Beranda blog Halaman 1952

Sejak SMP, Pemilik Jenang Kudus Karomah Mahir Membuat Adonan Jenang

0
SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Usaha pembuatan dan penjualan jenang Kudus yang sudah dirintis
puluhan tahun oleh Zaenal Arifin, kini sudah berkembang dan mulai dikenal hampir
seluruh provinsi di Indonesia. Itu terbukti dengan ramainya para pembeli di
Toko Karomah, toko di tepi Jalan Sosrokartono, Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus. Zaenal memang berbakat, karena dirinya sudah pandai
membuat adonan jenang sejak duduk di sekolah menengah pertama (SMP).

Sejarah berdirinya Jenang Kudus Karomah

Zaenal terlahir dari pasangan Dahwan dan Mastuni,
pembuat jenang Kudus di Kaliputu. Kepada Seputarkudus.com, dia mengaku mengenal jenang sejak usia  tujuh tahun, dan saat itu mulai belajar cara membuat
jenang. Hingga pada saat duduk di SMP sekitar usia 13 tahun, dia sudah mahir membuat adonan jenang.

“Sejak masuk SMP aku sudah menekuni dan
mahir membuat jenang sampai lulus SMP. Sesuadah lulus aku berhenti membuat
jenang karena harus melanjutkan sekolah di Yogjakarta, hingga lulus
kuliah. Selama di Kota Gudeg tersebut aku tidak hanya bersekolah dan kuliah,
tetapi diberi tugas kedua orang tuaku untuk memasarkan jenang Kudus di
kota tersebut,” ujar Zaenalbeberapa waktu lalu. 

Zaenal mengungkapkan, pada tahun 1991 dia diminta pulang ke
Kudus oleh ayahnya untuk membantu pemasaran jenang Kudus. Dia diminta mengirim
jenang ke berbagai tempat di Kudus, dan wilayah sekitar Kudus.

“Aku disuruh pulang dan dipercaya olek bapaku untuk membantu
pemasaran. Beliau sudah sepuh jadi tidak bagus untuk kesehatanya
bila terlau lelah. Pada September 1991 aku memutuskan menikah dengan
seorang wanita yang bernama Masfu’ah Enty Aliyah,” kenangnya.

Dia menuturkan, seusai
menikah dia masih membantu kedua orang tuanya memasarkan jenang Kudus,
dan menerima gaji setiap bulanya. Hingga pada tahun 1995, dia diberikan izin
orang tuanya untuk mengelola usaha jenang milik ayahnya.

Jenang Kudus Karomah

“Sejak aku diberikan izin oleh orang tuaku untuk memegang dan
mengelola sendiri usahaku, aku dan istriku sepakat untuk membuat merek hasil
olahan jenang, mereknya Jenang Karomah. Pada awal itu aku hanya
dibantu dua karyawan, satu bagian aduk dan satunya lagi bagian pengemasan.
Sedangkan untuk pemasaran aku berdua dengan istriku,” ungkap Zaenal.

Dia juga menambahkan, selain dengan mendatangi para pedagang
yang mau menjual jenang produksinya, Zaenal juga sering diajak beberapa instansi pemerintahan di Kabupaten Kudus untuk ikut pameran ke beberapa daerah. Itu di antaranya
Jakarta, Palembang, Bali, Batam, serta Semarang.
Zaenal menuturkan, selain pemasaran, dia juga selalu memikirkan tentang inovasi dengan membuat jenang berbagai varian rasa. Saat ini Jenang Karomah memiliki rasa duren, mocca wijen, nangka, kacang hijau, kedelai, ketan hitam, madu mongso,
dan dodol.
Alhamdulillah
usahaku sekarang sudah mulai berkembang dan punya pelanggan di beberapa kota
besar di seluruh Indonesia. Dengan produksi sekitar 2 kuintal sehari. Sekarang aku mempekerjakan sekitar 20 orang,” ungkapnya. 

- advertisement -

Bengkel Knalpot di Getas Pejaten Ini Dulu Didirikan dari Hasil Menjual Sepeda dan Mesin Jahit

0
SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Dua orang pekerja tampak sibuk di sebuah bengkel knalpot di Di Getas Pejaten, Kecamatan Jati,
Kudus. Sedangkan di ujung depan bengkel
tampak pria berkaus sedang duduk di kursi mengawasi dua pekerjanya
tersebut. Pria tersebut bernama Sucipto (61), pemilik bengkel knalpot tersebut yang hanya lulusan sekolah rakyat (SR). Dia mendirikan bengkel dari modal menjual sepeda, mesin jahit, dan hutang dari sebuah bank.

bengkel knalpot di kudus

Sucipto menuturkan, dirinya mendirikan usaha bengkel miliknya hanya bermodal Rp 75 ribu. Awalnya, bengkelnya tersebut bukan bengkel knalpot, melainkan bengkel becak. Bengkelnya itu didirikan pada tahun 80-an. Modalnya itu dikumpulkan dari hasil
menjual sepeda, mesin jahit serta masih mengambil pinjaman kredit di bank
sebesar Rp 25 ribu.

“ Sebelum mendirikan bengkel becak, aku bekerja di
bengkel milik warga Tionghoa selama 11 tahun. Upah dari bekerja tersebut
aku kumpulkan lalu aku belikan sepeda, serta mesin jahit. Hingga pada suatu
ketika timbul dalam pikiranku untuk mendirikan bengkel sendiri,” ujar Sucipto kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.
Untuk mewujudkan keinginannya membuat bengkel, dia menjual sepeda dan mesin jahit
tersebut. Tetapi uang yang terkumpul dari penjualan dua barang itu masih kurang. Sehingga dia putusakan untuk mengambil pinjaman kredit dari
sebuah bank,” ungkap Sucipto.

Sejak awal didirikan, bengkel becak milik Sucipto banyak dikenal banyak orang. Bahkan tak jarang pelanggan di tempat dia bekerja dulu berpindah
menjadi pelangganya. Hingga pada tahun 90-an bengkel becak Sucipto mulai sepi.

“Dengan melihat bengkelku yang mulai sepi pelanggan, aku
mulai berpikir untuk mengganti jenis usaha, tetapi pada waktu itu masih bingung.
Hingga pada tahun 1992 aku mengubah bengkel becaku menjadi bengkel knalpot
motor,” kata pria yang mengaku hanya lulus SR tersebut.
Sucipto menjelaskan, pada tahun itu sepeda motor di
Kudus sudah lumayan banyak. “ Sebab itulah aku
mendirikan bengkel knalpot,” tutur Sucipto.
Harga servis knalpot di bengkel Sucipto saat ini sekitar Rp
35 ribu sampai Rp 50 ribu, tergantung tingkat kesulitannya. Sedangkan untuk
mengganti tabung knalpot harganya sekitar Rp 85 ribu sampai Rp 125 ribu. Sucipto
mengaku, dengan harga tersebut dia bisa mendapatkan keuntungan bersih sekitar
Rp 6 juta sebulan.
“Di bengkelku ada tiga orang pekerja harian lepas dengan
gaji antara Rp 50 ribu sampai Rp 70 ribu sehari. Lokasi bengkel ini sewa
pihak PJKA dengan membayar sekitar Rp 2 juta per tahun,”
ungkapnya.  
  
- advertisement -

Hampir Semua Masjid Kota Besar di Indonesia, Mendapat Sentuhan Kaligrafi PSKQ Modern

0

SEPUTARKUDUS.COM, UNDAAN LOR – Di sebuah bangunan yang terletak di Desa Undaan Lor, Kecamatan
Undaan, Kabupatren Kudus, tampak  dua
orang guru mengajari beberapa orang santri putra dan putri belajar membuat kaligrafi. Bangunan itu merupakan Pesantren Seni Kaligrafi Al-Quran (PSKQ) Modern yang didirikan oleh  Muhammad Assiry Jasiri. Dia dikenal sebagai seorang Maestro
Kaligrafi Indonesia, yang namanya tersohor hingga ke penjuru dunia. 

pesantren kaligrafi al-quran di Kudus

Nukman Alfarizi (27) satu di antara pengajar di PSJQ
Modern, mengatakan, pesantrennya telah membuat karya kaligrafi di masjid berbagai
daerah dengan nilai ratusan juta hingga miliaran rupiah.

“PSKQ Modern sering mendapatkan order membuat Kaligrafi di
Masjid yang bernilai ratusan juta rupiah. Hampir setiap bulan pasti ada saja
proyek pembuatan kaligrafi. Biasanya membuat kaligrafi di kubah masjid ataupun di dinding masjid. Nilainya hingga ratusan juta rupiah, malah pernah dapat proyek sampai Rp 1 miliar untuk satu masjid,” ujar Nukman kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.
Nukman menuturkan, PSJQ Modern
mendapat proyek hingga Rp 1 miliar tersebut, saat membuat kaligrafi di sebuah masjid
di Bandar Lampung. Yang mengerjakan langsung Ustadz Assiry, dibantu beberapa
anak didiknya. “Di masjid tersebut hampir seluruh bagian dinding masjid serta
kubah dihias dengan aligrafi karya kami,” kata Nukman.
  
Harga pembuatan seni kaligrafi di kubah maupun di dinding masjid dihitung per meter lari. Untuk
satu meter lari harganya mulai dari Rp 350 ribu hingga Rp 1 juta, tergantung tingkat kesulitannya. Harga paling rendah yang pernah dikerjakan untuk membuat kaligrafi di sebuah masjid, katanya, sekitar Rp 30 juta. Rata-rata nilai proyek yang digarap antara Rp 150 juta hingga Rp 300 juta.
Pria asal Aceh itu menjelaskan, Assiry bersama anak didik PSKQ Modern hampir sudah menghias masjid kota-kota besar seluruh Indonesia dengan kaligrafi. Sejumlah daerah tersebut di antaranya, Suamatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan tentunya juga Jawa. Baik itu masjid agung, atau masjid sebuah universitas di kota tersebut.
“Saat ini aja lagi
ada proyek di dua masjid, satu di Jakarta sedangkan yang satunya lagi di
Semarang. Kalau di Kudus, masjid yang dekor kaligrafinya di percayakan kepada kami,
masjid Kampus UMK,” ujarnya.
Pesantren yang didirikan Assiry pada tahun 2006 yang awalnya hanya memiliki satu
santri tersebut, katanya, sudah begitu dikenal bagi pecinta seni kaligrafi di
Indonesia. Sekarang Assiry mempunyai sekitar 50 santri. Para santri yang
semuanya pria tersebut membayar Rp 4,5 juta sebagai uang pendaftaran dan uang
pendidikan. Sedangkan untuk biaya bulanan digratiskan.
“Kebutuhan makan santri ditanggung sendiri, kalau makan para santri di sini masak sendiri,” kata Nukman.
Selain Kaligrafi di PSKQ Modern juga ada pelajaran Bahasa
Arab, Bahasa Inggris, serta Tafsir Al-Quran. “ Untuk tahun ini PSKQ Modern
baru saja membuka pendaftaran untuk santri putri, yang asramanya sudah
disiapkan di Gang Satu Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kudus,” ujarnya.
- advertisement -

Kakek dari Peganjaran Ini Bersyukur Ada Pemilik Toko Menghutanginya Berjualan Sapu

0
SEPUTARKUDUS.COM, BARONGAN – Tak jauh dari Proliman, tepatnya di
Desa Barongan, Kota, Kudus, terlihat seorang pria tua memikul beberapa sapu dan alat pel. Pria renta yang mengenakan
baju batik, bercelana putih, terlihat memasuki sebuah gang dan di tangan
kananya memegangi sebuah kipas anyaman bambu. Kaslan (80), nama lelaki itu, penjualan sapu
dan kipas keliling. Karena tak memiliki cukup modal, dia harus berhutang di toko tempat dia memperoleh sapu, alat pel dan kipas yang dia jual.

kisah penjual sapu kelilling di kudus

Saat beristirahat
setelah berjalan untuk menawarkan barang daganganya, Kaslam berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, sebenarnya dia tidak punya modal untuk membeli berbagai macam
dagannya tersebut. Tetapi  ada satu
pemilik toko di Pasar Jember yang berbaik hati menghutangi beberapa
sapu, alat pel dan kipas anyaman bambu untuk dia jual.

“Pemilik Toko di Pasar jember tersebut  memintaku untuk menjual saja dulu barang yang
aku ambil, bayarnya setelah barangnya laku terjual.
Biasanya setelah separuh daganganku laku terjual, aku datang ke toko tersebut
untuk membayar dan mengambil lagi beberapa sapu dan kipas tangan sesuai dengan
jumlah yang terjual,” kata Kaslan, beberapa waktu lalu.

Warga Desa Peganjaran, Bae, Kudus,
mengungkapkan, pada hari itu, dia sudah menjual lima sapu. Sedangkan
kipas anyamannya belum ada yang laku sama sekali. Kata Kaslan, dia menjual satu
sapu tersebut seharga Rp 15 ribu, sedangkan kipas dia jual Rp 3 ribu.

“Aku sudah Delapan tahun berjualan sapu dan kipas
anyaman bambu berjalan kaki keliling. Berangkat dari rumah sekitar pukul 6.30 WIB dan
pulang sekitar pukul 15.30 WIB. Bila barang daganganku tidak habis aku bawa pulang,
besok baru di jual lagi,” kata kakek empat anak tersebut.
Kaslan mengatakan, sebelum berjualan daganganya tersebut,
dulu dia berjualan minyak tanah keliling. Setelah minyak tanah tersebut langka
dan harganya mahal, dia memutuskan
bekerja jadi kuli serabutan di kampungnya.

“Jadi kuli serabutan
hanya beberapa pekan saja, karena tidak ada orang yang mau mempekarjakan orang
tua seperti aku ini, yang berjalan saja tertatih dan mudah lelah. Makanya aku
bersukur ketika ada pemilik toko di Pasar Jember  mau mempercayaiku,” ujarnya. 

- advertisement -

Untuk Lebaran, Banyak Pengunjung di Samodra Motor Memburu Mobil Keluarga

0
SEPUTARKUDUS.COM, KUDUS – Di utara tepi Jalan Raya Kudus-Pati, terlihat sebuah show
room
mobil dengan dengan pintu warna merah keadaan terbuka. Tampak puluhan
mobil berbagai merek dan jenis berjajar  di dalamnya. Samodra Motor, nama show room tersebut. Di sana mobil-mobil seken dijual. Menjelang Lebaran tahun ini, banyak yang datang ke show room tersebut mencari mobil jenis multi purpose vehicle (MPV) yang cocok untuk dikendarai bersama keluarga.

Samodra Motor Kudus

Menurut Muhammad Samsudin Hanafi (30), pemilik show room
Samodra Motor, menjelang Lebaran tahun ini dia banyak kedatangan orang yang mencari mobil jenis MPV. Pernah ada dua orang
mengaku dari Jepara mencari mobil keluarga tersebut.

Hanafi menuturkan, selama Ramadan orang
yang datang menanyakan dan melihat mobil jenis mini bus cukup banyak, terutama
untuk merek Toyota Avanza. Dia menjelaskan, istilah mobil jenis mini bus
sama dengan mobil keluarga.


“Hampir setiap hari pasti ada orang yang menanyakan mobil
jenis minibus untuk cek fisik dan mesin ke show room Samodra Motor. Tapi
walaupun banyak orang datang melihat mobil jenis tersebut, selama puasa, mobil
seken jenis minibus belum ada yang terjual sama sekali,” ungkapnya.

Selama Ramadan lalu, ada dua unit mobil yang terjual menjelang Lebaran tahun ini. Dua unit mobil tersebut yakni
Ford Ranger tahun 2011 yang terjual seharga Rp 140 juta,
dan Jeep Hard Top seharga Rp 130 juta.

“Untuk transaksi pembayaran kedua mobil tersebut dibayar
secara cash. Kami juga melayani pembayaran secara kredit,” kata pria
yang akrab disapa Hanafi kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.
Sambil sesekali menerima telepon dari para koleganya, Hanafi menyebutkan,
di show room miliknya tersebut, tersedia beberapa mobil dari berbagai jenis dan merek.
Untuk jenis minibus di antaranya Avanza, Kijang Innova, Grand Livina. Sedangkan mobil jenis sport utility vehicle (SUV) di antaranya, Pajero, CRV, Fortuner, dan Jeep Hard Top.
 Hanafi mengungkapkan,
berbagai jenis mobil yang dijual di pastikan keadaan
mesin masih normal. Karena sewaktu membeli mobil tersebut, dia cek secara
teliti body maupun mesinnya. Hanafi tidak ingin para pembeli
mobil kecewa.

“Sejak Samodra Motor masih dikelola ayahku hingga sekarang aku kelola, belum pernah sama sekali para pembeli ada yang komplain masalah
mesin. Malah kebanyakan mereka bila butuh mobil seken, mereka membeli lagi di
sini dan jadi pelanggan,” ujarnya.

- advertisement -

Pasar Kliwon Kudus, Pusat Grosir Pakaian untuk Lebaran yang Selalu Penuh Sesak

0
SEPUTARKUDUS.COM, KLIWON – Pasar Kliwon Kudus merupakan satu di antara pusat grosir  pakaian yang ada di Jawa Tengah. Pasar yang berada di
Jalan Jendral Sudirman, Kudus, itu selalu menjadi tujuan para pembeli untuk
berbelanja  dalam jumlah banyak. Pasar dengan bangunan tiga lantai tersebut setiap hari
selalu dipenuhi pengunjung. Apalagi menjelang Lebaran, pasar tersebut menjadi tujuan utama pedagang dari sejumlah daerah, tak hanya di Kudus.
 

pasar kliwon kudus pusat grosir pakaian

Santoso, satu di antara pedagang yang selalu berbelanja pakaian untuk dijual kembali, mengaku selalu membeli stok pakaian di Pasar Kliwon. Bila
stok barang di tokonya sudah menipis, dia pasti berbelanja secara grosir di
Pasar Kliwon. Untuk memenuhi pesanan pelanggan di tokonya saat Lebaran, dia sudah beberapa kali
berbelanja di pasar tersebut. Selain lengkap, harga di pasar tersebut juga terkenal murah.

“Di Pasar Kliwon itu sudah terkenal dengan berbagai macam
barang yang dijual dengan harga murah. Bahkan para pedagang yang membeli secara
grosir tidak hanya datang dari Kudus dan sekitarnya, tetapi ada juga yang
datang dari luar Jawa,” ujar Santoso kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Warga Desa Berugenjang, Kecamatan
Undaan, Kudus, mengatakan, di Pasar Kliwon dia sudah punya beberapa
pedagang langganan. “Di kios langgananku, beberapa kali terlihat pakaian dalam
karung besar sudah diberi tulisan nama dan daerah pembeli di
derah luar Jawa,” kata pria yang juga berprofesi sebagai perawat kesehatan di rumah sakit swasta di Kudus.

Senada dengan Santoso, Rukyati,
seorang pembeli grosir dari Purwodadi juga mengatakan, yang datang berbelanja
secara grosir di Pasar Kliwon tidak hanya datang dari Kudus dan sekitarnya.
bahkan banyak dari mereka yang datang dari Jawa Timur serta dari pulau
seberang.
“Sebenarnya mereka yang berdagang di luar Jawa itu
berasal dari Jawa, tapi sudah lama berdagang di sana. Tetanggaku juga ada
yang sudah puluhan tahun berjualan pakaian di Kalimantan, barangnya dari Pasar Kliwon,” kata wanita yang membelanjakan uang Rp 7 juta untuk
berbelanja pakaian di Pasar Kliwon.
- advertisement -

Toko Seneng Santoso, Tujuan Banyak Pedagang Makanan Ringan Saat Lebaran

0
SEPUTARKUDUS.COM, WERGU – Toko Seneng Santoso yang terletak di Jalan Johar, tepatnya
sebelah barat Taman Wergu, selalu ramai pembeli. Apalagi menjelang Lebaran, tidak jarang lalu
lintas jalan di depan toko tersebut macet. Area parkir
toko tersebut dipenuhi sepeda motor dan mobil. Toko yang menjual berbagai makanan ringan
serta minuman tersebut, selalu dibanjiri para pembeli untuk berbelaja kebutuhan Lebaran. Toko tersebut selama ini memang dikenal masyarakat menyediakan banyak pilihan produk dengan harga murah.

Menurut  Sutiyono (52),
seorang warga Karanganyar, Demak, sudah sejak lama dirinya berlangganan di toko
Seneng Santoso yang berada di Desa Wergu Kulon, Kecamatan Kota, Kudus. Dia selalu berbelanja berbagai makanan ringan untuk dijual lagi di tokonya, terlebih saat Lebaran.
“Aku berbelanja di toko Seneng Santoso karena hampir semua makanan ringan yang di hidangkan saat Lebaran ada di sini. Harganya
juga lebih murah dibanding di tempat lain. Tempatnya juga luas, jadi nyaman di buat
berbelanja dalam jumlah banyak,” kata Sutiyono kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.
Sutiyono mengatakan, dia berbelanja  bersama istrinya dengan mengendarai motor. Dia
mengaku membelanjakan sekitar Rp 2 juta untuk semua makanan ringan yang dia beli. “Selama Ramadan
setiap dua hari sekali berbelanja di sini. Untuk memenuhi permintaan pelanggan di tokoku di Demak, di sinilah tempat yang cocok untuk kulakan makanan ringan untuk Lebaran,” ujarnya.
Senada dengan Sutoyono, Tristiani (36) warga Desa
Besito, Kecamatan Gebog, Kudus, juga mengaku sering berbelanja di Toko Seneng
Santoso. Menurutnya berbelanja
di toko Seneng Santoso, karena harganya lebih murah dan tidak
perlu menawar, karena harga tertera di setiap kemasan.
Saat Ramadan, Toko Seneng Santoso mengalami
peningkatan penjualan hingga dua kali lipat dari bulan-bulan sebelumnya. Para pembeli biasanya berbelanja dalam 
jumlah banyak.
Maya pembeli dari Gajah, Demak, mengaku
bersama beberapa ibu rumah tangga yang ada di desanya datang bersama,
mengguanakan mobil untuk berbelanja dalam jumlah yang lumayan banyak.
“Kami berenam berbelanja beberapa makanan ringan untuk di hidangkan saat Lebaran. Khawatirnya kalau berbelanja mendekati Lebaran, di
toko Seneng Santoso  makin dipenuhi
pembeli dan tentu antrean juga makin panjang,” ujar Maya.

Meski banyak orang yang datang berbelanja dalam jumlah
banyak, tetapi di Toko Seneng Santoso tetap melayani penjualan secara ecer. “Tidak
semua yang datang ke sini, berbelanja dalam jumlah banyak. Ada juga yang
membeli secara ecer, dan tetap kami layani,” ujar Cik Lilis, pemilik Toko Seneng
Santoso.  

- advertisement -

TakSejak Ustadz Jefri Meningal Tak Ada Baju Koko Tertentu yang Menjadi Tren Lebaran

0
SEPUTARKUDUS.COM, LANGGAR DALEM – Sekitar 20 meter sebelah timur pertigaan depan Masjid Menara
Kudus, terlihat toko dengan berbagai baju tanpa kerah tergantung pada pipa aluminium
berwarna putih. Toko yang mengahadap ke selatan tersebut  milik Wilmy Noor (49) bernama Toko
Ema, yang menjual baju koko dan pakaian Muslim lainnya. Pada Lebaran tahun ini, pakaian khusus pria ini tak memiliki tren tertentu seperti gamis untuk wanita.

jual baju koko dan gamis

“Sejak Ustadz Jefri Al Buchori meninggal dunia, penjualan
baju koko selama tiga tahun terakhir tanpa bentuk tertentu yang menjadi tren. Meski tanpa
tren penjualan baju koko di toko kami meningkat hingga 100 persen pada Lebaran ini,” ujar pria yang biasa disapa Wilmy kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Wilmy mengungkapkan, para pembeli sekarang melihat
merek dan bahan. Jika mereka cocok biasanya tanya
menanyakan harga dan dan langsung membelinya.
Menurut Wilmy, ada tiga merek baju koko paling laris di tokonya. Di antaranya, Tammer, Hasgradini, dan Waydee. “Baju koko dengan ke tiga merek
tersebut aku jual dari harga Rp 100 ribu hingga Rp 200
ribu,” ungkapnya. 

Dia mengatakan,
Toko Ema sebelum Ramadan hanya mampu menjual sekitar lima potong baju
koko. Memasuki bulan Puasa mulai ada peningkatan penjualan. Hingga menjelang Lebaran tokonya tersebut mampu menjual sekitar 50 potong baju koko
dalam sehari.

Pria murah senyum tersebut mengungkapkan, di tokonya tidak hanya menjual baju koko, tetapi juga menjual gamis, peci, sarung dan pakaian Muslim lainnya. “Hampir semua
pakaian dan lainya yang aku jual di Toko Ema laris sejak dua pekan sebelum Lebaran,”
ujarnya.
Diakui Wilmy, penjualan di toko yang berada di Desa
Langgardalem tersebut pada bulan Ramadan tahun ini mengalami keterlambatan
peningkatan penjualan dibanding tahun lalu. Menurutnya keterlambatan tersebut
karena peraturan perusahaan serta instansi pemerintah
dan perkantoran yang membarikan THR di atas tanggal 10 Ramadan. “THR baru diberikan sekitar tanggal 17 Juni 2016,” katanya.

- advertisement -

Sutiani Rela Pengap di Dekat Penggorengan, Demi Kacang Mete Lebaran Pesanan Pelanggan

0
SEPUTARKUDUS.COM, CENDONO Di ruangan berukuran 3×4 meter, Sutiani (42) berjibaku dengan tempat penggorengan yang ada di depannya. Di Dia mengaduk-aduk butiran kacang mete dalam minyak goreng panas yang mendidih. Sesekali dia mengusap peluh dari
keningnya. Demi memenuhi pesanan dari pelanggan untuk sajian Lebaran, panasnya ruangan itu tak dirasakannya.

jual kacang mete di kudus

Menurutnya, dia menggoreng kacang mete dari pukul 6.00WIB
hingga 16.00 WIB. Setiap satu kali penggorengan terdapat dua kilogram kacang
mete yang digoreng. “Sampai H-1 Lebaran saya masih memproduksi kacang mete, karena
harus memenuhi pesanan. Setelah itu saya pulang ke Blora, karena keluarga saya
berada di Blora,” tutur dia yang sudah bekerja 10 tahun kepada Sugiarto,
pemilik dari usaha kacang mete goreng di Desa Cendono, Kecamatan Dawe,
Kabupaten Kudus.

Selama sehari, Sutiani mengaku mampu menggoreng satu
kuintal kacang mete. Menurutnya mengolah kacang mete cukup mudah. Bumbu yang
digunakannya hanyalah bawang putih. “Rasanya gurih, tidak pedas ataupun yang
aneh-aneh,” ungkapnya ketika ditemui Seputarkudus.com belum lama ini.

Menurutnya, proses pembuatan kacang mete goreng tidak terlalu rumit. Dia menjelaskan, biji mete yang sudah bersih
didiamkan dalam air yang sudah diberi bumbu. Fungsinya, selain supaya bumbu
bisa meresap juga untuk menghilangkan getah yang masih tersisa. “Merendamnya
tidak usah-usah lama. Nanti kalau sudah langsung digoreng dengan minyak panas,”
tambahnya.
Menurutnya, dalam menggoreng kacang mete dia mengaku pernah
terkena minyak goreng panas. Karena sifat dari kacang mete tidak meletup, sehingga luka dikulitnya cepat sembuh.

Pemilik dari usaha kacang mete goreng Sugiarto (48)
menuturkan, produksi kacang mete goreng yang diberi label Sido Mulyo pada Lebaran
tahun 2016 menurun. Menurutnya, tahun 2015, dia mampu memproduksi dua
ton tiga kuintal. Tahun 2015 hanya mampu memproduksi dua ton. “Lebaran ini hanya mampu
menyetok bahan baku dua ton. Bahan bakunya sulit dicari,” tuturnya.

Dia menjelaskan, bahan baku yang dia dapatkan dari Blora. Selain
pasokannya terbatas, harganya juga naik. Tahun 2016, per kilogram kacang mete dihargai Rp 125 ribu. “Itu harga bakul. Memesannya harus jauh-jauh hari. Kalau tidak stokknya
habis,” terangnya.

Dia mengaku hanya memproduksi kacang mete goreng hanya
saat Ramadan. Selain itu, dia membuka usaha warung
makan yang sudah 10 tahun dijalankan. “Saya mulai produksi dari tanggal 1
Ramadan hingga mendekati Lebaran,” ungkapnya.

- advertisement -

Saat Masyarakat Merayakan Lebaran, Laskar Penakluk Api Ini Tetap Bersiaga 24 Jam

0
SEPUTARKUDUS.COM, KUDUS – Hari Raya Idul Fitri selalu menjadi momen penting bagi masyarakat, tak terkecuali bagi masyarakat di Kudus. Momen setahun sekali itu selalu dimanfaatkan untuk berbagi kebahagian dan anjang sana ke sanak famili. Namun, itu tak berlaku bagi petugas pemadam kebakaran, yang selalu bersiaga jika kemungkinan buruk terjadi kebakaran. 

pemadam kebakaran kudus

Di atas mobil warna merah, empat
orang yang berseragam biru tersebut tampak sibuk menggulung selang untuk
dirapikan ke dalam kendaraan. Tetesan air nampak terlihat dari dalam kendaraan
tersebut. Kendaraan pemadam kebaran yang terparkir di depan pos pengamanan (pos pam) depan
Kantor Bupati Kudus. Mereka usai mengikuti Apel Kesiapan Pengamanan Mudik Lebaran 2016 di Alun-alun
Simpang Tujuh Kudus, Kamis (30/6/2016).

Menurut Bimo Aryo Tejo, Kepala Pemadam Kebakaran Kudus, selama Lebaran pihaknya akan selalu siap 24 jam untuk terjun jika terjadi kebakaran di
wilayah Kudus. “Ini adalah tugas negara jadi kami tidak akan libur walau Lebaran,” tuturnya.
Aryo menuturkan, tugas menjadi seorang Pemadam Kebakaran
merupakan tugas mulia. Menurutnya, Pemadam Kebakaran bukan hanya sekadar
profesi namun panggilan jiwa. “Kadang diolok-olok masyarakat kurang cepat
tanggap dan sebagainya. Namun ya itu masyarakat. Terpenting kami siap 24 jam
untuk membantu masyarakat,” tuturnya kepada Seputarkudus.com.
Dia mengungkapkan, saat Lebaran tiba, dia bersama
anggotanya akan selalu kordinasi dan stanby
jika kemungkinan terjadi kebakaran. Dia menceritakan, pernah terbangun pukul 2.00
WIB dini hari ketika terjadi kebakaran besar di Pasar Kliwon. “Saat itu saya
sedang tidur di rumah bersama keluarga. Tiba-tiba ada telepon dari anggota
bahwa Pasar Kliwon terbakar. Seketika itu langsung meluncur ke TKP (tempat kejadian
perkara),” ungkapnya.
Aryo yang menjabat Kepala Pemadam Kebakaran Kudus sejak
Agustus 2012, menambahkan, keluarganya mengerti tentang profesi yang
dijalaninya. “Ya keluarga mengerti tentang profesi yang saya jalani,” tuturnya.
Menurutnya, nanti untuk anggota Pemadam Kebakaran yang bekerja baik akan mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Kudus.
“Itu untuk penghargaan anggota Damkar (Pemadam Kebakaran) yang baik dalam menjalankan tugas,” tambahnya.

Dia memberitahukan, di Kudus ada 156 petugas Damkar dengan 26
armada. Jumlah tersebut dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran Pemerintah
Kudus dan perusahaan-perusahaan swasta di Kudus. Untuk petugas dari UPT
Kabupaten Kudus ada empat armada dan 19 personil. “Semuanya siap ikut
serta dalam pengamanan lebaran,” tutunya.

- advertisement -

Saat Lebaran, Toko Roti Hikmah Kudus Banyak Mendapat Pesanan Roti Hantaran

0
SEPUTARKUDUS.COM, LANGGAR DALEM – Toko Roti Hikmah yang berada di utara tepi Jalan Sunan Kudus,
terlihat ramai pengunjung. Tampak di tempat pembayaran toko tersebut,
seorang wanita sibuk melayani beberapa pembeli yang akan membayar. Uswatun Khasanah (33), wanita yang menjadi kasir di Toko
Roti Hikmah
. Toko tersebut banjir pesanan roti untuk hantaran saat Lebaran, sejak pertengahan puasa.

toko roti hikmah kudus

“Dari tahun ke tahun, mulai pertengahan puasa Toko Roti Hikmah
selalu kebanjiran pesanan. Roti yang dibuat dengan berbagai
jenis dan bentuk pesaannya bisa mencapai ratusan kardus sehari,” kata
wanita yang biasa disapa Us kepada Seputarkudus.com, beberapa hari lalu.

Dia menjelaskan, saat Lebaran, Roti Hikmah biasa digunakan
masyarakat Kudus untuk diberikan kepada orang tua atau kerabat yang usianya
lebih tua. “Itulah sebabnya Roti Hikmah sudah mulai banyak pesanan dan laris sejak pertengahan Ramadan,”
ungkap mbak Us sambil tetap melayani pembayaran para pembeli.
Menurut wanita berjilbab tersebut, roti untuk hantaran itu dijual dengan harga paling murah Rp 6500 dan yang paling mahal Rp 25 ribu, untuk satu kardus. Harga disesuaikan dengan jenis serta besar dan kecilnya roti yang dibeli.

toko roti hikmah kudus

Us mengungkapkan, selain menjual hasil produksi roti, Toko
Roti Hikmah juga menjual berbagai macam hidangan Lebaran, diantaranya nastar, roti
kering, dan beberapa kerupuk. “Bahkan persediaan kerupuk tengiri di Toko Roti Hikmah tinggal
beberapa kantong plastik dengan ukuran yang paling kecil,” katanya.

Sebenarnya, kata Us, mulai pertengahan
puasa di toko tersebut menyetok 10 bos kerupuk tengiri. Setiap bos terdiri dari
12 bungkus, setiap bungkus dijual dengan harga Rp 20 ribu.  Sebenarnya hampir semua produk makanan yang dijual Toko Roti Hikmah
menjelang Lebaran semuanya laris, tapi yang paling laris roti untuk hantaran dan
kerupuk Tengiri.     
“Menjelang Lebaran hasil penjualan berbagai jenis roti dan
semua produk makanan lainya di Toko Roti Hikmah bisa menghasilkan sekitar Rp 12 juta
sehari,” ungkap Us.  

  
- advertisement -

Penghuni Perumahan Muria Indah Banyak yang Mudik, Satpam Berjaga 24 Jam

0
SEPUTARKUDUS.COM, GONDANG MANIS Dua orang satpam
tampak berdiri di jalan masuk Perumahan Muria Indah, Desa Gondang Manis,
Kecamatan Bae, Kudus. Mereka terlihat sedang mengatur lalu lintas kendaraan
yang akan keluar masuk perumahan. Sesekali mereka menghentikan mobil dan
penumpangnya diminta membuka kaca pintu. Selama Lebaran, mereka bersiaga 24 jam, karena sebagian banyak penghuni meninggalkan perumahan untuk mudik ke kampung halaman.

Perumahan Muria Indah Kudus

Satu di antara Satuan Pengaman (Satpam) Perumahan Muria
Indah yang bertugas, Heru mengungkapkan, menjelang Lebaran pengamanan di
Perumahan Muria Indah diperketat. Pihaknya akan berjaga 24 jam dan setiap 90
menit akan melakukan patroli. “Pengamanan akan dilakukan 24 jam. Nanti ada petugas
secara bergantian keliling perumahan,” ungkapnya ketika ditemui di Pos Satpam
Perumahan Muria Indah, belum lama ini.

Heru memberitahukan, di Perumahan Muria Indah terdapat Sembilan
satpam yang akan bergantian shift dua
kali dalam 24 jam.  Shift pertama pukul 7.00-19.00 WIB dan shift kedua 19.00-7.00 WIB. Menurutnya, di Perumahan Muria Indah
terdapat dua pintu masuk yakni pintu depan dekat dengan kampus
Universitas Muria Kudus (UMK) dan belakang di sebelah timur perumahan. “Di sini
ada dua pintu masuk perumahan. Shift
pagi empat orang dan malam lima orang,” jelasnya.
Dia menjelaskan, untuk hari-hari biasa di Perumahan Muria
Indah diatur tiga shift yakni pukul 7.00-15.00 WIB, 15.00-23.00 WIB dan 23.00-7.00 WIB. Namun karena saat Lebaran
banyak rumah yang ditinggalkan, akhirnya dibuat dua shift. “Setiap tahun saat Lebaran, pengamanan diperketat.
Ini sudah berlaku dua shift nanti
sampai 10 hari setelah Lebaran,” tambahnya.
Perumahan dengan luas sekitar tiga hektare tersebut, ada
ratusan rumah yang menurut Heru sebagian besar pendatang yang sudah menetap. Menurutnya,
saat Lebaran sekitar 30 persen akan mudik jauh-jauh hari dan selebihnya
akan beraktivitas keluar saat Lebaran tiba.
Heru memberitahukan, jika ada seseorang yang terlihat asing
masuk perumahan, pihaknya akan meminta Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan tetap
membuntuti orang tersebut dari belakang. “Kalau pakai helm atau mobil kacanya
harus dibuka,” ungkapnya.

Menurutnya, dalam pengamanan di perumahan, pihaknya dibantu petugas Kepolisian
Sektor Bae. “Biasanya polsek datang dan masuk perumahan untuk patroli.
Namun ya waktunya tidak menentu,” tambahnya.

- advertisement -

Selain Jenang, Madu Mongso Juga Menjadi Hidangan Khas Masyarakat Kudus Saat Lebaran

0
SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Di Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus, sejak dahulu sudah terkenal
sebagai sentra produksi jenang. Tetapi berjalanya waktu para pembuat jenang di sana sudah banyak membuat inovasi rasa. Selain membuat makanan dari beras ketan dan gula jawa tersebut, mereka juga memproduksi makanan lainya, satu
di antaranya Madumongso. Selain jenang, camilan ini juga sangat khas dan sering dihidangkan saat Hari Raya Idul Fitri.

madu mongso kudus

Di belakang rumah
bercat kuning yang berjarak sekitar 50 meter dari Jalan Sosrokartono, Desa Kaliputu, terdapat
ruangan luas dan terlihat seorang pria memegang kalkulator sedang menghitung
tumpukan kardus. Rumah tersebut adalah tempat produksi sakligus penjualan
Jenang Sinar Fadhil yang juga memproduksi  Madumongso yang menjadi hidangan masyarakat Kudus saat Lebaran.

“Madumongso memang begitu diminati saat Lebaran. Tapi sebenarnya tidak hanya Lebaran, menjelang Hari Raya Idul Adha penjualan
Madumonso naik sangat signifikan. Tetapi di luar hari besar Islam Madumongso kurang
diminati,” kata Muhammad Khoirul Fadhil (28) kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.
Pria yang merupakan putra dari Muhammad Yusuf pemilik usaha
pembuatan Jenang Sinar Fadhil tersebut menuturkan, menjelang Hari Raya
khususnya Lebaran, produksi Madumongso di Sinar Fadhil bisa mencapai 100 kilogram dalam sepekan. Sedangkan pada hari-hari biasa hanya memproduksi sekitar  100 kilogram sebulan. Bahkan jumlah tersebut
bisa sampai dua bulan sekali baru produksi.

Menurut Fadhil,
Madumongso terkenal dengan rasa khas manis keasaman dan terbuat dari
fermentasi tape ketan. Hidangan tersebut sangat dikenal masyarakat Kudus menjadi sajian khas saat Lebaran.


“Harga Madumongso
dari dulu memang lebih mahal dari jenang, karena proses pembuatan yang lebih
lama dan bahan bakunya juga lebih mahal. Dua hal tersebutlah yang menyebabkan
Madumongso kami jual Rp 55 ribu per kilogram. Harga itu lebih mahal dua kali lipat dari
jenang super yang kami produksi seharga Rp 25 per kilogram. Bahkan hampir tiga kali
lipat lebih mahal dari harga jenang biasa yang aku jual Rp 19 ribu per kilogram,”
urainya.
Fadhil juga menambahkan, masa kedaluwarsa Madumongso juga
terbilang lama karena mampu bertahan hingga tujuh bulan. Itu lebih lama dari jenang yang masa
kedaluwarsanya direkomendasikan oleh MUI dan BPOM hanya sekitar tiga bulan.
Selain Madumongso, perusahaa jenang Sinar Fadhil juga
memproduksi jenang dengan berbagai varian rasa. Di antaranya, durian, nangka, salak, melon, strowberry, apel, kacang hijau, mangga, coklat, kopi, jahe serta
dodol.
“Selama Ramadan penjualan berbagai macam produksi olahan jenang, madumongso, dan dodol semuanya laris. Dari keseluruhan penjualan ketiga
jenis makanan tersebut selama puasa bisa mencapai satu ton sepekan,” ujarnya.
- advertisement -

Di Mejobo Kudus, Peserta Takbir Keliling Dilarang Membuat Miniatur Hewan

0
SEPUTARKUDUS.COM, MEJOBO – Sejumlah orang terlihat sibuk mengutak-atik miniatur
bus yang terbuat dari papan multiplek. Mereka sedang membuat bagian belakang bus secara teliti. Rencananya miniatur bus tersebut akan digunakan
untuk malam takbiran, Selasa (5/7/2017) di Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo,
Kabupaten Kudus.

takbir keliling desa Mejobo Kudus

Muhammad Arifin, satu di antara pembuat miniatur bus tersebut, menuturkan,
dirinya memilih membuat bus karena peraturan panitia takbir keliling tidak membolehkan membuat miniatur hewan. “Miniatur hewan atau yang bernyawa tidak boleh di Mejobo. Jadi yang dibuat benda-benda mati, misalnya bus,” tuturnya saat ditemui Seputarkudus.com di kediamannya.

Rencananya Arifin akan membuat bus yang diberi nama Bus
Safania. Pembuatan bus tersebut disesuaikan dengan tema yang diangkat tentang mudik Lebaran. Menurutnya, nanti di
dalam miniatur bus ada beberapa orang yang membawa tas besar layaknya seorang
yang sedang mudik. Juga ada dibarisan depan beberapa orang yang sedang
kecelakaan. “Kami ingin memberikan pesan bahwa ketika sedang mudik harus
hati-hati di Jalan,” jelasnya.

Menurutnya, di Kecamatan Mejobo, hanya Desa Mejobo yang menetapkan peraturan tersebut. Peraturan muncul sekitar tahun
2000. Dia menceritakan, dulu di desanya dibolehkan untuk membuat miniatur
hewan. Namun karena saran yang berakhir larangan dari kiai-kiai di Desa
Mejobo, akhirnya hanya boleh membuat miniatur benda mati. 

“Alasannya saya
kurang terlalu jelas. Kata para kiai kalau membuat (miniatur) hewan nanti di akhirat
dimintai pertanggungjawaban dan menyamai ciptaan dari Allah,” terangnya.

Dia mengungkapkan, takbir keliling di Mejobo tidak
menggunakan kendaraan. Peserta akan berjalan kaki mengitari desa dan miniaturnya
akan dibawa dengan gerobak. “Peserta tidak dibolehkan membawa kendaraan motor. Semua berjalan kaki dan miniaturnya dibawa dengan songkro (gerobak),” tambahnya.
Menurutnya, takbir keliling yang ada di Desa Mejobo diikuti
dari kalangan anak-anak hingga orang tua. Peserta nanti akan berjalan berbaris membawa spanduk, lampion, obor dan miniatur. “Peserta yang mengikuti sekitar 15 kelompok dari masjid dan musala yang ada di Desa Mejobo,” tuturnya.
Kegiatan Takbir Keliling yang diadakan Ikatan Pelajar
Nahdlatul Ulama (IPNU) Ranting Desa Mejobo, menurutnya selain kreasi miniatur, juga
menilai tentang kekompakan dan kerapian selama kegiatan berlangsung. “Yang
menilai diambilkan dari luar desa,” tambahnya.
Dia menuturkan, pihanya mengikuti lomba takbir keliling ini
bukan mengejar hadiah yang ditawarkan, melainkan ingin ikut serta meramaikan
malam takbiran bersama masyarakat.”Hadiahnya tidak seberapa. Dua
tahun lalu kami menang hanya dapat buku fasolatan, Al-Quran dan tropi,”
ungkapnya.

- advertisement -

Rasa Lelah Waluyo dari Perantauan Hilang Usai Ajak Anak dan Istrinya ke Matahari

0
SEPUTARKUDUS.COM, MATAHARI – Menjelang Lebaran yang tinggal menghitung hari, Plasa Kudus
Matahari
terlihat penuh sesak para pengunjung. Banyak orang yang datang, baik tua, muda, anak-anak, datang untuk berbelanja. Tak jarang mereka datang bersama keluarganya untuk kebutuhan Lebaran. Satu
di antara pengunjung yang datang bersama keluarganya, Waluyo (42). Dia datang bersama istri dan anaknya untuk
berbelanja kebutuhan Lebaran.

Plasa Matahari Kudus

Di bawah tiang, depan tangga eskalator lantai dasar, Waluyo
yang saat itu mengenakan jaket warna hitam bersama istri dan anaknya mengaku
baru sampai di Matahari sekitar Pukul 11.30 WIB. Dia juga mengatakan ke Plasa Kudus untuk membelikan istri dan anak perempuanya pakaian sak pengadek untuk dikenakan saat Lebaran nanti.

“Hampir setiap tahun, beberapa hari menjelang Lebaran aku
selalu mengajak istri beserta anaku untuk membeli pakaian Lebaran di Matahari. Sekaligus mengantarkan anaku yang sudah ingin bermain di Time zone,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com.
Warga Desa Berugenjang,
Kecamatan Undaan, Kudus, mengaku baru pulang dari Jakarta pada Sabtu (3 /7/ 2016). Dia mengatakan sebenarnya masih lelah seusai
melakukan perjalanan dari Jakarta, tetapi tak tega karena anaknya merengek untuk cepat
diajak ke Matahari.
Beberapa hari saat masih di
Jakarta, setiap dia menelepon istrinya pasti anaknya tersebut meminta handphone
yang dipegang mamanya untuk bisa ngobrol denganya. “Bapak kapan pulang, cepat
pulang ya pak. Nanti kalau bapak pulang langsung ajak Putri ke Matahari ya pak,” kata Waluyo menirukan anaknya.
Waluyo mengatakan, dirinya merasa sangat senang dan bahagia karena selalu dirindukan oleh putrinya tersebut. Oleh karena itu, meski masih lelah, dia tak keberatan untuk mengajak putrinya ke Matahari.

“Bagiku kebahagiaan anak dan keluarga merupakan prioritas
utama, karena saat bisa melihat ekspresi keceriaan anaku sesampai Matahari, seolah rasa lelah seusai melakukan
perjalanan jauh hilang,” ujarnya. 

- advertisement -