Beranda blog Halaman 1955

Pantura Laundry Kudus Kewalahan Layani Jasa Pencucian Sofa Jelang Lebaran

0
SEPUTARKUDUS.COM, DERSALAM – Sejumlah pekerja tampak sibuk membersihkan sofa di sebuah tempat pencucian yang berada di Jalan Kampus UMK, Kudus. Menjelang Lebaran seperti sekarang ini, tempat penyedia jasa itu kebanjiran order. Pantura
Laundry
, nama tempat jasa pencucian tersebut. Selain menerima jasa pencucian karpet, sofa, dan spring bed, juga melayani pencucian pakaian.

Pantura Laundry Kudus

Budi Mulia, pemilik
Pantura Laundry, menuturkan, memasuki bulan Puasa
order pencucian sofa, spring bed, karpet dan
vertical blind mengalami lonjakan. “Untuk orderan cucian semua jenis pakaian
dan barang di Pantura Laundry selama Bulan Ramadan mengalami lonjakan. Namun
paling signifikan peningkatan order pada empat barang tersebut. Jika di hari-hari biasa omzet kami sekitar Rp 150 juta sebulan,
pada Ramadan ini bisa meningkat hingga sekitar Rp 400 juta,” kata Budi kepada Seputarkudus.com.

Pada hari-hari biasa, kata Budi, pencucian untuk barang-barang tersebut memerlukan
waktu sekitar dua hingga tiga hari. Namun, karena pada bulan Puasa ini orderan menumpuk, sepekan setelah barang-barang itu masuk baru bisa diantar ke rumah para pelanggan setelah dibersihkan.
Pria lulusan Ekonomi
Manajemen di sebuah kampus swasta di Semarang itu mengatakan, untuk pencucian jenis karpet dikenakan biaya Rp 10 ribu
pe rmeter. Sedangkan untuk spring bed dan vertical blind Rp 70 ribu per meter,  dan sofa Rp 70 ribu.
“Meskipun order pencucian untuk  jenis barang menumpuk, kami tetap melayani 
pencucian pakaian dengan harga Rp 2,500 per kilogram, dengan berat minimal 5 kilogram. Selain itu kami juga melayani pencucian sehari bisa diambil
dengan biaya Rp 6 ribu per kilogram,” ujar Budi.
Untuk order dari tempat ibadah, Pantura Laundy memberikan potongan harga 50
persen. Sedangkan untuk instansi kantor yang order banyak diberi potongan harga 30 persen. “Selama ini aku juga sudah punya beberapa
pelanggan dari instansi pemerintahan, bank, maupun beberapa perusahaan rokok
yang ada di Kudus” tambahny.
Budi juga mengatakan, selain di Jalan Pemuda, Pantura
Laundry juga mempunyai workshop di Jalan Kampus UMK, tepatnya di Desa Dersalam,
Kecamatan Bae, Kudus. Total karyawan yang bekerja di Pantura Laundry saat ini sekitar 50 orang.
“Tempat yang berada
di Jalan Pemuda itu khusus untuk pengerjaan laundry pakaian. Sedangkan yang di
Jalan UMK untuk pengerjaan sofa, karpet, spring bed dan lainya,” ungkap
Budi.
- advertisement -

Penonton Terpukau Saat Marwah Lantunkan Syair Kematian Cinta di Omah Mode

0
SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Laki-laki berkemeja putih tampak memejamkan
mata sambil memegang mikropon di atas panggung. Dia terlihat sedih saat melantunkan lagu yang
dibawakan bersama seorang wanita yang berdiri di sampingnya. Suara biola dan sahutan drum berbunyi lirih mengiringi lantunan lagu yang dibawakan Tao, vokalis Marwah Band tersebut.

Marwah Band Kudus
Marwah Band tampi di Omah Mode Kudus saat launching album pertama. Foto: Imam Arwindra

“Diammu membuatku menderita, diammu di atas pembaringanku,
membuat hatiku luka,”  sepenggal bait yang dilantunkan vokalis Marwah Band mengawali lagu, dalam launcing album Cinta Berdebu, di Omah Mode, Jalan Jendral  A. Yani, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus, Sabtu (25/6/2016).

Menurut Hasan Aoni, pendiri Marwah Band, syair dalam lagu dibuat Direktur PT Djarum, Thomas Budi Santoso, yang berjudul
Kematian Cinta. “Lagu tersebut sesuai syair aslinya dari penyair hebat Bapak
Thomas Budi Santoso yang kami aransemen,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com.
Para menonton yang hadir terdiam saat mendengarkan setiap
lirik lagu yang dibawakan itu. Pak Zap, begitu Thomas Budi Santoso biasa disapa, yang duduk di meja tengah,
sesekali tersenyum saat mendengarkan
lagu itu. Riuh tepuk tangan membahana ketika Kematian Cinta selesai dilantunkan. 

“Lagunya bagus, aransemennya bagus, suaranya bagus
yang paling penting penjiwaannya bagus. Terima kasih atas lagunya, saya merasa
terpuji dan senang,” ungkap Pak Zap menanggapi penampilan Marwah Band.

Direktur PT Djarum thomas budi santoso
Direktur PT Djarum Thomas Budi Santoso

 Thomas menuturkan, lagu yang berjudul Kematian cinta
merupakan sebuah puisi yang pernah ditulisnya. Puisi itu berjudul
“Diammu Membuat Aku Menderita”. Menurutnya, puisi itu menceritakan tentang
istrinya yang sedang marah kepadanya. 


“Kalau
istri saya sedang marah dia terdiam dan itu membuatku menderita. Sehari saja saya tidak
berbicara dengan istri, saya merasa susah. Karena setiap ada masalah, saya selalu berbicara dengannya,” terangnya sambil tersenyum.
Hasan Aoni menuturkan, dalam penggarapan lagu Kematian
Cinta, liriknya sesuai syair asli yang ditulis oleh Pak Zap. Menurutnya, lagu Kematian Cinta merupakan lagu tersulit penggarapannya dalam album yang dibuat. “Pembuatan lagu ini sampai take lima kali, karena kami
tidak menulis sedikitpun senandung lirik tersebut,” jelasnya.
Dia menjelaskan, di setiap tubuh manusia terdapat metronom
yang bernama detak jantung. Lalu ada harmoni yang namanya detak jantung yang
tidak pernah bertarung dengan nafas. Itu menunjukkan di dalam tubuh sebetulnya ada senandung. “Mari kita bersenandung, setelah itu
direkam. Lalu tentukan topik apa yang ingin dibuat lagu. Setelah itu
keluarkan liriknya,” tambahnya.
Marwah Band, mempunyai tujuh personel. Mereka di antaranya Tao, Novia dan Kinasih pada vokal, Ryo sebagai gitaris, Ermin sebagai kibordis, Agus pada bass dan Petrus pada drum. Mereka melauncing
delapan lagu pada album perdana yang bertajuk Cinta Berdebu.

- advertisement -

Pesantren Mahasiswa STAIN Kudus Santuni Anak Yatim dan Bagikan Makanan Takjil

0

SEPUTARKUDUS.COM, STAIN – Tiga perempuan berkerudung terlihat duduk di depan Masjid Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus. Satu di antara mereka tampak sibuk makanan berbuka bagi anak yatim piatu sekaligus peringatan Nuzulul Quran di Masjid STAIN Kudus. Acara itu diselenggarakan mahasiswa penerima Bantuan Pendidikan Miskin Berprestasi (Bidik Misi) kampus setempat. 

Pelaksana kegiatan yang tergabung dalam Ma’had Al-Jamiah (Pesantren Mahasiswa) STAIN Kudus dipimpin oleh Muhammad Sajudin. Dia menuturkan, acara yang diadakan itu merupakan rangkaian kegiatan selama Ramadan. 

“Dalam ayat Al-Quran sudah dijelaskan tentang bagaimana kita harus baik kepada orang-orang miskin dan anak-anak yatim, kami ingin ikhtiar menjalankan perintah tersebut,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com, belum lama ini.

Dia menuturkan, kegiatan seperti itu sering mereka lakukan setiap tahun. Mereka sudah empat tahun terakhir menyelenggarakan kegiatan serupa. “Biasanya kami menyelenggarakan santunan anak yatim piatu pada saat suronan. Namun bulan Puasa tahun ini juga tepat untuk berbagi,” tuturnya.

Sajudin menjelaskan, anak yatim piatu yang hadir hari ini sekitar 30 orang, ditambah mahasiswa Bidikmisi sebanyak 60 orang. Selain santunan, ada pengajian dan buka bersama. “Anak-anak yatim tersebut juga hadir bersama walinya. Mereka dari Desa Dersalam dan Karangbener, bukan dari panti asuhan,” tuturnya.

Kegiatan santunan anak yatim yang biasa dilakukan saat bulan Muharam menghadir sekitar 170an orang. Untuk Ramadan ini tak sebanyak bulan tersebut. “Nanti Suronan kita ada santunan anak yatim lagi,” tuturnya.

Kegiatan yang dilakukan sejak awal puasa, menurutnya, akan ditutup dengan pembagian minuman takjil gratis Sabtu (25/6/2016) sore di kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus.

“Kegiatan Al-Jami’ah (Pesantren Mahasiswa) STAIN Kudus selama Ramadan ada pengajian kitab, orasi mahasiswa, kajian ilmiah, tadarus di masjid, Tarawih bersama, hafalan Jus Amma, peringatn Nuzulul Quran dan ditutup dengan pembagian takjil gratis di Alun-alun Kudus, perempatan MA Mu’alimat dan beberapa titik yang sudah kita tentukan,” jelasnya.

- advertisement -

Di Toko Ali Jaya Pengunjung Bisa Memesan Bentuk Sandal dan Sepatu Kulit yang Diinginkan

0

SEPUTARKUDUS.COM, PLOSO – Toko Sepatu dan sandal di seberang selatan Makam Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kudus, siang itu terlihat ada beberapa orang pembeli. Ada juga seorang pria yang datang membawa sepatu untuk diperbaiki. Di toko tersebut tertulis Pusat Reparasi Ali Jaya. Di toko tersebut pembeli bisa memesan bentuk yang diinginkan selagi bahan sepatu yang dipesan tersedia.

Ali Askan (37), generasi ke dua pengelola toko Ali Jaya menuturkan, di tokonya tersebut pembeli bisa memesan bentuk tertentu asalakn bahan untuk pembuatan sepatu atau sandal yang dipesan tersedia, atau setidaknya bahan tersebut ada di pasaran.

“Kalau di toko Ali Jaya tidak ada setok bahan pembuatan untuk sepatu dan sandal yang dipesan, atau bahan tersebut sudah langka di pasaran, kami tidak mau menerima pesanan tersebut. Karena kami selalu mengutamakan kualitas dan kepuasan para pelanggan,” kata pria yang biasa disapa Ali kepada Seputarkudus.com.

Menurutnya, untuk bentuk sepatu dan sandal di Toko Ali Jaya kebanyakan klasik, tetapi untuk kualitas dan kekuatan sandal dan sepatu dari tokonya bisa diuji. “Selama ini belum ada pembeli maupun orang yang memperbaiki sandal dan sepatunya komplain,” ujarnya.

Ayah dua anak itu mengatakan,  selain menjual sepatu dan sandal kulit, di tokonya juga menerima reparasi kedua barang tersebut. Menurutnya sebelum menjadi toko, ayahnya yang bernama Rohmat membuka jasa reparasi sepatu pada tahun 1979.

Pada sekitar tahun 1980, kata Ali, bapaknya selain melayani perbaikan juga memulai memproduksi sepatu dan sandal berbahan kulit. Saat ini dia dibantu sekitar lima orang untuk membuat serta mereparasi sandal dan sepatu.

“Alhamdulillah dalam beberapa tahun ini juga ada pelanggan tetap yang selalu memesan sepatu dari toko Ali Jaya, di antaranya, Akper Kridha Husada Kudus,” ungkapnya.

- advertisement -

Penjualan Pakaian Muslimah di Kios Pasar Kliwon Ini Menurun, Kok Bisa

0

SEPUTARKUDUS.COM, KLIWON – Di dalam kios bercat putih tampak beberapa  perempuan sibuk memilih baju. Di sudut lain terlihat seorang pria sedang duduk di kursi mengawasi semua kegiatan di dalam kios tersebut. Pria itu bernama Nor Yoto (55), pemilik kios di Pasar Kliwon yang menjual pakaian muslimah. Selama Ramadan penjualan pakaian muslimah di tokonya justru mengalami penurunan.

Memasuki bulan Ramadan, kata Nor, penjualan berbagai macam pakaian muslimah di kiosnya mengalami penurunan di banding bulan lalu. Itu karena di kios miliknya hanya menjual pakaian secara grosir. Pembeli yang menjadi pelanggannya kebanyakan sudah membeli pakaian musliman yang tengah menjadi tren dua bulan sebelum Puasa.

“Selama Ramadan aku hanya menjual pakaian muslimah sisa penjualan bulan lalu. Aku tidak berani menyetok pakaian, soalnya para pelanggan sudah membeli jauh-jauh hari sebelum puasa. Kemudian pakaian tersebut dijual di toko mereka Ramadan hingga menjelang Lebaran,” kata Nor kepada Seputarkudus.com.

Nor mengatakan, dirinya masih akan menyetok beberapa pakaian muslimah berbagai jenis karena saat ini masih ada banyak permintaan dari pelanggannya. Pakaian yang hingga kini masih ada permintaan di antaranya gamis Syar’i, gamis Longkarji.

Menurut pria pemilik kios bernama Fajar Indah yang berada di Pasar Kliwon blok B 25 tersebut, sudah berdagang di Pasar Kliwon mulai tahun 1983. Saat ini dirinya memiliki punya dua kios. Dia mempunyai puluhan pelanggan dari berbagai daerah.

“Untuk membantu dalam melayani para pelanggan di tokoku, aku mempekerjakan sekitar 17 karyawan dengan tugas yang sudah aku tentukan. Dan kalau dikalkulasi hasil dari penjualan pakaian muslimah di tokoku rata-rata omzetnya sekitar Rp 250 juta sebulan, “ ujarnya.

- advertisement -

Grup Assalam Pikat Juri dan Penonton Festival Tongtek dengan Pakaian Khas Jawa

0

SEPUTARKUDUS.COM, LORAM KULON – Riuh tepuk tangan terdengar ramai menyambut kedatangan peserta Festival Tongtek yang akan menampilkan kreasi tongtek di Depan Masjid Wali Loram Kulon, Sabtu (25/6/2016) malam. Satu di antara peserta tongtek yakni grup Assalam yang mengenakan pakaian lurik dan blangkon. Mereka membawa perlengkapan musik yang hampir keseluruhan berbahan bambu.

Peserta Festival Tongtek Kec Jati Kudus

Pelatih grup Assalam, Ari (29), menuturkan, dalam Festival Tongtek yang diadakan Pengurus Anak Cabang (PAC) GP Ansor dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Jati, timnya ingin menampilkan pertunjukan dengan khas adat Jawa.

Grup Assalam yang terdiri dari 10 orang,  mengenakan baju lurik dan blangkon khas Jawa berwarna coklat. Bbawahannya, mereka mengenakan celana pendek berwarna hitam dengan bergaris merah. “Untuk musiknya kami tidak menggunakan alat elektonik. Kami memilih yang alami, yakni kentongan dan angklung berbahan bambu,” jelasnya kepada Seputarkudus.com.

Ari memberitahukan, persiapan untuk mengikuti kegiatan tersebut hanya dua hari. Menurutnya, dia bersama timnya hanya ingin ikut meramaikan kegiatan yang telah menjadi tradisi masyarakat Jawa. “Tongtek termasuk tradisi yang melekat di masyarakat Jawa. Terebih ketika Ramadan, tradisi ini digunakan membangunkan orang untuk sahur,” ungkapnya.

Dia yang mendapatkan nomor urut delapan menuturkan, rata-rata anggotanya siswa SMK Muhammadiyah. Dia mengajak mereka untuk ikut melestarikan tradisi tongtek yang mulai hilang. “Di daerah saya, anak-anak yang biasanya tongtek menjelang sahur sudah mulai tidak ada. Sepatutnya kita harus menjaga tradisi ini,” tambahnya.

Ketua panitia Festival Tongtek Eko Budi Setiawan mengungkapkan, kegiatan ini diikuti 35 tim. Tongtek dimulai dari Lapangan Kongsi Loram Wetan menuju Masjid Wali Loram Kulon. “Tongtek dimulai usai salat Tarawih dan berakhir sekitar jam 23.00 WIB,” tuturnya.

Menurutnya, peserta lomba diberi waktu lima menit untuk menampilkan kreasi mereka di depan juri dan masyarakat yang hadir. “Penilainnya tentang keindahan musik tongtek, kreativitas, dan kekompakan,” jelasnya.

Menurutnya, dalam perlombaan tongtek, peserta tidak diperkenankan menggunakan alat musik elektronik. Setiap grupnya terdiri dari 10-15 orang. “Tim terbaik mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp 1,5 juta dan trofi,” tuturnya.

Dia menambahkan kegiatan ini pertama kali digelar oleh PAC Ansor dan IPNU Jati. Menurutnya, kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan traidis yang mulai ditinggalkan. “Seiring berkembangannya zaman, tongtek mulai ditinggalkan,”tambahnya.

- advertisement -

Kisah Teladan (16) Ketika Nabi Sulaiman Menemukan Pria Berusia 1.400 Tahun di Dasar Laut

0

Dikisahkan Alfai’i, suatu ketika Allah berfirman kepada Nabi Sulaiman untuk pergi ke tepi laut. Di sana Dia akan menemukan sesuatu yang ajaib. Dijalankanlah perintah itu oleh Nabi Sulaiman, bersama sejumlah pengawal dari bangsa jin dan manusia.

Sesampainya di tepi laut, Nabi Sulaiman tak menemukan apapun seperti apa yang difirmankan Allah. Dia kemudian memerintahkan jin untuk menyelam ke dalam laut, namun jin itu tak menemukan sesuatu yang ajaib.

Nabi Sulaiman kemudian memerintahkan ifrit untuk menyelam lebih dalam. Setelah menyelam dua kali lebih dalam, ifrit pun tak menemukan apapun. Nabi Sulaiman kemudian memerintahkan Ashif bin Barkiyah, pengawal dari bangsa manusia yang dikenal alim.

Setelah diperintahkan Nabi Sulaiman, Ashif kemudian bermunajat kepada Allah. Seketika itu, munculah sebuah istana berkubah yang memiliki pintu yang terbuat dari yaqut, zabarjad, intan permata, dan mutiara. Istana itu berada di dasar laut yang dalamnya tiga kali jarak yang bisa ditempuh ifrit.

Setelah pintu-pintu istana terbuka, rombongan Nabi Sulaiman melihat seorang manusia yang tengah mengerjakan salat. Nabi Sulaiman kemudian masuk dan bertemu dengan hamba Allah yang berada di dalam istana. 

“Bagaimana kamu bisa tinggal di dalam istana yang berada di dasar laut,” tanya Nabi Sulaiman. 

“Ya Babiyullah, dulu aku memiliki ayah yang lumpuh dan ibu yang buta. Aku melayani mereka selama tujuh puluh tahun. Ketika ibuku akan meninggal, dia berdoa agar selama umurku bisa hidup sebagai orang yang taat kepada Allah. Ketika ayakku akan meninggal, dia berdoa agar aku ditempatkan di suatu tempat yang tak bisa dijangkau setan,” ujar pria tersebut.

Nabi Sulaiman kemudian bertanya lagi, “pada zaman siapa kamu hidup.” “Aku hidup pada zaman Nabi Ibrahim,” jawabnya. Diperkirakan pria itu telah hidup selama 1.400 tahun.

“Lalu bagaimana engkau makan,” tanya Nabi Sulaiman. “Seekor burung membawakan aku makanan sebesar kepala manusia setiap hari ke dasar lau. Setelah aku memakannya, rasa lapar dan dahagaku seketika itu hilang. Saya pun tak merasakan malas dan jemu,” jawabnya.

Nabi Sulaiman menawarkan kepada pria itu untuk ikut bersama-Nya, namun ditolak. Dia meminta Nabi Sulaiman untuk mengembalikan dia dan istana yang ditempatinya ke dasar laut. (Wallahu A’lam)

- advertisement -

Sahabati PMII Kudus Ini Tebar Senyum di Lampu Merah Demi Korban Bencana di Purworejo

0

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Dua perempuan berjilbab berjalan di sela-sela kendaraan yang berhenti di lampu merah Jember. Mereka terlihat menyodorkan kardus yang bertuliskan Penggalangan Dana Korban Longsor Purworejo kepada pengendara yang berhenti. Senyum kedua anggota PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kudus itu selalu mengembang, dengan harapan pengendara mau mendonasikan sedikit uang untuk korban bencana longsor di Purworejo.

Satu di antara perempuan tersebut yakni Nurul Masyitoh (19). Menurut mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) semester enam itu, mereka harus ramah kepada pengendara dengan cara tersenyum dan sedikit merayu. “Tidak merayu nakal loh ya. Hanya memberi senyuman dan mengajak untuk berdonasi kepada korban longsor di Purworejo. Intinya bersikap ramah,” ungkapnya saat ditemui permpatan Jember, Jumat (24/6/2016).

Dengan cara seperti itu, menurutnya, banyak pengendara yang memberikan donasi kepadanya. Mereka percaya bahwa penggalangan dana yang dilakukan bukan untuk keuntungan kelompok, melainkan untuk korban longsong di Purworejo.

“Kadang ada yang tanya, saya jawab dengan sejelas-jelasnya. Karena mereka harus kami buat percaya bahwa sumbangan mereka akan disalurkan untuk membantu korban bencana di Purworejo,” jelasnya.

Kordinator aksi penggalangan dana, Zahrotul Anisah menuturkan, mereka disebar di enam titik lampu merah di Kabupaten Kudus. “Penggalangan dana kami lakukan di enam titik, yakni Ngembal, Proliman, Rumah Sakit Aisiyah, Jember, Matahari dan di sekitar DPRD,” tuturnya.

Kegiatan ini menurutnya sangat penting untuk membantu korban longsor di Purworejo. Menurutnya, para korban di sana sedang membutuhkan pakaian bersih, sembako dan uang. “Kami sudah berkordinasi dengan sahabat PMII Purworejo bahwa yang sedang dibutuhkan yakni pakaian bersih, sembako dan uang. Kami dari Kudus mencoba ikut serta membantu,” tambahnya.

Anisa yang juga Ketua BEM STAIN Kudus mengungkapkan, penggalangan dana yang dilakukan kemarin terkumpul Rp 4 juta lebih. Dana tersebut akan ditransfer kepada sahabat PMII Purworejo yang kemudian akan diberikan kepada korban bencana.

Menurutnya, penggalangan dana akan terus dilakukan sesuai dengan perkembangan informasi kebutuhan di Purworejo. “Kami selalu update informasi terkini di Purworejo. Sudah ada PMII Purworejo di sana,” terangnya.

- advertisement -

Setelah THR Cair, Toko Sandal dan Sepatu Kulit di Ploso Ini Raup Omzet Rp 10 Juta Sehari

0

SEPUTARKUDUS.COM, PLOSO – Ratusan pasang sepatu dan sandal berbahan kulit dipajang di sebuah bangunan berlantai keramik, di selatan Jalan Mayor Basuno, Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kudus. Bangunan yang dijadikan toko sepatu dan sandal itu bernama Toko Ali Jaya. Selain menjual, toko itu juga dijadikan tempat reparasi sepatu dan sandal hasil produksi sendiri. Pada Bulan Ramadan ini, penjualan sandal dan sepatu kulit di toko tersebut meningkat hingga 100 persen.

Ali Aksan (37), pengelola Toko Ali Jaya, menuturkan, penjualan sandal dan sepatu kulit di tokonya selama Ramadan ini mengalami peningkatan hingga dua kali lipat dibanding bulan-bulan sebelumnya. Bila hari-hari biasa hanya mampu menjual 10 pasang dalam sehari, selama Ramadan ini mampu menjual sekitar 20 pasang sandal dan sepatu kulit, untuk pria dan wanita dengan berbagai jenis.

“Selama puasa memang sudah ada peningkatan penjualan, hingga mampu menjual 20 pasang sandal kulit setiap harinya. Tapi puncak penjualan biasanya sepekan sebelum Lebaran. Selama sepekan itu setiap harinya bisa menjual sekitar 50 pasang sandal untuk pria dan wanita,” ujar pria yang akrab disapa Ali kepada Seputarkudus.com

“Selama Ramadan ini bisa mendapatkan omzet sekitar Rp 5 juta sehari. Sedangkan target omzet untuk tujuh hari menjelang Lebaran sekitar Rp 10 juta sehari,” tambah Ali.

Ayah dua anak itu mengungkapkan, meningkatnya penjualan di pekan terakhir Ramadan karena para karyawan, buruh pabrik dan para pegawai sudah menerima tunjangan hari raya (THR). Biasanya uang THR itu mereka gunakan untuk berbelanja kebutuha Lebaran, termasuk dengan membeli sandal dan sepatu.

Ali mengatakan, selain menjual sandal dan sepatu yang diproduksi sendiri, di tokonya tersebut dia juga menjual sandal dan sepatu untuk produksi pabrikan dengan berbagai merek. Sejumlah merek yang dijual di tokonya antara lain, Pakalolo, Carvil, dan Homyped.

“Kami menjual sepatu dan sandal produksi pabrik, biar toko kami terlihat lengkap dengan banyak pilihan. Sekarang di toko Ali Jaya juga menjual berbagai macam tas, ikat pinggang dan lain sebagainya,” ungkap Ali.

- advertisement -

Indahnya Masjid di Gondosari Gebog, Padukan Arsitektur Timur Tengah dan Jawa

0

SEPUTARKUDUS.COM, GONDOSARI – Bangunan menara masjid di Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, ini menjulang tinggi ke atas. Bangunan masjid dua lantai ini dominan warna abu-abu muda dan merah tua yang tampak minimalis. Dari luar, arsitektur masjid menyuguhkan keindahan masjid ala Timur Tengah. Hal tersebut diperkuat dari bentuk jendela dan beberapa ornamen-ornamen pelengkap yang ditambahkan pada masjid tersebut.

 Masjid yang berada di Dukuh Gedondong ini bernama Baiturrokhim. Atap masjid memiliki tiga tingkat yang terbuat dari susunan genting dengan sebuah cungkup di sisi atas. Kubah masjid Baiturrokhim tampak seperti mustaka yang terdapat di Masjid Demak.

 Mahmudi, takmir masjid tersebut mejelaskan, di bagian luar Masjid Baiturrokhim memiliki arsitektur ala Timur Tengah, namun di dalamnya kental dengan nuansa Jawa. “Di sisi depan dan sekitar masjid dibuat khas Timur Tengah. Namun di dalam masjid banyak  ukiran-ukiran yang menjadikan ruangan salat kental dengan nuansa Jawa,” ungkapnya ketika ditemui di Masjid Baiturrokhim, Selasa (21/6/2016).

Di ruang utama salat terdapat tiga gebyok terbuat dari kayu jati yang diukir. Satu gebyok di ruang pengimaman tingginya sekitar lima meter dan lebar empat meter. Temboknya dilapisi marmer dan kaligrafi lafadz Allah yang dilingkari lafadz sahadat. “Ukirannya khas Jepara. Di kanan-kiri juga ada gebyok dengan dua pintu. Itu juga berjenis ukir Jepara,” tambahnya.

Dilangit-langit ruang utama salat terdapat kubah terbuat dari baja yang dilapisi dengan ukiran-ukiran kayu. Lampu-lampu tergantung, menambah keiindahan di ruangan utama salat.

Dia memberitahukan, masjid yang berukuran 25×15 meter dirancang oleh H Usman. Pembangunan masjid dimulai 2005 dan selesai pada 2008. Dia tidak bisa mengungkap jumlah dana yang digunakan untuk membangun masjid tersebut. Namun menurutnya, dana pembangukan bersumber dari masyarakat, pengusaha dan kekurangannya ditutup sebuah perusahaan rokok, yakni Rokok 45. “Jumlah pembangunan habis uang berapa dirahasiakan. Saya tidak bisa menyebutkan,” tuturnya.

Menurutnya, Masjid Baiturrokhim dulu hanya sebuah musala kecil yang mampu menampung 40 orang jamaah saja. Musala didirikan pertama kali sekitar tahun 1940. “Sekarang bisa menampung 500 jama’ah,” tuturnya.

- advertisement -

Kisah Teladan (15) Doa Pemilik Gubuk yang Meruntuhkan Istana Raja

0

Pada suatu masa ada seorang perempuan dari Bani Israel yang tinggal di sebuah gubuk, tak jauh dari istana seorang raja. Sang raja merasa terganggu dengan rumah wanita tersebut, karena dinilai mengurangi keindahan istananya. Maka raja menginginkan rumah wanita itu dan berniat membelinya.

doa

Namun perempuan tersebut menolak menjual gubukyang ditempati bersama keluarganya. Suatu hari, perempuan tersebut pergi meninggalkan rumahnya karena suatu urusan. Raja memerintahkan bala pengawalnya untuk merobohkan rumah milik wanita itu.

Ketika wanita itu kembali, dia mendapati rumahnya rata dengan tanah. “Siapa yang telah merobohkan rumahku,” tanya wanita itu kepada orang di sekelilingnya. “Raja yang telah merobohkan rumahmu sehingga rata dengan tanah,” jawab orang yang ada di sekitarnya.

Seketikua itu wanita tersebut menengadahkan tangannya dan bermunajad kepada Allah. “Ya Tuhanku, meski aku pergi, Engkau tetap hadir dan menolong hamba-Mu yang lemah, menolong hamba-Mu yang teraniaya,” ucap wanita tersebut.

Setelah bermunajad, wanita itu tak pergi dan duduk di antara puing-puing rumahnya. Tak beberapa lama, raja datang bersama rombongan pengawal. “Kenapa kau tidak pergi,” tanya raja.

“Aku menunggu istanamu,” jawab wanita tersebut yang kemudian ditertawakan raja dan bala pengawalnya. 

Malam harinya, tiba-tiba terjadi longsor besar. Istana raja yang megah itu runtuh dan para penghuninya binasa bersama runtuhnya istana. 

- advertisement -

Inilah Sosok di Balik Pembuatan Aplikasi Pemira UMK

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) telah melaksanakan Pemilihan Umum Raya (Pemira) untuk memilih presiden BEM UMK, BEM fakultas dan sejumlah himpunan, Kamis (23/6/2016). Pemilihan langsung yang digelar serentak tersebut kali pertama diselenggarakan dan menggunakan aplikasi pemilihan yang terintegrasi melalui sambungan internet. 

Muhammad Arifin (33), adalah sosok di balik aplikasi Pemira tersebut. Dia mengatakan, pembuatan aplikasi tersebut hanya membutuhkan waktu satu bulan. Dosen Progam Studi Sistem Informasi itu mengatakan, aplikasi tersebut menggunakan Hypertext Preprocessor (PHP). “Aplikasinya tidak Java melainkan PHP,’” jelasnya kepada Seputarkudus.com, Jumat (23/6/2016).

Dia menjelaskan, aplikasi itu bisa disematkan pada portal yang mempunyai dua sistem. Yang pertama administrasi pemilih yang dioprasikan Komisi Pemilihan Uumum Mahasiswa (KPUM) dan selanjutnya yang dioprasikan pemilih. “Mahasiswa yang akan memilih harus punya password login dulu yang diberikan oleh KPUM. Setelah dia login di portal, dia bisa memilih calon presiden dengan cara mengeklik fotonya,” terangnya.

Menurutnya, di wilayah Pantura Timur, kampus yang menyelenggarakan pemira menggunakan aplikasi baru di UMK. Dia melanjutkan, selain mudah, proses hasil akhir pemilihan bisa langsung diketahui dengan cepat. “Pemilihan tidak perlu menggunakan kertas. Hanya tinggal klik saja,” tuturnya.

Arifin memberitahukan, file aplikasi yang dibuatnya juga berkapasitas sedikit. Jika tidak diberi foto hanya 80 MB. “Kalau diberi foto sekitar 100 MB saja,” jelasnya.

Sistem penyimpanan datanya mengikuti server atau hosting milik kampus UMK. menurutnya portal sistemnya harus terkoneksi dengan internet. “Alamat situsnya pemirabem.umk.ac.id,” tambahnya.

Ketua Komisi Pemilihan Umum Mahasiwa (KPUM), Noor Anisa Apriliyani menuturkan, ada sekitar 5.600 mahasiswa UMK yang memiliki hak pilih dalam Pemira. Mereka akan memilih Presiden BEM Universitas, BEM Fakultas dan Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan. “Ada 16 pasangan calon yang bertarung di Pemira. Jumlah TPS ada 11,” ungkapnya.

- advertisement -

Yamaha Nmax, Sepeda Motor Tambun yang Jadi Primadona Warga Kudus Jelang Lebaran

0

SEPUTARKUDUS.COM – Di sebuah bangunan di tepi Jalan Sunan Kudus, berjajar beberapa sepeda motor berbagai varian tanpa plat nomor. Bangunan itu milik Yamaha Mataram Sakti Kudus. Dealer yang khusus menjual hasil pabrikan berlogo garputala tersebut, saat ini memiliki produk andalan yang banyak digandrungi semua kalangan, yakni Yamaha Nmax. Sejak awal bulan hingga menjelang Lebaran ini, dealer tersebut telah menjual motor berbadan tambun itu.

Menurut Agusti Tunggalsih Priyoko (34), Kepala cabang Yamaha Mataram Sakti, penjualan produk pada bulan ini mengalami kenaikan sekitar 15 persen dibanding bulan sebelumnya.

“Mulai tanggal satu sampai pertengahan bulan, Yamaha Mataram Sakti Kudus sudah menjual sekitar 70 unit motor berbagai varian. Sedangkan pada bulan lalu pada tanggal yang sama terjual sekitar  54 unit. Dan merek yang pling laris adalah yamaha Nmax,” ujar pria yang disapa Agusti kepada Seputarkudus.com.

Menurut Agusti, hingga pertengahan bulan ini Yamaha  Nmax mampu terjual sekitar 40 unit. Angka itu unggul jauh dari Yamaha Vixion yang hanya terjual sekitar 20 unit. Sedangkan penjulan produk lainnya hanya sekitar 10 unit.

Pria yang sudah empat tahun bekerja di Yamaha Mataram Sakti itu mengatakan, Yamaha Nmax diminati masyarakat Kudus karena berjenis matik, memakai Blue Core sehingga irit, nyaman dibuat berkendara, stylish, dan cocok dipakai pria serta wanita, muda maupun kalangan tua.

Di tempat penjualan motor itu terlihat ramai. Di sudut lain tampak beberapa orang tengah duduk menunggu motor mereka yang sedang diservis. Dan tidak jauh dari Agusti duduk, tampak dua orang pria sedang mengamati beberapa motor yang masih terbungkus.

Agusti mengatakan, Yamaha Mataram Sakti selain melayani penjualan juga menyediakan bengkel sebagai fasilitas servis gratis, dan ganti oli gratis. Fasilitas itu diberikan untuk pembelian motor baru.

“Untuk pembayaran semua pembelian motor Yamaha bisa dibayar secara tunai, angsuran bulanan, ataupun angsuran musiman. Untuk promo selama Ramadan, Yamaha Mataram Sakti Kudus mengadakan promo pembelian tanpa DP untuk jenis tertentu,” ujarnya.

- advertisement -

Tukang Becak Warga Garung Lor Ini Selalu ke Masjid Saat Adzan Dzuhur dan Ashar Terdengar

0

SEPUTARKUDUS.COM, SUNGGINGAN – Di Jalan Kiai Telingsing, tak jauh dari Pertigaan Sunggingan terdapat sebuah masjid. Bangunan yang berada di sebelah barat jalan tersebut bernama Masjid Al-Anwar, tepat berada di depan Kafe Kopi Cilik. Di pintu masjid tampak seorang pria mengenakan sarung, kemeja dan peci, menuju kamar mandi, hendak mengganti baju. Sulaiman (55), nama pria tersebut, seorang tukang becak yang selalu menyempatkan waktu untuk salat lima waktu dan tidak pernah alpa berpuasa Ramadan.

Kepada Seputarkudus.com, Sulaiman menceritakan rutinitasnya ke masjid tersebut. Dia menuturkan, setiap hari dirinya datang ke Masjid Al-Anwar untuk melaksanakan salat Dzuhur dan Ashar setelah kumandang adzan terdengar. Selesai salat dia mengaku menyempatkan diri berdzikir dan berdoa agar selalu diberi keberkahan di Bulan Ramadan.

“Alhamdulillah, selama ini aku setiap hari selalu melaksanakan salat lima waktu dan selalu berpuasa di Bulan Ramadan. Bahkan bila puasaku ada yang gagal, sesudah Lebaran Ketupat aku mengganti puasa yang gagal tersebut,” kata Sulaiman.

Dia mengaku sayang jika Ramadan tak menjalankan puasa, karena menurutnya hidup di dunia tidak selamanya. “Kalau kita tidak beribadah apa bekal yang kita bawa pada waktu meninggal. Ibadah bisa buat bekal nanti waktu di akhirat karena harta benda yang kita miliki di dunia hanya titipan,” tuturnya.

Warga Desa Garung Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, itu sudah menjadi tukang becak selama 25 tahun. Setiap hari dia mangkal di Pertigaan Sunggingan bersama rekan-rekannya sesama tukang becak menunggu penumpang.

Sulaiman yang mengaku mempunyai empat anak dan enam cucu tersebut selalu berangkat dari rumahnya dengan mengayuh becaknya, begitu juga saat pulang. “Selama puasa ini penghasilan menurun. Hari ini setelah salat Dzuhur aku baru mendapatkan uang Rp 17 ribu. Padahal biasanya sebelum puasa pada jam yang sama aku sudah mendapatkan RP 25 ribu,” ungkapnya.

- advertisement -

Tempat Khotbah Masjid Ini Memiliki Tiga Anak Tangga, Sama Seperti Masjid Menara

0

SEPUTARKUDUS.COM, LANGGAR DALEM – Benda ini mempunyai lebar sekitar satu meter. Letaknya di dekat pengimaman salat Masjid Kaujon, Desa Langgar Dalem, Kecamatan Kota, Kudus. Terdapat tempat duduk dan mikropon kecil yang digantungkan di dekat jendela. Benda tersebut yakni tempat khatib menyampaikan khutbah Jumat. Di Masjid Kaujon, seorang khatib harus meniti tiga anak tangga sebelum berkhotbah, seperti di Masjid Al-Aqsa Menara Kudus.

Menurut Takmir Masjid Kaujon, Mustamir (60), tiga anak tangga yang terdapat di tempat khotbah itu dibuatan Syekh Jafar Shodiq Sunan Kudus. Hingga kini, tempat khotbah dengan tiga anak tangga itu masih dipertahankan. Menurutnya, tempat khotbah di Masjid Kaujon sama seperti di Masjid Al-Aqsa Menara Kudus.

“Terdapat tiga anak tangga setelah itu ada tempat duduk. Disampingnya ada tongkat seperti tombak,” tuturnya kepada Seputarkudus.com belum lama ini.

Menurutnya, kesunahan seorang khatib ketika akan menyampaikan khotbah selain membawa tongkat, yakni sebelum duduk di tempat khotbah mengucapkan salawat tiga kali yang dipandu oleh bilal. “Setiap salawat yang diucapkan bilal, khotib naik satu anak tangga,” terangnya.

Baca Juga: Masjid yang Dibangun Sunan Kudus Ini Tak Digunakan untuk Jumatan

Dia menjelaskan, sebelum khatib duduk di tempat khotbah, dia berjalan menuju tempat duduk dengan naik tangga satu per satu. Setiap satu langkah khatib membaca salawat. Setelah sampai di tangga ke tiga, sebelum khatib berbalik badan menghadap jamaah, bilal membaca doa. Khatib kemudian mengucapkan salam dan duduk. Setelah itu bilal mengumandangkan adzan kedua. “Kesunahan tersebut diajarkan oleh Sunan Kudus, sampai sekarang masih dijalankan,” ungkapnya.

Dia menceritakan, Masjid Kaujon sejak dibangun Sunan Kudus sebenarnya tak digunakan untuk salat Jumat. Masyarakat ketika itu melakukan salat Jumat terpusat di Masjid Menara Kudus. Masjid Kaujon baru digunakan salat Jumat sejak tahun 2005. Menurut Mustamir, masjid tersebut didirikan oleh Sunan Kudus bersamaan dengan Masjid Menara Kudus. “Masjid Kaujon didirikan oleh Sunan Kudus untuk salat lima waktu dan mengaji,” ungkapnya.

Kaujon yang digunakan untuk penamaan masjid tersebut, katanya, brasal dari nama dukuh, letak masjid itu berdiri. Menurutnya, sekarang selain dipergunakan untuk salat Jumat, Masjid Kaujon juga digunakan mengaji oleh santri-santri Pondok Pesantren Roudlotul Muta’alimin. 

- advertisement -