Beranda blog Halaman 1946

Meski Pamor Batu Akik Kini Meredup, Tapi Toyo Masih Bisa Meraup Omzet Rp 6,5 Juta Sebulan

0

SEPUTARKUDUS.COM, GARUNG LOR – Seorang pria mengenakan pakaian warna putih berkopiah hitam berbincang dengan pelanggannya. Pria tersebut bernama Toyo (48), penjual batu akik asal Garung Lor RT 02/RW 02 Kec. Kaliwungu Kab. Kudus yang setiap hari berjualan di depan Toko Mebel 99 di Jalan Sunan Kudus. 

jual batu akik
Toyo berbincang dengan pelanggannya di Jalan Sunan Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Dari berjualan batu akik, Toyo mengaku mendapat penghasilan sebesar Rp 200 ribu hingga Ro 500 ribu tiap hari. Meski gejala batu akik telah berlalu, dalam sebulan saat ini dia mampu mendapatkan omzet hingga sebesar Rp 6,5 juta.

Kepada Seputarkudus.com, Toyo begitu akrab disapa, mengatakan, awal mula berjualan batu akik karena hobinya mengoleksi batu-batu antik. Melihat batu-batu tersebut sedang digemari oleh masyarakat, Toyo memulai berjualan dengan modal Rp 500 ribu. Saat itu, dia merasa sudah lama tidak bekerja dan ingin sekali berdagang. 

“Awalnya saya ini pengangguran, tidak memiliki pekerjaaan. Melihat batu akik laku dijual pada saat itu, terus saya memulai berjualan batu akik, karena sudah pusing mau berjualan apa” ungkap Toyo waktu ditemui pada saat berjualan di Jalan Sunan Kudus, Kamis, (01/09/2016).

Toyo mengatakan, dia berjualan batu akik selama satu tahun terakhir. Barang yang dijualnya tidak hanya berupa cincin, ada pula yang berbentuk kalung. Namun, sebagian banyak barang yang terjual yakni batu akik. Menurutnya, batu akik merupakan sebuah karya seni, dan seni adalah selera. “Batu akik itu selera. Orang kalau tidak tahu mengenai batu akik, mau dikasih berapapun pasti orang tersebut tidak mau,” tuturnya.

Sementara itu, Toyo menjelaskan, batu yang sering dicari masyarakat saat ini batu Bacan yang berwarna hijau kebiru-biruan. Namun, Toyo mengaku sedang kehabisan stok batu Bacan. Dia hanya menjual batu dengan harga Rp 20 ribu hingga harga Rp 150 ribu. Batu-batu yang dia jual tersebut dia peroleh dari sejumlah orang yang menjual batu akiknya.

“Batu yang harganya Rp 20 ribu itu batu Sulaiman, sedangkan batu yang harganya Rp 150 ribu yakni batu Kalimanya. Saya mendapatkan batu-batu ini dari para penjual batu akik, kemudian saya perjual belikan lagi,” imbuhnya.

- advertisement -

Wow, di Getasrabi Ternyata Ada Produsen Patung dan Sovenir Langganan Perusahaan di Amerika dan Perancis

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETASRABI – Bangunan besar dengan halaman yang luas memampang dua patung besar di sebelah kanan dan kiri pintu masuk. Sejumlah pekerja tampak sibuk menggarap patung berbahan resin beraneka ukuran. Bangunan di Desa Getasrabi, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, digunakan Ajie Dharma Art Studio, untuk mengerjakan beraneka patung dan sovenir, yang kebanyakan pesanan dari luar negeri.

produsen patung berbahan resin
Diana, putri Dharmaji melakukan finishing patung pesanan dari Eropa. Foto: Ahmad Rosyidi

Di sela kesibukannya, satu di antara pengelola Dharma Art Studio, Siti (50), berbagi cerita kepada Seputarkudus.com terkait usaha miliknya. Dia menjelaskan, usaha pembuatan patung dan sovenir itu dirintis suaminya, Dharmaji (54). Suaminya memulai usaha dengan membuat patung berbahan tanah liat berukuran kecil untuk souvenir nikah, sejak tahun 1995.

“Usaha ini awalanya hanya sebagai usaha sampingan, karena gaji PNS suami saya tak cukup untuk membiayai keluarga. Sekarang alhamdulillah sudah berkembang sangat pesat, bahkan menembus pasar internasional sejak 2002,” ujar Siti saat ditemui di Ajie Dharma Art Studio.

Dia menceritakan, sejak kecil suaminya memang menyukai seni. Mulai SD Dharmaji sudah mengikuti lomba-lomba seni rupa. Berawal dari kecintaanya terhadap seni itu suaminya mendirikan usaha pembuatan patung dan sovenir. “Dulu awalnya kami membuat patung dari tanah liat untuk sovenir nikah, kami sering lebur,” kenang Siti.

jual sovenir kudus
Sejumlah karywan Ajie Dharma Art Studio mengerjakan pesanan patung. Foto: Ahmad Rosyidi

Siti juga menjelaskan, produknya bisa dijual hingga keluar negeri berawal dari kerjasama memasok properti di pabrik Pura Barutama pada tahun 2000. Kemudian ada rekan bisnis Pura Barutama dari luar negeri yang tertarik dan meminta Dharmaji untuk membuat beberapa sampel. Pada awalnya sampel tersebut belum diterima, namun Dharmaji terus bereksperimen. 

“Akhirnya setelah dua tahun menunggu baru ada keputusan kerjasama mulai tahun 2002 sampai sekarang,” jelas Siti.

Siti merinci, Ajie Dharma Art Studio memproduksi patung dan properti di antaranya hiasan lampu, figura cermin, meja dan kursi. Sebagian besar produk miliknya dijual ke Amerika dan Perancis. Di Amerika ada tiga perusahaan dan di Perancis baru satu perusahaan. Sepekan dua kali pihaknya mengirim ratusan pcs ke perusahaan-perusahaan tersebut. 

“Untuk pasar lokal malah jarang, paling kirim ke Jakarta, seperti 12 patung di Taman Mini itu kami yang buat,” katanya.

proses pembuatan patung resin

Harga patung paling murah yang diproduksi, katanya, sekitar Rp 5 juta. Sedangkan harga properti paling murah sekitar Rp 3 juta. Dia menjelaskan, pelanggan yang memesan mayoritas kalangan menengah ke atas. “Mayoritas pelanggan kalangan menengah ke atas. Pernah juga ada orang Tionghoa yang mau memesan tetapi tidak jadi, karena harganya tidak cocok bagi mereka. Kami lebih mengutamakan kualitas dengan harga yang sesuai demi kepuasan pelanggan,” tambahnya.

Siti menambahkan, saat ini Ajie Dharma Art Studio sudah sepenuhnya dikelola Diana, putri pertama dari tiga bersaudara.
Sejak 2010, saat Dharmaji dan dirinya pergi haji, usahanya
mulai diserahkan pada Diana.

“Bapak sekarang hanya membantu saya membuat pola patung. Dari
membeli bahan baku sampai pemasaran sekarang sudah saya handle. Selebihnya urusan
produksi dan finishing sudah ada 12 karyawan yang membantu. Semua
karyawan warga sini,” kata Diana.

- advertisement -

Alumni UMK Mengajar di NTT (2), Malam-Malam Weni Hanya Ditemani Lampu Templok

0

SEPUTARKUDUS.COM – Sejumlah anak duduk mengenakan pakaian hitam putih pada suasana malam yang dingin, di Desa Halerman, Kecamatan Alor Barat Daya, Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Mereka sedang mengikuti pentas seni yang hanya dilengkapi penerangan seadanya, tanpa listrik. Pentas seni itu merupakan sepenggal cerita dari Weni Rahmawati, alumni mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) saat berada di sana.

mahasiswa umk mengajar di NTT
Weni berfoto bersama dua rekannya dan warga setempat. Foto: Weni Rahmawati

Weni, begitu dia akrab disapa, mengikuti progam Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) pada 21 Agustus 2015 hingga 5 Agustus 2016. Saat di sana, dia melalui banyak malam tanpa listrik. Di rumah-rumah warga, termasuk tempat tinggal sementara dirinya di sana, lebih banyak menggunakan lampu teplok.

Saat ditemui di kediamannya di Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, beberapa hari lalu, Weni menuturkan, di Kampung Halmin, Desa Halerman, tempat dia ditugaskan, pasokan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) belum mengalir ke sana. Menurutnya, ada listrik namun bersumber dari disel milik pribadi warga Halmin. 

“Hidupnya diesel tidak menentu. Kadang sehari hidup beberapa jam. Kadang tidak dihidupkan sama sekali. Jadi sumber pencahayaan malam hanya dengan sentir,” tututnya.

program mengajar di luar jawa

Lampu teplok yang dibuat dari sisa botol minuman You C1000 yang diberi sumbu dan minyak tanah, menjadi teman setia malam-malam Weni saat tinggal di sana. Setiap dirinya ke kota, dia tidak lupa membeli minuman tersebut untuk dibuat lampu teplok bekas kemasannya. “Tujuan utama saya tidak minum isinya, namun botolnya yang akan dibuat lampu teplok,” ungkapnya sambil tertawa. 

Baca juga: Alumni UMK Mengajar di NTT (1) Weni Terharu Saat Calon Siswanya Berebut Membawakan Ta

Weni yang ditugaskan sebagai pengajar di SMPN Satu Atap (Satap) Halmin menuturkan, untuk alat komunikasi, dia menggunakan telepon genggam. Kebetulan di sana masih terdapat sinyal. Desa Halerman, katanya, merupakan desa terakhir yang terjangkau sinyal handphone. Desa yang berlokasi di sisi timur Desa Halerman menurutnya sudah tidak terjangkau sinyal. 

Program SM3T

“Saya termasuk masih beruntung masih bisa menggunakan handphone. Sinyal yang ada hanya Telkomsel,” terangnya.

Halmin, kata Weni, merupajan kampung yang bersuhu sangat panas saat siang hari. Secara geografis letak perkampungan dekat dengan laut, hutan dan padang savana. Luas keseluruhan Desa Halerman yakni 20 hektare. Kampung Halmin berbatasan dengan Kampung Hirang di sebelah utara, Kampung Nadangpat dan Kampung Ling ‘Al di sebelah timur, Selat Ombai di sebelah selatan dan Selat Pantar di sebelah barat.

Kepada Seputarkudus.com dia menuturkan, warga Kampung Halmin berkulit gelap. Atap rumah-rumah mereka terbuat dari seng. Sebagian besar bangunan rumah masih semi permanen. Menurutnya, dia bersama dua temannya tinggal di mess guru. Bangunannya berukuran sekitar 10×5 meter bertembok dan beratap seng. Bangunan tersebut dibangun secara swasembada oleh warga Halmin.

keindahan laut NTT

Jarak antara mess dan sekolah bisa ditempuh dengan beberapa menit berjalan kaki. Daerah tersebut tidak ada kendaraan umum maupun motor. Sebenarnya transportasi utama yakni menggunakan prahu atau kapal motor. “Setiap hari saya berjalan kaki menuju sekolah atau pergi kemana-mana,” tambahnya.

Tempat Weni mengajar yakni di SMPN Satap Halmin. Menurutnya, SMPN Satap Halmin satu-satunya SMP di desa tersebut. Selain dari Kampung Halmin juga terdapat murid dari Kampung Ling ‘Al dan Kampung Hirang. Dia menuturkan, siswa di luar kampung Halmin harus berjalan kaki selama satu hingga satu setengah jam. 

“Dulu SMPN Satap masih satu gedung dengan SD Negeri Probur IV. Tahun pelajaran 2016/2017 Alhamdulillah sudah mempunyai gedung baru. Bangunan permanen cat biru dan beratap biru,” tuturnya.

- advertisement -

Syarifah Histeris Saat Butet dan Owi Melambaikan Tangan ke Arahnya

0
SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN KUDUS – Ribuan pelajar dan
masyarakat Kudus terlihat berkumpul di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Kamis (31/8/2016). Sambil membawa
bendera kecil, mereka menunggu arak-arakan Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir penerima
medali emas ganda campuran pada Olimpiade musim panas 2016 di Rio de Janeiro
Brazil. Meski terik mantari menyengat, mereka tetap sabar menanti rombongan jagoan bulu tangkis tersebut.

Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir ke Kudus
Tantowi Ahmad dan Liliyana Natsir menaiki Volkswagen saat menyapa masyarakat di Kudus. Foto: Imam Arwindra 

Suara tabuhan drumband nampak terdengar dari Jalan Dokter
Ramelan. Terlihat Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir nampak melambaikan
tangannya diatas mobil Volkswagen yang dimodif bertingkat terbuka. Beberapa
perempuan yang hadir nampak histeris sambil menyebut nama Owi dan Butet (panggilan
Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir). Ada yang sambil merekam dan ada pula yang hanya
melambaikan tangan.
Di antara ribuan orang yang rela baerpanas-panasan, ada Syarifah Afsantin, warga Desa Sunggingan,
Kecamatan Kota, Kudus. Dia terus berteriak menyebut nama Butet saat mobil
Volkswagen lewat di depannya. Dengan smartphone ditangannya dia terus
merekam kehadiran Owi dan Butet di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. “Saya seneng
sekali ketemu Butet. Tidak sangka bisa melihat langsung,” ungkapnya disela-sela
dia berteriak.
Dia mengaku lebih nge-fans dengan Butet ketimbang
dengan Owi. Menurutnya, Butet lebih bersemangat dan tidak gampang putus asa. Dia
menuturkan, dirinya selalu mengikuti Instagram milik Butet. “Sebenarnya
keduanya sama. Namun entah kenapa saya lebih suka Butet,” tegasnya.
Perempuan yang memakai kerudung dan kemeja putih menuturkan,
saat pertandingan final dengan Pasangan Malaysia Chan Peng Soon dan Goh Liu
Ying, dia mengaku menonton sampai selesai. 

Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir ke Kudus
Bersama Bupati Kudus Musthofa (dua dari kanan) Owi dan Butet menyapa masyarakat Kudus di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus.
Menurutnya, dia cukup mengerti
perjalan Butet untuk bisa meraih prestasi. “Saya gagum dengan mereka (Butet dan
Owi). Mereka sangat menginspirasi. Walau pernah jatuh mereka bangkit lagi untuk
menjadi juara,” ungkapnya.
Bersama dengan Bupati Kudus Musthofa dan mantan atlet berprestasi
di jamannya, Butet dan Owi menyapa masyarakat Kudus di tengah Alun-alun Simpang
Tujuh Kudus. Dalam pesannya Butet dan Owi merasa senang atas sambutan yang
sangat meriah. Menurutnya, mereka tidak menyangka akan disambut meriah di
Kudus. “Sebenarnya berprestasi bukan hanya di dunia olahraga saja, melainkan
bisa di Matematika atau Sains,” tutur Butet yang memai kaos merah dengan kalung
bunga di lehernya.
Butet menuturkan, dia mengucapkan terima kasih kepada Persatuan
Bulu Tangkis Djarum (PB Djarum) yang telah melahirkan altet berprestasi yang
mengharumkan bangsa dan negara. “Saya ucapkan terima kasih kepada Bupati Kudus
dan PB Djarum. Semoga prestasi ini bisa memotivasi temen-temen untuk berprestasi
di tingkat dunia,” tambah Owi yang mengenakan pakaian sama dengan Butet.
- advertisement -

Pria Ini Menjual Bensin Warna-warni di Jalan Tanjung, Pembeli Datang Mengira Sirup

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGANGUK – Lalu lintas kendaraan tampak ramai Jalan Tanjung, Desa Kramat, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Rabu (31/08/2016), pukul 11.05 WIB. Ramainya kendaraan yang melintas di jalan tersebut dimanfaatkan Warno untuk berjualan bensin eceran. Dia menjual semua jenis bahan bakar untuk kendaraan. Karena ragam warna itu, calon pembeli ada yang mengira dirinya tengah menjajakan sirup.  

bensin pertamax kudus

“Dulu ada calon pembeli yang datang, dikira saya berjualan sirup karena BBM yang saya jual berwarna-wani. Padahal semua yang saya jual ini bensin. Sekarang bensin kan memang beragam, ada Premium, Pertalite, Pertamax dan Pertamax Plus. Saya menjual semua jenis itu,” ujar warga Desa Megawon, RT 01 RW 01 Kecamatan Jati,  Kudus.

Dirinya lebih suka menonjolkan bensin jenis Pertalite dan
Pertamax. Menurutnya, warna biru Pertamax dan warna merah Pertamax Plus
membuat banyak orang tersita perhatiannya. “Seolah-olah biar terlihat
heran, jualan apa tho itu,” ungkapnya.

Kepada Seputarkudus.com, dia menceritakan, awal mula dirinya menjual bensin eceran, setelah kios yang ia miliki di Pasar Kliwon terbakar beberapa tahun lalu. Di kios tersebut dia menjual pakaian anak-anak. “Namun, kios tersebut sudah lama saya kontrakan, modalnya sebagian saya gunakan untuk hidup dan berjualan bensin eceran,” kata pria asli Magelang tersebut.
 
Sebelum memiliki gerobak, dulu Warno berjualan menggunakan meja kecil, dan hanya mempunyai 50 botol. Modal usaha yang dia keluarkan membuka usaha jual bensin eceran sebesar Rp 5 juta. Saat ini, dalam sehari Warno mampu menjual hingga 80 liter dengan penghasilan bersih Rp 1,5 juta per bulan. 

Meski begitu, dia mengaku lebih suka berjualan pakaian anak-anak di kios Pasar Kliwon seperti dulu, dibanding berjualan bensin eceran seperti sekarang. “Lebih enak jualan pakaian, sehari bisa megang uang Rp 4-5 juta. Kalau tidak ada pembeli bisa ditinggal istirahat,” tambahnya.

- advertisement -

Pria Ini Dijuluki ‘Dokter’ Velg Karena Keahliannya Merubah Velg Usang Menjadi Kinclong

0

SEPUTARKUDUS.COM, SINGOCANDI – Sejumlah kendaraan berlalu-lalang di depan Sub Terminal Singocandi, Jalan Ringroad Utara, Kudus, belum lama ini. Di terminal yang tak lagi berfungsi itu, terlihat seorang lelaki sedang memoles velg. Dia bernama Agus (23), tukang permak velg mobil yang mendapat julukan “dokter” velg dari para pelanggannya. Julukan itu didapat, karena kemampuannya merubah velg usang berubah menjadi kinclong.

ahli permah velg di Kudus
Agus memoles velg usang menjadi kinclong di bengkel miliknya. Foto: Ahmad Rosidi

Kepada Seputarkudus.com, Agus mengatakan, julukan itu didapat dari pelanggannya karena dianggap sangat piawai memoles velg. Bengkel miliknya yang berlokasi di samping Polsek Kota tersebut, katanya, tak pernah sepi pelanggan. Setiap hari dirinya didatangi pelanggan untuk merubah velg yang usang agar terlihat baru. 

“Julukan itu (dokter velg) diberikan para pelanggan. Saya juga tidak tahu maksudnya, mungkin karena saya dianggap piawai merubah velg yang usang menjadi kinclong,” ujar Agus saat ditemui di bengkel miliknya yang diberi nama Baruna Jaya Mandiri, beberapa waktu lalu.

Di bengkelnya tersebut, Agus melayani sejumlah permak velg. Di antaranya, cat velg, poles, senter, las, dan sawur. Selain itu, dia juga melayani jasa salon mobil luar dalam, tukar tambah velg, tukar tambah ban, tambal ban tubles dan menyediakan ban baru dan bekas.

Untuk memberikan kepuasan kepada para pelanggannya, Agus mengaku memberikan pelayanan yang cepat. Itu dilakukan agar pelanggannya tak terlalu menunggu lama untuk bisa mengunakan velg yang diinginkan. Dia mangaku membuka bengkelnya setiap hari, kecuali Minggu.

 “Saya mengutamakan kepuasan pelanggan, pelanggan pasti senang kalau dilayani secara cepat. Misalnya menambal ban paling saya butuh 10 menit saja. Kalau saya sudah menerima pelanggan yang saya janjikan hari itu juga jadi, meski ada pelanggan lain ya saya suruh datang besok. Takutnya sudah diambil malah belum selesai dan mengecewakan pelanggan,” tutur Agus.

Sembari mengerjakan perbaikan velg dari pelanggannya, Agus menjelaskan, jasa permak velg diberikan biaya beragam. Untuk servis velg dikenakan biaya Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu. Sedangkan cat mobil dikenakan biaya Rp 2 juta hingga Rp 3 juta, tergantung kondisi dan permintaan pelanggan. Setiap bulan Agus mengaku mendapat keuntungan hingga Rp 5 juta.

Dia menceritakan, sejak kecil sudah sering membantu kakaknya yang dulu pernah buka servis velg di rumah. Sehingga servis velg mobil mulai ngecat sampai mengelas dia sudah ia pahami.

“Kalau urusan velg saya sudah dari kecil bantu kakak, jadi seluk-beluknya sudah paham. Kakak saya dulu sebelum pindah ke Kalimantan sudah buka bengkel velg seperti ini di rumah, sekitar 15 tahun dia membuka bengkel. Sekarang dia pindah dan saya merasa mampu ya saya teruskan saja buka sendiri,” jelas Agus.

Selain dikerjakan sendiri, Agus juga memiliki dua karyawan untuk membantu pekerjaannya. Sebelum membuka bengkel di tempatnya saat ini, Agus pernah buka di samping SPBU Peganjaran. Setelah sewa tempat sudah habis, dia menyewa dua ruko yang ada di Sub Terminal Singocandi. Satu rukonya disewa dengan harga 3,5 juta. 

Agus juga mengikuti klub mobil ceper, klub itu bernama Low N’ Slow. Meski mengikuti satu klub, dia mesih sering kumpul dengan klub-klub mobil lain. Selain untuk hobi, itu dilakukannya juga agar memperluas jaringan pelanggan.

- advertisement -

Alumni UMK Mengajar di NTT (1) Weni Terharu Saat Calon Siswanya Berebut Membawakan Tas

0
SEPUTARKUDUS.COM – Dermaga di Kalabahi, Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara
Timur (NTT), dipenuhi warga yang akan menyebrang. Mereka bergantian menaiki kapal
motor yang terbuat dari kayu. Tak lebih dari 50 orang, kapal motor Wiwana melaju dan menerjang ombak menuju Kampung Halmin Desa Halerman, Kecamatan
Alor Barat Daya, Kabupaten Alor. Weni Rahmawati, alumni mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK), juga ikut dalam kapal tersebut.

Mahasiswa UMK Mengajar di NTT
Weni saat di Dermaga Kalabahi, Kabupaten Alor, NTT.
Weni, begitu dia akrab disapa, menceritakan pengalamannya kepada Seputarkudus.com saat berada di sana. Dia naik kapal motor itu saat
penerjunan menjadi pengajar di Kampung Halmin Desa Halerman, Kecamatan Alor Barat
Daya. 

Menurutnya, hal yang
mengagumkan yakni ketika akan sampai di Dermaga Kampung Halmin. Dari
kejauhan sekelompok orang sudah berkumpul untuk menyambut kadatangan
mereka.  Saat dia menginjakkan kaki di bibir
dermaga, beberapa calon muridnya berebut untuk membawakan koper dan
tas yang dibawa.

“Saya sempat kaget dan terharu. Para guru, warga dan siswa
menyambut kami. Sampai anak-anak berebut membawakan tas saya,” eni saat ditemui di kediamannya, Kelurahan Panjunan, Kecamatan
Kota, Kudus, Selasa (30/8/2016).

Weni mengikuti progam Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan
Tertinggal (SM3T) yang diselenggarakan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan
Tinggi Republik Indonesia. Program itu dimulai 21
Agustus 2015 dan berakhir 5 Agustus 2016.  

“Saat itu saya diterjunkan bersama guru SM3T lainnya yang didampingi
pihak Kementrian dan Pemerintah Kabupaten Alor untuk menuju lokasi mengajar.
Waktu yang saya tempuh sekitar empat jam mengunakan kapal motor menuju Kampung
Halmin,” ungkap Weni.

Mahasiswa UMK mengajar di NTT
Weni saat mengajar di Kabupaten Alor, NTT.

Dalam progam SM3T dia mengaku tergabung dalam angkatan lima. Menurutnya, penentuan daerah sudah diatur oleh kementrian.
Weni mendaftar SM3T lewat rayon Universitas Negeri Yogjakarta (UNY) dengan
minyingkirkan ribuan pendaftar. 

“Saya terbang ke Alor tanggal 19 Agustus 2015. Resmi
penerjunan Tanggal 21 Agustus 2015. Di Alor saya menjalankan tugas selama satu
tahun,” tuturnya.

Menurutnya, daerah penerjunan guru SM3T bukan hanya di Desa
Halerman, melainkan juga seluruh desa di Kecamatan Alor Barat Daya. Weni menceritakan,
saat bertugas di Kampung Halmin Desa Halerman dia bersama dua temannya dari
Magelang dan Sragen. 

“Untuk menuju ke Desa Halerman hanya bisa menggunakan jalur
air. Setelah sampai di Dermaga yang sekaligus pintu masuk Kampung Halmin,
kami harus berjalan kaki melewati padang savana menuju ke pemukiman
warga,” terangnya.

Weni yang lulusan Pendidikan Bahasa Inggris itu menuturkan, di Kampung Halmin tidak ada kendaraan atau
alat transportasi. Ketika masyarakat Kampung Halmin ingin berpergian atau mengangkut
sesuatu, mereka harus berjalan kaki. Jika keluar desa atau menuju kota mereka menggunakan
kapal motor. 

“Ketika saya pergi mengajar juga
harus berjalan kaki. Namun kebetulas penginapan saya dekat dengan
sekolah. Jadi saya beruntung,” tutur perempuan berjilbab tersebut.

- advertisement -

Mahasiswa FE UMK Ini Lebih Malu Minta Uang pada Orang Tua, Ketimbang Menjahit Tas

0

SEPUTARKUDUS.COM, GONDANGMANIS – Seorang pria tampak pinyawai menjahit resleting untuk dijadikan sebuah tas. Dengan meteran terkalung di lehernya, dia kemudian memotong bagian-bagian tas yang tak diperlukan. Pria tersebut yakni M Ulin Nuha (22), mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Muria Kudus (UMK) yang membuka usaha pembuatan tas berbahan resleting, karena malu meminta uang pada orang tua.

jual tas resleting di Kudus
Ulin Nuha menunjukkan produk tas resleting miliknya di Desa Gondangmanis, Bae, Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari mengerjakan pesanan tas, mahasiswa semeseter 9 itu tak keberatan berbagi cerita kepada Seputarkudus.com. Menurut Ulin, begitu akrab disapa, awal mula memberanikan
diri membuka usaha karena melihat teman-temannya banyak sudah berkerja dan tidak menggantungkan orang tua. 

“Malu rasanya masih meminta-minta sama orang tua,” ungkap Ulin saat ditemui di kediamannya, Dukuh Kadilangon, Desa Gondangmanis RT 2 RW 9 Kecamatan Bae, yang juga dijadikannya tempat usaha, belum lama ini.

Menurutnya, produk tas miliknya 90 persen bahan resleting. Bahan lainnya berupa furing dan besi pengait tali tas. Dia menuturkan, awal mula membuat tas resleting ini butuh waktu satu bulan untuk bisa jadi satu tas sesuai dengan apa yang diharapkan. “Butuh waktu satu bulan untuk membuat satu tas yang bagus. Saya belajar membuat tas ini melihat tutorial di Youtube,”, tuturnya

Kini, kakatanya, setiap hari dia bisa memproduksi tujuh hingga delapan tas. Dalam sebulan dia bisa memproduksi sekitar 200 lebih. Menurutnya, omzet yang dia peroleh per bulan lebih dari Rp 6 juta, tergantung pesanan yang diperoleh dari pelanggan. Pemasaran tas resleting miliknya dilakukan secara online melalui blog Tasresletingkudus.wordpress.com dan Facebook Tas Resleting Kudus. 

Alhamdulillah, sekarang sudah banyak pesanan yang masuk. Pesanan ada yang dari Kudus, Semarang, Purbalingga, Solo, Cilacap, Salatiga, Purwokerto, Magelang, bahkan luar Jawa juga ada,” tuturnya.

Dia mengaku sudah merasakan jatuh bangun menemukan usaha yang menguntungkan. Mulai dari usaha menjual temu lawak sampai rencana membuka ruko sembako bersama teman kuliahnya. 

Saat itu sudah 75 persen persiapan membuka usaha berjualan sembako tersebut. Dia juga hampir menjual motornya untuk modal sewa ruko. Namun, rencana Ulin tersebut tidak dilanjutkan karena dilarang orang tuanya. “Awalnya didukung, namun setelah persiapan sudah 75 persen, orang tua malahan tidak mendukung,” terangnya.

- advertisement -

Warung Pak De Ripto, Warung di Rendeng yang Buka Hingga Subuh dan Tak Pernah Sepi Pembeli

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Malam mulai sunyi, dan waktu menunjukan pukul 23.30 WIB saat lelaki tua menyajikan makanan di warung tenda miliknya, tak jauh dari lapangan Desa Rendeng, Kecamatan Kota. Dari seberang jalan, terlihat sejumah kendaraan terparkir di depan warung tersebut. Cahaya lampu neon menerangi baner tertulis Warung Makan Setia Asli De Ripto, nama warung yang diambil dari nama lelaki tersebut.

warung makan kudus buka hingga subuh
Warung Makan Pak De Ripto yang buka hingga subuh tak pernah sepi pelanggan. Foto: Ahmad Rosidi

Suripto (57), nama lengkap pemilik warung tenda yang akrab disapa Pak De Ripto. Sembari melayani para pelanggan yang datang, dia sudi berbagi cerita Kepada Seputarkudus.com. Mengawali cerita tentang pengalamannya berjualan, dia mengaku membuka warungnya mulai sekitar jam 20.00-04.30 WIB. Dia dibantu putra dan menantunya. 

“Saya mulai buka pukul 20.00 WIB sampai subuh, biasanya dibantu putra dan menantu saya,” ujar Pak De Ripto yang mengatakan telah berjualan di lokasi tersebut sejak 15 tahun lalu.

Sekarang, katanya, warung miliknya itu hampir tak pernah sepi pelanggan yang bergantian datang setiap malam. Dia mengaku, penghasilan bersih yang dia dapat dari berjualan sekitar Rp 100 ribu setiap hari. Menu yang dia jual, di antaranya, soto ayam, nasi, lauk ayam, telur, ikan panggang, tahu dan tempe.

“Hampir semua yang saya jual ini masakan sendiri, kecuali krupuk dan minuman saset,” kata lelaki kelahiran Klaten tersebut.

Warung Makan Pak De Ripto Rendeng Kudus
Pak De Ripto melayani pembeli yang datang. Foto: Ahmad Rosidi

Karena berjualan mulai malam hingga subuh, Pak De
Ripto mengaku tidur pagi setelah berjualan. Dia mulai aktivitas pada
siang hari untuk menyiapkan masakan yang dijual malam harinya. Warungnya
hanya tutup sepekan sekali, setiap Kamis malam Jumat. 

“Tidur ya pagi usai berjualan. Siang baru bangun dan mulai memasak. Sepekan sekali libur. Kalau tidak ada hal tertentu biasanya tetap buka,” ujar Pak De Ripto yang mengaku memasak beras sekitar 10 kilogram setiap hari.

Sebelum berjualan nasi di seberang lapangan Desa Rendeng, dia pernah berjualan bakso, wedang ronde dan es puter di Juana, Pati. Itu dilakukannya sebelum pindah ke Kudus pada 1975. Sejak muda, dia mengaku berjualan, dan sering berpindah-pindah tempat. 

Meski sekarang sudah tinggal dan menjadi warga Kudus, Pak De Ripto masih menyempatkan diri ke Klaten pada saat-saat tertentu. “Sekarang saya sudah jadi warga Kudus. Saya menikah dengan istri saya yang orang Kudus. Tapi kalau ada nyadran atau bersih-bersih makam saya masih balik ke Klaten,”  uangkapnya.

- advertisement -

Owner Wajik Coffee Shop Kudus: Kopi yang Enak Itu, Saat Diminum Terasa Nyaman

0
SEPUTARKUDUS.COM, GARUNG LOR – Sejumlah barista (peracik kopi) memasukkan biji kopi kedalam grinder untuk dihaluskan di Wajik Coffee Shop Kudus, belum lama ini. Setelah air mendidih, mereka kemudian menuangkannya di atas kertas filter yang dalamnya terdapat serbuk kopi. Tampak air berwarna hitam keluar dari bawah kertas fiter tersebut. Setelah segelas kopi jadi, kopi-kopi tersebut dibawa untuk dites juri dalam lomba membuat
kopi bertajuk Anteman Kopi.

Lomba Meracik Kopi Barista Kopi Wajik Kudus
Sejumlah barista meracik kopi di Wajik Coffee Shop, Kudus, beberapa waktu lalu. Foto: Imam Arwindra
Sebanyak enam juri terlihat memegang sendok sambil berdiri. Secara
bergantian mereka mengicipi enam gelas kopi yang tersedia di depannya. Dari sendok itu, mereka menyeruput kopi itu dalam-dalam. Tidak
sampai lima menit para juri menentukan racikan kopi terbaik.
Nika Biru Watataqu, juri dalam lomba tersebut menuturkan, enak dan tidaknya rasa
kopi tidak ada patokannya. Tapi menurutnya, kopi bisa dibilang enak jika penikmatnya merasa nyaman.
Nika yang juga menjadi owner Wajik Coffee Shop
tersebut menuturkan, setiap jenis kopi mempunyai karakteristik. Menurutnya, rasa
kopi yang enak yakni tidak nyegrak. “Setiap kopi rasanya beda-beda. Kalau saya
yang penting tidak nyegrak,” tuturnya kepada Seputarkudus.com saat lomba sedang berlangsung.
Barista yang memakai topi tersebut menjelaskan, kopi dikatakan
enak juga berkaitan proses penanaman oleh petani dan cara roasting. Menurutnya,
jika proses penanaman kopi benar dan pemupukan baik, akan mengasilkan biji
kopi yang berkualitas. Setelah itu, saat proses roasting biji kopi tidak boleh gosong. Biji kopi setelah proses roasting yang bagus berwarna hitam
kecoklat-coklatan. “Intinya jangan sampai gosong. Karena rasanya akan pahit,”
tuturnya.
Nika juga menjelaskan, dalam proses penyeduhan panasnya air juga
diatur. Dia menyarankan agar air yang digunakan untuk menyeduh di angka 80-90
derajat selsius. Jika suhu terlalu panas akan membuat rasa kopi pahit. “Logikanya
seperti saat roasting, jika suhu terlalu panas akan gosong dan terasa pahit,”
terangnya.
Hal senada juga dinyatakan Najmi, barista kedai Kopi Big Tree Kudus. Dia menuturkan, untuk menyeduh kopi memang
perlu panas air diangka 80-90 derajad selsius. Menurutnya, angka tersebut pas
untuk menyeduh air. “Kalau terlalu tinggi pasti banyak rasa pahitnya,”
ungkapnya.
Kopi enak menurutnya yakni ada perpaduan rasa pahit, manis,
asamnya seimbang. Manis yang terdapat dalam kopinya bukan dari gula, melainkan
kandungan dari kopi tersebut. “Kalau minum kopi saya tidak pernah memakai gula.
Kan biji kopi ada kandungan glukosanya,” tuturnya.
Menurutnya, sebenarnya biji kopi sudah mengandung glukosa
yang memberikan rasa manis. Namun glukosa yang terkandung dalam biji kopi berbeda
dengan di pohon tebu. “Jika ingin menikmati kopi yang sebenarnya jangan pakai
gula. Karena kalau pakai gula rasanya bukan lagi rasa asli dari kopi tersebut,”
terang dia yang menyukai kopi jenis Arabika Toraja Sapan.

- advertisement -

Barista: Meracik Kopi Seperti Memperlakukan Pacar, Harus Serius dan Hati-Hati

0
SEPUTARKUDUS.COM, GARUNG LOR – Enam orang terlihat berdiri berjajar di balik meja kayu dengan berbagai perlengkapan meracik kopi, di Wajik Coffee, Kudus, belum lama ini. Mereka tampak menunggu air mendidih yang sedang disiapkan panitia lomba. Sambil menunggu air mendidih, secara bergantian mereka menghaluskan biji
kopi menggunakan grinder. Ketika semua bahan sudah siap, mereka
segera meracik kopi dalam lomba Anteman Kopi yang diadakan.

Barista Peracik Kopi di Kudus
Kokok (kemeja kotak-kotak) menuang air panas ke dalam gelas pada lomba Anteman Kopi di Kudus. Foto Imam Arwindra 
Ketegangan mulai muncul saat mereka menimbang serbuk kopi
yang akan diseduh. Secara seksama, mereka melihat penunjuk angka yang terdapat pada
alat timbang. Tak hanya itu, penunjuk angka termometer yang terdapat
dalam ketel panas juga tidak lepas dari pengawasan mereka. Di antara peserta
lomba yakni Kokok yang datang dari Grobogan.
Menurutnya, dirinya baru pertama kali mengikuti lomba meracik kopi. Dia merasa tegang karena memang harus konsentrasi dalam menentukan
takaran serbuk kopi dan air panas. “Membuat segelas kopi sama seperti
memperlakukan pacar atau istri. Harus serius dan hati-hati,” ungkapnya saat
ditemui saat lomba sedang berlangsung.
Barista asal Grobogan yang mempunyai kedai kopi bernama Tag
Coffee menuturkan, dalam seni membuat kopi harus diperhitungkan juga masalah
rasio dan waktu. Menurutnya untuk menyeduh kopi yang baik, panas air antara
80-90 derajat selsius. “Kalau panasnya tinggi nanti rasa kopinya akan pahit.
Karena gosong,” terangnya.
Kepada Seputarkudus.com dia menuturkan, enak atau tidaknya
kopi tergantung dari konsumen. Menurutnya, setiap orang mempunyai lidah yang
berbeda-beda. Jadi tidak ada patokan. “Kalau saya sendiri, kopi enak itu yang
pahit, asem dan manisnya seimbang. Dan paling penting tidak membekas di
tenggorokan,” tuturnya.
Dalam perlombaan dia mengaku membutuhkan waktu sekitar 100
detik untuk membuat kopi. Menurutnya, dia menggunakan panas air 80 derajat
selsius. “Ya inilah seni. Kami sangat menikmatinya,” ungkap dia yang menyukai
kopi jenis Arabika.
Ketua Komunitas Kudus Coffee Enthusiast (KCE) Hazmi (25)
menuturkan, lomba membuat kopi yang bertajuk Anteman Kopi ini baru pertama kali
diselenggarakan dengan peserta diluar Kabupaten Kudus. Menurutnya, mereka
sering melakukan kegiatan serupa hanya dengan anggota KCE saja. “Ini baru
pertama kalinya kami mengundang (penyuka kopi) dari Jepara, Grobogan, Blora,
Pati dan Demak. Mereka sangat antusias untuk hadir,” tutur dia.
Menurutnya, dalam perlombaan tersebut terdapat 24 peserta
yang akan dibagai dalam babak penyisihan, semi final dan final. Untuk juri dari
setiap babak yakni peserta sendiri yang hadir secara bergantian.  Nanti untuk yang medapatkan juara akan mendapat
hadiah berupa biji kopi. “Untuk jenis kopi yang digunakan lomba yakni Arabika,”
tuturnya.
Hazmi yang mempunyai kedai kopi bernama Big Tree di Kudus
menuturkan, KCE setiap bulannya selalu ada pertemuan dengan tempat berpindah-pindah.
Menurutnya, anggota KCE kebanyak pelaku bisnis kopi di Kudus. “Selain
menyalurkan hobi, juga untuk cari teman dan silaturahmi,” tambahnya.
- advertisement -

Meski Sempat Kehilangan Wayang, Dalang Cilik Asal Karangbener Ini Pukau Penonton

0
SEPUTARKUDUS.COM, DERSALAM – Pria kecil mengenakan
blangkon berjalan menuju kursi depan panggung pagelaran wayang kulit. Tanpa senyum,
dia menyalami beberapa undangan yang duduk di kursi depan. Saat dirinya duduk, anak tersebut hanya diam. Pria itu bernama Muhammad Bayu Kusumo, dalang cilik yang mementasan wayang kulit pada peringatan
Hari Kemeredekaan Indonesia ke-71 di Lapangan Desa Dersalam, Kecamatan Bae,
Kudus, Sabtu (27/8/2016) malam.

Bayu dalang cilik kudus
Bayu nampak menunggu tokoh pewayangan yang sedang dicarikan ayahnya, Kustiono. Foto: Imam Arwindra
Saat sesi sambutan, wajah Bayu nampak tegang. Sesekali seorang
pria dewasa mengenakan blangkon hitam menyambanginya. Pria tersebut nampak
modar-mandir di sekitar pangunggung. “Wis siap? (sudah siap),” ungkapnya kepada
para nayaga yang malam itu berpakaian serba kuning.
Gamelan dan gong terdengar sudah dibunyikan, dengan pakaian
hitam dan sarung batik coklat, Bayu berjalan menuju panggung utama. Dia duduk berdampingan
dengan seorang lelaki, yang menurut pembawa acara dia bernama Kustiono, yang tak lain ayah Bayu.
Ki Bayu Kusomo, begitu dia disebut pembawa acara, mulai memainkan wayang
kulit diiringi suara gamelan dan gong. Dia akan mementaskan wayang kulit dengan cerita Lahirnya Raden Wisanggeni. “Tok-tok-tok-tok-tok, heeeeeeee,” kata Bayu mengawali pementasan.

Bayu dalang cilik kudus
Bayu sedang memainkan tokoh pewayangan dalam cerita Lahirnya Raden Wisanggeni.
Siswa yang masih sekolah di MI Nurussofa Kudus tersebut
nampak mahir memainkan wayang. Dia juga terlihat luwes dalam
menggerakkan bagian tubuh tokoh pewayangan. Di elakangnya, Kustiono bertugas
sebagai peniti yang membantu menyiapkan tokoh wayang yang akan dimainkan.
Saat pagelaran berjalan hampir satu jam, Bayu tiba-tiba
diam, dia nampak menunggu ayahnya menyodorkan tokoh pewayangan selanjutnya. Kustiono
terlihat sedang mencari-cari tokoh wayang di tumpukan-tumpukan wayang kulit. Akhirnya
tidak sampai lima menit, pagelaran dilanjutkan kembali.
Kepala Desa Dersalam, Setya Gunawan menuturkan pagelaran
wayang kulit yang ditampilkan termasuk rentetan kegiatan peringatan Kemerdekaan
Indonesia ke-71. Menurutnya, wayang kulit yang dimainkan Ki Bayu Kusumo dari
Desa Karangbener, Kecamatan Bae, dan membawakan cerita tentang lahirnya Raden Wisang Geni. “Tokoh
Wisanggeni karakternya mencerminkan kepribadian warga Dersalam,” tuturnya.
Menurutnya, warga Dersalam persatuannya kuat. Karena tanpa
persatuan Desa Dersalam tidak akan maju. “Sesuai jargon kami Dersalam Bersatu,”
tuturnya.

- advertisement -

Inilah Bahasa Khusus yang Sering Digunakan Penjual Hewan Kurban di Kudus Jelang Idul Adha

0
SEPUTARKUDUS.COM, DERSALAM – Beberapa kambing terdengar mengembik di kandang belakang rumah di Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Kandang tersebut berbentuk panggung dengan tempat
khusus untuk pakan. Suara kambing terdengar berkurang saat seorang laki-laki
memberikan pakan ampas tahu. Menurut Arifka Faqih, laki-laki tersebut,
kambing tersebut baru dibelinya dari pasar.

Jual Hewan Kurban Kambing di Kudus
Kambing kurban yang dijual di Dersalam, Bae, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com, Faqih mengaku sudah lama membeli hewan ternak, baik kambing maupun ternak lainnya. Hewan-hewan tersebut, oleh Faqih, akan dijual kembali kepada para pelanggannya untuk berkurban. Dia mengungkapkan, dalam
jual beli ternak ada bahasa khusus yang digunakan, yakni bangkel dan gadug. 

“Bahasa ini sering digunakan penjual maupun makelar kambing, sapi dan
kerbau untuk bertransaksi. Ada bahasa khususnya, yakni bangkel dan gadug,” tutur Faqih.

Faqih yang menjalankan bisnis bersama empat kakak sepupunya menjelaskan,
istilah bangkel yakni mengambilkan barang dagangan dari orang lain. Dia mencontohkan,
misal ada orang yang akan membeli kambing, dia akan tetap mengatakan ada stok meski stok yang dimiliki habis. 

“Ketika ditanya apakah ada kerbau, bilang ada. Misal jadi
dibeli, saya akan mengambil kerbau dari orang lain. Intinya istilah bangkel itu
mengambil barang dari orang lain. Upayakan saat ditanya pembeli, barangnya
(ternak) ada. Nanti kalau kehabisan stok bisa bangkel,” pesannya.

Selanjutnya nggaduk, dia menjelaskan, istilah itu sama artinya dengan utang. Dia mencontohkan, saat mengambil kerbau dari peternak pelunasaanya
diberikan setelah barang terjual. “Jadi modelnya bayar setengah dulu. Setelah barangnya
terjual baru dilunasi,” ungkapnya.

penjual kambing kurban di kudus
Faqih memberikan pakan pada kambing kurban miliknya. Foto: Imam Arwindra

Menurutnya, bahasa atau istilah tersebut sudah menjadi kebiasaan di dunia
bisnis ternak. Bahasa tersebut secara nyata juga membantu pedagang-pedagang
kecil. “Kalau uangnya kurang bisa nggaduk, kalau kehabisan barang bisa bangkel,” tambahnya.

Pria lulusan Universitas Muria Kudus (UMK) tahun 2015 memberitahukan,
untuk mengetahui ternak berdaging atau tidaknya terdapat pada tulang
belakangnya. Jika tebal kemungkinan besar dagingnya banyak.”Tulangnya di
sebelah belakang tepat diatas ekor,” tuturnya.
Faqih menambahkan, saat di pasar hewan,
orang yang akan membeli tidak membutuhkan waktu lama untuk menentukan hewan
yang dipilih. Mereka cukup memegang tulang belakang dari hewan tersebut. 

“Makanya
saat di pasar hewan, orang-orang yang lewat di depan ternak biasanya sambil
memegang tulang belakang sapi, kambing atau kerbau. Mereka itu sedang mengecek
hewan tersebut bagus apa tidak. Kalau bagus biasanya langsung ditawar,” tutur
Faqih yang berjualan hewan kurban milik pamannya sejak kecil.

- advertisement -

Dulu Masyarakat Megawon Jauh dari Nilai Agama, Maka Muncullah Tari Bun Ya Ho

0
SEPUTARKUDUS.COM, MEGAWON – Sebanyak tujuh penari berjalan menuju panggung
utama Kirab Budaya Apitan Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kudus. Mereka mengenakan pakaian serba merah dengan bulu hijau dan biru di kepalanya. Mereka sedang mementaskan Tari Bun Ya Ho, tarian asli desa setempat,
Sabtu (27/8/2016).

Tari Bun Ya Ho Megawon Kudus
Tari Bun Ya Ho Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Foto: Imam Arwindra
Saat tujuh perempuan masih menari, enam perempuan mengenakan
kerudung bergabung. Mereka memakai pakai warna-warni dengan selendang kuning
yang dibalutkan di tubuhnya. Sambil memegang keris, mereka ikut menari bersama
tujuh orang lainnya. Menurut pelatih tari Winarni Setyoningrum, Tarian Bun Ya
Ho yakni tarian asli Desa Megawon yang menceritakan tentang penyebaran agama Islam di
desa setempat.
Dia menceritakan asal-usul tari tersebut. Menurutnya, masyarakat Desa Megawon dulunya pemabuk, penjudi
dan jauh dari nilai-nilai agama. Akhirnya, muncul tokoh bernama Abdul Jalil Tamyiz seorang
ulama dari Bumiayu yang mengajak kebaikan. “Bun Ya Ho berasal dari Bahasa Arab
yang bermakna mari berbuat kebaikan,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com setelah
acara selesai.
Dia menuturkan, 13 perempuan yang menari menggambarkan santri
Abdul Jalil Tamyiz yang sedang bertugas menyebarkan Islam. Menurut
ceritanya, mengajak kebaikan dilakukan oleh perempuan saat itu dirasa efektif. Santriwati
yang menjalankan tugas juga dibekali ilmu beladiri.

Apitan Desa Megawon
Apitan Desa Megawon. Foto: Imam Arwindra

“Tari Bun Ya Ho semua
penari perempuan. Kali ini kami memilih anak-anak muda untuk memainkannya,”
tambah dia yang tergabung dalam Sanggar Tari Klasik Karwidya Budaya.

Kepala Desa Megawon Nurasag menuturkan, Tari Bun Ya Ho sudah
lama tidak dipertunjukkan sejak tahun 1960. Menurutnya, Tari Bun Ya Ho muncul
sejak Kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Namun mulai hilang ditahun 1960 karena
modernisasi. “Akhirnya tahun 2013, Pemerintah Desa Megawon mulai mementaskan
kembali,” terangnya.

Kirab gunungan acara Apitan Desa egawon. Foto: Imam Arwindra
Dalam kegiatan Kirab Budaya Apitan dia menuturkan, terdapat 32
kontingen yang mengikuti pagelaran kirab. Kontingen tersebut dari 20 RT, empat
RW dan sisanya dari perwakilan Sekolah Dasar (SD) serta Madrasah Ibtidaiyyah (MI)
di Desa Megawon. Menurutnya, mereka membawa gunungan dan tumpeng yang akan dinikmati
bersama selepas acara. “Pemerintah Desa Megawon juga menyiapkan 2.000 nasi
kepel (nasi yang dibungkus) yang akan dibagikan selepas acara,” ungkapnya.
Nurasag yang menjabat kepala Desa Megawon dua periode
menuturkan, Kirab Budaya Apitan yakni wujud rasa syukur warga Desa Megawon
karena telah diberikan rezeki dan berkah yang melimpah. Menurutnya, juga
sekaligus untuk menjaga budaya daerah. “Semoga warga Desa Megawon selalu
makmur, aman, tentram, diberi kesehatan dan keselamatan,” tuturnya.

- advertisement -

Pengelola Estu Coffee Shop Kudus Tetap Santai, Walau Harga Biji Kopi Tahun Ini Diprediksi Naik

0
SEPUTARKUDUS.COM, PANJANG – Biji-biji kopi tersebut terlihat
diwadahi toples kaca. Toples-toples yang berjejer tersebut nampak diberi nama jenis
kopi dengan spidol. Diantaranya, Arabica Premium, Sumatra Mandeling, Toraja
Kalosi, Jolong, Japan dan Lasem.  Menurut pengelola Estu Coffee Shop Bastian, harga biji kopi tersebut diprediksi tahun
2016 ini naik. Meski begitu, dia mengaku tak mau ambil pusing.

Kopi Japan Kudus
Biji Kopi Japan di Estu Coffe Shop Kudus. Foto: Imam Arwindra
Bastian menuturkan, naiknya
biji kopi dikarenakan panen kopi tahun ini kurang baik. Menurutnya, hal
tersebut dipengaruhi faktor cuaca yang tidak menentu. “Kemarin saya sudah cek
ke beberapa petani di Japan (Kudus) dan Jolong (Pati). Kata mereka panen kopi
tahun ini gagal. Karena bunga-bunga kopi rontok,” tuturnya saat
ditemui di Estu Coffee Shop, Jalan Sostrokartono, Desa Panjang, Kecamatan Bae,
Kudus, Kamis (25/8/2016).
Kepada Seputarkudus.com dia memberitahukan, untuk jenis Kopi
Robusta Japan dan Jolong yang sudah di-roasting
tahun 2015 lalu harganya masih Rp 80 ribu per kilogram. Harga dari
petani bisa lebih murah yakni Rp 60 ribu per kilogram. Untuk jenis Arabica
per kilogramnya Rp 200 ribu karena memang termasuk jenis kopi mahal. “Kalau
sudah jadi bubuk nambah Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu,” jelasnya.

Baca juga: Estu Coffee, Tempat Nongkrong Paling Asyik di Kudus

Bastian memprediksi panen kopi 2016 ini, harga Kopi Japan
dan Jolong bisa naik Rp 30 ribu setiap kilogramnya. Menurutnya, harga tersebut tidak
menghawatirkan, karena diimbangi tren konsumsi kopi. “Saya sih santai saja. Karena
kopi sekarang sedang jadi tren dan kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.
Misal Kopi benar-benar naik mendekati 50 persen, dirinya mengaku akan menaikkan harga kopi Rp 500 hinga Rp 1.000 dari harga awal Rp 5 ribu. Menurutnya,
dia tidak akan mengorbankan kualitas kopi yang dibuatnya. “Ini persoalan rasa. Jadi
jika naik ya harga kopi kita naikkan sedikit. Yang terpenting kualitas rasa di
Estu tetap terjamin,” tuturnya.
Dia meyakini, kopi
sudah menjadi gaya hidup masyarakat. Jadi misal naik sedikit tidak
menjadikannya masalah. Yang paling penting menurutnya, stok kopi selalu
tersedia. Karena kopi sudah menjadi kebutuhan. “Kalau pagi tidak kopi rasanya
sudah tak karuan,” ungkapnya sambil tersenyum.

Barista asal Pati tersebut menuturkan, di Estu Coffee Shop,
kopi yang paling laris yakni Kopi Jolong, Japan dan Lasem. Menurutnya, dalam sepekan
dirinya bisa membuat 50 gelas lebih kopi. “Kalau keseluruhan kopi dalam sepekan
bisa 70 gelas. Karena mungkin sedang trend dan menjadi sebuah kebutuhan,”
tambahnya.
- advertisement -