Beranda blog Halaman 1943

Sambutan Bupati dan Menteri Belum Usai, Anak-Anak Jalanan ‘Serbu’ Tumpeng Hari Jadi Kudus ke-467

0
SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN KUDUS – Sejumlah anak-anak terlihat bergerombol menuju
sekumpulan orang yang sedang duduk di karpet merah depan Pendapa Kabupaten
Kudus. Mereka mengenakan kaos, celana pendek serta gitar di tangannya. Mereka biasa mengamen di kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus.
Menurut, Agus satu di antara mereka, ingin mengikuti kegiatan
Kenduri Seribu Tumpeng yang diadakan Pemerintah Kabupaten Kudus, Jumat
(23/9/2016) malam.

sewu tumpeng hari jadi kudus
Kegiatan Seribu Tumpeng Hari Jadi Kudus ke-467. Foto: Imam Arwindra

Mereka duduk melingkar di samping tangga menuju Alun-alun
dengan satu tumpeng di tengahnya. Sambil mendengarkan sambutan dari pengeras
suara, mereka mengicipi tumpeng yang ada dipannya. “Eh, ojo dipangan dipek. Durung entuk. (Jangan dimakan dulu belum boleh),” tutur Agus.
Belum sempat rangkaian sambutan Bupati Kudus dan Menteri
Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi usai, anak-anak tersebut menyantap tumpeng yang ada di depannya. Menurut Agus, dia dan teman-temannya sudah lapar karena sejak siang belum makan. “Dia yang mulai. Karena lapar makan dulu,”
tuturnya sambil menunju temannya berkaos putih.
Menurutnya, tumpeng yang disediakan rasanya enak dengan lauk
ayam dan telur. Saat ditanya Seputarkudus.com tentang kegiatan yang sedang
berlangsung, dirinya mengaku mengetahui, yakni Hari Jadi Kabupaten Kudus ke-647. “Saya kan orang Kudus. Saya tinggal di dekat
Kaligelis (Desa Demaan, Kecamatan Kota),” tambah dia.

Tak jauh dari mereka, seorang anak perempuan mengenakan krudung terlihat memegang sendok plastik. Dia bersama kedua orang tuanya juga hadir
dalam acara tersebut. Musthofa Kamal, ayah
dari anak perempuan tersebut menuturkan, dia membawa anaknya untuk membiasakan mengenali lingkungan di Kudus. 

Selain
itu, dengan sering mengajakknya keluar akan mengajarinya agar terbiasa berkumpul
dengan orang lain. “Namanya Fafa. Dia baru umur satu setengah tahun. Saya ajak
ke acara ini supaya terbiasa berkumpul dengan orang lain,” tutur dia sambil melihat
anaknya yang berlatih makan.

Menurut Musthofa Kamal, anak-anak pengamen jalanan yang
berada di sampingnya butuh bimbingan dari pemerintah, terutama untuk mereka yang
putus sekolah. Menurutnya mereka berhak mendapatkan pendidikan dan penghidupan
yang layak seperti anak-anak pada umumnya. “Mereka harus dibina supaya terdidik
dengan baik,” tambahnya.
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir
yang hadir dalam kegiatan menuturkan, anak SMA, SMK, MA di Kudus
menganjurkan masuk ke perguruan tinggi negeri. Menurutnya, semua biaya akan
ditanggung oleh negara. “Dia pintar, sampai S3 (Doktor) pun akan dibiayai,”
tuturnya.

Dia menjelaskan, pemerintah sedang fokus memberantas buta
aksara di era teknologi informasi. Menurutnya jangan sampai Indonesia dibohongi
oleh negara lain. “Belajar yang rajin. Jika ada kemauan pasti ada jalan,”
tambahnya yang disambut tepuk tangan.

- advertisement -

Wow, Hasil Kerajinan Tas Bahan Daur Ulang Seruni Handmade Kudus Tembus Pasar Luar Negeri

0

SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN KUDUS – Di depan Ramayana Mall Kudus, terlihat sejumlah stan berukuran 3×3 meter beridiri dua baris saling berhadapan, di timur Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Berbagai produk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) tersaji di dalam stan-stan tersebut. Di satu stan, tampak tiga orang perempuan berkerudung sibuk berfoto-foto sembari memegang tas hasil kerajinan bahan daur ulang.

produk tas homemade
Sri Setuni, Pemilik Seruni Homemade yang memproduksi tas berbahan limbah daur ulang. Foto: Sutopo Ahmad 

Satu dari tiga perempuan tersebut, Sri Setuni (35), tak lain merupakan pemilik Seruni Handmade. Sri, begitu akrab disapa, menjelaskan, dia memulai usaha kerajinan tangan itu sejak empat tahun lalu, tepatnya pada akhir 2012. Saat ini usahanya berkembang cukup bagus. Ppembeli tidak hanya dari Indonesia, tapi ada juga dari Belanda dan Malaysia.

“Awalnya prihatin dengan kondisi sungai yang banyak sampah di sekitar rumah saya. Kalau bisa dimanfaatkan kenapa tidak, kan begitu. Dari itu saya berfikir, bagaimana caranya sampah tersebut bisa dimanfaatkan menjadi kerajinan. Syukur-syukur dapat menghasilkan uang,” ungkap Sri kepada Seputarkudus.com sembari menunggu pengunjung di Kudus Expo Hari Jadi Kudus ke-467.

Menurut warga Desa Jati Kulon RT 03 RW 02 Kecamatan Jati, sebelum bisa membuat kerajinan, dia belajar di Perumahan Muria Indah. Pada awal belajar, dia mengaku kesulitan membuat kerajinan dari bahan limbah plastik kemasan. Saat itu dia hanya bisa membuat satu macam jenis tas wanita. 

“Pertama sempat kesulitan, setelah belajar terus menerus sekarang saya sudah bisa membuat berbagai macam kerajinan sendiri,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, bahan yang digunakan untuk membuat kerajinan berupa limbah sampah anorganik, misalnya kemasan minuman kopi, minyak goereng, deterjen, koran dan bahan lainnya. Dia mendapat limbah tersebut dari sejumlah pedagang yang menjual di bank sampah miliknya. 

“Nama bank sampah saya Jati Asri, saya buka setiap Minggu pukul 9.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB. Di sana saya juga membuka kelas gratis bagi siapa saja yang mau belajar membuat kerajinan,” terang Sri yang tergabung dalam Paguyuban Pengelolaan Sampah Mutiara Kudus.

Dia mengungkapkan, dalam memasarkan produknya, dia hanya menggunakan media online Facebook, Instagram dan BBM. Dibantu anggpta PKK, dalam sehari dia mampu membuat kerajinan tas ukuran sedang sebanyak 20-30 tas. Sedangkan ukuran besar dia bisa memproduksi 2-3 tas sehari.

Sri menambahkan, kerajinan yang dia bawa di pameran hanya berupa tas wanita, dompet dan bros. Harga produknya dijual antara Rp 2.500 hingga Rp 200 ribu. Menurutnya, dengan modal awal Rp 100 ribu, sekarang dia mampu mendapatkan omzet Rp 2 juta sampai Rp 3 Juta per bulan. “Semoga kerajinan yang saya buat bisa ekspor ke luar negeri terus,” tambahnya.

- advertisement -

Meski Stan Kudus Expo Diguyur Hujan, Khafsoh Tetap Optimistis Produk Minumannya Laku

0

SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN – Seorang perempuan tampak termangu saat hujan turun di kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Jumat (23/10/2016). Dia tengah menunggu pengunjung datang ke stan miliknya, dalam acara Kudus Expo Hari Jadi Kudus ke-467. Di stannya, dia menjual sekaligus memamerkan produk-produk minuman.

kudus expo 2016
Khafsoh memamerkan produk minuman di Kudus Expo, Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Khafsoh (47), nama perempuan tersebut. Kepada Seputarkudus.com, dia mengaku baru menjual produk senilai Rp 300 ribu. Pada pameran tersebut ada delapan jenis minuman yang dijual. Produk tersebut antara lain kunir asem yang dijual seharga Rp 9 ribu, kunir sirih Rp 10 ribu, kunir mangga Rp 10 ribu.

“Selain itu ada kunir putih saya jual seharga Rp 13 ribu, kunir asem empu Rp 11 ribu, beras kencur Rp 10 ribu, temulawak Rp 10 ribu, dan jahe rempah Rp 10 ribu. Meski hujan, saya optimistis produk minuman saya akan tetap laku,” kata anggota Kelompok Usaha Keluarga AMT Group.

Alasan dirinya mengikuti Kudus Expo, karena ingin mengenalkan produk miliknya kepada masyarakat. Selain itu dirinya ingin produk yang telah dihasilkan diminati pengunjung kemudian mereka membelinya. 

“Saya juga berharap pada Hari Jadi Kudus yang ke-467 ini UMKM di Kudus lebih maju, lebih kreatif. Saya berharap pemerintah lebih memperhatikan dan membantu mengembangkan usaha kami,” ungkapnya.

Dia menuturkan, biasanya dirinya berjualan di depan Ruko Agus Salim menggunakan gerobak. Setiap Minggu dia juga menjajakan produk milinya saat Car Free Day.

Tak berapa lama, seorang pria berbaju putih masuk ke dalam stan milik Khafsoh. Dia adalah Bambang Tri Waluyo (56) dari Dinas Perindustrian, Koperasi dan UMKM Kudus. Dia masuk ke stan karena ingin memantau kondisi stan yang mengikuti expo. 

Bambang dia akrab disapa, mengungkapkan expo kali ini hanya sebagian dari rangkaian kegiatan Hari Jadi Kudus ke-467. “Expo ini hanya bagian dari rangkaian kegiatan hari jadi (Kudus). Kami bekerja sama dengan EO (even organiser) dari Semarang. Anggaran expo kurang lebih sekitar Rp 140 juta,” ungkap Bambang.

Dia juga menjelaskan, Kudus Expo kali ini diikuti sekitar 40 pelaku UMKM. Sebelum mengisi stan, ada proses seleksi kelayakan produk. Pada proses seleksi awal ada 60 UMKM yang mendaftar. 

“Sebelum acara ini dimulai kami melakukan sosialisasi. Kemudian yang mendaftar kami seleksi kelayakan produknya. Dari sekitar 60 UMKM, ada sekitar 40 UMKM yang lolos seleksi,” tambahnya.

- advertisement -

Owner Wajik Coffee Shop: Demi Cita Rasa, Sajian Kopi Tak Harus Menggunakan Gula

0
SEPUTARKUDUS.COM, GARUNG LOR – Seorang laki-laki mengambil biji kopi dari dalam toples kaca bening di atas meja Wajik Cooffee Shop. Di samping toples terdapat grinder dan beberapa
alat seduh kopi. Sambil menunggu air mendidih, dirinya kemudian menghaluskan biji
kopi menggunakan grinder dan hasilnya dituang ke dalam gelas. 

wajik coffee shop kudus
Nika Biru Watataqu owner Wajik Coffe Shop Kudus meracik kopi. Foto-foto: Imam Arwindra

Dia kemudian meraih
paper filter untuk diletakkan di alat penyeduh kopi manual V60. Saat suhu air sesuai, dia menuangkan serbuk ke dalam paper filter dan kemudian menuang air panas tersebut secara memutar. Air kopi hitam tampak mengalir ke dalam gelas di bawahnya, dan siap untuk dinikmati.

Laki-laki tersebut yakni Nika Biru Watataqu, owner Wajik Coffee Shop. Kepada Seputarkudus.com dia menjelaskan, kopi hitam yang dibuatnya tadi bisa dinikmati tanpa menggunakan gula. Menurutnya, biji kopi yang diracik sudah mengandung glukosa yang memberikan rasa manis. Kopi hasil racikannya itu tak terlalu pahit, jika dari proses roasting hingga peracikan
dilakukan secara tepat. 

roasting wajik coffee shop

“Kebiasaan masyarakay di sekitar lereng Muria kan kalau ngopi
harus pakai gula. Menurut saya, kalau pakai gula akan justru akan menghilangkan rasa khas kopi
itu,” tuturnya saat ditemui di Wajik Coffee Shop, Jalan Kudus-Jepara,
Desa Garung Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, belum lama ini.

Nika, begitu dia akrab disapa, menjelaskan, saat melakukan roasting biji kopi dirinya menggunakan alat modern untuk menjaga biji kopi tidak gosong. Saat menuangkan
air panas pada serbuk kopi pun dia menentukan suhu panas air panas pada angka 80
sampai 90 derajat celcius. Menurutnya, saat suhu air panas di atas 100 derajat akan menimbulkan rasa pahit pada sajian kopi. 

kedai kopi di kudus

“Logikanya, serbuk kopi akan
gosong terkena air yang telalu panas. Saat gosong akan menghasilkan rasa pahit. Untuk menuangkan air pun juga jangan terlalu terpusat pada titik
tertentu. Contohnya dengan cara memutar,” terang dia yang menekuni kopi sejak
masih SMA.

Lulusan Universitas Muhammadiyyah
Surakarta (UMS) itu mengungkapkan, ada empat parameter dalam menyeduh kopi. Yakni, gramasi
atau ukuran berat kopi, kasar halusnya serbuk kopi, temperatur air dan waktu seduh. Di kedainya, Nika menyediakan kopi tubruk, Vietnam Drib, Aeropress,  French Press, Turkish atau dan Rok Presso.

“Beda alat beda cara
pembuatan. Contoh pembuatan kopi tubruk dan V60. Untuk kopi yang ditubruk
serbuknya halus kira-kira takaran pergelas 10 gram. V60 serbuk kopi kira-kira
sebesar gula pasir dengan takaran 15 gram. Kalau tubruk caranya langsung
ditaruh gelas dan disiram air panas, V60 caranya disaring. Jadi V60 rasa yang
dihasilkan lebih halus dari tubruk,” jelas Nika melakukan proses roasting hingga peracikan kopi di kedainya.
- advertisement -

Saat Musim Panen, Kursi dan Meja Bambu Wulung dari Purwokerto Ini Laris Manis Terjual

0

SEPUTARKUDUS.COM, LORAM WETAN – Di selatan Jalan Patimura, tak jauh dari Makam Mbah Dul Gati Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, terlihat tumpukan kursi dan meja berbahan bambu. Di dekat tumpukan meja dan kursi itu, terlihat dua orang sedang duduk menghadap ke arah jalan. Produk mebel tersebut didatangkan dari Purwokerto, dan saat musim panen laris terjual.

meja kursi bambu
Penjual kursi dan meja bambu wulung di Jalan Patimura, Loram Wetan, Jati, Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Dua orang tersebut bernama Sutris (38) dan Irkam (30), warga Purwokerto yang menjual kerajinan bambu tersebut. Sutris menjelaskan, dia bersama temannya berjualan kursi dan meja bambu di Kudus sudah 14 tahun, sejak tahun 2002. Menurutnya, ketika musim panen, dia dan temannya itu mampu menjual mebel bambu hingga 300 unit.

“Penjualannya tidak bisa ditentukan, terkadang barang habis terjual dalam satu bulan, terkadang bisa sampai dua bulan. Kalau musim panen padi, 300 unit bisa habis dalam waktu setengah bulan,” ungkap Sutris kepada Seputarkudus.com saat ditemui di tempat dia berjualan.

Menurut pria dua anak itu, saat musim panen, masyarakat banyak yang memiliki uang, sehingga penjualannya meningkat. Dia mengatakan tidak hanya menjual mebel bambu di tepi jalan tersebut. Dia juga berjualan keliling menggunakan gerobak. Setiap hari mampu menjual lima hingga sepuluh kursi berukuran panjang, sesuai dengan muatan gerobak. “Kalau sedang sepi, sehari hanya laku dua kursi,” terangnya.

Dia menjelaskan, harga satu set kursi dan meja dijual Rp 450 ribu, terdiri dari dua kursi dan satu meja. Kursi panjang buat berebag harganya Rp 150 ribu, kalau kursi untuk tiga orang harganya Rp 300 ribu,” katanya.

Menurutnya, kerajinan mebel bambu yang dia jual bukan miliknya sendiri, melainkan milik bosnya yang juga warga Purwokerto. Dia menuturkan, hampir semua warga di desanya menjual mebel bambu keliling. Mereka berjualan di lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Dari Sabang sampai Merauke pokoknya ada yang menjual produk ini. Mulai dari Palembang, Sumatera, Meranggen, Gorontalo, Banjarmasin, Samarinda, Semarang, Kalimantan, Jepara, Solo hingga Demak juga ada, semuanya tersebar di seluruh Indonesia,” tambahnya.

Irkam, teman Sutris, menerangkan, kerajinan mebel yang dia jual menggunakan bahan bambu wulung. Menurutnya, dibandingkan dengan jenis bambu lain, bambu wulung jauh lebih bagus untuk dibuat kerajinan mebel. 

“Sebenarnya bisa memakai jenis bambu lain, kalau memakai bambu wulung seninya kan terlihat lebih hidup. Meski terkena hujan bambu tidak mudah rusak,” ungkap irkam yang mengaku belum mempunyai istri dan anak.

Dia mengatakan, untuk memperindah bambu agar mengkilap, biasanya dia menggunakan vernis klir sebagai cat bambu. Menurutnya, selain didapatkan dari Purwokerto, bosnya biasanya membeli bambu wulung dari Cilacap, Kebumumen maupun Ciamis. Untuk kerajinan yang dia jual hanya berupa meja dan kursi. Setiap barang habis nantinya akan dikirimi lagi dari Purwokerto.

- advertisement -

Meski Kenakan Sarung, Kepala Disbudpar Tak Takut Kesrimpet Saat Pimpin Apel Hari Jadi Kudus ke-467

0
SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN KUDUS – Seorang pria berpeci berdiri di antara ratusan peserta apel peringatan Hari Jadi Kabupaten Kudus ke-467, di Alun-alun Kudus, Jumat (23/9/2016) pagi. Terik matahari yang menyengat pagi ini, membuat keringatnya bercucuran. Dia mengenakan kemeja putih dipadu jas hitam, serta sarung batik dominan warna hitam.

peringatan hari jadi kudus ke-467
Yuli Kasiyanto menjadi komandan apel Hari Jadi Kudus ke-467. Foto-foto: Imam Arwindra

Dia tak lain Yuli Kasiyanto (58), Kepala Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Kabupaten Kudus, yang bertugas sebagai komandan apel. Meski mengenakan sarung sandal di kakinya, melaksanakan tugasnya tanpa hambatan.

Usai bertugas, kepada Seputarkudus.com, Yuli mengaku sudah terbiasa setiap hari memakai sarung. Sehingga saat menjalankan tugas sebagai
komandan apel, dirinya tak khawatir kesrimpet. “Saya orang Kudus asli, jadi sudah terbiasa
memakai sarung,” tuturnya saat ditemui selepas acara.

Untuk menyiapkan diri menjadi komandan apel, menurutnya hanya
melakukan latihan satu kali. Dia menuturkan, apel peringatan Hari Jadi Kabupaten
Kudus ke-467 ini, peserta diminta mengenakan pakaian khas Kudusan. “Untuk
laki-laki memakai sarung, jas, baju putih dan peci. Sedangkan perempuan
mengenakan kebaya, kain batik dan berkerudung,” terangnya warga Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus.

Pria yang lahir di Kudus pada 15 juli 1958 itu mengungkapkan, sebenarnya
pakaian Kudusan untuk laki-laki tidak memakai peci hitam, melainkan ikat kepala
yang biasanya dikenakan santri Qudsiyyah. Menurutnya, ikat kepala itu akan dikenakan pada kegiatan Kenduri 1000 tumpeng yang
diadakan nanti malam. “Nanti malam kami akan pakai (ikat kepala) di acara
tumpengan,” tutur bapak satu anak tersebut.
Bupati Kudus Musthofa saat memimpin apel
menuturkan, pada peringatan Hari Jadi Kudus ke-467 dirinya ingin mengajak warga
Kudus menjaga keberagaman dan kebersamaan. Menurutnya, Kudus bukan milik para
pejabat, melainkan milik seluruh masyarakat Kudus. “Sunan Kudus telah
mengajarkan kepada kita tentang toleransi,” tuturnya.
Dia juga meminta para tokoh masyarakat dan orang tua untuk
menjadi teladan bagi anak-anaknya. Menurutnya, saat ini terjadi krisis budi
pekerti. Oleh karena itu dia mengajak semua lapisan masyarakat di Kudus untuk
bersama-sama membangun negeri. “Biar nanti mereka (anak-anak) jadi pemimpin yang baik,” jelasnya.

bupati kudus musthofa
Bupati Kudus Musthofa

Msuthofa juga mengatakan, pihaknya telah bekerja keras memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pelayanan tersebut di antaranya, pelayanan kesehatan gratis, dan biaya sekolah gratis hingga SMA. 

“Jika ada yang masih
tidak bisa sekolah karena faktor ekonomi datang saja (pemerintah Kudus), nanti
kami akan berikan. Pemerintah sudah menganggarkan Rp 29 miliar,” tuturnya yang
disambut tepuk tangan peserta yang hadir.

- advertisement -

Meski Tak Enak Badan, Dekan FE UMK Tetap ke Kampus Demi Berfoto Bersama Mahasiswa Baru

0

SEPUTARKUDUS.COM, GONDANGMANIS – Suasana ramai terlihat di stan Kelompok Kajian Kewirausahaan (KKK) Fakultas Ekonomi Universitas Muria Kudus (UMK). Sejumlah mahasiswa baru berpakaian putih hitam terlihat berjalan melewati stan. Seraya tergesa-gesa, tampak seorang pria berkumis menghampiri mahasiswa yang berada di stan KKK. Dia tak lain Mochamad Edris (54), Dekan Fakultas Ekonomi UMK.

dekan fakultas ekonomi umk
Dekan Fakultas Ekonomi UMK Mochamad Edris (tengah) berfoto bersama mahasiswa baru. Foto: Ahmad Rosyidi

Edris begitu dia akrab disapa, kemudian berfoto bersama mahasiswa baru. Usai berfoto, dia berbagi cerita kepada Seputarkudus.com, terkait Masa Pengenalan Mahasiswa Baru (Sapamaba) yang tengah digelar. Dirinya datang ke kampus, memang khusus memenuhi undangan KKK untuk ikut foto bersama mahasiswa baru di stan. 

“Sebenarnya saya sedang tidak enak badan, tapi karena diundang mahasiswa saya usahakan hadir untuk mengapresiasi mereka. Saya berusaha terus mengapresiasi mahasiwa yang berorganisasi agar terus produktif,” tutur Edris.

Menurutnya, organisasi sangat penting bagi mahasiswa. Dia menganjurkan mahasiswa baru untuk berorganisasi, baik ekstra maupun intra kampus. Dia menilai, organisasi bisa menunjang perkembangan mahasiswa. Edris juga menjelaskan kelompok kajian di Fakultas Ekonomi tidak hanya KKK saja, tapi ada Kelompok Kajian Ekonomi Syariah (KKES), Kelompok Kajian Perpajakan yang diberi nama Taxcenter, dan Kelompok Kajian Pasar Modal.

Baca juga: Sanphet Khetnakhon, Mahasiswa Baru UMK Asal Thailand yang Ingin Belajar Islam di Kota Santri

“Mahasiswa belajar dan kuliah saja itu cukup. Mahasiswa kuliah dan berorganisasi itu keharusan. Karena organisasi akan mendukung setelah meraih gelar sarjana di kampus nanti. Kecerdasan intelektual atau ilmu dari kuliah paling 20 persen, yang 80 persen itu dari kecerdasan sepiritual dan emosional yang bisa kita dapat dari organisasi,” tegasnya.

Dekan yang dikenal dekat dengan mahasiswa itu berencana akan mewajibkan mahasiswa semester empat untuk membuat proposal kewirausahaan, sifatnya kelompok. Satu kelompok terdiri dari tiga hingga lima orang. 10 proposal terbaik akan mendapatkan pembinaan dan pinjaman modal untuk merealisasikan proposal kewirausahaan tersebut, dengan modal masing-masing Rp 7,5 juta.

Untuk melaksanakan progam ini, dia berencana menggandeng KKK untuk bekerjasama dengan Fakultas. “Dukungan ini sebagai upaya menjaga budaya Kudus, Gusjigang, yakni prilaku bagus, pinter ngaji dan pinter dagang,” tambahnya.

Di sela-sela kesibukannya mempromosikan KKK, Khusnul Farida (20), Wakil Ketua KKK, mengatakan menyiapkan stan dan foto booth selama sepekan. Semua itu dilakukan untuk menyambut dan memperkenalkan organisasinya kepada mahasiswa baru. 

“Kita sengaja menyiapkan stan dan foto booth, lalu mengundang beberapa dosen termasuk  Pak Dekan juga, agar mahasiswa baru tertarik datang dan foto bareng dosen-dosen. Harapannya sih mereka kemudian gabung KKK, karena kami didukung dosen-dosen,” ungkap mahasiswa dari Rembang itu.

Farida, sapaan akrabnya, mengungkapkan, mahasiswa baru Fakultas Ekonomi tahun ajaran 2016 ini sebanyak 804, Progdi Manajemen 497, dan Progdi akuntansi 306. Sedangskan total mahasiswa baru UMK sebanyak 2055 orang. 

“Dari sekian banyak mahasiswa baru di Fakultas Ekonomi, saya berharap akan lebih banyak yang ikut organisasi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Di sini (KKK) kami berusaha mengajak dan mendorong mahasiswa untuk belajar berwirausaha, agar setelah lulus nanti bisa membuka lapangan kerja. saat ini yang aktif di KKK paling sekitar 20 orang, anggota pasif dan alumni ya lumayan banyak,” tambahnya.

- advertisement -

Sanphet Khetnakhon, Mahasiswa Baru UMK Asal Thailand yang Ingin Belajar Islam di Kota Santri

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Di depan aula Masjid Darul Ilmi Universitas Muria Kudus (UMK), terlihat seorang pria mengenakan pakaian putih hitam, duduk dan berbincang dengan perempuan berjas almamater UMK. Tampak sejumlah mahasiswa yang datang ke aula masjid terdiam dan duduk dikursi sembari mendengarkan perbincangan pria dan wanita tersebut yang menggunakan Bahasa Inggris. 

mahasiswa umk asal thailand
Mahasiswa UMK asal Thailand. Foto: Sutopo Ahmad

Pria tersebut bernama Sanphet Khetnakhon (21), warga asli Thailand yang kuliah di UMK dan sedang mengikuti Masa Penerimaan Mahasiswa Baru (Sapamaba). Perempuan yang tengah berbincang dengan Sanphet, yakni Nurul, mahasiswi UMK yang Jurusan Bahasa Inggris yang mendampinginya.  

Di sela mengikuti kegiatan Sapamaba, Sanphet sudi untuk berbagi cerita kepada Seputarkudus.com, didampingi Nurul yang menjadi penerjemah. Dia mengungkapkan, dirinya kuliah di UMK karena saran dari sebuah yayasan Islam di Thailand yang memberikannya beasiswa hingga sarjana.

“Awalnya saya mendapatkan beasiswa kuliah di Indonesia, saya datang ke yayasan Islam di Thailand, untuk konsultasi terkait tempat saya kuliah di Indonesia. Yayasan menyarankan saya untuk kuliah di UMK. Katanya, Kudus kota santri dan Indonesia mayoritas Muslim,” ujar Sanphet yang memilih Jurusan Bahasa Inggris di Fakultas Pendidikan dan Ilmu Keguruan.

Karena saran tersebut, dia memutuskan kuliah di UMK sekaligus memperdalam Islam di Kudus. Dia memantapkan diri untuk tinggal dan belajar di Kudus, meski dirinya tak menguasai Bahasa Indonesia, apalagi Bahasa Jawa.

Sanphet mengaku sama sekali belum pernah datang ke Indonesia dan tak memiliki kerabat atau saudara di negeri mayoritas Islam ini. Dirinya sudah lima hari di Kudus, dan tinggal di perumahan Muria Indah. “Saya tinggal bersama Pak Edi, salah satu staf UMK,” terangnya.

Menurutnya, untuk bisa berbahasa Indonesia, dia mengaku sering mengamati orang berbicara. Saat berkomunikasi, dirinya menggunakan Bahasa Inggris. Jika lawan bicaranya tak mengerti, dia menggunakan bahasa tubuh. 

“Tidak ada yang mengajari saya Bahasa Indonesia. Bisanya saya mengamati orang berbicara, sambil berfikir kira-kira apa yang sedang dibicarakan,” imbuhnya.

Meski demikian, dia mengaku betah tinggal di Kudus. Menurutnya, Kudus kota kecil namun masyarakatnya ramah. Untuk masakan, dia mangaku sangat suka dengan masakan Indonesia dibanding Thailand. “Masakan Thailand rasanya terlalu pedas, kalau Indonesia tidak begitu pedas dan saya sangat suka dengan masakan soto kerbau,” ungkapnya.

Sanphet menambahkan, dirinya mendapatkan beasiswa selama empat tahun, dan dia akan bertanggung jawab dengan pemberi beasiswanya. Dia mengaku akan pulang saat mendapatkan gelar sarjana. 

“Saya akan pulang setelah memperoleh gelar sarjana. Saya tidak punya ongkos ke Thailand, jadi saya pulang setelah empat tahun belajar di sini,” tambahnya. 

- advertisement -

Arif Sering Ajak Kedua Anaknya ke E-Book-E, Toko yang Khusus Menjual Buku-Buku Bekas

0
SEPUTARKUDUS.COM, MLATI KIDUL – Dua orang anak laki-laki dan perempuan tampak memilah-milah buku yang ditata dalam rak toko di Jalan Patimura, Kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus. Mereka
juga memilah beberapa tumpukan buku yang diletakkan di atas lantai. Toko tersebut menyediakan buku-buku bekas, terlihat dari koleksinya yang tak bersegel dengan kertas yang telah menguning.

toko buku bekas di kudus
Arif, bersama kedua anaknya mencari buku cerita bergambar di toko buku bekas di Kudus. Foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com, Arif Muhammad Nasir, ayah kedua anak tersebut, mengatakan, dirinya sering mengajak kedua anaknya datang ke toko E-Book-E, yang khusus menyediakan buku-buku bekas di Kudus. Biasanya, dia mencari buku cerita
bergambar. Menurutnya, walau menyediakan buku bekas, pilihan jenis buku pada toko
tersebut dinilai cukup lengkap. 

“Semua jenis buku kelihatannya ada. Saya sering ke sini mengajak kedua anak saya. Saya ingin mereka hobi membaca sejak kecil,”
ujar Arif saat bertemui di toko buku E-Book-E Kudus belum lama ini.

Arif yang datang bersama anaknya, Fahri (6) dan Nisa Tara (8), menuturkan, membiasakan anak untuk membaca sejak dini sangat penting. Menurutnya,
dengan terbiasa membaca buku sejak dini akan membantu perkembangan keduanya. 

“Kalau
di sini (E-Book-E) selain lengkap, harganya tentu lebih murah karena buku bekas. Buku bekas tidak apa-apa, yang paling penting kan isinya,” tutur pengajar di SMK Bhakti Kudus.

Karyawan E-Book-E, Krisdrajat menuturkan, toko buku tempat dirinya bekerja menyediakan puluhan ribu buku bekas. Buku-buku tersebut di antaranya tentang novel, komik, kesehatan,
komputer, motivasi, majalah anak, ensiklopedia, sejarah, agama, dan lain sebagainya. 

“Buku atau
majalah kuno sebelum tahun 1960 juga banyak. Biasanya yang cari kolektor atau orang-orang
tertentu saja,” tuturnya.

Jual buku, majalah, dan kora langka 

Dia menjelaskan, harga buku yang dijual lebih murah
dari pada buku baru. Menurutnya, jika di toko-toko buku umumnya menjual buku sekitar Rp 40
ribu, dirinya paling hanya menjual dengan harga Rp 10 ribu. Namun khusus buku-buku
keluaran lama dan langka biasanya tidak dijual. Kalaupun dijual harganya dibanderol mahal. 


“Pernah kami punya koran cetakan dua tahun setelah Indonesia merdeka (tahun
1947). Jumlahnya ada enam lembar. Kertasnya sudah berwarna kuning dengan tata
bahasa ejaan lama. Ketika saya tanya mas Erik (pemilik toko buku E-Book-E)
dijual dengan harga kalau tidak salah Rp 100 ribu, eh langsung dibeli,”
ceritanya sambil duduk di teras toko.
Menurutnya, untuk buku-buku cetakan lama dan langka dia
tidak langsung mengiyakan untuk menjual. Karena pemilik toko buku juga seorang kolektor buku langka. Dia menuturkan, untuk buku-buku langka dia taruh
pada rak bagian atas. Selebihnya, dia boleh langsung menjual.

Krisdrajat menuturkan, toko buku E-Book-E buka hanya pada hari Sabtu dan Minggu. Menurutnya, yang datang ke toko dirinya bekerja dari semua kalangan. Mereka ada yang sekadar membaca atau hanya mencari refrensi literatur
saja. 

“Biasanya juga ada ibu-ibu yang mencari novel keluaran saat dia masih
muda. Belinya langsung 10 seri. Katanya sih untuk mengenang masa mudanya,”
terangnya.  

- advertisement -

Toko Sepeda di Jepang Wetan Ini Hanya Menyisakan 5 Sepeda BMX Karena Laris Dibeli Pengunjung

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG – Sebelah barat tepi Jalan Budi Utomo, Desa Jepang Wetan, Kecamatan Mejobo, Kudus, tampak papan tulis Toko Sepeda Suka Maju. Sejumlah sepeda tertata rapi di toko beratap seng itu. Tak lama, keluar seorang perempuan. dia Sukamah (43), pemilik toko sepeda. Menurutnya, saat ini sepeda BMX sedang menjadi tren dan banyak yang mencari.

sepeda bmx
Seorang anak mencoba sepeda BMX di Toko Sepeda Suka Maju, Desa Jepang. Foto: Ahmad Rosyidi

Dia mengatakan, dirinya banyak menyetok sepeda anak-anak karena harganya lebih murah. Untuk sepeda jenis BMX hanya ada sekitar lima sepeda di tokonya, yang lain sudah laku. Dia juga merinci, harga sepeda anak-anak sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Sedangkan BMX berkisar antara Rp 450 ribu hingga Rp 500 ribu.

“Ada yang lebih mahal dari itu, mereknya Melano. Jenis sepeda BMX yang harganya Rp 1,5 juta,” ujar Sukamah kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.

Sukamah mengaku mengincar pelanggan menengah ke bawah. Dia lebih memilih menyediakan sepeda dengan harga yang terjangkau, sepeda seken juga ada. “Yang paling banyak dicari di sini jenis BMX. Saya lebih banyak menyediakan sepeda anak-anak karena harganya lebih murah. Sepeda anak-anak yang roda tiga juga cukup bagus peminatnya,” ungkapnya.

Sukamah mengaku awalnya menjual sendiri sepeda di toko. Tetapi sejak suaminya di-PHK, sekarang sering dibantu suaminya. “Sudah 4 tahun saya berjualan sepeda. Dulunya jualan sendiri, tapi setelah suami saya terkena PHK belum lama ini, jadi sekarang sering dibantu suami,” jelas pemilik Toko Sepeda Suka Maju itu.

Tak lama kemudian, datang dua orang perempuan dan satu anak dengan mengendarai sepeda motor. Sumiati (35), yang saat itu mengantarkan putranya, Surya (3). Dia akan membeli sepeda, untuk putranya karena sepeda yang sebelumnya sedah rusak.

Sumiati juga mengaku baru pertama kali membeli di Toko Sepeda Suka Maju, dia mau membeli sepeda seken yang harganya lebih terjangkau. “Saya baru pertama kali beli ke sini. Ini mau lihat-lihat sepeda seken yang harganya lebih terjangkau. Kasian lihat anak saya, teman-temannya punya sepeda semua, jadi ini saya belikan lagi,” tuturnya.

- advertisement -

Produk Bordir Desa Padurenan Laku Dijual Mahal, Dijual Murah Justru Tak Dilirik Pembeli

0

SEPUTARKUDUS.COM, PADURENAN – Di sepanjang jalan Desa Padurenan, Kecamatan Gebog, terdapat puluhan perajin bordir dan konveksi. Tidak jauh dari kantor pemerintahan desa, terdapat bangunan besar berlantai dua tertulis Koperasi Serba Usaha (KSU) Padurenan Jaya. Koperasi yang diresmikan 5 Agustus 2009 itu menjadi wadah pengusaha bordir dan konfeksi di desa setempat.

Izan An Imi (28), karyawan KSU Padurenan, menjelaskan, selain melayani simpan pinjam bagi anggota, KSU juga memberikan pelatihan bagi masyarakat desa yang mau berwirausaha. Selain itu, KSU juga ikut serta membantu memasarkan produk yang dihasilkan anggotanya. 

“Kami juga membantu memasarkan produk para anggota, untuk pemasaran konveksi alhamdulilah tidak ada kendala, sekarang yang menjadi fokus kami adalah bordir. Bordir barang mahal, jadi pasarnya harus tepat dan jelas,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.

Sembari memegang sarung Bali berwarna hitam yang sudah selesai dia bordir, Izan, begitu dia akrab disapa, mengatakan, untuk memasarkan produk bordir, pihaknya memanfaatkan media online dan mengikuti sejumlah pameran. Menurutnya, ketika mengikuti pameran, produk bordir kebaya yang dijual murah justru tidak ada yang mau membeli. Sedangkan saat dibanderol harga tinggi justru banyak peminat.

“Pernah ketika pameran, kebaya saya jual murah tidak ada yang mau membeli. Saya jual dengan harga Rp 1,5 juta justru para pengunjung banyak yang membeli. Kelihatannya masyarakat lebih suka barang yang mahal, mungkin kerena penasaran dengan produk yang dihasilkan,” ungkap Izan.

Menurutnya, sekarang KSU Padurenan Jaya memiliki 137 anggota, baik dari perajin konfeksi maupun bordir. Para anggota diharuskan membanyar administrasi berupa simpanan pokok sebesar Rp 500 ribu dan simpanan wajib Rp 10 ribu tiap bulan. 

Dia merinci, sekarang anggota KSU Padurenan Jaya telah memiliki 16 unit mesin bordir komputer, tiga di antaranya milik KSU. Sedangkan selebihnya hibah dari pemerintah Kabupaten Kudus dan Provinsi Jawa Tengah.

Dia menambahkan, KSU Padurenan Jaya didirikan karena melihat banyak warga Desa Padurenan yang banyak memiliki usaha konfeksi dan bordir. Pemerintah desa berinisianif untuk membuatkan wadah bagi para usaha. Dari situ, muncul ide untuk membuat koperasi di desa, yang tujuannya sebagai wadah para pengusaha. 

“Baik dari usaha konfeksi maupun bordir semuanya bersaing. Kalau tidak dibuatkan wadah, takutnya banyak perselisihan antar pengusaha. Adanya koperasi di desa, nantinya akan menjadi jembatan dari adanya perselisihan itu,” tambahnya.

- advertisement -

Wah Senangnya Anak-Anak Omah Dongeng Marwah Terima Hadiah dari Pebalap F1 Rio Haryanto

0
SEPUTARKUDUS.COM, PURWOREJO – Kotak kardus berwana coklat
tertuliskan ‘Kiki’ di bagian atas. Pada sisi depan kardus terdapat kertas putih tertulis pengirim dan tujuan alamat yang dituju. “Dari Rio
Haryanto
PT Solo Murni (Kiki). Kepada Yth: Bpk. Edi Supratno Omah Dongeng
Marwah Jl.  Ngasian No. 09 Plumbungan,
Purworejo, Bae, Kudus,” tilisan di kertas tersebut. 

surat dari rio haryanto F1
Anak-anak Omah Dongeng Marwah melihatkan kiriman bingkisan dari Rio Haryanto. Foto-foto: Imam Arwindra

Menurut Pendamping Komunitas Omah Dongeng Marwah Arif Rohman
(24), kardus tersebut dikirim Rio Haryanto, pembalap Formula 1 Manor Racing Team. Dia menjelaskan, kardus
tersebut berisi buku tulis, buku gambar dan poster-poster yang bergambar Rio
Haryanto yang dibubuhi tanda tangan asli. 

“Kardusnya berisi 24 pak buku
tulis, lima pak buku gambar dan beberapa poster Rio Haryanto yang bertanda
tangan asli,” ungkapnya kepada Seputarkudus.cm belum lama ini.

Arif menjelaskan paketan tersebut dikirim dari Solo
tertanggal 9 September 2016. Sampai ke Omah Dongen Marwah pada 13 September
dan dibuka bersama sehari kemudian. Pada Kamis, 15 September, anak didik Omah
Dongeng Marwah berkumpul untuk menuliskan surat balasan terima kasih kepada Rio
Haryanto. 

Anak-anak Omah Dongeng Marwah menulis ucapan terima kasih keapda Rio Haryanto

“Kami membuatkan surat ucapan terima kasih, puisi, gambar dan video
untuk dikirimkan ke Rio,” tambahnya.

Kepada Seputarkudus.com dia menceritakan, Rio Haryanto mengirim bingkisan kepada Omah Dongeng Marwah setelah acara Doa Untuk Rio saat yang dinyatakan menjadi pembalap Formula 1.
Dia bergabung dengan Tim Manor Racing dalam ajang balap jet darat tersebut. 

“Saat itu kami membuatkan surat, puisi, gambar, dukungan tanda tangan
di banner dan melink-kan pemberitaan kegiatan kami ke Rio. Eh, malah dapat
hadiah bingkisan buku,” tuturnya.

Menurutnya, saat ini Rio Haryanto perlu dukungan karena
posisinya di ajang Formula 1 tersisih dan hanya menjadi pembalap cadangan. Arif mengungkapkan, Komunitas Omah Dongeng Marwah membuat surat balasan sebagai ucapan terima kasih serta
dukungan agar selalu terus berusaha dan berjuang. 

“Ini kami sudah membuat surat,
puisi dan gambar untuk Rio Haryanto. Yang membuat anak-anak sendiri. Isinya
tentang ucapan terima kasih dan harapan agar Rio selalu berjuang,” terangnya.

Ervina Dwi, Satu di antara anak didik Omah Dongeng
Marwah, menulis terima kasih dan suka cita atas kiriman
buku tersebut. Dia berdoa agar Rio Haryanto kembali ke ajang Formula 1 dan mendapat juara. 
“Hai kak Rio, terima kasih atas kirimannya. Kemarin kita suka banget.
Doaku untuk kakak adalah kakak bisa kembali ke F1 dan mendapatkan juara. Amin.
Ini doanya vina Omah Dongeng Marwah,” tulis Ervina Dwi yang juga diberi
gambar tiga simbol hati dan satu bintang.
Di antara mereka juga membuat gambar mobil Formula 1 nomor 88 sedang melaju. Tertulis doa kepada Rio Haryanto bisa menjadi pemain utama
Formula 1 dan membawa piala emas. 

“Halo kak Rio. Semoga kakak bisa menjadi
pemain utama F1 dan membawa piala emas ke Indonesia,” tulisnya yang diserta
gambar mobil formula 1 dan piala.

- advertisement -

Tradisi Wiwit Kopi di Pegunungan Muria, Ungkapan Syukur Petani Kopi Colo Meski Tahun Ini Hasilnya Menurun

0
SEPUTARKUDUS.COM, COLO – Puluhan orang membawa basi yang dibungkus kain menuju lokasi acara Wiwit Kopi di Omah Alas Kuncen Desa
Colo, Kecamatan Dawe, Kudus. Mereka menyusuri jalan setapak yang
kanan kirinya terdapat pohon kopi dengan buah tampak sudah memerah. Acara itu digelar sebagai tradisi menjelang
panen kopi di Pegunungan Muria.

tradisi wiwit kopi pegunungan muria
Sejumlah anak menari di panggung utama acara Wiwit Kopi di Pegunungan Muria. Foto-foto: Imam Arwindra

Sambil menunggu acara dimulai, masyarakat yang
sebagian besar warga Desa Colo sendiri terlihat bersalaman kepada siapa saja yang
datang ke lokasi acara. Menurut warga Desa Colo, Hadi Sukirno
(64), tradisi tersebut sudah lama
ada, dan diselenggarakan turun temurun. 

“Mungkin (tradisi wiwit kopi) sudah ada sejak zaman Belanda. Kegiatan ini sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki yang untuk keluarga
yang diberikan dari Allah,” tuturnya saat kegiatan berlangsung pada Senin (19/6/2016).

Hadi yang juga petani kopi di Pegunungan Muria itu menjelaskan, tradisi Wiwit Kopi dilakukan
satu tahun sekali pada Agustus atau September, saat petani akan melakukan
panen kopi. Menurut dia, doa bersama digelar para petani kemudian menyantap makanan yang ada dalam basi yang dibawa. 

doa bersama wiwit kopi
Warga melakukan doa bersama pada acara Wiwit Kopi.

“Basi yang dibawa warga isinya nasi
berserta lauk pauk. Ada opor juga dan juga jajanan pasar. Jadi nanti setelah
doa, nasi tersebut dinikmati bersama,” terangnya.

Kepada Seputarkudus.com Hadi menuturkan, kopi yang siap panen yakni kopi yang bijinya sudah berwarna merah. Biji kopi yang dipanen di Pegunungan Muria berjenis robusta. Menurutnya, hasil panen kopi tahun 2016 ini diperkirakan menurun dari tahun sebelumnya. Hal tersebut dikarenakan musim kemarau yang panjang membuat bunga pada pohon kopi rontok. 

“Namun tetap kami syukuri. Banyak atau sedikit hasil yang didapat masih tetap bisa panen. Semoga tahun depan hasil panennya meningkat,” ungkapnya.

Sementara itu, sejumlah anak mengenakan kain batik dan membawa bakul kecil di tangannya naik ke atas panggungg utama dalam pembukaan Wiwit Kopi. Mereka melakukan gerakan tari yang menggambarkan petani yang tengah memanen kopi. Hadir dalam acara tersebut, Bupati Kudus Musthofa bersama sejumlah pejabat Pemkab Kudus. 

Musthofa berpesan agar lingkungan hutan Muria dijaga bersama dengan baik. Selain itu dia juga agar Paguyuban Masyarakaat Pelindung Hutan (PMPH) Pegunungan Muria yang selama ini menjaga hutan di Pegunungan Muria diberi legalitas. 

“Kami ingin komunitas pecinta lingkungan PMPH ini ada legalitasnya. Agar visi, tugas dan tanggung jawabnya jelas,” terangnya.

- advertisement -

Mbah Engkrak, Perajin Sangkar Burung Desa Megawon yang Meraut Bambu Selama 42 Tahun

0

SEPUTARKUDUS.COM, MEGAWON – Seorang lelaki tua bertelanjang dada, terlihat sedang memegang rautan bambu. Di halaman rumah dan ruang tamu miliknya, terdapat puluhan sangkar burung yang tertata rapi. Kakek tersebut bernama Wakiran (68), pembuat sangkar burung di Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kudus. Dia telah membuat kerajinan sangkar burung selama 42 tahun, sejak1974. 

sangkar burung desa megawon kudus
Wakiran menunjukkan kerajinan sangkar burung di Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari membuat pola sangkar burung dengan kertas karton, Engkrak, begitu akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com. Dia mengatakan, dirinya dulu belajar dari saudara iparnya, sebelum bisa membuat sangkar burung sendiri. Menurutnya, dalam memasarkan produk, dia hanya menunggu pembeli datang. Saat sepi pembeli, anaknya berkeliling ke luar kota menggunakan pikap untuk memasarkan prduknya.

Untuk membuat sangkar burung dirinya mengaku menggunakan bahan kayu limbah. Bahan tersebut dia dapatkan dari toko mebel di Jepara. Menurutnya, kayu yang digunakan jenis kayu jati. “Biasanya ada empat pikap yang menjual keliling, satu kwintal seharga Rp 100 ribu,” ungkap Engkrak waktu ditemui di kediamannya, Desa Megawon, RT 02 RW 01 Kecamatan Jati, Kudus.

Kini, katanya, dalam sehari dia bersama empat karyawannya mampu membuat 20 sangkar burung. Saat ramai pembeli, dia mengaku bisa menjual 330 hingga 450 sangkar burung per bulan. Harga sangkar burung miliknya dijual dengan harga berbeda-beda, tergantung ukuran dan bentuknya.

“Sangkar burung ini saya jual antara Rp 60 ribu hingga Rp 140 ribu per set. Satu set berisi tiga sangkar burung yang berbeda-beda ukuran. Kalau yang saya buat berukuran 40, 35 dan 30 sentimeter, biasanya selisih lima sentimeter agar yang berukuran kecil dapat di masukkan kedalam sangkar burung yang besar,” tambahnya.

Saat ini, katanya, penjualan sangkar burung saat ini sepi pembeli karena banyak pesaing. Warga di kampungnya saat ini banyak yang terjun di usaha pembuatan sangkar. Dia mengaku generasi ketiga pembuat kerajinan sangkar burung di Desa Megawon.

“Sekarang sudah banyak di Desa Megawon yang bisa membuat kerajinan sangkar burung sendiri. Jadi sekarang banyak pesaing, tidak seperti dulu yang hanya beberapa warga yang memproduksi sangkar,” 

Engkrak, mengungkapkan, sebelum mendirikan usaha sangkar burung, dia dulu membuat batu bata dan genteng. Menurutnya, usaha yang dia geluti itu tidak berjalan baik. 

“Dari awal saya memang sudah semangat bekerja. Sebelum membuat sangkar burung, saya dulu pernah usaha produksi batu bata, genteng. Saya juga pernah bekerja di Sumatera, namun semuanya gagal,” ungkapnya.

- advertisement -

Takut Pemain Kesurupan, Teater Gerak 11 Ubah Skrip Mantra Naskah ‘Roh’ Menjadi Kalimat Salam

0
SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Aroma kemenyan tercium di ruang Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK). Tampak seorang laki-laki mengenakan
ikat kepala hitam duduk bersila sambil membacakan sebuah mantra. Di depannya
terdapat kelapa hijau, kembang tujuh rupa, dupa serta lonceng yang dibunyikan
dengan tangannya. Mantra tersebut berulangkali diucapkan saat pentas produksi naskah ‘Roh’ yang dipertunjukkan Teater Gerak 11 PMII Kabupaten Kudus, Jumat (16/9/2016).

pentas Teater Gerak 11 PC PMII Kudus
Satu adegan dalam pentas Teater Gerak 11 PC PMII Kudus berjudul ‘Roh’. Foto: Imam Arwindra

Malaikum, malaikum, malaikum salam, malaikum ya salam,
assalamualaikum
. Mendaratlah wahai roh-roh sejagar, merapatlah roh nenek moyang
yang terkatung di awan,” ucap lelaki berikat kepala hitam mengucap mantra. 
Alim Rois, sutradara pentas naskah ‘Roh’ menuturkan, mantra
yang digunakan untuk memanggil roh menurutnya sudah dirubah dari naskah
aslinya. Menurutnya, naskah asli karya Wisran Hadi menggunakan mantra yang
memang dipergunakan dukun. Dia tidak ingin roh-roh atau mahluk gaib datang dan
menimbulkan hal yang tidak diinginkan. “Hong wilahong, wilahong,”
ungkapnya dalam menyebutkan awalan mantra naskah asli.
Dia menjelaskan, untuk menghindari hal buruk yang mungkin terjadi,
mantra tersebut dirubah dengan kalimat salam, assalamualaikum. Menurutnya,
kalimat tersebut mempunyai arti mendoakan supaya selamat. 

“Supaya para
pemain dan penonton tidak ada yang kesurupan, akhirnya mantranya mengambil
kalimat assalamualaikum. Jadi mendoakan supaya kita semua selalu diberikan
keselamatan dalam beraktivitas. Terutama saat kegiatan ini sedang berlanjut,”
ungkapnya.

Menurut cerita yang dia ketahui, Teater Gerak 11 pernah melakukan
pementasan yang ada hubungannya dengan roh. Alhasil ada penonton yang kerasukan.
Alim juga menuturkan, saat latihan naskah ‘Roh’ juga ada pemain yang sempat
kesurupan. 

Menurutnya, mungkin saat itu fikirannya sedang kosong. “Memang
pentas produksi ini penuh dengan suasana mistik. Namun dari kami banyak
menyelipkan guyonan supaya lebih santai dan tidak tegang,” tambah dia yang
sudah lulus dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus.

Pentas yang dimainkan delapan orang tersebut naskah aslinya
menggunakan bahasa melayu. Alim menuturkan, naskah ‘Roh’ berasal dari Sumatra.
Naskah tersebut mengandung pesan moral agar bangga terhadap jati diri bangsanya
sendiri dari pada sesuatu hal dari luar. Menurutnya, banyak orang Indonesia yang
kurang bangga akan kultur, ras dan kebudayaannya sendiri. Mereka lebih bangga
akan budaya luar Indonesia. 

“Ini memang tentang nasionalisme. Seperti contoh
saja, disini (Kudus) banyak orang Jawa. Tapi mereka tidak jawani,” jelas dia yang mengadakan pentas bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kegurusan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMK.

Kepada Seputarkudus.com Alim menuturkan, alur ceritanya
dimulai dari seorang Ibu Suri yang mencari Suri. Ibu Suri datang ke dukun untuk
meminta tolong mendatangkan roh-roh demi menanyakan tentang Suri yang dianggap
hilang. 

Menurut Alim, Suri yakni tokoh abstrak. Dia tidak berwujud. Suri yakni keyakinan
dan jati diri Ibu Suri sendiri. Dia mulai tergoyah karena terpengaruh keyakinan
dari luar. “Intinya tentang sebuah keyakinan jati diri. Kalau muslim yang tidak
usah mengkafirkan orang. Karena semua punya keyakinan dan jati diri
masing-masing,” tambahnya.

- advertisement -