Beranda blog Halaman 1950

Santri TBS Kudus Ini Buat Peci Khusus Untuk Dikenakan Saat Silatnas

0
SEPUTARKUDUS.COM, TBS – Dua pria bersarung tampak duduk di depan
kelas gedung Madrasah Aliyah (MA) Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) selatan
Jalan KH Turaichan Adjhuri, Kajeksan, Kota, Kudus. Mereka tengah mendengarkan dawuh KH Choiruzyad TA melalui pengeras suara di acara Silaturrahim
Nasional (Silatnas) dan Ngaji Bareng Masyayikh TBS di depan
gedung MA TBS, Sabtu (23/7/2016) malam.

Silatnas TBS
Yusril dan Hilmi menunjukkan kreasi peci hitamnya yang bertulis TBS. Foto: Imam Arwindra
Satu di antara dua pria itu bernama Ahmad Yusril Hidayat (16), siswa MA
TBS. Tadi malam, dia mengenakan peci lain daripada yang lain, karena terdapat tulisan TBS di pecinya. Dia membuat sendiri tulisan tersebut, khusus untuk dipakai saat acara Silatnas diselenggarakan. Sisi samping peci tampak ada goresan bunga-bunga berwarna
putih. Di sebelah atas peci hitam tersebut bertuliskan ‘TBS’ dan huruf Arab Tasywiquth Thullab Salafiyyah berwarna hijau. 

“Saya membuat ini khusus untuk saya pakai saat acara Silatnas.
Walau saya belum alumni, saya ingin ikut berpartisipasi,” ungkap yusril yang
berasal dari Demak.

Dia yang datang bersama temannya Hilmi Yahya, mengaku  kagum dengan kakak kelasnya yang sudah alumni bisa
kompak menyelenggarakan acara Silatnas yang baru pertama kali diselenggarakan. “Saya
penasaran sekaligus kagum dengan acara perkumpulan alumni TBS dari angkatan
pertama hingga lulusan kemarin. Dan ternyata memang benar, ribuan alumni dengan
memakai baju putih datang,” tuturnya.
Dia membuat kreasi peci tersebut karena kecintaan dan kebanggaannya terhadap almamater
sekolahnya. “Saya bangga bisa menunjukkan identitas saya sebagai siswa TBS. Semoga
nantinya saya seperti alumni-alumni yang bisa kompak dan terus tawadhu’ (hormat) pada masyayikh TBS,” jelasnya.

Silatnas TBS
KH Choiruzyad TA sedang memberikan pesan kepada ribuan alumni yang datang di Silatnas.

Sementara itu, KH Choiruzyad TA yang duduk di depan ribuan alumni TBS, didampingi para masyayikh, di antaranya KH M Ulil Albab Arwani, KH Hasan Fauzi, KH M Arifin Fanani,
dan KH Musthofa Imron, menceritakan sejarah berdirinya madrasah TBS di zaman penjajahan Belanda. Dia mengajak para alumni untuk mengingat perjuangan sejarah pendirian
madrasah TBS yang dilakukan langsung oleh tangan para kiai khos pada
masa itu. 
“Tidak seorang pun murid (TBS) boleh lupa dari mana mereka berasal, ojo
lali weton
(jangan lupa asal-usulnya),” pesannya kepada ribuan alumni TBS
yang hadir.

- advertisement -

Jafar Beli Tiket Presale Konser Last Child Karena Takut Berdesakan dengan Ribuan Penonton

0
SEPUTARKUDUS.COM, PRAMBATAN LORLembaran kertas kwitansi dengan warna hijau, terbubuhi stempel warna biru tertulis Panitia
Konser Pemuda Untuk Indonesia 2016. Lembaran tersebut ditunjukkan Jafar setelah memesan presale tiket konser yang
diadakan oleh Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia
(KNPI) Kudus pada tanggal 31 Juli 2016, di Lapangan Hawe, Kudus.

tiket konser Last Child dan Souljah KNPI Kudus
Menurutnya, dia memesan tiket konser presale dengan cara menghubungi
nomor telepon yang tertera di baner kegiatan depan Pasar Jember. “Saya memesan
tiket jauh-jauh hari karena biasanya saat hari H konser antrian tiket panjang,”
ungkapnya kepada Seputarkudus.com setelah membeli tiket dengan panitia tiket
boks konser di SPBU Prambatan.
Warga Desa Prambatan Kidul, Kecamatan
Kaliwungu, Kudus menuturkan, tidak ingin membeli tiket saat hari konser karena menurutnya akan berdesak-desakan. Dia memastikan akan ada ribuan
orang yang datang untuk menonton konser yang mendatangkan band asal ibu kota ini.
“Saya yakin pasti berdesak-desakan. Lebih enak presale harganya cuma Rp 20
ribu,” tambahnya.
Kegiatan Konser Pemuda Untuk Indonesia 2016 yang
akan menghadirkan Last Child dan Souljah menurut panita pelaksana Amir Faishol, akan
diadakan di Lapangan Hawe tak jauh dari Swalayan ADA. Pihaknya sudah menyiapkan tiket
sebanyak 14.000 lembar. “Penjualan
tiket kami atur dengan sistem presale dan on the spot (OTS). Presale harganya
Rp 20 ribu sampai tanggal 25 Juli 2016 dan OTS Rp 25 ribu,” ungkapnya.
Dia memastikan, konser tersebut akan dibanjiri ribuan
penonton yang tidak hanya datang dari Kudus. Menurutnya, dalam persiapan penyelenggaraan,
pihaknya sudah siap jauh-jauh hari. “Kami memastikan penonton juga akan banyak
dari luar Kudus. Untuk keamanan semua sudah siap,” tegasnya.
Faishol mengimbau kepada masyarakat yang ingin menonton
agar membeli tiket presale saja. Selain lebih murah juga mengantisipasi supaya
tidak ikut antrean panjang. “Nanti untuk pembeli tiket presale kami buatkan
jalur portir sendiri. Supaya lebih cepat untuk masuk ke dalam,” ungkapnya.

Menurutnya tiket presale akan dibatasi sampai 25
Juli 2016 yang bisa didapatkan di tempat-tempat yang sudah ditentukan. Di antaranya,
Labasa Distro Jember, Kantor DPD KNIP Kudus (eks SD 3 Mlati Kidul) dan Bascamp
Astroboy di Desa Klaling, Kecamatan Jekulo, Kudus. “Atau bisa menghubungi tiket
boks kami 085726866751 dan 085640945335 nanti akan diarahkan ke tiket boks
terdekat,” jelas dia yang juga Wakil Ketua DPD KNPI Kudus.

Dia menambahkan, untuk tiket presale berupa kwitansi bisa
ditukar dengan tiket asli dari tanggal 29 Juli 2016 hingga hari pelaksanaan
konser tanggal 31 Juli 2016. “Awas dengan tiket palsu. Saya mengimbau untuk
membeli tiket presale di tempat yang sudah ditentukan atau dapat menghubungi nomor
tiket boks yang tertera di spanduk atau poster,” tuturnya.

- advertisement -

Tak Lengkap Rasanya Jika ke Kudus Tak Mampir di Pusat Kuliner Taman Bojana

0
SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN – Tangan keriputnya masih tampak
sigap memegang spatula yang digunakannya untuk menggoreng telur. Tercium aroma harum
menandakan tak lama lagi telur dadar goreng segera matang. Benturan
cobek dan ulekan terdengar rintih menggilas bumbu yang akan dituangkan di atas tahu
dan telur. Tidak sampai lima menit, satu piring lontong tahu telur dan gimbal warung  H
As’ad di Taman Bojana siap untuk dinikmati.

Pusat makanan khas Kudus di Taman Bojana Kudus
Pusat makanan khas Kudus di Taman Bojana Kudus. Foto: Imam Arwindra

Di sebelah timur warung makan H Asad, mangkok-mangkok kecil dan
kerupuk terlihat ditumpuk di atas meja. Di depannya terdapat sate kerbau dan usus
yang sudah tersedia dipiring warna putih. Ketika ada pengunjung datang, pemilik warung soto itu langsung menuangkan kuah ke dalam
mangkok. Warung itu menyediakan makanan soto kerbau, sop kerbau dan
pindang kerbau. Makanan-makanan khas Kudus yang tersedia
di Taman Bojana, Kudus.

Menurut pemilik Warung H As’ad, Rif’ati (69), Taman Bojana memang pusat kuliner
khas Kudus. Makanan yang tersedia di antaranya, soto kerbau, pindang, sate kerbau,
tahu telur dan gimbal, jenang, dan makanan khas lainnya. “Jenang juga ada di sini. Memang di Taman Bojana
pusatnya makanannya khas Kudus,” tuturnya saat ditemui di Taman Bojana, belum lama ini.
Dia memberitahukan, setiap hari ada ratusan orang yang berkunjung ke Taman Bojana. Keramaian akan bertambah setelah Lebaran. “Ketika tanggal merah pun juga banyak yang datang,” ungkapnya.

Pusat makanan khas Kudus di Taman Bojana Kudus
Warung As’ad Taman Bojana. Foto: Imam Arwindra

Rif’ati yang sudah berdagang selama 48 tahun menuturkan, pengunjung
yang datang tidak hanya berasal dari Kudus, banyak pula pengunjung yang datang dari
luar Kudus. “Banyak orang yang berkunjung ke Kudus mampir ke Taman
Bojana untuk merasakan makanan khas Kudus,” tambahnya.

Menurutnya, pedagang mulai menjajakan makanan mulai
pukul 7.00 WIB dan tutupnya sekitar pukul 19.00 WIB hingga 21.00 WIB malam. “Kadang
ada juga yang sampai pkul 23.00 WIB. Biasanya pedagang soto,” ujar Rif’ati yang biasanya
menutup warungnya pukul 19.00 WIB.

Taman Bojana yang mempunyai sekitar 125 ruko, menurutnya
diresmikan tahun 1997 oleh Bupati Kudus Soedarsono. Dia mengungkapkan, sebelum pindah
di Taman Bojana, para pedagang berjualan di tosera yang sekarang menjadi Ramayana. “Selain
kuliner, di ruko sebelah barat juga terdapat penjualan ponsel dan majalah,” ungkapnya.

- advertisement -

Agus Sampai Terbawa Mimpi Hadir di Silatnas TBS, Tapi Sayang Dia di Filipina

0
SEPUTARKUDUS.COM, TBS Sejumlah orang terlihat berkumpul di halaman berlantai
semen dekat gubuk beratap rumbia. Sejumlah orang lainnya berdiri. Beberapa di antaranya memakai seragam militer. Mereka diabadikan dalam sebuah foto yang dikirim Agus Hidayatullah
Mufti, alumni Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) Kudus. Dia merasa menyesal tak bisa
mengikuti kegiatan Silaturrahim Nasional (Silatnas) dan Ngaji Bareng Masyayikh TBS 23 Juli besok, karena
sedang bertugas di Filipina.
Alumni TBS di Kemenlu RI
Agus (berdiri paling kanan) mengikuti Lanao Region Stakeholder Meeting; second round, di IMT TS2 Residence, Filipina dengan Wakil Pemerintah Filipina, angkatan bersenjata, Kepolisian, MILF, IMT, LSM lokal dan international, Kamis (21/7/2016). Foto: Agus Hidayatullah Mufti.

Dia mengaku tidak bisa hadir karena sedang bertugas di Mindanao,
Filipina sebagai Tim Pemantau pada International Monitoring Team di Kementrian
Luar Negeri. “Saya merindukan semua tentang TBS, teman-teman, masyayikh, mengaji,
silaturahmi. Saya sangat ingin hadir di acara Silatnas, sampai saya terbawa mimpi,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com
dari Mindanao, Filipina melalui Whatsaap Messager, Kamis (21/7/2016).
Agus mengungkapkan, dirinya bertugas di
Filipina sejak 2 Juli 2016 hingga akhir Desember nanti. “Saya di Filipina sebagai tim Pemantau Indonesia
pada International Monitoring Team yang dibentuk untuk memantau
implementasi kesepakatan genjatan senjata dan proses perdamaian antara
Pemerintah Filipina dan MILF (Moro Islamic Liberation Front) Mindanao,”
jelasnya.
Dia mengaku kagum dengan teman-temannya yang menjadi panitia dan berkerja
keras serta ikhlas menyukseskan acara Silatnas. “Saya memantau terus di group Whatsapp.
Semangat gotong royongnya terasa. Terlebih dalam menyiapkan kegiatan tersebut
tidak nodong-nodong pengusaha baik dari alumni TBS maupun yang lain,”
ungkapnya.

Menurut Agus, TBS menjadi faktor dominan yang
membentuk karakternya saat ini. “Saya merasakan kalau tidak karena TBS, saya bisa lebih
buruk atau bahkan jauh lebih buruk dari sekarang,” tutur alumni yang lulus Madrasah Aliyah (MA) TBS tahun 2001.
Agus yang juga pernah menjadi Ketua Organisasi Siswa Intra
Sekolah (OSIS) di MA TBS tahun 1999-2000 mengungkapkan, dia iri dengan
teman-temannya yang akan hadir di Silatnas.
Dia berharap, pelaksanaan Silatnas dapat semakin merekatkan silaturahmi
antaralumni TBS dan tidak membuat lupa pada masyayikh TBS.

Menurutnya, pertemuan tersebut dapat menghasilkan rumusan untuk perluasan peran TBS dalam memperkuat dakwah Ahlusunnah Waljamaah
seantereo negeri. “Busyroo, berbahagialah teman-teman yang bisa hadir pada
Silatnas. Insya Allah perjuangan perjalanan dan partisipasinya penuh berkah,”
tutur Agus yang pernah dikirim Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia untuk magang di Konsulat Jenderal Republik Indonesia
(KJRI) Jeddah Arab Saudi tahun 2013.

- advertisement -

Inilah Keseruah Siswa Baru SMA PGRI 1 Kudus Saat Awal Masuk Sekolah

0
SEPUTARKUDUS.COM, MLATI NOROWITO Siswa baru SMA PGRI 1 Kudus tampak berhati-hati memegang tali
rafiah. Sebelum berdiri, mereka merangkai tali tersebut menjadi sebuah jaring
laba-laba yang akan digunakannya mengangkat bola plastik. Hal itu dilakukan pada kegiatan outbond pada pengenalan lingkungan sekolah bagi siswa baru. Orientasi sekolah tersebut berlangsung seru, asyik dan jauh dari perploncoan.

orientasi siswa SMA PGRI 1 Kudus
Siswa baru SMA PGRI 1 Kudus mengikuti pengenalan lingkungan sekolah. Foto: Imam Arwindra

Keseruan terjadi ketika akan berjalan tiba-tiba bola yang berada
di tengah tali jatuh. Mereka terlihat kesal dan harus memulai dari awal lagi.
Satu di antara siswa baru yang mengikuti kegiatan tersebut, Sukma (15). Perempuan yang
memakai pakain olahraga serba hijau tersebut mengaku cukup kesal karena untuk
memindahkan bola cukup sulit. “Kesal banget. Namun ya senang bisa bermain
bersama dengan teman baru. Seru pokoknya, tidak ada perploncoan,” tuturnya kepada Seputarkudus.com. 

Menurutnya, pelaksanaan orientasi siswa baru di SMA
PGRI 1 Kudus menyenangkan. Tidak adanya
perpeloncoan membuat kegiatan pengenalan lingkungan sekolah menjadi sangat menyenangkan. “Dengan
permainan ini aku bisa semakin kenal dengan teman seangkatanku sekolah,”
tambah warga Desa Tenggeles, Kecamatan Mejobo, Kudus.

orientasi siswa SMA PGRI 1 Kudus
Senada dengan Sukma, Naufal (16) juga mengaku menikmati permainan
yang disuguhkan. Dia mengaku langsung bisa akrab dengan
teman barunya. Menurutnya dari permainan tersebut hanya permainan kertas koran yang
sulit. “Kertas koran dipotong kira-kira berukuran kertas F4. Nanti harus
potong menjadi sebuah lingkaran namun tidak boleh putus. Setelah itu satu
kelompok yang berisi delapan orang harus bisa masuk ke dalam lingkaran
tersebut,” jelasnya.
Menurutnya, permainan tersebut cukup membuatnya bingung. Namun,
ketika sudah jadi satu kelompok tidak bisa masuk. “Pas kakinya mau masuk ke
lingkaran, eh jatuh semua,” ujar Naufal sambil tertawa.
Bersama Sukma dia mengusulkan untuk satu pekan sekali ada hari untuk bermain seperti itu. “Mungkin hari Sabtu. Jika setiap pekan sekali ada kegiatan seperti ini kan asyik,” celotehnya.

orientasi siswa SMA PGRI 1 Kudus
Virawan Guru di SMA PGRI 1 Kudus yang juga panitia pengenalan lingkungan menuturkan, kegiatan pada hari ketiga yakni bersih-bersih
dan outbound. Mereka akan dipandu langsung oleh guru untuk bermain bersama. “Hari terakhir pengenalan lingkungan sekolah kami ingin ada
keakraban antar siswa. Karena kami berharap, mereka saling mengenal dan dapat
kerjasama dalam berlajar,” tuturnya.

Kepala SMA PGRI 1 Kudus Bambang Sugiarto mengungkapkan,
membuat akrab antarsiswa cukup penting untuk perkembangan belajar mereka. Selain
itu, calon siswa baru dikenalkan dengan para dewan guru. “Intinya supaya
membangun kekeluargaan di sekolah,” tuturnya.

Dia memberitahukan, tahun ajaran 2016/2017 ini SMA PGRI 1
Kudus menerima 57 siswa dengan rincian 23 perempuan dan 34 laki-laki. “Mulai Kamis (21/7/2016) mereka sudah mengikuti sistem belajar mengajar
dengan dibagi dua kelas,” jelasnya.

- advertisement -

Meski Sekolah Sudah Masuk, Fotokopi Sinar Jaya Sepi Order

0
SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Tempat fotokopi di selatan taman Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus, tepatnya di seberang Lakesda tampak
masih sepi aktivitas. Terlihat hanya sesekali orang mengenakan baju dinas
datang untuk memfotokopi beberapa kertas. Memasuki awal masuk
sekolah, tempat fotokopi Sinar Jaya masih sepi order.

mesin foto copy sinar jaya kudus
Pelanggan memoto copy berkas di fotokopy Sinar Jaya, Purwosari, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Diakui Feri Firmansyah (29), pengelola fotokopi Sinar
Jaya, aktivitas di tempat dia bekerja memang masih sepi pada awal masuk sekolah. Menurutnya baru ada beberapa siswa  yang memfotokopi buku pelajaran.

“Para siswa yang datang biasanya
hanya memfotokopi atribut untuk kepentingan orientsai yang jumlahnya paling
beberapa lembar. Beda bila para siswa tersebut memfotokopi buku pelajaran yang
totalnya bisa ratusan lembar,” kata pria yang akrab disapa Feri kepada Seputarkudus.com.
Pria yang tercatat sebagai warga Desa Ploso, Kecamatan Jati
itu mengatakan, saat ini selain para siswa yang memfotokopi untuk kepentingan masa orientasi, ada juga beberapa guru yang memfotokopi untuk materi pelajaran, namun tak banyak.
Sambil melayani seorang wanita yang mengambil barangnya
berupa buku kecil dengan sampul biru, Feri mengatakan, puncak order fotokopi di Sinar Jaya saat menjelang sekripsi dan memasuki masa ujian sekolah. 
Pada waktu sekripsi banyak mahasiswa STIKES Muhammdiyah yang
berada di sebelah selatan Sinar Jaya melakukan penjilidan di
tempatnya bekerja. “ Itu belum dari para pegawai Lakesda maupun dari para
siswa SMA Negeri 2 Kudus,”ujarnya
Menurut Feri harga penjilidan sekitar Rp 2 ribu sampai Rp 30 ribu tergantung ketebalan buku. Dia juga mengatakan
selain fotokopi dan penjilidan, tempat kerjanya tersebut juga melayani
pengetikan, menjual berbagai macam alat kantor, dan cetak foto.
“Fotokopi Sinar Jaya buka setiap hari mulai pada pukul 8.00
WIB dan tutup pada pukul 21.00 WIB. Di sini ada delapan orang yang
dibagi menjadi dua sift,” kata pria lajang tersebut.
- advertisement -

Dela Masih Gerogi Meski Orientasi SMA 1 Kudus Telah Berlangsung 2 Hari

0
SEPUTARKUDUS.COM, MLATI LOR Sejumlah siswa terlihat ,asih asyik bercanda di kantin SMA 1 Kudus. Mereka mengenakan pakaian putih biru dengan topi di kepala
dan dasi di leher. Terdengar pengumuman dari pengeras suara di depan
kantin istirahat telah selesai. Mereka bergegas menuju aula yang digunakan untuk kegiatan Progam Pengenalan Lingkungan Sekolah
Peserta Didik Baru (PPLSPD) bagi calon siswa baru di SMA 1 Kudus.

MOS SMA 1 KUDUS
Ratusan calon siswa baru SMA 1 Kudus mengikuti orientasi sekolah. Foto: Imam Arwindra
Para calon siswa baru terlihat bergegas masuk ke aula, tak terkecuali Adelia Yuni Prastika (15). Dia mengaku masih gerogi
ketika masuk ruang aula tersebut. “Entah kenapa saya masih gerogi di sini. Walaupun
sudah hari kedua PPLSPD saya masih degdegan,” tuturnya kepada Seputarkudus.com, Selasa (19/7/2016).
Lulusan SMP Al-Islam Kudus itu mengungkapkan,
SMA 1 Kudus menurutnya sekolah terfavorit di Kudus. Dia mengaku harus
belajar ekstra untuk masuk sekolah yang sudah lama diidam-idamkan. “Sebelum
mengikuti tes masuk saya belajar serius. Karena seleksi di SMA 1 Kudus
cukup ketat,” tambahnya.
Nur Khamid Wakil Ketua Bidang Kesiswaan SMA 1 Kudus
menuturkan, tahun ajaran 2016/2017 SMA 1 Kudus menerima 352 siswa. Mereka akan
menempati 11 kelas yang setiap kelasnya akan diisi 32 siswa. “Jumlah pendaftar
kemarin sekitar 430 anak,” tuturnya.
Pengajar Biologi itu menjelaskan,
seleksi yang dilakukan SMA 1 Kudus cukup ketat. Dia menjelaskan, dalam ujian masuk
rata-rata siswa harus mendapatkan nilai 85. Mata pelajaran yang
diujikan di antaranya, Sejarah, Matematika, Ekonomi, Biologi, Kimia, Bahasa Inggris,
Bahasa Indonesia dan yang lainnya. “Selanjutnya juga ada psikotes,”
tambahnya.
Selanjutnya, selain jalur ujian masuk juga ada jalur reguler
dengan pertimbangan nilai hasil Ujian Nasional. “Nilainya 8,35 dari empat mata
pelajaran Ujian Nasional, yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika,
IPA,” jelasnya.
Menurutnya, SMA 1 Kudus selain termasuk sekolah favorit juga
menjadi rujukan model pembelajaran menggunakan Sistem Kredit Semester (SKS)
seperti yang ada diperguruan tinggi. “Kemarin SMA 1 Kudus juga mendapat
penghargaan sebagai sekolah berintegritas dalam penyelenggaraan Ujian Nasional tahun 2015 dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan,” tuturnya.
Menurutnya SMA 1 Kudus
mengkuti Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 18 tahun 2016 dalam pelaksanaan PPLSPD. “Semua
berjalan lancar. Tidak ada perploncoan dalam pengenalan lingkungan siswa
baru,” ungkapnya.

- advertisement -

Calon Siswa Baru di SMPK Kudus Disuruh Menarik Gerobak Sampah Saat MOS

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Sejumlah anak bercelana pendek warna merah menarik gerobak sampah di depan gedung sekolah. Beberapa di antara mereka memegang sapu lidi. Mereka yakni para calon siswa baru SMP Keluarga Kudus yang sedang mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS), Selasa (19/7/2016). Mereka melakukan kegiatan pengenalan lingkungan sekolah melalui bakti lingkungan dan berkebun. 

MOS di SMPK Kudus 2016
Calon siswa SMP Keluarga Kudus membuang sampah menggunakan gerobak. Foto: Imam Arwindra

Guru pembimping membagi tugas kepada para calon siswa baru. Mereka ada yang disuruh menyapu, mencabuti rumput, dan membuang sampah dengan grobak. Sedangkan sejumlah siswa lainnya diminta memupuk tanaman hias di depan ruang kelas. 

Satu calon siswa di antaranya, Victor (12). Dia mendapat tugas menanam tanaman hias di pot yang ditulisi namanya. Secara hati-hati dia memasukkan pupuk yang sudah bercampur tanah ke dalam pot. Victoe mengaku sangat senang pada hari kedua MOS yang diisi dengan bakti lingkungan dan berkebun. 

“Saya senang bakti lingkungan dan berkebun ramai-ramai seperti ini. Selain menjaga lingkungan supaya tetap bersih, sekolahku juga akan indah,” tutur Victor kepada Seputarkudus.com yang tangannya masih tampak kotor seusai memegang pupuk.

kegiatan MOS positif

Dia mengatakan, dari rumah sudah membawa tanaman hias bernama Sabrina Mini lengkap dengan pot yang ditulisi namanya. Setelah tiba di sekolah dia mengaku menaruh bunga tersebut di pot dengan diberi tanah dan pupuk yang sudah disediakan guru. “Tanaman ini aku akan taruh di depan kelasku. Biar setiap hari bisa aku sirami,” tutur siswa yang tinggal di Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kudus.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Herry Christanto yang juga ikut berkebun mengungkapkan, sebelum berkebun, siswa diberi materi tentang pendidikan antikorupsi, setelah itu siswa diajak untuk mengenal lingkungan sekolah dengan berkebun dan membersihkan lingkungan bersama-sama. “Sekolah ini (SMP Keluarga Kudus) mengusung green school (sekolah hijau). Sedangkan pelaksanaan MOS tahun ini diikuti 70 siswa rencana akan selesai besok Rabu (20/7/2016)” tuturnya.

Menurutnya, dengan mengusung green school para siswa diajak untuk senantiasa menjaga lingkungannya supaya tetap hijau dan bersih. “Dari sebelum masuk gerbang sekolah, pohon-pohon sudah terlihat di taman depan sekolah. Di depan kelas pun juga ada tumbuhan hias yang ditanam sisiwa,” tambahnya.
Sekolah yang dinaungi Yayasan Kanisius ini, menurut Herry, selain mengusung green school, juga fokus pada pendidikan antikorupsi dan pengembangan barongsai.

- advertisement -

Awal Masuk Sekolah, Toko Modern Jaya Kudus Bisa Jual Buku Tulis Hingga 10 Ribu pcs Sehari

0

SEPUTARKUDUS.COM, KRAMAT – Toko tiga lantai yang berada di utara tepi Jalan Jenderal
Sudirman, tepatnya di Desa Kramat, Kecamatan Kota, terlihat ramai para pengunjung.
Kebanyakan para pengunjung Ruko  tersebut
masih mengenakan seragam sekolah. Toko tersebut yakni toko buku Modern Jaya, toko
buku dan peralatan tulis yang selalu dibanjiri pembeli saat awal masik sekolah. Dalam sehari toko tersebut bisa menjual hingga 10 ribu pcs buku tulis.

Toko modern jaya kudus
Awal masuk sekolah Toko Modern Jaya Kudus kebanjiran pembeli. Foto: Rabu Sipan

Abdul Hadi (60), pengelola Toko Modern Jaya menuturkan, sepuluh
hari menjelang masuk sekolah semua toko
buku dan alat tulis yang ada di Kudus ramai pembeli, termasuk toko yang dia kelola. Dia mengatakan, penjualan buku tulis merek
Sinar Dunia (Sidu) mencapai seribu pak sehari, lebih banyak ratusan pak dari
buku tulis merek lain.

“Untuk keseluruhan penjualan buku di toko Modern Jaya di
sepuluh hari menjelang masuk sekolah mencapai 3.000 pak sehari. Dengan
rincian seribu pack merek Sidu, 700 pak merek Kiky, dan sisanya merek Algold, Fisyen dan buku Boxy,” kata pria yang akrab disapa Abdul kepada Seputarkudus.com, kemarin.

Menurut pria yang tercatat sebagai warga Desa Burikan,
Kecamatan Kota, buku tulis merek Sidu banyak diminati para pelajar karena
memang sudah dikenal. “Buku tulis Sidu diminati bukan karena harganya yang murah, tapi
karena buku tersebut harganya Rp 18 ribu per pak. Harga itu lebih mahal dari buku tulis
merek Algold dan Fisyen  yang dijual
dengan harga Rp 17 ribu satu pac. Sedangkan untuk buku tulis merk Kiky di hargai
Rp 23 ribu per pak,” urai Abdul.

toko modern jaya kudus

Abdul menambahkan, pada tahun 2013 di Toko Modern Jaya tersebut tidak menjual buku merek Sidu karena harganya yang sama dengan
harga buku merek Kiky. “Kalau buku Sidu harganya sama dengan buku Kiky otomatis
para pembeli lebih memilih buku Kiky yang kualitasnya lebih bagus dan setiap
lembarnya berwarna,” ungkap Abdul.

Pria yang keseharianya mengenakan kacamata tersebut
mengatakan, selain buku tulis dan berbagai perlengkapan alat tulis, Toko Modern Jaya juga menjual berbagai macam buku pelajaran untuk SD, SMP, SMU. Di Toko
itu juga menjual berbagai macam buku bacaan untuk umum.
Abdul mengatakan Toko Modern Jaya buka mulai pukul 8.00 WIB
dan tutup pada pukul 21.00 WIB dengan mempekerjakan sekitar 10 karyawan yang
dibagi menjadi dua sift kerja. Sedangkan dirinya mulai bekerja di Toko Modern
Jaya sejak 1984. “Kalau dihitung aku bekerja di Toko Modern Jaya sudah 32
tahun,” ungkapnya.
- advertisement -

Berkeliling Sepeda, Penyedia Jasa Salon Hewan Ini Siap Manjakan Peliharaan Anda

0

SEPUTARKUDUS.COM, WERGU WETAN – Di tepi Jalan Johar tepatnya di Desa Wergu Wetan, Kecamatan
Kota, Kudus, terlihat sebuah sepeda terparkir yang tergandeng dengan sebuah
gerobak di belakangnya. Di atas gerobak tampak sebuah boks plastik bergambar
anjing dan kucing. Sepeda tersebut milik Yosep Sunarto (42) pemilik usaha salon
hewan di Kudus
.

salon hewan kucing dan anjing di kudus
Yosep Sunarto, pemilik usaha salon hewan di Kudus. Foto: Rabu Sipan

Tidak jauh dari sepeda tersebut Yosep Sunarta tampak duduk
istirahat di sebuah trotoar. Di sela istirahanya pria yang biasa disapa Yosep
tersebut berbagi kisah tentang usahanya tersebut kepada Seputarkudus.com.
Yosep menceritakan, dirinya memulai usaha salon hewan pada
Desember 2013. Itu dilakukannya setelah berhenti bekerja pada seorang dokter hewan
bernama Agustina Sasmita di Perumahan Umum Mulya.
“Sebenarnya aku sudah 
sekitar 10 tahun bekerja ikut dokter hewan, mulai 2002 dan berhenti bekerja pada tahun 2013. Karena pada waktu itu ada masalah
aku memutuskan keluar dari kerjaan tersebut. Setelah keluar dua hari kemudian
aku langsung membuat usaha salon hewan keliling,” kata Yosep, beberapa waktu lalu.

Warga Desa Ploso, Kecamatan Jati,
Kudus, mengungkapkan, salon hewan panggilan miliknya tersebut tidak
melayani obat medis. Dia mengaku hanya melayani perawatan nonmedis.

“Tarif perawatan hewan di antarnya mandi untuk kucing Rp 35
ribu per ekor, untuk mandi anjing tarifnya Rp 35 ribu sampai Rp 60
ribu tergantung jenis anjingnya. Sedangkan untuk potong rambut tarifnya
Rp 40 ribu,” urai pria yang memiliki dua anak tersebut.
Yosep menambahkan selain layanan di atas, dia juga
melayani gimbal bulu yang harganya disesuaikan dengan jenis hewan serta gaya gimbalnya. Sedangkan untuk obat kutu juga ditentukan permintaan mereknya.
Selain usaha salon hewan panggilan, dia juga
menerima penitipan khusus kucing. Untuk tarif penitipan kucing dibebani biaya Rp 20 ribu
sehari dan makanan untuk kucing ditanggung pemilik hewan. Di rumahnya bisa menampung sekitar 60 ekor kucing sekaligus.
Di sela obrolanya, sesekali Yosep membalas sapaan beberapa
warga Tionghoa yang melintas di Jalan Johar. Dia lalu memberitahukan bahwa
beberapa warga Tionghoa tersebut adalah para pelanggan yang memakai jasanya untuk
perawatan anjing mereka.
Yosep menuturkan selama ini semua layanan pekerjaan di salon
hewan panggilan dia kerjakan sendiri, namun terkadang dibantu istrinya. Selama sebulan dia mempunyai pelanggan rutin sekitar 150
ekor  anjing maupun kucing yang dia
rawat.
Selain di Kudus, dia juga menerima
panggilan perawatan kucing dan anjing di daerah di luar Kudus. Daerah tersebut di antaranya Pati,
Jepara, bahkan pernah sampai Rembang. Dia juga mengatakan, bagi masyarakat Kudus dan sekitarnya yang membutuhkan jasa salon hewan
panggilan bisa menghubunginya ke nomor ponsel 0856 4036 3369.
- advertisement -

Saat Penggemar Game Ramai Berburu Pokemon, Calon Siswa SMK Taman Siswa Berburu Guru

0
SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN Sejumlah siswi putih biru membawa buku dan kertas berjalan di lingkungan SMK
Taman Siswa Kudus. Dengan menggunakan tanda pengenal yang dikalungkan di
leher, mereka menghadang setiap guru yang ditemuinya. Mereka terdengar
menanyai nama, alamat, mata pelajaran yang diajarkan dan meminta tanda tangan. Mereka
yakni calon siswi SMK Taman Siswa Kudus yang sedang mengikuti Masa Orientasi Siswa
(MOS) Senin (18/7/2016).
MOS 2016 SMK Taman Siswa Kudus
Calon siswa SMK Taman Siswa Kudus mengikuti MOS 2016. Foto: Imam Arwindra

Menurut Wahyu Chandra Yuna (15), satu diantara siswa yang
mengikuti MOS, dia diminta pembimbing di kelas untuk mencari guru
yang namanya sudah disebutkan. Menurutnya kegiatan yang dilakukan bersama empat
orang temannya mengasyikkan. Selain kenal dengan teman satu angkatan, juga dapat
kenal dengan guru. “Kalau di luar lagi ramai berburu Pokemon, sekarang kami
sedang berburu guru,” tuturnya yang disambut tawa teman-temannya kepada Seputarkudus.com.

Menurutnya pelaksanaa MOS di SMK Taman Siswa mengasyikkan, tidak
ada perploncoan. “Kalau ada perploncoan biasanya ribet. Harus bawa ini itu,
pakai ini itu. Pokoknya ribet lah. Lebih enak kan begini,” tuturnya yang dulu bersekolah di SMP Taman Dewasa
Kudus.
Hari Bagus, Pelaksana MOS yang juga sebagai guru Bahasa
Indonesia menuturkan, pelaksanaan MOS tahun 2016 ini semuanya dipegang oleh
guru. Pihak sekolah mengikuti Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia nomor 18 tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru. “Jadi tidak ada perploncoan. Siswa cukup diberi co-card yang berisi nama
mereka,” tuturnya.
Menurutnya dalam pelaksanaan, pihaknya ingin menciptakan kondisi
kekeluargaan antara siswa dengan guru. Selain itu, siswa juga dikenalkan dengan
lingkungan sekolah, sistem pembelajaran dan tentu para guru yang mengajar. “Kami ingin menciptakan kondisi kekeluargaan antara siswa dengan siswa dan siswa
dengan guru. Namun masih mengajarkan sopan santun dan etika seperti yang
diajarkan Ki Hadjar Dewantara,” jelasnya.
Kepada Seputarkudus.com Kepala SMK Taman Siswa Kudus Untung Sutrisno membenarkan
bahwa tidak ada perploncoan di sekolah yang dipimpimnnya. Menurutnya, saat
upacara bendera pagi tadi dia sudah menyinggung tentang pelaksanaan MOS sesuai
dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 18
tahun 2016. “Peraturan tersebut sesuai dengan ruh pendidikan di Taman Siswa
yang dicetuskan langsung oleh Ki Hadjar Dewantara,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, dalam pengenalan siswa baru di sekolahnya
ingin memberikan sesuatu yang menyenangkan serta menanamkan kekeluargaan. Secara
teknis dia menebutkan, nantinya siswa akan dikenalkan lingkungan fisik sekolah,
progam-progam belajar, cara belajar yang baik serta kurikulum yang digunakan. “Siswa
juga dikuatkan dari sisi keagamaannya. Nanti yang muslim akan solat berjamaah. Bagi
yang non muslim akan didampingi dengan guru yang se-agama,” tuturnya.
Sekolah yang tahun ajaran 2016-2017 ini menerima 197 murid
dari 200 murid yang ditargetkan, dalam pelaksanaan MOS juga memperkenalkan
karya-karya siswa. Terpenting tanggal 25 Juli 2016 nanti pihaknya akan
mengundang seluruh orang tua siswa untuk datang ke sekolah. “Kami mengundang
orang tua siswa tidak untuk membicarakan masalah uang melainkan kerja sama bagaimana
bersama-sama meningkatkan pendidikan putra-putrinya. Karena menurut kami
tanggung jawab pendidikan adalah tanggung jawab bersama,” tambahnya.
- advertisement -

Setiap Pulang ke Kudus, Fauzi Selalu Beli Es Dawet Kliwon Bersama Keluarga

0
SEPUTARKUDUS.COM, KLIWON – Pria bertopi merah terlihat meminum segelas es dawet di Pasar Kliwon, Kudus. Putranya duduk di pangkuan pria tersebut memegangi gelas tersebut dan
mencicipi es dawet milik ayahnya. Pria tersebut bernama Fauzi (30), yang setiap pulang ke
Kudus selalu menyempatkan waktu untuk mengajak istri beserta dua anaknya untuk
membeli es dawet di Moro Seneng.

es dawet kliwon kudus
Pembeli memadati warung es dawet Moro Seneng tak Jauh dari Pasar Kliwon. Foto: Rabu Sipan

“Aku sudah 10 tahun merantau ke Batam sebagai
pedagang, dan aku pulang ke Kudus setahun sekali menjelang Lebaran. Dan setiap
pulang ke Kudus aku mengajak istri beserta dua anaku untuk membeli es dawet Kliwon sebagai pengobat kangen,” ujar Fauzi kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.

Menurut warga Desa Ngembal Kulon, Kecamatan
Jati, di Batam memang ada penjual dawet tetapi rasanya tak seenak dawet Kliwon Kudus. Menurutnya dawet Kliwon mempunyai rasa yang khas, kental, kenyal, gurih dan nikmat.
Pria yang rencananya pada Rabu (20/7/2016) kembali ke Batam itu mengatakan, setiap pulang ke Kudus dia selalu membeli
dawet Kliwon di warung Moro Seneng. Karena menurutnya yang mempunyai
rasa yang khas. “Ini saja anaku minta
nambah segelas lagi,” ujarnya.
Warung Moro Seneng yang berada di Gang Jaya, sebelah timur
tak jauh dari Pasar Kliwon, pada hari itu tampak ramai pembeli. Sugiono (41) pemilik warung es dawet Moro Seneng mengatakan, setiap
hari warungnya selalu ramai pembeli. Bahkan pada akhir pekan penjualan bisa meningkat dua kali lipatn.
Dia juga
mengungkapkan setiap hari warungnya bisa menjual sekitar 1.200 porsi. Dia menjual es dawet seharga Rp 4 ribu seporsi.

“Itu bukan penjualan di satu warung ya, tetapi dengan warung
yang satunya lagi yang berada di Lantai dua Pasar Kliwon. Kalau ditotal
penjualan es dawet Kliwon di kedua warungku omzet sekitar Rp
4,8 juta sehari. Omzet tersebut meningkat dua kali lipat pada akhir pekan,” jelasnya

Pria yang tercatat sebagai warga Kelurahan Mlati Norowito,
Kecamatan Kota, Kudus mengungkapkan, menjual dawet Kliwon dengan dua pilihan,
dihidangkan menggunaka es atau tanpa es. Begitu juga dengan gulanya, pembeli
bisa memilih dawet menggunakan gula aren atau sirup. Keduanya harganya
tetap sama.

Menurutnya, ke dua
warungnya tersebut buka mulai pukul 7.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB. Tetapi bila
dawet yang dia jual habis lebih awal maka warungnya akan ditutup. “Aku kan
hanya menjual dawet bila dawet habis ya otomatis warung langsung aku tutup,”
kata Sugiono.

Selain menjual
lansung kepada para pembeli, dia juga melayani pesanan dengan fasilitas antar
sampai rumah. Tetapi dengan syarat pesanan dawet minimal  400 porsi bila rumah pemesanan di Kudus, dan minimal
500 porsi untuk pemesan di luar Kudus.
“Selama ini selain di Kudus, aku juga sering mendapatkan pesanan
dari daerah sekitar Kudus. Sejumlah daerah itu di antaranya Pati, Demak, Jepara bahkan pernah sampai
Juwana juga,” ungkapnya.
  
- advertisement -

HUT RI 2016 Kurang Sebulan, Paskibra Kudus Sudah Mulai Latihan Usai Lebaran

0
SEPUTARKUDUS.COM, WERGU WETAN Sejumlah siswa tampak duduk membentuk
barisan dua banjar di lapangan parkir Gor Wergu Wetan. Mereka membawa pakaian
dominan warna merah dan topi biru berlambang Tut Wuri Handayani. Di depannya
tersedia kue dan makanan ringan yang akan mereka santap selepas berlari pagi pada
latihan fisik Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Kudus hari pertama, Senin
(18/7/2016) pagi. 

Paskibra Kudus 2016
Paskibra Kudus 2016 melakukan latihan hari pertama. Foto: Imam Arwindra
“Makan!” Terdengar intruksi dari pendamping yang berkaos
kerah biru. Mereka terlihat bersama-sama menikmati makanan yang tersedia di
depannya. Menurut Serka Sulistio Budi, pelatih
Paskibra dari Kodim 0722 Kudus, siswa-siswa dari SMA, MA dan SMK tersebut sedang istirahat
setelah berlari pada latihan pertama. 

Menurutnya hari pertama masuk
sekolah ini dimanfaatkannya untuk mempersiapkan Paskibra untuk pelaksanaan Upacara Hari Kemerdekaan Republik  Indonesia pada tangga 17 Agustus 2016 Kabupaten Kudus. 
“Selain diajarkan baris-berbaris, mereka nanti juga akan diajari etika dan kebersamaan,” tutur Serka Sulistio ketika ditemui
Seputarkudus.com saat istirahat.
Dia menjelaskan, setiap tahun dia mengaku melatih
siswa-siswa SMA dan sederajat untuk menjadi Paskibra pada pelaksanaan upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. “Tahun
2016 ini ada 64 siswa, 20 putri dan 44 putra. Mereka dipilih dari sekolah-sekolah SMA, MA dan SMK yang ada di Kudus,” ungkapnya.

Paskibra Kudus 2016

Serka Sulistio Budi yang masih menggunakan seragam loreng bertuliskan
TNI AD  menuturkan, recruitment
calon Paskibra di Kudus sudah dilakukannya bersama Dinas Pendidikan Pemuda
dan Olahraga (Disdikpora) Kudus sebelum Ramadan. Menurutnya siswa yang ingin
menjadi Paskibra harus memenuhi beberapa syarat. “Syarat menjadi Paskibra meliputi
postur tubuh, kesehatan dan IQ (intelligence quotient),” ungkapnya.

Dia yang sudah sejak 2003 melatih Paskibra Kudus
menjelaskan, untuk postur tubuh laki-laki tingginya 170 sentimeter, sedangkan perempuan 165 sentimeter. Kesehatan para calon Paskibra akan dicek di Rumah Sakit Kartika Husada Kudus dan IQ-nya
dites oleh petugas Disdikpora. “Yang melatih bukan saya saja, ada Pelda Witono
dan Serda K Widodo dari Kodim 0722 Kudus,” tambahnya.
Menurutnya, latihan pertama ini hanya sebatas pengenalan. Pada pukul 7.00 WIB para mereka sudah apel. Setelah itu senam dan latihan fisik
dengan berlari. Selain itu pada hari pertama akan ada latihan hormat dan Peraturan Baris Berbaris (PBB) “Latihannya dari tanggal 18 Juli hingga 15
Agustus 2016, nanti tanggal 16 Agustus 2016 gladi bersih dan 17 (Agustusnya)nya
upacara,” jelasnya.

- advertisement -

Di Getas Pejaten Kudus, Nor ‘Sulap’ Limbah Tali Plastik Peti Kemas Menjadi Kerajinan

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Di tepi barat jalan Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus, tepatnya di sebelah utara gedung Graha Mustika, terlihat sebuah bangunan semi
permanen. Tampak puluhan keranjang sampah tersusun di satu sudut dalam bangunan
tersebut. Bangunan tersebut milik Nor Santoso (31) pembuat
berbagai macam kerajinan berbahan limbah plastik tali peti kemas.

kerajinan limbah plastik peti kemas di Kudus
Santoso membuat kerajinan limbah plastik tali peti kemas di Getas Pejaten, Jati, Kudus. Foto: Rabu Sipan
Sambil menganyam keranjang, Nor sudi berbagi kisah usahanya kepada Seputarkudus.com. Dia
menceritakan, awal memulai usahanya membuat berbagai macam kerajinan dari limbah tali peti kemas
sekitar lima tahun lalu, melanjutkan usaha mertuanya.
“Sebenarnya usaha membuat berbagai kerajinan ini dirintis sejak tahun 1994 oleh mertua saya bernama Sujono. Lalu sekitar
tahun 2011 saat mertuaku sudah sepuh, usaha ini lalu aku lanjutkan hingga
sekarang,” kata pria yang biasa disapa Nor beberapa waktu lalu. 

Nor mengatakan,  dari
limbah plastik bekas tali peti kemas tersebut dia bersama lima karyawannya membuat beraneka barang. Itu di antaranya keranjang
tempat sampah, pot bunga, parcel, keranjang motor, pengki, tas belanja serta
meja kursi.

Warga Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus, itu mengaku menjual keranjang
sampah dengan harga sekitar Rp 25 ribu. Sedangkan untuk harga keranjang motor dia jual Rp 170 ribu,
pengki Rp 25 ribu, dan meja kursi dijual
dengan harga Rp 1,7 juta per set.

Nor menuturkan, selain menjual secara ecer dia juga menjual
berbagai macam kerajinan dari limbah tali peti kemas tersebut secara borongan.
Dia juga mengaku sering mendapatkan pesanan keranjang sampah dari beberapa
dinas, balai desa serta beberapa sekolahan di Kabupaten Kudus.
“Selain menerima
peasanan, setiap hari aku juga tetap membuat berbagai macam bentuk kerajinan
tersebut sebagai setok. Karena ada beberapa pelanggan pemilik toko
maupun pedagang barang kerajinan tersebut yang datang dan membeli secara
borongan,” ungkap Nor.
Dari penjualan berbagai macam kerajinan tersebut, dia mengaku bisa
mendapatkan omzet hingga Rp 8 juta sebulan. Tetapi bila sepi pesanan, Nor  hanya mendapatkan omzet sekitar Rp 2 juta
sebulan. 
Sedangkan untuk bahan pembuatan berbagai macam kerajinan
tersebut, Nor mengatakan mendapatkanya tidak hanya dari Kudus tetapi juga dari Jakarta
dan Bandung. Limbah plastik tali peti kemas itu yang dia beli dengan harga Rp 5 ribu per kilogram.
 
- advertisement -

Saat yang Lain Apel, Anggota Komunitas Pokemon Go Kudus Berburu Monster di Mal

0

SEPUTARKUDUS.COM, HYPERMART – Sejumlah orang tampak serius memandangi layar smartphone atau ponsel pintarnya, di kawasan Tugu Identitas dan Kudus Extention Mall (KEM) Kudus, malam Minggu (16/7/2016). Mereka menyusuri setiap sudut, dan saat ponsel pintar bergetar, mereka menghentikan langkah. Mereka adalah anggota Komunitas Pokemon Go Kudus, yang tengah berburu monster Pokemon.

komunitas Pokemon Go Kudus
Komunitas Pokemon Go Kudus berburu monster di KEM Kudus. Foto: Imam Arwindra

Setelah mendapatkan monster Pokemon liar yang mereka cari, sesekali mereka
juga melakukan adu Pokemon dengan membaginya kedalam tiga kelompok, yakni
kelompok Instict, Mystic, Valor.

Satu di antara anggota Komunitas Pokemon Go Kudus, Dwi Putranto, menuturkan, game baru yang sebenarnya belum dirilis di Indonesia itu butuh gerak tubuh untuk berjalan. Permainan Pokemon Go yang menggunakan layanan berbasis lokasi atau global positioning system (GPS) tersebut yang terkoneksi dengan kamera ponsel. Hal itu membawa pemain seolah-olah bisa menangkap Pokemon yang muncul di dunia nyata. 

“Permainan ini butuh tenaga fisik. Kami harus berjalan untuk mendapatkan Pokemon liar. Malam ini bersama komunitas (Pokemon Go Kudus) berkumpul untuk berburu,” tuturnya kepada Seputarkudus.com di kawasan Tugu Identitas Kudus.

pengguna game pokemon go kudus

Dia menuturkan, bermain Pokemon Go diusahakan mencari tempat yang aman. Selain itu, yang lebih penting menurutnya, harus ada rekan yang menemani. “Kalau bermain jangan sendirian, carilah teman untuk menemani. Untuk berjaga-jaga,” tambahnya.
 
Dwi yang juga admin group Facebook bernama Pokemon Go Kudus dengan nama akun Facebook Sherlo Net menuturkan, dibuatkannya komunitas Pokemon Go Kudus untuk mewadahi para pecinta game Pokemon Go. Selain itu dengan adanya komunitas, para pecinta Pokemon Go dapat saling tukar informasi mengenai game yang sebenarnya belum resmi dirilis di Indonesia ini. “Dengan bermain Pokemon Go kami dapat berolahraga, menambah teman dan juga berjalan-jalan,” ungkapnya.

Dia menyarankan, selain bermain benar-benar ditempat yang aman, harus juga bisa mengatur waktu. “Waktu jangan terlalu banyak untuk main game. Harus bisa mengatur waktu dan mengerti kondisi,” tutunya.

Game Pokemon Go Seperti Demam Akik, Hanya Fenomena Sesaat

Menyikapi fenomena permainan Pokemon Go, Psikolog Universitas Muria Kudus (UMK) mochamad Widjarnarko menuturkan, permainan itu mempunyai pengaruh global yang bersifat temporari. Menurutnya, fenomenda itu harus disikapi dengan bijaksana, yakni pemain bisa mengatur waktu, tahu situasi dan kondisi.
 

Dia melanjutkan, untuk anak-anak yang memainkan Pokemon Go harus dibawah pengawasan orang dewasa, agar mereka terhindar dari malas belajar dan tindakan kriminalitas. “Biasanya ada yang mengejar Pokemon pada malam hari di tempat yang sepi,” ungkapnya.

Menurutnya, permainan Pokemon Go juga ada sisi positifnya, yakni bisa beriteraksi dengan orang lain di luar rumah. “Kemajuan teknologi sifatnya membawa ke hal positif dan negatif. Sisi positifnya (permainan Pokemon Go) bisa bereksploitasi di luar rumah,” terangnya.

Widjarnarko menambahkan, permainan Pokemon Go anggap saja seperti demam akik. Kali ini peran media sangat besar untuk menciptakan kondisi positif dan negatif pengaruh Pokemon Go di masyarakat.

- advertisement -