Beranda blog Halaman 1945

Sebelum Roadshow, Penari Pesona Silat Jawa Minang Berlatih Sampai ‘Muntah-Muntah’

0
SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Enam
penari mengenakan celana selutut beraksi dalam pentas Tari Kontemporer Indonesia Pesona Silat Jawa Minang
di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Kamis (8/9/2016). Tubuh mereka tampak mengkilap saat sorot lampu menyala mengenai tubuh mereka. Dalam latihan, mereka berlatih hingga “muntah-muntah”.

Tari Kontemporer
Sejumlah penari tampil dalam Pesona Silat Jawa Minang
di Auditorium UMK. Foto: Imam Arwindra

Pentas yang menggunakan latar warna hitam tersebut menampilkan
dua sesi tarian silat, yakni Silat Minang selanjutnya Silat Jawa. Ali Sukri, koreografer Silat Minang menuturkan, untuk mementaskan tari kontemporer
bertajuk Tonggak Raso, enam penarinya harus belajar selama lima jam setiap
hari. Total latihan delapan bulan. 

“Untuk menampilkan tarian ini (Tonggak Raso) para penari
berlatih selama delapan bulan. Setiap hari mereka berlatih lima jam. Pokoknya
mereka ‘muntah-muntah’, sampai mau ‘mati’,” tambahnya yang mengundang tawa dan
tepuk tangan penonton yang hadir.
Pria asal Padang Panjang, Sumatra Barat,
menjelaskan Tonggak Raso bermakna kekuatan pondasi dalam diri manusia untuk
tidak tergoyah dari berbagai pengaruh dari luar. Menurutnya, dalam tari
kontemporer yang dibawakan kolaborasi tiga silat dari Minangkabau, yakni Silat
Kumango, Silat Tuo dan Silat Ulu Ambek. 

“Sebenarnya silek (silat) yang paling
tua adalah Silek Tuo. Silat-silat yang muncul setelah Silek Tuo bisa dikatakan
turunannya,” ungkap dia yang lahir di Pariaman, 28 Oktober 1978.

Dalam pentas roadshow
bersama Eko Supriyanto, menurutnya, Tari Kontemporer Silat Minang dan Jawa
yakni dua karya yang berbeda. Perbedaan tersebut juga terlihat dari kultur dan
generasi. Menurutnya dalam motif-motif gerakan yang dipakai, dia tidak
mematok seperti robot yang mati, melainkan hidup. Para penari diajak untuk
menafsirakan gerakan dan diskusi. 

“Semua memang ditentukan. 15 menit gerakan
ini dan seterusnya. Namun penari tetap diajak untuk menafsirkan dan diskusi.
Gerakannya ada sembilan motif. Sembilan motif tersebut ada yang dipecah dan
utuh. Urutannya motif, alur, bagian,” terang pengajar di
Institut Seni Indonesia Padang Panjang (ISI-PP).

Baca juga: Meski Tak Bercerita, Tari Kontemporer Silat Jawa-Minang di UMK Tetap Suguhkan Pesona 

Eko Supriyanto yang menyuguhkan karya Tari Trajectory
menuturkan, tarian yang dia koreo tidak bercerita. Menurutnya, dia hanya
ingin mencitakan sebuah tarian dengan pendekatan fisikal dengan menelusuri
filosofi leluhurnya sebagai penguatan identitas. Dalam berlatih, timnnya
membutuhkan waktu enam bulan untuk menyelesaikan tari kontemporer silat Jawa. 

“Berlatihnya
biasanya hari Jumat, Sabtu, Minggu. Tempatnya biasanya di Kaliprogo,” tutur dia
yang berlatih silat dan tari sejak umur enam tahun.

Eko yang mempunya dasar silat dari Budaya Indonesia Mataram
(Bima) Magelang mengungkapkan, tarian kontemporer silat yang dia buat bukan
fokus pada jurusnya melainkan subtansinya. Menurutnya, Tarian kontemporer bukan
fokus pada bentuk melainkan sebuah gagasan. 

“Perbedaan tari dan silat adalah
rasa. Di silat tidak ada yang namanya rasa. Maka dari itu, indahnya silat
adalah tari,” terang dia yang menyelesaikan magisternya di UCLA, Amerika
Serikat dalam bidang Koreografi dan Seni Pertunjukan serta Progam Doktoral
Kajian Seni Pertunjukan di Universitas Gajah Mada.

Eko yang mempunyai Ekos Dance Company dan Yayasan Ekos Dance
menuturkan, dalam membuat karya harus memperhatikan masalah tradisi, kekritisan
dalam menciptakan gagasan yang baru dan interpertasi. Menurutnya, karya yang
baik mempunyai sense of feeling
(rasa).

- advertisement -

Sumadi, Warga Kandangmas Kudus, 30 Tahun Terbiasa Dikeroyok Semut Rangrang

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEDAWANG – Di bawah pohon dan semak-semak di Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kudus, terlihat seorang pria mengenakan topi dan celana panjang. Banyak semut rangrang terlihat mengrumuni badannya. Sambil memegang bambu sepanjang 3,5 meter dengan jaring membentuk kerucut di ujungnya, pria bernama Sumadi (48) itu sedang mengambil kroto.

pencari kroto
Sumadi, pencari Kroto dari Desa Kandangmas, Bae, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com, Sumadi mengaku sejak kecil sudah sering ikut kakaknya mengambil kroto. Hingga kini sudah 30 tahun lebih dia menjalani pekerjaan mencari anak semut rangrang tersebut. 

“Sudah 30 tahun lebih saya mencari kroto. Sebelum sekolah SD saya sudah biasa ikut kakak mencari kroto. Dikeroyok semut rangrang seperti ini sudah biasa, kalau belum terbiasa pasti tidak tahan dikeroyok seperti ini,” ungkapnya saat mencari kroto di Pedawang.

Pencari kroto yang sekaligus menjadi tukang bersih-bersih musala ini menjelaskan, dirinya hanya bekerja setengah hari, mulai pukul 8.00 WIB hingga terdengar adzan dhuhur. Setelah itu dia pulang dan membersihkan musala. Dia merasa senang menjalani pekerjaanya mencari kroto. Sebelumnya dia pernah bekerja menjadi kuli bangunan di Jakarta dan Kalimantan, tapi tidak lama dia pulang dan lebih memilih kembali mencari kroto karena tidak terikat waktu.

“Dulu pernah jadi kuli bangunan di Jakarta dan Kalimantan, karena saya kurang menikmati bekerja sebagai kuli, jadi tidak lama di sana. Saya memilih pulang dan kembali mencari kroto. Pekerjaan ini tidak terikat mandor seperti ini lebih bisa saya nikmati” jelas Sumadi.

Sumadi mengungkapkan, penghasilan mencari kroto dalam sehari sekitar Rp 40 ribu. Menurutnya, harga 1 kilogram kroto senilai Rp 200 ribu. Jika beruntung, dia bisa mendapat 4 ons sehari.

Dia mengaku lebih sering mencari kroto di Kudus, meski kadang juga sampai di Jepara dan Pati. Dia berangkat dari rumahnya Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, dengan mengendarai sepeda motor. Kemudian sepeda motornya dititipkan tempat penitipan, lalu berjalan kaki menyisir pohon dari tempat satu ke tempat yang lain untuk mencari kroto.

- advertisement -

Meski Tak Bercerita, Tari Kontemporer Silat Jawa-Minang di UMK Tetap Suguhkan Pesona

0
SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Ruang auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) terlihat
gelap, Kamis (8/9/2016) malam. Saat sorot lampu merah mulai menyala, enam orang yang hanya
mengenakan celana sedengkul muncul. Mereka menampilkan gerakan silat
dengan bantuan properti yang terbuat dari kaca. Tarian tersebut ditampilkan dalam acara Pesona Silat Jawa-Minang yang dikoreograferi oleh Eko Supriyanto dan Ali Sukri.

Tari Kontemporer Indonesia Pesona Silat Jawa-Minang
Penari tampil dalam Pesona Silat Jawa-Minang di Auditorium UMK. Foto-foto: Imam Arwindra
Menurut Eko Supritanto, koreografer silat Jawa, dua tarian
Silat Jawa dan Minang memiliki kesamaan dalam insisiasi gerak, namun berbeda
kultur dan generasi. Dia menjelaskan, dalam karyanya dia lebih ingin menelusuri
filosofi leluhurnya sebagai penguatan identitas. Karya yang dituangkan bernama Rajectory,
sebuat tarian kontemporer yang tidak bercerita. Menurutnya, dirinya menyuguhkan
pendekatan fisikal dalam membuat sebuah koreografi tari. 

“Karya saya tidak
bercerita. Saya ingin membuat karya seperti anak panah yang dilontarkan. Karya
ini lebih ketahanan tubuh,” terang Eko dalam sebuah diskusi yang digelar usai pertunjukan tari tersebut.

Pesona Silat Jawa-Minang

Eko yang mengaku memiliki dasar silat dari Budaya Indonesia Mataram
(Bima) Magelang menuturkan, sejak umur enam tahun dia sudah berlatih silat dan
tari. Menurutnya, perbedaan tari dan silat yakni pada rasa. Dalam melakukan
silat tidak menggunakan rasa, namun berbeda dengan tarian. “Jadi indahnya silat
adalah tari,” ungkap dia yang mempunyai Ekos Dance Company dan Yayasan Ekos Dance.

Sementara itu, Ali Sukri, melalui karyanya Tonggak Raso
menampilkan pertunjukan silat beraliran Minangkabau. Pria asli Padang
Panjang, Sumatara Barat, menuturkan, tari koreografi yang dibuatnya merupakan perpaduan
dari tiga bentuk silat di Minangkabau yakni Silat Kumango, Silat Tuo dan Silat
Ulu Ambek. “Tari Kontemporer Tonggak Raso ditampikan selama 50 menit dengan
sembilan motif tarian,” tuturnya.

tari Pesona Silat Jawa-Minang
Pengajar di Institut Seni Indonesia Padang Panjang
(ISI-PP) menjelaskan, Tonggak Raso bermakna kekuatan tonggak dalam diri
manusia. Dia mengatakan, kekuatan pondasi dalam diri manusia untuk
pertahanan berbagai pengaruh dari luar merupakan hal yang penting. 

“Untuk menampilkan tarian ini para
penari berlatih selama delapan bulan. Setiap harinya mereka memakan waktu lima
jam. Mereka mutah-mutah pokoknya, sampai mau mati,” tambahnya yang mengundang
tawa penonton yang hadir.

Diskusi Pesona Silat Jawa-Minang

Di Kudus, kegiatan pentas tersebut diadakan oleh Forum Apresiasi Sastra dan Kebudayaan Kudus (Fasbuk) yang didukung oleh Kementerian Pariwisata
Republik Indonesia, Bakti Budaya Djarum Foundation serta berbagai forum seni di
Indonesia. Menurut Adi Pardianto, perwakilan dari Djarum Foundation, pentas Tari
Kontemporer Indonesia Pesona Silat Jawa-Minang ditampilkan di empat tempat. Di antaranya ditampiljan di ISI Padang, Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta, UMK dan di NuArt Sculpture Park Bandung.

Menurutnya, dengan kegiatan ini generasi muda akan
terinspirasi untuk mengembangkan potensinya di kancah international. Dia mengajak,
generasi muda untuk berani mengeksploitasi diri dengan kemampuan yang dimiliki. “Anak
muda harus paham tradisi, banyak membaca dan diskusi. Paling penting jangan
ragu-ragu,” ungkapnya.

- advertisement -

Meski Sudah Renta, Warga Demaan Ini Tetap Mengamen Karena Tak Mau Merepotkan Anak

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Di bawah pohon tepi Jalan R Agil Kusumadya, Kudus, seorang kakek mengenakan baju warna putih kombinasi oranye terlihat sedang membawa gitar. Perlahan, kakek tersebut merundukkan kepala sambil melangkahkan kedua kakinya menyusuri jalan tersebut. Terik matahari dan debu tak dihiraukannya. Di depan setiap pintu warung dan toko dia menghentikan langkah, kemudian dia memetik senar gitar dan menyanyi. 

Pengamen Jalanan
Sokib saat mengamen di Jl R Agil Kusumadya, Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Laki-laki tua tersebut bernama Sokib (73), pria asal Desa Demaan RT 1 RW 7, Kecamatan Kota, Kudus. Setiap hari dia berjalan menyusuri jalanan kota untuk mengamen. Meski sudah renta dan tubuh yang ringkih, dia mengaku tak ada masalah untuk mencari rezeki yang halal. Selain itu dirinya tak ingin merepotkan anak-anaknya. Menurutnya, berjalan kaki setiap hari untuk mengamen, dia tidak pernah merasakan kelelahan, justru tubuhnya semakin sehat.

“Tubuh masih sehat, tidak tega dengan anak, saya cari makansendiri. Setiap kali tidak mengamen, tubuh terasa sakit semua, mau tidak mau saya mengamen dengan berjalan kaki setiap hari, tubuh terasa sehat dan pikiran menjadi tentram,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com saat di timur SMP 2 Jati, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus, belum lama ini.

Sokib mengaku memiliki enam orang anak. Sebelum mengamen, dulu dia bekerja sebagai sopir truk, mengantar sejumlah kasur lantai ke Sumatera. Dia menjelaskan, truk yang dia kendarai itu milik tetangganya, dan dia membeli sejumlah kasur lantai dari Pati. Setelah istrinya meninggal, dia berhenti menjadi sopir truk dan lebih memilih untuk mengamen.

“Setelah istri meninggal, saya kumpulkan semua anak-anak, saya mintai pertimbangan satu satu. Tidak ada lagi yang perlu saya carikan nafkah, jadi saya ingin mengamen. Kalau semua tidak setuju, berarti semua ingin membuat saya umurnya lebih pendek. Karena mengamen, tubuh saya menjadi lebih sehat. Akhirnya anak-anak saya setuju,” terangnya.

Dia menuturkan, lima orang anaknya bekerja di Kalimantan. Dua orang anaknya bekerja sebagai guru dan tiga bekerja di pertambangan batu bara. Saat ini dia tinggal bersama anak bungsunya yang sudah berkelurga, di Kudus. 

Sokib menambahkan, dirinya mengamen empat tahun mengamen. Dia berangkat Pukul 9.00 WIB dan pulang pukul 16.00 WIB. Menurutnya, setiap hari dia bisa mendapat sebesar Rp 25 ribu dari hasil mengamen. “Lagu saya mengamen kuno-kuno, misalnya lagu-lagu milik Bruri Marantika dan Pambers,” tambahnya.

- advertisement -

Inovatif, Mahasiswa UMK Ciptakan Alat Pencacah Kain untuk Bahan Eternit dan Kasur

0
SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Suara nyaring mesin terdengar di ruang
Laboratorium Fakultas Teknik Gedung warna Biru Universitas Muria Kudus (UMK), belum lama ini. Di dalam mesin pencacah kain bekas itu, terlihat baja
berbentuk bulat dengan mata pisau berputar memotong kain berkas yang dimasukkan
ke dalamnya. Tidak sampai satu menit, mesin itu menghasilkan serpihan kain.

mesin pencacah kain bekas bahan eternit
Sukis sedang menunjukkan Crusher Pencacah Kain di Laboratorium Fakultas Teknik UMK. Foto: Imam Arwindra
Mesin yang dinamai Crusher Pencacah Kain itu diciptakan oleh Muhammad Sukis, mahasiswa Tekni Mesin UMK. Menurutnya alat tersebut
berfungsi sebagai pencacah kain untuk bahan baku eternit,  isi kasur, bantal dan guling. 

“Nanti
kain-kain sisa jahit (perca) akan dipotong kecil-kecil untuk dimanfaatkan sebagai bahan
baku eternit, bantal dan kasur,” tuturnya kepada Seputarkudus.com saat ditemui di laboratorium Teknik
UMK, Selasa (6/9/2016).
Pria asal Desa Undaan Kidul, Kecamatan
Karanganyar, Demak, menjelaskan, bahan untuk membuat eternit yakni semen putih
yang dicampur serat kain. Menurutnya, serat kain tersebut berasal dari
kain-kain bekas konfeksi atau penjahit yang dipotong kecil-kecil. “Eternit
fungsinya untuk plafon rumah,” tambahnya.
Selain itu, cacahan kain tersebut juga bisa dimanfaatkan isi
bantal, guling maupun kasur. Dia menuturkan, selain kapuk, isi kasur juga bisa menggunakan cacahan kain. Menurutnya, cacahan kain juga cocok untuk isi
bantal dan guling. “Dari sisa kain yang sudah tidak terpakai bisa dibuat lebih
bermanfaat,” tuturnya.
Kepada Seputarkudus.com Sukis menuturkan, mesin Crusher Pencacah Kain dibuat bersama dua orang temannya. Proyek tersebut didanai oleh Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan
Tinggi Republik Indonesia, melalui progam hibah bersaing. Menurutnya, mesin yang
dibuatnya menghabiskan dana Rp 20 juta. “Mesin ini (kalau
membuatnya fokus satu bulan jadi,” terangnya.
Menurutnya, alat yang berkapasitas 10 kilogram tersebut
digerakkan dengan mesin motor bahan bakar bensin dua horse power (HP). Hasil dari
mesin yang dibuatnya, setiap satu menit dapat menghasilkan satu kilogram
kain berukuran kecil.

mesin pencacah kain bekas
Hasil Crusher Pencacah Kain karya mahasiswa UMK. Foto: Imam Arwindra
Pria kelahiran Demak, 13 Maret 1991 menjelaskan, pisau yang
digunakan yakni berbahan baja K 100. Menurutnya ada 19 pisau dinamis dan satu
pisau statis. Ukuran pisau dinamis yakni panjang 30 milimeter, lebar 20
milimeter dan tebal 10 milimeter. Sedangkan, pisau statis panjang 300
mililiter, lebar 30 mililiter dan tebal 10 mililiter. “Perbandingan putarannya
1:2 dengan motor penggerak,” jelasnya.
Hasil pembuatan mesin yang bimbing oleh dosen Progam Studi Mesin Sugeng Slamet, menurut Sukis akan dihibahkan kepada masyarakat yang
membutuhkan. Menurutnya, sebelumnya akan dihibahkan kepada pengusaha eternit
yang ada di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus. Namun usahanya
sudah tutup. 

“Akhirnya, kami akan hibahkan ke pengusaha kasur atau siapa pun
yang membutuhkannya. Ini belum tahu mau dihibahkan kemana. Yang jelas alat
pemotong kain ini akan dihibahkan,” tuturnya.

Dalam waktu dekat, katanya, dia akan menciptakan alat pencacah
plastik. Menurutnya, proposal yang diajukan sudah diterima, tinggal proses
pembuatan. Dia mengklaim, alat yang akan dibuatnya bisa merubah plastik sampah
menjadi biji plastik. “Ini sudah mulai, nantinya dengan alat sejenis akan
dikembangkan untuk mesin pencacah plastik,” tambahnya. 

- advertisement -

Teguh Munasri, Tukang Bubur yang Berjualan di Kudus Sejak Harga Masih Rp 150 Semangkuk

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEDAWANG – Seorang pria berbaju garis-garis kombinasi warna putih, hitam dan merah, terlihat menata sejumlah mangkuk, di Jalan Mayor Kusmanto, Desa Pedawang, Kecamatan Bae. Kemudian dirinya menuangkan bubur kacang hijau dan ketan hitam di atas mangkuk yang telah disiapkan. Pria itu bernama Teguh Manasri (44), yang hampir setiap hari menjual bubur di tempat itu. Pria Asal Sukoharjo itu telah 21 berjualan bubur di Kudus, sejak harganya masih Rp 150 per mangkuk.

Jual bubur kacang hijau dan ketan hitam
Teguh Munasri menjual bubur kacang hijau dan ketan hitam di Pedawang. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari melayani pesanan pembeli, Teguh, begitu akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang usaha yang dia geluti. Dia menceritakan, dirinya mulai berjualan bubur kacang hijau dan ketan hitam pada tahun 1994. Saat itu, harga satu mangkuk bubur kacang hijau Rp 150. Pada awal memulai usaha jual bubur, dia mengeluarkan modal Rp 27 ribu. 

“Awal mula berjualan saat harga semangkuk bubur kacang hijau masih Rp 150. Sekarang harganya sudah Rp 3 ribu,” tutur Teguh yang saat ini tinggal bersama keluarganya di Desa Tupang Krasak RT 05 RW 05 Kecamatan Jati, Kudus. 

Pria tiga anak itu mengungkapkan, pada saat memulai usaha, setiap hari dirinya mendapat hasil Rp 10 ribu. Uang senilai itu sudah bisa digunakannya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Sekarang, tiap bulan dirinya bisa mendapat hasil bersih sekitar Rp 3 juta setiap bulan. semua bahan untuk membuat bubur kacang hijau dan ketan hitam dia dapatkan dari Pasar Kliwon.

“Dulu penghasilan Rp 10 ribu sudah ada nilainya. Kalau sekarang ya tidak cukup untuk kebutuhan hidup,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com.

Pada pukul 7.00 WIB, Teguh mulai mengayuh gerobak yang digunakannya untuk berjualan bubur kacang hijau dan ketan hitam. Tempat yang dituju yakni di Desa Pedawang, tepatnya di depan kantor PC PMII Kudus. Pukul 14.00 WIB dia pulang kembali ke rumahnya. “Kenapa di sini, ya karena banyak pembeli yang datang,” ucap Teguh sambil senyum.

Teguh menambahkan, setiap hari bubur kacang hijau dan ketan hitam sebibsa mungkin habis terjual. Karena jika tidak habis, bubur itu tak bisa dijual keesokan harinya. “Kalau musim penghujan saya siasati jualan pakai es, kalau musim kemarau saya jualan bubur hangat-hangat,” tuturnya.

- advertisement -

Perempatan (4) Sleko Sangat Tak Asing di Telinga Masyarakat, Namun Tak Banyak yang Tahu Artinya

0
SEPUTARKUDUS.COM, SLEKO – Pengendara dari Jalan Tanjung dan Jalan Johar telihat berpapasan
di perempatan yang memisahkan Desa Kramat, Kelurahan Wergu Kulon dan Wergu Wetan. Sementara
itu dari arah Jalan Pramuka dan Jalan Pemuda mereka berhenti mengikuti lampu merah. Di
arah timur laut perempatan tersebut, berdiri pos polisi dengan warna blester
biru putih. Pos tersebut tertulis “Pos Polisi Sleko”.

perempatan sleko kudus

Perempatan Sleko, begitu masyarakat Kudus menyebut perempatan di kawasan itu. Perempatan tersebut menghubungkan
Jalan Pemuda, Jalan Pramuka, Jalan Tanjung dan Jalan Johar. Ke arah barat perempatan, menuju
arah Alun-alun SimpangTujuh Kudus. Sedangkan ke arah timur menuju Mejobo, dan ke selatan menuju Stasiun Johar, serta ke arah utara ke Jalan Jendral Sudirman.

Di seberang jalan arah
Jalan Pemuda, terdapat toko rokok dengan nama MKSB, dan di depannya terdapat toko ponsel X-Treme Cell. Menurut Harjanto Tirto (64) pemilik toko MKSB, jalan di depan toko miliknya dulu bernama Jalan
Sleko.  “Seingat saya dulu dari cerita
kakek, nama Jalan Pemuda dulunya adalah Jalan Sleko. Mungkin kenapa daerah sini
namanya Sleko,” tutur dia saat ditemui di tokonya belum lama ini.
Dia mengungkapkan,
untuk detailnya kenapa namanya Sleko dia tidak tahu. Menurutnya, sejak dia
lahir, di sekitar perempatan sudah terkenal dengan sebutan Sleko. “Rumah yang saya tempati ini
dari kakek saya, ya sudah lama. Nama daerah di sini
sejak dulu sudah Sleko. Mungkin muncul nama Sleko sejak zaman penjajahan Belanda,” terang
dia.
Saat ditemui Seputarkudus.com di
Balai Desa Kramat, Kecamatan Kota, Kepala Desa Kramat, Tulistyono menuturkan, nama Sleko sudah ada sebelum dia lahir. Dia
memberitahukan, di sekitar Perempatan Sleko banyak tinggal warga etnis Tionghoa. “Daerah tersebut orang Jawanya sedikit, sebagian besar etnis Tionghoa
yang bermukim dan juga berdagang,” tuturnya.
Secara detail kenapa
disebut Sleko dia kurang tahu. Menurutnya, ada kemungkinan kata sleko bukanlah
kata dalam Bahasa Jawa, yakni bahasa yang diserap dari Tiongkok. Karena secara geografis, sudah
sejak zaman dulu orang-orang Tionghoa banyak berdagang dan bermukim di kawasan tersebut. “Mereka berjualan sembako, menjual besi-besi dan bahan bangunan lainnya di perempatan arah stasiun
lama Johar (Jalan Johar),” terangnya.
Tulistiono
menambahkan, ada yang menyebut dulu daerah sekitar Perempatan Sleko sebagai kawasan pecinan (sebuah kawasan yang mayoritas dihuni orang Tionghoa).
“Wah ini memang perlu dibedah bersama-sama. Kenapa namanya Sleko,” ungkap dia.
- advertisement -

Pria Asal Tegal Ini Keliling Daerah Berjualan Holder Mobil, Sehari Sisihkan Rp 20 Ribu untuk Keluarga di Kampung

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Terik matahari yang menyengat mengiringi aktivitas seorang pria bertopi hitam di Jalan R Agil Kusumadya, Getas Pejaten, Jati, Kudus. Dirun (41), nama pria tersebut, menggendong tas ransel dan memegang empat holder mobil di tangan kiri, dan satu di tangan kanannya. Dia asli Tegal, berjualan holder mobil di Kudus untuk menyukupi kebutuhan keluarganya di kampung halaman. 

jual holder mobil
Dirun menjajakan holder mobil di depan Gedung DPRD Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Di sela kesibukannya menjual holder mobil di lampu merah depan kantor DPRD Kudus tersebut, Dirun menceritakan kisah hidupnya yang berpindah-pindah tempat untuk berjualan demi keluarganya. Dia mengaku sudah tiga bulan menjual holder mobil di Kudus. Sebelumnya, Dirun pernah berjualan di Malang, Purwokerto, Solo, Jogja, bahkan pernah sampai Sumatera dan Sulawesi. 

“Saya memiliki dua anak yang masih duduk di bangku sekolah SD (sekolah dasar). Saya selalu meluangkan waktu untuk pulang kampung di Tegal satu atau dua bulan sekali,” ujarnya kepada Seputarkudus.com belum lama ini.

Dirun menjelaskan, holder yang dia jual berfungsi untuk meletakkan ponsel di mobil. Umumnya, holder tersebut diletakkan di dashboard, namun ada pula yang diletakkan di kaca depan. Holder itu dijual seharga Rp 80 ribu. Holder itu dipesan dari Jakarta kemudian dijual di Kudus. Dirun mengaku berjualan di Kudus bersama tiga rekannya, yang juga dari Tegal. 

“Mumpung lagi ramai di pasaran, jadi saya berjualan holder. Saat lagi ramai orang butuh bendera, seperti bulan lalu, ya pernah jual bendera. Saya di Kudus bersama tiga teman saya yang juga dari Tegal. Kami tinggal di kos, tapi yang satu sudah pulang kampung,” jelasnya.

Penghasilan Dirun menjual holder sekitar Rp 50 ribu per hari. Hasil tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari biasanya. Dia menyisihkan Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu dari hasil berjualan untuk dikirim ke rumah. “Tapi tak jarang dalam satu hari cuma laku lima atau enam dan hanya cukup untuk beli makan saja,” tambahnya.

Demi
menghidupi keluarga di kampung halaman, Dirun mengatakan pekerjaan apa saja dilakukannya.
“Kuli bangunan pernah, ikut jadi nelayan juga pernah. Kalau musimnya bagus saya juga ikut mencari ikan di laut, di Tegal,” ungkap Dirun.

- advertisement -

Demi Menyelenggarakan 100 Hari Meninggalnya Suami, Legirah Rela Berjualan di Bawah Gapura

0

SEPUTARKUDUS.COM, KARANGBENER – Di sisi timur jalan arah Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, tepatnya di bawah gapura warna hitam, tampak seorang nenek sedang membujurkan kedua kakinya di dekat perabot rumah tangga. Wanita tersebut bernama Legirah (73), warga Dukuh Ngelo Lor, Desa Karangbener RT 05 RW 08, yang menjual perabot tersebut. Hasil penjualan rencananya akan digunakan untuk biaya acara 100 hari meninggalnya suami.

Legirah berjualan perabot rumah tangga di bawah gapura Desa Karangbener. Foto: Sutopo Ahmad

Menurutnya,
sejumlah perabotan rumah tangga itu sebelumnya dijual suaminya, namun belum lama ini suaminya meninggal. Suaminya berjualan lebih dari 20 tahun dengan mengendarai sepeda berkeliling ke sejumlah tempat di Kudus. Suaminya mendapatkan barang itu membeli di Pasar Kliwon. Setelah suaminya meninggal, stok barang dagangannya ada yang belum terjual, dan Legirah kini menjualnya. 

“Melihat barang dagangan di rumah masih
banyak, saya harus menjualnya. Mau bagaimana lagi, barang masih banyak ya terpaksa saya
jual sendiri. Hasilnya nanti akan saya gunakan untuk menyelenggarakan acara 100 hari meninggalnya suami,” ujar Legirah.” tuturnya kepada Seputarkudus.com belum lama ini.

Legirah,
wanita yang memiliki empat orang anak itu mengaku, hampir setiap
hari dirinya mengangkat barang dagangannya sendiri, mulai Pukul 8.30 WIB
hingga 12.00 WIB. Setelah itu, dia bergegas pulang untuk salat, makan
dan istirahat. Setiap hari barang yang terjual tak menentu. Kadang bisa mendapat uang sekitar Rp 120 ribu, Rp 50 ribu, Rp 15 ribu, bahkan kadang tak bisa menjual barang satupun.

Dia
menambahkan, setelah semua barang dagangannya laku terjual, dia
mengatakan akan berhenti berjualan. Meskipun sudah renta, dia tidak pernah malu
untuk berjualan. Yang terpenting baginya, apa yang dia jual halal.
“Tua-tua jualan, saya tidak pernah malu dan yang terpenting saya
berjualan halal,” imbuhnya.
 
Perempuan yang buyut tersebut mengatakan, setiap kali keluar rumah untuk berjualan, dirinya tak lupa menyempatkan diri untuk membaca syahadat, selawat serta surah Al-Fatihah yang diajarkan oleh gurunya waktu mengikuti pengajian. Menurutnya, bacaan tersebut dia baca agar diberi kesehatan, keselamatan serta kelancaran dalam menjual.

“Setiap akan berjualan saya tak pernah lupa membaca sahadat tiga kali, selawat tiga kali dan Fatihah satu kali,” ungkapnya sembari menunggu pembeli yang datang.

- advertisement -

Acer Predator 20x, Laptop Layar Lengkung Dengan Gambar 3D yang Cocok untuk Para Gamer

0
SEPUTARKUDUS.COM – Body laptop terbaru keluaran Acer ini berwarna hitam dengan garis biru di sisi
punggung layar monitor. Layar monitornya berukuran 21 inch dengan median yang
melengkung hingga radius 2.200 milimeter. Pada sisi tengah punggung monitor
tertulis ‘Predator’ beserta logonya. Produk terbaru keluaran Acer tersebut
yakni bernama Acer Predator 20x. Namun, produk ini baru akan dirilis di pasaran tahun depan.

acer predator 20x 3D
Riki Permana menunjukkan Acer Predator generasi yang sudah dirilis.

 

Kepada Seputarkudus.com, Account Executive Acer Indonesia Riki Permana, mengatakan,
produk terbaru Acer ini merupakan laptop gaming
pertama di dunia yang menggunakan layar lengkung. Keunggulan
layar lengkung yang dimiliki Acer Predator 20x, pengguna seakan-akan melihat
gambar atau visual yang benar-benar nyata. Layar curve (lengkung) untuk resolusi
ultra wide full HD yang memiliki resolusi maksimum 2560 x 1080 piksel. 

“Untuk visual gambar dengan resolusi 4.000 sangat mendukung. Dengan Predator 20x,
saat main game atau nonton film, gambar
yang dihasilkan akan menjadi tiga dimensi,” tuturnya saat ditemui di Kudus, belum lama ini.

acer predator 20x 3d
Tampilan acer predator 20x 3D. Foto: Acer

Riki menjelaskan, layar lengkung juga berfungsi untuk
memaksimalkan kinerja grafis pada monitor. Walau dari sudut ekstreme sekalipun,
gambar yang terdapat pada monitor Acer Predator 20x masih bisa dinikmati. Dia menambahkan,
selain menggunakan layar IPS 21 inci dengan lengkungan 2200R, laptop gaming ini
juga dilengkapi NVIDIA G-Sync yang akan meminimalkan efek tearing dan sendatan.
“Juga ada teknologi pelacak matanya. Jadi untuk para pecinta game akan sangat
dimanjakan,” ungkapnya.

Menurutnya, teknologi pelacak mata disebut Tobii Eye Tracking yang berfungsi untuk melacak dan mengikuti arah bola mata. Dia mencontohkan,
saat bermain First Person Shooter (FPS), pemain tidak perlu lagi menggunakan
mouse untuk membidik musuh. Karena otomatis dengan pelacak mata musuh akan
terbidik dengan sendirinya. “Tentu ini sangat membantu,” tutur dia sambil
menunjukkan game FPS.

acer predator 20x 3d
acer predator 20x 3D. Foto: Acer
Kepada Seputarkudus.com dia menerangkan, Acer Predator 20x dilengkapi
dengan prosesor Intel Core K Series dari generasi prosesor Intel ketujuh (Kaby
Lake) dan RAM DDR4-2400 hingga 64 GB. Karena dilengkapi sepasang chip grafis
NVIDIA GeForce GTX 1080, laptop yang dikenalkan di ajang IFA 2016 Berlin,
Jerman juga mempunyai lima kipas pendingin. Diantaranya, kipas metal Aeroblade
ultra tipis. “Untuk audionya menggunakan sistem Sound Pound 4.2+ yang terdiri
dua subwoofer dan empat speaker,” tambahnya.
Riki yang berkerja di PT Acer Indonesia menuturkan, Predator
20x mempunyai body yang cukup tebal. Menurutnya, bobotnya hampir 8 kilogram. Selain
itu pada keyboard mekanisnya dengan sakral Cherry MX yang setiap tombol
dilengkapi dengan backlight RGB. Keypad numeriknya bisa dibuka untuk dirubah
menjadi touchpad. “Namun sayang mulai beredar di pasar Indonesia tahun 2017,”
tuturnya.
Menurutnya, untuk harganya juga belum dirilis oleh Acer. Dia
memprediksi Acer Predator 20x harganya diatas Rp 20 juta, karena seri Gaming
Predator semuanya diatas Rp 20 juta. “Ini yang sudah di pasar Indonesia cuma ada
Acer Predator 15 dan 17. Harganya Rp 34 Juta,” terangnya.

- advertisement -

Meski Perempuan, Ayu Tak Pernah Malu Berjualan Koran di Tepi Jalan Dr Lukmonohadi

0

SEPUTARKUDUS.COM, DR LUKMONOHADI – Sejumlah kendaraan silih berganti berhenti dan kemudian melaju di lampu merah Jalan Dr Lukmonohadi, Kudus. Seorang perempuan berjilbab kuning tampak sedang berdiri, sambil menenteng koran di tangannya. Perempuan itu bernama Khimaya Ayu Iswoyo (26), yang setiap hari berjualan koran di dekat lampu merah tersebut. Dia tak pernah malu dan tetap percaya diri menjalani perkerjaannya tersebut.

koran dan majalah di Kudus
Ayu sedang menawarkan koran dan majalah di Jalan Dr Lukmonohadi Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com, Ayu, begitu dia akrab disapa, sudah menjalani pekerjaannya sejak 2010 lalu. Dia mengaku tak pernah merasa ada masalah untuk menjual koran di tepi jalan. Ayu percaya setiap pekerjaan memiliki risiko, namun dia tetap menikmati dan percaya diri
menjalani pekerjaannya. 

“Kebanyakan perempuan pasti merasa malu kalau
berjualan koran seperti saya, tapi saya merasa tidak masalah dan tetap percaya
diri. Saya percaya, setiap pekerjaan memiliki risiko, termasuk pekerjaan ini,” tuturnya.

Ayu mengatakan, menjual koran mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 10.30 WIB. Berangkat dari rumahnya di Desa Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, dia mengendarai sepeda. Pekerjaannya itu merupakan satu-satunya yang dia jalani. 

Sebelum menjual koran, dulu dia pernah bekerja di bagian pengemasan di sebuah perusahaan makanan di Kudus, tapi sudah berhenti dan memilih menjual koran. Dari menjual koran itu, Ayu mendapat sekitar Rp 40 ribu sehari. Tidak hanya menjual koran, Ayu juga menjual majalah.

Dia mengaku memilih berjualan di jalur motor dari pada mobil, karena lebih banyak pengendara motor yang membeli koran dari pada pengendara mobil. Koran yang dijualnya berkisar antara harga Rp 1.000 hingga Rp 5 ribu. Sedangkan majalah dijual sekitar Rp 6 ribu hingga Rp 50 ribu.  Pelanggannya mayoritas lebih memilih membeli koran daripada majalah.

Ayu mengungkapkan pulang dan pergi dengan membawa sepeda, karena dia tidak bisa mengendarai motor. Hampir setiap hari setelah berjualan Ayu membawa pulang koran untuk dijual adiknya ke rumah-rumah warga sekitar Kecamatan Kaliwungu. “Biasanya saya pulang dengan membawa koran, dan koran yang saya bawa pulang dijual adik saya ke langganannya,” ungkapnya kepada Seputarkudus,com.

Selesai berjualan jam 10.30 WIB, dia tidak langsung pulang, tetapi bertemu dengan temannya Muhamad Arif (30) yang juga penjual koran di Jalan Mangga, tak jauh dari tempat Ayu berjualan. Arif sapaan akrabnya, menjual koran sejak tahun 2011, sesame penjual koran Ayu mengaku sudah seperti sodara sendiri dengan Arif.

Baca juga: Warga Krandon Ini Tak Mengeluh Meski Harus Berkursi Roda Jadi Loper dan Penjual Koran 

Dari hasil menjual koran, Arif bisa mendapat pemasukan sekitar Rp 30 ribu tiap hari, dan Arif mengaku memilih tidak berjualan pada hari Minggu. “Sebenarnya saya bebas berjualan kapan saja, tapi saya memilih untuk libur hari Minggu. Karena pelanggan saya rata-rata orang dinas dan kantoran yang libur hari Minggu,” tambahnya.

- advertisement -

Keren, Film Macan Putih Muria Karya Omah Dongeng Marwah Tuai Pujian Netizen di Youtube

0
SEPUTARKUDUS.COM, PURWOREJO – Pesawat tempur terlihat melintas di atas kerumunan warga. Suara bom terdengar meledak membuat warga berlarian menyelamatkan diri. Tampak perempuan penjual buku mengayuh kencang sepedanya, namun akhirnya tertembak mati oleh pasukan Belanda. Adegan tersebut termuat dalam film berdurasi 19.56 berjudul Macan Putih Muria. Film tersebut diproduksi oleh Komunitas Omah Dongeng Marwah.

Film Macan Putih Muria
Satu adegan di dalam film Macan Putih Muria karya Omah Dongeng Marwah. Foto-foto: Capture Youtube
Menurut Arif Rohman (24), pendamping di Omah Dongeng Marwah, ide film tersebut dibuat oleh Edy Supartno, pencetus Omah Dongeng Marwah yang juga sejarawan di Kudus. Pembuatannya sebagian besar dilakukan oleh anak didik Omah Dongeng Marwah. “Untuk pemain (film) anak-anak sendiri yang berperan,” tuturnya saat ditemui di kegiatan Omah Dongeng Marwah belum lama ini.
Kepada Seputarkudus.com Arif memberitahukan, selain diperankan oleh anak-anak, fotografi dan editor film juga dikerjakan sendiri oleh anak didik Omah Dongeng Marwah. Menurutnya, sebagai editor film yakni Orion Bima Wicakana. “Film ini memang dipersiapkan jauh hari untuk menyambut kemerdekaan Indonesia ke-71,” terangnya.

Film yang Macan Putih Muria dimainkan 25 orang yang skenarionya langsung buat Edy Supartno. Beragam komentar ditulis nitizen yang melihat di akun Omah Dongeng Marwah di Youtube. Di antaranya akun bernama Hendira Sorentia, menurutnya cerita yang dibuat oleh anak-anak sungguh luar biasa. “Sip keren ini, saya kasih jempol saya, anak-anak hebat,” ungkapnya dalam akun Erwin OD.

Dalam film yang diunggah di Youtube pada 29 Agustus tersebut, pesawat tempur Belanda yang membom pemukiman warga di Kudus tanggal 19 Desember 1948 pada awal cerita. Saat itu fasilitas publik yang hancur yakni Stasiun Kudus, Paseban Bupati Kudus dan Pabrik Muria Tex.
Tidak hanya lewat udara, pasukan Belanda pun melakukan agresi militer lewat darat. Beberapa masyarakat pun banyak yang terbunuh. Di antaranya, penjual buku yang diperankan oleh Naila Rahmandaning Tyas.

Film tersebut juga menceritakan tentara Indonesia yang berhasil merebut senjata di Pos Belanda di Dukuh Waringin, Dawe, Kudus. Namun dalam perjalanannya memimpin perang ke wilayah Muria pasukan Indonesia sudah dicegat oleh pasukan Belanda di Desa Bergad, Pati, karena ada informasi bocor. Akhirnya komandan pasukan Indonesia bernama Kapten Ali Mahmudi tewas saat penyergapan.
Komandan pasukan Indonesia akhirnya digantikan Mayor Kusmanto yang memindahkan pos pasukannya di Desa Glagah Kulon, Dawe, Kudus. Bersama pasukannya, Mayor Kusmanto melakukan gerilya yang akhirnya pada 27 Desember 1949 pasukan Belanda menyerahkan Kudus kepada tentara Indonesia.
Dalam film tersebut menyebutkan, pasukan Indonesia yang bernama Macan Putih Muria dibuatkan monumen Macan Putih Muria di Desa Glagah Kulon, Kecamatan Dawe, Kudus. Namun kalimat yang mengundang penasaran muncul pada akhiran penayangan. Tertulis, “Tapi, siapakah anak tersebut? mengapa ia selalu membantu tentara Indonesia? Lalu, apakah hubungan anak itu dengan seekor macan mutih?”

Berikut film Macan Putih Muria yang telah diunggah di Youtube.

- advertisement -

Sobirin: Ternak Ayam Pedaging itu Seperti Merawat Bayi, Harus Sabar dan Teliti

0

SEPUTARKUDUS.COM, SOCO – Ribuan ayam pedaging siap jual terlihat di dalam sebuah kandang panggung berukuran 10×40 meter. Tampak seorang pria dengan mengenakan kemeja warna biru dan bercelana panjang sedang mengecek saluran minuman ayam di kandang. Pria tersebut bernama Sobirin (25), pria asal Dukuh Kuang, Desa Soco RT 05 RW 02 Kecamatan Dawe, Kudus, yang sudah dua tahun terakhir ini menggeluti usaha ternak ayam pedaging. Baginya, merawat ayam tak ubahnya merawat bayi.

usaha ternak ayam pedaging
Sobirin sedang mengecek saluran minum di kandang ayam miliknya. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari memantau sejumlah ayam pedaging yang dia ternak, sobirin begitu akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com terkait peternakan ayam pedaging miliknya. Dia menjelaskan, ayam pedaging itu sangat sensitif, perlu perhatian ekstra dalam perawatannya. “Merawat ayam pedaging ini seperti merawat bayi, harus sabar dan teliti,” ungkapnya saat ditemui di kandang miliknya, belum lama ini.

Menurutnya, cuaca yang tidak bersahabat sangat berpengaruh terhadap kondisi ayam pedaging. Apalagi musim labuh (peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan) seperti sekarang ini, banyak ayam pedaging yang mati serta musim tersebut tidak bagus untuk berternak. Dia mengatakan, ketika cuaca sedang panas, dia harus memberikan hawa sejuk. Begitu pula sebaliknya, ketika cuaca sedang dingin, dia harus memberikan hawa hangat terhadap ayam tersebut agar tidak mudah stres.

“Jika ayam kepanasan atau kedinginan, ayam akan mudah stres dan cepat sekali mati,” ungkap Sobirin yang masih aktif sebagai mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Muria Kudus (UMK) semester sembilan.

Sobirin menuturkan, dirinya memberikan pakan ayam, cukup dua kali sehari, pagi dan sore. Ayam daging yang dia ternak saat ini sekitar 4.500 ekor, sesuai kapasitas kandang yang dia miliki. Setiap kali panen, Sobirin mampu meraup omzet hingga Rp 17-25 juta dalam 40 hari. “Kadang sekali panen bisa mencapai Rp 17 juta, kadang Rp 19 juta. Bahkan juga sekali panen pernah mendapat omzet Rp 25 juta,” tuturnya.

Sobirin menambahkan, dia menjual hasil ternak ayam dagingnya melalui mitra bisnisnya, yakni PT Surya Bintang Sejati. Dia mengaku, selama beternak ayam pedaging, Sobirin diberi pinjaman perusahaan tersebut berupa bibit ayam pedaging, pakan ayam serta bantuan proses penjualan ayam daging. “Jadi ya, saya hanya bermodalkan pembuatan kandang dan merawat ayam pedaging setiap hari saja,” tambahnya.

- advertisement -

Duh Kasihan Kakek Ini, Seharian Berjualan Produk Rotan Tapi Tak Satupun Pembeli Datang

0

SEPUTARKUDUS.COM, SINGOCANDI – Di tepi Jalan Ringroad Utara, tepatnya tak jauh di sebelah timur Polsek Kota, Kudus, seorang kakek duduk termangu di atas kursi rotan. Di depannya terdapat banyak aneka bentuk produk berbahan rotan. Kakek bernama Sumanto (63) itu sangat berharap beberapa di antara banyaknya pengguna jalan yang melintas, menepikan kendaraannya ke tempat dia berjualan. Maklum, hingga siang tak satupun pengendara datang membeli.

penjual perabot rotan di tepi jalan kudus
Sumanto duduk di tepi Jalan Ringroad Utara, menunggu pembeli produk berbahan rotan. Foto: Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com, Sumanto mengaku telah berjualan di tempat itu sejak pukul 09.00 WIB. Namun hingga sekitar pukul 13.00 WIB, tak satupun pembeli datang. Produk yang dia jual, di antaranya rak berukuran kecil dan besar, meja, sekat rumah, ayunan, dan kuda-kudaan, yang semua terbuat dari rotan.

“Biasanya saya mulai berjualan jam 09.00 hingga pukul 16.00 WIB. Sudah skitar satu tahun ini saya berjualan di tepi Jalan Ringroad Utara,” ujar Sumanto.

Menurutnya, harga barang dagangannya tak dijual terlalu mahal. Produk-produk rotan itu dia jual sekitar Rp 400 ribu hingga Rp 500. Dia merinci, untuk harga kursi dan kuda-kudaan dijual seharga Rp 130 ribu. Sedangkan ayunan anak-anak berukuran kecil dijual seharga Rp 350.000. “Barang-barang berbahan rotan ini saya ambil dari Cirbon, karena di Kudus tidak ada,” katanya. 
penjual kursi rotan Sebelumnya, Sumanto mengaku pernah berjualan di sekitar GOR Wergu Wetan Kudus, sampai akhirnya sudah tidak boleh lagi berjualan di sana, karena ada penertiban. Kemudian dia pindah ke Jalan Ringroad Utara. “Dulu pernah berjualan di GOR, karena sekarang sudah tidak boleh jadi pindah ke sini. Tapi di sini sepi pembeli, rencana mau pindah ke Alun-alun Pati. Kalau malam kan ramai di sana,” tuturnya.

Sumanto mengaku kalau barang dagangannya itu bukan miliknya, tetapi milik sepupunya. Dia hanya membantu berjualan. “Ini milik sepupu saya, berhubung saya tinggal bersamanya jadi saya bantu dia berjualan. Kadang kami bergantian menunggu dagangan,” jelasnya.

Sejak setahun lalu, Sumanto mengaku ikut sepupunya tinggal di di Desa Gondangmanis Gang 11, Kecamatan Bae. Karena istrinya sudah meninggal dan tidak memiliki anak kandung, rumahnya dijual dan ikut sepupunya. Tetapi sampai saat ini Sumanto masih bersetatus sebagai warga Melati Norowito, Kecamatan Kota dan belum mengurus surat pindah.

- advertisement -

Wow, ‘Bung Karno’ Hadir di Acara Mlaku Bareng Kang Mus di Pasar Kliwon

0
SEPUTARKUDUS.COM, PASAR KLIWON – Dari arah timur Pasar Kliwon, Kudus, dua orang menuntun sepeda menyita perhatian banyak orang. Penampilan satu di antaranya tampak tak biasa, karena mengenakan pakaian mirip Bung Karno, lengkap dengan peci dan kaca mata hitam. Penampilan mereka menjadi pemandangan tak biasa di antara ratusan pedagang Pasar Kliwon yang akan mengikuti acara Mlaku Bareng Kangmus, Minggu (4/9/2016).

Bung Karno Jalan Sehat di Kudus
Pengguna sepeda mengenakan pakaian ala Bung Karno pada acara Mlaku Bareng Kang Mus, di Pasar Kliwon. Foto: Imam Arwindra
Dia terus melaju dengan sepeda onthelnya didampingi seorang yang mengenakan seragam hijau menuju titik start acara yang digelar memperingati Kemerdekaan Indonesia ke-71 tersebut. Lelaki yang mengenakan pakaian ala Soekarno itu, yakni Sulikan (47). Dia mengaku
berpenampilan seperti Bapak Proklamasi karena kagum dengan perjuangan dan
dedikasinya terhadap negara.
Menurutnya, dalam momen peringatan kemerdekaan yang diadakan
oleh Himpunan Pedagang Pasar Kliwon (HPPK) tersebut, dirinya ingin ikut berpartisipasi
bersama pedagang Pasar Kliwon. “Saya ingin berpartisipasi dalam peringatan
kemerdekaan ini,” ungkap dia dengan suaranya tegasnya.
Bersama Ato (50) laki-laki yang memakai seragam hijau,
Sulikan menampilkan seorang Soekarno yang sedang dikawal oleh ajudannya untuk
menemui rakyatnya. Mereka yang tergabung dalam komunitas Ontho-Ontho Thok (OOT)
menuturkan, jenis sepeda yang dibawa Sulikan yakni jenis Simplex dan Ato berjenis
Rally. Menurutnya, bersama komunitasnya mereka mengoleksi sepeda-sepeda tua
supaya tidak punah.

Acara Mlaku Bareng Kang Mus

Dalam kegiatan Mlaku Bareng Kang Mus, terlihat ratusan
pedagang dengan baju aneka ragam berkumpul di lapangan parkir depan Pasar
Kliwon. Terdengar suara tabuhan drum band dan barongsai menambah keramaian
kegiatan. Berjejer motor, kulkas dan sepeda di panggung utama yang menurut
Sulistiyanto, Ketua HPPK, yakni hadiah dorprize untuk peserta jalan sehat yang beruntung.

Menurutnya, dalam kegiatan yang diselenggarannya, pihaknya
ingin mengajak para pedagang untuk tetap menjaga silaturahmi dan menghiraukan
isu-isu yang negatif yang berkembang. Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Kudus
akan menjamin keberadaan Pasar Kliwon. “Pasar Kliwon akan terus ada sampai anak
cucu kita,” tutur dia dalam kegiatan yang bertajuk Wong Pasar Kliwon Bersama
Bupati Kudus Menuju Jawa Tengah Sejahtera.

Bupati Kudus Musthofa yang hadir menuturkan, para pengusaha
di Kliwon tidak usah hawatir karena Pasar Kliwon akan terus ada sampai anak
cucu. Menurutnya, keberadaan Pasar Kliwon perannya sangat dibutuhkan khususnya
untuk mengantarkan anak-anak lebih baik. “Aturan-aturan tidak usah terlalu
dihiraukan, yang penting jualan beres dan persaudaraan harus tetap utuh,”
ungkapnya.

- advertisement -