Beranda blog Halaman 1949

Mereka Tak Butuh Pengaman di Ketinggian 15 Meter dan Biasa Tersengat Listrik

0
SEPUTARKUDUS.COM, DERSALAM Seorang lelaki menarik lembaran baner
menggunakan tambang. Dia dibantu empat orang lainnya memasang baner di papan
iklan jembatan penyebrangan di Jalan Jendral Sudirman,
Kudus. Ketika baner sudah berada di posisi yang diinginkan,
dia memanjat rangkaian tempat papan iklan setinggi 15 meter. Tanpa pengaman, lelai bernama Karjan itu, membawa bendrat untuk mengaitkan ujung sisi atas baner ke rangkaian papan
iklan setinggi 15 meter.

pemasangan baner
Pemasangan baner di Jalan Jendral Sudirman, Kudus. Foto-foto: Imam Arwindra
Usai memasang baner, Karjan sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com, tentang pekerjaan yang penuh bahaya tersebut. Dia mengatakan sudah menjalani pekerjaan itu lebih dari lima tahun. Menurutnya, dulu dia merasa gemetar saat pertama
kali memasang baner di ketinggian. 

“Pertama kali
memasang baner kaki saya gemetar karena tinggi sekali. Karena sering memasang akhirnya
sekarang sudah terbiasa,” tutur Karjan usai memasang baner iklan di depan SD 1 dan 2 Dersalam, Kecamatan Bae, beberapa waktu lalu.

tukang memasang baner

Dia menceritakan, meski sudah lima tahun lebih bekerja, dia tak pernah
bercerita kepada istrinya tentang pekerjaan yang dia lakoni. Dia khawatir ketika bercerita, istrinya akan merasa was-was dan khawatir. “Pekerjaan ini penuh dengan risiko. Kalau ditanya
istri kerja dimana pasti jawabnya selain memasang baner. Yang penting setiap
satu pekan sekali bisa setor dengan istri,” warga Karanganyar, Demak.

Menurutnya, selama menjalankan pekerjaan sudah ada tiga
temannya yang jatuh meninggal. Dia menjelaskan, rekannya jatuh bukan karena salah
memanjat, melainkan kaget saat tersengat arus listrik dari kabel lampu sehingga membuatnya jatuh. Dia mengaku pernah juga pernah tersengat listrik, namun tidak sampai terjatuh. 

“Kalau tersengat listrik sudah biasa, tapi arusnya tak besar.
Yang gawat itu listrik tegangan besar karena bisa membuat tidak sadar dan
akhirnya jatuh,” ungkapnya.

pemasang baner

Dia mengatakan, baner yang baru saja dia pasang bersama beberapa rekannya berukuran 15×5 meter. Dia berkerja secara tim yang terdiri dari lima orang. Menurutnya, dari menjalani pekerjaan tersebut dia
mendapatkan upah Rp 80 ribu tiap hari dan makan siang.

Agus yang juga ikut memasang baner bersama Karjan, menjelaskan, bersama
empat temannya dia bekerja di CV Glagah Wangi, sebuah perusahaan jasa periklanan. “Papan iklan yang kami pasang bukan hanya di
Dersalam, ada juga di Simpang Tujuh Kudus, Ngembal, Krawang dan masih
banyak yang lain,” terangnya.

- advertisement -

Seperti Dongeng, Buku Santri Membaca Zaman Dibuat Mirip Membangun Candi Prambanan

0

SEPUTARKUDUS.COM, KAJEKSAN – Cover buku ini bergambar
lelaki memakai baju putih, bersarung dan berpeci, serta mengenakan sandal jepit di kakinya. Cover buku tersebut juga menampilkan
gambar puluhan santri, namun dibuat transparan menyatu dengan warna buku
dominan hijau. Buku ini berjudul “Santri Membaca Zaman” yang dilauncing saat
acara Silaturrahim Nasional (Silatnas) dan Ngaji Bareng Masyayikh Tasywiquth
Thullab Salafiyyah (TBS), beberapa waktu lalu.

Buku Santri Membaca Zaman
Buku Santri Membaca Zaman. Sumber: Santri Menara

 Buku terbitan Santri Menara Pustaka dan Aswaja Pressindo,
kata satu di antara penggagas acara Silatnas, Abdulloh Hamid, pembuatannya seperti membangun Candi Prambanan yang menurut cerita dilakukan semalam. Dia menuturkan, pembuatan buku ini pihaknya hanya butuh waktu sepekan.

Alhamdulillah
alumni-alumni TBS kompak. Dengan waktu singkat cuma sepekan, buku ini bisa
hadir di tengah-tengah acara Silatnas dan harlah Madrasah TBS yang ke-90,”
tuturnya kepada Seputarkudus.com.

Buku yang mempunyai 312 halaman tersebut, menurutnya berisi
kumpulan artikel dari alumni TBS yang membahas percikan
pemikiran kaum pesantren dalam membaca zaman. Dia menjelaskan, artikel-artikel
tersebut ditulis 25 alumni TBS dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda. 

“Walaupun
waktunya singkat kami tidak pesimistis dalam menyelesaikannya. Alhamdulillah juga
langsung bisa dicetak Aswaja Pressindo. Jadi pembuatan dan
cetaknya hanya butuh waktu sepekan,” tegasnya.


Hamid meyakini buku merupajan barometer keilmuan. Akhirnya, tercetuslah ide membuat buku yang juga senada
dengan tema Silatnas Aswaja Pagar Nusantara. “Buku-buku tersebut kumpulan dari 25
artikel yang ditulis oleh alumni TBS dengan editor Nur Said dan Izzul Mutho,”
jelasnya.

Pada halaman prolog editor, Nur Said mengaku bersyukur
telah diterbitkannya buku yang selama ini diimpi-impikan para alumni TBS. Menurutnya,
terwujudnya buku ini tidak lepas dari karunia Allah SWT dan kekompakan
alumni-alumni TBS walau sebagian tidak kenal. Karena sama-sama tersatukan untuk
meraih mimpi yang sama, akhirnya buku ini bisa terbit.

“Inilah indahnya
kebersamaan dan kolaborasi,” tuturnya dalam prolog editor yang diberi judul
“Jadikan Membaca dan Menulis Sebagai Nafas Kehidupan Santri Nusantara”.


Dalam tulisannya, Nur Said menyebut artikel-artikel yang
ditulis merupakan refleksi para santri dalam membaca ayat-ayat-NYA, baik qouliyyah
maupun kauniyah. Sehingga melahirkan serpihan ilmu dan ide yang bisa
dijadikan alternatif acuan dalam mengembangkan pendidikan Islam di pesisir
utara.

Buku ini sekaligus menegaskan bahwa para santri sudah sepatutnya
sebagai menjaga gawang Ahlussunnah Waljama’ah (Aswaja) untuk memagari Nusantara
agar tetap berdaulat dengan nuansa Islam Nusantara yang ramah dan toleran,”
tulisnya. 

- advertisement -

Satu Abad Qudsiyyah, Membingkai Pluralisme dalam Jagong Kalumyan

0
SEPUTARKUDUS.COM, KERJASAN Palang pintu berbahan besi
dibuka satpam yang berjaga di pintu depan. Terlihat mobil putih
berbelok dari Jalan Raya Agil Kusumadya masuk menuju parkir. Tempat tersebut yakni Hotel Griptha. Menurut Ihsan, Ketua Panitia Satu Abad Qudsiyyah akan digunakannya untuk menyampaikan pesan damai dari
Menara Kudus, pada kegiatan Jagong Kamulyan tanggal 4-5 Agustus 2016 nanti.

Satu Abad Qudsiyyah Kudus

Menurutnya, kegiatan tersebut akan dihadiri peserta dari berbagai
etnis, agama dan lapisan masyarakat di Kudus. Kegiatan itu dihelat dengan tujuan menyatukan persepsi dan inisiatif
antara masyarakat, pemerintah, ulama dan pengusaha. “Ini demi mbangun Kudus,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com belum lama ini.

Dalam pelaksanaan kegiatan, Jagong Kamulyan akan dilakukan
dua hari yakni pada 4-5 Agustus yang terdiri dari dua sesi. Sesi pertama
menggali pesan damai Menara Kudus sebagai spirit pembangunan  Kudus yang multi etnis multi religi. Selanjutnya tentang tekad bersama mbangun Kudus dengan Gusjigang. Setiap sesi berdurasi 120 menit yang akan dipandu Dr Abdul
Jalil. 

“Kegiatan ini juga merupakan
pertemuan dan dialog publik yang melepas atribut agama dan ego etnis yang
menjadi sekat dalam kultur masyarakat. Mari membangun Kudus sebagai agenda
utama dengan mengembalikan pruralisme yang kian luntur,” ajak Ihsan
yang juga menjadi Ketua Forum Kumunikasi Umat Beragama (FKUB) Kudus. 


Menurut Ihsan, Kabupaten Kudus yang dibangun berdasar
keberagaman yang kaya tradisi dan masyarakat yang heterogen. Dia menjelaskan, Sunan
Kudus dalam berdakwah memiliki cara yang bijaksana. Sunan Kudus mampu melakukan
adaptasi dan pribumisasi ajaran Islam di dalam masyrakat yang mayoritas
beragama Hindu dan Buddha. “Bukti tersebut terlihat jelas di bangunan
Menara Kudus,” tuturnya.
Kudus dibangun Sunan Kudus dengan fiosofi Gusjigang (bagus, ngaji, dagang) yang menjadi spirit kehidupan masyarakatnya. Inilah juga yang
menjadikan Kudus yang hanya memiliki luas 425,16 kilometer persegi mendapatkan
tempat terhormat di mata publik. “Dalam perjalanan sejarah bangsa, Kudus
memiliki peranan besar,” terangnya.

Dia menjelaskan, penerapan Gusjigang, kata bagus
dan ngaji sudah terbukti pada diri masyarakat Kudus baik fisik maupun
nonfisik. Kudus cukup terkenal sebagai kota santri yang menjunjung tinggi
akhlaqul karimah. Menurutnya, di
Kudus banyak pondok salaf dan kiai kharismatik yang sanad dan karyanya
tidak perlu diragukan. Kudus pun penjadi kiblat pendidikan formal di
pantura timur Jawa Tengah.
“Filosofi dagang ditopang dengan perusahaan skala
nasional dan international. Sehingga tingkat kesejahteraan masyarakatnya
baik,” tambah dia yang juga sebagai ketua Ikatan Alumni Qudsiyyah (Ikaq).
Dengan adanya hal tersebut, menurutnya kegiatan Jagong Kamulyan
hadir untuk mempertemukan semua pihak yang berhubungan dengan Kudus. Pertemuan
tersebut membicarakan pesan damai dari Menara Kudus dan merencenakan
pengembangan Kabupaten Kudus di masa depan. 

- advertisement -

Dennis Berteriak Bawakan ‘Perjamuan Maghrib’ pada Peksimida Jateng 2016 di UMK

0
SEPUTARKUDUS.COM, UMK Seorang lelaki tiba-tiba berteriak di ruang
Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK). Dengan kertas di tangan kirinya, dia terlihat menaikkan kedua tangan ke atas. Sesekali wajahnya tampak bersedih dan bersuara pelan. Dennis Prihantoro Harsoni, nama lelaki tersebut. Dia sedang membacakan sebuah puisi berjudul
“Perjamuan Maghrib”. Puisi tersebut dibawakannya saat tampil pada Pekan
Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jawa Tengah ke-13 di Auditorium
Universitas Muria Kudus (UMK), Kamis (28/7/2016).

Lomba Puisi Peksimida Jateng 2016 di UMK
Lomba Puisi Peksimida Jateng 2016 di UMK. Foto: Imam Arwindra
Menurutnya, dia memilih puisi tersebut karena ingin
membawakan suasana yang romantis, menghanyutkan, namun pesan puisi tersebut
tetap tersampaikan. “Puisi tadi adalah pujian untuk Tuhan,” ungkapnya kepada
Seputarkudus.com usai tampil.
Puisi yang ditulis oleh Syaefuddin Gani tahun 2008,
menurutnya menceritakan seorang yang sangat mencitai keluarganya, namun tidak lupa
akan Tuhannya. Dia mengungkapkan, bait puisi yang menyentuh terdapat pada paragrap
ketiga. 

“Suamiku, bangunlah dari bebatan istirah, syair bilal mengelana di
dadamu, penyetia yang tak lekang mengirim hubbub, matamu berkabut surau, menyambut
temaram isya segera datang, satu-satu bintang bertandang di luar, jemaah
melenggang ke taman sembahyang , sebelum iqamah datang sebelum kiamat jelang,” Dennis membacakan.

Puisi tersebut, katanya, sesuai dengan puisi wajib yang
juga dibawakannya berjudul “Padamu Jua”. Puisi karya penyair Amir Hamzah menurutnya
memiliki pesan hampir senada dengan “Perjamuan Maghrib”. Puisi tersebut memberikan
pesan bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Namun sebagai manusia sepatutnya
harus memberikan yang terbaik. “Puisi ini juga termasuk puisi romantis. Sama seperti
‘Perjamuan Magrib’,” ungkap mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris
UMK.
Dennis mengungkapkan, dalam pelaksanaan lomba puisi, peserta hanya diberi waktu maksimal 15 menit untuk membacakan puisi wajib dan puisi pilihan. Dalam pelaksanaan lomba puisi Peksimida Jawa Tengah ke-13,
terdapat 31 peserta lomba puisi kategori putra dan 34 peserta kategori putri. Mereka
merebutkan tiket untuk mengikuti  Pekan
Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) XIII pada 11-17 Oktober 2016 di Universitas
Halu Oleo (UHO) Kendari, mewakili Provinsi Jawa Tengah.
Berdasarkan data yang dimiliki panitia, pelaksana kegiatan Peksimida
yang diselengarakan di UMK, lomba baca puisi dan penulisan karya
sastra diikuti 129 peserta dari 41 universitas di Jawa Tengah. Untuk penulisan
karya sastra meliputi pembuatan puisi, cerita pendek (cerpen) dan lakon.
Rektor UMK Suparnyo mengungkapkan terima kasih atas
ditunjuknya UMK sebagai tempat untuk kegiatan Peksimida. Menurutnya, hal-hal
yang bermuatan sastra belum banyak diperhatikan oleh pemerintah. Sastra masih
dianggap seperti pelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan di SMA. “Pemerintah
seharusnya mendorong agar pengetahuan, teknologi dan sastra semakin berkembang,”
ungkapnya.

Suparnyo juga bercerita tetang Sahabat Nabi Umar bin
Khattab yang masuk Islam karena sastra. Dia menuturkan, kader-kader bangsa harus menumbuhkan
semangat berjuang supaya bermanfaat untuk orang lain. “Dengan adanya kegiatan
ini kader bangsa akan terbentuk,” ungkapnya kepada ratusan peserta yang hadir.

- advertisement -

Mahasiswi PGSD UMK Ini Deg-Degan Menari Kretek di Pembukaan Peksimida Jawa Tengah

0
SEPUTARKUDUS.COM, UMK Dari sudut barat dan timur batas kursi penonton, mereka
terlihat berjalan berbaris menuju panggung utama acara. Mereka memakai pakaian
adat Kudus. Tampak empat perempuan dan
satu laki-laki sedang berlenggak-lenggokdi depan ratusan penonton
yang hadir. Mereka sedang membawakan Tari Kretek pada acara pembukaan Pekan Seni
Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jawa Tengah ke-13 tahun 2016 di Auditorium
Universitas Muria Kudus (UMK), Kamis (28/7/2016).

Tari Kretek Kudus
Pekan Seni
Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jawa Tengah ke-13 tahun 2016 di Auditorium UMK. Foto: Imam Arwindra
Satu di antara penari itu Nur Maulida Fajriyani. Dirinya masih tercatat menjadi mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UMK. Dia mengaku
merasa deg-degan saat tampil di depan ratusan peserta lomba Pestimida, juri dan tamu yang hadir. Menurutnya,
ini pengalaman pertamanya tampil menari di depan perwakilan kampus-kampus
di Jawa Tengah. “Huh,
deg-degan rasanya. Yang hadir dari kampus-kampus di Jawa Tengah,” ungkap dia
selepas pertunjukan.
Menurutnya, empat orang yang tampil semua mahasiswa UMK. Dia merasa senang potensi yang dimiliki bersama teman-temannya
dapat tersalurkan pada acara tersebut. ”Terima kasih kampus tercintaku (UMK). Ini pengalaman
yang sangat berharga. Semoga Peksimida berjalan sukses,” ungkap
Maulida yang pernah tampil membawakan Tari Kretek di Surakarta saat Hari Tari Dunia.
Dalam pembukaan Peksimida di UMK, menurut Iswoyo, Ketua
Paguyuban Bidang Kemahasiswaan Jawa Tengan yang mewakili Ketua Badan Pembina
Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI), kegiatan Peksimida Jawa Tengah terdapat beberapa
lomba. Di antara lain, vokal grup, monolog, tari, poster dan grafis,
puisi, penulisan karya sastra, nyanyian tunggal dan grup band.
“Nanti pemenang setiap tangkai lomba akan berlanjut ke Peksiminas
(Pekan Seni Mahasiswa Nasional) XIII tanggal 11-17 Oktober 2016 di Universitas
Halu Oleo (UHO) Kendari, mewakili Provinsi Jawa Tengah” tuturnya.

Rektor UMK Dr Suparnyo
Rektor UMK Dr Suparnyo. Foto: Imam Arwindra

Menurutnya, Peksimida di Jawa Tengan dimulai 25-31
Juli 2016 bertempat di enam kampus di Jawa Tengah. Dia menyebutkan, 25
Juli tangkai tari di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, 26 Juli vokal
grup di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), 27 Juli monolog di Universitas
Dian Nuswantoro (Udinus) dan 28 Juli tangkai puisi dan karya sastra di UMK. 

“Besoknya
tanggal 29 (Juni 2016) poster dan foto di UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta) dan
gongnya 30-31 Juni di UMP (Universitas Muhammadiyah Purwokerto),” terangnya.

Dalam sambutannya Rektor UMK Suparnyo menyatakan terima
kasih ditunjuknya UMK sebagai tempat lomba Peksimida. Menurutnya, dengan
kegiatan seni dan sastra dapat mendorong pemerintah untuk lebih memperhatikan
dunia pengetahuan, teknologi dan sastra. “Dengan kegiatan ini kader bangsa akan
terbentuk,” ungkapnya yang dilanjutkan dengan prosesi pemukulan bedug terbang
sebagai tanda kegiatan telah dibuka.

- advertisement -

Pemuda Asal Bandung Ini Lebih Suka Berjualan Bendera di Kudus daripada di Tanah Kelahirannya

0
SEPUTARKUDUS.COM, BACIN Kumpulan bendera Merah Putih
terlihat bergelantungan di atas tali di tepi Jalan Lingkar Utara Kudus. Tidak hanya
bendera berukuran kecil, sedang dan besar, serta umbul-umbul juga dipajang. Berbagai bentuk bendera Merah Putih tersebut dibawa oleh Deni (23) langsung dari Bandung untuk dijual
menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus.

jual bendera merah putih
Jual bendera merah putih di Kudus. Foto: Imam Arwindra

Deni yang berasal dari Cileunyi, Bandung, mengaku lebih
bersemangat berjualan bendera di Kudus dari pada berjualan di tanah asalnya. “Kalau
di Bandung sudah banyak yang berjualan bendera. Kalau di Kudus masih
sepi. Tu lihat yang berjualan hanya saya saja,” ungkapnya kepada
Seputarkudus.com saat ditemui di tepi Jalan Lingkar Utara Kudus, Kamis (27/8/2016).

Menurutnya, persaingan usaha di Kudus tidak seketat di
Bandung. Dia menuturkan, di Bandung penjual bendera sudah menjamur di setiap
tempat keramaian. “Kemarin saja saya coba keliling Kudus belum menemukan
penjual bendera,” ungkap dia yang tidak mengerti Bahasa Jawa.

Deni mengungkapkan, dirinya baru dua kali ini berjualan bendera
di Kudus. Pada tahun lalu dia mampu meraup omzet Rp 5 juta. “Saya
baru dua kali ini berjualan di Kudus. Hasilnya sangat bagus bisa sampai Rp 5
juta lebih,” tuturnya.
Pada 2015 lalu, dirinya mengaku mulai berjualan dari pada 27 Juli hingga 16 Agustus 2015. Tempatnya
pun sama, yakni di Jalan Lingkar Utara. “Tahun ini saya datang tanggal 26 (Juni 2016)
bersama teman. Langsung cari kontrakan setelah itu paginya langsung berjualan,”
terang Deni yang mengontrak rumah di daerah Kaliputu, Kecamatan Kota.
Deni mengatakan akan berjualan sampai tanggal 16 Agustus 2016
dengan tempat yang berpindah-pindah. Deni menyebutkan, tempat-tempat di Kudus
yang rencana akan di tempatinya berjualan yakni di Jalan Lingkar Utara, Jalan
Sostrokartono depan Makam Kaliputu dan di daerah Tanjung. “Dari hasil berdagang
tahun lalu saya mendapatkan upah Rp 2 Juta. Sebenarnya bendera-bendera ini
miliknya orang yang saja bantu jual,” tambahnya.
Dia menyebutkan, harga bendera yang dijual ukuran 90×60 sentimeter seharga Rp 20 ribu, ukuran 180×120 sentimeter Rp 40 ribu, dan
umbul-umbul seharga Rp 200 ribu. “Kalau belinya kodian jauh lebih murah. Misal 180×120 sentimeter hanya Rp 700 ribu saja. Saya berdagang mulai pukul 6.00 pagi hingga 5.00 sore,” tuturnya.

- advertisement -

Kenapa Pusat Kuliner Kudus di Sudut Simpang Tujuh Dinamai Bojana? Ini Jawabannya

0
SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUHSiang itu pusat kuliner khas Kudus di sudut timur laut Alun-alun Simpang Tujuh Kudus ramai pengunjung. Sejumlah kendaraan roda empat terparkir di sisi luar tempat bernama Taman Bojana itu. Warung-warung yang menyajikan masakan khas Kota Kretek di dalamnya tampak ramai pengunjung. Lalu, mengapa tempat bekas gedung bioskop itu dinamai Bojana?

Pusat Kuliner Khas Kudus Taman Bojana
Pusat Kuliner Khas Kudus Taman Bojana. Foto: Imam Arwindra

Hari itu Rif’ati (69) dan anaknya tampak sibuk melayani pembeli yang datang. Penjual lontong tahu warga Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus, mengaku telah berjualan di Taman Bojana sejak pusat kuliner tersebut pertama kali dibuka puluhan tahun lalu. Saat sepi pembeli, dia tak keberatan berbagi cerita tentang Taman Bojana.

Menurutnya, bojana adalah benda yang dipergunakan orang zaman dulu untuk memasak nasi. Benda tersebut terbuat dari tembaga. Bentuknya seperti dandang dan memiliki fungsinya sama.

Bojana penanak nasi Menurutnya, perkakas penanak nasi tersebut diyakininya menjadi ispirasi penamaan pusat kuliner di Kudus bernama Taman Bojana. “Sekarang masyarakat memasak menggunakan dandang berbahan seng. Kalau orang dulu memasak memakai bojana, terbuat dari tembaga,” terangnya kepada Seputarkudus.com ketika ditemuai Taman Bojana belum lama ini.
Dia yang sudah berdagang di pusat kuliner itu sejak 1997 mengungkapkan, Taman Bojana bukanlah seperti taman-taman pada umumnya yang biasanya tersedia fasilitas bermain dengan tanah berumput dan bunga-bunga. Menurutnya, Taman Bojana yakni tempat tersedianya berbagai macam kuliner.  “Bojana adalah tempat untuk menanak nasi. Mungkin Bupati (Kudus) Soedarsono menamai Taman Bojana sesuai dengan fungsinya sebagai tempat kuliner,” tambahnya.
Rif’ati juga menuturkan, dalam Bahasa Jawa bojana juga mengandung arti pesta. Sedangkan Kamus Jawa-Indonesia, bojana berasal dari kata boja yang berarti suguhan, hidangan, makanan, menu dan bojana mempunyai makna pesta, bergembira ria dengan makan minum.
Prasasti Taman Bojana Kudus
Prasasti Taman Bojana Kudus. Foto: Imam Arwindra

Terpampang jelas di pintu masuk Taman Bojana, tempat kuliner tersebut diresmikan Sabtu Pahing tanggal 4 Oktober 1997 yang bertanda tangan Soedarsono yang menjabat sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kudus. “Para pedagang pindah ke Taman Bojana tahun 1997. Sebelumnya, kami berdagang di Tosera yang sekarang jadi gedung Ramayana timur alun-alun (Alun-alun Simpang Tujuh Kudus),” tuturnya.

Berdsarkan ceritanya yang dia ketahui, Rif’ati mengatakan, sebelum menjadi Taman Bojana, tempat tersebut pernah bernama Gedung Rakyat pada 1958 dan Gedung Nasional sekitar tahun 1960-an. Lalu menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) cikal bakal Universitas Muria Kudus dan gedung Bioskop Karya yang berubah menjadi Bioskop Ramayana. “Juga pernah menjadi gedung pertunjukan ketoprak dan akhirnya menjadi Taman Bojana,” terangnya.

Dia mengungkapkan, Taman Bojana menyediakan makanan khas Kudus antara lain soto kerbau, tahu telur dan gimbal, sate kebau dan pindang. “Jenang Kudus juga tersedia di sini,” tambahnya. 

- advertisement -

Rombongan Warga Dukuhseti Ini Ngedos ke Kudus, Sehari Kantongi Uang Rp 80 Ribu

0
SEPUTARKUDUS.COM, MLATI NOROWITO Di tengah persawahan sejumlah orang terlihat
sibuk memanen padi. Sebagian di antaranya ada yang mengumpulkan
batang padi lalu dibawa ke mesing penggilingan (dos). Mereka terlihat
begitu kompak memanen di area persawahan depan Kantor Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus Kelurahan Mlati Norowito, Kecamatan
Kota, Kudus. Mereka bukan orang Kudus, melainkan warga
Kecamatan Dukuhseti,
Kabupaten Pati.

panen padi di kudus
Warga Dukuhseti, Pati, memanen padi di Kudus. Foto: Imam Arwindra
Di sebrang Jalan PG Rendeng Depan Kantor BPBD Kudus, terparkir
mobil truk yang pintu baknya sudah dibuka dan diberi tangga. Menurut Suparno,
satu di antara pemanen padi, nantinya padi yang dipanen akan
dikirim pada penebas yang bernama Tumiran. 

“Kami hanya buruh ngedos. Nanti gabah tersebut akan disetor kepada penebas,” tuturnya saat
ditemui Seputarkudus.com,belum lama ini. 

Suparno menuturkan, dia bersama 16 rekannya ke Kudus naik truk. Mereka satu sama lain bertetangga. Menurutnya, mereka berangkat dari Dukuhseti pukul 5.00 WIB
dan pulang sekitar pukul 4.00
sore. “Kalau dihitung waktu perjalanannya sekitar dua jam,” tuturnya.

Sambil memasukkan gabah ke karung, Suparno menceritakan,
dirinya bersama rekan-rekannya sudah lama menekuni pekerjaan sebagai pemanen padi.
Selain di Kudus dia mengaku juga sering memanen padi di Sukolilo (Pati), Jepara
dan Demak. “Kalau di Kudus biasanya di sini (Mlati Norowito) dan di Undaan,”
ungkapnya.

Dia menjelaskan, di Kudus dia sudah mulai memanen saat
bulan Puasa di Undaan. Sehabis Lebaran hingga satu bulan ke depan akan
memanen padi di daerah Mlati Norowito. “Kami memanen padi di Sukolilo,
setelah itu di Jepara dan di Kudus,” tuturnya.
Dari hasil bekerja sebagai buruh borong panen padi, setiap
hari dia medapatkan uang sekitar Rp 80 ribu. Menurutnya sawah yang sedang
dipanen luasnya sekitar satu bahu. “Panen ini cukup bagus. Padinya
berjenis 64. Prediksi bisa sampai 5 ton,” jelasnya.

Suparno yang sudah lama menjalani pekerjaan sebagai buruh
panen padi menuturkan, dari Kecamatan Dukuhseti banyak yang bekerja sebagai buruh panen padi. Dia mengaku pernah berangkat dengan 32 orang
yang keseluruhan berasal dari Dukuhseti. “Panen ini paling ada 16-18 orang. Biasanya
saya berangkat dengan 32 orang dari Dukuhseti semua,” tuturnya.

- advertisement -

Meski Sangat Dikenal, Jember Ternyata Tak Masuk Peta

0
SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI Puluhan kendaraan terlihat berhenti di lampu
merah sebuah perempatan dari arah Jalan Sunan Kudus. Kendaraan-kendaraan itu menumpuk di lanjur
kiri menunggu lampu hijau selama 84 detik. Sementara kendaraan dari arah Jalan
KHR Asnawi dan Jalan HM Subchan ZE memadati lajur kanan Jalan Sunan Kudus yang
tampak padat merayap. Perempatan tersebut dikenal dengan sebutan Perempatan Jember. Meski sangat dikenal, namun nama Jember tak tertera dalam peta geografi Kabupaten Kudus.

Perempatan Jember Kudus
Perempatan Jember Kudus. Foto: Imam Arwindra
Ketika lampu lalu lintas Jalan Sunan Muria berubah hijau, kendaraan terlihat menumpuk di Jalan Kudus-Jepara, di depan toko Columbia. Di depan toko, angkutan umum berwarna ungu jurusan Kudus-Sub Terminal Jetak tampak sedang menunggu penumpang. Secara bergantian
terdapat tiga sampai empat mobil yang ngetem di lokasi yang bernama Perempatan
Jember tersebut.
Berdasarkan peta geografis Kabupaten Kudus, Jember bukanlah nama
desa atau dukuh yang berada di Kabupaten Kudus. Secara administratif Jember
masuk Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota. Namun masyarakat Kudus sudah
familiar menyebut daerah tersebut dengan nama Jember.
Menurut Ahnad Maliki (67), Warga Purwosari yang rumahnya tak jauh dari Masjid Al-Mujahidin, mengatakan Jember bukanlah nama administrasi melainkan hanya sebutan. Menurutnya, masyarakat menyebut Jember dari perempatan
menuju ke barat hingga Pasar
Jember. “Intinya daerah dari perempatan, ke barat hingga pasar, orang
menyebutnya Jember,” tuturnya kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Ahmad Maliki. Foto: Imam Arwindra
Maliki yang mengaku tinggal di Jember sejak 1978 menjelaskan,
disebut Jember karena daerah tersebut dulu tanahnya jember. Menurutnya,
tanah jember yakni tanah yang basah seperti rawa. “Tanahnya itu basah atau jemek. Karena daerahnya seperti itu, sekitar
perempatan hingga pasar disebut orang dengan nama Jember,” jelasnya.
Dia menuturkan, penamaan tersebut muncul sudah
sejak zaman dahulu sebelum dia lahir. Karena sudah menjadi kebiasaan, akhirnya tempat
tersebut lebih terkenal dengan Jember. “Pasti banyak orang menganggap Jember
adalah nama perkampungan atau desa, padahal tidak,” ungkapnya.

Menurutnya, dalam menamai tempat di sekitar perempatan
hingga pasar, nama Jember diikutkan di belakang nama toko maupun tempat fasilitas
umum. Diantaranya Masjid Al-Mujahidin Jember Kudus, Aris Helm Jember, Pasar
Jember, dan lain sebagainya. “Itu mungkin untuk mempermudah orang saja,” tambahnya.

- advertisement -

Santri Baru MA Qudsiyyah Wajib Kenakan Pita Merah Putih, Simbol Nasionalisme pada NKRI

0
SEPUTARKUDUS.COM, KERJASAN Ratusan siswa memakai baju putih terlihat serius memperhatikan materi yang sedang
diberikan oleh guru. Mereka duduk di dalam kelas yang sudah disulap menjadi
aula di Madrasah Aliyah (MA) Qudsiyyah Kudus. Dengan memakai peci yang dibalut pita merah putih,
mereka terlihat mengolak-alik buku yang disediakan dalam kegiatan orientasi santri MA Qudsiyyah, Senin (25/6/2016).

masa orientasi santri Qudsiyyah Kudus
Orientasi santri Qudsiyyah Kudus. Foto: Imam Arwindra
Wakil Kepala bidang Kurikulum MA Qudsiyyah, Moh Ali Yahya menuturkan sudah
sejak lama pelaksanaan orientasi siswa baru di MA Qudsiyyah mengenakan peci yang
diberi hiasan pita berwarna merah putih. Menurutnya, pita yang yang
melambangkan bendera Indonesia tersebut sebagai wujud kecintaan para santri
kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

“Sejak masuk di Qudsiyyah kami
mengajarkan santri baru untuk selalu menanamkan nilai-nilai nasionalisme terhadap Kesatuan Republik Indonesia,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com
saat orientasi siswa sedang berlangsung.
Dia memberitahukan, pesan tersebut juga termaktub dalam Selawat Asnawiyyah yang sering dilantunkan siswa MA Qudsiyyah. “Pada Selawat Asnawiyyah
yang diciptakan KHR Asnawi di (lirik) bagian akhir terdapat kata
Indonesia Raya aman. Itu adalah pesan untuk selalu menjaga keutuhan NKRI,”
jelasnya.
 Menurutnya, orientasi yang diikuti 203 siswa baru tersebut mulai diselenggarakan Sabtu (23/6/2016). Kegiatan tersebut telah berakhir kemarin. Yahya mengungkapkan, selain mengajarkan nasionalisme, saat orientasi
juga diajarkan tentang usaha kesehatan sekolah dan materi-materi
tentang pengenalan lingkungan sekolah. “Kami tidak ada perploncoan dalam
mengelenggarakan MOS,” tambahnya.
Dia memberitahukan, di setiap kegiatan yang diadakan
madrasah, menurutnya tidak meninggalkan Selawat Asnawiyyah. Selawat tersebut menurutnya sudah
setiap hari dilantunkan di Madrasah Tsanawiyyah (MTs) Qudsiyyah ketika pulang
sekolah. “Kalau di MA belum, kemungkinan nanti juga akan dilakukan. Menunggu hasil
dari rapat bersama,” ungkapnya.

- advertisement -

Warga Colo Ini Merasa Seperti Mimpi Menerima Kalpataru dari Presiden Jokowi

0
SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN – Bersama dengan Kepala Dinas Cipta Karya
dan Tata Ruang (Ciptakaru) Sumiyatun, seorang pria bertopi hitam berdiri di depan Bupati Kudus
Musthofa sambil memegang penghargaan berbentuk akar emas. Muhammad Sokhib Garno Sunarno, nama pria tersebut, peraih penghargaan Kalpataru 2016 dari Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Dia merasa seperti mimpi saat menerima Kalpataru pada Hari Lingkungan Hidup 22 Juli 2016, di Siak, Riau.

Shokip Penerima Kalpataru Muria Kudus
Muhammad Sokhib Garno Sunarno menunjukkan penghargaan Kalpataru. Foto-foto: Imam Arwindra
“Lapor anugerah Kalpataru kategori pembinaan lingkungan dari
bapak Presiden Republik Indonesia siap kami titipkan kepada bapak Bupati Kudus,”
kata Sokhib sambil menyerahkan penghargaan tersebut kepada Musthofa yang
langsung disambut riuh tepuk tangan ribuan masyarakat yang hadir di Alun-alun Simapang Tujuh Kudus, Senin (25/7/2016).
Sokhib mengaku seperti mimpi saat menerima Kalpataru dari presiden, karena tak pernah membayangkan mendapat penghargaan setinggi itu. Menurut warga Colo, Kecamatan Dawe, dirinya hanya ingin mengabdi merawat lingkungan
di wilayah Pegunungan Muria tempat dia hidup. 

“Saya tidak menyangka
mendapatkan penghargaan. Dari awal saya hanya ingin mengabdi dengan ikhlas dan tulus merawat dan menjaga hutan Muria,” ungkapnya
kepada Seputarkudus.com usai acara penyerahan penghargaan kepada bupati.

Muhammad Sokhib Garno Sunarno
Sokhib bersama anggota PMPH Pegunungan Muria
Sokhib yang juga menjadi Ketua Paguyuban Masyarakaat Pelindung Hutan
(PMPH) Pegunungan Muria mengungkapkan, sudah dari dulu leluhurnya mengajarkan untuk merawat lingkungan di Pegunungan Muria. Dia hanya
meneruskan perjuangan para pendahulunya. “Saya mulai terjun tahun 1998 hingga
sekarang,” ungkapnya.
Dia menceritakan, dalam menjaga lingkungan di kawasan Pegunungan Muria dirinya dibantu 45 orang yang
tergabung dalam PMPH Pegunungan Muria. Menurutnya,
setiap bulan bersama tim, dia berkeliling kawasan Pegunungan Muria yang meliputi
tiga kabupaten, Kudus, Pati dan Jepara. “Kami berpesan kepada masyarakat
untuk selalu menjaga lingkungan dimanapun mereka berada. Ini untuk kehidupan anak
cucu kita kelak,” tuturnya.

Muhammad Sokhib Garno Sunarno
Shokib menyerahkan penghargaan Kalpataru kepada Bupati Kudus Musthofa.

Bupati Kudus Musthofa yang hadir dalam acara penyerahan Adipura Kirana dan Kalpataru mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak. Dia mengatakan, berkat kerja keras itu Kudus bisa meraih Adipura Kirana. Penghargaan itu diberikan karena dasar penilaian yang dititikberatkan pengembangan ekonomi, investasi dan wisata yang berbasis pengelolaan lingkungan hidup.


“Terima kasih terhadap pemerhati lingkungan, baik dari stake holder, para pimpinan perusahaan
yang telah berpartisipasi, yang mengantarkan saudara kita Pak Sokhib untuk
menerima penghargaan dari Pak Presiden ini. Berkat dukungan itulah Kudus juga menerima penghargaan Adipura Kirana,” ungkapnya kepada ribuan masyarakat Kudus yang
hadir.

- advertisement -

Puncak Satu Abad Qudsiyyah, Mendaulat Selawat Asnawiyyah Bersama Kiai Kanjeng dan Cak Nun

0
SEPUTARKUDUS.COM, KERJASAN Tanah lapang di sisi timur Jalan KHR Asnawi, Kelurahan Kerjasan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, tepatnya di utara MA NU Banat, akan menjadi saksi puncak peringatan Satu Abad Madrasah Qudsiyyah. Acara yang akan digelar Rabu (3/8/2016) pukul 19.30 WIB, Selawat Asnawiyyah akan dikumandangkan Kiai Kanjeng bersama Cak Nun (Emha Ainun Najib). Selawat yang diciptakan pendiri Nahdhatul Ulama dan Madrasah Qudsiyyah KHR Asnawi, akan didaulat sebagai selawat kebangsaan.

Satu Abad Madrasah Qudsiyyah Kudus
Poster Satu Abad Madrasah Qudsiyyah. Istimewa

Iksan, Ketua Panitia Satu Abad Qudsiyyah mengatakan, selama ini Selawat Asnawiyyah hanya populer di Kudus dan di beberapa daerah saja. Melalui peringatan Satu Abad Qudsiyyah, pihaknya ingin mendaulat selawat tersebut sebagai selawat kebangsaan yang dikenal seluruh Indonesia.

“Kiai Kanjeng juga terkenal selawatnya. Maka kami mengundangnya bersama Cak Nun untuk mendaulat Selawat Asnawiyyah sebagai selawat kebangsaan yang dikenal seluruh Indonesia. Dipastikan (puncak peringatan Satu Abad Qudsiyyah) nanti akan dihadiri 5 ribu orang lebih,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com di ruangan Yayasan Madrasah Qudsiyyah, Senin (25/7/2016).
Ihsan mengungkapkan, Selawat Asnawiyah yang langsung ditulis KHR Asnawi. Selawat tersebut satu-satunya selawat yang liriknya mencantumkan kata Indonesia. Kata tersebut tertulis pada akhir lirik selawat yang juga mencantumkan kata aman. “Aman, aman, aman, aman, Indonesia Raya aman,” lantun dia.

Berdasarkan kisah yang dia ketahui, Selawat Asnawiyyah dibuat tak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sekitar 1945. Saat itu, penjajah masih berada di Indonesia. KH Raden Asnawi membubuhkan kata Indonesia Raya aman pada selawatnya. “Selawat yang ada kata Indonesianya hanya Selawat Asnawiyyah,” tuturnya.
Dalam acara puncak peringatan satu abad Qudsiyyah, menurutnya ada beberapa rangkaian acara  yang dilaksanakan selama sepekan sejak 1 Agustus hingga 7 Agustus 2016. Rangkaian acara yang dimaksud di antaranya Pameran Turats Ulama Nusantara, Bedah Buku 100 Tahun Qudsiyyah, Deklarasi Santri Mandiri, dan Mendaulat Selawat Asnawiyyah bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng. “Juga ada Jagong Kamulyan, nanti akan mengundang seluruh multi etnis dan multi religi untuk membicarakan pesan damai dari Menara Kudus,” ungkapnya.

Ikhsan juga menyebutkan, pada Sabtu (6/8/2016) nanti ada pengajian akbar dengan tema “Meneladani Kearifan KH Raden Asnawi” yang akan dihadiri KH Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus). 

- advertisement -

Nama Iksab Dicetuskan Langsung Kiai Turaichan, Mengambil dari Bahasa Belanda

0
SEPUTARKUDUS.COM, KAJEKSAN – Ribuan pria bersarung dan berbaju putih
tampak memadati halaman gedung Madrasah Aliyah (MA) Tasywiquth Thullab
Salafiyyah (TBS) Kudus, pada acara Silatnas dan Ngaji Bareng Masyayikh TBS beberapa hari lalu. Mereka yakni para alumni TBS yang tergabung dalam
Ikatan Siswa Arbituren (Iksab). Menurut Pengurus Tanfidz Iksab Abdulloh Hamid,
nama Iksab
dicetuskan langsung oleh KH Turaichan Adjhury sekitar tahun 1965.

Silatnas TBS
Ketua Syuriah Iksab Drs. H Noor Badi, M.M sedang memberikan sambutan saat FGD divisi jaringan alumni. Foto: Imam Arwindra

“Sumber tersebut jelas dari sanadnya KH Choirozyad TA (putra KH Turaichan
Adjhury),” ungkap A kepada Seputarkudus.com saat acara Silatnas berlangsung.

Dia menjelaskan, kata arbituren diambil dari Bahasa Belanda yang bermakna alumni. Menurutnya jika dirangkai, arti dari ikatan siswa arbituren yakni ikatan alumnni siswa. “Dulu kepanjangan huruf S pada TBS merupakan singkatan dari kata school. Saat itu negeri kita masih di bawah penjajahan Belanda. Namun setelah merdeka huruf S diganti dengan salafiyah,”
tuturnya.
Silatnas TBS
Ribuan alumni TBS yang tergabung dalam Iksab sedang mengikuti ngaji bareng masyayikh di depan gedung MA TBS Kudus, Sabtu (23/7/2016). Foto: Imam Arwindra

Selain itu, dalam Bahasa Arab Iksab mempunyai arti bekerjalah.
Dari kata kasaba, yaksibu, iksaban. “Kiai Turaichan ingin
alumni-alumni TBS terus bersemangat dalam menimba ilmunya dimanapun mereka berada,”
terangnya.

Dalam perkembangannya, Iksab mempunyai ribuan anggota yang tersebar tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di luar negeri. Menurutnya
struktur organisasi Iksab tak jauh beda dengan yang ada di Nahdlatul Ulama (NU), yakni menggunakan syuriah dan tanfidiyyah. “Ada lima orang di syuriah yang
dikordinatori oleh Pak Noor Badi, nanti yang tanfid yang lebih muda,”
tuturnya.

Pertemuan pertama secara nasional melalui Silatnas tersebut, kata Hamid, para
alumni juga memberikan kontribusi baik pemikiran maupun keilmuan melalui empat
divisi yang dibahas. Antara lain, Divisi Media dan Data, Divisi Jaringan Alumni, Divisi Kemandirian Ekonomi, dan Divisi Aswaja.

Dia menjelaskan, Divisi Media dan Data dibuat untuk pengembangan
pendidikan, dakwah maupun penguatan jaringan dalam berbagai bidang. Sedangkan Divisi Jaringan Alumni untuk memetakkan potensi dan pendayagunaan alumni di masa depan. 

“Divisi Kemandirian Ekonomi dibuat agar alumni TBS mempunyai strategi penguatan ekonomi untuk
mendukung pengembangan madrasah TBS dan pemberdayaan alumni dengan semangat Gusjigang. Sedangkan Divisi Aswaja untuk strategi advokasi dan ketahanan Islam Ahlusunnah Waljamaah (Aswaja)
serta menjaga nilai-nilai warisan salafus shaleh penerus para nabi dan rasul. 

- advertisement -

Belasan Tahun Subeno Tak Pernah Lelah Berjalan Kaki Menjual Lentog Tanjung

0

SEPUTARKUDUS.COM, TANJUNG KARANG- Ada berbagai cara para pedagang untuk menjajakan daganganya kepada
para pembeli. Ada yang memilih menyewa tempat yang strategis sehingga banyak orang
yang melihat, ada pula menggunakan rumah di
tepi jalan untuk berdagang. Tetapi beda
dengan Subeno (41), karena tidak memiliki modal untuk menyewa tempat dan tidak
punya rumah di tepi jalan, dia memilih menjual Lentog Tanjung dengan
berkeliling selama puluhan tahun. 

Penjual Lentog Tanjung Kudus
Penjual Lentog Tanjung keliling. Foto: Rabu Sipan

Di sebuah jalan di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Subeno tampak memikul
dua keranjang yang berisi lentog beserta gudeg nangka serta sayur tahu. Tidak
lama kemudian terlihat Subeno berhenti di depan satu rumah dan menurunkan dua
keranjang yang berisi lentog beserta sayuranya, karena pemilik rumah tersebut
ingin membeli Lentog Tanjung yang Subeno jual.
Di sela kesibukanya membuatkan satu porsi Lentog Tanjung untuk pembeli,
Subeno sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com. Menurutnya dia memilih
berjualan Lentog Tanjung dengan berkeliling jalan kaki karena posisi rumah yang dia
tinggali bersama keluarganya kurang strategis untuk berdagang.
“Dengan berjualan keliling aku bisa mendatangi calon para
pembeli Lentog Tanjung yang aku jual. Ibaratnya aku menjemput rezeki yang hari
ini akan diberikan padaku serta keluargaku,” kata Subeno beberapa waktu lalu.

Pria yang tercatat sebagai warga Desa Tanjung Karang,
Kecamatan Jati, mengaku berangkat berjualan sekitar pukul 7.00 WIB, lalu
dia berjalan keliling menjual lentog tersebut hingga pukul 11.00 WIB
dia sampai di Taman Bojana Kudus.

“Bila sesampai Taman Bojana Lentog Tanjung yang aku jual
masih, aku mangkal di depan satu warung yang berada di sana. Aku menunggu para karyawan toko dan Ramayana istirahat siang dan membeli lentogku
untuk makan siang,”ungkapnya
Di sela obrolan, datang seorang wanita berjilbab dan masih
mengenakan helm membeli sebungkus Lentog Tanjung. Setelah selesai
membuatkan Lentog Tanjung pesanan wanita itu, Subeno mengatakan dirinya menjual lentog dengan harga Rp 5 ribu seporsi.
Subeno mengatakan sudah berjualan Lentog Tanjung sejak 2003.
Dia juga mengaku selama berjualan keliling daganganya selalu terjual habis. “Meskipun berjualan keliling terasa lebih capek dan
melelahkan, tetapi rasa itu akan terbayarkan bila melihat daganganku habis
terjual,” ungkapnya.
- advertisement -

Karena Ingin Takdzim, Santri TBS Kudus Rela Menata Sandal Alumni pada Acara Silatnas

0
SEPUTARKUDUS.COM, KAJEKSAN – Siswa-siswa Madrasah Aliyah (MA) Tasywiquth
Thullab Salafiyyah (TBS) Kudus masih menunggu para alumni untuk masuk ke dalam
ruangan focus group discussion (FGD) yang terletak di lantai dua gedung
Madrasah Aliyah (MA) TBS Kudus. Setiap ada alumni yang bertanya mengenai
ruangan, mereka menunjukkan ruang kelas yang digunakan untuk FGD pada
kegiatan Silaturrahim Nasional (Silatnas) dan Ngaji Bareng Masyayikh TBS, akhir pekan lalu.

Silatnas TBS
Muhammad Waffiq Ilfa bersama temannya sedang menata sandal alumni TBS yang sedang mengikuti FGD di ruang kelas MA TBS Kudus. Foto: Imam Arwindra

Dengan memakai sarung dan kemeja putih mereka terlihat
berdiri menunggu alumni yang memerlukan bantuan mereka. Setelah dipastikan
semua alumni sudah memasuki ruangan, mereka dengan sigap menata rapi sandal yang
ditinggalkan alumni di depan ruangan.

Satu di antara siswa TBS yang menata sandal para alumni, yakni Muhammad Waffiq Ilfa, yang saat ini masih duduk di kelas XII MA TBS Kudus. Menurutnya, dia ingin ngalap berkah dari alumni-alumni yang datang dalam acara Silatnas. “Saya ingin takdzim dan ngalap berkah kepada para alumni yang dulu pernah sekolah di TBS,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com sambil menata sandal di depan ruangan.  

Dia menuturkan, di TBS para siswa diajarkan untuk selalu
menghormati kepada yang lebih tua. Bahkan lebih dari itu, mereka diajarkan untuk tawadlu’, terutama
para para guru. 

Saat kegiatan Ngaji Bareng Masyayikh TBS berlangsung di
depan gedung MA TBS, KH M Arifin Fanani menyinggung terkait hal tersebut. Menurutnya, satu diantara ciri khas santri yakni takdzim
kepada gurunya walau dia mempunyai jabatan lebih tinggi. “Cari-ciri khas santri yakni takdzim kepada gurunya,” ungkapnya.

Di depan ribuan alumni yang hadri pada acara Silatnas, Kiai Arifin meminta agar santri-santri TBS selalu memegang teguh Al-Quran dan sunnah nabi. Tidak hanya
itu, dia mewanti-wanti untuk selalu dekat dengan ulama. “Dengan Al-Quran
dan Hadits seorang mendapatkan petunjuk, dan dengan mengikuti ulama dia akan
selamat,” pesannya kepada alumni.

Kiai Arifin mengatakan, meski para alumni sudah mempunyai gelar sarjana,
megister dan profesor, dia yakin santri TBS akan selalu hormat kepada gurunya. Ketika
Kiai Arifin mencoba bertanya siapa yang sudah menjadi kiai, profesor, S1
(sarjana), S2 (megister) dan S3 (doktor) tidak ada seorang pun dari alumni yang
mengangkat tangan. “Lalu siapa yang menjadi santri?” tanya Kiyai Arifin,
yang seketika itu ribuan alumni yang hadir mengangkat tangan.

- advertisement -