Beranda blog Halaman 1951

Banting Setir dari Sopir Truk, Warga Loram Wetan Sukses Bangun Usaha Pembuatan Tas

0

SEPUTARKUDUS.COM, LORAM WETAN – Di sebuah rumah di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, kKdus,
terlihat beberapa pria sibuk menggambar pola pada kain, lalu memotongnya. Hasil potongan dikumpulkan dan disusun sesuai bentuk dan warna. Rumah tersebut merupakan tempat usaha pembuatan tas di Kudus. Dalam sehari, tempat usaha tersebut mampu memproduksi hingga 720 pcs tas.

pembuatan tas di kudus
Usaha pembuatan tas di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di anatara beberapa orang
yang tengah mengerjakan pembuatan tas, tampak pria mengenakan kupluk putih mengawasi dan sesekali
memberi intruksi. Pria tersebut bernama Maskur (40),
pemilik usaha pembuatan tas itu. Pada saat mendirikan usaha, dia hanya memiliki modal Rp 750
ribu. Dan kini usahanya berkembang pesat dan memiliki omzet cukup besar.

Di sela kesibukanya, Maskur yang saat itu mengenakan
kemeja batik dan sarung, bersedia berbagi kisah menjalankan usahanya kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, sebelum menjalankan usahanya, dia bekerja sebagai seorang sopir truk. Pekerjaan itu telah dilakukan selama sembilan tahun. 

“Setelah menikah pada
tahun 2000, aku ditawari paman saya untuk membuat tas. Pada saat pertama memuliai usaha, aku hanya mampu membuat sekitar lima
lusin tas dengan modal sekitar Rp 750 ribu, Itu pun aku borongkan ke orang
lain, karena memang aku tidak bisa menjahit,” ujar Maskur.

Seiring berjalannya waktu, usahanya terus berkembang dan sekarang mampu memenuhi
permintaan tas dari para pelanggannya dengan total produksi tas sekitar 720 pcs tas setiap
hari.

Menurut Maskur saat ini dirinya tidak hanya mengirim tas
produksinya ke toko milik pamannya di Pasar Kliwon. Namun juga mengirim tas-tas hasil produksi usahanya ke
sebuah toko milik warga Tionghoa yang ada di Semarang dan Magelang.
“Aku mengirim tas ke Toko Sudarno (milik pamannya) sepekan sekali dengan
sekali kirim sekitar 50 lusin tas. Yanng ke Semarang hampir setiap hari
aku mengirim tas dengan jumlah sekitar 15 lusin. Sedangkan untuk yang ke Magelang aku
mengirimnya dua pekan sekali dengan total pengiriman sekitar 100 lusin,”
jelas Maskur.
Untuk memenuhi produksi tersebut Maskur mengaku mempekarjakan
sekitar 32 tenaga penjahit yang diupah dengan sistem borong. Lalu ada empat
orang pemotong kain serta dua orang penyablon yang semuanya diberikan upah harian.
Hasil produksi tasnya saat ini, kata Maskur, telah mempunyai
tiga merek yakni Shimano untuk tas dewasa dan Rahma Ali merek tas untuk anak wanita.
Sedangkan merek satu lagi, Ali Rahma untuk merk tas pria. “Merek Shimano itu kepanjangan dari Shi
Maskur dan Nor Rohmah (istrinya). Sedangkan merek Rahma Ali aku ambil dari nama
kedua anaku” ujar bapak dua anak tersebut.
- advertisement -

Waduh, Pemuda Jati Wetan Ini Rela ke Karimun Jawa Berburu Pokemon Air

0
SEPUTARKUDUS.COM, KUDUS – Bentuknya seperti ikan paus dengan warna dominan
biru. Pada sirip kanan dan kiri berbentuk seperti tangan dengan garis warna
merah. Makhluk tersebut merupakan satu di antara karakter dalam game Pokemon Go bernama Kyogre. Pokemon jenis air itu ditemukan Afif
ketika berburu Pokemon di Karimun Jawa.

Berburu Pokemon Go di Karimun Jawa
Ilustrasi. Sumber: Luzugames Youtube Channel
Afif, warga Desa Jati Wetan, Kecamatan
Jati, Kabupaten Kudus, mengaku sengaja ingin pergi ke Karimun Jawa karena ingin
mendapatkan Pokemon jenis air yang unik dan langka. “Kyogre termasuk Pokemon
yang langka
. Saya harus ke pantai untuk mendapatkannya. Sambil berburu Pokemon sekaligus
liburan,” tuturnya kepada Seputarkudus.com, Sabtu (16/7/2016).
Dia menuturkan, dia pergi ke Karimun Jawa ketika hari ketiga
bulan Syawal. Menurutnya Pokemon jenis tersebut unik dan langka. “Di Kudus kan
tidak ada laut. Di Karimun Pokemon airnya banyak,” ungkap Afif yang belum genap satu bulan bermain Pokemon Go.
Menurutnya, dalam permainan Pokemon Go untuk mendapatkan tipe Pokemon yang diinginkan harus mencari tempat yang sesuai dengan kategori. “Ketika ingin Pokemon air cari tempat yang kira-kira ada airnya,”
jelasnya.
Dia menjelaskan, game buatan John Hanke yang berbasis teknologi Augmented merupakan permainan
yang bisa menciptakan avatar. Afif mengatakan avatar itu untuk menangkap, melatih dan mempertandingkan
karakter Pokemon.
Menurut Afif, keunikan Pokemon Go yakni menggunakan layanan
berbasis lokasi seperti global positioning system (GPS) yang berpadu dengan kamera ponsel. Pemain seolah-olah bisa menangkap Pokemon yang muncul di dunia nyata. 

“Ketika
saya berjalan, avatarnya pun ikut berjalan. Saat di depan ada Pokemon ponsel
akan bergetar dan akan muncul di layar ponsel. Jika disentuh, aplikasi akan
berubah ke mode kamera dan secepat mungkin lemparlah bola atau Pokeballs untuk mendapatkannya,” jelasnya.

Selain itu, katanya, Pokemon Go juga bisa dibuatnya untuk berbisnis. Dia memberitahukan, karakter-karakter dari Pokemon Go
dapat dibuatnya menjadi aksesoris, baju tim dan yang lainnya. “Selain kita main
game juga bisa memberikan ispirasi untuk berbisnis, yakni bisa dibuat aksesoris
maupun kaus tim,” ungkap Afif yang mengaku telah lama menggemari berbagai macam game.

Untuk yang suka main game dan jalan-jalan menurutnya Pokemon Go sangat cocok. “Bagi yang suka
jalan-jalan, olahraga, lari-lari atau traveling sangat bagus untuk memainkan
game Pokemon Go,” tambahnya.

- advertisement -

Bersiap-siaplah, Souljah dan Last Child akan Beraksi pada Konser KNPI Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, KUDUS Suara trompet diiringi bas dan organ terdengar beriringan. Lirik lagunya tak asing di telinga, khususnya untuk para penggemar musik di Indonesia. “Tak selalu (woo oow), yang bekilau itu indah (woo oow), telah terbukti di dirimu (woo oow), pergi dan sakitiku (woo oow).” Demikian cuplikan lirik video klip berjudul “Tak Selalu” yang ditunjukkan Amir Faishol, pelaksana Konser Pemuda Untuk Indonesia 2016 yang diadakan oleh Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kudus.

Menurutnya, lagu tersebut dinyanyikan oleh band asal Jakarta Souljah yang akan datang ke Kudus pada tanggal 31 Juli 2016 nanti. “Souljah akan menghibur masyarakat Kudus bersama Last Child 31 Juli 2016,” tuturnya kepada Seputarkudus.com, Jumat (14/7/2016).
Faishol memberitahukan, dua group band ibu kota itu dijadwalkan akan manggung di Lapangan Hawe barat Pasar Jember. Menurutnya, selain dua grup band tersebut, Konser Pemuda untuk Indonesia juga akan menghadirkan band lokal Kudus antara lain Astroboy, Ibarat Skata, Berteriak Lantank, Rebel Lion, Stocklama dan Alien Rock. “Awalnya rencana di Stadion Wergu Kudus, karena ada perbaikan akhirnya dipindah di Lapangan Hawe barat Pasar Jember atau utara SMAN 2 Kudus,” terangnya.
Souljah yang cukup populer dengan lagunya Bersamamu, I’m Free, Ku Ingin Kau Mati Saja dan Tak Selalu akan open gate pada pukul 12.00 WIB. Menurutnya, band yang personelnya mahasiswa asal Universitas Indonesia (UI) tersebut akan menyedot banyak banyak pengunjung dari Kudus dan luar Kudus. “Terlebih juga ada Last Child dengan lagunya Seluruh Nafas Ini, Diary Depresiku, Sekuat Hatimu, pastinya penonton yang datang akan membludak,” tuturnya.

Dia menjelaskan, kegiatan ini diadakan oleh Dewan Perwakilan Daerah (DPD) KNPI Kabupaten Kudus. menurutnya KNPI Kudus ingin membuat suatu kegiatan yang berbeda. “Biasanya kan seminar, talkshow dan pelatihan-pelatihan. Kali ini kami ingin memperkenalkan KNPI selaku organisasi kepemudaan kepada khalayak umum lewat even Konser Pemuda untuk Indonesia,” ungkapnya yang juga Wakil Ketua DPD KNPI Kudus.

Menurutnya, panitia akan menyediakan tiket sejumlah 14.000 lembar yang dapat dipesan langsung di Kantor DPD KNPI Kudus atau tempat-tempat yang sudah ditentukan. Faishol memberitahukan, harga tiket presale Rp 20 ribu dan on the spot (OTS) Rp 25 ribu. “Presale akan kami batasi sampai tanggal 25 Juli 2016. Selebihnya akan masuk tiket OTS yakni Rp 25 ribu,” ungkapnya.

- advertisement -

Tak Tega Lihat Anak Yatim di Desanya, Nashier Dirikan Panti Asuhan di Jurang

0
SEPUTARKUDUS.COM, JURANG Gedung panti asuhan ini terletak di Desa
Jurang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Gedung ini memiliki dua lantai yang
ditinggali puluhan anak yatim piatu. Bagian depan gedung terdapat tulisan Yayasan Darussalamah, nama panti asuhan di Kudus tersebut. Pertama didirikan, panti asuhan ini hanya memiliki tiga orang anak asuh.

Panti Asuhan Darussalamah Kudus

Menurut Ahmad Nashier (68) pengasuh serta pendiri Yayasan Darussalamah menuturkan, yayasan bweakte notaris
Nomor 39 tahun 1994 yang menaungi anak-anak yatim dan yatim piatu. Menurutnya,
dalam pendirian asrama panti asuhan pertama kali hanya ada tiga orang
yang diasuh di rumahnya. “Tiga orang tersebut warga Desa Jurang yang
sudah ditinggal orang tuanya,” tuturnya kepada Seputarkudus.com belum
lama ini.
Menurutnya, dia merasa empati kepada anak-anak yatim piatu
yang kehidupan dan pendidikannya tidak terurus. Akhirnya dia memutuskan untuk
mengasuh tiga anak tersebut untuk tinggal dengannya dan membiayai sekolahnya. “Menurut saya itu sudah kewajiban saya sebagai seorang Muslim untuk
mengasuh anak-anak yatim piatu. Saya berfikir mereka mempunyai cita-cita yang
harus dibantu untuk mewujudkannya,” ungkapnya.
Dia menceritakan, dalam pembangunan asrama yatim piatu banyak dibantu masyarakat sekitar dan pengusaha-pengusaha
secara bergotong-royong. “Di sini
pengurusnya banyak. Rata-rata dari masyarakat sekitar panti sendiri,”
tambahnya.
Bangunan yang berdiri di tanah wakaf kurang lebih setengah
hektare tersebut sekarang dihuni 64 anak yatim dan yatim piatu dari sekitar dan
luar Kecamatan Gebog. Menurutnya, anak-anak tersebut pantas mendapatkan
pendidikan yang layak untuk bekal kehidupannya kelak. “Kami selalu menerima
anak-anak yatim dan yatim piatu yang ditinggal orang tuanya. Mereka
berhak mendapatkan penghidupan yang layak,” tuturnya.

Panti Asuhan Darussalamah Kudus
Nashier melanjutkan, ketika di asrama anak yatim piatu akan
dibekali ilmu agama seperti di pesantren dan sekolah formal
yang letaknya di dekat panti asuhan. “Ini alhmdulillah lima anak didik kami
baru memenangi lomba-lomba yang diselenggarakan di Kudus,” ungkapnya.

Dia berharap, asrama panti asuhan yang dikelolanya
berkembang menjadi Pondok Tahfidz Al-Quran dan anak-anak di panti dapat
mengahafalkan Al-Quran. “Itu keinginan saya, semoga dapat terwujud,” tutunya.

- advertisement -

Rindu pada Masayikh, Alumni TBS Kudus Gelar Silatnas dan Ngaji Bareng Masyayikh

0
SEPUTARKUDUS.COM, KAJEKSAN Alumni Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) akan menggelar Silatnas (Silaturrahim
Nasional) pada 23 Juli 2016. Acara tersebut akan diselenggarakan di Jalan KH Turaichan
Adjhuri, Kelurahan Kajeksan, Kecamatan Kota Kabupaten Kudus. Acara tersebut digelar karena kerinduan mereka pada para masyayikh.

Silatnas direncanakan akan digelar di Gedung TBS. Di kawasan
tersebut berdiri beberapa bangunan Madrasah TBS yang dominan berwarna hijau
secara terpisah. Dari mulai Madrasah Ibtidaiyyah (MI), Madrasah Tsanawiyyah
(Mts), Madrasah Aliyyah (MA) serta pondok pesantren.

Menurut Abdulloh Hamid yang merupakan alumni TBS tahun 2004, tempat
tersebut nantinya akan digunakan untuk silaturrahim nasional alumni TBS tanggal
23 Juli 2016 dari angkatan pertama hingga terakhir. “Para alumni rindu dengan para
masyayikh di TBS. Lalu, tercetuslah acara Silatnas 2016 ini,” tutur Hamid kepada Seputarkudus.com, yang juga selaku inisiator kegiatan tersebut.
Dia menjelaskan, kegiatan ini juga sekaligus mempersiapkan satu
abad Madrasah TBS. Menurutnya, Madrasah TBS lahir tahun 1928
yang sudah mencetak ribuan alumni yang tersebar di seluruh Indonesia.  “Madrasah
TBS sudah berumur 90 tahun, alumninya pun banyak. Kegiatan ini juga ingin memperkuat
alumni TBS supaya dapat memunculkan ide dan gagasan baik untuk madrasah dan
masyarakat,” jelasnya.
Kegiatan yang diberi nama Silatnas 2016, Halal
Bihalal dan Ngaji Bareng Masyayikh bertema “Aswaja Pagar Nusantara”. Acara tersebut ditargerkan
akan dihadiri 1.000 alumni. Menurutnya, alumni-alumni yang berada di luar
Pulau Jawa dipastikan akan hadir. “Alumni-alumni yang berada di luar Pulau Jawa insya-Allah akan hadir,” ungkapnya.
Hamid menuturkan, kegiatan tersebut akan dimulai
dari pukul 15.00 WIB hingga malam. Selain silaturrahmi antar-alumni juga akan ada focus group discussion (FGD) isu tentang kemandirian ekonomi, jaringan alumni, media dan data alumni serta advokasi dan konseling ke-Aswajaan alumni. “Nantinya
akan ditutup ngaji bareng bersama KH Choirozyad TA, KH Muhammad Ulil
Albab Arwani, KH Muhammad Arifin Fanani, KH Hasan Fauzi, KH Musthafa Imran, serta launching situs santrimenara.com,” jelasnya.
Dia yang juga dosen Sistem Informasi Fakultas Sains dan
Teknologi UIN Sunan Ampel Surabaya menambahkan, alumni-alumni TBS diberikan
wadah organisasi bernama Ikatan Siswa Abituren (Iksab). “Semoga acara silatnas
berjalan dengan lancar,” ungkapnya.

- advertisement -

Inilah Para Pencetus Parade Sewu Kupat di Muria yang Telah Berlangsung 10 Tahun

0
SEPUTARKUDUS.COM, COLO Sebanyak 21 gunungan diarak dari Makam
Sunan Muria menuju Taman Ria Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, Rabu (13/7/2016). Ketupat, lepet dan
beberapa hasil bumi Pegunungan Muria terlihat di gunungan yang tertata rapi. Gunungan tersebut dibuat untuk Parade Sewu Kupat Kanjeng Sunan Muria. Amin Chudhori merupakan satu di antara para pencetus acara yang selalu digelar tiap Lebaran Ketupat atau sering disebut Kupatan, yang telah berlangsung 10 tahun terakhir.

Amin Khundori
Amin Khundori, satu diantara pencetus Parade Sewu Kupat
Tradisi tahunan tersebut menurut
Amin berlangsung sejak awal kepemimpinan Musthofa sebagai Bupati Kudus. Dia menuturkan, kegiatan Parade
Sewu Kupat dicetuskannya bersama Bupati Kudus, Sugiarto dan sejumlah budayawan Kudus. “Kegiatan ini tercetus dari panggilan hati kami seorang budayawan asli
Kudus yang melihat tradisi kupat di Colo mulai luntur,” tuturnya saat ditemui
Seputarkudus.com usai acara.
Setelah dibentuk tim, akhirnya tercetuslah Parade Sewu Kupat. “Dengan dukungan dari
teman-teman budayawan dan pemerintah, akhirnya kegiatan Parade Sewu Kupat tetap
berjalan sampai sekarang,” tambahnya.
Dia menjelaskan, sebenarnya tradisi Kupatan pada zaman Sunan
Muria sudah ada, namun tidak dibuat sebuah festival. Acara Kupatan di Muria hanya
dilakukan kenduri dan masyarakat berkumpul serta berdoa. Setelah itu mereka bersama-sama memakan ketupat, lepet dan
lauk yang sudah disediakan. “Karena kami ingin memberikan nuansa yang berbeda
dan ada sentuhan artistik, maka tercetuslah gunungan-gunungan ketupat, lepet dan hasil
bumi Muria yang diarak warga,” tuturnya.
 

Parade Sewu Kupat Muria
Arak-arakan gunungan kupat pada Parade Sewu Kupat di Taman Ria Colo, Dawe, Kudus, Rabu (13/7/2016). Foto: Imam Arwindra
Menurutnya, dalam mencetuskan ide Parade Sewu Kupat
tersebut, dia bersama teman-temannya melakukan ritual khusus agar mendatkan keberkahan dari yang Maha Kuasa. Dia menuturkan,
ritual tersebut dilakukan, gunungan tersebut dikumpulkan di Makan Sunan Muria untuk di doakan.

 Setelah
itu gunungan ketupat tersebut diarak menuju Taman Ria Colo untuk dinikmati
bersama. “Malam harinya saya bersama teman-teman sudah berada di lokasi untuk
menyiapkan kebutuhan Parade Sewu Kupat,” ungkap warga di Desa Gondang Manis, Kecamatan Bae, Kudus.
Menurut Amin, antusiasme warga sangat baik. Bahkan ada masyarakat dari luar Kudus yang datang dalam Parade Sewu Kupat. Dia menuturkan, bersama budayawan Kudus ingin membuat festival serupa di makam Raden Ayu
Nawangsing yang terletak di Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus. “Kalau di
Colo dengan ketupat dan lepet, nanti di Kandangmas memakai ingkung (ayam),”
jelasnya.

- advertisement -

Pidato Musthofa Belum Usai, Pengunjung Parade Sewu Kupat Serbu Gunungan

0
SEPUTARKUDUS.COM, COLO Ribuan orang terlihat bersiap-siap mengambil tumpukan
ketupat dan lepet yang disiapkan di depan panggung utama Parade Sewu Kupat
Kanjeng Sunan Muria di Objek Wisata Taman Ria, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, Rabu (13/7/2016). Terdapat 21 gunungan yang dibuat dari kerangka bambu berisakan ketupat, lepet, dan buah-buahan yang merupakan hasil bumi pegunungan muria.

Parade Sewu Kupat Muria
Warga berebut ketupat pada Parade Sewu Kupat di Taman Ria Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, Rabu (13/7/2016). Foto: Imam Arwindra
Tak sampai selesai Bupati Kudus Musthofa menyampaikan pidatonya,
sejumlah orang dari sisi selatan tiba-tiba berebut ketupat dan lepet yang
terdapat pada gunungan. Hal itu membuat masyarakat yang lain ikut
berebut isi gunungan yang terdapat di depan panggung utama. Tak sampai
lima menit gunungan-gunungan tersebut hanya tinggal kerangka.
Di antara pengunjung yang ikut berebut gunungan, yakni Sumirah, warga Desa Tergo,
Kecamatan Dawe, Kudus. Nafasnya tampak terengah-engah usai ikut berdesakan. Dia terlihat memegang lima ketupat, tiga lepet dan beberapa parijoto yang kemudian diberikan kepada ponakan dan anaknya. Dia mengaku baru ikut pertama kali parade
tersebut. 

“Saya orang Dawe. Namun tahun-tahun sebelumnya saya
tidak pernah mengikuti acara Parade Sewu Kupat ini. Karena penasaran akhirnya tahun ini
saya ikut. Saya datang bersama anak, ponakan dan tetangga,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com, ketika ditemui usai acara.

Dia mengaku rela berdesak-desakan karena ingin
mendapatkan ketupat dan lepet berharap berkah dari Sunan Muria dalam tradisi tersebut. “Sebenarnya saya ingin mendapatkan
kain mori yang terdapat paling atas. Namun karena pendek, akhirnya dapat ini
saja,” tutur dia sambil menunjukkan ketupat, lepet dan parijoto yang
didapatnya.

Parade Sewu Kupat Muria
Bupati Kudus Musthofa menuturkan, kegiatan yang di
laksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus sudah
dilakukannya 10 kali. Menurutnya, pertama kali yang mencetuskan acara tersebut yakni dirinya bersama Sugiarto dan Amin Khundori. “Acara ini dilaksanakan pada hari ketujuh bulan Syawal,” ungkapnya.
Dia berpesan kepada masyarakat Kudus agar tradisi lokal yang
sudah terlaksana untuk selalu dijaga. Menurutnya, kegiatan Parade Sewu Kupat merupakan bentuk wujud syukur kepada Allah yang telah memberikan segalanya. 

“Saya
berpesan kepada masyarakat dan bupati Kudus selanjutnya agar tetap melaksanakan budaya lokal Kudus. Terutama yang paling penting
meneladani panutan kita Sunan Muria dan tentunnya yang paling dijaga adalah
saling menghormati,” tuturnya.

- advertisement -

Orang mayong Ini Khusus Buat Celengan Bulus untuk Tradisi Bulusan Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, HADIPOLO – Kemeriahan Tradisi Bulusan di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekiulo, Kabupaten Kudus, telah mulai terasa bahkan sebelum Idul Fitri tahun ini. Kemeriahan tradisi yang selalu digelar pada Lebaran Ketupat itu, terlihat dari banyaknya pedagang yang menjajakan sejumlah barang di tepi jalan menuju lokasi. Satu di antara banyaknya pedagang, yakni Ahmad Aris, warga Mayong Lor, Jepara, yang setiap tahun berjualan di dekat lokasi Tradisi Bulusan digelar.

celengan di tradisi bulusan

Pagi itu, Aris bersama istrinya, Zumrotun, tampak membersihkan puluhan celengan dan mainan terbuat dari gerabah di lapak yang ditempatinya. Mereka bersiap menarik perhatian pengunjung yang akan melintasi lapaknya. Tahun ini, dia membuat celengan khusus yang akan dijual di Tradisi Bulusan, celengan bulus.

“Ini (celengan) produk baru yang saya buat khusus untuk Tradisi Bulusan di Hadipolo. Semoga pengunjung yang datang tertarik dan membeli celengan ini,” ujar Aris kepada Seputarkudus.com yang mengaku telah membuka lapaknya sehari setelah Lebaran.

Baca juga: Tradisi Bulusan, Awal Berdirinya Dukuh Sumber di Kabupaten Kudus  

Aris mengatakan, dirinya telah berjualan di lapak yang sama selama empat tahun terakhir di Tradisi Bulusan. Dia meneruskan usaha orang tuanya, yang sebelumnya juga berjualan di even tersebut. Selama di sana, dia ditemani istrinya, dan setiap malam pulang ke Mayong. “Lapak kami tinggalkan, tapi di sini ada yang jaga,” katanya.

Dia mengaku memproduksi sendiri celengan-celengan yang di jual di lapak tempat ia berdagang. Harga yang ditawarkan variatif, disesuakan dengan bentuk dan besar kecilnya celengan yang dijual. Untuk celengan dengan bentuk yang kecil, dia jual dengan harga Rp 7 ribu. Sedangkan celengan dengan bentuk yang besar dengan warna-warni cat ada yang dia jual hingga Rp 35 ribu.

Setiap hari omzet penjualan celengan miliknya hanya sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Jumlah tersebut akan meningkat saat Tradisi Bulusan diselenggarakan. Meski begitu, berjualan di Tradisi Bulusan hasilnya tak sebanyak hasil yang didapat saat berdagang di even-even lain.

“Setiap tahun kami juga berjualan di Tradisi Dandangan dan even-even di daerah lain. Hasilnya memang tak sebesar di tempat lain. Maklum, tradisi ini digelar di tempat yang cukup jauh dari perkotaan. Jadi jumlah pengunjungnya juga tak sebanyak di Dandangan yang digelar di tengah kota,” katanya.

- advertisement -

Gadis Sukolilo Ini Penasaran Gantengnya Rudy Habibie Muda di Bioskop Cineplex Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, CINEPLEX Puluhan orang tampak duduk di dalam Studio Dua
bioskop New Star Cineplexc (NSC) Kudus. Layar lebar di depan mereka memapilkan pesawat tempur tentara Jepang dengan suara keras
mengawali penayangan film Rudy Habibie (Ainun Habibie 2) Selasa (12/7/2016). Satu di antara penonton
tersebut yakni Fatin (21) asal Sukolilo, Pati. Dia mengaku penasaran ingin menonton film yang menceritakan kisah presiden Indonesia ketiga tersebut saat masih muda, ganteng, dan inspiratif.

Pemutaran Film Rudy Habibie di Cineplex Kudus
Pemutaran Film Rudy Habibie di Cineplex Kudus. Foto: Imam Arwindra
Para penonton, termasuk Fatin, tampak terdiam melihat saat bom-bom yang
dijatuhkan pesawat ke rumah-rumah warga di Pare-Pare, Indonesia. Warga yang panik keluar rumah membawa barang seadanya
mencari tempat aman. Tampak Rudy kecil mencari-cari Meccano dan satu buku yang akan dibawanya. 

Usai pemutaran film garapan Hanung Bramantyo itu, Fatin mengatakan, film yang baru saja ditonton bersama teman-temannya itu sangat inspiratif. Kesusahan yang dihadapi Rudy Habibie tidak memupuskan
semangatnya untuk belajar menjadi insinyur di Jerman. Menurutnya, adegan
yang cukup membuatnya terharu ketika Rudy menelepon ibunya Tuti Marini
Puspowardoyo (Dian Nitami), menanyakan tentang uang sakunya. Namun ibunya mengatakan keadaan ekonomi keluarga
sedang kurang stabil. 

“Di saat ekonomi keluarga tidak stabil, ibunya Rudy sempat
bertanya apakah uang kirimannya sudah sampai apa belum. Dengan rasa tidak tega dan
bercucuran air mata, Rudy hanya bilang dirinya baik-baik saja,” ungkapnya.

Fatin melanjutkan, karena tidak punya uang saku dia sempat
kelaparan dan sering mengalihkannya dengan berdoa di gereja (Karena tidak
ada masjid) dan belajar di perpustakaan. Dia mempunyai teman baik, di antaranya, Liem
Keng Kie (Ernest Prakasa), Ayu (Indah Permatasari) dan Peter Manumasa (Pandji
Pragiwaksono) yang sering memberikan makanan kepada Rudy. “Begitu juga tokoh
utama yang bernama Ilona (Chelsea Islan) yang sering memberi roti dan apel,”
tuturnya.
Film yang diproduksi oleh MD Picture bercerita tentang masa muda dari BJ Habibie (diperankan Reza Rahadian) seorang teknokral
dengan jiwa anak muda yang memiliki banyak impian dan lika liku cinta. Menurut
Fatin, Rudy yang masih berumur 19 tahun berani merantau untuk kuliah di RWTH
Ancheen, Jerman Barat demi menggapai cita-citanya untuk membuat pesawat yang
juga merupakan wasiat dari ayahnya yang sudah meninggal.
Dia menjelaskan, dalam adegan film tergambarkan, Rudy dalam
menggapai cita-citanya penuh perjuangan yang tidaklah mudah. Dari segi
keuangan, waktu, hubungan dengan mahasiswa lain asal Indonesia yang tergabung
dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) dan yang lainnya. 

“Namun yang saya
kagum, Rudy masih tetap kukuh meraih cita-citanya. Saya ingin seperti Rudy yang
semangat dalam meraih cita-cita,” tutur dia yang masih kuliah di Jurusan
Akuntansi, Universitas Muria Kudus (UMK).

- advertisement -

Siapa Sangka, Masjid Megah dan Indah di Mejobo Ini Dulu Dikenal Angker

0
SEPUTARKUDUS.COM, MEJOBO – Bangunan masjid ini berlantai dua dengan
halaman yang cukup luas. Di depan masjid berdiri gerbang berbahan semen dengan
tinggi sekitar lima meter. Di sebelah utara masjid, berdiri bangun
bertingkat bertuliskan MI NU Miftahut Tholibin. Di barat masjid, ratusan batu
nisan terlihat berjajar seperti pemakaman umum. Masjid ini bernama Masjid Besar Al-Ma’wa yang terletak
di Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. 

Masjid Besar Al-Ma’wa

Menurut H Abdul Aziz (56) pengurus
Masjid Al-Ma’wa, dulu masjid tersebut terkenal angker. Menurutnya, di
sekitar masjid terasa sunyi. Depan masjid ditumbuhi pohon-pohon kelapa yang
cukup lebat. Selain itu lokasi masjid dekat dengan pemakaman. “Pernah dulu ada
yang main bola di depan masjid, ketika dia jatuh kakinya patah. Ini orangnya
masih hidup. Rumahnya dekat masjid,” tuturnya kepada Seputarkudus.com belum
lama ini.

Abdul Aziz menceritakan, Masjid Al-Ma’wa pertama kali
didirikan oleh Eyang Suryo Kusumo pada tahun 1686. Menurutnya, masjid tersebut
sudah mengalami pemugaran tiga kali. Pemugaran pertama tahun 1939 dan tahun kedua
1983. “Renovasi terakhir tahun 1996,” tambahnya.

Dia melanjutkan, pada masa renovasi masjid, orang yang
mengerjakan bangunan dalam keadaan suci. “Pekerja yang sedang menggarap masjid
harus wudlu dulu. Ya supaya dalam keadaan suci,” ungkapnya.

Untuk bangunan asli masjid pertama berdiri terletak pada
ruang utama salat. Terdapat empat tiang berbahan kayu dengan sisi bawah yang
sudah dihias dengan keramik. Menurutnya, sisi atas saka terdapat beberapa kayu penyatu
tiang yang sudah dilapisi semen. “Empat tiang dan kayu di atasnya
masih asli. Namun untuk supaya terawat dengan baik, kayu tersebut dilapisi
semen,” jelasnya.

Sumadi (50) warga
sekitar Majid Al-Ma’wa menuturkan, Menurutnya, dulunya Masjid Al-Ma’wa memang terkenal masjid
yang angker, namun sekarang karena bangunannya sudah bagus dan banyak kegiatan
di masjid, mindset masjid angker
sudah hilang. “Sekarang banyak kegiatan-kegiatan di Masjid, seperti tadarus dan
pengajian kitab,” jelasnya. 

Dia mengatakan, bentuk Masjid Al-Ma’wa dulu berbentuk
joglo dengan tangga di depannya. Di depan masjid terdapat pohon kelapa yang
cukup lebat. “Bangunan-bangunan yang masih asli yakni empat saka di ruang utama
salat, cungkup, sumur dan prasasti di atas pintu utama yang konon dari keraton
Solo,” ungkapnya.
Dia menambahkan, Masjid Al-Ma’wa bisa disebut Masjid
Kecamatan Mejobo, karena masjid ini terbilang masjid tertua yang berada di
Kecamatan Mejobo. “Tahun 1996, Masjid Al-Ma’wa masjid cukup megah di Mejobo,”
tuturnya.

- advertisement -

Indahnya Masjid Nnganguk Wali, Masjid Bertiang 36 dengan Gapura Khas Hindu-Buddha

0
SEPUTARKUDUS.COM, KRAMATDi serambi masjid ini terdapat 36 saka
berbentuk bulat berdiri kokoh. Masjid berlantai satu ini bernama Masjid Jami Noor Nganguk Wali di Keramat, Kecamatan Kota, Kudus. Terlihat lima
pintu berbahan kayu dengan ukiran khas diletakkan di jalan masuk menuju ruang
utama salat. Kanan dan kiri deretan pintu terdapat dua jam bandul dengan setting waktu yang berbeda, yakni waktu
Indonesia barat (WIB) dan istiwa.

Masjid Nganguk Wali Kudus
Masjid Nganguk Wali Kudus. Foto-foto: Imam Arwindra
Sedangkan pada bagian depan masjid Nganguk Wali, batu bata tersusun
membentuk sebuah gerbang berarsitektur Hindu-Buddha, mirip Menara
Kudus, Masjid Wali di Jepang dan Loram. Namun, bangunan gapura tersebut tak dibangun pada awal masjid tersebut berdiri, melainkan baru dibangun saat renovasi.

tiang masjid nganguk wali

Sofiah, marbot
Masjid Jami’ Noor Nganguk Wali menuturkan, pertama kali masjid
berdiri tidak ada gerbang seperti yang ada di Masjid Wali Loram. Menurutnya
gerbang yang terbuat dari batu bata merah dibuat ketika renovasi masjid. “Gerbang ini (Masjid Jami Noor
Nganguk Wali) bukanlah bangunan asli. Gerbang ini dibuat saat rehab,” ungkapnya
saat ditemui di Masjid Jami Noor Nganguk Wali belum lama ini.

Gapura Masjid Nganguk Wali Kudus
Dia mengungkapkan, Masjid Nganguk Wali yang berdiri di atas
tanah sekitar setengah hektare sudah direnovasi dua kali. Ketika ditanya
Seputarkudus.com tentang tahun pertama kali Masjid Nganguk Wali dibangun, dia
mengaku kurang begitu paham. “Tahun pertama kali berdiri saya kurang tahu. Kalau rehabnya sudah dua kali dan terakhir sekitar tahun 2000-an,”
terangnya.

ruang utama masjid nganguk wali
Sofiah memberitahukan, bangunan masjid yang masih asli
yakni ruang salat, cungkup mustaka dan sumur tua di selatan
ruang utama. Di ruangan utama salat terdapat empat saka berbahan kayu.
“Sumurnya sampai sekarang airnya masih dipergunakan untuk berwudlu,”
tambahnya.

Gapura Masjid NGanguk Wali
Menurutnya, Masjid Nganguk Wali selain dipergunakan untuk beribadah
masyarakat sekitar dulunya untuk perkumpulan para wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. “Masjid ini diberi nama Nganguk Wali karena terletak di Dusun Nganguk dan sering dipergunakan para wali untuk pertemuan,” tuturnya.
- advertisement -

Setiap Tahun Orang Mayong Ini Selalu Berjualan Vas Bunga di Tradisi Bulusan Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, HADIPOLO – Pagi ini (11/7/2016) sekitar pukul 9.00 WIB, Iwan (26) mulai membuka tabir lapak miliknya, di Jalan Kudus Pati kilometer 6, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Dia mulai menata beberapa vas bunga terbuat dari gerabah dan anyaman plastik. Pria asal Mayong Lor, Kecamatan Mayong, Jepara, itu siap melayani pembeli pada Tradisi Bulusan yang setiap tahun digelar di desa tersebut. Dua hari menjelang tradisi tersebut digelar, lapaknya sudah mulai banyak didatangi pembeli. Dalam sehari dia bisa mengantongi pendapatan hingga Rp 3 juta.

Tak beberapa lama, mobil Honda Freed dari arah kota menepi tak jauh dari lapak milik Iwan. Seorang pria bersama anak dan istrinya turun dari mobil kemudian masuk lapak yang dipenuhi vas dan bunga plastik tersebut. Mereka melihat dan memegangi bunga serta vas yang ada di lapak Iwan. “Yang ini berapa berapa mas,” tanya pembeli tersebut kepada Iwan.

Dengan ramah, Iwan menerangkan produk yang dia jual beserta harga yang ditawarkan. Setelah beberapa menit, pembeli tersebut memilih beberapa tangkai bunga dan menyerahkan sejulah uang kepada Iwan. Pembeli itu kemudian menuju mobil dan kemudian pergi.

Kepada Seputarkudus.com, Iwan mengatakan, dia sudah mulai membuka lapak tak jauh dari pintu masuk tempat diselenggarakannya tradisi Bulusan sejak H-7 Lebaran lalu. Lapaknya sudah ramai didatangi pembeli sejak sebelum Lebaran. Kebanyakan para pembeli yang datang ke lapaknya yakni para pemudik yang melintas di jalur pantura. Sebelum Lebaran, omzet yang didapat antara Rp 1 juta hingga Rp 3 juta sehari.

“Dibanding setelah Lebaran, omzet yang kami dapat justru lebih tinggi sebelum Lebaran. Kebanyakan yang beli para pemudik. Dan yang lebih menyenangkan, mereka tidak banyak menawar harga yang kami tawarkan,” tuturnya.

Vas bunga yang dijual, kata Iwan, ditawarkan harga antara Rp 20 ribu hingga Rp 130 ribu. Sedangkan bunga harga yang dia tawarkan antara Rp 5 ribu hingga Rp 40 ribu. 

Iwan mengaku akan berjualan vas dan bunga hingga tradisi itu digelar pada Rabu (13/7/2016) lusa. Setiap tahun dia mengaku rutin berjualan di even tersebut, bahkan sejak usaha penjualan vas dan bunga itu dijalankan ibunya.

“Sekarang usaha ini saya jalankan bersama kakak. Ibu sudah tidak berjualan lagi, kami yang meneruskan. Kami berjualan di sini rutin setiap tahun dan sudah turun temurun,” kata Iwan.

Sejumlah vas bunga terbuat dari gerabah dikatakan Iwan dia beli dari tetangganya di Mayong. Sedangkan bunga-bunga plastik itu dia datangkan dari Yogyakarta. “Kami tidak memproduksi, kami hanya menjual. Kami membeli dari perajin kemudian kami finishing menggunakan cat agar kebih menarik,” jelas Iwan.

- advertisement -

Penjual Mebel Keliling Ini Sepekan Sekali Pulang ke Pati, Tiap Malam Tidur di Balai Desa

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBALREJO – Keringat Supar (58) bercucuran saat menuntun sepeda tua miliknya melintas di Jalan Kudus-Pati, Desa Ngembal Rejo, Kecamatan Bae, Kudus. Dia baru saja beristirahat di tepi jalan, setelah berkeliling kampung menawarkan produk mebel miliknya. Ranjang, lemari dan meja yang dia jual tersebut, diletakkan di atas gerobak kecil dan ditarik menggunakan sepedanya.

penjual meja dan kursi

Saat beristirahat, dia sudi berbagi kisah menjalani pekerjaan sebagai penjual produk mebel keliling, kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu. Supar menceritakan, dia membawa produk mebel tersebut dari kampungnya, Tambakromo, Pati, menggunakan gerobak yang ditarik dengan sepeda. Dia menawarkan produknya berkeliling, dari kampung ke kampung di Kudus. Sepekan sekali dia pulang membawa hasil dagangannya ke kampung.

“Biasanya sepekan sekali daganganku habis terjual. Hasilnya saya berikan kepada istri, dan sebagian di antaranya untuk modal membeli produk mebel dari perajin di kampungku dan saya jual lagi ke Kudus,” ujar Supar.

Setiap hari, katanya, dia berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya dengan mengayuh sepeda yang sudah banyak karat tersebut. Tak jarang, sepekan lebih barang dagangannya tak habis terjual. Dia terpaksa menunda kepulangannya ke kampung, hingga produknya terjual habis.

“Di Kudus saya tak punya saudara atau keluarga. Jadi saat malam tiba, saya mencari balai desa terdekat untuk bermalam. Kadang ya di sekolahan kalau tak menemukan balai desa. Di sana saya numpang tidur dan mandi,” katanya.

Supar menjelaskan, lemari dan meja dia jual seharga Rp 650 ribu. Sedangkan ranjang dia jual sedikit lebih mahal. Karena ukuran gerobak kecil, dia hanya mampu membawa dua ranjang, satu lemari dan dua meja. Mebel-mebel tersebut dia tumpuk di atas gerobak.

“Selain itu, tenaga saya juga tidak sekuat saat masih muda. Jadi hanya bisa membawa beberapa mebel yang sekiranya kaki saya kuat mengayuh pedal. Kalau membawa barang terlalu banyak, takutnya baru berkeliling sebentar sudah tidak kuat mengayuh sepeda lagi,” tutur Supar.

Dia menceritakan, di kampung dia hidup bersama istrinya. Anak-anaknya kini sudah berkeluarga dan mencari penghidupan untuk keluarganya. Dia tak ingin merepotkan anak-anaknya yang sudah memiliki kewajiban mencari nafkah. Untuk melanjutkan hidup bersama istrinya, dia rela memeras keringat mengayuh sepeda, menjual produk mebel.

- advertisement -

Mahasiswa UMK Ini Nekat Buka Kafe dengan Modal Patungan Bersama Temannya

0

SEPUTARKUDUS.COM – Di selatan Jalan Sunan Kudus terdapat sebuah kafe yang terlihat ramai didatangi para remaja untuk di jadikan tempat nongkrong atau kongkow. Kafe yang menjual berbagai menu kopi dan makanan tersebut bernama Chocobean Cafe. Usaha itu didirikan Deni syaiful Amri (21) bersama temanya, dengan modal Rp 3,5 juta. Pada awal membangun usaha, dia hanya menggunakan gerobak.

kafe di kudus yang asyik

Deni begitu dia akrab disapa, menuturkan, pertama mendirikan usahanya hanya bermodal Rp 3,5 juta. Dana itupun tidak hanya bersal dari dirinya, melainkan ditambah dari teman sekolah sewaktu SMP, yang sekarang temenya tersebut kuliah di Semarang. 

“Waktu pertama buka usaha sekitar tahun 2014, pada waktu itu belum kuat sewa tempat. Jadi jualanya masih menggunakan gerobak,” ujar pria yang tercatat sebagai mahasiswa UMK kepada Seputarkudus.com.

Usaha Chocobean racikan Deni beserta temanya pada awal usahanya lumayan diminati para pembeli. Hingga pada tahun 2015, Deni memutuskan menyewa sebuah tempat di Jalan Sunan Kudus untuk mendirikan sebuah kafe, dengan harga sewa Rp 15 juta setahun.

kafe di kudus yang asyik

“Aku bersyukur setelah menyewa tempat dan konsepnya dibikin mini kafe dengan dekorasi menggunakan kayu jati belanda, usaha chocobeanku setiap hari ramai pengunjung. Bahkan saat Sabtu dan Minggu pengunjungnya bisa lebih banyak dari pada hari biasa,” ungkap deni.

Menurutnya usahanya kini beromzet sekitar Rp 2 juta sehari pada hari biasa. Sedangkan untuk  Sabtu dan Minggu bisa sampai Rp 3 juta per hari. Kini Deni memiliki delapan orang karyawan yang semuanya mahasiswa. Mereka dibagi menjadi dua sift.

“Sekarang selain yang di Jalan Sunan Kudus, aku juga masih punya di tiga tempat lain di Kudus dengan usaha yang serupa. Usaha yang awalnya ditentang orang tuaku kini malah didukung dan rencana mau dikasih modal supaya bisa mendirikan yang lebih besar,” kata pria yang tercatat sebagai warga Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu, Kudus tersebut.

- advertisement -

Tiap Tahun Pemilik PO Haryanto Santuni Ribuan Anak Yatim, Gaji Karyawan Dipotong 2,5% untuk Zakat

0
SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBALREJO – Masyarakat Kudus pasti tidak asing dengan nama Perusahaan Otobus (PO) Haryanto yang kendaraannya bergambar Menara Kudus. Perusahaan itu didirikan seorang pria
kelahiran Kudus dan pensiunan TNI, yang namanya digunakan untuk perusahaan tersebut. Sosok yang dianggap sukses sebagai pengusaha ini
dikenal berjiwa sosial tinggi, karena sering memberikan santunan untuk yatim
piatu, dan para kaum dzuafa.

pull po haryanto

Rajamudin (32) atau biasa dipanggil Raja, satu diantara staf
di PO Haryanto menuturkan, Haryanto setiap tahun pasti
memberi santunan kepada anak yatim serta kaum dzuafa. Dia selalu menyisihkan
2,5 persen dari hasil usahanya untuk dibagikan kepada yang berhak, di antaranya,
para yatim piatu, serta kaum dzuafa.

“Biasanya beliau memberikan santunan tersebut pada tanggal 1
Muharam atau orang Jawa bilang satu Suro. Pada satu Muharam lalu beliau
mengundang 4.500 anak yatim piatu. Pada acara tersebut juga digelar pengajian, lusanya
diadakan wayangan semalam suntuk,” Kata Raja kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.
Selain santunan pada satu Muharam, katanya, Haryanto juga mengeluarkan
zakat menjelang hari raya dengan membagikan beras untuk masyarakat umum,
terutama penduduk yang berdomisili sekitar pull PO Haryanto, di Desa
Ngembal Rejo, Kecamatan Bae, Kudus.
Raja menambahkan, selain memberikan santunan kepada
yatim piatu serta kaum dzuafa, dia juga selalu mengingatkan serta mengajak
semua karyawanya untuk menyisihkan 2,5 persen dari penghasilanya untuk orang yang membutuhkan.
“Bahkan di PO Haryanto semua karyawan setiap gajian langsung
dipotong 2,5 persen, dan nanti uang tersebut juga dibagikan kepada
orang yang membutuhkan. Kami ikhlas karena memang itu bukan hak kami, tujuan dari semua itu
biar rezeki yang kami dapat menjadi berkah,” ungkap Raja.

- advertisement -