Beranda blog Halaman 1942

Mirip Makanan Cepat Saji, Laundry di Depan Kampus UMK Ini Beri Layanan Pesan Antar

0

SEPUTARKUDUS.COM, GONDANGMANIS – Di satu ruko depan Kampus Universitas Muria Kudus (UMK), terlihat seorang perempuan sedang menulis di meja kasir. Noor Indah Winarti (37), nama perempuan tersebut. Dia tak lain pelmilik Muria Laundry, yang membuka jasa cuci pakaian di ruko tersebut. Untuk menarik pelanggan yang kebanyakan mahasiswa, dia memberikan layanan delivery order (pesan antar) secara gratis.

Muria Laundry
Winarti sedang menulis nota untuk pelanggannya di Muria Laundry. Foto: Ahmad Rosyidi

Winarti, mengaku mengantar sendiri pakaian hasil laundry ke kos-kos di sekitar UMK. “Kami memberikan layanan delivery gratis untuk pelanggan di sekitar kampus UMK. Karena dekat jadi tidak dipungut biaya. Kebanyakan pelanggan saya mahasiswi yang kos di sekitar kampus, dan mereka lebih senang kalau saya antarkan cuciannya,” tuturnya kepada Seputarkudus.com.

Sebenarnya, kata Winarti, dia hanya mengantar cucian di sekitar kampus. Namun, karena ada tetangganya di Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, yang menjadi pelanggan, dia bersedia mengantar cucian ke rumahnya. Jaraknya dekat dengan rumah Winarti, dia mengantar cucian sekalian pulang. Sejauh ini Winarti belum pernah mengantar kelokasi yang jauh dari Muria Laundry. 

“Tapi, misal ada yang ingin diantar atau dijemput yang jaraknya jauh juga bisa, tapi nanti kena tambahan biaya sesuai jarak,” ungkapnya.

Winarti yang baru empat bulan membuka usaha jasa pencucian pakaian itu merinci harga jasa yang diberikan kepada pelanggannya. Untuk biaya jasa cuci komplit dibanderol Rp 4 ribu per kilogram. Sedangkan cuci kering Rp 3.500, cuci peras Rp 3.500, dan setrika Rp 3 ribu. 

“Selain pakaian saya juga menerima cuci sprei, tarifnya Rp 5 ribu. Sedangkan selimut kecil Rp 5 ribu, selimut besar Rp 10 ribu, boneka kecil Rp 10 ribu, boneka besar Rp 25 ribu. Selain itu, bed cover kecil saya berikan tarif Rp 20 ribu, bed cover tanggung Rp 30 ribu, bed cover besar Rp 40 ribu, dan sepatu Rp 5 ribu,” jelasnya.

Untuk hasil akhir cucian, katanya, Muria laundry menyediakan enam jenis parfum. Menurutnya, pelanggan yang datang kebanyakan lebih sering minta parfum Lili, Stargan, Luxury, dan Jasmin. Parfum yang diberikan kualitas KW satu. 

“Sejauh ini belum pernah ada pelanggan yang komplain terhadap parfumnya. Meski menggunakan parfum KW satu yang harganya sedikit lebih mahal, saya tak masalah, karena yang terpenting menjaga kepuasan konsumennya,” tuturnya.

Winarti mengungkapkan, sejauh ini penghasilannya belum sesuai target. Namun dia tetap optimistis ke depan pelanggannya akan terus bertambah. 

- advertisement -

Jangan Lupa di Car Free Day Minggu Besok Ada Kopi Gratis untuk Memperingati Hari Kopi Internasional

0
SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Jalan di Kudus ini diberlakukan satu arah, dari Demak menuju Alun-alun
Simpang Tujuh Kudus. Jalur tersebut terbagi menjadi dua lajur, untuk mobil dan motor. Jalan tersebut yakni Jalan Dokter Ramelan, yang saat Car Free Day Minggu (2/10/2016) pagi besok digunakan untuk kegiatan ngopi
gratis bertajuk Semarak Kopi Kudus. Acara itu diselenggarakan untuk memperingati Hari Kopi Internasional.

secangkir kopi kapucino
Ilustrasi Hari Kopi Internasional di Kudus tahun 2016. Foto: Imam Arwindra

Menurut Panitia kegiatan Hazmi Amudy (25), kegiatan ngopi
gratis tersebut  meruapakan dedikasi para
pengusa kopi di Kudus untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terhadap kopi. Dalam acara besok, semua barista di Kudus akan berkumpul membuatkan
kopi untuk masyarakat yang hadir di Car Free Day. 

“Kami mengundang masyarakat Kudus untuk menikmati
kopi gratis pada Hari Kopi Internasional. Acara ini juga diselenggarakan untuk memperingati Hari Jadi Kabupaten Kudus ke-467,” tuturnya saat ditemui di kedai kopi miliknya, Jalan Menur, Desa
Kramat, Kecamatan Kota Kudus, Kamis (29/9/2016).

Hazmi Amudi menuturkan, ada 20 hingga 30 barista yang
turun ke jalan menyeduh kopi bersama masyarakat. Acara yang akan digelar ini tak sekadar minum kopi, tapi juga memberikan pengenalan terhadap semua hal tentang kopi. “Nanti juga ada edukasi tentang bagaimana dari proses memilih biji sampai
cara menyeduh kopi yang baik,” jelasnya.

Hazmi yang mempunyai kedai kopi bernama Big Tree, menambahkan, kegiatan ini sebagai bentuk bakti para pebisnis kopi kepada masyarakat di Kudus. “Masyarakat juga bisa langsung melihat penyeduhan kopi
dengan bermacam-macam alat seduh” tambahnya.

Sementara itu, Doni Dolle pemilik Kopithong Coffee Workshop juga mengaku akan berpartisipasi
dalam Semarak Kopi Kudus itu. Dia menjelaskan, acara akan dimulai pukul 06.00 WIB.
Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya diselenggarakan pada Minggu,
melainkan juga pada Sabtu (1/10/2016). 

“Hari
Kopi International sebenarnya jatuh pada tanggal 1 Oktober 2016. Karena ini masih dalam suasana Hari Jadi Kudus, jadi kami kami selenggarakan bersama dalam satu rangkaian. Untuk Sabtu semui kedai di Kudus akan memberikan diskon,”
tuturnya.

Besaran diskon yang diberikan kepada pengunjng, kata Doni, ditentukan pemilik kedai, jadi angkanya berbeda-beda. Di kedai miliknya, Kopithong, Doni akan memberikan diskon 30 persen untuk
semua menu yang disediakan. “Ya itung-itung supaya cepat habis,” ungkapnya
sambil tertawa.

Menurutnya, pelaksanaan Semarak Kopi Kudus dilakukan dua komunitas kopi, yakni Kudus Coffee Enthusias (KCE) dan Lobby Coffee. Dia menuturkan, dua komunitas tersebut hanya lintas generasi saja. “Lobby Coffee itu satu generasi saya, yang lebih dulu berarti tua-tua. Untuk KCE generasinya Hazmi yang muda-muda,” jelas pria berambut panjang tersebut.

- advertisement -

Tak Ingin Banjir Dua Tahun Lalu Terulang, Siswa di Kudus Rela Ceburkan Diri ke Sungai Gelis

0
SEPUTARKUDUS.COM, KALIGELIS – Sejumlah siswa mengenakan celana coklat terlihat memunguti sampah di Sungai Gelis, Jumat (30/9/2016). Mereka menggunakan bambu untuk  mengurai
sampah yang menumpuk, setelah itu diambil dan diangkut ke dalam truk. Mereka bersama-sama anggota TNI dan Polri melakukan hal tersebut karena tak ingin banjir yang terjadi dua tahun lalu terulang.

Sejumlah siswa di Kudus membersihkan Sungai Gelis. Foto: Imam Arwindra

Vendi Alfi Prayudia (15) siswa SMK Wisuda Karya yang ikut
membersihkan Sungai Gelis menuturkan, bersama teman-temannya rela kotor dan
mencebutkan diri ke sungai karena tidak ingin terjadi banjir di daerah sekitar sungai. Menurutnya, sampah-sampah yang tersangkut di aliran sungai dapat menyebabkan banjir seperti yang pernah terjadi di Kudus. 

“Jangan sampai
sungai kaligelis meluap dan membanjiri pemukiman warga,” tutut Vendi saat melakukan pembersihan Sungai Gelis, yang juga untuk memperingati Hari Jadi Kudus ke-467 dan Karya Bakti TNI.

Siswa kelas XI Jurusan Teknik Mesin itu mengungkapkan, sampah menjadi masalah terbesar penyebab aliran sungai meluap. Menurutnya,
dengan mengambil sampah yang mengendap akan membuat aliran air sungai lancar. “Jika air mengalir lancar kemungkinan tidak akan banjir,” terang dia
yang beralamat di Desa Undaan Tengah.
Sekretaris Daerah Noor Yasin yang hadir dalam kegiatan menuturkan,
bersih-bersih Sungai Gelis diikuti masyarkat Kudus, Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD), TNI, Polisi dan pelajar di Kudus. Menurutnya, kerja bakti
dilakukan di titik-titik sepanjang aliran sungai. Di antaranya,
Jembatan Panjang, Sucen, Jembatan Sunan Kudus, Ploso, Jati Kulon sampai di
Kencing.  

“Kegiatan ini akan rutin kami selenggarakan dengan melibatkan masyarakat,” jelas Yasin.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga untuk mendorong kesadaran masyarakat agar selalu menjaga lingkungannya. Dia
berharap masyarakat dapat ikut terjun kerja bakti dan tidak hanya
menonton. “Kalau sekarang (kerja bakti) tentu banyak yang kerja,” ungkapnya
dengan senyuman.
- advertisement -

Perajin Pisau Dapur Ini Pernah Keliling Jakarta, Kini Tinggal Menunggu Pesanan Datang dari Banyak Daerah di Jawa

0

SEPUTARKUDUS.COM, HADIPOLO – Di sebuah rumah di Desa Hadipolo RT 9 RW 1, Kecamatan Jekulo, Kudus, seorang pria berkaus terlihat sedang memalu potongan logam. Pria tersebut bernama Suharto (52), perajin pisau dapur berbahan stainless steel merek HS Suharto. Awal memulai usaha, dia menawarkan produk hingga ke Jatinegara, Jakarta Timur. Kini dia tinggal duduk manis menunggu pesanan datang dari sejumlah daerah di Jawa.

jual pisau stainless steel
Suharto sedang memproduksi pisau dapur di Desa Hadipolo, Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari mengerjakan pembuatan pisau dapur pesanan pelanggannya, Harto begitu akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang usahanya. Dia memulai usaha sejak 1985, atau hingga kini sudah sekitar 21 tahun. Pada saat awal membuat pisau, Harto mengaku pergi ke Jatinegara, Jakarta Timur, untuk menawarkan produk pisau dapur hasil buatannya ke sejumlah pedagang yang ada di pasar. 

“Saya masih ingat, dulu pergi ke Jatinegara membawa dua kardus berisikan100 kodi pisau. Alhamdulilah di sana saya menemukan pelanggan tetap sampai sekarang,” terangnya, beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan, selain memiliki pelanggan tetap dari Jakarta, dia juga mempunyai pelanggan dari Sragen. Saat ini dia tinggal menunggu permintaan para pelanggannya. Dia memiliki pelanggan dari Surabaya, Bandung dan Kudus, yang datang ke rumah untuk membeli pisau buatannya. “Pisau dapur yang saya kerjakan terbuat dari stainless steel jenis blades, semacam logam anti karat,” ungkapnya.

Dia menambahkan, bahan stainless biasanya dia beli dari Kudus. Sedangkan gagang pisau dia beli dari Jepara, Pati dan Surabaya. Menurutnya, saat ini di dibantu 25 karyawan. Dalam sehari dia mampu memproduksi pisau dapur sekitar 500 kodi. 

“Semua dilakukan secara manual. Untuk harga saya jual antara Rp 12 ribu hingga Rp 100 ribu. Semua tergantung ukuran pisau yang dikerjakan. Untuk gagang pisau, saya menggunakan jenis kayu keleng, agar tidak mudah rusak,” tambahnya.

Harto menjelaskan, sebelum harga bahan baku naik, dia sempat memiliki 70 karyawan. Meski harga bahan baku naik, dia tetap menjual produk dengan harga yang sama seperti sebelum harga bahan naik.

“Dulu punya banyak karyawan, ada 70 orang yang bekerja di sini. Sekarang masih ada sekitar 25 orang karyawan, yang lainnya saya suruh cari kerja di luar,” ungkap Harto. 

- advertisement -

Saat Musim Hujan Kucing Rentan Terkena Penyakit, Ini Tips Funny Grooming untuk Mengantisipasinya

0

SEPUTARKUDUS.COM, DERSALAM – Sebuah baner terpampang di depan bangunan ruko tertulis Funny Grooming, di tepi Jalan UMK Gang XI, Desa Dersalam, Bae, Kudus. Seorang perempuan berambut panjang tampak sedang memegang kucing berwarna hitam di depan ruko tersebut. Dia tengah melakukan perawatan terhadap kucing milik pelanggannya.

jasa perawatan kucing di kudus
Fany sedang merawat kucing milik pelanggannya. Foto: Ahmad Rosyidi

Fany Angreani Puspitasari (20), nama perempuan tersebut, yang sekaligus pemilik Funny Grooming. Bangunan itu digunakan sebagai tempat penyedia jasa perawatan, penitipan, dan adopsi kucing. 

Kepada Seputarkudus.com, Fany dia akrab disapa, sudi berbagi tips merawat kucing saat musim hujan, yang lebih rentan terkena penyakit. Dia menganjurkan kepada pemilik kucing untuk lebih sering memberi vitamin E, minyak ikan dan kuning telur rebus setengah matang. Itu bisa diberikan selama sepekan tiga kali, dantetap menjaga kebersihan kandang.

“Saat musim hujan lebih baik kucing dimandikan dengan air hangat. Vitamin dan kebersihan kadang juga harus lebih diperhatikan, karena saat musim hujan kucing lebih rentan terkena penyakit,” ungkap gadis kelahiran Semarang itu.

Fany mengaku baru sekitar 1,5 bulan membuka pemandian kucing, penitipan kucing, dan menjual makanan kucing. Tapi yang lebih dikenal adalah pemandian kucingnya yang biasa dikenal grooming. Dia membuka Funny Grooming bersama dua sodaranya yang orang asli Dawe Kudus, karena memandikan kucing tidak bisa dilakukan sendiri.

Vio yang saat itu sedang konsultasi perawatan kucing miliknya, yang terkena jamur. Dia mengaku membeli kucing di Funny Grooming, dan hampir setiap pekan memandikan kucingnya di tempat tersebut. “Saya beli kucing di sini. Saat ini kucing saya sedang sakit, jadi saya tanya kesini pengobatan dan perawatannya. Biasanya saya juga memandikan kucing di sini,” uangkapnya.

Tak lama kemudian, turun seorang wanita dari tangga, dia adalah Niken Zarifatus (23), yang juga pemilik Funny Grooming rekan Fany. Niken sapaan akrabnya, menjelaskan, kucing Persia yang ada di sana kebanyakan titipan. Ada yang titip untuk dijual, ada juga yang menitipkan kucingnya karena sedang pergi keluar kota. 

Dari 15 kucing yang ada, tujuh kucing akan dijual, dan ada empat yang dititipkan karena ditinggal pergi pemilknya. Sedangkan empat lainnya milik Fanny Grooming untuk diternak.

Niken merinci, harga kucing Persia yang usianya tiga bulan dijual seharga Rp 600 ribu. Sedangkan kucing Persia bulu panjang dengan usia yang sama ditawarkan lebih mahal, yakni Rp 700 ribu hingga Rp 900 ribu. Sedangkan kucing Persia berhidung pesek bisa lebih mahal lagi, bisa sampai Rp 2 juta untuk anakan. 

“Kami hanya menerima titipan untuk dijualkan, yang kami sebut adopt. Kalau kucing saya sendiri tidak saya jual,” jelasnya.

Selain kucing, katanya, di Funny Grooming dia juga menjual makanan, minuman, dan vitamin untuk kucing. Harga yang ditawarkan antara Rp 26 ribu hingga Rp 65 ribu. Sedangkan vitamin rambut kucing juga beragam harganya, mulai Rp 15 ribu hingga Rp 25 ribu. 

“Kami juga menjual susu kucing, harganya Rp 15 ribu. Untuk harga penitipan kucing, jika pemilik kucing sudah membawa makanan dan kandang sendiri per harinya Rp 10 ribu. Jika membawa makanan saja per harinya Rp 25 ribu,” tuturnya.

- advertisement -

Anak-Anak Omah Dongeng Marwah Baru Sadar, Ternyata Ada ‘Surga’ di Ujung Selatan Kudus

0
SEPUTARKUDUS.COM, WONOSOCO – Wajah sejumlah anak tampak ceria saat berada di taman bermain di Desa Wisata Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kudus, beberapa waktu lalu. Mereka
bermain ayunan dan jungkat-jungkit yang disediakan tak jauh dari Sendang
Dewot. Mereka adalah anggota Omah Dongeng Marwah yang berwisata sekaligus belajar tentang keindahan alam desa diujung selatan Kudus tersebut.

desa wisata kudus wonosoco
Anak-anak Omah Dongeng Marwah menikmati keindahan alam Desa Wonosoco, Kudus. Foto-foto: Imam Arwindra

Dari termpat parkir wahana tersebut, mereka kemudian menggendong tas dan buku
di tangannya berjalan melihat pohon-pohon sambil mencatat nama pohon
yang ditemui. Sesekali mereka berselfie sambil bermain mangkok putar.  

Tiyo Ardiyanto (13) satu di antara anggota Omah Dongeng Marwah menuturkan,
pohon yang ditemukan besar-besar serta suasa alamnya sangat indah. Dia mengaku
baru pertama kali berkunjung ke Wonosoco. “Saya orang Kudus, tapi baru pertama
ini pergi ke Wonosoco. Ternyata desa ini sangat indah, seperti ‘surga’” ungkapnya.

desa wisata kudus wonosoco_2

Siswa SMPN 1 Bae menuturkan, selain
melihat pohon besar yang tumbuh di sana, dia juga sempat melihat sendang yang airnya sangat jernih. Menurutnya, dia ingin masuk ke dalam sendang namun
dilarang oleh kakak pendamping. “Sebenarnya saya ingin
masuk ke dalam sendang dengan tangga. Namun tidak boleh,” sesal Tiyo.
Hal yang paling menakjubkan menurutnya, saat perjalanan
menuju gua. Dia menceritakan, perjalanan menuju gua melewati
hutan jati dengan kondisi jalan berbatu kapur. Bukit-bukit yang ditanami
beberapa pohon pun terlihat mengagumkan, didukung dengan cuaca cerah saat itu.  

desa wisata kudus wonosoco_3

Setelah menaiki motor sekitar dua kilometer, dirinya harus
berjalan beberapa meter lagi untuk sampai ke lokasi gua. Dia mengungkapkan,
rombongannya sempat kesasar. Namun karena ada pendamping yang pernah ke lokasi, mereka sampai juga ke gua. “Guanya berada di bukit-bukit. Menurut
juru kunci sih ada tujuh gua. Namun yang baru ketemu hanya tiga,” terangnya.

Tiyo bersama anak-anak Omah Dongeng Marwah harus merunduk karena mulut
gua cukup kecil. Kondisi di dalam gua yang gelap mengharuskan mereka menggunakan lampu senter. Tiyo merasa kagum dengan
kondisi gua yang masih alami. Stalaktit dan stalagmit menyambut mereka saat masuk ke dalam. “Oh,
indahnya,” ungkapnya saat berada di dalam gua pertama.

desa wisata kudus wonosoco_4

Letak gua kedua dan ketiga
berada di atas gua pertama. Di mulut gua terdapat pintu berbahan seng yang tampak kurang terawat. Gua-gua tersebut terdapat di bukit gunung.

- advertisement -

Windows 8 app releases grind to a near complete

0

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum.

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque laudantium, totam rem aperiam, eaque ipsa quae ab illo inventore veritatis et quasi architecto beatae vitae dicta sunt explicabo. Nemo enim ipsam voluptatem quia voluptas sit aspernatur aut odit aut fugit, sed quia consequuntur magni dolores eos qui ratione voluptatem sequi nesciunt.

Neque porro quisquam est, qui dolorem ipsum quia dolor sit amet, consectetur, adipisci velit, sed quia non numquam eius modi tempora incidunt ut labore et dolore magnam aliquam quaerat voluptatem. Ut enim ad minima veniam, quis nostrum exercitationem ullam corporis suscipit laboriosam, nisi ut aliquid ex ea commodi consequatur?

- advertisement -

Dari Hasil Membuat Genteng, Sunardi Mampu Naik Haji Bersama Istri dan Menguliahkan 4 Anaknya

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBALREJO – Sepanjang Jalan Dukuh Ngetuk Desa Ngembalrejo, terlihat tumpukan genteng tertata rapi di samping rumah warga. Tampak di kanan dan kiri, para perajin sedang membuat genteng yang terbuat dari tanah liat. Satu di antara perajin di desa tersebut, yakni Sunardi (60), yang mampu naik haji bersama istri, dan menguliahkan empat anaknya.

jual genteng
Sunardi menata genteng hasil produksinya di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, pria asal Dukuh Ngetuk Desa Ngembalrejo RT 6 RW 1, Kecamatan Bae, menceritakan, dirinya memulai usaha pembuatan genteng sejak 1979, atau sekitar 37 tahun silam. Dari hasil usaha produksi genteng yang ditekuninya itu, pada 2001 dia bersama istri dapat menunaikan ibadah haji.

“Dari hasil membuat genteng ini, saya juga menguliahkan anak-anak saya ke perguruan tinggi. Anak pertamanya dulu kuliah di UMK, anak kedua di UIN, yang ketiga kuliah di Unnes, sedangkan anak terahir kuliah di USM,” tutur Nardi, sapaan akrabnya.

Sejak lulus sekolah dasar (SD) pada tahun 1969, Nardi mengaku sudah pinyawai membuat genteng. Menurutnya, saat itu belum ada alat untuk mencetak genteng. Semua proses pembuatan dilakukan dengan cara manual, menggunakan tangan secara langsung. 

“Dulu pada saat awal memulai usaha, warga (Ngembalrejo) masih sedikit yang memproduksi genteng. Sekarang hampir satu desa menekuni usaha pembuatan genteng. Saat itu semua menggunakan tangan, kalau sekarang lebih ringan, semua dilakukan menggunakan alat, ” ungkapnya.

Saat ini, Nardi dibantu 12 karyawan untuk memproduksi genteng. Mulai dari pencetakan, penjemuran dan pembakaran dilakukan karywannya. Dalam sehari dirinya bisa memproduksi sekitar 1.000 genteng dan terpus.

Dia memiliki pelanggan dari Pati, Rembang, Demak, Jepara, Purwodadi dan Kudus. Pada Juli hingga Desember, genteng yang diproduksi ramai dibeli pelanggan. Sedangkan Januari hingga Juni sepi pembeli. 

“Untuk penjualan tidak bisa ditentukan, terkadang dalam satu bulan bisa menjual 19.000 genteng dan 10.000 terpus. Terkadang juga sepi pembeli,” terangnya.

Nardi menjelaskan, saat ini dia memiliki 12 macam cetakan, dua untuk genteng dan sepuluh macam untuk terpus. Untuk membuat genteng yang baik, katanya, proses pembakarannya harus maksimal. Dia biasa menggunakan daun tebu kering untuk proses pembakaran. 

“Biasanya lebih tahan lama dan tidak mudah patah kalau membakar genteng menggunakan daun tebu kering,” terangnya.

Untuk memproduksi genteng, dia hanya menggunakan tanah liat yang dia dapatkan dari Nalumsari, Jepara. Sedangkan untuk proses pengeringan dia membutuhkan waktu dua hari saat cuaca panas. Proses pembakaran dilakukan selama 15 jam di dalam tungku pembakaran. 

- advertisement -

Awal Menjalani Usaha Pembuatan Telur Asin, Alim Merasa Seperti Pengemis Karena Sering Ditolak Pemilik Toko

0
SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Rumah sederhana di belakang Toko Pusat Jenang Menara, Jalan Sosrokartono, Kaliputu, Kota, Kudus, terlihat seorang pria sedang mengecek telur bebek. Dia adalah Nur Alim (52), pemilik usaha telur asin JE & JE. Awal menjalani usaha, dia merasa seperti pengemis karena sering ditolak saat menawarkan produknya ke toko-toko. Kini dia kewalahan melayani permintaan pelanggan. 

jual telur asin
Produsen telur asin di Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com, Alim, begitu dia akrab disapa, mengaku kurang lebih sudah delapan tahun menekuni usaha pembuatan telur asin. Saat merintis usaha telur asin, Alim sempat merasa seperti pengemis yang ditolak-tolak saat menitipkan produk telur asinnya. 

“Dulu, dalam satu minggu saya hanya memproduksi 150 butir telur asin, dan diretur sekitar 50 butir. Awalnya saya sering rugi. Selama satu tahun baru mulai merasakan hasilnya,” jelas pria kelahiran Wonogiri itu.

Dalam sehari, kini Alim bisa memproduksi telur asin hingga 500 butir. Saat ini produknya disetor ke 50 toko yang ada di Kudus. Selain menyuplai toko, Alim juga bekerja sama dengan beberapa katering. “Saya sering kewalahan melayani pesanan. Ada yang bosan denga oleh-oleh jenang lalu memesan telur asin hasil produksi saya,” ujarnya.

Sebelum memulai usaha, dia sudah menyiapkan uang Rp 30 juta untuk makan bersama istrinya selama 3 tahun. Jadi dirinya memang sudah siap untuk tidak merasakan hasil usahanya selama satu atau dua tahun pertama.

Alim mengaku suka berwirausaha sejak masih muda. Bahkan dia pernah menolak permintaan orang tuanya untuk mendaftar pegawai negeri sipil (PNS). “Mending saya berjualan es atau bakso, bisa pakai celana pendek. Kalau diatur-atur bisa stres saya,” ungkapnya sambil menghisap kretek.
Dia menjelaskan, untuk berwirausaha harus bisa tekun, dan tidak mudah menyerah. Selain itu harus bisa fokus dan tidak berganti-ganti usaha. “Gagal atau tidak itu penilaian diri sendiri. Yang penting jangan mudah menyerah,” tuturnya.

Alim menjelaskan, JE & JE berasal dari singkatan nama sapaan akrab dirinya dan istri, yakni Pak Jack, dan Jujuk. Dari dua panggilan itu, dia menggunakannya sebagai merek telur asin yang dibuatnya.

Dia mengklaim, telur asin buatannya bisa bertahan hingga 20 hari. Dia juga mengutamakan kualitas, dengan memilih telur bebek pilihan. “Saya hanya menerima pemasok telur yang bebeknya mengonsumsi keong. Telur yang dihasilkan bebek yang mengonsumsi keong memilki kandungan kalsium. Oleh karena itu, telur asin saya bisa bertahan hingga 20 hari,” ungkapnya.

Selain menggunakan telur pilihan, proses pengasinan yang baik, katanya, juga mempengaruhi rasa. Proses pengasinan yang dilakukan tidak boleh kurang dari 11 hari. Karena jika kurang dari itu rasa asin dan kematangan telurnya kurang. 

- advertisement -

Alumni Stikes Muhammadiyyah Kudus Ini Mendapat Beasiswa dari Jepang, Besok Akan Berangkat

0

SEPUTARKUDUS.COM, MLATI NOROWITO – Sejumlah berkas sedang persiapkan di
ruang belakang Warung SS di Jalan HOS Cokroaminoto, Mlati Norowito, Kecamatan
Kota, Kudus. Berkas tersebut tertumpuk rapi di atas meja kayu dengan satu
buah kursi panjang. Berkas-berkas
tersebut akan digunakan lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Muhammadiyyah Kudus untuk melanjutkan pendidikan di Jepang.

belajar ke jepang
Akhir di Warung SS Jalan HOS Cokroaminoto, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Lulusan Stikes Muhammadiyyah
Kudus tahun 2015 tersebut bernama Menurut Akhif Khoiruddin (24). Dia akan berangkat ke Negeri Sakura tersebut pada 29 Oktober besok. Dia akan belajar ilmu keperawatan di Matsudo International School. 

“Saya lolos seleksi penerima beasiswa dari sekolah tersebut. Setelah selama sembilan tahun menetap di sana,
saya akan pulang ke Indonesia,” tuturnya saat ditemui di warung SS miliknya, belum lama ini.

Menurutnya, empat tahun akan dihabiskan untuk belajar. Sedangkan lima tahun setelahnya akan digunakan untuk bekerja di rumah sakit di sana. Dia akan berangkat ke Chiba, Jepang, tempat dirinya akan menuntut ilmu keperawatan melalui bandara International Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. 

“Satu angkatan saya dari Indonesia ada tiga orang. Empat tahun belajar di Matsudo International School akan dibagi dua tahun belajar minna no nihongo (Bahasa Jepang) dan dua tahun belajar senmon (kejuruan),” tambahnya.

Dia menjelaskan, Jepang saat ini sangat membutuhkan ribuan tenaga perawat. Menurutnya, di
Jepang banyak perawat-perawat yang tidak kompeten dan melakukan malpraktik. Banyak
lembaga swasta maupun lembaga negara Jepang memberikan
beasiswa untuk mendatangkan perawat-perawan dari negara lain. 

Akhif menuturkan, selama belajar di Jepang dia juga akan
bekerja paruh waktu sebagai penjaga toko. Menurutnya, di Jepang sistem honor dihitung per jam. Dia memperkirakan, satu jam sebagai penjaga toko akan dibayar
sekitar Rp 100 ribu. 


“Saya sudah biasa hidup mandiri sejak saya masih sekolah
di Salafiyyah Pati. Jadi nanti untuk makannya saya masak sendiri. Perkiraan
saya satu bulan akan habis Rp 2 juta. Kalau makannya jajan sekitar Rp 6 juta
per bulan,” ungkap Akhif.
Dia menambahkan, sebenarnya kebutuhan makan di Jepang cukup
terjangkau. Menurutnya, yang mahal penggunaan transportasi umum. Untuk kebutuhan
pakaian dan barang-barang yang lain, dia merencanakan akan sering membeli di chuko (tempat penjualan barang-barang
bekas). “Kalau barang-barang bekas kan harganya lebih murah,” tuturnya.

- advertisement -

Salut, Perajin Batu Bata Merah Asal Payaman Ini Punya Anak yang Kuliah Hingga S2

0

SEPUTARKUDUS.COM, PAYAMAN – Puluhan kendaraan berlalu-lalang melintasi Jalan Lingkar Desa Payaman, Kecamatan Mejobo, Kudus. Di sisi kanan dan kiri jalan tersebut, terdapat puluhan orang tengah membuat batu bata. Satu di antaranya Suparno (45), yang bekerja membuat batu bata untuk biaya kuliah beberapa anaknya.

batu bata merah
Suparno menjemur batu bata merah di Desa Payaman, Mejobo, Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Parno begitu dia akrab disapa, mengaku memiliki tiga orang anak, semuanya laki-laki. Anak pertama sudah diwisuda di satu kampus di Yogyakarta. Sekarang anak pertamanya telah bekerja sebagai guru SMK di Yogyakarta, dan akan kuliah S2. 

“Yang nomor dua masih kuliah di Universitas Brawijaya Malang, sedangkan yang kecil masih duduk kelas enam SD,” ujar Parno.

Sambil mengumpulkan tanah untuk dicetak menjadi bata, dia mengungkapkan, anak keduanya kuliah karena mendapatkan beasiswa. Selama kuliah anak keduanya hanya diberi uang saku dan biaya kontrakan untuk tinggal. 

“Dia termasuk anak yang berprestasi, nilai-nilainya sangat bagus. Sering juga dia diikutkan lomba, ke Korea juga pernah,” ungkapnya.

Sejak kecil, Parno mengaku telah terbiasa memegang cangkul. Dirinya merintis usaha pembuatan batu bata bersama dua orang temannya. Parno yang hanya lulus sekolah dasar (SD), ingin anak-anaknya menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Dia tidak ingin anak-anaknya menjadi seperti dirinya. Dia berharap anak-anaknya bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak daripada dirinya.

“Apa yang sudah saya alami sebisa mungkin jangan sampai dialami anak saya. Saya bodoh, ya sudah, jadi jangan sampai anak saya ikut-ikutan seperti saya,” ungkapnya.

Parno sangat mendukung penuh apa yang dilakukan anak-anaknya. Ingin belajar di mana dan mengambil jurusan apa, semua diserahkan anak-anaknya. “Saya tidak tahu apa-apa, jadi semua terserah anak saya. Sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik buat anak saja,” terangnya.

Parno mengaku sudah menekuni pekerjaannya sebagai pembuat batu bata sejak lama. Hasil pekerjaannya tersebut digunakan untuk menghidupi istri dan anak-anaknya, termasuk biaya pendidikan. Dia tidak memasarkan produk batu bata yang dibuatnya. Parno hanya menunggu pembeli datang. “Biasanya ramai pembeli usai Lebaran. Sedangkan untuk saat ini sepi pembeli,” tuturnya.  

Batu bata yang dia buat dijual seharga Rp 600 per batang. Dia mengaku memiliki pelanggan dari Demak dan Undaan, Kudus. Menurutnya, untuk membuat batu bata, cukup menggunakan tanah liat yang dicampurkan dengan sekam dan air. 

“Tanah liat tidak boleh tercampur dengan kerikil sama sekali. Ini untuk menjaga kualitas batu bata yang dibuat agar tidak mudah patah,” kata Parno.

Proses selanjutnya, tanah liat yang sudah dicampur di cetak dalam cetakan, jemur di bawah matahari hingga benar-benar kering. Setelah itu, hasil cetakan tanah liat dibakar hingga berwarna merah.

- advertisement -

Siswa-Siswa Asal Papua Betah Tinggal di Kudus, Masyarakatnya Ramah dan Cantik-Cantik

0
SEPUTARKUDUS.COM, ALUN-ALUN KUDUS – Sejumlah lelaki berkulit gelap terlihat berdesakan di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, belum lama ini. Mereka mengenakan tas slempang rajutan dan hood di kepala. Mereka adalah sekumpulan anak Papua yang tinggal di Kudus. Satu di antara mereka, yakni Rian, yang mengaku betah tinggal di Kudus karena masyarakatnya ramah.

mahasiswa papua di kudus
Siswa asal Papua tinggal di Kudus. Foto-foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com, pria asal Kabupaten Nabire, Papua, mengatakan, selain ramah, wanita Kudus cantik-cantik. Dia juga mengaku betah tinggal di Kudus karena suasanya sejuk. “Beta (saya) bersama teman-teman betah tinggal di Kudus. Kami akan tinggal hingga nanti lulus sekolah,” ujar Rian.

Rian menjelaskan, dirinya bersama teman-temannya sedang menempuh pendidikan di SMK PGRI 2 Kudus. Dia memilih Jurusan Akuntansi di sekolah tersebut. “Kami dari Papua ada 22 orang. Sebanyak 11 orang di SMK PGRI 2 Kudus, dan sisanya di SMA 1 Bae,” tutur dia.

Dia mengatakan, datang ke Alun-alun karena ingin melihat kemeriahan Kirab Budaya dan Karnaval Hari Jadi Kudus ke-467. Menurutnya, jauh-jauh hari dirinya bersama teman-temannya sudah mempersiapkan waktu untuk melihat acara tersebut. Menurutnya, perpaduan agama  dan budaya yang ditampilkan melalui busana dan pentas seni sangat bagus. 

“Baru pertama kali beta (Saya) lihat seperti ini. Bagus,” ungkap Rian yang malam itu mengenakan kaus ungu.

Kiss, teman Rian yang juga berasal dari Papua, mengaku belajar di Kudus karena mendapatkan beasiswa untuk menekuni jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Saat ini mereka tinggal di asrama, Jekulo. 

Dia juga mengaku baru pertama kali melihat karnaval di Kudus. Acara yang diselenggarakan menakjubkan. Kiss mengatakan, di daerahnya, Timika, juga ada kegiatan serupa. “Di daerah beta ada. Tapi pakaiannya berbeda,” tuturnya.

Kegiatan Kirab Budaya dan Karnaval Hari Jadi Kudus ke-467 diikuti sekitar 30 kontingen dari berbagai instansi di Kudus. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, Yuli Kasiyanto menuturkan, peserta karnaval yakni siswa SMP dan SMA di Kudus. Selain itu ada beberapa instansi pemerintah yang ikut meramaikan acara tersebut. 

“Ada atraksi, baik tari-tarian maupun drama yang rata-rata menggambarkan sejarah berdirinya Kabupaten Kudus dari berbagai sisi,” tuturnya.

- advertisement -

Galau Karena Skripsi, Mahasiswa UMK Semester Akhir Beli Ikan Hias di Dersalam

0

SEPUTARKUDUS, DERSALAM – Di tepi jalan yang menghubungkan Desa Dersalam dan Desa Conge, Kecamtan Bae, Kudus, ada tiga ruko berpintu warna hijau. Dua ruko di antaranya digunakan Rizki Adi Wijaya (19), untuk menjual berbagai jenis ikan hias. Menurutnya, ikan-ikan yang dia jual bisa mengobati seseorang yang sedang galau.

ikan hias kudus
Riski merangkai akuarium di toko miliknya, Foto; Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com, Rizki mengatakan, selama sembilan bulan dia menjual ikan hias, tak jarang teman-temannya datang ke ruko miliknya. Teman-temannya itu tidak membeli ikan hias, namun sekadar melihat ikan-ikan untuk mengusir rasa galau yang dialami.

“Biasanya teman-teman yang sedang galau nongkrong di sini. Mereka tidak membeli ikan, tapi hanya melihat ikan untuk mengusir galay. Ada juga mahasiswa UMK semester akhir beli ikan hias di sini, untuk obat stres mengerjakan sekripsi,” ungkapnya sambil tertawa.

Rizki mengaku berjualan ikan karena melanjutkan usaha kakaknya yang sekarang bekerja di Semarang. Awalnya hanya menjual ikan hias dan makanan ikan saja. Merasa kurang lengkap, dia berinisiatif untuk menjual akuarium beserta hiasannya. Dulu Rizki membeli akuarium dan dijual kembali. Seiring berjalannya waktu dia memilih untuk membuat akuarium sendiri agar keuntungannya lebih banyak.

Hampir setiap hari Rizki berjualan ikan di ruko tersebut, dan pasti ada pelanggannya datang. Pelanggannya kalangan anak-anak hingga mahasiswa. Ikan hias miliknya dijual seharga Rp 350 hingga Rp 90 ribu. Sedangkan harga akuarium sekitar Rp 5 ribu hingga Rp 500 ribu. 

“Ikan yang saya jual ada 20 jenis. Saya juga ternak ikan, tapi hanya tiga jenis. Ikan yang saya ternak di antaranya Guppy, Peso, dan Black Golden. Jenis ikan yang lain saya beli dari Pasar Bitingan,” tuturnya.

Rizki mengatakan, penghasilan bersih yang dia dapat dari berjualan ikan dan akuarium tak kurang dari Rp 1,5 juta per bulan. Dia juga berencana ingin membuka konter khusus aksesoris ponsel agar lebih berkembang usahanya.

Saat asyik bercerita, Rizki kedatangan pelanggan yang hampir setiap hari datang membeli ikan. Dia bernama Sari (35), mengaku hampir setiap hari mengantar putranya membeli ikan. “Anak saya suka ikan jadi hampir setiap hari minta dibelikan. Kali ini anak saya memilih Red Tin yang harganya Rp 2 ribu. Di rumah juga ada ikan cupang, jadi ini sekalian beli makanan untuk ikan cupang juga,” ungkapnya.

- advertisement -

Meski Belum Lulus, Siswa SMK Assa’idiyyah 2 Kudus Sudah Berani Terima Order Jasa Boga

0
SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Sejumlah siswa terlihat berdiri disamping hidanganan
plasmanan selatan Masjid Darul Ilmi Universitas Muria Kudus (UMK) belum lama ini. Bak koki profesional yang mengenakan pakaian ala chef,  mereka melayani peserta
pada sebuah acara. Mereka yakni para siswa SMK Assa’idiyyah 2 Kudus Jurusan Tata Boga.

SMK ASSAIDIYAH 2 KUDUS TATA BOGA
Siswa SMK Assa’idiyah 2 Kudus Jurusan Tata Boga. Foto: Imam Arwindra

Naelis Saadah, Wakil Kepala (Waka) Kesiswaan SMK
Assa’idiyyah 2 Kudus menuturkan, kegiatan yang dilakukannya termasuk bagian
dari proses pembelajaran siswa Jurusan Tata Boga. Menurutnya,
mereka tidak hanya belajar akademik, melainkan juga mengolah skill agar teori yang diberikan langsung
dipratikkan. 

“Ini siswa kami sedang menyiapkan makanan prasmanan untuk peserta.
Jadi nanti uang yang didapat dari kegiatan akan diberikan kepada siswa dalam
bentuk tabungan,” ungkapnya saat ditemui di selatan Masjid Darul Ilmi UMK.

Dia menjelaskan, tabungan tersebut bisa diambil siswa ketika
sudah lulus. Menurutnya, uang yang didapat dari kegiatan praktik bisa
dipergunakan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi atau membuka usaha kuliner. “Siswa SMK Assa’idiyyah 2 sudah siap untuk terjun di lapangan. Mereka sudah
mampu menyediakan masakan Nusantara ataupun Barat,” terang dia yang
memakai kerudung merah.

Menurut Naelis, pihaknya sedang membuat bisnis center dan
resto. Selain itu pihaknya juga menerima pesanan katering, prasmanan dan kue kering. Proses pemilihan bahan dan pengolahan
semua dilakukan siswa, namun tetap dipantau guru pembimbing. “Ini
saya bersama Bu Diah Farida Sari memantau aktivitas siswa,” ungkapnya
sambil menunjuk perempuan berkrudung ungu.
Harga yang diberikan bagi pemesan katering menurut Naelis cukup terjangkau, namun pelayanan yang diberikan maksimal. “Untuk
harga pokoknya di bawah jauh Rp 5 juta. Intinya kami mengikuti budget dan jenis makanan
yang diminta,” tambahnya.
Kepada Seputarkudus.com Naelis menerangkan, sebenarnya SMK
Assa’idiyyah 2 baru berjalan dua tahun. Jumlah siswa kelas
X sebanyak 34 siswa, dan kelas XI sebanyak 20 siswa. Selain Jurusan Tata Boga,
SMK Assa’idiyyah 2 juga membuka Jurusan Tata Busana. “Kelas X Tata Busana ada 32 siswa dan kelas XI ada 16 siswa,” tambahnya.

- advertisement -

Meski Sempat Kesasar, Lelaki Tuna Netra dan Anaknya Ini Akhirnya Sampai di Masjid Agung

0

SEPUTARKUDUS.COM, KOTA KUDUS – Awan gelap menyelimuti saat ibadah Jumat di Masjid Agung Kudus beberapa waktu lalu. Di tepi jalan tak jauh dari gerbang Masjid Agung, datang seorang kakek mengenakan sarung dan baju koko. Tangan kanannya memegang tongkat, dan tangan kiri memegang pundak putranya. Mereka yakni Ali (55) dan Muhamad Ma’ruf (15).

Ali dan anaknya saat pulang ke rumahnya di bantaran Sungai Gelis, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi 

Rintik hujan mulai turun, saat Ali yang tak bisa melihat dan putranya yang berkebutuhan khusus duduk di tepi jalan. Dia enggan measuk ke dalam masjid, karena putranya memakai celana pendek. “Anak saya pakai celana pendek, saya di sini saja,” tutur Ali kepada Seputarkudus.com. 

Karena hujannya mulai deras, akhirnya Ali masuk ke serambi masjid dan duduk di emperan masjid. Usai salat, pria yang tinggal di bantaran Sungai Gelis, Kota, Kudus, ini berjalan menuju rumahnya. Sambil berjalan dia mengaku sempat kesasar saat berangkat ke masjid, karena putranya sering lupa jalan. “Putra saya ini memang ‘kurang’, jadi ya seperti ini. Tadi berangkat ke masjid malah diajak muter-muter,” ungkap Ali.

Ali mengaku meski dirinya tidak bisa melihat, namun dirinya selalu mengutamakan ibadah. Ibadah-ibadah sunah pun dia jalankan. Dia mengaku pernah mondok di pesantren selama tiga tahun, di Kajen, Pati. Dia belajar mengaji dengan cara mendengarkan, karena memang sudah tak bisa melihat sejak lahir.

“Untuk urusan ibadah saya selalu berusaha menjalankan sebaik mungkin, termasuk ibadah sunah, misalnya puasa dan salat-salat sunah,” tuturnya.

Menurut Ali, lampu hidup itu ada dua, yang pertama akal dan yang kedua mata. Jika akalnya buta, hidup kita akan tersesat. “Akan lebih parah jika sampai buta akal, bisa tersesat hidup. Hidup ini cuma sebentar, jadi jangan sampai diperbudak dengan urusan duniawi,” kata ali.

Pria kelahiran Jepara itu mengaku pindah ke Kudus karena tidak ingin merepotkan saudara-saudaranya. Setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya berhenti belajar di pesantren karena masalah biaya. Setelah itu dia tinggal bersama saudaranya di Jepara. Seiring berjalannya waktu, Ali merasa tidak nyaman karena merepotkan saudaranya terus menerus. Dia memutuskan untuk merantau ke Kudus sekitar tahun 1980.

“Awalnya saya minta-minta di Makan Sunan Muria, kemudian ada yang mengajak saya ke Kaligelis kemudian saya menetap di sini. Pekerjaan saya ya masih minta-minta di Menara sampai saat ini,” tambahnya.

- advertisement -