIN Kudus, yang menempati asrama tersebut
yakni mahasiswa khusus yang kuliah di STAIN Kudus. “Asrama tersebut khusus
ditempati mahasiswa penerima Bidik Misi (Bantuan Pendidikan Miskin Berprestasi ),”
tuturnya.
Dia menjelaskan, mahasiswa yang tidak terdaftar penerima beasiswa Bidik Misi tidak bisa
tinggal di asrama tersebut. “Di STAIN beasiswa banyak. Namun yang boleh tinggal
di pondok hanya mahasiswa penerima Bidik Misi saja,” jelasnya.

Selama tinggal di pondok, mahasiswa akan mendapatkan
fasilitas di antaranya, tempat tidur, kursi dan meja belajar, serta lemari
pakaian. Selain itu, ada kegiatan-kegiatan pondok yang
menunjang bakat dan intektual mahasiswa. “Mahasiswa yang tinggal asrama wajib mengikuti kegiatan yang diselenggarakan,” tutur Sajudin yang
juga ketua Ma’had Al-Jamiah STAIN Kudus.

Kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan, kata Sajudin, antara lain pengajian kitab kuning, kajian ilmiah, hafalan
surat-surat Al-Quran. “Mereka juga harus mengukuti kegiatan yang diadakan di Masjid STAIN Kudus. Di antaranya salat berjamaah di Masjid dan tadarus Al-Quran. Intinya mereka harus ikut meramaikan Masjid
STAIN,” tuturnya.
Sajudin memberitahukan, asrama mahasiswa STAIN Kudus
dibangun tahun 2010. Menurutnya, sekarang pondok tersebut ditempati
sekitar 50 mahasiswa. “Tahun berdirinya tepatnya saya lupa, namun sekitar
2010,” ungkapnya.
Menurutnya, yang menempati pondok tersebut hanyalah mahasiswa
laki-laki. Untuk mahasiswa perempuan tinggal di indekos di sekitar kampus. Dia menuturkan setiap tahun penerima beasiswa Bidik Misi tidak pasti. “Untuk jumlah
kuota penerima beasiswa itu di STAIN setiap tahunnya berubah-ubah
tergantung dari Kementrian Agama. Tahun 2015 lalu, STAIN Kudus menerima 70,” terangnya.
- advertisement -

PO Haryanto Miliki Ratusan Armada Bus Eksektutif dan Omzet Ratusan Juta Sehari

0
SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBAL REJO – Di sebuah
gang tak jauh dari lampu merah Ngembal, Bae, terdapat sebuah pul bus. Pul tersebut milik Perusahaan Otobus (PO) Haryanto. Pul tersebut bisa menampung lebih dari 50 bus. PO yang melabeli bus dengan gambar Menara Kudus itu, omzet dalam sehari bisa mencapai Rp 125 juta.

Pul Bus Haryanto di Kudus

Rajamudin satu di antara staf di perusahaan tersebut
menuturkan, untuk penjualan tiket seluruh Jawa Tengah menghasilkan omzet
sekitar Rp 125 juta sehari. Omzet tersebut hanya pemasukan dari tiket bus, belum usaha lain
yang masih bersinergi dengan usaha PO. Usaha lain itu di antaranya SPBU dan rumah makan
untuk fasilitas makan gratis bagi para penumpang PO Haryanto.

“PO Haryanto itu memiliki ratusan armada bus eksekutif, yang
pasti mengisi bahan bakar. Dari pemikiran tersebut, untuk efisiensi anggaran pemilik mendirikan SPBU di daerah Kendal. Begitu juga rumah makan, pemilik PO mempunyai dua rumah makan. Satu di Gringsing sedangkan satunya lagi di Cikopo,
Cirebon,” kata pria yang biasa di sapa Raja kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.
Dia menceritakan, PO Haryanto pertama kali berdiri hanya dengan tiga
armada bus, serta hanya melayani rute Jakarta-Kudus, Pati, Jepara. Sekarang
perusahaan tersebut memiliki ratusan armada bus dengan berbagai rute, bahkan sudah sampai Madura
serta Solo. “Rencananya PO Haryanto ingin mendirikan pul di Madura dan Solo
karena di sana penumpangnya juga banyak,” ujar Raja.
Raja menuturkan pada tahun ini PO Haryanto tercatat memiliki
sekitar 158 armada bus ekskutif. Dan armada tersebut tiap tahun kemungkinan
bertambah karena setiap tahun PO Haryanto ada kebijakan peremajaan armada.
Setiap Bus Haryanto memberangkatkan penumpang, armada bus
diawaki dua orang sopir serta satu kondektur. Sedangkan untuk
memaksimalkan penjualan tiket untuk mempermudah para calon penumpang untuk
mendapatkan tiket, PO Haryanto bekerja sama dengan beberapa agen untuk
penjualan tiket.
“Saat ini PO Haryanto mempunyai sekitar 101 agen resmi yang
menjual tiket Bus Haryanto kepada penumpang di seluruh daerah tujuan bus. Semua
agen beserta nomor  ponselnya tertera di tiket penumpang Bus Haryanto,” ungkap Raja.

- advertisement -

Kisah Teladan (17) Majusi yang Diberkati Karena Menolong Seorang Janda

0

Dikisahkan, ada seorang janda miskin tinggal di sebuah surau sebuah kampung yang tak lagi digunakan untuk sembahyang. Di kampung itu, dia merawat anak-anak yang telah ditinggal suaminya. Setiap pagi janda keturunan Ali bin Abi Tholib itu keluar dari surau untuk mencari nafkah untuk anak-anaknya.

Seorang warga kampung yang mengetahui perihal itu, melaporkan ke petinggi kampung. Petinggi kampung yang seorang Muslim itu, tak percaya laporan warganya, bahwa ada seorang janda dan anak-anaknya yang butuh pertolongan. 

Karena tak mendapat perhatian dan pertolongan di kampung itu, janda tersebut pindah bersama anak-anaknya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Sampailah ia di sebuah kampung yang lain, di sana dia mendapati seorang Majusi yang dikenal baik oleh warga. 

Oleh orang Majusi itu, janda beserta anak-anaknya diterima dengan sangat baik. Mereka diberi tempat dan dianggap sebagai keluarga sendiri. 

Pada suatu ketika, petinggi kampung yang tak memberikan pertolongan pada janda dan anak-anaknya tersebut, bermimpi. Dalam mimpinya itu dia melihat Rasulullah. Di samping kanan dan kiri-Nya ada sebuah bangunan gedung yang sangat indah.

“Ya Rasul, untuk siapakah gedung-gedung itu,” tanya petinggi kampung.
“Gedung ini untuk orang Muslim,” sabda-Nya.
“Sesungguhnya aku seorang Muslim,” kata petinggi kampung.
“Tunjukkan kepadaku jika kamu seorang Muslim,” sabda Rasul.

Kemudian Rasul bercerita tentang seorang janda yang butuh pertolongan, namun petinggi itu menolaknya, seraya meminta bukti. Setelah itu, petinggi kampung itu terbangun dari tidurnya, dan segera mencari janda dan anak-anaknya.

Mendapat kabar bahwa mereka ditolong seorang Majusi, petinggi kampung itu pun menemuinya. Dia meminta orang Majusi itu menyerahkan janda beserta anak-anaknya. Namun Majusi itu menolak. “Karena menolong mereka itulah aku mendapat berkat,” tolak Majusi kepada petinggi kampung.

“Aku akan memberimu seribu dirham, serahkanlah janda dan anak-anaknya itu kepadaku,” pinta petinggi dusun.

Majusi itu tetap menolak, dan menceritakan apa yang telah dialaminya. “Aku telah bermimpi sama seperti apa yang ada dalam mimpimu. Aku melihat Rasulullah dan mengatakan gedung itu dibangun untukku,” kata Majusi. “Gedung itu untuk orang Muslim,” kata petinggi dusun. “Sesungguhnya aku dan keluargaku telah memeluk Islam, setelah aku bermimpi bertemu Rasulullah,” kata Majusi.

Dengan perasaan sangat kecewa, petinggi kampung itu pulang ke rumahnya, dan menyesal telah menolak memberi pertolongan kepada saudara sesama Muslim datang kepadanya. (Wallahu A’lam

- advertisement -

Pak Kus Langsung Dapat Pesanan 50 Lampion Lebaran di Hari Pertama Jualan

0
SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Di tepi Jalan Jendral Sudirman, tepatnya di depan Pabrik Gula (PG) Rendeng Kudus, terlihat puluhan lampion tergantung di utas tali yang terikat tiang dan sebatang pohon. Terlihat juga seorang pria berkumis
sedang berdiri dan memegangi satu di antara lampion tersebut. Pria itu bernama Kurniawan (42),
penjual lampion Lebaran yang lansung menerima pesanan, meski baru sehari berjualan.

Kurniawan, atau biasa di sapa Pak Kus mengatakan, pada Ramadan tahun ini dirinya baru sehari berjualan lampion. Itu karena lampion-lampion tersebut baru sampai di rumahnya.


“Puluhan lampion ini baru diantarkan oleh perajinnya, makanya aku baru berjualan hari ini. Meski begitu aku sudah
mendapatkan pesanan 50 lampion dari pengurus masjid untuk takbir
keliling,” kata Pak Kus kepada Seputarkudu.com, belum lama ini.
Pria yang mengenakan celana hitam tersebut
mengungkapkan, selain para pengurus masjid ada juga sekitar 10 orang tetanggaku
yang memesan lampion itu untuk anaknya untuk malam takbiran. 

“Mereka memesan
tetapi lampionnya diambil waktu malam takbiran. Soalnya kalau diambil sekarang
mereka khawatir lampion tersebut akan rusak sebelum dibuat takbiran keliling,”
ujarnya.

Pria yang tercatat sebagai warga Desa Rendeng, Kecamatan
Kota, mengatakan, hampir semua yang memesan lampion sudah membayar lunas, paling hanya beberapa orang yang hanya memberi uang muka.

Dia mengaku menjual lampionya tersebut dengan harga  Rp 20 ribu untuk lampion berbentuk masjid kecil. Sedangkan untuk bentuk menara, Hello Kitty, dan masjid besar harganya Rp 25
ribu. Jika membeli lengkap dengan lampu LED harganya ditambah Rp 10 ribu.
Pak Kus menceritakan, sudah empat tahun berjualan lampion setiap bulan Puasa. Biasanya lampion mulai laris sekitar sepekan sebelum Lebaran.
Sedangkan puncaknya tiga hari sebelum Lebaran.
“Sepekan sebelum Lebaran biasanya aku bisa menjual sekitar 10
lampion, sedangkan di ketiga hari sebelum Lebaran aku bisa menjual habis
lampion yang aku bawa,” ungkap pria berputra dua itu.
Pria yang keseharianya berjualan
bakso bakar tersebut menuturkan, pada hari pertama berjualan, dia membawa
sekitar 30 lampion dari total 125 lampion yang ada di rumahnya. “Aku berharap
semoga penjualan lampionku di bulan Puasa tahun ini laris seperti tahun-tahun
sebelumnya,” harapnya.

- advertisement -

Mobil Rental di Ngembal Rejo Ini Sudah Ludes Dipesan Pelanggan untuk Lebaran

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBAL REJO – Sejumlah mobil terparkir di garasi sebuah rumah berada di Ngetuk, Desa Ngembal Rejo, Kecamatan Bae, Kudus.  Puluhan mobil berbagai merek tersebut bukan untuk di jual, tetapi untuk disewakan atau biasa disebut  rental. Meski Ramadan ini sepi penyewa, namun mobil-mobil milik Suyatno (46) itu sudah habis dipesan oleh pelanggan sejak H-1 Lebaran nanti.

“Semua mobil yang ada di rentalku yang berjumlah sebelas tersebut, sudah di-booking sejak dua hari sebelum Puasa. Dan mereka para pemesan memberi DP minimal Rp 500 ribu pada hari ketiga Ramadan,” kata pria yang akrab disapa Yatno kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.

Pria yang suka menaruhkan kaca mata di kerah tersebut mengungkapkan, dirinya menyewakan semua mobilnya pada libur Lebaran dengan sistem paket, minimal lima hari.  Untuk mobil jenis mini bus paket harganya Rp 2.250.000, jika dihitung perhari biayanya Rp 450 ribu.

Untuk mobil jenis pikap, kata Yatno, paket harganya Rp 1.250.000, dengan kalkulasi harga sehari Rp 250 ribu. “Itu untuk minimal lima hari. Bila ada yang menyewa enam hari dan seterusnya berarti harga tersebut ditambah dengan harga per hari,” ujar Yatno.

Selama Lebaran nanti dia memperkirakan bisa mengumpulkan omzet sekitar Rp 25 juta dalam delapan hari. “Omzet itu memang besar dalam delapan hari, tapi bila dihitung untuk menambal pemasukan selama puasa, kalkulasi hasilnya sama saja dengan bulan biasa.” ujar Yanto.

Dia menuturkan, harga paket Lebaran berlaku sampai H+8 Lebaran. Sedangkan untuk hari kesembilan setelah Lebaran, harga sudah kembali normal seperti biasa, yang disewakan per 12 jam.

“Untuk mobil jenis mini bus per 12 jam harga sewanya Rp 175 ribu, sedangkan untuk 24 jam harganya Rp 300 ribu. Kalau untuk mobil jenis pikap per 12 jam sewanya Rp 125 ribu, sedangkan 24 jam harganya Rp 225 ribu,” urainya.

Pria yang juga memiliki usaha kos dan pembuatan genteng tersebut mengatakan, untuk rincian harga belum termasuk upah sopir, jika penyewa membutuhkan jasa sopir.

- advertisement -

Bagian Depan Masjid di Gribig Ini Mirip Masjid UMK, Bagian Dalam Meniru Masjid Pecangaan

0
SEPUTARKUDUS.COM, GRIBIG – Ukiran gebyok terletak di ruang pengimaman sebuah masjid di Dukuh Muneng, Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kudus.
Tingginya sekitar 5 meter, terbuat dari kayu jati.
Di bagian atas tedapat ukiran tulisan Arab. Di dalam gebyok tersebut terdapat mimbar khutbah dan jam bandul yang
juga berbahan kayu. Masjid tersebut bernama Masjid Jami Al-Falah.

arsitektur masjid desa gribig kudus

 Takmir Masjid Al-Falah, Jupri (50), menjelaskan, gebyok yang
terdapat di Masjid Al-Falah diukir oleh Alek yang berasal dari Desa Klumpit, Kecamatan Gebog. Ukiran yang terdapat di gebyok
tersebut khas Kudus. “Ukirannya khas Kudus bukan Jepara, yang membuat
namanya Alek,” tuturnya kepada Seputarkudus.com.

arsitektur masjid desa gribig kudus 2

 Masjid yang direnovasi terakhir pada 11 Januari 2012
tersebut, pada langit-langit di ruang aula depan terdapat kaligrafi Arab berwarna hitam. Menurut Jupri, yang membuat kaligrafi itu sesorang
dari Kecamatan Dawe. “Saya lupa namanya, namun dia dari Kudus, tepatnya
Dawe,” tambahnya.

arsitektur masjid desa gribig kudus 3

 Jupri menjelaskan, arsitektur masjid ini khas Timur Tengah. Di bagian depan masjid terdapat dua menara dan tiga pintu gerbang
berbentuk setengah oval. Setahu dirinya, bagian depan Masjid Al-Falah mengikuti
arsitektur Masjid yang ada di Universitas Muria Kudus (UMK). “Bagian depan
masjid arsitekturnya seperti Masjid UMK. Namun ditambah dua menara,” tuturnya.

arsitektur masjid desa gribig kudus 5

 Di bagian dalam masjid terlihat gebyok yang di dalamnya terdapat
mimbar khotbah dan jam bandul. Ruang utama salat mempunyai dua
tiang bulat yang menembus lantai dua. Di langit-langit kubah berbentuk bulat,
tergantung lampu-lampu warna kuning berbentuk bunga yang berjumlah 23.
Menurut Jupri, desain ruang utama mengikuti
sebuah masjid di Pecangaan, Jepara.

arsitektur masjid desa gribig kudus 7

Masjid yang dibangun di atas tanah wakaf seluas kurang dari
setengah hektare itu, kata Jupri, dirancang oleh warga Dukuh Muneng. “Arsitek masjid Al-Falah
bernama Udik dan Kuswanto,” tuturnya.

Dia menambahkan, masjid ini dibiayai dari hasil swadaya
masyarakat Dukuh Muneng Desa Gribig. Menurutnya, pertama kali Masjid Al-Falah
didirikan tahun 1967, dan direnovasi tahun 2012. “Renovasi terakhir menghabiskan
dana sekitra Rp 1,2 miliar dan diresmikan tahun 2015 oleh KH Sya’roni Ahmadi,”
jelasnya.

- advertisement -

Penjual Mainan Asal Demak Ini Tetap Bersyukur, Meski Sehari Dapat Kurang dari Rp 10 Ribu

0
SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN– Seorang lelaku tua berperawakan kurus menuntun sepeda melintas di lampu merah Jalan Sempalan, tak jauh dari Rumah Sakit Mardi Rahayu. Di boncengan sepeda yang dia bawa, puluhan mainan digantung pada batang bambu. Paiman (65), nama lelaki tersebut. Dia mengayuh sepedanya dari Gajah, Demak ke Kudus untuk menjual mainan yang dia bawa. Meski rasa lelah dia rasakan, tak jarang dia hanya mendapat kurang dari Rp 10 ribu sehari, karena mainannya tak begitu diminati.

 Seusai menyeberangi jalan dan menepi, Paiman
berbagi kisahnya dalam menjual mainannya dari Demak ke Kudus. Dia menuturkan, hampir setiap hari dia berjualan mainan anak-anak di Kudus dengan
mengayuh sepedanya berkeliling dari satu kampung ke kampung yang lain.

“Aku hari ini sudah berkeliling menjual mainan, tetapi
sampai se siang aku baru mendapatkan uang Rp 10 ribu. Hasil dari menjual
dua balon dan sebuah mobil-mobilan kecil,” ujar Paiman kepada Seputarkudus.com belum lama ini.

Pria yang di hari itu mengenakan kemeja panjang dan celana
kain warna hitam tersebut mangatakan, berjualan mainan anak memang tidak
menentu hasilnya. Saat laris, sehari dirinya bisa mendapatkan uang sekitar
Rp 50 ribu.
“Tetapi kalau lagi
sepi seperti hari ini, paling hanya mendapatkan Rp 10 ribu, kadang kurang dari itu. Tetapi aku tetap bersukur,” ujar Paiman sambil tersenyum.
Pria murah senyum itu menuturkan,
dia berangkat berjualan dari rumahnya di Desa Mojosimo, Kecamatan
Gajah, Demak, sekitar pukul 06.00 WIB, dan pulang sekitar pukul 16.30 WIB.
Paiman mangaku sudah sekitar 20 tahun berjualan mainan anak,
dengan modal sekitar Rp 100 ribu. “Aku menggunakan sepeda ontel untuk berjualan
sejak pertama mulai berjualan. Sebenarnya kalau punya duit, aku ingin membeli motor,
agar hasilnya bisa banyak dan badan tidak lelah,” harapnya.

- advertisement -

Kisah Teladan (16) Tak Sabar Ingin Berjumpa Ainatul Mardliyah

0

Pada suatu masa, tentara Muslim berperang dengan tentara Romawi. Sebelum pertempuran itu, Abdul Wahid bin Zaid berkumpul bersama tentara Muslim dan di majelis itu dibacakan ayat Al-Quran tentang Allah akan membayar dengan surga, bagi siapa saja yang menjual jiwa dan hartanya di jalan-Nya. 

Tiba-tiba ada seorang pemuda bertanya kepada Abdul Wahid tentang ayat tersebut. 

“Benarkah Allah akan membayar harta dan jiwa setiap Muslim dengan surga.” 
Dijawablah pertanyaan tersebut oleh Abdul Wahid, “Benar wahai anak muda.” 
“Maka, persaksikan bahwa saya akan menjual jiwa dan hartaku untuk surga Allah,” kata pemuda tersebut.
“Jangan, kamu masih muda. Saya khawatir kamu tak sabar dan kuat dalam peperangan ini,” kata Abdul Wahid.
“Tidak, aku akan menjual jiwa dan hartaku kepada Allah,” tegas pemuda tersebut.

Pemuda tersebut belum lama ditinggal ayahnya, dan mendapat warisan harta yang begitu banyak. Dia menyumbangkan hartanya, kecuali kuda, senjata, dan bekal untuk berangkat ke medan peperangan.

Di perjalanan menuju Romawi, pemuda itu berpuasa pada siang hari, dan mengerjakan salat pada malamnya. Dia juga melayani kebutuhan para tentara, dan menjaga mereka saat tidur, hingga di perbatasan Romawi.

Setelah berhadapan dengan tentara Romawi, pemuda tersebut berteriak, “Aku tak sabar ingin berjumpa Ainatul Mardliyah.” Abdul Wahid dan semua tentara heran, dan menganggapnya tak waras. Lalu dia bertanya kepada pemuda tersebut, siapa Ainatul Mardliyah.

Pemuda tersebut kemudian bercerita. Dalam tidurnya, dia bermimpi melihat sekumpulan wanita cantik lengkap dengan perhiasan di sebuah kebun, di tepi sungai. Wanita-wanita itu berkata, “lihatlah, itu suami Ainatul Mardliyah.” Pemuda itu kemudian bertanya, “adakah di antara kalian yang bernama Ainatul Mardliyah.” Wanita-wanita itu menjawab, “kami hanya pelayan, ke sanalah, kamu sudah ditunggu Ainatul Mardliyah.”

Pemuda tersebut kemudian pergi menyusuri sungai susu yang tak berubah warna dan baunya. Di sebuah sungai anggur, dia melihat sekumpulan wanita-wanita cantik, namun tak ada yang bernama Ainatul Mardliyah. Dia kemudian berjalan lagi, dan sampai di tepian sungai madu, dan dia lagi-lagi melihat sekumpulan wanita-wanita cantik, yang mengaku sebagai pelayan Ainatul Mardliyah.

Sampailah dia pada sebuah tempat, dan melihat bangunan yang terbuat dari permata putih. Dia masuk ke dalam, dilihatnya seorang gadis yang sangat cantik yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Gadis itu mengenakan perhiasan dari yaqut, dan duduk di sebuah singgasana emas. 

“Wahai suamiku, waktumu sudah dekat,” kata wanita itu. Ketika hendak memeluk wanita itu, pemuda tersebut dicegah. “Sabarlah suamiku, kamu masih hidup. Tapi jangan kecewa, Magrib nanti kamu akan berbuka bersamaku di sini.” kata wanita itu. Tak lama kemudian, pemuda itu terbangun dari tidurnya.

Tak lama setelah bercerita, pasukan musuh datang menyerang, dan pemuda itu maju ke depan dan menghadapi musuh. Sembilan orang musuh berhasil dibinasakan pemuda itu dengan senjatanya. Namun hari itu dia gugur dengan keadaan tersenyum.

- advertisement -

Di Musala Kecil Ini Warga Tionghoa Muslim di Kudus Sering Berkumpul

0

SEPUTARKUDUS.COM, MIJEN – Letak musala ini berada di dalam rumah yang hampir semua bangunannya berwarna oranye. Rumah ini berada di Jalan Kudus-Jepara, Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, yang juga menjadi produksi rokok Kembang Arum. Al-Faruqiyah, nama musala tersebut, yang sering digunakan warga Tionghoa Muslim Kudus berkumpul.

musala milik Tionghoa Muslim Kudus

Menurut Peter M Faruq, pemilik tempat tersebut, musala Al-Faruqiyya yang berada di rumahnya sering untuk berkumpul warga Tionghoa Muslim yang tergabung dalam Persatuan Islam Tionghoa Indonesia Kudus (PITI). Setiap malam Jumat Pahing anggota PITI berkumpul di rumahnya.

“Setiap malam Jumat Pahing anggota PITI kumpul di sini untuk mengaji dan memberikan santunan kepada anak yatim. Masyarakat sekitar juga diundang,” ungkapnya ketika ditemui Seputarkudus.com di kediamannya, belum lama ini.

Ketua PITI Kudus itu menjelaskan, terdapat lebih 500 anggota PITI yang tersebar di sejumlah wilayah di Kabupaten Kudus. Mereka adalah warga etnis Tionghoa yang mualaf. Namun dia mengungkapkan, tiga tahun ini organisasi yang dipimpinnya kurang terlalu aktif. “Di Kudus anggota PITI banyak, bisa mencapai 500 orang. Namun yang aktif sedikit. Bisa dihitung pakai jari,” tuturnya.

Ketua PITI Kudus Peter M Faruq
Ketua PITI Kudus Peter M Faruq

Faruq melanjutkan, anggota PITI sangat aktif ketika didampingi Kiai Nafi yang bertempat tinggal tak jauh dari Masjid Al-Aqsa Menara Kudus. Namun tiga tahun belakangan ini, Kiai Nafi kesehatannya menurun karena usia. “Tahun 2013 Kiai Nafi mulai sakit. Sejak saat itu, anggota PITI mulai jarang berkumpul,” terangnya.

Dia memberitahukan, selain Kiai Nafi dia dengan anggota PITI juga sering berkunjung ke rumah Kiai Sya’roni Ahmadi untuk meminta bimbingan seputar agama Islam. “Saya sering ke rumah Kiai Sya’roni, sampai saya akrab dengan beliau,” ungkapnya.

Pada bulan Ramadan ini, menurutnya, kegiatan PITI sama seperti hari biasa. Yakni setiap malam Jumat Pahing mengaji dan memberikan santunan kepada anak yatim di musala miliknya. Selain itu juga salat Tarawih bersama dengan masyarakat sekitar. “Namun lagi-lagi yang anggota PITI hanya bisa dihitung dengan jari saja,” tambahnya.

Saat Lebaran nanti, dia memberitahukan etnis Tionghoa Muslim di Jawa Tengah direncakan akan berkumpul di Kudus. Namun menurutnya sampai sekarang tanggalnya belum ditentukan. “Kemarin mintanya teman-teman PITI Jawa Tengan tanggal 25 Syawal,” tuturnya.

- advertisement -

Suwarno Tak Ingin Berjualan Putu Siang Hari, Tapi Tak Tega Anak dan Istri di Wonogiri

0
SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Seorang lelaki tua terlihat duduk di trotoar Jalan Kudus Jepara, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus, tak jauh dari Swalayan ADA. Di sisi kanan dan kirinya terdapat dua kotak yang tampak mengeluarkan asap di atasnya. Lelaki tersebut bernama Suwarno (60), seorang penjual kue putu
keliling. 

Penjual Kue Putu Keliling di Kudus

Meski dihinggapi perasaan bersalah, dia tetap berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain, untuk berjualan kue putu pada siang hari selama Ramadan ini. Hal itu dilakukan demi menyukupi kebutuhan istri dan tiga anaknya di Wonogiri. Meski berjualan kue putu pada siang hari, Suwarno mengaku tetap berpuasa. 


“Aku berpuasa tapi aku tetap berjualan kue putu. Aku
tahu tidak baik berjualan makanan di bulan Ramadan pada siang hari. Tetapi demi
mendapatkan uang untuk keperluan istri dan anaku di Wonogiri, aku harus tetap
berjualan,” ujar lelaki yang telah berjualan kue putu di Kudus selama 10 tahun, kepada Seputarkudus.com.

Di bercerita, dirinya mulai berjualan kue putu di Kudus pada awal tahun 2006. Dia tidak sendiri, ada tiga temanya dari Wonogiri yang juga berjualan makanan isi gula Jawa tersebut. Selama di Kudus, dia hidup mengontrak bersama tiga rekannya.

“Selama di Kudus aku hidup mengontrak bersama tiga temanku di
sebuah kontrakan yang berada di Desa Prambatan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus.
Kami berempat iuran Rp 100 ribu per orang setiap bulan, untuk membayar
kontrakan tersebut,” kata Suwarno.
Pria yang mengaku mempunyai tiga anak itu mengungkapkan,
sebenarnya berjualan kue putu  tidak
seberapa hasinya. Jika kue putu miliknya habis terjual, dia mendapatkan
uang sekitar Rp 120 ribu. Setelah pendapatan itu dipotong untuk membeli bahan kue dan bahan bakar, Suwarno hanya mendapat keuntungan bersih sekitar Rp 60 ribu.
“Karena penghasilan
yang minim, aku tidak bisa menyekolahkan anakku yang pertama ke SMA (sekolah menengah atas). Dia hanya lulus SMP. Sedangkan anakku yang kedua,
baru duduk di kelas lima (SD) sekolah dasar. Dan anakku yang ketiga baru mau masuk
SD tahun ini,” ujar Sumarno sambil mencuci bambu, cetakan kue putu.

- advertisement -