Beranda blog Halaman 1953

KH Ahmad Basyir, Pendiri Ponpes Darul Falah Bareng Keturunan Seorang Penjahit

0
SEPUTARKUDUS.COM, JEKULO Duduknya di samping Gus Dur dan KH Sya’roni Ahmadi. Dia memakai sorban putih dan rida’ warna hijau yang disampirkan di pundaknya. Dialah KH Ahmad Basyir, yang terlihat duduk paling kanan dalam sebuah foto kegiatan dokumen milik Pondok Pesantren Darul Falah Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Pendiri pondok tersebut bukan keturunan seorang kiai, melainkan seorang penjahit.

KH AHMAD BASYIR bersama Gus Dur dan KH Sya'roni Ahmadi
Dokumen Ponpes Darul Falah

KH Ahmad Jazuli Basyir, putra KH Ahmad Basyir yang kini menjadi satu di antara pengasuh Ponpes Darul Falah, menuturkan, ayahnya bukan lahir dari kalangan keluarga kiiai. Ayah KH Ahmad Basyir, yakni Muhammad Mubin atau Kasno, seorang penjahit rumahan. Sedangkan ibunya bernama Dasireh, seorang pedagang kecil. KH Ahmad Basyir lahir tanggal 30 November 1924 di Jekulo.

Dia menuturkan, KH Ahmad Basyir bisa dikenal sebagai kiai besar karena dulu mengabdikan diri kepada kiai. Menurutnya, seluruh hidupnya diabdikan kepada gurunya KH Yasin. “Abah (KH Ahmad Basyir) bukanlah keturunan kiai,”tuturnya kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Gus Jazuli, sapaan akrab KH Ahmad Jazuli Basyir, menceritakan, sebelum mengabdi kepada KH Yasin (sekarang Pondok Pesantren Al-Qaumaniiyyah) tahun 1923. Basyir kecil lulusan Sekolah Rakyat di Jekulo. Setelah lulus dia melanjutkan pendidikan di Kenepan Langgar Dalem milik KH Ma’mun Ahmad. Dia juga mengaji AL-Quran kepada KH Arwani Amin. 

Menurutnya, KH Ahmad Basyir juga berguru kepada KH Irsyad (ayah KH Ma’ruf Irsyad) dan KH Khandiq kakak KH Turaichan Adjhuri. “Ilmu abah dari KH Khandiq, KH Irsyad, KH Ma’mun Ahmad dan ilmu Al-Qurannya dari KH Arwani Amin,” terangnya.

Selanjutnya, setelah dirasa cukup dia mondok ke KH Yasin sambil membantu mengajar. Dia mengabdikan diri kepada gurunya tersebut. “Jadi saat mondok di KH Yasin, abah secara keilmuan sudah terisi,” tambahnya.
Gus Jazuli memberitahukan, KH Ahmad Basyir merupakan murid kesayangan KH Yasin. Menurut cerita, KH Ahmad Basyir sering diajak untuk wirid dan riadlah. Bahkan saking sayangnya, dia dituruni ijazah Dalail Khairat. “Sebenarnya ijazah Dalail Khairat yang punya bukan hanya Mbah Basyir saja. Namun kebanyakan orang datangnya ke Mbah Basyir, karena tanpa syarat,” ungkapnya.
Sepeninggal KH Ahmad Basyir tahun 2014, Pondok Pesantren Darul Falah dan Ijazah Dalail Khairat dilanjutkan tiga anak laki-laki dari delapan bersaudara. Yakni KH Ahmad Badawi Basyir, KH Ahmad Jazuli Basyir dan KH Muhammad Alamul Yaqin Basyir. 

“Anak abah dengan ibu (Nyai Solekhah) ada delapan, yakni  Dewi Umniyah, Inaroh Amti’ah, Ahmad Badawi, Arikhah, Saya (Muhammad Jazuli), Muhammad Asyiq (Almarhum), Nur Zakiyah Mabrurah dan terakhir Alamul Yaqin,” jelasnya.

- advertisement -

Sopir Truk asal Madiun Ini Lega Bisa Berlebaran di Kampung Halaman, Meski Terjebak di Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, PLADEN – Puluhan truk, kontainer dan tronton terparkir rapi di pangkalan truk di utara Jalan Raya Kudus-Pati, Desa Pladen, Kecamatan Jekulo, Kudus. Di sudut bagian pangkalan tersebut terlihat seorang
pria yang sedang duduk tak jauh dari sebuah kontainer. Pria itu bernaman
Rasisno (40), seorang sopir kontainer yang tidak bisa melanjutkan perjalanan
ke Surabaya karena larangan angkutan barang melaju di jalan.

pangkalan truk kudus

“Aku sampai pangkalan truk Jekulo Kudus pukul 22.00 WIB, dan sekarang aku sudah tidak boleh menjalankan kontainerku di
jalan raya, karena semua jenis kendaraan angkutan barang  mulai tanggal 1 Juli atau H-5 sampai
10 Juli atau H+5 Lebaran tidak boleh melintas di jalan
raya,” ujar pria yang akrab disapa Sisno kepada Seputarkudus.com.

Pria yang sudah sekitar 15 tahun menjadi sopir tersebut
mengaku, kontainernya akan ditinggal di pangkalan
truk Jekulo, Kudus. Dan dia akan naik bus ke Surabaya lalu pulang ke rumahnya
di Madiun.
Sisno mengatakan kontainernya sudah tidak memiliki muatan. Dia juga mengatakan
tidak khawatir meninggalkan kendaraannya di pangkalan truk karena sudah percaya keamananya.
“Dengan meninggalkan kendaraanku di pangkalan truk, aku bisa pulang ke rumah dengan perasaan tenang dan bisa
ber-Lebaran dengan nyaman bersama keluarga,” ungkap Sisno
Mustakim (37), petugas Dishubkominfo Kudus sebagi penarik TPR Pangkalan Truk mengatakan, puluhan mobil yang sudah terparkir di
pangkalan truk yang dia jaga dijamin keamananya. Selama 15 tahun bertugas di pangkalan truk tersebut Mustakim
mengatakan tak pernah ada kejadian kehilangan muatan atau barang di Pangkalan Truk Jekulo.
“Para sopir yang meninggalkan kendaraanya di Pangakalan Truk
Jekulo itu sudah sering singgah di pangkalan. Dan mereka juga sudah
hafal betul tentang keamanan. Harga menitipkan kendaraan angkutan barang
yakni Rp 4 ribu sehari
semalam, ” ujar Mustakim.

  
- advertisement -

Saat Mendirikan Pondok, Mbah Basyir Masih Mengabdi di Ponpes Al-Qaumaniyyah

0
SEPUTARKUDUS.COM, JEKULO Pondok Pesantren ini terletak di Desa Jekulo,
Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Sejumlah empat bangunan pondok berdiri kokoh
yang dihuni ratusan santri laki-laki dan perempuan. Pondok pesantren ini bernama Ponpes Darul Falah, yang didirikan KH Ahmad Basyir.

Ponpes Darul Falah Bareng Jekulo Kudus
KH Admad Badawi Basyir mengajar santri Ponpes Darul Falah, Jekulo, Kudus. Foto: Dokumen Ponpes Darul Falah

Dari kalangan santri setempat, keempat bangunan tersebut populer dengan sebutan Darul Falah satu, dua, tiga dan empat. Pengasuh Pondok Pesantren Darul
Falah KH Ahmad Jazuli Basyir mengungkapkan, bangunan pertama Ponpes Darul Falah yakni Darul Falah satu yang dibangun KH Ahmad Basyir sekitar tahun 1970.  


“Sebagian besar
yang mondok di Darul Falah anak dari desa yang pekerjaan orang tuanya petani,”
ungkapnya saat ditemui Seputarkudus.com belum lama ini.
Dia menceritakan, pertama kali Pondok Pesantren Darul Falah
berdiri sudah ada sekitar 72 santri yang mendaftar. Saat KH Ahmad Basyir
mendirikan Darul Falah masih ikut mengabdi di Pondok Al-Qaumaniyyah, milik gurunya KH Yasin yang jaraknya cukup dekat. “Jadi abah (KH Ahmad Basyir)
bolak-balik mengajar santrinya di Darul Falah dan di Al-Qaumaniyyah,”
ungkapnya.
Pada perkembangannya, tahun 1972 Darul Falah membangun
bangunan kedua karena santri yang ingin mondok semakin banyak. Selanjutnya bangunan
ketiga sekitar tahun 1990 dan terakhir tahun 2001. “Masa-masa pendirian Darul Falah
satu dan dua, saat itu ada tren
mondok yang luar biasa,” jelasnya.
Sampai sekarang menurut Gus Jazuli, panggilan akrab KH Ahmad
Jazuli Basyir, terdapat sekitar 1.000 orang lebih yang nyantri di Darul Falah. “Pondok
Darul Falah cukup terkenal dengan Dalail Khairatnya,” tuturnya.
Gus Jazuli menjelaskan, selain belajar kitab kuning dan
Al-Quran, santri-santri juga banyak mengikuti Dalail Khairat. Menurutnya,
Dalail Khairat yakni puasa tirakatan tahunan di mana setiap harinya membaca
kitab Dalail Khairat yang berisi kumpulan selawat kepada Nabi Muhammad SAW. “Rugi
rasanya jika ada santri tidak mengikuti Dalail Khairat. Karena kebanyakan santri
mengikutinya,” ungkapnya.
Perubahan sistem pengajaran yang terdapat di Pondok
Pesantren Darul Falah menurutnya juga banyak dimodifikasi  kakaknya, KH Ahmad Badawi Basyir. Sebelum tahun
1990, di Darul Falah hanya mengaji kitab bandongan. “Kitab bandongan
yakni mengaji kitab kuning dan santri memaknai dengan huruf pegon,” tuturnya.
Selanjutnya tahun 1990, KH Ahmad Badawi menambahkan sekolah takhassus (klasikal) yang diatur dengan sistem kelas. Menurutnya, level kelasnya
ada enam. Nanti ada model naik kelas. “Insya Allah setelah lulus kelas enam akan
pintar membaca kitab kuning,” terangnya.

Sekarang Pondok Pesantren Darul Falah dilanjutkan tiga orang
dari delapan anaknya. Yakni KH Ahmad Badawi Basyir, KH Ahmad Jazuli Basyir dan Muhammad
Alamul Yaqin Basyir.

- advertisement -

Tak Hanya Keciput, Nastar dan Kue Mandarin Juga Laris Manis Menjelang Lebaran

0
SEPUTARKUDUS.COM, WERGU KULON – Di tepi selatan Jalan Pemuda, Kelurahan Wergu Kulon, Kota,
Kudus, tampak bangunan yang pelataranya dipenuhi beberapa motor. Di luar
pagar juga terlihat beberapa mobil yang parkir silih berganti. Bangunan tersebut merupakan toko yang menjual aneka roti dan kue, bernama Toko Cynthia. Menjelang Lebaran kue nastar dan kue mandarin yang diproduksi laris manis diserbu pembeli.

jual kue nastas di Kudus

“Kue nastar dan kue mandarin senjak memasuki
Ramadan sudah mulai banyak permintaan. Puncak kenaikan penjualan sekitar
Hari Raya idul Fitri kurang sepuluh hari. Mulai hari tersebut pesanan, pembuatan
serta penjualan sangat banyak, bahkan bisa enam kali lipat dibanding dengan
hari biasa,” ujar  Alien Sylvia (45)
pengelola toko Cynthia Cake and Taart kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Perempuan yang biasa disapa Alien tersebut menuturkan, selain Ramadan dirinya hanya bisa menjual lima toples nastar sehari. Sedangkan menjelang Lebaran penjualan nastar bisa mencapai 30 toples sehari. Dia juga menjual nastar secara kiloan, menjelang Lebaran ini dirinya bisa menjual delapan kilogram sehari, dengan harga Rp 114 ribu
hingga Rp 190 ribu per kilogram.
Sedangkan untuk kue mandarin, pada bulan Ramadan ini, katanya, Toko Cynthia
Cake & Taart bisa menjual sekitar 25 kardus dengan harga Rp 130
ribu per kardus. Bahkan mulai H-10 Lebaran, penjualan bisa sampai 50 kardus sehari.   
Perempuan berkaca mata tersebut
mengatakan, berbeda dengan kue mandarin yang hanya ada satu jenis, kue nastar
diproduksi dengan berbagai jenis. Itu diantaranya, nastar keranjang, natar bulat, nastar gendon, serta nastar usus. “Dari berbagai macam
jenis nastar itu hampir semuanya laris dan diminati para pembeli menjelang
Lebaran tahun ini,” ucapnya.
Di toko yang mulai berdiri sejak tahun 1992 tersebut, kata Alien, selain menjual kedua kue itu, dia juga
menjual berbagai macam kue yang lain. Kue itu diantaranya kue kering lidah kucing,
kastangel, kue putri salju, semprit kacang dan lainya. Dia juga menambahkan, di
toko yang dia kelola juga menjual jajanan basah, di antaranya, kue
klepon, lapis serta Jentik manis dan ada juga berbagai macam keripik.
“Hasil penjualan berbagai macam jenis kue yang ada di Toko
Cynthia Cake & Taart menjelang Lebaran omzet sekitar Rp
10 juta sehari, atau meningkat dua kali lipat dibandig dengan hari biasa,” ungkapnya.

  
- advertisement -

Syarif Tabung Uang Santunan untuk Sekolah, Lebaran Cukup Kenakan Baju Lama

0
SEPUTARKUDUS.COM, JURANG – Ratusan anak terlihat memadati aula Asrama Yatim Piatu
Darussalamah, Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Sabtu (2/7/2016). Secara bergantian mereka menerima bingkisan dan
amplop yang berisi uang. Anak-anak tersebut merupakan yatim piatu penghuni Asrama Yatim Piatu Darussalamah. Satu di antaranya
M Syarif Hidayatullah (10), yang mengaku tidak akan menggunakan uang santunan yang diterimanya untuk membeli baju Lebaran.

pembagian santunan kepada anak yatim piatu kudus
Sekda Kudus Nor Yasin menyerahkan bingkisan kepada anak yatim piatu di Asrama Yatim Piatu
Darussalamah, Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Sabtu (2/7/2016). Foto: Imam Arwindra.

 

Syarif mengungkapkan, Lebaran tahun ini uang yang didapat dari acara santunan tidak digunakannya untuk
membeli baju, melainkan ingin ditabung. Pakaian lama yang
dimilikinya masih bagus. “Uang ini nanti akan saya tabung, tidak untuk membeli
baju. Lebaran ini saya memakai baju lama saja. Kan masih bagus,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com.

Siswa di SDN 2 Jurang itu menuturkan, uang yang
dia tabung akan digunakannya untuk biaya bersekolah. Dia bercita-cita ingin menjadi
seorang guru. “Saya ingin kuliah biar bisa menjadi guru,”
tambah Syarif.

Ahmad Nashier (68), pendiri Yayasan Yatim Piatu Darussalamah
mengungkapkan, kegiatan yang diadakannya sudah menjadi rutinitas tahunan. Menurutnya
ada 255 anak yatim dan yatim piatu yang datang untuk menrima santunan. “Jumlah
tersebut dari 64 orang penghuni panti dan selebihnya dari sekitar Desa Jurang,”
tuturnya.
Di yayasan yang didirikannya, santunan yang diberikan tidak
hanya saat menjelang Idul Fitri, melainkan juga pada 10
Muharram dan 27 Rajab. “Ada satu lagi bonus tanggal 10 Dzulhijjah. Kami menyebutnya
nyate bersama,” tuturnya.
Yayasan yang didirikannya tahun 1994, katanya, mewajibkan santrinya
untuk mengikuti sekolah formal SD, SMP, SMA dan sederajatnya. Selain itu juga
ada kegiatan pengembangan diri yang diajarkan di asrama panti asuhan. “Ini ada
lima anak didik kami yang memenangkan lomba tingkat Kabupaten Kudus. Alhamdulillah, Pak Sekda (Sekertaris
Daerah Kudus) Yasin mau hadir untuk memberikan tropi secara simbolis,”
tuturnya.
Dia berharap, yayasan yang dipimpinnya juga mencetak
anak-anak yang hafal Al-Quran. “Terima kasih saya ucapkan kepada semua pihak
yang membantu terselenggaranya acara ini. Kami memohon doa, berharap dengan
ridho Allah SWT bisa mendirikan Pondok Hafidz,” tuturnya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Kudus, Noor Yasin yang hadir
dalam kegiatan tersebut menuturkan, Pemerintah Kabupaten Kudus mengucapkan
banyak terima kasih dan penghargaan kepada pengurus Yayasan Yatim Piatu Darussalamah
dan para donatur yang telah membantu terselenggaranya acara tersebut. 

Menurutnya,
semangat gotong royong sangat penting untuk menjadikan Kudus semakin sejahtera.
“Kita harus menjaga dan perkuat ukhuwah Islamiyyah supaya Kudus masyarakatnya akan sejahtera dan semakin sejahtera,”
ungkapnya. 

- advertisement -

Agar Mudik Tetap Ganteng, Singgahlah di Posko Mudik Unilever SPBU Hadipolo Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, HADIPOLO – Tangan wanita berkaus hitam terlihat begitu cekatan mencuci rambut seorang pria menggunakan sampo. Sesekali wanita tersebut dengan ramah mengajak mengobrol pria itu.
Wanita tersebut bernama Okta Delvia (24), seorang hair styling di Posko Mudik Unilever,
SPBU Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, yang bisa membuat pemudik tetap ganteng maksimal meski telah menempuh perjalanan jauh.

keramas gratis di posko mudik unilever kudus

Okta mengaku menjadi hair styling di Posko Mudik
Unilever
sejak 29 juni 2016. Sesuai jadwal di akan di posko mudik untuk memberikan layanan gratis kepada pemudik hingga H-1 Lebaran. Selama di posko itu, dia mengaku bisa memberikan pelayanan gratis hingga puluhan orang sehari.


“Kurang lebihnya sekitar sepekan aku kerja di Posko Mudik
Unilever. Selama di sini saya dapet honor Rp 150 ribu sehari dan dapat uang makan Rp 15 ribu sehari.
Tapi bila long sift dapat honor dan uang makan dua kali lipatnya,” kata wanita
yang biasa disapa Okta kepada Seputarkudus.com, Sabtu (2/6/2016).
Penanggung jawab Posko Mudik Unilever 2016 di Kudus, Suwito (25) mengatakan,
posko mudiknya mengusung moto Ganteng Sampai Kampung Selama Mudik. Dia juga Posko Mudik Unilver disediakan tiga zona
yakni Zona Ganteng, Zona Santai dan Zona Ganteng Sampai Kampung.
“Dari ketiga zona tersebut masing-masing ada fasilitasnya. Zona Ganteng terdapat fasilitas keramas menggunakan Clear Men Shampoo, cuci
muka menggunakan Ponds, serta Axe Men dan Rexona deodoran. Fasilitas itu
gratis bagi siapa saja para pemudik yang ingin tetap ganteng,” ujar Suwito.

 Sedangkan untuk Zona Santai, kataya, disediakan
fasilitas kursi pijat dan charger boot. Pemudik yang ingin berpijat
dan mau mengisi baterai ponsel atau mau dua-duanya bisa singgah sejenak di Posko Mudik Unilever, tanpa dipungut biaya sepeserpun.

Zona Tetap Ganteng, kata Sauwito, ditawarkan beberapa paket produk Unilever dengan harga Rp 20 ribu kepada para pemudik. Paket tersebut terdiri dari  Clear Men Shampoo, sabun cuci muka Ponds Men, Rexona Men
Deodorant dan minyak wangi Axe Men.
“Jadi para
pemudik  yang sudah membeli paket produk
Unilever tersebut tetap bisa cuci muka, keramas, memakai deodorant maupun pakai minyak
wangi sewaktu-waktu saat istirahat di perjalanan,” ujarnya.
Suwito menuturkan, Posko Mudik Unilever 2016 sekaligus mengenalkan kepada masyarakat bahwa produk Unilever tidak hanya untuk
wanita, tetapi juga untuk pria. Di posko
mudik Unilever Kudus buka mulai Jam 08.00 WIB sampai pukul 24.00 WIB, dengan
mempekerjakan 21 orang yang dibagi dalam dua sift.

- advertisement -

Jumputan di Tanjung Karang Ini Miliki Tiga Rasa, Cocok untuk Hidangan Lebaran

0
SEPUTARKUDUS.COM, TANJUNG KARANG – Masyarakat Kudus
mungkin tidak asing dengan makanan ringan bernama jumputan. Camilan yang terbuat dari beras ketan yang digoreng tersebut memang bisa disebut
hidangan khas Lebaran, khususnya di Kudus. Makanan ringan yang biasanya hanya memiliki rasa
gurih, di tangan keluarga ini jumputan diproduksi dengan tiga varian rasa.

Teras toko berpintu rolling dor warna biru di Desa Tanjung
Karang, Kecamatan jati, Kudus, tepatnya di tepi perempatan selatan Polsek
Jati terlihat banyak bahan jumputan dijemur. Di dalam toko
tersebut ada tiga orang sedang sibuk menjumput
beras ketan dan menaruhnya di tampah. Tempat tersebut adalah Rumah Jumputan
Zamna, pembuat jumputan yang memiliki tiga varian rasa tersebut. Tiga rasa itu antara lain udang, terasi dan bawang.

Maslamah (45) pemilik Rumah Jumputan Zamna mengatakan, sudah
sekitar 15 tahun dirinya memproduksi jumputan dengan tiga varian rasa tersebut. Sejak dulu saat Lebaran di Kudus, masyarakat membuat jumputan untuk
dihidangkan kepada kerabat yang datang.
“Karena seringnya tiap tahun membuat jumputan dengan rasa itu-itu
saja, timbul ide untuk memproduksi jumputan dengan tiga varian rasa
tersebut dan menjualnya,” kata perempuan yang akrab disapa Amah kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.
Wanita berjilbab tersebut mengatakan, selama Ramadan jumputan dengan tiga rasa produksinya sudah terjual sekitar 500 bungkus, dengan harga Rp 13 ribu per bungkus. 
Amah mengaku, jumputan memang dikenal sebagai makanan khas
hidangan Lebaran dan diproduksi pada Ramadan. Tetapi di Rumah Jumputan Zamna, jumputan tetap diproduksi pada bulan-bulan selain Ramadan. Dia juga mengunkapkan, meskipun usahanya itu belum
besar tetapi dia sudah mempunyai beberapa pelanggan.
“Bagi masyarakat Kudus dan sekitarnya yang ingin membeli jumputan dengan tiga varian rasa, udang, terasi, bawang bisa datang ke alamat
rumah atau menghubungi ke no 0815 4876 0908,” tambahnya.

- advertisement -

Masjid di Cendono Kudus Ini Didirikan Zaman Belanda dan Mirip Masjid Demak

0
SEPUTARKUDUS.COM, CENDONO – Halaman masjid ini tampak luas. Terpakir beberapa
kendaraan milik jamaah di depan masjid yang berbentuk kotak ini. Di bagian atas,
terdapat mustaka di puncak cungkup. Masjid ini bernama Faidlurrahman, terletak di Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Masjid ini sudah ada sejak pemerintahan kolonial Belanda, dan memiliki arsitektur milik Masjid Demak yang hingga kini masih dipertahankan.

Masjid Desa Cendono

Di masjid ini terdapat satu pintu dengan empat jendela di bagian samping. Di ruang utama salat,
empat saka terbuat dari kayu terlihat berdiri tegak menjulang sampai
lantai dua masjid.

Menurut Kusminto (50),
Ketua Pengurus Masjid Faidlurrahman, empat saka di bagian tengah masjid masih asli sebagaimana pertama kali masjid dibangun. “Saya kurang tahu tepatnya (berdirinya masjid), karena saya lahir tahun 1965 masjid tersebut sudah ada,” tuturnya ketika ditemui di kediamannya, Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.

takmir Masjid Desa Cendono
Dia mengungkapkan, Masjid Faidlurrahman sudah berdiri pada
zaman Kolonial Belanda dengan arsitektur Jawa yang menyerupai Masjid Agung
Demak. Masjid Faidlurrahman sejak berdiri sudah digunakan untuk salat
Jumat. Masjid ini terakhir kali direnovasi pada 1994. “Saya generasi kedua yang mengurusi masjid ini,”
ungkapnya.

Kusmianto menjelaskan, bangunan asli masjid tersebut
terletak di ruang utama salat. Bagian aula depan dan samping selatan merupakan bangunan baru. Masjid ini berdiri kurang lebih di atas lahan wakaf setengah
hektare dengan dua ruang salat untuk laki-laki dan perempuan.

arsitektur Masjid Desa Cendono

Menurutnya, renovasi pada tahun 1994 dirancang seorang
bernama Nasikin yang juga warga Desa Cendono. “Masjid Faidlurrahman ya seperti
masjid-masjid biasa pada umumnya,” tuturnya.

Di ruang utama salat terdapat
empat saka dengan ruang pengimaman yang dekat dengan mimbar khotbah. Di atasnya terdapat
tulisan sahadat berwarna kuning. Di sampingnya, dua jam dinding
berbentuk bulat yang menunjukkan Istiwa dan WIB. Pada lantai dua pun dipergunakan untuk salat dengan pagar pembatas terbuat dari kayu.
“Kalau lantai dua biasanya dipakai ketika jumatan dan salat Idul Fitri,”
tuturnya.

Masjid Desa Cendono

Dia memberitahukan, selain digunakan untuk salat, masjid tersebut
juga digunakan untuk kegiatan masyarakat. Setiap malam Senin untuk selawatan
dan pembacaan kitab Al-Barzanji serta malam Jumat kegiatan rutin yasinan dan
tahlilan. “Ya untuk urip-uripan masjid,” tambahnya.

- advertisement -

Anak Kampung Pintar Mejobo Bagi-Bagi Minuman Takjil di Jalan Lingkar, Tapi Ditolak

0
SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG – Tangan laki-laki kecil itu masih membopong
beberapa minuman buah yang dikemas dalam gelas plastik. Saat lampu merah menyala, dia membagikan minuman untuk takjil tersebut secara gratis kepada pengendara di Jalan Lingkar Selatan Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus. Yusuf Bahtiyar (9), nama laki-laki kecil tersebut. Meski telah repot membagikan minuman takjil, namun niat baiknya itu justru banyak ditolak sejumlah pengendara.

Yusuf yang mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Komunitas Kampung Pintar Mejobo tersebut menuturkan, dia sudah menghampiri pengendara
motor dan mobil namun selalu ditolak. “Saya sudah menghampiri tapi ditolak terus,” ungkap Yusuf yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu kepada Seputarkudus.com dengan kesal.

Menurunya dia hanya ingin berbagi kepada pemudik yang
melintasi perempatan dekat rumahnya. “Kan saya kasihan, di jalan pasti tadi kena
macet dan belum sempat berbuka,,” tuturnya saat membagikan minuman takjil di Perempatan
Lingkar Jepang Kudus, Jumat (1/7/2016).
Jamilludin, pengelola Komunitas Kampung Pintar Mejobo menuturkan, minuman takjuil milik Yusuf ditolak karena mungkin disangka dia penjual minuman. Dia menceritakan, saat Yusuf
menghampiri pengendara yang berhenti di lampu merah dia hanya diam dan
memberikan es buah yang dibawanya. “Yusuf hanya diam, tidak bilang gratis. Paling
ya dikira penjual minuman,” ungkapnya.
Menurutnya, setelah didampingi dan diminta mengatakan minumannya gratis, banyak pengendara yang mau menerima minuman takjil yang diberikan. “Tadi sudah saya dampingi
dan saya suruh ngomong minumannya gratis. Itu sudah banyak yang mau
menerima,” tuturnya.
Jamalludin yang juga koordinator pembagian minuman takjil gratis menuturkan,
pembagian takjil berupa minuman buah dan kurma ini dilakukan oleh anggota
Komunitas Kampung Pintar Mejobo didukung oleh Putra Barokah. Jumlah minuman takjil yang diberikan
sebanyak 200 gelas lebih. 

Dirinya mengaku, sengaja mengajak anak-anak yang
biasanya belajar di Kampung Pintar Mejobo untuk mengajarkan kepedulian kepada
sesama. “Saat ini sedang berlangsungnya mudik Lebaran 2016. Kudus satu di antara
wilayah di jalur pantura yang dilewati pemudik,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, pembagian minuman takjil diikuti 18 orang yang dibagi di dua
titik. “Semua berjalan lancar, semoga ini dapat menjadi bekal untuk Komunitas Kampung
Pintar Mejobo untuk terus bisa memberikan nilai-nilai kebaikan kepada anak-anak,” tuturnya.

- advertisement -

Sumi’ah Terpaksa Utang ke Rentenir untuk Berjualan Daging Ayam Jelang Lebaran

0
SEPUTARKUDUS.COM, JANGGALAN – Di sebelah timur tepi Jalan HM Subchan, Desa Janggalan,
Kecamatan Kota, Kudus, tampak seorang perempuan tua berjilbab dan mengenakan baju
warna kuning. Dia duduk menunggui puluhan potong daging ayam yang berada di atas papan
beralaskan taplak plastik. Perempuan tersebut bernama Sumiah (56), yang sehari-hari berjualan daging ayam. Menjelang Lebaran ini dia ingin hasil penjualannya meningkat, tapi dia tak punya cukup modal.

Sambil menunggu pembeli, Sumi’ah menuturkan, pada Ramadan tahun ini sebenarnya penjualan daging ayam
mengalami peningkatan. Namun karena keterbatasan modal, setiap
harinya Sumi’ah mengaku tetap menjual daging ayam sama
seperti bulan lainya.

“Setiap harinya aku membawa sekitar 40 kilogram daging ayam,
jumlah yang sama dengan daging yang aku jual sebelum Ramadan. Padahal selama
Ramadan  setiap pukul 11.00 WIB daganganku
tinggal, menyisakan satu kilogramn daging ayam,” kata Sumi’ah kepada Seputarkudus.com.
Perempuan yang pada hari itu ditemani suaminya
mengaku, sebenarnya setiap Ramadan, apalagi di hari- hari menjelang Lebaran seperti ini, dia hafal betul bila penjualan daging ayamnya tersebut
akan cepat habis.
Tetapi Sumiah tidak bisa berbuat apa-apa untuk memanfaatkan momen tersebut,
karena keterbatasan modal.  “Sebenarnya
kalau ada jaminan aku ingin sekali pinjam uang di bank untuk menambah modal,
apalagi sekarang ada program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang katanya bunganya
kecil,” ungkapnya.
Warga Kelurahan Mlati,
Kecamatan Kota, Kudus, itu mengatakan, karena tidak punya jaminan, selama ini
dia hanya utang ke rentenir sebesar Rp 500
ribu tanpa jaminan. “Jumlah uang tersebut harus diangsur setiap hari Rp 20
ribu selama 40 kali,” kata Sumi’ah.
Sumi’ah mengaku sudah sekitar 30 tahun berjualan daging
ayam. Dia menjual daging ayam di tepi Jalan HM Subchan pada
pagi hari, bila sampai pukul 11.00 WIB belum habis, dia pindah berjualan di depan pabrik rokok Djarum.
“Sisa berapapun daging ayamku, kalau dibawa di
depan pabrik rokok tersebut biasanya terjual habis dibeli para buruh pabrik
rokok,” kata Sumi’ah.

- advertisement -

Marneng Asam Manis Produksi Singocandi Ini Terkenal di Banyak Daerah

0
SEPUTARKUDUS.COM, SINGOCANDI – Di dekat lapangan Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kudus,
tampak rumah ramai didatangi orang. Setiap orang yang
meninggalkan rumah itu membawa kantong plastik berisi berbagai
macam camilan. Rumah tersebut milik Muhammad Thoyyib (65), seorang produsen makanan marneng manis pedas. Meski pernah jatuh akibat kiosnya di Pasar Kliwon terbakar, namun Thoyyib mampu bangkit dan berhasil membuat usahanya menjadi besar.

penjual marneng asam manis di Kudus

“Aku mendirikan usaha Marning manis pedas sekitar tahun
1981, setelah kiosku di Pasar Kliwon terbakar di tahun 1980. Setelah kejadian tersebut istriku bicara agar aku tidak
usah berdagang CD (compact disk) di pasar, tetapi membuat usaha di rumah
saja,” ujar Thoyyib kepada Seputarkudus.com

Pria yang di hari itu mengenakan kaos oblong dan mengenakan peci menuturkan, setelah istrinya memintanya untuk membuat
usaha di rumah, dia memutuskan untuk memproduksi marneng manis pedas sebanyak
25 kilogram. Proses pembuatan dia kerjakan dibantu oleh istrinya.
“Saat itu aku belum mampu membayar karyawan sehingga semua aku
kerjakan bersama istri. Setelah marneng produksiku jadi dan siap aku
pasarkan, ada beberapa pemilik toko yang menjual camilan datang untuk membeli marneng manis pedas hasil produksiku,” ungkap ayah empat
anak tersebut.

penjual marneng asam manis di Kudus
Thoyyib mengatakan, sejak itulah marneng manis
pedas produksinya mulai dikenal di pasaran. Hingga sekitar tahun 1991 Thoyyib
mengaku mampu memproduksi sekitar 4 kwintal sehari dengan mempekerjakan sekitar
sembilan orang.
“Kini setelah mampu
memproduksi empat kuintal sehari. Pedagang langgananku tidak hanya di Kudus saja tetapi juga di beberapa daerah luar Kota Kretek,
di antaranya, Pati, Jepara, Demak, Purwodadi, Semarang. Bahkan sekarang mencoba
memasarkan ke Cirebon,” ungkapnya.
Thoyyib mengaku sejak tahun 2001 marneng produksinya didaftarkan untuk diberi merek Dua Merpati. Marneng tersebut dijual Rp 12 ribu satu kilogram. “Selain produksi marneng, aku juga
memproduksi emping jagung manis pedas dan makaroni dengan merek yang sama.
Pokoknya yang bergambar merpati dua berarti hasil produksi ku,” katanya.
- advertisement -

Inilah Cerita Dalail Khairat di Pondok Darul Falah Kudus yang Termasyhur

0
SEPUTARKUDUS.COM, JEKULO – Di Jalan Sewonegoro, Bareng, Dukuh Kauman, Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo, terdapat pondok pesantren yang ditempati para santri untuk menimba ilmu. Pondok pesantren itu bernama Darul Falah. Selain dikenal tempat menimba ilmu, pondok tersebut juga dikunjungi banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka datang untuk meminta ijazah Dalail Khairat.

pengasuh pondok pesantren darul falah kudus
KH Ahmad Jazuli Basyir, atau Gus Jazuli. Foto: Imam Arwindra

KH Ahmad Jazuli, atau lebih akrab disapa Gus Jazuli, satu di antara pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah, mengatakan, orang-orang datang meminta ijazah kepada ayahandanya, KH Ahmad Basyir. Namun, setelah meninggal, ijazah tersebut diberikan tiga anaknya, KH Ahmad Badawi Basyir, dirinya dan KH Muhammad
Alamul Yaqin Basyir. 

“Karena tradisi pesantren menghormati yang lebih tua,
lebih baikknya ke kakak saja (KH Ahmad Badawi Basyir),” tuturnya kepada Seputarkudus.com.

Dari penjelasan Gus Jazuli, ayahnya mendapatkan ijazah
Dalail Khairat dari gurunya, KH Yasin Jekulo dan Kiyai Muhammadun
Pondohan. “Kalau
runtutan sanadnya kurang lebih KH Ahmad Basyir dari KH Yasin Jekulo dan
KH
Muhamadun Pondohan. Selanjutnya, dari KH Muhammad Amir bin Idris
Pekalongan, Muhammad Mahfudz Mekah, sampai ke penyusun Syekh Sulaiman
al-Jazuli
Maroko,” terangnya.

Dia menceritakan muncul awalnya Dalail Khairat yakni ketika ulama
besar Syekh Sulaiman Al-Jazuli Maroko pergi ke Baitullah, Mekah bersama
santrinya. Namun di tengah jalan rombongan kehabisan air. Akhirnya dia menemukan
sumur yang dalam namun tidak ada gayungnya. Saat itu
muncullah anak perempuan penduduk setempat yang meminta Syekh Sulaiman Al-Jazuli untuk membaca selawat kepada Nabi Muhammad.

Seketika itu, air yang ada di dalam sumur tersebut tiba-tiba
naik. Lalu akibat peristiwa tersebut Syekh Sulaiman Al-Jazuli akhirnya
mengarang kitab Dalail Khairat yang berisi kumpulan selawat kepada Nabi
Muhammad. “Saya tidak tahu anak itu siapa, yang lebih tahu ya Mbah Basyir,”
tuturnya.

Gus Jazuli menjelaskan, puasa Dalail Khairat
yakni puasa riyadhoh sunnah yang dilakukan dalam waktu beberapa tahun. Setiap hari membaca kitab Dalail Khairat yang berisi
kumpulan selawat. “Puasa Dalail itu ada dua, Dalai Khairat dengan Dalail Quran. Perbedanya terletak pada lamanya berpuasa dan bacaan setiap hari,”
jelasnya.

Puasa Setiap Hari Selama Tiga Tahun

Gus Jazuli menambahkan, puasa Dalail Khairat
dilakukan selama tiga tahun
dan setiap hari membaca kitab Dalail Khairat yang berisi selawat. Menurutnya,
Tabarukan saja
(mencari berkah) sesuai anjuran Al-Quran. sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman,
berselawatlah kalian dan ucapkanlah salam penghormatan kepada-Nya
(Surat Al-Ahzaab ayat 56),” tuturnya.
Menurutnya, berselawat itu bagi manusia memiliki arti ber-tawasul agar mendapatkan safaat dari
Nabi Muhammad. Sedangkan malaikat memintakan maaf kepada manusia yang membacakan selawat
dan Allah ngalembana (memuji) kepada
Nabi Muhammad. “Meskipun niatnya riya (pamrih), membaca selawat mendapatkan pahala. Apalagi
tidak riya,” tambahnya.

Halaman rumah milik Gus Jazuli tampak sangat luas.
Rumahnya itu masuk kawasan Pondok Pesantren Darul Falah yang didirikan ayahandanya. Halaman rumah tersebut menurut Gus Jazuli, setiap 16 Maulud digunakan untuk ijazah masal Dalail
Khairat.

Gus Jazuli menuturkan, ketika ayahandanya masih hidup setiap
tanggal 16 Maulud banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia datang untuk
meminta ijazah Dalail Khairat. Kegiatan tersebut juga memperingati haul Abu
Abdillah Muhammad Ibn Sulaiman Al-Jazuliy Al-Simlaliy Al-Syarif Al-Hasani, 
pengarang kitab Dalail Khairat. 

“Selain ijazah masal juga haul pengarang
kitab Dalail Khairat Muhammad Ibn Sulaiman Al-Jazuliy dari Maroko,” tuturnya
ketika ditemui Seputarkudus.com, beberapa wakt lalu.

- advertisement -

Inilah Titik Lelah Pemudik di Jalur Pantura Kudus yang Rawan Kecelakaan

0
SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Lalu lalang kendaraan terlihat ramai lancar melintas
di Gerbang Kudus Kota Kretek, Jati, Kudus, Kamis (30/6/2016). Kendaraan pribadi baik mobil maupun motor mendominasi
kawasan yang berbatasan dengan Kabupaten Demak tersebut. Memasuki musim mudik Lebaran tahun ini, Polres Kudus telah menyiapkan sejumlah pos pengamanan di beberapa titik, yang juga bisa digunakan sebagai rest area, khususnya di titik lelah para pemudik di jalur Kudus-Pati.
 

Gerbang Kudus Kota Kretek
Sejumlah kendaraan pribadi melintas di Gerbang Kudus Kota Kretek, Kamis (30/6/2016). Foto: Imam Arwindra
Menurut Kapolres Kudus AKBP Andy
Rifa’i, pada musim mudik Lebaran tahun 2016 diprediksi akan ada sekitar 2,5 juta kendaraan
yang masuk Jawa Tengah. Jumlah tersebut akan terpecah di masing-masing kabupaten
yang dilewati pemudik. 

“Kendaraan yang ke arah Surabaya yang melewati Kudus masih tinggi. Mereka akan banyak lewat jalan lingkar (selatan),” tuturnya ketika ditemui setelah  Apel Kesiapan Pengamanan Mudik Lebaran di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, hari ini.

Jalan Lingkar Selatan Kudus yang pempunyai panjang sekitar
13,7 kilometer, menurutnya berpotensi terjadi banyak kecelakaan. Dia menuturkan, Jalan Lingkar Selatan dan jalur arah Jekulo merupakan titik lelah pemudik ketika melewati
Kudus. “Dua titik ini rawan kecelakaan, Jalan Lingkar
Selatan dan arah ke Jekulo (Jalan Kudus-Pati),” ungkapnya.
Andy mengungkapkan, pihanya sudah menyiapkan
pengamanan dan rekaya lalu lintas selama Lebaran 2016. Selain, pemantauan di
pos pelayanan lalu lintas juga didirikan pos pam di beberapa titik yang butuh pengamanan. “Anggota kami sudah disiapkan di titik-titik tersebut, baik
di pos pelayanan, pos pam maupun mobile
di lokasi untuk melakukan patroli,” terangnya.
Dia menambahkan, selain itu kepolisian juga menyiapkan spanduk-spanduk imbauan di titik-titik yang berpotensi rawan kecelakan. “Semua sudah diap
nanti akan kami pasang,” tuturnya.
Andy juga mengimbau kepada pengguna jalan untuk
lebih berhati-hati dan menghormati pengendara lain. “Yang terpenting yakni pengguna jalan. Semoga
angka kecelakaan lalu lintas tahun ini bisa menurun,” tuturnya.

Apel Siaga

Dalam Apel Kesiapan Pengamanan Mudik Lebaran yang diikuti
sekitar 850 personel gabungan dari unsur Kepolisian, TNI, BPBD, Satgas dan Pramuka. Bupati Kudus Musthofa menuturkan, dalam mudik Lebaran tahun
ini keamanan perlu ditingkatkan. “Supaya pemudik yang menuju ke Kudus atau
melewati aman dan nyaman,” tuturnya.

Pihaknya akan terus memantau dan berkoordinasi dengan
satuan tugas yang bersangkutan supaya pemudik tahun ini bisa merayakan Lebaran
dengan nyaman bersama keluarga.

- advertisement -

Kisah Teladan (18) Tak Tega Melihat Tetangga Memakan Bangkai

0

Suatu ketika Abdullah bin Mubarak melaksanakan ibadah haji. Saat di Masjidil Haram, dirinya tertidur dan bermimpi. Dalam mimpinya itu dia melihat ada dua malaikat turun dari langit, dan keduanya berbincang. Mereka membicarakan perihal banyaknya orang yang ibadahnya diterima Allah.

Abdullah mendengar perbincangan dua malaikat itu. Dia menderngar, jumlah orang yang berhaji pada tahun itu sebanyak 600 ribu orang, tapi tak satupun ibadah haji mereka diterima. Berkat satu orang bernama Muwaffaq yang tinggal di kota Damsyiq, ibadah haji 600 orang tersebut diterima, padahal Muwaffaq tak menunaikan ibadah haji pada tahun itu.

Setelah mendengar perbincangan dua malaikat itu, Abdullah terbangun dari mimpinya. Dia kemudian berniat mencari orang bernama Muwaffaq yang disebut malaikat dalam mimpinya. Dirinya ingin tahu, kebaikan apa yang telah dilakukan Muwaffaq, sehingga Allah menerima ibadah haji pada tahun itu.

Kemudian, Abdullah menunaikan niatnya, dia pergi ke kota Damsyiq. Setelah tiba di kota itu, dia mencari tahu keberadaan Muwaffaq. Akhirnya dia mengetahui tempat tinggal Muwaffaq dan menemuinya.

Setelah bertemu, Abdullah menceritakan apa yang dia alami di Masjidil Haram, Mekah. Dia kemudian bertanya, kebaikan apa yang telah dilakukan, sehingga dia mendapatkan derajat yang tinggi.

“Sudah lama saya berniat akan pergi ke Mekah untuk menunaikan haji. Pada suatu hari, saya mendapatkan uang 300 dirham. Uang tersebut akan saya gunakan untuk berangkat ke Mekah. Istri saya saat itu sedang hamil. Suatu hari dia mencium bau masakan dari tetangga, dan meminta saya untuk meminta makanan itu kepada tetangga yang memasak makanan itu,” cerita Muwaffaq kepada Abdullah.

“Setelah saya mengetuk pintu rumah tetangga saya, dan meminta makanan yang dia masak untuk istri saya, dia menolak memberikannya. Dia kemudian menceritakan semua hal tentang masakan itu,” lanjut Muwaffaq bercerita.

Perempuan tetangganya itu, kata Muwaffaq, memiliki beberapa anak yatim. Anak-anak tersebut lapar, namun dirinya tak memiliki apapun untuk dimasak. Setelah dia keluar rumah, dia mendapati seekor keledai yang telah menjadi bangkai. Diambillah keledai itu dan kemudian dimasak, dan diberikannya kepada anak-anaknya untuk dimakan.

“Perempuan itu berkata, ‘daging keledai ini halal untuk kami, tapi haram untukmu. Kami terpaksa memakan daging bangkai karena kami tak memiliki apapun untuk dimasak.’ Mendengar cerita itu saya pulang ke rumah,” kata Muwaffaq.

 Kemudian, diambillah uang 300 dirham yang hendak digunakan Muwaffaq untuk berhaji. Diserahkanlah uang itu seluruhnya kepada tetangganya tersebut. “Gunakanlah uang ini untuk makan. Sesungguhnya uang ini akan saya gunakan untuk berhaji. Namun, biarkanlah aku berhaji di depan pintu rumahmu,” kata Muwaffaq kepada tetangganya. (Wallahu A’lam)  

- advertisement -

Karomah Produksi Jenang Rumput Laut, Varian Rasa Khusus untuk Lebaran

0
SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Toko bercat warna hijau berada di tepi Jalan Sosrokartono, Desa Kaliputu, Kota, Kudus, itu tampak ramai didatangi pembeli. Toko yang di bagian dalamnya
hampir dipenuhi etalase kaca dan rak besi berisi beraneka rasa olahan makanan
jenang tersebut bernama Karomah. Menjelang Lebaran, Toko Jenang Karomah membuat jenang rasa khusus, yakni jenang rumput laut.

Jenang Kudus Karomah
Zaenal Arifin (51) pemilik Toko Jenang Karomah menuturkan, sudah
beberapa tahun terakhir menjelang Lebaran dirinya selalu memproduksi jenang rumput
laut. Karena jenang ini dibuat dengan bahan rumput laut ini tidak bisa bertahan lama, maka dirinya hanya memproduksinya saat menjelang Hari
Raya Idul Fitri.
“Karena hanya mampu bertahan sekitar
dua pekan, aku mulai memproduksi lalu menjual jenang rumput laut, sepekan
sebelum dan sesudah Hari Raya Idul Fitri. Total produksinya sekitar 90
kilogram,” kata pria yang biasa disapa Zaenal kepada Seputarkudus.com.
Warga Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus, mengatakan, jenang rumput laut memiliki kandungan air yang terlalu banyak. Bahkan sudah dimasak dengan
temperatur panas yang tinggi, kandungan air pada jenang tetap lebih
tinggi dibanding olahan jenang dari bahan lain.
“Kandungan air yang tetap tinggi tersebut, menjadikan jenang rumput laut tidak bertahan lama dan bentuknya akan rusak setelah masa kedaluwarsanya habis. Karena alasan tersebut, aku hanya memproduksinya sekali pada waktu menjelang Lebaran. Selain itu aku juga tidak ingin para pelanggan
nanti kecewa,”
ungkap Zainal.

Jenang Karomah Punya Banyak Pilihan Rasa

Toko Jenang Karomah, kata Zaenal, selain menjual produk jenang rumput laut juga menjual berbagai
macam olahan jenang dengan berbagai varian rasa. Di antaranya, jenang mocca wijen, duren, ketan hitam, kacang hijau, kedelai dan kacang tanah. Selain itu juga ada madu mongso, serta dodol.
“Berbeda dengan jenang rumput laut, yang hanya diproduksi
serta dijual menjelang Lebaran, berbagai macam jenis olahan jenang lainya
tersebut tetap diproduksi dan dijual pada hari-hari biasa,” kata
Zaenal
Zaenal mengaku menjual jenang rumput laut dengan
harga Rp 40 ribu per kilogram. Harga tersebut lebih mahal dari jenis olahan jenang lainya yang di
hargai Rp 30 ribu per kilogram. Sedangkan untuk madu mongso dia jual Rp 50 ribu per kilogram. “Itu untuk harga satu kilogram. Untuk kemasan yang lebih banyak maupun lebih
sedikit tinggal disesuaikan saja dengan harga per kilogramnya,” ujarnya
Menurut Zaenal, dari
berbagai macam olahan jenang tersebut selama Ramadan hampir semuanya laris. Bahkan
penjualan di tokonya mengalami peningkatan sekitar 300 persen.
“Bila di hari biasa
aku hanya mampu memproduksi berbagai jenis olahan jenang sekitar dua kwintal
sehari, selama Ramadan aku bisa memproduksi sekitar sembilan kwintal sehari,”
ungkapnya
- advertisement -