Beranda blog Halaman 1944

Miniatur Menara Kudus Berbahan Kayu Limbah Karya Lelaki Bertato Ini Banyak Diburu Wisatawan

0

SEPUTARKUDUS.COM, BACIN – Seorang lelaki berkaus hitam terlihat sedang memegang membuat sovenir miniatur Menara Kudus. Tampak di samping kirinya, terdapat puluhan miniatur yang sama sedang dia selesaikan pengerjaannya. Laki-laki itu bernama Hariyanto (42), pembuat miniatur ikon Kabupaten Kudus yang kini banyak diburu wisatawan manca yang datang ke Kota Kretek.

jual miniatur menara kudus
Hariyanto mengerjakan penyelesaian miniatur Menara Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari mengerjakan pesanan dari pelanggannya, Cilik, begitu akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com terkait usaha yang digelutinya tersebut. Dia menjelaskan, pada awal memasarkan miniatur Menara berbahan kayu, sempat banyak pedagang di sekitar Menara menolak produk yang dia buat. Menurutnya, miniatur Menara sudah banyak ada di toko-toko, namun pembuatannya dari bahan gypsum.

“Awalnya saya membawa dua buah miniatur Menara dan saya coba tawarkan ke sejumlah pedagang yang ada di sekitar Menara. Waktu itu banyak pedagang yang tidak mau, katanya produk tersebut sudah banyak. Saya meminta untuk sekadar titip, besoknya saya lihat dan ternyata sudah tidak ada. Menara buatanku laku terjual dan banyak orang ziarah yang menanyakan,” ungkapnya.

miniatur menara kudus

Pria asal Desa Bacin, RT 08 RW 03 Kecamatan Bae, Kudus itu mengatakan, dia sudah lima tahun menekuni usaha pembuatan miniatur Menara, sejak tahun 2012. Awalnya hanya coba-coba membuat untuk mengisi kekosongan waktunya. Dia mengatakan, limbah kayu yang menjadi bahan produknya dia dapatkan dari toko mebel di Kudus milik temannya.

Menurutnya, dalam tiga hari dia mampu membuat 30 buah miniatur Menara berukuran 16×8 sentimeter. Dia menerangkan, harga yang ditawarkan tergantung ukuran dan bahan kayu yang digunakan. “Miniatur saya jual seharga Rp 20 ribu hingga Rp 100 ribu, tergantung ukurannya,” terangnya.

Pria dua anak ini menerangkan, saat ini dia hanya menunggu pelanggan yang datang. Biasanya pelanggan dari Kudus banyak membeli dan dijual kembali kepada para wisatawan yang berziarah ke Makam Sunan Kudus. Dia mengungkapkan,  pernah ada orang Kudus yang membeli 300 buah miniatur Menara untuk dibawa ke Malaysia. “Katanya sih mau dibawa ke Malaysia,” imbuhnya.

Selain membuat miniatur Menara dari limbah kayu, dia mengaku pernah membuat miniatur Menara berbahan aklirik yang dia peroleh dari limbah pabrik Polytron. Menurutnya, bahan aklirik sangat sulit dibuat, teksturnya terlalu keras untuk dipotong. “Dulu yang memesan Bapeda Kudus, disuruh membuat dengan bahan aklirik berukuran satu meter, saya hargai Rp 2 juta dulu,” ungkapnya.

Cilik mengatakan tidak hanya membuat miniatur Menara, dia juga pernah membuat kapal, Candi Prambanan, Rumah Adat Kudus dan lampu hiasan atap rumah yang terbuat dari batok kelapa. Kini katanya, mampu meraup omzet sampai Rp 6 juta per bulan. Menurutnya, musim-musim yang ramai pesanan pada Dzulhijjah dan Muharam. “Bulan-bulan tersebut banyak pengunjung berziarah ke Menara,” tambahnya.

- advertisement -

Di Tangan Ali, Limbah Kayu Pabrik Bisa ‘Disulap’ Jadi Kerajinan Bernilai Puluhan Juta Rupiah

0

SEPUTARKUDUS, DEMAAN – Di Jalan Pangeran Puger, sejumlah kendaran tampak berlalu lalang melinta. Tidak jauh dari pertigaan yang menghubungkan Jalan Veteran dengan Jalan Pangeran Puger, terlihat di timur jalan ada spanduk warna biru tertulis Mya Trophy. Tempat itu dijadikan produksi tropi, piala, plakat dan sejenisnya. Bahan yang digunakan yakni limbah kayu dari pabrik-pabrik di Kudus.

jual piala dan plakat
Ali menunjukkan hasil kerajinan plakat dan piala miliknya. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, M Ali Kumaidi (40) pemilik Mya Trophy, mengaku sudah lima tahun memulai usaha menjual berbagai aneka ragam trophi. Dia memulai usaha pembuatan piala dan plakat sejak 2011. Dia membuat berbagai bentuk plakat dan piala dari limbah kayu pabrik. Melihat banyaknya limbah kayu yang tidak digunakan, dia berfikir untuk membuat usaha dari bahan limbah tersebut.

“Awalnya dari saudara ipar, dia memberitahu saya ada limbah kayu yang tidak terpakai. Saya coba untuk membeli dan saya olah limbah itu menjadi kerajinan plakat,” ungkap Ali waktu dijumpai di toko miliknya, Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus.

Pria satu anak ini menerangkan, dia mendapatkan limbah kayu tersebut dari perusahaan elektronik di Kudus, Polytron. Menurutnya, kayu tersebut jenis kayu Medium Density Board (MDF), limbah yang tidak terpakai dari hasil pembuatan salon aktif. 

“Kayu yang saya dapatkan berbentuk kotak persegi, dari perusahaan sudah seperti itu,  kurang lebih ukurannya 20×15 sentimeter. Sedangkan harga satu buah, kadang Rp 1.000, kadang bisa seharga Rp 1.500,” terangnya.

Menurutnya, dia hanya menunggu pembeli yang datang ke toko. Kata dia, pelanggan yang sering membeli dari Rembang, Demak, Jepara, Pati dan Kudus.  “Untuk kerajinan menara harganya Rp 100 ribu, piagam Rp 35 ribu, dari bahan marmer Rp. 50 ribu, mendali Rp 13 ribu dan untuk piala seharga Rp 25 ribu hingga Rp 450 ribu, tergantung ukuran,” ungkap Ali.

Dia mengatakan, toko miliknya mulai buka pada pukul 9.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Dalam sepekan, dia mengaku mampu membuat sekitar 100 hingga 200 plakat. Menurutnya, dia ramai mendapat pesanan pada bulan April hingga Agustus. 

“Bulan April, Mei, Juni, banyak pesanan plakat untuk wisuda sekolah, kampus maupun pondok. Untuk piala di bulan Agustus, karena di bulan ini banyak perlombaan digelar. Saat ramai pesanan, saya bisa mendapat untung hingga Rp 30 juta,” imbuhnya.

- advertisement -

Musim Kemarau Ini, Tempat Produksi Bis Beton Riski Barokah Kewalahan Layani Permintaan

0

SEPUTARKUDUS.COM, DERSALAM – Bis beton, paving, semen dan pasir memenuhi tanah lapang di timur Jalan UMK, Desa Dersalam, Bae, Kudus. Tempat produksi barang berbahan beton bernama Riski Barokah itu, biasa digunakan untuk sumur, pembuangan air, septieng dan sarana lainnya. Pada musim kemarau ini permintaan barang produksi meningkat.

bis beton
Seorang pekerja membuat bis beton di Riski Barokah, Desa Dersalam, Bae. Foto: Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com, Joko Riyono (32), karyawan di Riski Barokah, mengungkapkan, meski Minggu libur, dirinya masih mengirim barang saat ada pemesan melalui handphone. Menurutnya, pada musim kemarau seperti ini, permintaan bis beton meningkat dibanding musim hujan.

“Kalau musim hujan yang banyak permintaan itu paving. Kalau musim kemarau seperti ini bis beton yang laku. Hampir setiap hari ada pembeli bis beton,” jelasnya.

Joko merinci, harga satu bis beton untuk sumur dijual seharga Rp 240.000. Sedangkan bis beton untuk sapiteng Rp 125.000. Bis beton untuk saluran air dijual seharga Rp 50.000. Untuk paving, per meter dijual seharga Rp 55.000. 

“Untuk membuat sumur tiap daerah berbeda-beda. Ada yang butuh tujuh bis beton, dan ada yang sampai 17 bis beton, tergantung daerah lokasi tempat pembuatan sumur,” kata Joko.

Joko yang menjadi sopir, mengungkapkan, dirinya bekerja di sana sebagai sopir sudah 15 tahun. Dia merupakan karyawan generasi pertama yang masih bertahan. 

“Saya dan teman saya yang bagian membuat paving adalah karyawan generasi pertama. Hingga saat ini sudah sudah 15 tahun. Di sini ada empat karyawan, dan saya bagian sopir yang mengirim barang,” ungkapnya.

Tak lama kemudian, seorang kakek datang mengendarai motor matic ke lokasi itu. Sudarmo (70), nama kakek tersebut. Dia tak lain pemilik Riski Barokah. Darno, begitu dia akrab disapa, mengaku sudah 15 tahun membuka usaha produksi bis beton,  paving, dan beton untuk pembuangan air. Dia mengatakan, setiap hari karyawannya memproduksi tiga bis beton, dan paving sebanyak 300 hingga 400 biji. 

Darno, mengaku sebelumnya pernah menjadi sopir di tempat produksi bis beton. Kerena memiliki pengalaman di tempat kerjanya itu, dia memutuskan untuk membuka usaha sendiri.

“Semua belajar, termasuk saya pernah bekerja jadi sopir di tempat produksi bis beton. Di tempat saya bekerja saya mendapat ilmu. Sebenarnya saya tidak ikut-ikutan, karena saya memang sudah lama punya niatan untuk membuka usaha sendiri,” tutur Darno.

- advertisement -

Di Kopithong Coffee Workshop, Kamu Bisa Nikmati Kopi Klotok Muria Sambil Membaca Buku

0
SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Warna-warni lampu menyorot gelas-gelas yang digantung di belakang meja bar Kopithong Coffee Workshop. Interior kafe yang banyak dijadikan rujukan tempat nongkrong di Kudus ini juga dilengkapi rak buku, sovenir, dan meja kursi berbahan kayu palet. Kafe yang berada di Jalan dr Ramelan, Kelurahan Panjunan, Kota, Kudus ini bisa dijadikan satu reverensi untuk mengisi malam Minggu.

kopithong coffee workshop
Pengunjung di Kopithong Coffee Workshop, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Di sebelah utara ruang bar terlihat berjajar buku-buku yang diletakkan di rak dinding
dan di bawah tangga menuju lantai dua. Para pengunjung bisa menikmati sajian kopi dengan membaca buku-buku di kafe milik Doni Dolle tersebut. 
Menurut Septi, istri Doni Dolle, menuturkan, kedai kopi miliknya terdapat fasilitas buku yang tersedia di
beberapa rak. Dia menyebutkan ada novel, majalah, koran dan buku
jenis lainnya yang dapat dipinjam pengunjung. 
“Jenis bukunya ada banyak. Semua disediakan
untuk pengunjung Kopithong. Untuk majalah dan koran kami selalu update,”
ungkapnya saat ditemui di Kopithong belum lama ini.
Septi menuturkan, dirinya sengaja menyediakan buku bacaan
karena ingin memberikan fasilitas terbaik kepada pelanggan setianya. Menurutnya,
buku-buku yang tersedia di Kopithong merupakan koleksi miliknya dan suaminya. “Kalau buku novel
kebanyakan buku kesukaan saya dan mas Doni. Kalau mau pinjam silahkan tinggal
ambil,” tambahnya.
Sementara itu, Doni mengungkapkan, interiror kedai kopi
miliknya banyak dibuat dari barang recycle. Dia banyak mengunakan bekas palet
untuk meja bar dan sejumlah properti lainnya. Menurutnya, selain
harganya lebih murah, kesan klasik muncul sehingga menambah suasana ruangan lebih nyaman. “Ya ini
untuk memanfaatkan barang-barang recycle,”
ungkap pria berambut panjang itu.

Kedai kopi yang didirikannya pada 2013 itu, katanya, selain
memberikan suasana klasik dan nyaman, juga menyajikan minuman kopi unggulan. Menurutnya,
kopi andalan Kopithong yakni Kopi Klotok Muria. Doni menjelaskan, kopi tersebut
berasal dari Pegunungan Muria, Kudus. “Kopi Klotok Muria
termasuk kopi lokal Kudus. Harga secangkir Rp 8 ribu,”
terangnya.
Kepada Seputarkudus.com dia menuturkan, kedainya juga cukup
populer dengan kopi cappuccino dan espresso. Menurutnya, semua jenis
kopi dibuat dari biji kopi yang berkualitas dan diproses dengan baik. “Meracik
kopi tidak boleh sembarangan. Kami menggunakan alat seduh yang baik dan teknik
sesuai standar sajian kopi,” tambahnya.

Menurutnya, selain menyediakan kopi, Kopithong juga
memberikan workshop kopi bagi pelanggan setianya. Dia mengungkapkan, pelanggan yang datang kebanyakan kaum urban dan pekerja. “Setiap kedai kopi biasanya mempunyai
pelanggan-pelanggan berbeda kalangan. Di sini yang banyak datang kaum urban dan pekerja,” tambah dia.

- advertisement -

Tak Suka Bekerja di Bawah Tekanan Atasan, Ngasimen Pilih Membuat Kerajinan Bambu di Rumah

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG – Seorang kakek bertelanjang dada terlihat memegang sepotong bambu dan pisau di tangannya. Dia membersihkan buku-buku pada bambu yang dia pegang. Puluhan kerajinan bahan bambu tak tertata berada di sisi kiri dan kanannya. Kakek tersebut bernama Ngasimen (62), pria yang mengaku bercita-cita ingin mandiri di bawah tekanan dari orang lain.

kerajinan bambu
Ngasimen membuat kerajinan bambu di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo. Foto: Imam Arwindra

Disela-sela kesibukannya membuat sejumlah kerajinan bambu, Ngasimen sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang usaha miliknya. Dia menjelaskan, sebelum memulai usaha, dirinya bekerja menjadi kuli bangunan. Menurutnya, bekerja dengan orang lain tak begitu membuat dirinya nyaman, karena banyak disuruh dan merasa ditekan.

“Pekerjaan apapun sudah pernah saya rasakan, mulai dari proyek bangunan yang banyak tekanan, jualan es teh, jualan kerajinan bambu keliling Pati menggunakan sepeda, sampai berjualan pakaian, pernah saya kerjakan. Karena anak-anak melarang saya berjualan keliling, akhirnya saya mulai membuat kerajinan bambu di rumah. Ini sebenarnya sudah menjadi keinginan saya sejak lama,” ungkap Ngasimen yang mengaku sudah memiliki enam orang anak.

Menurut Warga Desa Jepang RT 01 RW 10 Kecamatan Mejobo, Kudus, memilki usaha sendiri membuat dirinya merasa tentram. Tak ada yang suka menyuruh, kalau tubuh terasa capek tinggal istirahat di rumah sembari menunggu pembeli yang datang. Dia mengatakan, setiap kali barang dagangan laku dijual, dia sisihkan sebagian untuk membeli bahan bambu dan sebagian disisihkan untuk keperluan keluarga. 

“Terkadang saya menyisihkan Rp 5 ribu atau Rp 10 ribu dari hasil penjualan. Buat berjaga-jaga kalau suatu saat ada kebutuhan yang mendesak,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, kerajinan yang dibuat menggunakan bahan bambu apus. Menurutnya, bambu apus lebih tahan lama dibandingkan dengan kerajinan yang terbuat dari bahan bambu wulung. Untuk pemasaran produk, dia hanya menunggu pelanggan yang datang. Dia memiliki pelanggan dari Pati dan Semarang, selain dari Kudus.

“Untuk kandang ayam berukuran 70×45 sentimeter saya jual Rp 50 ribu. Sedangkan ukuran 100×40 sentimeter saya jual Rp 35 ribu. Kalau anyaman bambu misalnya pagar dinding, per meter harganya Rp 45 ribu dan keranjang buah ukuran kecil harganya Rp 2.500. Semua barang kerajinan ini ada yang saya buat sendiri ada juga membeli dari Desa Jepang,” tambahnya.

Ngasimen menambahkan, dia memulai usaha kerajinan bambu dengan modal Rp 1 juta. Untuk menutupi kebutuhan modal, kadang dirinya meminjam dari petugas bank yang datang memberi tawaran. Namun nilainya tak besar, hanya Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. 

- advertisement -

Iksab TBS Kudus Gagas Kemandirian Alumni, Dirikan Paud Laki-Laki, Iksab Mart, hingga Infaq Produktif

0
SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Deretan sofa ungu terlihat terjajar
rapi di atas karpet merah pada panggung utama kegiatan Musyawarah Besar dan
Pengesahan Pengurus Ikatan Siswa Arbituren (Iksab), Kamis (15/9/2016). Duduk
diatas sofa KH Muhammad Ulil Albab Arwani, H Muhammad Yahya dan H Ulil Farich
sedang memberikan materi pada focus group discussion (FGD) di depan alumni Tasywiquth
Thullab Salafiyyah (TBS) yang hadir di aula Masjid Darul Ilmi Universitas Muria Kudus (UMK).

pengukuhan iksab tbs kudus
KH Ulil Albab Arwani memberikan materi pada FGD di Masjid Darul Ilmi UMK. Foto: Imam Arwindra

Satu di antara yang dibahas dalam acara yang digelar Devisi Kemandirian Ekonomi itu, merencanakan membuat lembaga
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di bawah naungan Yayasan TBS. Menurut Arif
Musta’in, Sekretaris Iksab, gagasan tersebut muncul dari para alumni. Awalnya mereka melihat Yayasan TBS belum mempunyai lembaga pendidikan formal untuk anak-anak. 

Dia
menjelaskan, TBS mempunyai tiga pendidikan formal yakni Madrasah Ibtidaiyyah
(MI), Madrasah Tsanawiyyah (MTs) dan Madrasah Aliyyah (MA). “Untuk menaungi
anak-anak sebelum MI sebenarnya ada yakni Roudlotul Tarbiyatil Qur’an (RTQ). Namun
itu pendidikan non-formal,” tuturnya saat ditemui setelah FGD.

Menurutnya, alumni TBS yang tergabung dalam Iksab
mengusulkan untuk didirikannya PAUD agar mempunyai lembaga pendidikan
formal untuk usia sebelum masuk MI. Musta’in menjelaskan, lokasinya direncanakan di
tanah wakaf TBS sebelah madrasah NU Banat Kudus. Nanti lembaga pendidikan tersebut akan dikelola alumni
TBS. 

“Gurunya nanti juga alumni TBS. Namun jadi atau
tidaknya keputusan dari pihak Yayasan TBS,” ungkapnya.

KH Muhammad Ulil
Albab Arwani menyambut baik usulan tersebut. Pihak
Yayasan TBS akan setuju jika PAUD yang diusulkan bersifat Islami dan dikelola
oleh seorang yang sudah ahli. Dia menambahkan, PAUD yang direncanakan juga
harus berbeda dengan PAUD yang sudah ada. “Harus dikelola orang yang terlatih. Supaya
tidak mengecewakan,” tuturnya kepada peserta yang hadir.
Kepada Seputarkudus.com Musta’in menuturkan, semua ide kemandirian ekonomi yang dibahas di
FGD akan berjalan sesuai dengan arahan para masyayikh TBS. “Master plan pada kemandirian
ekonomi yang dibahas bukan hanya pendirian PAUD saja, melainkan ada yang lain,”
terangnya.

Alumni TBS tahun 1998 menuturkan, FGD Devisi Kemadirian Ekonomi juga merencakan dibuatnya Iksab Mart dan infaq produktif
dari alumni TBS. Alumni-alumni TBS yang mempunyai usaha dapat beriklan secara
gratis di situs santrimenara.com

“Saran dari Yai Ulil tadi pakai redaksi wakaf produktif. Nanti alumni-alumni
iuran untuk mengembangkan kemandirian organisasi Iksab dan tentunya untuk
madrasah TBS,” tambahnya.

- advertisement -

Ayumie Tak Tahu 14 September Hari Kunjungan Perpustakaan, Perpusda Selenggarakan Banyak lomba

0
SEPUTARKUDUS.COM, WERGU WETAN – Perempuan berkerudung hitam tampak
memilah-milah buku dari rak di gedung Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Kudus, Rabu (14/9/2016). Selang beberapa menit, dia terlihat menemukan
buku yang diinginkan, lalu menuju ke meja sambil menunjukkan buku yang diambil kepada temannya. Dia membolak-balik buku tersebut sambil memegang
bolpoin.

perpustakaan kabupaten kudus
Sejumlah pengunjung nampak beraktivitas di perpustakaan umum milik Pemerintah Kabupaten Kudus. Foto: Imam Arwindra

Perempuan itu bernama Ayumei (19), mahasiswi Sekolah Tinggi Agama
Islam Negeri (STAIN) Kudus yang sedang mengerjakan tugas kuliah. Kepada Seputarkudus.com, dia baru mengetahui pada 14 September bertepatan
dengan Hari Kunjungan Perpustakaan. 

“Tidak
tahu kalau tanggal 14 September peringatan hari kunjungan perpustakaan. Saya
ke sini hanya ingin mengerjakan tugas kuliah. Ya ini kebetulan sekali,” tuturnya kepada Seputarkudus.com saat ditemui di ruang
baca perpustakaan umum Kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus, Rabu
(14/9/2016).

Mahsiswi Jurusan Ekonomi Syariah menuturkan, dia
sering pergi ke perpustakaan saat banyak tugas kuliah. Menurutnya,
buku-buku yang digunakan untuk refrensi mengerjakan tugasnnya tersedia cukup
lengkap di Perpusda Kudus. “Sebenarnya saya males baca, tapi karena banyak
tugas kuliah akhirnya saya harus ke perpustakaan untuk menyelesaikanya,” tuturnya.
Menurutnya, saat mengetahui ada Peringatan Hari Kunjungan Perpustakaan, dia
akan mencoba untuk lebih giat lagi membaca buku. Dia menuturkan, buku adalah jendela
dunia, maka dari itu dia bertekat untuk melawan malas. “Membaca sangat penting,”
tambah dia yang masih duduk di semester tiga.
Indraswari Staf Perpustakaan dan Arsip daerah Kabupaten
Kudus menuturkan, selain menyediakan berbagai macam buku, Perpusda
juga menyediakan fasilitas komputer dan perngkat lainnya. Menurutnya, selain mahasiswa
juga banyak murid SD, SMP dan SMA yang datang keperpustakaan. “Kadang
murid-murid tersebut datangnya rombongan,” ungkapnya.
Dia menambahkan, untuk masyarakat Kudus yang belum mempunyai
kartu anggota perpustakaan dapat langsung datang ke perpustakaan umum. Menurutnya,
untuk pembuatan kartu anggota perpustakaan tidak dikenakan biaya. 

“Yang belum
punya kartu anggota perpustakaan langsung saja datang ke perpustakaan mengisi blangko
pendaftaran dan jangan lupa membawa kartu tanda pengenal (KTP) serta foto 3×4. Nanti
kartunya segera jadi,” terangnya.

nanang usdiarto kepala kantor perpustakaan dan arsip kudus
Nanang Usdiarto Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Kudus

Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip daerah Kabupaten Kudus
Nanang Usdiarto menuturkan, setiap hari ada sekitar 200 pengunjung yang
datang ke Perpusda Kudus. Menurutnya, angka tersebut bertambah dari angka
tahun sebelumnya yakni sekitar 150 pengunjung. Dia menambahkan, jika dihitung
keseluruhan perpustakaan yang ada di sekolah, kampus dan perpustakaan desa di
Kudus angkanya akan mencapai sekitar 12.000 lebih. 

“Namun kami akan terus
membenahi supaya masyarakat di Kudus minat bacanya meningkat. Karena membaca
adalah jendela dunia,” ungkapnya.

Dalam Peringatan Hari Kunjungan Perpustakaan, pihaknya
membuat kegiatan lomba menulis artikel, membaca puisi dan talk show teknik membaca puisi. Jadwalnya, pada 15 September 2016 menulis artikel, 22
September puisi dan 29 September talk
show
. “Kegiatan tersebut dibuat agar siswa semakin gemar membaca dan mencintai
perpustakaan, “ terangnya.

- advertisement -

Meski Zaman Telah Berubah, Masrihan Tetap Teguh Jual Vespa Tua Sejak 1975

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGANGUK – Di Jalan Jendral Sudirman, Kudus, tepatnya tak jauh dari Pasar Kliwon, terlihat puluhan motor Vespa dan jok motor berderet di sebuah bengkel. Tampak seorang pria berkaus kuning sedang duduk di depan mesin jahit sambil menunggu pembeli datang. Pria tersebut bernama Masrihan (68), pria yang sudah selama 30 tahun lebih membuka usaha jual beli dan bengkel khusus motor buatan Italy, serta jok motor.

Bengkel khusus Vespa Pak To di Jalan Jendral Sudirman, barat Pasar Kliwon, Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Pria tiga anak ini menjelaskan, dia memulai usaha penjualan Vespa sejak 1975. Saat ini penjualan Vespa miliknya tak menentu. Terkadang tiga bulan sekali dia hanya bisa menjual satu Vespa. “Tahun 1985, penjualan Vespa sangat mudah. Namun, saat ini penjualan Vespa sangat sulit, jarang ada pembeli yang datang,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.

Menurutnya, saat ini dirinya memiliki 25 Vespa yang dijual di bengkel miliknya dengan berbagai macam jenis. Koleksi Vespa miliknya antara lain Vespa Sprint 150, Special, Exclusive, Super, Excel dan juga jenis Vespa “Endok”. Harganya beragam, mulai dari Rp 4 juta hingga Rp 17 juta. 

Warga Desa Nganguk, RT 01 RW 02 Kecamatan Kota, mengatakan, dia mendapatkan sejumlah Vespa dari penjual yang
menawarkan motornya. Menurutnya, selama dia berjulan kendaraan Vespa,
pembelinya kebanyakan anak muda. “Biasanya anak muda yang
sering ke sini. Dia membeli Vespa yang harganya murah-murah. Katanya, mau
di buat touring bersama para komunitas Vespa,” terangnya.  

Dia mengatakan, banyaknya pabrikan motor membuat produk berbahan plastik pada body luarnya.
Hal itu membuat harga kendaraan semakin terjangkau. Selain itu, desain
kendaran motor setiap tahun muncul yang baru, membuat Vespa tersisih dari pasaran. Masyarakat lebih suka dengan kendaran yang umurnya lebih muda,
dibandingkan dengan motor Vespa yang kebanyakan produk lama. 

Selain menjual sejumlah Vespa, dia juga membuka bengkel khusus Vespa dan menjual berbagai macam kebutuhan onderdil Vespa. Tidak hanya itu, dia juga menjual dan melayani pembuatan jok motor. “Suku cadang onderdil Vespa saya dapatkan dari Jakarta dan Semarang. Toko yang ada di Semarang mendapatkan suku cadang dari Taiwan dan Korea. Kalau jok motor ini, saya beli dari Jakarta dan Surabaya,” tambahnya. 

- advertisement -

Panitia Kurban Masjid Menara Datangkan Belasan Ribu Lembar Daun Jati dari Pasar-Pasar di Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, MENARA – Ribuan potongan daging kerbau dan kambing bertumpuk tak jauh dari timbangan di atas meja berlapis perlak. Di sambingnya terdapat lembaran daun jati yang disiapkan untuk membungkus daging yang masih merah
tersebut. Setelah ditimbang, daging tersebut dibungkus daun jati
lalu dimasukkan kedalam plastik putih berlabel Menara Kudus. 

kurban kerbau di masjid menara kudus
Panitia kurban Masjid Menara Kudus membungkus daging menggunakan daun jati. Foto-foto: Imam Arwindra

Kegiatan
tersebut dilakukan panitia kurban Masjid Al-Aqsa Menara Kudus, Rabu
(14/9/2016). Deni Nur Hakim, panitia kurban Masjid Al-Aqsa,
menuturkan, daging-daging itu sengaja dibungkus menggunakan daun jati supaya menjaga agar
tetap segar. Menurutnya, selain itu untuk menjaga agar daging tidak
terkontaminasi langsung dengan plastik. Belasan daun jati itu didatangkan dari pasar-pasar di Kudus.

“Kami
pastikan daging kurban (Masjid
Al-Aqsa) benar-benar bersih, sehat dan layak konsumsi. Kami mengestimasi
akan ada sekitar 11.000 bungkus dan akan dibagikan ke seluruh wilayah
di Kudus,” tutur Deni kepada Seputarkudus.com saat ditemui di Gedung
YM3SK (Gedung ex Manggala).

kurban kerbau di masjid sunan kudus

Kepada Seputarkudus.com Deni menjelaskan, Masjid Al-Aqsa
Menara Kudus tahun ini menerima kurban 16 kerbau dan 31 kambing. Menurutnya, setiap bungkus terdapat dua ons
daging murni. Jika ditambah jeroan dan balungan. diperkirakan ada sekitar empat ons.

Dia menerangkan, pembagian daging kurban tahun ini tidak
terfokus di satu tempat. Menurutnya, jika pembagian daging terfokus di satu
tempat pasti nanti akan terjadi saling rebut. “Kami sudah membentuk kordinator di setiap kecamatan. Nantinya mereka
akan mengirim data desa mana yang membutuhkan daging. Namun data tersebut dua
pekan sebelum pelaksanaan sudah diverifikasi oleh panitia, supaya tepat
sasaran,” jelasnya.

Deni menjelaskan, desa-desa di sembilan kecamatan yang dipilih
yakni yang minim kurban. Desa tersebut dipilih juga karena tidak dapat stok daging
dari Jam’iyyatul Hujjaj Kudus (JHK) dan Masjid Agung Kudus. Untuk kordinator
setiap kecamatan pun panitia tidak asal pilih. Menurutnya, kordinator yang
dipilih sudah belasan tahun bekerja sama dengan panitia. 


“Jadi sudah ada rasa
saling percaya. Intinya kami akan bagi merata keseluruh kecamatan di Kabupaten
Kudus. Jadi setiap kecamatan beda-beda jumlahnya,” tuturnya.

Deni menuturkan tidak menerima kurban sapi karena menjalankan ajaran
Sunan Kudus. Menurutnya, sapi hewan yang dimulyakan oleh masyarakat
pemeluk Hindu pada zaman Syekh Ja’far Shodiq. Selain itu, juga menjadi strategi Sunan Kudus agar pemeluk
Hindu agar masuk Islam tanpa paksaan. 


“Menurut kepercayaan orang Hindu dulu, sapi
adalah hewan yang dimulyakan. Ada beberapa sekte juga menganggap sapi menjadi
sesembahan. Ada juga dewa yang tunggangannya sapi,” terangnya.

- advertisement -

Meski Antre Berjam-Jam, Ajik dan Tujuh Temannya Puas Tertawa Saat Nonton Warkop DKI Reborn

0

SEPUTARKUDUS.COM, CINEPLEX – Di lantai tiga Matahari Plaza Kudus, puluhan orang terlihat mengantre untuk nonton film Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss! Part 1, di Bioskop New Star Cineplex Kudus. Usai pemutaran, satu di antara npenonton, Prasetia Bayuaji Pamungkas (23), mengaku
sudah menunggu satu setengah jam untuk bisa
menonton aksi pemain Warkop DKI Reborn.

nonton film warkop dki reborn 2016
Para penonton mengantre di New Star Cineplex Kudus, untuk menonton film Wrkop DKI Reborn. Foto: Sutopo Ahmad

Menurut Pria asal Desa Karangmalang RT 01 RW 10 Kecamatan Gebog, Kudus, para pemain
begitu sangat totalitas memerankan sosok Dono, Kasino dan Indro dalam
film tersebut. 

“Tidak
Menyangka, para pemain begitu mirip dengan sosok Warkop DKI, apalagi
Abimana yang memerankan sosok Dono yang begitu sangat totalitas. Dari awal
pembukaan saja sudah lucu, semakin lama tambah lucu. Pokoknya setiap
adegan pasti lucu,” ungkap Ajik Kepada Seputarkudus.com waktu dijumpai usai menonton beberapa waktu lalu.

Berdasarkan situs Falcon, film Warkop DKI Reborn disutradarai Anggy Umbara. Film yang memiliki durasi 95 menit ini, dibintangi Abimana Aryasatya sebagai Dono, Vino G Bastian sebagai Kasino dan Tora Sudiro sebagai Indro. 

Ajik, begitu akrab disapa, mengatakan, dia menonton film Warkop DKI Reborn bersama tujuh orang temannya. Mereka teman kuliahnya di Universitas Muria Kudus (UMK). Dia menjelaskan, adegan yang paling membuat dia tertawa terbahak saat Dono, Indro dan Vino sebagai Kasino memberikan uang palsu kepada sesorang anak. 

“Warga berlalian mengejar mereka, sosok Vino dengan sengaja menarik celana kolor seseorang yang membawa kayu, sehingga kelihatan celana dalamnya. Saya tertawa terbahak-bahak saat adegan itu, sumpah lucu banget,” tandasnya.

Ajik menambahkan, dia tak sabar melihat kelanjutan film yang diproduksi
Falcon Pictures tersebut. Menurutnya, film itu membuat orang penasarn
ingin menonton kelanjutannya. “Bagi yang belum menonton, segera
menonton. Film ini lucu banget, tertawa terus tanpa jeda pokoknya,”
tambahnya sambil tertawa.

Sementara itu, Farah (21), teman Ajik, menuturkan, awal mula ingin nonton karena penasaran melihat trailer Warkop DKI Reborn yang ada di TV. Menurutnya, melihat di TV saja sudah lucu, apalagi melihat langsung. Dia mengaku ngefans pada satu pemain film tersebut sejak SMA, yaitu Vino G Bastian.

“Vino sangat keren memerankan sosok Kasino, namun saya lebih suka melihat akting Abimana sebagai Dono. Apalagi saat adegan Dono dan Sophie pada saat mencari para begal, mendengar suara musik mereka beradegan seperti film Titanic. Lucu banget, mereka menabrak pembatas jalan dan Dono terlempar menghancurkan sebuah warung makan. hahahaha,” ungkapnya.

- advertisement -

Acara Kumpul Barista di Kopithong, Robby: Barista Bukan Hanya Operator Namun Kreator

0
SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Laki-laki berkaus biru tersebut
duduk di sofa sambil memegang mikrofon. Dia Robby Adiarta, yang sedang menyampaikan materi tentang kopi pada acara Kumpul
Barista di Kopithong Coffee Workshop, Jalan Dr Ramelan, Kelurahan Panjunan,
Kecamatan Kota, Kudus. Menurutnya, barista bukan operator, melainkan seorang kreator.

acara kumpul barista di kopithong
Robby Adiarta menyampaikan materi tentang kopi di Kopithong Kudus. Foto: Imam Arwindra
Di depan puluhan barista dan pemilik kedai kopi di Kudus,
Robby yang juga pemilik Angkringan Cekli itu mengungkapkan,
sepatutnya barista bukan hanya menjadi operator yang membuat kopi, melainkan
bisa menjadi kreator. 

“Seorang barista harus mempunyai value dalam menciptakan kopinya. Dia (barista) bukan hanya
operator, melainkan seorang kreator,” ungkapnya saat memaparkan materi,
Selasa (13/9/2016).

Menurutnya, dengan perubahan mindset tersebut barista yang ada di Kudus akan menciptakan bermacam-macam
sajian kopi yang beraneka cita rasa. Robby menuturkan, di Pegunungan Muria terdapat
harta karun yang terpendam, yakni biji kopi. 

“Jika barista di Kudus mampu
mengolah biji kopi tersebut menjadi sebuah segelas kopi yang enak, itu akan mendatangkan banyak manfaat. Kita punya biji kopi unggulan, yakni biji kopi
dari Pegunungan Muria,” tuturnya.

Kepada peserta yang hadir dia menuturkan, 80 pesen
masyarakat Kudus merupakan penikmat kopi. Menurutnya, dengan persentase yang
menakjubkan ini, barista di Kudus harus menyuguhkan racikan terbaiknya supaya
mereka tidak membeli kopi di luar Kudus. “Hal yang utama yakni merubah mindset,” tambahnya.
Dalam menjalankan bisnis, Robby juga berpesan, permasalahan
modal tak bisa menjadi alasan untuk berkembang. Menurutnya, yang utama merubah mindset menjadi seorang kreator. Dia
juga mengingatkan, seorang barista jangan hanya mencari uang. “Jika gaji
tidak sesuai pindah. Yang difikir hanya uang saja,” ungkapnya.

Doni Dolle, penyelenggara Kumpul Barista, menuturkan, kegiatan
yang diselenggarakannya untuk memotivasi para barista dan pemilik coffee shop di Kudus. Menurutnya, kegiatan
ini baru diselenggarakan pertama kali di Kopithong Cofee Workshop, miliknya.  

“Kegiatan ini untuk memotivasi para barista
dan pelaku bisnis (kopi) di Kudus,” ungkapnya saat ditemui Seputarkudus.com di
sela-sela kegiatan.

Dia menuturkan, terdapat 29 pemilik coffee shop di Kudus yang diundangan dalam temu barista tersebut. Menurutnya,
kegiatan itu akan menjadi kegiatan rutin di Kopithong. “Nanti akan ada Hari Kopi International. Rencana nanti barista-barista di Kudus
akan mengadakan Festival Kopi. Untuk acaranya bagaimana, akan kami bahas nanti,”
ungkap dia.

- advertisement -

Suroso Hidupi Istri dan Anaknya dari Hasil Berjualan Cilok di Jalan Bakti Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, BURIAN – Di gang kecil utara Jalan Bakti, Burian, Kota, Kudus, tampak gerobak yang ditutup payung warna-warni. Di dekat gerobak itu terlihat seorang pria mengenakan celana pendek dengan tas di pinggangnya yang sedang melayani pelanggannya. Suroso (30), nama pria tersebut, mengaku bisa menghidupi istri dan satu anaknya hasil berjualan cilok tersebut.

penjual cilok
Suroso melayani pembeli cilok di Jalan Bakti, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

“Penghasilan saya dari berjualan cilok ya cukup lah untuk membiayai hidup istri dan satu putra saya. Kalau musim kemarau seperti ini penghasilan saya menurun, tapi ya masih cukup,” jelasnya.

Kepada Seputarkudus.com, Suroso mengatakan baru berjualan cilok di Kudus sekitar dua bulan terakhir. Cilok
yang dia jual seharga Rp 500 per butir, yang memiliki ciri khas rasa Tangerang
Selatan. Namun dia juga menjual cilok yang memiliki cita rasa Tasik, Bogor, dan Bandung. Di Kudus, setau Suroso baru dirinya yang menjual cilok dengan khas
rasa Tangerang Selatan. 

“Cilok
yang saya jual ini ciri khas rasa Tangerang Selatan. Cilok itu ada beberapa ciri khas rasa, ada Tasik, Bogor, dan Bandung, setau
saya. Di Kudus saya baru saya yang menjual. Di pasar Bitingan ada yang jual cilok juga, tapi khas Tasik. Mungkin ada lagi tapi saya belum
tau saja,” ungkap Suroso. 

penjual_cilok_kudus

Cilok yang dijualnya dia ambil di daerah Kaliwungu, tempat pemilik franchise.
Dia bercerita, bergabung dengan franchise dipinjami fasilitas gerobak dan perlengkapan penjualan. Pada pagi sekitar pukul 7.00 WIB dia mengambil cilok ke Kaliwungu untuk dijual di dekat rumahnya, Desa Burian. 

“Untuk bergabung di franchise itu sangat mudah, tidak perlu membayar. Cuma butuh semangat berjualan agar dapat hasil maksimal,” tambahnya.

Nomer 1-008 adalah nomer grobak franchise yang digunakan Suroso berjualan. Menurutnya, itu menandakan dia merupakan penjual nomer 8, karena kurang lebih ada sekitar 10 penjual seperti dirinya. Dan tempat berjualan juga harus dengan jarak-jarak yang ditentukan, tidak boleh berdekatan satu sama lain.

- advertisement -

Panitia Kurban di Mejobo Ini Hanya Menyembelih Kerbau, Tak Ada Sapi Maupun Kambing

0
SEPUTARKUDUS.COM, MEJOBO – Puluhan orang tampak berkumpul di
depan Masjid Besar Al-Ma’wa Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kudus. Mereka mengenakan
seragam putih garis hijau sambil memegang hewan kerbau yang akan dikurbankan pada hari Tasyrik, Senin (12/9/2016) Raya Idul Adha tahun ini.

kurban kerbau di mejobo kudus
Panitia kurban Masjid Alma’wa Mejobo, Kudus, sedang memotong daging kerbau. Foto: Imam Arwindra
Di masjid tersebut, tak terlihat ada hewan kurban selain kerbau. Menurut panitia kurban Masjid
Al-Ma’wa Muhammad Jamalludin, tahun ini hanya menyembelih kerbau. Menurutnya, sejak dulu panitia kurban Masjid Al-Ma’wa tidak
menyembelih sapi. Dan kebetulan, tahun ini tidak ada yang berkurban kambing. 

“Kami mengikuti dawuh Sunan Kudus yang tidak boleh
menyembelih sapi. Ini sudah menjadi tradisi, tidak hanya di Mejobo, tapi juga seluruh wilayah di Kudus,” ungkapnya saat ditemui di depan Masjid Al-Ma’wa sambil
memotong daging.
Menurutnya, tradisi tersebut masih dipegang teguh oleh
masyarakat di Mejobo. Jamal menjelaskan, Sunan Kudus memberikan
pesan tidak boleh menyembelih sapi guna menghormati warga Kudus yang memeluk
agama Hindu pada zaman dulu. Menurutnya, sapi termasuk hewan yang dikeramatkan dan
dihormati oleh sebagian besar masyarakat Kudus yang saat itu memeluk Hindu. 

“Ada nilai toleransi antar
agama yang diajarkan Sunan Kudus. Memang Sunan Kudus tidak memperbolehkan menyembelih sapi, tapi bukan berarti
haram,” ungkapnya.

Jamal yang juga Ketua Remaja Masjid Alma’wa menuturkan, selain tradisi itu, bangunan
masjid yang menyerupai Menara Kudus juga mencerminkan toleransi. Perpaduan arsitektur Hindu-Budha dan Islam takpak dalam bangunan masjid.

Kepada Seputarkudus.com dia menuturkan, di masjidnya juga
tidak menyembelih kambing. Menurutnya, masyarakat di sekitar Masjid Al-Ma’wa pada Lebaran Haji tahun ini tidak ada yang menyembelih kambing.

Menurutnya, tahun ini pihaknya menyembelih empat ekor kerbau. Daging-daging yang sudah terpotong dibagikan ke masyarakat
yang ada di Desa Mejobo. Dia menuturkan, ada sekitar delapan RT lebih yang
mendapat jatah daging. 

“Jumlahnya sekitar 900 bungkus daging. Nanti panitia
yang akan membagikan langsung kerumah warga,” jelasnya.

- advertisement -

Penjual Es Cincau Asal Tasikmalaya Ini Pulang Setahun Sekali, Bawa Uang Rp 10 Juta Hasil Kerja

0

SEPUTARKUDUS.COM, BARONGAN – Sejumlah kendaraan terlihat berlalu lalang melintas di Jalan Sosrokartono, Desa Barongan, Kecamatan Kota, Kudus. Di sisi barat jalan, tampak seorang pria mengenakan pakaian warna biru membuat es cincau untuk pembelinya. Pria tersebut bernama Ridan Fadilah (21), pria asal Tasikmalaya yang sudah selama tiga tahun berjualan es cincau di Kudus.

es cincau
Penjual es cincau di Jalan Sosrokartono. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Ridan begitu akrab disapa, menceritakan,
Setahun sekali dia menyempatkan diri untuk pulang kampung bertemu
kedua orang tua. Dia membawa uang hasil kerja ke kampung halaman.

“Pulang ke Tasikmalaya setahun hanya sekali. Saya
membawa uang kurang lebih Rp 10 juta hasil kerja selama setahun. Sebagian saya berikan
kepada kedua orang tua dan sisanya saya buat menabung,” ungkap Ridan
yang mengaku berjualan es cincau di Kudus bersama adik kembarannya.

 dia ke Kudus berjualan es cincau bersama enam orang temannya, yang semua berasal dari Tasikmalaya. Menurutnya, jauh-jauh mengadu nasib berjualan es cincau di Kudus, dia ingin mencari pengalaman. “Ya hanya ingin mencari pengalaman saja,” terangnya waktu dijumpai pada saat berjualan di tepi jalan Desa Barongan, belum lama ini.

Ridan mengungkapkan, di Kudus ada tujuh cabang penjual es cincau. Es cincau yang dia jual bukan milik dirinya, melainkan milik bosnya yang juga dari Tasikmalaya. Dia bersama enam orang temannya hanya menjualkan es cincau setiap hari, mulai dari pukul 9.00 WIB hingga pukul 15.00 WIb. 
 
Menurutnya, dari hasil berjualan es cincau, dirinya diberi upah Rp 200 ribu tiap pekan. Jika memiliki cukup modal, dia mengaku akan membuka sendiri usaha berjualan es cincau. Menurutnya, untuk membeli satu buah gerobak, dibutuhkan uang sekitar Rp 3,5 juta, dan bahan sekitar Rp 500 ribu. “Biaya Rp 4 juta saya rasa cukup, untuk memulai usaha berjualan es cincau,” ungkapnya.

Dia menambahkan, saat ini dia tinggal bersama temannya di kontrakan. Tempatnya di Desa Mlati Lor, Gang Budan RT 02 RW 05 Kecamatan Kota, Kudus. Di kontraan itu, mulai pukul 4.00 WIB hingga Pukul 08.00 WIB, dia bersama temannya membuat es cincau untuk diperjual belikan. Sejumlah bahan yang diperoleh di kirimkan oleh bosnya, dia memperoleh sejumlah daun cincau dari Ungaran, Semarang.

“Untuk membuat es cincau hijau, bahan bakunya berupa santan, gula merah dan daun cincau yang direbus hingga daunnya layu. Setelah itu, daun cincau di peras dan airnya disaring dalam sebuah wadah hingga mengendap seperti agar agar (Jeli),” tambahnya.

- advertisement -

Muslim Tionghoa Ini Lebih Memilih Berkurban Kerbau Ketimbang Sapi, Karena Ikut Dawuh Sunan Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, KALIWUNGU – Rumah ini terletak di Jalan Kudus
Jepara Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Bangunannya sebagian besar berwarna oranye. Rumah megah ini menjadi tempat tinggal Peter M Faruq, Ketua Persatuan
Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kudus. Pada Idul Adha tahun ini, dia memilih berkurban kerbau ketimbang sapi untuk mengikuti dawuh Sunan Kudus. 

ketua PITTI Kudus
Ketua PITTI Kudus, Peter M Faruq. Foto: Imam Arwindra
Kepada Seputarkudus.com, dia mengatakan, menyembelih sapi bukan budaya orang Kudus. Sejak dulu, masyarakat lebih memilih menyembelih kerbau, termasuk saat Idul Adha. Pada awal menyebarkan Islam di Kudus, Syekh Ja’far Shodiq melarang pemeluk Islam menyembelih sapi, untuk menghormati pemeluk Hindu. 

“Menurut sejarah seperti itu dan membudaya hingga saat ini. Karena ini memiliki nilai toleransi, saya mengikuti dawuh Sunan Kudus,” tuturnya, Minggu (11/9/2016).
Selain karena alasan tersebut, Faruq, begitu dirinya disapa, berkurban kerbau karena menghormati guru Sunan Kudus, yakni Kiai Telingsing sebelum masuk Islam.

Idul Adha tahun ini,
Faruq berkurban satu ekor kerbau dengan bobot satu kwintal lebih yang
diserahkan ke masjid tak jauh dari rumahnya. Menurutnya, kerbau tersebut dibelinya
dengan harga Rp 18 juta. “Harganya Rp 18 juta. Saya pasrahkan di masjid.
Bobotnya satu kwintal lebih,” tuturnya.

Faruq memberitahukan, pada Lebaran Haji tahun ini anggota PITI Kudus tidak menyelenggarakan kegiatan. Menurutnya,
ada lebih dari 500 anggota PITI yang tersebar di sejumlah wilayah di Kabupaten
Kudus. Mereka warga etnis Tionghoa yang menjadi mualaf. Namun, tiga tahun
ini organisasi yang dipimpinnya kurang terlalu aktif. 

“Di Kudus anggota PITI
banyak, bisa mencapai 500 orang. Namun yang aktif sedikit. Bisa dihitung pakai
jari,” tuturnya.

Dia berpesan, pada momen Hari Raya Idul Adha ini masyarakat
Kudus yang merasa mampu agar berbagi dengan sesama yang tidak mampu. Selain
itu, walau berbeda golongan, menanamkan kebersamaan bagi sesama merupakan hal yang sangat penting. 

“Jangan ada
pemisah karena beda agama, ras dan golongan. Kita semua
orang Indonesia,” tambahnya.

- advertisement -