Beranda blog Halaman 1947

Jauh Hari Banyak Pelanggan ‘Booking’ Kerbau Milik Faqih Agar Mendapat Harga Murah

0
SEPUTARKUDUS.COM, DERSALAM – Laki-laki berkaos oranye terlihat menyodorkan jerami ke sejumlah kerbau yang diikat di kandang samping
rumah. Di badan kerbau-kerbau itu tertulis nama orang dan masjid. Menurut Arifka Faqih,
pemilik dari kandang, kerbau tersebut sudah dibeli pelanggan untuk kurban pada Hari Raya Idul Adha tahun ini.
Hewan Kurban Kerbau Kudus
Faqih memberi makan kerbau-kerbau yang dijual untuk kurban tahun ini. Foto: Imam Arwindra

Dia mengungkapkan, satu di antara pelanggannya, yakni pengurus Masjid Asyuhada’. Jauh hari mereka sudah memesan hewan kurban karena harga yang diberikan lebih murah dibanding mendekati
Idul Adha. Menurutnya, 15 hewan kurban miliknya sudah dipesan untuk dikurbankan. 

“Kebanyakan dari perseorangan. Untuk yang kerbau baru lima. Sisanya sapi dan
kambing,” ungkap Faqih kepda Seputarkudus.com saat ditemui di kandang miliknya di Desa Dersalam, Kecamatan
Bae, Kudus, Kamis (25/8/2016).

Faqih yang sudah mulai bisnis jual beli ternak sejak kecil
menjelaskan, pekan ini harga ternak cukup stabil. Untuk harga kerbau
menurutnya Rp 17 juta – Rp 27 juta, kambing Rp 2,5 juta hingga Rp 3,5 juta. “Kalau
sapi kira-kira harganya sama dengan kerbau,” tuturnya.
Medekati Hari Raya Idul Adha menurutnya harga hewan kurban
akan naik. Dia mempredikasi semua jenis ternak akan naik kira-kira 20 persen. Hal
tersebut di antaranya dipengaruhi terlalu lama di kandang. “Hewan kan butuh
makan. Jadi biaya makan hewan dikalkulasikan dengan harga ternak,” jelasnya.
Faqih menjalankan, tahun 2015 dirinya mampu menjual 60 kerbau, 50 kambing
dan 15 sapi. Keuntungan yang didapat mendekati 70 pesen dari modal yang
dikeluarkan. Menurutnya tahun 2016 akan meningkatkan hasil penjualannya. Dia
menargetkan akan melebihi jumlah penjualan tahun lalu. “Selain sering ke pasar
hewan. Saya juga memanfaatkan media sosial untuk berjualan,” ungkapnya.
Pria lulusan Universitas Muria Kudus (UMK) menuturkan, dirinya
jauh hari sudah merencanakan berbisnis ternak momen kurban. Menurutnya, sebelum
bulan puasa dirinya sudah menimbun jerami yang digunakan untuk pakan ternak. Masuk
bulan Syawal sudah mulai pengisian hewan. Pertengahan Bulan Syawal perbanyak stok
hewan dan sudah mulai pemasaran. “Nanti satu mingggu mendekati Besar (Hari Hari
Idul Adha), sudah rame-ramenya orang mencari hewan,” tambah dia.

- advertisement -

Teampala Everest (2 Habis), 27 Tahun Mendaki Gunung

0
SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Di sisi barat Jalan Sostrokartono Desa
Kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus, ada sebuah bangunan rumahnya bewarna kuning. Rumah itu juga dijadikan toko di bagian depan. Toko tersebut tertulis Rinjani Adventure Shop, menjual berbagai
perlengkapan untuk pecinta alam. Rumah tersebut juga sebagai tempat berkumpulnya komunitas
pecinta alam Teampala Everest Kudus.

Komunitas Teampala Kudus
Teampala Kudus. Foto: Teampala

Menurut Ony, (31) Ketua Teampala Everest Kudus,  komunitas pecinta alam yang dibentuk 9
Oktober 1989 didirikan oleh Ageng Prabowo bersama temannya. Komunitas tersebut dibentuk
dan dikelola secara mandiri. “Kami tidak berada dinaungan lembaga manapun. Berdiri
tahun 1989, umurnya berarti sudah 27 tahun,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com saat dikediamannya Desa Bae, Kecamatan Bae, Kudus belum lama ini.

Pria kelahiran Magelang 1985 itu menuturkan, anggota Teampala
Everest bukan hanya kalangan mahasiswa, melainkan juga banyak dari
kalangan pekerja. Komunitas yang dipimpinnya bergerak pada sektor sosial dan
lingkungan. “Setiap tahunnya pasti kami melakukan pendakian. Selain itu juga, kami
menjadi relawan saat terjadi bencana,” tuturnya.

Baca Juga: Teampala Everest (1), Mendaki Gunung Jangan Hanya Selfie

Kepada Seputarkudus.com dia menceritakan, Teampala Everest
pernah mendapat tiga kali penghargaan penghormatan dari Kesatuan Bangsa dan Politik
(Kesbangpol) Kabupaten Kudus. Menurutnya, organisasinya juga mendapatkan
pengakuan dari Kesbangpol Kabupaten Kudus. “Kami pernah juga diamanati sebagai
garda 45,” tuturnya.
Ketua Teampala Kudus Ony
Ketua Teampala Kudus Ony. Foto: Imam Arwindra

Dia menjelaskan, pengelolaan organisasi menurutnya sudah diatur dalam
Anggaran Dasar dan Rumah Tangga (AD/Art). Ony menuturkan, untuk menjadi anggota
harus melewati beberapa tahapan, yakni teori, pra-diksar dan diksar. Ketika ada
anggota yang belum tuntas maka dia hanya bisa disebut anggota simpatisan saja,
tidak bisa menjadi pengurus. 

“Syarat menjadi anggota Teampala Everest yakni warga
Negara Indonesia, taat terhadap Pancasila dan Undangan-Undang Dasar 1945,
selebihnya punya kemauan,” terangnya.

Ony yang terpilih menjadi ketua melalui musyawarah besar
(Mubes) menuturkan, dalam pembiyaan organisasi selain iuran anggota juga mempunyai pendapatan secara mandiri, yakni menyewakan perlengkapan gunung. “Kami
juga menyewakan perlengkapan naik gunung seperti tenda, matras, sleeping bag, dan yang lainnya. Tempat penyewaanya
di bascamp (Toko Rinjani),” tuturnya.
Beberapa anggota Teampala Everest juga ada yang bergabung di
Search And Rescue (SAR) Kabupaten
Kudus. Menurutnya, di organisasi yang dipimpinnya tidak hanya sekedar kumpulan
orang yang hobi naik gunung saja, melainkan juga tempat belajar berkepribadian baik. 

“Saya pindah ke Kudus tahun 2007, karena hobi naik gunung akhirnya saya gabung Teampala
Everest. Dan saya menemukan keluarga baru di sini,” tambah dia yang sudah
mempunyai tiga anak.

- advertisement -

Teampala Everest (1), Mendaki Gunung Jangan Hanya Selfie

0
SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Tiga orang berdiri memegang bendera merah bertuliskan “Teampala Everest“. Dengan memakai jaket tebal, kabut putih
tampak bermunculan di sekitar mereka. Berdiri juga sebuah papan kayu yang bertuliskan “Puncak Trianggulasi”. Gambar tersebut merupakan dokumentasi saat anggota Teampala Everest melakukan pendakian di Puncak Kenteng Songo Gunung Merbabu.

Pecinta Alam Teampala Everest Kudus
Foto dokumentasi Teampla Everest Kudus saat mendaki di Gunung Merbabu. Foto: Teampala Everest
Menurut Ony (31) Ketua Teampala Everest Kudus, foto tersebut
diambil pada
tanggal 13-14 Agustus 2016. Dia menuturkan, saat mendaki dirinya bersama rekan-rekannya membersihkan
gunung dan berbagi ceruta dengan komunitas lain. Bagi dirinya, mendaki gunung juga menjadi cara mensyukuri nikmat Tuhan. “Jadi tak hanya selfi saja,” ungkapnya saat
ditemui di kediamannya Desa Bae, Kecamatan Bae, Kudus, Selasa (23/8/2016).
Pria kelahiran Magelang tersebut menuturkan, mendaki gunung
juga menjadi cara untuk membentuk karakter agar lebih mandiri dan dewasa. Menurutnya,
saat mendaki gunung tidak boleh egois, semua harus kompak dan bersama-sama. “Misal
saat pendakian ada yang lelah, semua harus berhenti,” ungkap dia yang
sudah mempunyai tiga anak tersebut.
Di Teampala Everest, kata Ony, setiap tahun dilaksanakan pendakian beberapa
gunung di Indonesia. Menurutnya, pada tanggal 13-14 Agustus 2016 lalu pendakian
dilakukan di Gunung Merbabu, Magelang. “Setiap tahun kami naik gunung. Itu agenda organisasi,” terangnya.
Ony menjelaskan, organisasi yang didirikan 9 Oktober 1989, selain
mendaki gunung juga menjadi relawan saat terjadi bencana alam. Dia mencontohkan, saat terjadi longsor di Rahtawu dan Kambangan, Gebog, komunitasnya
juga menjadi relawan bencana di sana. “Itu tugas kemanusiaan yang harus kami lakukan,” tuturnya.
Anggota Teampala Everest meurut Ony, sebagian ada yang sudah bekerja dan
sebagian ada yang masih masih sekolah. Menurutnya, organisasi pecinta alam ini didirikan Ageng Prabowo. Bascamp Teampala Everest berada di rumahnya, di Desa Kaliputu,
Kecamatan Kota, yang juga dijadikan toko perlengkapan pecinta alam bernama Toko Rinjani. “Saya pertama kali ikut TE (Teampala
Everest) karena hobi. Saat bergabung, saya menemukan keluarga baru
TE,” ungkapnya.
Ony yang mengaku bekerja di perusahaan rokok di Kudus menuturkan, saat peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-71, dia
bersama komunitas pecinta alam lainnya melakukan pengibaran 1.000 bendera di
Teluk Awur Jepara. “Yang mengadakan Arca Pala (Komunitas Pecinta Alam
Jepara),” tambahnya. 

- advertisement -

Tari Bun Ya Ho Asli Megawon yang Lama ‘Tidur’ Akan di Tampilkan di Festival Apitan

0
SEPUTARKUDUS.COM, MEGAWON – Lapangan sepak bola di pertigaan
tak jauh dari Balai Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kudus tampak rapi. Terlihat rumput-rumput
di bagian tengah dan tepi lapangan terpotong rapi. Lapangan bola tersebut
menurut Kepala Desa Megawon Nurasag, akan digunakannya untuk menampilkan Tari
Bun Ya Ho pada acara Festival Apitan, Sabtu (27/8/2016) besok.

Gambar Tari Bun Yaho Desa Megawon Kudus
Gambar Tari Bun Yaho terpampang di dinding Balai Desa Megawon, Kecamatan Jari, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Menurutnya, Tarian Bun Ya Ho asli dari Desa Megawon
yang sudah lama tidak dipertunjukkan. Kali ini pihaknya akan menampilkan kembali
tarian tersebut di kegiatan tahunan desa. “Nanti Tarian Bun Ya Ho akan
ditampilkan kembali, karena tarian ini asli Desa Megawon,” ungkapnya saat
ditemui di Balai Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kudus, Rabu (22/8/2016).

Kepada Seputarkudus.com Nurasag menuturkan, Bun Ya Ho berasal Bahasa Arab yang memiliki arti mari berbuat kebaikan. Menurutnya, tarian
tersebut dibawa oleh Abdul Jalil Tamyiz dari Bumiayu. “Beliau adalah seorang
ulama yang membuat tarian Bun Ya Ho. Tari itu digunakan untuk menyebarkan agama Islam di Desa
Megawon,” terangnya.
Berdasarkan sejarah yang dia ketahui, tarian tersebut mulai muncul setelah
kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Namun Bun Ya Ho mulai hilang setelah tahun
1960 saat modernisasi mulai muncul. Akhirnya tahun 2013, Pemerintah Desa
Megawon mulai menelusuri tarian tersebut. “Tahun 2013 kami memulai mencari data
tentang tarian tersebut. Alhamdulillah,
untuk fesitival besok tarian tersebut bisa ditambilkan,” ungkapnya.
Repro Tari Bun Ya Ho Megawon
Gambar Tari Bun Ya Ho Desa Megawon. Repro: Imam Arwindra

Nurasag yang menjabat kepala desa Megawon dua periode menjelaskan,
Tarian Bun Ya Ho ditampikan oleh 13 penari dengan 11 putri dan dua putra. Menurutnya,
nanti 11 perempuan ada yang bertugas membawa payung dan menari, dua putra yang
akan berdoa. “Yang menampilkan nanti dari kalangan remaja,” ungkapnya.
Dalam Festival Apitan tersebut menurutnya akan fokus pada Tarian
Bun Ya Ho. Dia menuturkan pada tahun lalu peserta festival menampilkan
kesenian dari setiap delegasi. Untuk tahun ini peserta tidak menampilkan karen akan
fokus pada pementasan Bun Ya Ho. “Nanti ada 27 peserta kirab budaya dari RT dan
sekolahan,” tuturnya.
Peserta kirab nantinya akan membawa tumpeng dan gunungan
yang akan dinikmati bersama setelah selesai pementasan Tari Bun Ya Ho. Menurutnya,
Festival Apitan tersebut akan dimulai pukul 15.00 WIB dengan titik berkumpul di
Lapangan Megawon. “Saya perkirakan ada 2.500 warga yang datang ke kirab,”
ungkapnya.

- advertisement -

Kader PMII UMK Ini Berusaha Tenang dan Tersenyum Saat Membaca Surat Ar-Rahman

0
SEPUTARKUDUS.COM, PEGANJARAN – Lantunan ayat-ayat Al-Quran
menggema di aula Balai Desa Pegajaran, Kecamatan Bae, Kudus. Dengan nada
rendah, suara Siti Muyasaroh (19) terdengar hati-hati saat membacakan Surat
Ar-rahman. Lantunan itu disaksikan puluhan orang yang hadir dalam kegiatan Pelantikan Komisariat dan Rayon Pergerakan
Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sunan Muria, Universitas Muria Kudus (UMK).

pelantikan pmii umk
Muyasaroh sedang membacakan ayat Al-Quran pada pelantikan rayon dan komisariat PMII Sunan Muria UMK. Foto: Imam Arwindra

Muyas, begitu itu mahasiswi semester tiga Progam Studi
Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UMK itu akrab disapa, dia berusaha tetap tenang saat melantunkan ayat Al-Quran di depan banyak orang. Dia mengaku lega dan senang usai menunaikan tugasnya. “Saya tidak tahu (tersenyum) karena apa. Ya
seneng saja rasanya,” ungkapnya saat ditemui Seputarkudus.com selepas acara,
Sabtu (20/8/2016).
Muyas menuturkan, dirinya ingin sekali mengajak
belajar membaca Al-Quran mahasiswa di UMK.  Menurutnya, kampusnya hampir 70 persen
dihuni mahasiswa lulusan SMA dan SMK. Selain itu, banyak anggota PMII yang lulusan
dari sekolah umum. “UMK kan bukan kampus agama. Jadi banyak dari mahasiswanya
dulu sekolah di SMA dan SMK,” ungkapnya yang dalam acara itu dirinya juga dilantik menjadi Pengurus Rayon PMII
Ki Hadjar Dewantara FKIP UMK.

pelantikan pmii umk
Prosesi pelantikan rayon dan komisariat PMII Sunan Muria UMK. Foto: Imam Arwindra
Menurutnya, walau berada di kampus umum sebagai orang islam
sudah sepatutnya membaca Al-Quran dan mengamalkannya. Dia mengungkapkan, PMII
yakni salah satu organisasi mahasiswa yang berhaluan islam Ahlussunnah Waljama’ah.
Jadi misalkan ada kader PMII yang belum bisa membaca Al-Quran mari belajar
bersama. “Tidak usah malu. Ini ikhtiyar kita mendekatkan diri kepada Allah,”
tambahnya.
Ketua Komisariat PMII Sunan Muria Imam Hasan tak menampik hal tersebut. Di UMK sebagian besar mahasiswanya lulusan dari SMA dan
SMK. Menurutnya, kajian agama masih kurang dan masih banyak mahasiswa
yang belum bisa membaca Al-Quran. “Maka dari itu PMII hadir untuk menyelesaikan
masalah tersebut. Caranya simpel, tinggal ada kemauan nanti bisa belajar di
basecamp PMII atau di kampus,” ungkapnya.

pelantikan pmii umk
Dr Murtono (kiri) dan Mutohhar (tengah) menjadi narasumber talkshow dengan tema ‘Menumbuhkan Nilai Integritas Dalam Kerangka Pergerakan’. Foto: Imam Arwindra
Mahasiswa Fakultas Teknik
UMK itu mengungkapkan, dalam pelantikan dan acara talkshow pihaknya memilih tema “Menumbuhkan
Nilai Integritas dalam Kerangka Pergerakan”. Menurutnya, dengan terlaksananya
kegiatan ini dapat memantik anggota PMII untuk lebih semangat lagi dalam
mengelola organisasi. 

“Kami akan membuat kegiatan yang lebih nyata. Jadi ada
perencanaan yang terstruktur dan follow up. Kegiatannya simpel-simpel tidak
masalah, misalnya belajar mengaji. Yang penting dapat bermanfaat untuk sekitar,”
terang Hasan.

Dia menambahkan, ada 50
pengurus yang lantik dari unsur komisariat dan tiga rayon. Selain itu, ada pengarahan oleh Pembina PMII Dr. Murtono dan Mutohhar tentang tantangan
kaderisasi di kampus UMK. “Kaderisasi di kampus umum memang perlu strategi
khusus. Jadi kami mengucapkan terima kasih kepada para alumni PMII UMK yang
sampai hari ini masih sabar membimbing,” kata Hasan. 

- advertisement -

KNPI Kudus ‘Bermimpi’ Punya Gedung Pemuda untuk Wadahi Semua OKP di Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, MLATI KIDUL – Sejumlah pekerja terlihat
mengecat dinding lantai satu gedung di Jalan Gor Kelurahan Mlati Kidul,
Kecamatan Kota, Kudus. Dinding yang semula berwarna kuning, dirubahnya menjadi
biru. Bangunan dua lantai yang di depannya masih tertulis SD 3 Mlati Kidul itu, sekarang dipergunakan untuk kantor Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI)
Kabupaten Kudus
.

kantor KNPI Kudus
Bekas bangunan SD 3 Mlati Kidul digunakan untuk kantor KNPI Kudus. Foto: Imam Arwindra

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) KNPI
Kudus Amir Faishol menuturkan, sebelum pindah ke SD 3 Mlati Kidul, kantor KNPI sebelumnya berada di barat
GOR Wergu Wetan. Namun ada proyek pelebaran GOR akhirnya dipindah di SD 3 Mlati Kidul yang sudah tutup. 

“Sebenarnya kami punya gagasan
untuk membuat Gedung Pemuda. Nanti tidak hanya untuk kantor KNPI saja,
melainkan seluruh organisasi kepemudaan (OKP) di Kudus,” tutur dia saat ditemui
di kantor KNPI bekas SD 3 Mlati Kidul belum lama ini.

Kepada Seputarkudus.com, Faishol menuturkan sebelum pindah
ke SD 3 Mlati Kidul, pihaknya menghendaki bangunan bekas kantor Dinas
Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Kudus untuk dijadikan kantor. Namun dari Dinas
Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Aset Daerah (DPPKAD) Kudus akhirnya
memberikan bangunan bekas SD 3 Mlati Kidul. 

“Kami sudah
mengajukan ke Aset Daerah (DPPKAD) dan ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga
Kabupaten Kudus, karena KNPI di bawahnya,” tambahnya.

Menurutnya, tidak lama lagi kantor KNPI akan pindah lagi. Namun
belum tahu akan dipindah kemana. Oleh karena itu pihaknya mengusulkan untuk
dibuatkannya kantor tetap, karena KNPI juga perannya cukup penting
dalam kepemudaan di Kudus. 

“Semoga sebelum Pak Musthofa purna, gagasan baik ini bisa
tercapai,” ungkapnya sambil membersihkan ruangan bersama empat pengurus lainnya.

Faishol menjelaskan, KNPI merupakan wadah organisasi kepemudaan
yang fungsinya untuk menghimpun seluruh organisasi kepemudaan. KNPI dicetuskan
di Indonesia tanggal 23 Juli 1973 dengan landasan kesadaran tanggung jawab
pemuda Indonesia. Lahirnya KNPI juga untuk menindaklanjuti isi pesan Sumpah Pemuda. “Di Kudus KNPI menghimpun 23 organisasi
kepemudaan (OKP) dan sembilan pengurus KNPI tingkat kecamatan,” terangnya.

Mantan Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia
(PMII) Kabupaten Kudus 2009/2010 itu menyebutkan, OKP yang dihimpun KNPI
di antaranya, PMII, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU/IPPNU), Gerakan Pemuda
Ansor, Fatayat NU, dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan lain sebagainya.

Sementara itu, Mustaghfirin yang juga Pengurus DPD KNPI Kudus menuturkan,
gagasan membuat Gedung Pemuda sangat bagus. Itu karena KNPI membutuhkan
gedung tetap untuk menjalankan roda organisasi. Selain itu, KNPI juga sekaligus
memfasilitasi seluruh OKP yang ada di Kudus untuk mempunyai kantor atau
basecamp. “Jadi nanti modelnya ada ruang aula untuk kegiatan dan kantor untuk OKP. Mungkin tempatnya bisa di dekat GOR,” tuturnya.

- advertisement -

Mirip Acara di TV, Ansor Gebog Gelar ALC untuk Mengupas Persoalan di Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, BESITO – Sejumlah orang mulai memenuhi
meja bundar di halaman Rumah Gebyok Kudus. Mereka datang untuk memenuhi
undangan kegiatan Ansor Loyal Club (ALC) yang diadakan Pengurus Anak Cabang
(PAC) Ansor Kecamatan Gebog di Desa Besito, Kecamatan Gebog,
Kudus, Sabtu (20/8/2016) malam. Dalam diskusi memperingati
Kemerdekaan Indonesia ke-71 itu, muncul banyak kritik terhadap pemerintah hingga kepolisian.

ansor loyal club
Suasana Ansor Loyal Club (ALC) di halaman Rumah Gebyok Kudus Desa Besito, Kecamatan Gebog, Kudus. Foto:Imam Arwindra

Mengawali acara diskusi, terdengar lantunan selawat yang dinyanyikan tiga wanita
dan seorang pria untuk menyambut kedatangan undangan yang hadir. Saat lagu
usai, seorang yang mengenakan pakaian hijau nampak berdiri dengan microphone di tangannya. Menurutnya, semua yang hadir
ialah narasumber. 


“Malam ini kita akan berbicara tentang sudah seberapakah kita
merdeka?. Sesungguhnya sudah merdeka atau jangan-jangan?” Ungkapnya dalam mengawali
diskusi.
Zuhri yang juga pengurus PAC Ansor Gebog menuturkan, selain
membicarakan masalah kebangsaan, diskusi tersebut juga membahas
permasalahan-permasalahan pemerintahan di Kecamatan Gebog. “Mulai dari sarana
prasarana publik, kebijakan pemerintah dan pelayanan publik yang dirasa kurang
baik,” terangnya.
Ketua PAC Ansor Gebog Dasa Susila menuturkan, sebenarnya ALC
ini bertujuan mempererat silaturahim antar stake
holder
yang ada di Kabupaten Kudus. Menurutnya, pertemuan yang diadakannya
sangat penting. Selain untuk menciptakan kekeluargaan juga berupaya membangun Kudus
lebih baik. 

“Forum ini juga bisa dijadikan tempat sharing dan kritik. Karena yang
hadir sudah lengkap. Ada dari pemerintah Kudus, Polisi, TNI, DPRD dan yang
lainnya,” tuturnya.

Dalam forum dia juga menuturkan, ada beberapa permasalahan
yang ada di Kudus yang perlu dibenahi. Di antaranya di sektor kepolisian. Menurutnya,
dalam pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) masih terkesan minim informasi dan
banyak aturan. Dia mengungkapkan, masyarakat masih merasa bingung bagaimana
membuat SIM sesuai prosedur. Akhirnya, banyak yang menggunakan jalur belakang
untuk membuatnya. 

“Intinya minim pengetahuan di awal. Akhirnya banyak
masyarakat yang memilih ‘jalur belakang’,” terangnya.

Dasa juga mengkritik minimnya informasi dari pemerintahan,
menurutnya pemerintah Kabupaten Kudus masih kurang dalam memberikan informasi
terkait masalah kebijakan dan fasilitas pelayanan publik. Akhirnya ketika
banyak informasi tidak diketahui, masyarakat acuh. “Ketika
informasi sampai ke masyarakat dengan baik, akan menumbuhkan kesadaran terutama
masyarakat pedesaan,” tambahnya.
Kegiatan ALC menurut Wakil Ketua PAC Ansor Gebog Saefudin
Nawawi, akan terus berlanjut selama tiga bulan sekali. Dari kegiatan tersebut
dia menuturkan, para pemangku kebijakan di Kudus dalam menjalankan tugasnya
akan langsung diawasi oleh rakyat. Ketika ada sesuatu hal yang tidak sesuai bisa
langsung di bicarakan dalam forum tersebut. “Jadi ada proses transparasi antar
para pemangku kebijakan dengan masyarakat,” tuturnya.

- advertisement -

Siswa Asal Jepara Kepincut Sitem Pembelajaran Omah Dongeng Marwah yang Asyik

0
SEPUTARKUDUS.COM, PURWOREJO – Sejumlah tenda berjejer di depan gedung Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Bae, Desa Purworejo,
Kecamatan Bae, Kudus. Tampak kerumunan anak-anak sedang duduk beralaskan
tikar. Anak-anak tersebut bersemangat dalam mengikuti Kemah Dongeng
Kemerdekaan, Sabtu (20/8/2016).

Omah Dongeng Marwah Kemah Kemerdekaan
Kemah Kemerdekaan Omah Dongeng Marwah. Foto: Imam Arwindra

Kegiatan yang diadakan Omah Dongeng Marwah pesertanya
bukan hanya dari Kudus. Noor Kholis peserta dari Jepara mengungkapkan, dia
bersama 20 anak didiknya ikut serta dalam kegiatan Kemah Dongeng Kemerdekaan. Menurutnya,
kegiatan yang dilaksanakan tergolong unik dan mengasikkan. 


“Kami memang sudah
merencanakan untuk datang. Jujur karena kepincut dengan sistem pembelajaran
yang unik dan mengasikkan,” ungkap dia yang datang dari SD Semai (Semangat Anak
Indonesia), Desa Senenan, Kecamatan Tahunan, Jepara.
Menurutnya, sistem pembelajaran di Marwah berbeda dengan
sistem pembelajaran di sekolah formal pada umumnya. Di Marwah pola pembelajaran
lebih mengedepankan kreativitas, pembentukan mental dan kebebasan terhadap
anak. Jadi anak tidak merasa terbebani saat mereka belajar. Dia mencontohkan, di antara
pembelajaran yang mengasikkan yakni belajar matematika menggunakan lagu. 

“Itu
mereka sedang menyanyikan lagu bilangan pecahan dengan nada lagu Anak Kambing
Saya,” ungkap dia sambil mendengarkan lagu yang dinyanyikan.

Kemah Kemerdekaan

Selain itu menurutnya, Omah Dongeng Marwah juga mempunyai
tarian matematika. Tarian tersebut memperagakan tentang jenis-jenis bangunan
datar. “Sebenarnya sekolah saya (SD Semai) juga senada dengan pola pembelajaran
di Marwah. Sekolah yang membuat anak benar-benar merdeka,” terangnya.

Kholis yang datang menggunakan angkot biru menuturkan, selain
ingin belajar pola pembelajaran di Marwah, dia juga ingin memberikan pengalaman
berharga kepada anak didiknya untuk kenal dengan orang-orang baru. Mereka akan membaur
dan saling berkenalan. “Otomatis jiwa sosialnya akan terbentuk dan mentalnya
akan terlatih,” ungkapnya.
Dalam kegiatan Kemah Dongeng Kemerdekaan, ketua panitia Arif
Rohman (24) menuturkan, kegiatan ini di konsep seperti sedang berkemah di alam
luas. Anak-anak akan menginap semalam di tenda sambil mereka berlomba mendongeng.
“Kegiatan ini untuk peringatan Kemerdekaan Indonesia ke-71. Jumlah peserta
 40 an lebih anak. Mereka masih sekolah
di SD dan SMP,” terangnya.

Nantinya juga akan ada pemutaran film Macan Putih Muria yang
dibuat anak-anak Marwah. Menurutnya, film tersebut menceritakan tentang
sejarah Pasukan Macan Muria yang ada di Kudus dalam melawan penjajahan Belanda.
“Filmnya berdurasi sekitar 18 menit yang diperankan dan diedit sendiri oleh
anak-anak Omah Dongeng Marwah,” tambah Arif yang juga alumni STAIN Kudus.

- advertisement -

Meski Ngos-ngosan, Sri Tetap Bersemangat Kejar Bola Kasti di Acara Agustusan

0
SEPUTARKUDUS.COM, PEGANJARAN Perempuan bernomor punggung
empat mengambil tongkat pemukul yang tergeletak di atas tanah. Dia berjalan ke arah
timur untuk bersiap-siap memukul bola tenis warna hijau. Di depannya sudah
berdiri 10 orang dan satu orang yang memakai seragam warna coklat dibelakang.
Perempuan dengan topi coboy hitam tersebut nampak memasang kuda-kuda bersiap
memukul bola kasti. Saat bola dilempar, dengan gesit dia memukulnya hingga keluar
batas garis.

lomba bola kasti kecamatan bae
Sri bernomor punggung empat sedang memukul bola pada permainan bola kasti. Foto: Imam Arwindra
Permainan bola kasti tersebut mempertemukan tim dari UPT
Pendidikan Bae melawan guru SMK Duta Karya dalam Lomba Bola Kasti peringatan Kemerdekaan
Indonesia ke-71 di Lapangan Desa Peganjaran, Kecamatan Bae, Kudus. Perempuan
dengan muka keriput tersebut bernama Sri (55) pemain dari UPT Pendidikan Bae. Dia
mengaku ngos-ngosan saat bermain Bola
Kasti selama 30 menit. 

Haduh sudah
tua. Baru sebentar saja sudah ngos-ngosan.
Tapi tetap semangat,” ungkapnya saat ditemui selepas bermain, Sabtu (20/8/2016).

Saat bermain, dia terlihat sering berjoget. Menurutnya,
dengan berjoget bisa menambah energi supaya tidak cepat lelah. “Hehe, ya tadi
saya berjoget. Ya supaya tetap semangat tidak gampang lelah. Maklum umurnya 55
tahun,” ungkapnya sambil tersenyum.
Sri yang berasal dari Desa Gondang Manis menuturkan, walau
terbilang sudah tua dia mengaku bersemangat dalam mengikuti perlombaan yang
diadakan Pemerintah Kecamatan Bae tersebut. Menurutnya, selain untuk
memeriahkan kemerdekaan Indonesia yang ke-71, sekaligus untuk olahraga supaya sehat. 

“Ya hitung-hitung untuk olahraga. Terpenting sebagai warga Negara yang merdeka
harus optimistis dan semangat dalam menjalankan sesuatu,” terang dia yang sempat
terpleset saat bermain.

Panitia lomba Herlambang menuturkan, lomba yang sedang
berjalan yakni antara UPT Pendidikan Kota melawan guru dan staf SMK Duta Karya.
Menurutnya ada 13 tim yang mengikuti lomba Bola Kasti. “Sebanyak 10 tim dari perwakilan desa
dan selebihnya dari instansi,” tuturnya.

lomba bola kasti kecamatan bae
Kepada Seputarkudus.com dia menjelaskan, peserta lomba yakni
kalangan ibu-ibu. Menurutnya, ada beberapa rentetan acara peringatan
Kemerdekaan Indonesia ke-71. Untuk lomba Bola Kasti ibu-ibu yang memainkannya. “Rata-rata
ibu-ibu PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) yang ikut,” ungkap dia yang
memakai baju merah putih.
Menurutnya, setiap tim terdapat 12 pemain dengan delapan
cadangan. Waktu pelaksanaan yang ditentukan mulai tanggal 18 Agustus 2016
hingga 23 Agustus 2016. “Tanggal 23 Agustus sekaligus final,” tambahnya.

Dia yang juga guru olahraga di SDN 2 Bacin menuturkan,
setiap harinya terdapat empat tim yang bertanding. Nantinya akan diambil juara
satu, dua dan tiga. “Pemenang akan mendapatkan uang pembinaan dan tropi. Namun
yang paling penting peringatan Kemerdekaan Indonesia ke-71 di kecamatan Bae
bisa meriah,” tuturnya.
- advertisement -

Sebelum Jadi Ruko, Lokasi Ini Pernah Berdiri Gedung yang Menjadi Saksi Banyak Peristiwa Bersejarah

0

SEPUTARKUDUS.COM, WERGU KULON Jarum jam menunjukkan pukul 08.00 WIB saat kendaraan mulai memadati tempat parkir Ruko Ahmad Yani di sisi timur Jalan Jendral
Ahmad Yani. Ruko dua lantai itu tepat di depan Bank Negara Indonesia
(BNI) Gang Empat, Kelurahan Wergu Kulon, Kecamatan Kota, Kudus. Lokasi ruko tersebut pernah berdiri Gedung Pemuda yang menjadi saksi banyak peristiwa bersejarah di Kudus.

Ruko Agus Salim Bekas Gedung KNPI Kudus
Ruko Agus Salim, Jalan A Yani, Kudus, lokasi yang dulu berdiri Gedung Pemuda. Foto: Imam Arwindra
Ruko tersebut banyak digunakan sebagai perkantoran. Di antaranya sejumlah bank, yakni Panin Bank, Bank
Ekonomi, Mandiri Syariah, Bank CNB, Bank Mega dan Bank
Muamalat. Menurut sejarahwan Kudus Eddy Yusuf, kawasan ruko tersebut dulunya
kawasan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang diambil alih oleh Kesatuan Aksi Pelajar
Indonesia (KAPI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). 

“Dulu daerah
tersebut (kawasan ruko) kantor PKI. Namun sekitar tahun 1966 direbut oleh KAPI
dan KAMI,” tutur Eddy kepada Seputarkudus.com, saat ditemui di kediamannya belum lama ini.
Menurutnya, saat itu terjadi konflik dan PKI dianggap
berbahaya bagi keamanan nasional. Setelah direbut, kantor PKI dijadikan Gedung
Pemuda. “KAPI dan KAMI menjadikan Gedung PKI tersebut menjadi Gedung Pemuda
yang digunakan untuk perkumpulan pemuda di Kudus,” terangnya.

gedung KNPI di kawasan gor wergu kudus
Pada tahun 1973, kata Eddy, lahir organisasi Komite Nasional Pemuda
Indonesia (KNPI) pada zaman pemerintahan Presiden Soeharto. Dan gedung tersebut
kemudian digunakan untuk kantor KNPI. “Dulu anggota PKI sebagian besar dari etnis Tionghoa,”
ungkapnya.

Eddy menjelaskan, para etnis Tionghoa yang ikut PKI saat itu populer
dengan sebutan Congwa-Congwe. “Kawasan tersebut juga terdapat Baperki (Badan
Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia),” tambahnya.

Dia yang juga mantan anggota DPRD era revormasi menuturkan, pada
masa Bupati Kudus Tamzil, Gedung KNPI dipindang di kawasan Gor Wergu Wetan. Gedungnya
berdekatan dengan stadion Wergu Wetan. “Bupati Tamzil memimpin Kudus tahun
2003-2008,” tuturnya.
Berdasarkan pantauan Seputarkudus.com, di sebelah timur kawasan tersebut terdapat
gedung olahraga serbaguna dan stadion bola. Sisi barat gedung terdapat kolam
renang, puskesmas dan kantor Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI)
Kabupaten Kudus.

SD 3 Mlati Kudus Kudus Bekas Gedung Pemuda

Tahun 2016, Kantor KNPI pindah di timur Taman Krida Kudus
yang dulunya yakni SD 3 Mlati Kidul yang sudah tutup. Dikutip dari Wikipedia,
KNPI yakni organisasi kepemudaan yang awalnya merupakan gabungan dari kelompok
Cipayung. 


Organisasi ini lahir melalui Deklarasi Pemuda Indonesia pada hari
yang sama dengan maksud menumbuhkan, meningkatkan, dan mengembangkan kesadaran
sebagai suatu bangsa yang merdeka dan berdaulat berdasarkan Pancasila dan
Undang-undang Dasar 1945. Di Kudus tahun 2016 KNPI  di ketua oleh Mas’an yang juga Ketua DPRD
Kabupaten Kudus.

- advertisement -

Rasa Penasaran Aska Terobati Saat Nonton Bareng AADC 2 di Rusunawa Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, BAKALAN KRAPYAK Layar lebar terlihat terpasang di
antara gedung lima lantai Rusunawa, Desa Bakalan Krapyak, Kecamatan Kaliwungu,
Kudus. Puluhan orang berkumpul untuk menonton film diputar dari layar tersebut. Suara gitar dan drum terdengar keras dari sound system di kanan dan kiri layar. Kegiatan nonton bareng itu digelar saat malam 17
Agustus untuk memperingati Hari Kemerdekaan.

Agustusan di Rusunawa
Film AADC 2 sedang diputar saat nonton bareng di rusunawa Desa Bakalan Krapyak Kecamatan Kaliwungu, Kudus. Foto: Imam Arwindra
Menurut Aska, warga Rusunawa yang ikut menonton, dia merasa
senang dapat menonton film AADC 2 yang diputar malam itu. Menurutnya, saat
sedang diputar di bioskop dia belum dapat menonton. “Akhirnya rasa
penasaran terobati. Ini di rusun bisa lihat bareng,” ungkapnya kepada
Seputarkudus.com , Selasa (16/8/2016).
Aska yang masih duduk di SMP menuturkan, film AADC 2 memang
bagus sesuai apa yang orang-orang katakan di sosial media. Menurutnya,
keunggulan film tersebut tidak hanya pada ceritanya saja, melainkan
tempat-tempat yang digunakan untuk shooting
menakjubkan. “Tadi ada bangunan seperti ayam yang baru pertama kali saya
lihat. Bagus banget,” ungkapnya setelah film akan selesai..
Panitia pelaksana nonton bareng Agus Wahyu Subagyo
menuturkan, film AADC 2 dipilih karena sesuai permintaan dari masyarakat yang
tinggal di rusun. Menurutnya, mereka banyak yang masih penasaran dan ingin
melihat film yang sempat tenar tersebut. “Ya film AADC sesuai dengan
permintaan,” tuturnya.

Agustusan di Rusunawa
Anak-anak sedang menonton film Timun Mas pada acara Nonton Bareng menjelang 17 Agustus.
Dalam film AADC 2 menurutnya ada adegan yang disensor yakni
ketika Rangga mencium Cinta. Dia menuturkan, yang ikut
menonton bukan hanya orang dewasa saja melainkan juga ada anak kecil. “Jadi
memang kita antisipasi supaya film tersebut baik untuk segala umur,” tuturnya.
Agus, panggilan akrabnya menuturkan, pemutaran film dalam
nonton bareng tidak hanya AADC 2 saja. Namun ada juga film cerita rakyat,
film kartun Keluarga Somad dan video dokumenter pelaksanaan Upacara Kemerdekan
Indonesia tahun 2015 lalu. 

“Fokus kami sebenarnya memutar film-film cerita rakyat.
Karena baik untuk anak-anak,” tuturnya saat sedang berlangsungnya film Timun Mas.

Menurutnya, dia tidak memilih film sejarah karena banyak
sejarah yang sudah dipertanyakan keasliannya. Lebih baik dia menyuguhkan film
dongeng atau cerita rakyat yang dapat memberikan nilai moral untuk anak-anak di
rusunawa. 

“Seperti kisah Timun Mas, memberikan pesan bahwa harus tetap berusaha
walaupun sedang terdesak dan selalu baik kepada orang lain,” terangnya.

Karena warga Rusunawa banyak orang dewasa, akhirnya AADC 2 diputar sebagai
pelengkap. Menurutnya, dengan sering dibuat kegiatan seperti itu masyarakat
yang tinggal di Rusunawa akan selalu akrab. 

“Pada peringatan Kemerdekaan
Indonesia ke-71 ini, mari kita bersama menjaga Indonesia dan membuat
masyarakatnya lebih baik,” tambahnya.

- advertisement -

Tubuh Vidya Gemetar Saat Anggota Satlantas Polres Kudus Menghampiri di Jalan A Yani

0
SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN KUDUS Seorang perempuan berhelm biru tampak gemetar saat menepikan kendaraannya di Jalan Jendral
Ahmad Yani tak jauh dari Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Jumat (19/8/2016). Perepmpuan bernama Vidya (19) itu tampak gugup saat dihampiri seorang berseragam polisi menanyakan kelengkapan surat-surat berkerndara.

jalan a yani kudus razia polisi
Vidya tampak gemetar saat terkena razia lalu lintas di Jalan A Yani Kudus. Foto: Imam Arwindra

 
“Selamat pagi mbak, bisa
diperlihatkan surat-surat kendaraannya,” ungkap seorang anggota Satlantas Polres Kudus kepada Vidya saat dilakukan razia lalu lintas pagi tadi.

Tubuh Vidya terlihat gemetar sambil memegang Surat Tanda Nomor Kendaraan
(STNK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Ketika ditanya mengapa dia tampak gugup dan takut, dia hanya mengatakan tidak ada apa-apa. “Apa tah. Tidak
apa-apa. Ini loh saya kena tilang,” ungkapnya sambil tersenyum. 

Petugas Satlantas kemudian memberinya surat tilang karena tidak mempunyai Surat Izin Mengemudi (SIM). Vidya mengaku tidak tahu
ada oprasi lalu lintas dan berniat putar balik namun mengurungkan niatnya. “Rasanya
tadi saya ingin putar balik saja supaya tidak kena tilang,” tuturnya yang tubuhnya
masih terlihat gemetar.

Warga Dawe itu mengaku melewati Jalan Ahmad
Yani karena ingin mengambil sesuatu dari tempat kerjanya. Menurutnya, dia tidak
mempunyai SIM karena masih proses pembuatan. “SIM saya masih proses jadi,”
tambah dia yang memakai jaket hitam.

operasi lalu lintas

Kepala Unit Pengaturan Penjagaan Pengawalan Patroli
(Turjawali) Polres Kudus Ipda Upoyo menuturkan, razia yang dilakukannya untuk meningkatkan kedisiplinan pengendara. Menurutnya, razia ini sering
dilakukan, baik siang maupun malam hari. 


“Kemarin kami juga
melakukan razia saat malam hari. Hal tersebut untuk menjaga Kudus tetap aman,”
ungkap dia saat ditemui ketika razia sedang berlangsung.
Kepada Seputarkudus.com dia menuturkan, pihaknya ingin fokus
pada kendaraan roda dua. Kendaraan roda empat tak dirazia karena khawatir terjadi kemacetan. “Untuk mobil tidak terlalu prioritas. Kami fokus pada
motor,” terangnya.
Dia menyebutkan, dalam satu bulan terakhir terdapat 1.200
pelanggar yang ditilang. Rata-rata pelanggarannya tidak membawa SIM dan STNK. Menurutnya,
semua wilayah Kudus akan dilakukan operasi serupa. 

- advertisement -

Rahma Grogi Saat Melangkah ke Lapangan Upacara Kemerdekaan RI ke-71 di Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN Perempuan berbaret di kepala dan pedang di tangan berjalan menuju sisi tengah pelaksanaan Upacara Kemerdekaan
Indonesia ke-71 di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Rabu (17/8/2016). Polisi berpangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP) itu bernama lengkap Rahmawati Tumulo, yang menjadi komandan upacara. “Pasukan saya ambil alih.
Semuanya siap, gerak,” teriaknya.

Komandan Upacara Kemerdekaan RI 71 Kudus
AKP Rahmawati Tumulo, Komandan Upacara Kemerdekaan RI ke-71 di Kudus. Foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com, Rahma, begitu dia akrab disapa, mengaku deg-degan saat berjalan memasuki lapangan upacara. “Pertama-tama rasanya deg-degan. Namun akhirnya hilang dan berjalan
seperti biasanya,” tuturnya usai melaksanakan tugasnya.

Perempuan kelahiran Gorontalo 1987 menuturkan,
persiapan yang dilakukannya terbilang maksimal. Dia mengaku sering berlatih di
Polres Kudus. “Latihan vokal dan yang lainnya di Polres. Untuk di Alun-alun
hanya satu kali saja saat gladi bersih,” ungkapnya.
Rahma yang saat ini menjabat sebagai Kepala Kepolisian Sektor
(Kapolsek) Kota menceritakan, dirinya ditunjuk sebagai komandan upacara sekitar
dua pekan lalu oleh Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Kudus AKBP Andy Rifai. Menurutnya
pesan tersebut disampaikan melalui seorang perwira polisi di Kudus. 

Komandan upacra kemerdekaan RI di Kudus

“Saya
ditelepon, beliau bilang saya diperintahkan pak Kapolres untuk menjadi
komandan upacara. Awalnya saya kaget, tapi karena tugas ya saya terima tanpa
beban,” ceritanya sambil menerima ajakan foto bersama beberapa orang yang datang.

Lulusan Akpol tahun 2008 tersebut menuturkan, berkat
persiapan yang matang, upacara pengibaran Bendera Merah Putih yang dikomandoinya
berjalan dengan lancar. Dalam pelaksanaan upacara kemerdekaan Indonesia ke-71,
bertindak sebagai komandan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) yakni Letnan Dua
Joko Supriyanto. Dia mengomandoi 64 siswa SMA dan empat anggota TNI yang
membawa senapan laras panjang.
Bupati Kudus Musthofa yang bertindak sebagai inspektur upacara, dalam amanatnya disampaikan perlunya semangat gotong
royong. Karena semangat tersebut dapat membangun bangsa yang besar.
Dia juga menuturkan, makna merdeka yakni kebebasan yang dapat dipertanggung jawabkan.
Bertanggung jawab kepada Negara dan Tuhan. 

“Negara selalu hadir bagi warganya
yang membutuhkan solusi,” kata Musthofa dalam amanat upacara yang ditutup dengan kata “merdeka” sebanyak tiga kali.

- advertisement -

Perayaan HUT RI ke-71 Pedawang, Rio Kesal Karena Belut Selalu Terlepas dari Genggaman

0
SEPUTARKUDUS.COM, PEDAWANG
Tiga orang anak berlari menuju ember merah di depan pos kampling, Desa Pedawang RT 5 RW 3, Kecamatan Bae, Kudus.
Ember tersebut berisi air dan puluhan belut hidup. Mereka berebut belut untuk dipindahkan kedalam
ember kecil yang sudah ditentukan.  Kegiatan lomba tangkap belut tersebut merupakan bagian dari acara peringatan HUT RI ke-71.

lomba tangkap belut HUT RI Kudus
Rio susah payah menangkap belut pada perayaan HUT RI ke-71 di Desa Pedawang. Foto: Imam Arwindra

Saat berupaya menuju ember kecil, belut
terlepas dari genggaman tangan mereka. Diiringi sorak penonton, mereka
tampak bersemangat memungut kembali belut yang jatuh. Rio, satu diantara peserta berlomba itu, mengaku kesulitan memindahkan belut. Menurutnya, belut sangat licin. 

“Saya
sempat frustasi memindahkan belut. Sulitnya bukan main. Kelihatannya sudah tak
pegang kencang, namun masih saja lepas,” tuturnya usai lomba yang digelar menjelang 17 Agustus beberapa hari lalu.

Menurutnya, kesulitan terjadi sejak mengambil belut dari ember. Karena belut yang ditangkap masih hidup, dia kesulitan memegangnya meski telah menggenggam erat. “Belutnya hidup, jadi ya susah. Kalau mati mungkin
mudah,” ungkapnya.
Rio mengaku baru pertama kali memegang belut. Dia mengatakan, saat
dipegang dia merasa geli. “Saya kira belut itu seperti ular yang suka gigit, ternyata tidak. Awalnya saya
takut, eh malah ketagihan,” tambahnya.
Darmo Winoto Ketua RT 5 RW 3 Desa Pedawang, Kecamatan Bae,
Kudus menuturkan, diselenggarakanya lomba tangkap belut karena ingin mengedukasi
anak-anak untuk lebih mengerti tentang belut. Menurutnya, belut termasuk hewan
yang susah ditemui. Kalau pun anak-anak pernah melihat pasti sudah dimasak. “Dengan
bingkai lomba, anak-anak bisa memegang langsung belut tersebut,” tuturnya.
Dia yang juga tokoh masyarakat di Pedawang menuturkan, dalam
lomba tangkap belut, panitia menyediakan 20 ekor belut. Setiap sesi lomba diberi
waktu dua menit dengan tiga peserta. Mereka akan menangkap belut dan
memindahkannya ke ember. Peserta dengan jumlah belut terbanyak akan menjadi
pemenang. “Ini juga sekaligus memberikan pengertian belut berbeda dengan ular. Jadi
dia tidak gigit,” tambahnya.

Dalam peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71 ini,
pihaknya membuat serangkai lomba untuk kategori anak-anak dan dewasa. Di antaranya,
balap karung pocong, hafalan doa sehari-hari, tangkap belut, dan suap bubur. “Nanti
juga ada pentas barongan keliling RT dan pentas musik remaja,”
terangnya.

Dalam pesannya dia menuturkan, lomba yang diadakannya bisa
menambah semangat anak-anak dalam memperingati kemerdekan Indonesia. Juga sekaligus
mengajak RT lain untuk mengadakan kegiatan serupa. “Yang paling penting
generasi muda dapat meningkatkan jiwa patriotisme dan cinta akan Negara
Kesatuan Republik Indonesia,” ungkapnya.

- advertisement -

Erna Tak Bisa Tidur pada Malam Menjelang Bertugas Membawa Baki Bendera

0
SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN Derap langkah Pasukan Pengibar Bendera
(Paskibra) terdengar dari sisi barat Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Rabu (17/8/2016). Mengenakan pakaian serba putih dan peci hitam mereka berjalan menuju sisi tengah
pelaksanaan upacara Hari Kemerdekaan Indonesia ke-71. Di baris paling depan, seorang perempuan tampak fokus membawa baki bendera. Dia bernama Erna Fitriana, siswi SMA Negeri 1 Kudus yang malam menjelang bertugas tak bisa tidur.

Paskibra Kudus 2016
Erna, siswi SMAN 1 Kudus bertugas membawa baki bendera pada Upacara Peringatan Kemerdekaan RI ke-71. Foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com, Erna menceritakan, ada perrasaan khawatir terjadi
kesalahan dalam melaksanakan tugas. Sebagai petugas Paskibra yang diberi amanat untuk membawa baki bendera menurutnya cukup berat. “Setiap malam mau tidur sulit, takut
salah. Kan yang nonton banyak,” ungkap Erna usai acara.
Saat
mengambil bendera dari inspektur upacara, kata perempuan murah senyum itu, gerogi dan deg-degan. Menurutnya,
rasa tersebut muncul saat naik dan turun tangga. “Saya harus konsentrasi dan
cermat dalam naik dan turun tangga. Salah sedikit saja akibatnya bisa fatal,”
terangnya sambil mengusap keringat dari keningnya.

Pada saat bertugas, Erna memang terlihat melangkah pelan-pelan menaiki anak
tangga untuk mengambil bendera. Setelah bendera diberikan Bupati Kudus, dia
kembali ke barisan untuk segera dilakukan penaikan bendera.

pembawa baki bendera HUT RI Kudus

Dalam Paskibra, Erna bertugas sebagai pembawa Bendera Merah Putih. Menurutnya dia masuk tim delapan bersama tujuh orang rekannya, serta empat anggota TNI yang mengenakan baju merah putih dengan
memegang senapan.

Berdasarkan data Paskibra Kabupaten Kudus 2016, pembawa bendera pada upacara pengibaran dilakukan Erna, sedangkan pada upacara penurunan dilakukan Maulita Krisanti, yang juga dari
SMA 1 Kudus. Petugas pengibar bendera yakni Khoilum Ulum SMK NU Ma’arif,
Alfian Adi siswa SMA 1 Kudus dan Widya Dwi Prakarsa siswa SMA 2 Bae.

Upacara Bendera HUT RI ke-71 Kudus

Sebelum pelaksanaan upacara, pelatih Paskibra Sertu Widodo
menuturkan, persiapan Paskibra Kudus 100 pesen sudah siap. Menurutnya, selama
satu bulan mereka dilatih baris berbaris dan kedisiplinan. “Pasukan sudah siap
100 persen,” ungkap dia yang juga anggota Kodim 0722 Kudus.

Dia menuturkan, ada 64 siswa SMA se-derajat yang ikut dalam
Paskibra. Nanti ditambah satu komandan Paskibra dan empat pengawal bendera yang
semua dari TNI. Menurutnya, Paskibra terbagi menjadi tiga tim, yakni tim 17,
tim delapan dan tim 45. “Ya sesuai dengan tanggal kemerdekaan Indonesia (tanggal
17 bulan delapan tahun 1945),” terangnya.

- advertisement -