Beranda blog Halaman 1948

Seperti Si Bolang, Mahasiswa Baru STAIN Kudus Kenakan Ikat Leher Aneka Warna

0
SEPUTARKUDUS.COM, STAIN – Ribuan mahasiswa baru
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus membubarkan barisan
usai apel pagi di lapangan Kampus Barat STAIN Kudus. Suara dari pengeras memberikan instruksi kepada mereka agar menuju ke gedung sesuai dengan jurusan.
Mereka mengenakan ikat leher warna hijau, kuning, merah,  dan biru sesuai dengan jurusannya.

Mahasiswa baru STAIN Kudus mendapat pengarahan dari ketua jurusan. Foto: Imam Arwindra

Menurut Zahrotul Anisa, Panitia Orientasi Pengenalan Akademik dan Kemahasiswaan (OPAK) yang juga Ketua Dewan Mahasiswa (Dema) STAIN Kudus, di STAIN Kudus terdapat empat jurusan yakni Tarbiyah, Syariah dan Ekonomi Islam, Usuluddin serta Dakwah dan Komunikasi. dalam OPAK 2016, mereka dibedakan dengan warna ikat leher.
Dia menyebutkan, ikat leher hijau untuk Jurusan Tarbiah, kuning Dakwah dan Komunikasi, merah Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam, terakhir biru untuk mahasiswa Usuluddin. “Tahun ini beda dengan tahun lalu, seperti Bolang (acara Bocah Petualang di Trans 7) megenakan ikat leher,” tuturnya.

Anisa memberitahukan, STAIN Kudus tahun 2016 menerima 1.935 mahasiswa dari 2.112 yang mendaftar. Mereka masuk dari tiga jalur yakni Prestasi Akademik (SPAN-PTKIN), Ujian Masuk Nasional dan jalur Ujian Masuk Mandiri. “Dari SPAN-PTKIN dan Ujian Masuk Nasional ada 555 mahasiswa sisanya lewat ujian masuk mandiri,” terangnya.

Sementara itu, ribuan mahasiswa baru didampingi beberapa orang berjas
coklat menuju ke dalam gedung. Menurut Muhamad Yusro, Ketua OPAK mahasiswa baru STAIN Kudus, mereka
diarahkan ke gedung untuk mengikuti pengarahan akademik dan kemahasiswaan di
masing-masing jurusan. 

“Mahasiswa baru akan tahu secara detail jurusan yang sudah
mereka pilih. Agar mereka dapat fokus dan merencanakan akademiknya,” ungkapnya
kepada Seputarkudus.com, Senin (15/8/2016)

Yusro menjelaskan, OPAK di STAIN Kudus
dilaksanakan empat hari, mulai Minggu (15/8/2016) hingga Rabu (17/8/2016). Untuk hari kedua, menurutnya, diisi dengan sosialisasi jurusan. “Yang
mengisi ketua jurusan. Pembicaraannya
seputar akademik dan informasi kemahasiswaan,” terangnya.
- advertisement -

Penjual Hewan Kurban di Dersalam Ini Sudah Timbun Jerami Sejak Ramadan

0
SEPUTARKUDUS.COM, DERSALAM Dua orang laki-laki
dan perempuan menarik tali yang terikat pada kerbau menuju kandang di Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kudus, Senin (15/8/2016). Kerbau dengan tali di hidung terlihat meronta tak mau berjalan saat ditarik. Kerbau tersebut hendak dijual kepada siapa saja yang ingin berkurban pada Idul Adha tahun ini.

hewan kurban di kudus
Pedagang hewan kurban menarik kerbau di Dersalam, Bae, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Di samping kerbau itu, empat ekor kerbau lainnya sudah diikat di dalam kandang. Tumpukan jerami sudah disediakan di depannya. Sementara di sudut kandang, tumpukan jerami tertutup terpal disiapkan untuk persediaan. 

Arifka Faqih, pemilik
dari kerbau-kerbau itu, menuturkan, jerami-jerami tersebut disiapkan untuk makanan kerbau yang telah dia siapkan sejak awal Ramadan lalu. “Saya sudah persiapan jauh hari (jerami).
Jerami ini untuk kerbau yang akan digunakan untuk kurban saat hari
Raya Idul Adha,” terang Arifka kepada Seputarkudus.com.

Dia mengatakan tiap sahun menyediakan kerbau, kambing dan sapi untuk dijual kepada siapa saja yang hendak berkurban. Jauh hari sebelum mendatangkan hewan ternak dari sejumlah daerah, dia menyiapkan jerami untuk makanan selingan. Jerami itu dikumpulkan saat panen padi. “Karena melimpah, saya kumpulkan untuk pakan hewan kurban yang akan saya jual,” terangnya.
Menurutnya, pakan utama ternak yakni rumput dan ampas
tahu. Jerami hanya diberikan untuk selingan. “Ampas tahu diberikan satu
kali sehari yakni setiap waktu salat Ashar. Dalam satu ember, ampas tahu
dicampur dedak dan air. Selain itu diberi garam rosok tiga genggam,” tutur
dia.
Arifka mengaku mendapat ampas tahu membeli dari produsen tahu di Desa Pedawang, Kecamatan Bae. Setiap satu sumur harga ampas tahu antara Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu. “Kadang kasih uang dulu, kadang ngebon. Kalau ampas tahu tidak bisa ditimbun. Karena lebih dari dua hari kerbau sudah tidak doyan,” ungkap lulusan Universitas Muria Kudus (UMK) tahun 2015.
Usaha menjual hewan ternak untuk kurban yang dia jalankan besama empat kakak sepupu, menurutnya
sudah lama. Dia menjelaskan, usaha tersebut diwarisi dari pamannya
bernama Parmin, yang katanya namanya cukup dikenal pengusaha hewan ternak ternak di Kudus. 

“Sejak kecil saya sudah
diajari berdagang ternak oleh paman. Jadi saya cukup paham,” tuturnya sambil memberikan
jerami kepada kerbau di depannya.

Menurutnya, selain kerbau dan sapi, dia juga menyediakan
kambing untuk dijual. Dalam perencanaannya, awal bulan puasa untuk menimbun
jerami. Masuk bulan Syawal mulai pengisian kandang atau membeli hewan dari peternak. “Harga
kulaan ternak untuk kambing antara Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta, kerbau dan
sapi Rp 15 juta hingga Rp 20 juta. Kalau sapi Brahma sekitar Rp 20 juta – Rp 30
juta,” terangnya.

Harga hewan ternak katanya bisa naik Rp 1 juta hingga Rp
1,5 juta saat H-7 Idul Adha. “Kalau pekan ini masih
murah. Intinya kalau lama di kandang harganya akan jatuh mahal,” tutur dia yang
mempunyai enam kerbau, empat sapi dan sepuluh kambing.

- advertisement -

Perempatan (3) Asal Usul Nama Perempatan Pejagan yang Memisahkan 3 Desa dan Kelurahan

0
SEPUTARKUDUS.COM, MLATI KIDUL Sejumlah pengendara berhenti di lampu merah perempatan tak jauh dari Rumah Sakit Aisyiyah Kudus. Perempatan itu pertemuan antara Jalan
Pattimura, Jalan HOS Cokroaminoto, Jalan Pramuka dan Jalan Mejobo. Perempatan itu juga menjadi batas
tiga desa dan kelurahan di Kecamatan Kota, yakni Desa Mlati Lor, Kelurahan Mlati Kidul dan
Kelurahan Mlati Norowito.

Perempatan Pejagan
Perempatan Pejagan Kudus. Foto: Imam Arwindra
Perempatan tersebut populer dengan sebutan Perempatan Pejagan.
Menurut Budiono Mukhsin (49), perangkat di Kelurahan Mlati Kidul, pada zaman
penjajahan Belanda perempatan itu difungsikan sebagai pos keamanan militer Belanda. Berdasarkan kisah dari kakeknya, kata pejagan diambil dari Bahasa Jawa yang berarti tempat penjagaan.
“Zaman kakek saya
namanya sudah Perempatan Pejagan. Memang dari cerita beliau (kakek) cukup logis. Secara geografis perempatan itu sangat strategis. Makanya didirikan pos penjagaan militer Belanda,” tutur dia
yang ditemui Seputarkudus.com di Kantor Kelurahan Mlati Kidul, Kecamatan Kota,
Kudus, beberapa waktu lalu.

Budiono Mukhsin, Perangkat Kelurahan Mlati Kidul, Kota, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Pos penjagaan tersebut menurutnya sekarang sudah tidak ada.
Di sekitar perempatan tersebut berdiri sebuah masjid bernama Masjid Jami’
Al-Hamid berlantai tiga dengan warna hijau. Juga terdapat Rumah Sakit Aisyiyah
dan beberapa ruko disampingnya.

Menurut cerita yang dia ketahui dari kakeknya, di sekitar Perempatan Pejagan termasuk pusat pemerintahan Belanda. Sekitar dua kilometer ke utara terdapat
Pabrik Gula Rendeng dan daerah di tiga desa Mlati yang dulu merupakan ladang tebu. 


“Dulu di depan kantor Kelurahan (Mlati Kidul) ini hutan
tebu. Jalannya masih sempit. Sekarang jalan tersebut sudah direhab empat kali,”
ungkapnya sambil menunjuk ke arah jalan yang dimaksud.

Menurutnya, masyarakat Kudus sangat mengerti tentang perempatan
Pejagan. Perempatan tersebut juga sering digunakan orang untuk patokan
menunjukkan alamat atau arah jalan. “Kalau ditanya alamatnya daerah Pejagan, pasti orang Kudus langsung tahu,” terangnya.

- advertisement -

Kitab Berhuruf Pegon Karya Ayah Gus Mus Ini Masih Jadi Panduan Calon Haji

0
SEPUTARKUDUS.COM, KERJASAN Rak berwarna hijau dipenuhi kitab-kita yang berjajar rapi di aula Madrasah Aliyyah (MA) Qudsiyyah. Di setiap kitab terdapat
selembar kertas di sampingnya yang ditempel tertulis profil. Kitab-kitab
tersebut tersedia saat kegiatan Pameran Turats Ulama Nusantara Puncak Satu Abad
Qudsiyyah belum lama ini.

kitab kh bisri mustofa
Nanal sedang menunjukkan isi kitab Tuntunan Ringkas Manasik Haji yang ditulis oleh KH Bisri Mustofa. Foto: Imam Arwindra

Satu di antara yang dipamerkan, yakni kitab berwarna coklat berukuran 16,5
x 21 sentimeter. Kitab tersebut terletak di bagian bawah sisi timur rak. Sampul kitab itu bergambar seseorang yang sedang membawa unta di gurun pasir
menuju Kakbah. Pada sampul itu juga tertulis judul kitab dalam huruf Pegon “Tuntunan Ringkas Manasik
Haji” yang ditulis KH Bisri Musthofa, yang tak lain ayahanda KH Mustofa Bisri (Gus Mus)
Rembang.
Menurut Koordinator Pameran Turats Ulama Nusantara, Nanal
Alnal Fauz (21), kitab tersebut berisikan tuntunan ibadah haji yang sampai hari
ini masih digunakan masyarakat. “Kitab tersebut berisi tata cara
manasik haji secara ringkas dan mudah dipahami,” ungkapnya saat ditemui
Seputarkudus.com saat pemeran sedang berlangsung.
Kitab fiqih haji itu menurutnya ditulis berdasarkan pengalaman muallif  semasa melakukan ibadah haji di Mekah. Kitab tersebut disertai  gambar-gambar lokasi ibadah untuk memperjelas
dan mempermudah orang untuk memahami. “Gambar-gambar tersebut sesuai yang ada
di Makkah. Saat melakukan towaf dan ada juga gambar Hajar Aswad,” tunjuknya
sambil membuka isi kitab.
Kitab yang diterbitkan Menara
Kudus pada 1963 itu, menggunakan Bahasa Jawa. “Bahasanya mudah kok. Bahasa Jawa
yang sehari-hari orang Jawa ucapkan,” tuturnya.

Pameran kitab satu abad qudsiyyah
Seorang laki-laki sedang melihat kitab yang terpajang di rak pada Pameran Turats Ulama Nusantara Satu Abad Qusdsiyyah.
Menurut Alnal, isi kitab tersebut juga disertai doa-doa dalam
menjalankan ibadah haji. Kitab sampai sekarang masih digunakan untuk masyarakat
yang akan menunaikan ibadah haji. “Kitab karangan KH Bisri Mustofa sangat
lengkap. Selain berisi tata cara ibadah, juga ada doa dan gambar yang dapat
memperjelas pembaca,” terangnya.

Dia menyarankan, untuk masyarakat yang akan menunaikan
ibadah haji agar membaca kitab karangan KH Bisri Mustofa ini. Supaya dapat
lebih siap dalam menjalankan ibadah yang masuk dalam rukun Islam kelima. “Kitab
ini cetakan Menara Kudus,” tambahnya.

- advertisement -

Belum Sempat Minum, Kevin Sempoyongan Saat Lomba Gerak Jalan Tujuh Belasan

0
SEPUTARKUDUS.COM, WERGU WETAN  – Saat bendera warna hijau merah dikibarkan, ratusan
siswa SD mulai berjalan meninggalkan garis start di depan Kantor Komite
Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kudus Kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota,
Kudus. Mereka tampak bersemangat mengikuti lomba Gerak Jalan
yang diadakan oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pendidikan Kecamatan Kota,
Kabupaten Kudus, walau matahari menunjukkan pukul 14.00 WIB.

gerak jalan agustusan
Peserta Gerak Jalan terlihat sempoyongan, ketika mencapai garis finish. Foto: Imam Arwindra
Suara pluit yang ditiup ketua regu masih terdengar kencang. Setiap
regunya terdapat satu ketua regu dan 10 anggota. Mereka memakai sepatu dan
pakaian yang disesuaikan dengan almamaternya. “Kiri, kanan, kiri, kanan,” teriak
regu yang berpakaian merah putih dan dikepang rambutnya. Mereka berjalan dari
Jalan Gor menuju Alun-alun Kudus melalui Gang 4.
Sebagian siswa SD dan MI berjalan sempoyongan saat berjalan di Jalan Jendral
Sudirman kawasan Pentol. Di antaranya Kevin, siswa SDN 3 Demaan itu mengaku lelah saat berjalan sampai Pentol. “Perjalanannya jauh, dan
sebelumnya (gerak jalan) saya belum minum,” tutur dia yang ditemui Seputarkudus.com
selepas kegiatan.

gerak jalan agustusan
Peserta regu putri meninggalkan garis start lomba Gerak Jalan.
Sambil mengusap keringat di dahinya, dia menuturkan, bersama
temannya dari awal start sudah tancap gas. Menurutnya, ada 10 regu yang
berhasil disalipnya. “Kami sangat bersemangat. Walaupun tadi sedikit agak
sempoyongan. Akhirnya bisa sampai finish,”  tutur dia yang memakai atasan putih, celana dan
topi merah.
Adit yang juga dari SDN 3 Demaan menuturkan, kegiatan lomba Gerak
Jalan yang diikutinya cukup mengasikkan. Selain untuk memperingati hari
kemerdekaan Indonesia ke-71, juga sekaligus untuk berolahraga. “Hari ini cukup
melelahkan. Karena kami tadi gas pol,” tambah dia yang berbaris pada
barisan kedua.
Ketua panitia kegiatan lomba Gerak Jalan Supriyanto (55) menuturkan,
lomba yang diadakan UPT Pendidikan Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus diikuti oleh
123 regu dari seluruh SD atau MI yang ada di Kecamatan Kota, Kudus. Dia merinci,
63 regu putra dan 60 putri. “Setiap regunya ada 11 orang. Satu pemimpin regu
dan 10 lainnya anggota,” ungkap dia yang memakai topi hitam.

gerak jalan agustusan
Kevin dan Adit, peserta Gerak Jalan.
Kepada Seputarkudus.com dia mengungkapkan, kegiatan lomba
yang diikuti siswa SD ini menurutnya sudah setiap tahun diselenggarakan.
Kegiatan ini juga sebagai peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-71.
“Kami harapkan anak-anak yang mengikuti kegiatan ini dan umumnya di Indonesia
agar mempunyai jiwa patriotisme dan cinta tanah air. Terkhusus, dalam mengikuti
lomba harus terbiasa sportif,” ungkap dia yang juga kepala SDN 1 Mlati Kidul.
Terkait keamanan peserta
lomba, dia mengaku sudah mempersiapkan medis dan keamanan peserta. Menurutnya,
para peserta akan berjalan sejauh 5,5 kilometer dengan start dan finish di
depan Kantor Koni Kudus. “Dari Puskesmas sudah siap, Polisi, TNI dan petugas Dishub
(Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kab Kudus),” tuturnya.

- advertisement -

Hanya Bermodal Jepretan Ponsel Tiongkok, Mahasiswa UMK Ini Kalahkan Peserta Berkamera DSLR

0
SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Gambar topeng tampak menonjol pada desain grafis berlatar
warna biru langit. Topeng itu mengenakan sebuah ikat kepala batik
berwarna coklat dan kuning keemasan. Desain yang dibuat berdasarkan tema “Senyum Pesona
Solo” tersebut dibuat Pambudi Utomo pada ajang lomba desain poster kegiatan Pekan Seni
Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jawa Tengah ke-13 tahun 2016 di Universitas
Muhammadiyyah Surakarta (UMS), beberapa waktu lalu.

Lomba design poster Peksimida jateng
Pampam sedang menunjukkan hasil poster yang dibuatnya saat Lomba Poster Peksimida Jawa Tengah di UMS. Foto: Imam Arwindra
Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muria Kudus (UMK) itu mendapatkan peringkat ketiga terbaik pada lomba tersebut. Pampan, begitu dia akrab disapa, mengungkapkan,
gambar topeng diambilnya dari Museum Keraton di Surakarta. Menurutnya,
sebelum mendesain, peserta lomba diberikan waktu satu jam setengah untuk
mencari bahan di dalam museum. 

“Peserta yang lain menggunakan kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex), saya hanya pakai ponsel Android Xiaomi. Ya
memang punyanya hanya itu,” tutur Pampan sambil menunjukkan ponsel yang diambil dari
kantong celananya, Kamis (9/8/2016).

Menurut Pampam, hasil dari foto tersebut
nantinya digunakan sebagai gambar utama pada desain yang dibuat. Dia menuturkan, dengan
memakai perlengkapan seadanya tidak menyulutkan niatnya untuk membuat desaign
sebagus mungkin. 

“Wah, peserta yang lain keren-keren, pakai DSLR dan
perlengkapannya lengkap. Saya hanya bermodal Xiaomi dan laptop Samsung 2 GB,”
tutur dia yang masih duduk di semester lima Jurusan Sistem Informasi.

Lomba design poster Peksimida jateng
Pambudi Utomo aka Pampam. Foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com dia mengaku ingin membuat
desain dengan suasana yang sejuk, anggun dan hidup. Seketika dia memilih objek
topeng yang berada di museum. Menurutnya, topeng-topeng
tersebut terdapat mimik muka yang unik dan terasa hidup. 

“Sebenarnya saya
memilih dua topeng untuk fokus desain. Namun, topeng yang satu wajahnya
terlihat garang. Akhirnya hanya saya ambil mata dan mulutnya untuk pemanis
saja. Saya lebih fokus pada topeng yang tersenyum. Karena orang Jawa itu sumeh
(murah tersenyum) ” terangnya sambil memperbesar gambar poster yang dibuat.

Di samping desain topeng, Pampan memberikan tambahan warna-warni bangun persegi
panjang yang menurutnya akan menambah kesan halus. “Ini yang paling menarik,
sisi atas topeng, saya beri bunga-bunga yang dikasih warna membentuk tulisan
SPS,” tambah dia.

Bunga-bunga tersebut menurutnya terinspirasi dari kain batik
yang dilihatnya ketika di jalan. “Saat di bus menuju tempat lomba, saya melihat
potongan kain batik yang dijual di toko. Batik tersebut bermotif bunga-bunga
yang akhirnya saya cantumkan pada desain,” tutur dia.

Peksimida jateng

Dalam kegiatan tersebut, dia hanya diberikan waktu lima jam
setengah. Satu setengah jam untuk mencari materi dan empat jam untuk pengolahan
materi. Menurutnya dia memakai aplikasi Adobe Illustrator CS 6 dan Adobe
Photoshop CS 6. “Alhamdulillah saya dapat nomor tiga. Nomor satu dari Udinus (Universitas
Dian Nuswantoro) dan nomor dua dari UMS sendiri,” ungkapnya.


Menurut Dosen Sistem Informasi (SI) UMK Syafiul Muzid, pihak kampus sangat mendukung mahasiswanya dalam berkreativitas. Dia mengungkapkan, ada wadah khusus yang dibuat mahasiswa SI untuk belajar desain, yakni SI Cyber Rosok. “Itu yang buat mahasiswa sendiri. Pencetusnya salah satunya Pampam. Cyber Rosok artinya apa Pam?” Tanya dia kepada Pampam.

Syafiul Muzid yang juga Ketua Penerimaan Mahasiswa Baru UMK mengungkapkan, kegiatan tersebut sangat baik untuk memicu adik angkatan kelas supaya bisa berkarya dan menjadi juara. “Kalau dari mahasiswa fakultas lain ingin ikut juga bisa,” tambahnya.

- advertisement -

Perempatan (2) Sucen Terletak Tak Jauh dari Sumur untuk Mensucikan Tamu Sunan Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, LANGGAR DALEM – Kelap-kelip lampu kuning
terlihat di empat arah perempatan yang mempertemukan Jalan Menara, Jalan KH
Turaichan Adjhuri, Jalan KH Ahmad Dahlan, dan Jalan KH Arwani. Lampu lalu lintas itu berjarak 450 meter dari
Menara Kudus. Masyarakat menyebutnya Perempatan Sucen itu, juga menjadi batas pertemuan
antara Desa Langgar Dalem, Kelurahan Kerjasan dan Kelurahan Kajeksan, Kecamatan
Kota, Kabupaten Kudus.

Perempatan Sucen Kudus
Suasana perempatan Sucen. Foto: Imam Arwindra

Menurut perangkat Desa Langgar Dalem Farid Setiawan (40),
kata sucen yang populer untuk penamaan perempatan utara Menara Kudus, tidak berasal nama desa atau kelurahan di Kabupaten Kudus. Karena memang tidak ada desa atau kelurahan dengan nama sucen atau pasucen di Kudus. 

Dia menjelaskan, kata sucen atau pasucen berasal
dari kata pasucian. Menurut cerita yang dia ketahui, dulu ketika ada orang
dari luar Kudus ingin berkunjung ke kediaman Sunan Kudus harus disucikan dengan
disiram air. 

“Ada sumur yang digunakan untuk menyiram para pengunjung yang
ingin sowan ke dalem (rumah) Sunan Kudus. Letaknya di Desa Krandon,” tutur Farid saat ditemui Seputarkudus.com di Balai Desa Langgar Dalem, Kecamatan Kota,
Kudus, belum lama ini.

Farid menyebutkan, sumur itu berada di utara Perempatan Sucen
tak jauh dari tempat pembuangan sampah (TPS). Nama sumur tersebut yakni Sumur Tulak. “Air sumur tersebut sering
digunakan masyarakat untuk tolak balak,” tambahnya.

Perempatan Sucen Kudus
Lokasi Sumur Tulak yang tidak jauh dari Perempatan Sucen.
Menurutnya, kata pasucian oleh masyarakat berubah
menjadi pasucen yang akhirnya diringkas menjadi sucen. “Kata sucen akhirnya
digunakan di kawasan tersebut, termasuk penamaan perempatan,” jelasnya.
Farid mengungkapkan, dia tidak terlalu mengetahui sekarang sumur
talak masih ada atau tidak. Menurutnya, lokasi sumur tersebut sudah dibangun
rumah joglo. “Waktu saya masih kecil sempat melihat sumur tersebut. Jadi sumurnya
seperti belik (sumber air) yang cukup lebar,” tutur dia sambil menggambarkan
bentuk sumur tersebut dengan tangannya.

Perempatan Sucen Kudus
Farid Setiawan
Berdasarkan pantauan, sumur tersebut berada di sebelah barat Jalan KH Moh Arwani Desa
Krandon, Kecamatan Kota. Sumur tersebut berada di dalam sebuah rumah joglo
dengan atap berwarna hijau. Terdapat ukiran-ukuran kayu jati di pintu dan jendelanya
dengan tembok yang masih terlihat bata merah. Terdapat dua ruangan, yakni
sebelah selatan untuk ruang solat dan sisi utara tempat dimana sumur tulak
berada.
- advertisement -

Perempatan (1) Mengapa Perempatan di Demangan Ini Disebut Mojopahit? Ini Jawabannya

0
SEPUTARKUDUS.COM, DEMANGAN Tembok bangunan ini masih berbahan kayu dengan
genting tanah merah yang mulai kusam. Di sisi depan rumah terdapat tempat
pengisian ulang air minum yang mengahadap ke barat dengan label nama Ozone. Bangun tersebut diapit dua rumah lainnya, sisi selatan rumah Bidan Dyah Ekowati
dan sisi utaranya Toko Listrik 29. Letak rumahnya dekat dengan perempatan yang
populer dengan nama Perempatan Mojopahit.

Perempatan Mojopahit Kudus
Kawasan Perempatan Mojopahit, Demangan, Kota, Kudus. Foto: Imam Arwindra
Bangunan yang terletak di Desa Demangan, Kecamatan
Kota, Kabupaten Kudus tersebut, menurut Nur Mukhlis (40) pemilik bangunan, dulu merupakan pabrik tenun dengan nama Mojopahit. 

“Orang
Kudus pasti paham dengan Perempatan Mojopahit. Toko-toko di sekitar perempatan pun
banyak yang menggunakan nama Mojopahit, misalnya Mojopahit Cell, Mojopahit Jok,
Toko Mojopahit, termasuk pabrik tenun milik ayah saya,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.

Mukhlis mengatakan, berdasarkan cerita dari ayahnya, dulu sebelum pabrik tenun berdiri, perempatan
tersebut sudah disebut Perempatan Mojopahit. Menurut cerita ayahnya, ketika
zaman kerajaan ada pedagang dari Mojokerto yang selalu berdagang di sebelah
perempatan tersebut. 

“Karena daerah Mojokerto berdiri kerajaan Majapahit, dia mungkin
kemudian dikenal pedagang dari Kerajaan Majapahit. Dan akhirnya nama perempatan
tersebut disebut warga dengan sebutan Perempatan Mojopahit,” terangnya.

Tak jauh dari perempatan yang mempertemukan Jalan Kyai
Telingsing, Jalan KH Noor Hadi dan Jalan
Dr Wahidin Sudiro Husodo, menurut Mukhlis dulu terdapat
bangunan satu lantai. Bangunan itu oleh ayahnya bernama Munajat, dibuat tempat produksi kain tenun ketika zaman penjajahan Jepang.

Nur Mukhlis, generasi pabrik tenun Mojopahit. Foto: Imam Arwindra

“Pabrik tenun ayah saya sudah berhenti produksi lama. Dan bangunannya sekerang saya tempati bersama keluarga,”
jelasnya.

Mukhlis menuturkan, produk yang dihasilkan dari perusahaan
ayahnya dibuat menggunakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Pemasaran ketika zaman penjajahan Jepang sudah sampai di daerah Sumatra dan
luar Jawa. “Alat produksinya seperti yang ada di Troso Jepara. Masih
alami menggunakan tenaga manusia,” tambahnya.
Dia menceritakan, perusahaan ayahnya bangkrut
sekitar tahun 1965 karena ada konflik politik Partai Komunis Indonesia (PKI).
Saat itu, orang yang dituduh PKI ditangkap. Efeknya terjadi penjarahan
di mana-mana dan perusahaan milik ayahnya juga ikut terkena penjarahan. “Akhirnya
seluruh alat dijual ke Troso,” tuturnya.

- advertisement -

Gus Mus: Teladanilah KHR Asnawi yang Menyintai Indonesia

0
SEPUTARKUDUS.COM, DAMARAN Ratusan lilin dinyalakan di tengah
acara pengajian umum pada Puncak Peringatan Satu Abad Qudsiyyah di Jalan KHR Asnawi, Sabtu (6/8/2016), yang menghadirkan KH Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus). Terdengar suara derap
kaki orang berjalan membawa bendera Merah Putih dan Qudsiyyah menuju panggung
utama. Suara lantunan puisi terdengar menggema di tengah kerumunan pengunjung yang hadir.

Puisi Satu Abad Qudsiyyah Kudus
Nyala lilin Satu Abad Qudsiyyah Kudus. Foto Imam Arwindra

Saat lampu mulai terang kembali, Gus Mus menuju panggung dengan diiringi puluhan orang
yang memakai ikat kepala. Dalam acara tersebut, dia didaulat untuk menceritakan kearifan KHR Asnawi,
pendiri Madrasah Qudsiyyah yang juga pendiri Nahdhatul Ulama. Menurut dia, satu di antara pemikiran yang bisa dijadikan teladan yakni kecintaannya pada Indonesia.

Menurut Gus Mus, KHR Asnawi mencintai Indonesia bukan
karena konsep nasionalisme, melainkan karena pemikiran sederhananya. “Saya
dilahirkan di tanah Indonesia, sujud di tanah Indonesia, maka Indonesia adalah
rumah saya, dan siapa yang mau menginjak-injak dan merusak rumah saya, akan
saya lawan,” kata Gus Mus yang disambut gemuruh tepuk tangan peserta yang hadir.

Gus Mus di acara Satu Abad Qudsiyyah Kudus. Foto: Imam Arwindra

Gus Murs menceritakan, dahulu KHR Asnawi
mencari ilmu bukan hanya di Indonesia, tapi juga di luar negeri. Menurutnya,
KHR Asnawi cukup lama belajar di Arab. “Ada yang tahu berapa tahun beliau (KHR
Asnawi) di Arab?” tanya Gus Mus kepada ribuan pengunjung yang hadir.

Dia melanjutkan, KHR Asnawi bertahun-tahun tinggal di Arab, namun tidak
pernah lupa dengan Indonesia. Saat masih di Arab, KHR Asnawi bersama KH
Hasyim Asy’ari selalu memikirkan bagaimana kemerdekaan Indonesia dapat diraih.
Bahkan dalam selawatnya juga terdapat bait kata yang menyebut Indonesia Raya aman.
“KHR Asnawi sering berdoa di Multazam untuk Indonesia,” terangnya.
Gus Mus yang juga
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU), mengungkapkan, satu di antara
keteladanan dari KHR Asnawi yang bisa diikut yakni semangat dalam mencari ilmu.
Menurutnya, hal tersebut sangat tepat, karena saat ini generasi
muda mudah lelah dalam mencari ilmu. “Baru sebentar sudah merasa cukup dengan
ilmunya. Setelah lulus MI (Madrasah Ibtidaiyyah) melanjutkan ke MTs (Madrasah
Tsanawiyyah), setelah lulus nikah,” sindir Gus Mus yang mengundang tawa.

Menurutnya, KHR Asnawi sangat haus akan ilmu. Dia berpindah-pindah
tempat dalam menuntut ilmu. Tidak hanya satu syaikh saja, melainkan banyak
syaikh yang didatangi untuk diserap ilmunya. “Sehingga dalam berdakwah
beliau memiliki apa yang dinamakan ruuhud da’wah,” jelas Gus Mus.

Dia menambahkan, sekarang sedang masanya krisis ruhud
da’wah
. Istilah dakwah sudah mengalami pergeseran makna. Dakwah sering disamakan dengan amar ma’ruf nahi munkar, padahal berbeda. Menurutnya, dakwah
memiliki arti mengajak, sedangkan amar ma’ruf memerintah. “Nahi adalah melarang. Jadi jelas konteksnya berbeda,” terangnya.

- advertisement -

Santri Qudsiyyah Ini Selalu Terjatuh Saat Berhadapan dengan Penjaga Gawang

0
SEPUTARKUDUS.COM, DAMARAN – Tiupan pluit terdengar keras di depan
panggung utama Expo Satu Abad Qudsiyyah Jalan KHR Asnawi, Desa Damaran,
Kecamatan Kota, Kudus. Suara pluit tersebut menandakan permainan futsal antarsiswa Madrasah Qudsiyyah dimulai. Di lapangan seluas 6×4 meter, mereka berebut
bola untuk dimasukkan kegawang lawan. Kesulitan para pemain terlihat saat
mereka menggiring dan mengoper bola. Mereka harus memakai sarung secara
berkelompok. “Duh, sulitnya. Tidak gol-gol,” ungkap Ahmad satu diantara peserta
yang sedang bertanding.
 

dolanan santri satu abad qudsiyyah
Santri Qudsiyyah sedang bermain bola dalam kegiatan Dolanan Santri di puncak Satu Abad Qudsiyyah, Jumat (5/8/2016). Foto: Imam Arwindra.
Terlihat, setiap tiga pemain mengekenakan satu sarung dan seorang
penjaga gawang diikat tangannya kebelakang. Menurut Ahmad, satu di antara santri yang okut bermain, ini permainan bola
tersulit yang pernah diikutinya. “Tadi mau ngegolin, eh malah
terjatuh. Yang bikin susah karena pakai sarung. Tiga orang lagi,” tutur dia penuh
kesal selepas pertandingan futsal dalam kegiatan Dolanan Santri, Jumat
(5/8/2016).

Meski begitu dia mengaku mengaku senang bisa ikut bermain futsal
dengan cara yang unik. “Walau saya tidak bisa membuat gol dan ikut terjatuh,
saya senang,” tambah dia yang masih kelas 10 MA Qudsiyyah.
Alvin Zulfiansah panitia pelaksana Dolanan Santri
mengungkapkan, sepak bola termasuk satu di antara permainan yang sering
dimainkan santri. Kali ini pihaknya menambahkan aksesoris sarung supaya
terlihat unik dan menarik. “Setiap tim ada 10 orang. Setiap tiga pemain memakai
sarung satu. Untuk kipernya tangannya harus diikat ke belakang,” terangnya yang
masih duduk dikelas 12 MA Qudsiyyah.

dolanan santri satu abad qudsiyyah
Menurutnya, dengan dipakaikannya sarung para pemain akan
kesulitan dalam membuat gol. Mereka harus bekerja sama dan kompak jika ingin
memenangkan pertandingan. “Kalau ingin gol tidak boleh egois, harus
bekerjasama,” tutur dia.
Dalam laga tersebut, terdapat delapan tim yang bertanding. Menurut
Alvin, mereka berasal dari murid Mts dan MA Qudsiyyah. Pertandingan tersebut
akan dibagi menjadi empat laga pertandingan. “Pemenangnya nanti diambil satu,
dua dan tiga,” terangnya.

dolanan santri satu abad qudsiyyah
Dia memberitahukan, kegiatan Dolanan Santri sudah dimulai
sejak pukul 08.00 WIB. Ada beberapa permainan selain sepak bola, diantaranya,
lomba egrang, batiak, balap cendok klereng dan pecah balon. “Ini juga ada
panjat pucang. Itu sedang mau didirikan,” ungkap dia sambil menunjuk pohon
pucang yang sedang berupaya didirikan.

- advertisement -

Meski Sekolahnya di Tengah Sawah, Siswa-Siswi Ini Tak Minder Hadapi Anak-Anak Kota

0
SEPUTARKUDUS.COM, MLATI NOROWITO – Suara pluit terdengar dari jalan tak jauh dari persawahan
Kelurahan Norowito, Kecamatan Kota, Kudus. Terlihat anak-anak mengenakan seragam coklat dan topi merah putih sedang berjalan berbaris menyusuri jalan di
depan Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus. Mereka yakni siswa SDN 3 Mlati Norowito yang tengah berlatih untuk mengikuti lomba. Mereka dibagi menjadi dua regu, yakni regu perempuan dan laki-laki.
gerak jalan agustusan
Siswi SDN 3 Mlati Norowito sedang berlatih gerak jalan. Foto: Imam Arwindra

Sesekali mereka menyanyikan lagu kebangsaan sambil
menyelaraskan gerakan kaki dan tangan sehingga terlihat kompak. Satu di antara siswa yang berlatih 
yakni Dicki (8). Dia mengaku sedang berlatih gerak jalan untuk
mengikuti lomba yang diselenggarakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pendidikan Kecamatan Kota. Meski sekolahnya dikelilingi sawah, dia yakin bersama teman-temannya bisa menjadi
pemenang. 

“Sekolahku letaknya di dekat sawah dan tidak elit. Namun aku tidak
minder dan selalu semangat,” ungkap dia saat ditemui Seputarkudus.com selepas
latihan, belum lama ini.

Kegiatan lomba gerak jalan yang dijadwalkan tanggal 11
Agustus 2016, menurut Kepala SDN 3 Mlati Norowito Endang Ekanti Hermintari, diikutinya
seluruh sekolahan SD dan sederajat  di Kecamatan Kota. Dia mengungkapkan,
akan mendelegasikan dua regu terdiri dari laki-laki dan perempuan. Setiap regunya
terdiri dari 11 siswa.

Kepala SDN 3 Mlati Norowito Endang Ekanti Hermintari. Foto: Imam Arwindra

“Lomba ini yang mengadakan UPT Pendidikan Kecamatan Kota
dengan peserta siswa SD. Jadi hanya sekolah SD dan sederajat di Kecamatan Kota
yang mengikutinya,” terangnya.

Dia menjelaskan, setiap hari dia melatih anak didiknya
supaya siap mengikuti lomba. Menurutnya, dia lebih menitikberatkan pada
keberanian anak dan daya tahan tubuh. “Itu supaya saat tampil anak tidak
minder. Kami juga memberi motivasi supaya anak secara mental sudah siap, mengingat sekolah kami tidak berada di wilayah perkotaan,” ungkapnya.
Latihan, menurutnya lebih banyak
dilakukan di luar. Dia beralasan, ketika banyak bertemu orang di jalan akan
meningkatkan mental anak didiknya. “Sebenarnya kami serba kekurangan. Ini saja
yang melatih bukan guru khusus olahraga. Namun kami tidak minder dan tetap
semangat mengikutinya,” ungkapnya.

- advertisement -

Mahasiswa UMK Ciptakan Aplikasi Wisata di Kudus, Bulan Ini Dilombakan di IPB

0
SEPUTARKUDUS.COM, UMK Rutenya memperlihatkan arah jalan menuju Musium Kretek
Kudus. Di layar ponsel terlulis rute dari Universitas Muria Kudus (UMK)
menuju Musium Kretek dapat ditempuh  selama
19 menit dengan jarak 7,6 kilometer. Aplikasi pariwisata yang terkoneksi dengan
Google Map tersebut juga memberikan pilihan jalan alternatif. Aplikasi tersebut dibuat mahasiswa UMK yang akan dilombakan di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas)
ke-29 Tahun 2016 di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Temuan Aplikasi Mahasiswa UMK
Temuan Aplikasi Mahasiswa UMK. Foto: Imam Arwindra

Aplikasi Android bernama My Tour Guide diciptakan tiga mahasiswa
Teknik UMK. Mereka yakni Ardi Irfanto, Desty Amalia Puspa Sari dan Anis Fajar Prakoso.
Menurut Ardi,
aplikasi yang dibuatnya mempermudah wisatawan untuk berkunjung ke tempat-tempat wisata di Kudus. 

“Aplikasi ini terkoneksi langsung dengan Google Map. Jadi lewat
ponsel langsung bisa mengetahui arah dan letak tempat pariwisata yang ingin
dituju,” tuturnya saat ditemui di Kampus UMK, Jumat (5/8/2016).

Dia menjelaskan, aplikasi berbasis Java Eclipse selain
menyuguhkan fitur tempat wisata juga mengabarkan kondisi cuaca, tempat-tempat
kuliner, pasar dan kegiatan-kegiatan yang ada di Kudus. “Aplikasi ini fokus di Kabupaten
Kudus saja. Selain itu juga ada informasi tempat UMKM (usaha mikro kecil dan menengah), namun sedang masa pengembangan,”jelasnya.
Menurutnya, My Tour Guide yang hanya berkapasitas 2
MB ini sudah dapat diunduh gratis di Play Store. Dia menuturkan, My Tour Guide dibuatnya
mulai akhir Februari 2016 hingga Juni 2016. “Setiap malam bersama teman-teman
saya begadang untuk menyelesaikannya. Aplikasi ini sudah dapat dijalankan di Android dengan RAM 1 GB,” ungkapnya.

Temuan Aplikasi Mahasiswa UMK

Dalam menyelesaikan My Tour Guide, katanya, semua biaya ditanggung
oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia. Dia menceritakan, bersama dua temannya dia
mengikuti Progam Kreativitas Mahasiswa (PKM) Karsa Cipta yang diadakan oleh
Dikti. Setelah proposal diajukan, ternyata bisa lolos. “Ini tanggal 8-11
Agustus 2016 kami mengikuti Pimnas di IPB. Kami peserta satu-satunya dari
kampus di Karisidenan Pati,” tuturnya.

Menurutnya, ide pembuatan aplikasi pariwisata berasal dari
temannya yang bekerja di biro perjalanan. Setelah berdiskusi, akhirnya jadilah
aplikasi pariwisata dengan nama My Tour Guide. “Pada fitur wisata terdapat  dua pilihan. Yakni wisata alam dan religi,”
tambahnya.

Ardi memberitahukan, aplikasi yang dibuatnya sudah
didaftarkan hak cipta. Menurutnya, aplikasi tersebut akan terus dikembangkan
untuk ikut memajukan pariwisata yang ada di Kudus. “Saya asli orang Kudus.
Bangga bila bisa ikut menjaga budaya dan memajukan pariwisata di daerah
sendiri,” ungkap dia yang masih kuliah jurusan Teknologi Informasi semester
lima UMK.

- advertisement -

Dengan Teknik WPAP, Huda Bisa Rubah Gambar Wajahmu Lebih Berkarakter

0
SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI Foto-foto tersebut berjejer
rapi di dekat pintu masuk utara Konser Pemuda untuk Indonesia di lapangan Hawe,
Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus. Terlihat foto-foto tersebut sudah
dibingkai menggunakan kayu dengan dengan berbagai ukuran. Foto-foto yang mengambarkan wajah manusia di antaranya,
personil group band Last Child, Bob Marley, Gus Dur, Mahatma Gandhi, Obama dan
artis Natasya Willona penuh dengan warna-warni palet.

gambar WPAP
Gambar WPAP karya Mohammad Nurul Huda. Foto: Imam Arwindra
Menurut Mohammad Nurul Huda pembuat foto tersebut, foto
itu dibuat dengan jenis Wedha’s Pop Art Potrait (WPAP) yang dia jual saat
pelaksanaan konser Last Child dan Souljah Minggu (31/7/2016). Menurutnya, seni
WPAP yang khas akan warna pop art mulai diminati lagi. 

“Rata-rata yang suka
anak-anak muda. Tadi gambar personil Last Child banyak yang terjual. Ini ada dari
Purwosari yang minta dibuatkan foto keluarga dengan model WPAP,” ungkap dia
kepada Seputarkudus.com saat konser yang diadakan Dewan Perwakilan Daerah (DPD)
Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kudus masih berlangsung.
Dia menjelaskan, WPAP yakni seni warna pop art yang ditemukan
oleh seniman Wedha Abdul Rasyid. Dalam pembuatannya harus menggunakan garis
siku tidak boleh menggunakan garis mlengkung. Menurutnya, kesulitan dalam
membuat foto WPAP pada pemaduaan antara warna gelap dan terang. “Masih
kesulitan jika hanya belajar sekali dua kali. Perlu waktu panjang
mempelajarinya,” ungkap dia yang fokus belajar WPAP selama tiga bulan.

Huda yang beralamat di Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti,
Pati menuturkan, selain membuat gambar tokoh dan artis, dia juga sering mendapatkan
order membuatkan foto WPAP sesuai pesanan. “Biasanya untuk kado atau hadiah,”
tambahnya yang juga aktif di komunitas WPAP chapter Pati.

Harga yang diberikan untuk satu wajah menurutnya murah,
yakni Rp 120 ribu hingga Rp 150 ribu. Jika foto-foto tokoh dan artis yang
sudah dibingkai ukuran 40×50 sentimeter Rp 50 ribu, 40×60 sentimeter Rp 60 ribu
dan 60×80 sentimeter Rp 70 ribu. “Rp 120 ribu sampai Rp 150 ribu masih soft file ya, belum dicetak. Kalau dicetak
spanrame tambah Rp 50 ribu,”
terangnya.

gambar WPAP
Mohammad Nurul Huda seniman WPAP
Menuturnya, harga tersebut terbilang murah. Dia membandingkan, harga desain WPAP untuk satu wajah di kota-kota besar
mencapai Rp 350 ribu hingga Rp 450 ribu. “Di sini sudah murah kalau di Jakarta
dan kota-kota besar mencapai Rp 350 ribu hingga Rp 450 ribu,” ungkap dia sambil
memegang foto Harry Potter.

Dia yang menjalankan bisnis WPAP dengan nama Warna Art Media
menceritakan, dulu ketika masih belajar dia hanya sebagai pemasaran bisnis WPAP
milik temannya. Namun sebulan terakhir, dia sudah mulai memproduksi sendiri. 

“Pemasarannya
lewat Instragram, Facebook, BBM dan Whatsapp dengan nama Warna Art Media. Untuk
yang mau pesan cukup kirim foto ke kami bisa lewat Whatsapp 08995566695. Desain WPAP juga bagus untuk dijadikan kaos,” tambah dia sambil memberikan kartu
namanya. 

- advertisement -

Satu Abad Qudsiyyah, Cak Nun: Selawat Asnawiyyah Mirip Lagu Muhammadiyyah

0
SEPUTARKUDUS.COM, QUDSIYYAH Ribuan orang duduk mendengarkan
lantunan selawat yang dibawakan Kiai Kanjeng, Rabu (3/8/2016). Mereka memadati lapangan
Qudsiyyah hingga meluap ke Jalan KHR Asnawi Desa Damaran, Kecamatan Kota,
Kabupaten Kudus. Dalam acara peringatan Satu Abad Qudsiyyah tersebut, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) menyatakan, nada selawat yang diciptakan KHR Asnawi itu mirip lagu Kiai Kanjeng yang diambil
dari Muhammadiyyah.

Cak Nun Satu Abad Qudsiyyah Kudus
Cak Nun dan Kiai Kanjeng dalam Satu Abad Qudsiyyah Kudus. Foto: Imam Arwindra
Fatah, satu di antara pengunjung yang hadir, mengaku
penasaran dengan nada Selawat Asnawiyyah yang katanya Cak Nun mirip dengan lagu “Duh Gusti” yang diambil dari Muhammadiyyah. “Saya penasaran dengan perkataan Cak
Nun yang katanya Selawat Asnawiyyah sama dengan lagu dari Muhammadiyyah. Ini
sudah mulai (Selawat Asnawiyyah di lantunkan),” tutur Fatah dalam acara bertema “Mendaulat
Selawat Asnawiyyah Menjadi Selawat Kebangsaan”.
Suara gesekan biola dan reabana mengawali lantunan Selawat
Asnawiyyah yang dibawakan Kiyai Kanjeng. Dengan vokal utama suara laki-laki dan
backing vokal perempuan, Selawat Asnawiyyah dimankan selama enam menit. “Ini
mungkin masih kurang pas. Saya minta santri-santri Qudsiyyah yang
menyanyikannya,” tutur Cak Nun meminta vokal dari Qudsiyyah.
Kiai Kanjeng kemudian memulai Selawat Asnawiyyah kembali dan diikuti ribuan
peserta yang hadir. “Selawat Asnawiyyah sudah, sekarang lagu ‘Duh Gusti’,” ungkap
Cak Nun yang mengundang rasa penasaran.

Duh Gusti, mugi paringo ing margi kaleresan. Kados
margineng menungso kang manggih kanikmatan. Sanes margining menungso kang
paduko laknati. Eling-eling siro menungso. Uripmu ono ing alam dunyo
,” demikian lantun
“Duh Gusti” yang juga divokali oleh Cak Nun.
Menurut Fatah, nada awal pada lagu “Duh Gusti” dan Selawat
Asnawiyyah sama. “Tadi di nada awal mirip. Tapi setelah itu berbeda,” ungkap
dia yang datang dari Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kudus.

Pengajian Cak Nun Kiai Kanjeng Qudsiyyah Kudus

Cak Nun  menjelaskan,
lagu “Duh Gusti” digarapnya bersama Nafi Budianto dari Jogjakarta. Lagu
tersebut diambilnya dari Muhammadiyyah. “Memang suatu ketika (NU dan
Muhammadiyyah) akan bertemu. Entah waktunya singkat atau beratus-ratus tahun,”
ungkap dia yang disambut tepuk tangan penonton.

KH M Najib Hassan, Ketua Yayasan Qudsiyyah mengungkap, saat
ini tempat pelaksanaan pengajian terletak di antara SD Muhammadiyyah dan MTs NU
Banat, Qudsiyyah berada di tengahnya. “Ini sungguh tidak di-nyana-nyana. Semoga ini
bisa membawa barokah kepada Qudsiyyah,” tuturnya.
Dalam pelaksanaan kegiatan Mendaulat Selawat Asnawiyyah
Menjadi Selawat Kebangsaan, menurut Najib, Selawat Asnawiyyah
bukan hanya milik orang Kudus saja melainkan milik masyarakat Indonesia. Dia
menjelaskan, Selawat Asnawiyyah mengandung nilai-nilai kebangsaan yang baik diikuti oleh masyarakat Indonesia. “Makanya kami memilih Cak Nun untuk mendaulat
Selawat Asnawiyyah, karena Cak Nun adalah tokoh yang pas,” tuturnya.

Selain itu, dia mengungkapkan Selawat
Asnawiyyah dibuat KHR Asnawi yang juga sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama
(NU). Menurutnya, saat KHR Asnawi mengajar kitab Hadits Bukhori di Masjid
Menara, sebelum pengajian dimulai selalu membaca Selawat Asnawiyyah. Kemudian dilanjutkan
KH Arwani Amin. 

“Sekarang yang melanjutkan KH Sya’roni Ahmadi. Namun belum
diawali Selawat Asnawiyyah. Semoga setelah di launching Cak Nun, sebelum
pengajian akan dibacakan Selawat Asnawiyyah terlebih dahulu,” tuturnya.

- advertisement -

Kitab Fasholatan KHR Asnawi Hingga Kini Masih Dimalkan Masyarakat di Indonesia

0
SEPUTARKUDUS.COM, KERJASAN – Ratusan kitab tersusun rapi di setiap
sudut ruangan aula Madrasah Aliyyah (MA) Qudsiyyah Kudus. Kitab-kitab tersebut
diletakkan dalam rak buku yang disampingnya terdapat penjelasan mengenai isi kitab. Beberapa
dari kitab tersebut, nampak sudah lusuh, menandakan pembuatannya sudah lama.

kitab fasholatan
Kitab Fasholatan. Foto: Imam Arwindra

Di bagian selatan ruangan, kitab bersampul hijau tampak mencolok di antara kumpulan kitab-kitab. Sampul kitab bergambarkan masjid dengan
gerbang bertiang empat. Kitab tersebut bernama Fasholatan berisi amaliyah salat KH
Raden Asnawi yang ditulis cucunya, Minan Zuhri Asnawi.  Menurut Koordinator Pameran Turats Ulama Nusantara, Nanal Alnal Fauz
(21), kitab Fasholatan tersebut sampai sekarang masih dipergunakan di pesantren-pesantren
seluruh Indonesia. 


“Di awal masuk pesantren pasti kitab Fasholatan dipelajari. Karena
kitab tersebut mempelajari tentang dasar-dasar agama, yakni salat, wudlu dan
lainnya,” ungkap dia saat ditemui di pameran pada
Puncak Peringatan Satu Abad Qudsiyyah, Selasa (2/8/2016).
Menurutnya, kitab yang dicetak Percetakan Menara Kudus tersebut yang menulis langsung yakni KHR Asnawi. Namun ada juga versi mengatakan
penyusunnya yakni KH Minan Zuhri Asnawi, cucu KHR Asnawi yang menulis amaliah. “Kiai zaman dulu biasanya kalau ingin membuat surat atau tulisan
tinggal mengucap, nanti ada santri yang menulis,” terangnya.
Kitab yang terdiri dari 100 halaman tersebut, selain
berisi doa dan tata cara salat, juga terdapat keterangan yang memakai Bahasa
Jawa. “Bahasa Jawa tersebut ditulis menggunakan huruf Pegon,” tambahnya.

Pameran Turats Ulama Nusantara Satu Abad Qudsiyyah. Foto: Imam Arwindra
Selain kitab Fasholatan juga ada kitab Soal Jawab Mu’takod
Seket yang ditulis oleh KHR Asnawi. Menurutnya, kitab tersebut berisikan tentang
ilmu tauhid. “Ini kitab lain yang ditulis KHR Asnawi. Namanya kitab Soal Jawab
Mu’takod Seket,” tutur dia sambil memegang kitab bersampul kuning tersebut.
Dalam kegiatan Pameran Turats Ulama Nusantara, menurutnya
terdapat lebih dari 200 jenis kitab yang tersedia. Kitab-kitab tersebut ditulis
oleh para ulama di seluruh Indonesia. “Sampai hari ini (kitab-kitab) masih
dipergunakan di pesantren-pesantren,” ungkapnya.
Selain kitab yang dicetak, juga ada kitab yang berupa
digital. Jumlahnya sekitar 200 lebih. Namun ada beberapa kitab cetak yang
versi digitalnya belum ada. “Dengan adanya pameran kitab ini masyarakat akan mengetahui
para ulama di Indonesia mempunyai karya-karya yang menakjubkan,”
tambahnya.

- advertisement -