31 C
Kudus
Selasa, November 29, 2022
BerandaKUDUSAlumni Stikes Muhammadiyyah...

Alumni Stikes Muhammadiyyah Kudus Ini Mendapat Beasiswa dari Jepang, Besok Akan Berangkat

SEPUTARKUDUS.COM, MLATI NOROWITO – Sejumlah berkas sedang persiapkan di
ruang belakang Warung SS di Jalan HOS Cokroaminoto, Mlati Norowito, Kecamatan
Kota, Kudus. Berkas tersebut tertumpuk rapi di atas meja kayu dengan satu
buah kursi panjang. Berkas-berkas
tersebut akan digunakan lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Muhammadiyyah Kudus untuk melanjutkan pendidikan di Jepang.

belajar ke jepang
Akhir di Warung SS Jalan HOS Cokroaminoto, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Lulusan Stikes Muhammadiyyah
Kudus tahun 2015 tersebut bernama Menurut Akhif Khoiruddin (24). Dia akan berangkat ke Negeri Sakura tersebut pada 29 Oktober besok. Dia akan belajar ilmu keperawatan di Matsudo International School. 

“Saya lolos seleksi penerima beasiswa dari sekolah tersebut. Setelah selama sembilan tahun menetap di sana,
saya akan pulang ke Indonesia,” tuturnya saat ditemui di warung SS miliknya, belum lama ini.

Menurutnya, empat tahun akan dihabiskan untuk belajar. Sedangkan lima tahun setelahnya akan digunakan untuk bekerja di rumah sakit di sana. Dia akan berangkat ke Chiba, Jepang, tempat dirinya akan menuntut ilmu keperawatan melalui bandara International Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. 

- Ads Banner -

“Satu angkatan saya dari Indonesia ada tiga orang. Empat tahun belajar di Matsudo International School akan dibagi dua tahun belajar minna no nihongo (Bahasa Jepang) dan dua tahun belajar senmon (kejuruan),” tambahnya.

Dia menjelaskan, Jepang saat ini sangat membutuhkan ribuan tenaga perawat. Menurutnya, di
Jepang banyak perawat-perawat yang tidak kompeten dan melakukan malpraktik. Banyak
lembaga swasta maupun lembaga negara Jepang memberikan
beasiswa untuk mendatangkan perawat-perawan dari negara lain. 

Akhif menuturkan, selama belajar di Jepang dia juga akan
bekerja paruh waktu sebagai penjaga toko. Menurutnya, di Jepang sistem honor dihitung per jam. Dia memperkirakan, satu jam sebagai penjaga toko akan dibayar
sekitar Rp 100 ribu. 


“Saya sudah biasa hidup mandiri sejak saya masih sekolah
di Salafiyyah Pati. Jadi nanti untuk makannya saya masak sendiri. Perkiraan
saya satu bulan akan habis Rp 2 juta. Kalau makannya jajan sekitar Rp 6 juta
per bulan,” ungkap Akhif.
Dia menambahkan, sebenarnya kebutuhan makan di Jepang cukup
terjangkau. Menurutnya, yang mahal penggunaan transportasi umum. Untuk kebutuhan
pakaian dan barang-barang yang lain, dia merencanakan akan sering membeli di chuko (tempat penjualan barang-barang
bekas). “Kalau barang-barang bekas kan harganya lebih murah,” tuturnya.

Redaksi
Redaksi
Beta adalah media online yang lahir di era digital. Berita yang disajikan unik, menarik dan inspiratif. Serta dikmas dalam bentuk tilisan, foto dan video.

LIPSUS 15 - Ketoprak Pati Pantang Mati

LIPUTAN KHUSUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

33,301FansSuka
15,628PengikutMengikuti
4,336PengikutMengikuti
97,028PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler