31 C
Kudus
Sabtu, Juni 22, 2024

Perempatan (1) Mengapa Perempatan di Demangan Ini Disebut Mojopahit? Ini Jawabannya

SEPUTARKUDUS.COM, DEMANGAN Tembok bangunan ini masih berbahan kayu dengan
genting tanah merah yang mulai kusam. Di sisi depan rumah terdapat tempat
pengisian ulang air minum yang mengahadap ke barat dengan label nama Ozone. Bangun tersebut diapit dua rumah lainnya, sisi selatan rumah Bidan Dyah Ekowati
dan sisi utaranya Toko Listrik 29. Letak rumahnya dekat dengan perempatan yang
populer dengan nama Perempatan Mojopahit.

Perempatan Mojopahit Kudus
Kawasan Perempatan Mojopahit, Demangan, Kota, Kudus. Foto: Imam Arwindra
Bangunan yang terletak di Desa Demangan, Kecamatan
Kota, Kabupaten Kudus tersebut, menurut Nur Mukhlis (40) pemilik bangunan, dulu merupakan pabrik tenun dengan nama Mojopahit. 

“Orang
Kudus pasti paham dengan Perempatan Mojopahit. Toko-toko di sekitar perempatan pun
banyak yang menggunakan nama Mojopahit, misalnya Mojopahit Cell, Mojopahit Jok,
Toko Mojopahit, termasuk pabrik tenun milik ayah saya,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.

Mukhlis mengatakan, berdasarkan cerita dari ayahnya, dulu sebelum pabrik tenun berdiri, perempatan
tersebut sudah disebut Perempatan Mojopahit. Menurut cerita ayahnya, ketika
zaman kerajaan ada pedagang dari Mojokerto yang selalu berdagang di sebelah
perempatan tersebut. 

“Karena daerah Mojokerto berdiri kerajaan Majapahit, dia mungkin
kemudian dikenal pedagang dari Kerajaan Majapahit. Dan akhirnya nama perempatan
tersebut disebut warga dengan sebutan Perempatan Mojopahit,” terangnya.

Tak jauh dari perempatan yang mempertemukan Jalan Kyai
Telingsing, Jalan KH Noor Hadi dan Jalan
Dr Wahidin Sudiro Husodo, menurut Mukhlis dulu terdapat
bangunan satu lantai. Bangunan itu oleh ayahnya bernama Munajat, dibuat tempat produksi kain tenun ketika zaman penjajahan Jepang.

-Advertisement-
Nur Mukhlis, generasi pabrik tenun Mojopahit. Foto: Imam Arwindra

“Pabrik tenun ayah saya sudah berhenti produksi lama. Dan bangunannya sekerang saya tempati bersama keluarga,”
jelasnya.

Mukhlis menuturkan, produk yang dihasilkan dari perusahaan
ayahnya dibuat menggunakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Pemasaran ketika zaman penjajahan Jepang sudah sampai di daerah Sumatra dan
luar Jawa. “Alat produksinya seperti yang ada di Troso Jepara. Masih
alami menggunakan tenaga manusia,” tambahnya.
Dia menceritakan, perusahaan ayahnya bangkrut
sekitar tahun 1965 karena ada konflik politik Partai Komunis Indonesia (PKI).
Saat itu, orang yang dituduh PKI ditangkap. Efeknya terjadi penjarahan
di mana-mana dan perusahaan milik ayahnya juga ikut terkena penjarahan. “Akhirnya
seluruh alat dijual ke Troso,” tuturnya.

Redaksi
Redaksi
Beta adalah media online yang lahir di era digital. Berita yang disajikan unik, menarik dan inspiratif. Serta dikmas dalam bentuk tilisan, foto dan video.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
30,973PengikutMengikuti
140,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER