Beranda blog Halaman 141

Tanggul Darurat Hanya Bertahan 6 Bulan, Pemerintah Diminta Segera Bangun Tanggul Permanen

0
Pembangunan tanggul darurat di Desa Ketitangwetan, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati yang jebol sepekan lalu mendapat perhatian serius dari Anggota Komisi VIII DPR RI, Sri Wulan. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Pembangunan tanggul darurat di Desa Ketitangwetan, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati yang jebol sepekan lalu mendapat perhatian serius dari Anggota Komisi VIII DPR RI, Sri Wulan. Dia meminta pemerintah segera membangun tanggul permanen untuk mengantisipasi adanya banjir di kemudian hari.

Untuk memastikan proses pembangunan tanggul darurat berjalan lancar tanpa kendala, politisi Partai Nasional Demokrat (NasDem) itu kembali meninjau langsung lokasi tanggul jebol, Senin (10/11/2025).

Baca Juga: Rayakan Harlah ke- 30, MAN 2 Pati Hijaukan Pesisir dengan Tanam 3 Ribu Pohon Mangrove

Sri Wulan datang dengan didampingi perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati.

Dalam kesempatan itu, Sri Wulan melihat pekerjaan tanggul di tiga titik yang paling kritis. Titik pertama di sisi jalan Pantura Pati-Rembang hingga titik ketiga di sepanjang tanggul Sungai Widodaren dengan total panjang sekitar 250 meter.

“Tadi kita lihat dari depan (titik satu) terus kemudian sampai di titik yang kedua, karena ini kan ada tiga titik. Di titik kedua ini cukup lumayan (kritis). Tadi ada penambalan tanggul sebelah kiri karena tidak bisa dilewati dan itu agak-agak longsor, jadi dibetulin sekalian,” katanya.

Sri Wulan menegaskan agar seluruh pihak terkait segera menuntaskan pembangunan tanggul sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan. Menurutnya, percepatan pembangunan sangat penting mengingat wilayah Pati kini mulai memasuki musim hujan.

“Tadi kita lihat bahwa hampir 50 persen lah ya, 50 persen 45 lah seperti itu. Terus kita lihat tadi juga sudah bagus dan pengerjaan delapan jam (sehari), ekstra juga sudah. Jadi diperkirakan nanti insyaAllah tujuh hari ke depan sudah clear semuanya,” ungkapnya.

Setelah tanggul darurat selesai, Sri Wulan berharap pemerintah pusat segera membangun tanggul permanen agar masyarakat di Desa Ketitangwetan dan sekitarnya tidak lagi dilanda kekhawatiran setiap kali musim hujan tiba.

“Jadi tanggul darurat ini kan kemungkinan kemampuannya bertahan hanya enam bulan. Makanya, nanti kita akan ajukan anggaran hibah yang dari BNPB agar pekerjaan tidak hanya sebatas ini saja,” ucapnya.

Baca Juga: Rencana Pendirian RS Bhayangkara di Pati Tuai Polemik

Selain itu, dia juga meminta BBWS dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati untuk segera melakulan normalisasi sungai ke arah Kali Gedon, Raci, sehingga aliran air bisa terbagi untuk menimalkan banjir.

“Kemudian nanti kita sampaikan juga ke pemerintah daerah untuk mengantisipasi, sehingga nanti jebolnya tanggul maupun banjir-banjir yang biasa terjadi tidak akan terjadi kembali,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Rp11,5 Miliar Digelontorkan untuk Perbaikan Tiga Ruas Jalan di Gunungwungkal

0
Perbaikan jalan di Kecamatan Gunungwungkal. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati terus berupaya meningkatkan infrastruktur jalan demi memperlancar mobilitas masyarakat. Saat ini, melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR), Pemkab tengah memperbaiki tiga ruas jalan utama di Kecamatan Gunungwungkal dengan total anggaran sekitar Rp11,5 miliar.

Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga DPUTR Pati, Hasto Utomo, menyebutkan tiga ruas jalan tersebut meliputi Gunungwungkal–Ngablak, Gunungwungkal–Jepalo, dan Bancak–Giling.

Baca Juga: Rayakan Harlah ke- 30, MAN 2 Pati Hijaukan Pesisir dengan Tanam 3 Ribu Pohon Mangrove

”Perbaikan jalan itu menjadi pekerjaan 1 koridor dengan pagu anggaran kurang lebih Rp11,5 miliar,” ujar Hasto, Senin (10/11/2025).

Proyek ini dikerjakan oleh CV. Sinar Andesit Mix dan sudah dimulai sejak 17 Oktober 2025. Pekerjaan ditargetkan rampung dalam waktu 70 hari kalender, atau selesai pada 26 Desember 2025.

”Dikerjakan oleh CV. Sinar Andesit Mix mulai pelaksanaan 17 Oktober 2025, masa pelaksanaan 70 hari kalender,” lanjut Hasto.

Menurutnya, panjang total jalan yang diperbaiki mencapai 10,8 kilometer dengan material aspal hotmix. Selain memperlancar mobilitas warga, proyek ini diharapkan juga mendorong kegiatan ekonomi, khususnya sektor pertanian dan pariwisata, karena ruas-ruas tersebut menjadi jalur menuju sejumlah destinasi wisata.

”Gunungwungkal-Ngablak 4 km dengan lebar 3,5 m sebagian ada bahu jalan beton. Jalan Bancak-Giling kurang lebih 1,9 km lebar 4 m dan Gunungwungkal-Jepalo kurang lebih 4,9 km dengan lebar 3 m. Aspal hotmix semua,” ucapnya.

Warga pun menyambut baik perbaikan ini. Salah satu warga Gunungwungkal, Nugi, mengaku sudah lama menantikan proyek tersebut.

Baca Juga: Rencana Pendirian RS Bhayangkara di Pati Tuai Polemik

”Syukurlah sudah mulai diperbaiki. Karena sudah lama rusaknya. Beberapa kali juga ada yang jatuh. Terutama di Jalan Bancak-Giling, rusak parah,” ungkapnya. 

Nugi berharap pengerjaan berjalan cepat dan hasilnya berkualitas agar jalan lebih awet. Ia menyebut, jalur tersebut merupakan akses penting bagi warga untuk mengangkut hasil pertanian.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pembuatan Tanggul Darurat di Ketitangwetan Pati Dikebut, Ditarget Sepekan Lagi Rampung

0
Pembuatan tanggul darurat di Sungai Widodaren, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Pembuatan tanggul darurat di Sungai Widodaren, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati saat ini sudah mencapai 45 persen. Proyek yang dimulai Selasa (4/11/2025) lalu itu ditargetkan rampung dalam sepekan atau tujuh hari ke depan.

Proyek pengerjaan tanggul darurat ini dipantau langsung oleh Anggota Komisi VIII DPR RI, Sri Wulan, Senin (10/11/2025). Kedatangan politisi Partai Nasional Demokrat (NasDem) itu untuk memastikan proses pembangunan tanggul darurat berjalan lancar tanpa kendala.

Baca Juga: Rayakan Harlah ke- 30, MAN 2 Pati Hijaukan Pesisir dengan Tanam 3 Ribu Pohon Mangrove

Tenaga Ahli BNPB, Bambang Eko Protolo menjelaskan, sampai saat ini pembangunan tanggul darurat yang dikerjakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu sudah sampai titik tanggul kritis kedua dan ketiga sepanjang 250 meter. Untuk pekerjaan di titik tanggul satu yang berada di sisi Jalan Pantura Pati-Rembang sudah selesai.

“Mulai hari ini, sasaran pembangunan tanggul ada di titik dua dan tiga yang berada di aliran Sungai Widodaren. Itu kurang lebih 250 meter yang kami kerjakan dengan target maksimal tujuh hari,” ujarnya.

Menurutnya, kendala pembangunan tanggul darurat di titik dua dan tiga adalah lokasinya yang sulit dilewati ekskavator. Pihaknya harus hati-hati agar kondisi tanggul yang kritis tidak semakin parah.

“Kendala yang kita alami yaitu masalah alam, di mana lahan atau jalan tanggul yang akan dilewati oleh alat berat terlalu ngepres dengan bodi alat berat sehingga pada saat akan bergerak dia agak hati-hati untuk menghindari terhelincir,” jelasnya.

Selain itu, cuaca yang tak menentu juga memperlambat proses perbaikan tanggul. Mengingat, pemasangan cerucuk bambu dan karung berisi tanah sulit  dilakukan dalam kondisi hujan.

“Cuaca juga akan berpengaruh kalau hujan seperti hari ini. Mudah-mudahan tidak hujan deras sehingga tidak akan menghambat progres yang akan kita capai,” ucapnya.

Baca Juga: Rencana Pendirian RS Bhayangkara di Pati Tuai Polemik

Sementara itu, Sri Wulan menegaskan, supaya seluruh pihak terkait segera menuntaskan pembangunan tanggul sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan. Menurutnya, percepatan pembangunan sangat penting mengingat wilayah Pati kini mulai memasuki musim hujan.

“Tadi kita lihat bahwa hampir 50 persen lah ya, 50 persen 45 lah seperti itu. Terus kita lihat tadi juga sudah bagus dan pengerjaan delapan jam (sehari), ekstra juga sudah. Jadi diperkirakan nanti insyaAllah tujuh hari ke depan sudah clear semuanya,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Toko Sembako di Langon Jepara Ludes Terbakar, Kerugian Ditaksir Capai Rp300 Juta 

0
Toko sembako di Desa Langon RT 11 RW 5, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara ludes terbakar akibat dilahap sang jago merah pada Senin, (10/11/2025) dini hari. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Toko sembako di Desa Langon RT 11 RW 5, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara ludes terbakar akibat dilahap sang jago merah pada Senin, (10/11/2025) dini hari. 

Kabid Pemadam Kebakaran pada Satpol PP dan Damkar Jepara, Albertus Kurniawan mengatakan kebakaran itu diketahui dari laporan pemilik toko bernama Musthofa (55). 

Baca Juga: Masuk Musim Pancaroba, Kasus DBD di Jepara Mulai Meningkat 

Pihaknya menerima laporan kebakaran sekitar pukul 01.30 WIB. Berselang 15 menit kemudian, dua mobil pemadam yang diterjunkan dari Mako 113 dan  satu unit dari Pos Kalinyamatan tiba di lokasi. 

“Api baru berhasil kita padamkan sekitar pukul 03.25 WIB, Alhamdulillah pemadaman lancar tidak ada kendala,” katanya pada Betanews.id, Senin (10/11/2025). 

Selain membakar toko sembako, api juga melahap satu bangunan rumah di belakang toko yang difungsikan sebagai gudang. 

Dari video amatir yang diterima Betanews.id, saat kebakaran kondisi cuaca di sekitar Desa Langon sedang diguyur hujan. 

Barang-barang sembako yang berada di dalam toko tampak ludes. Hanya menyisakan yang digantung dibagian atas. 

Albert mengatakan, kebakaran diduga akibat korsleting listrik. Adapun luas area yang terbakar yaitu sekitar 15×30 m2. 

“Yang terbakar ini tidak hanya toko, ada rumah juga. Cuma rumahnya ini tidak dihuni, dijadikan gudang. Kerugiannya ditaksir sekitar Rp300 juta,” sebutnya. 

Baca Juga: Pemkab Jepara Bangun Lapangan Tenis Baru, Masyarakat Nantinya Bisa Ikut Mengakses

Untuk itu, pihaknya mengimbau warga agar lebih waspada terhadap potensi korsleting listrik, terutama pada malam hari. 

“Pastikan instalasi listrik di rumah dan tempat usaha dalam kondisi aman dan sesuai standar. Ini penting untuk mencegah hal serupa terulang,” pesannya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Kisah Frisca, Penjual Donat Kukus Lumer yang Jadi Primadona Baru di Tayu

0
Donat Kukus Lumer di timur Alun-alun Tayu. Foto: Melly Andila Putri

BETANEWS.ID, KUDUS – Malam itu, di kawasan Alun-alun Tayu terlihat sebuah gerobak ungu muda yang ramai didatangi pembeli. Di balik gerobak itu, tampak seorang perempuan tersenyum ramah melayani pembeli. Dia adalah Frisca (36), pemilik usaha Donat Kukus Lumer, kuliner yang kini menjadi primadona baru di daerah Tayu.

Frisca merintis usaha itu sejak November 2023 lalu. Sebelum memilih produk yang akan dijual, Frisca mengaku melakukan observasi terlebih dahulu.

Baca Juga: Satu Dapur MBG di Kudus Dilengkapi CCTV dan Tersambung dengan Aplikasi Kudus Sehat

“Karena di Tayu belum ada yang jual donat kukus, saya melihat itu sebagai peluang. Akhirnya saya berani mencoba membuat dan menjualnya,” bebernya saat ditemui benerapa waktu lalu.

Meski menjual produk yang belum di kenal warga sekitar, tapi Frisca yakin menu tersebut akan mudah diterima pasar. Dan benar saja, keberanian itu akhirnya membuahkan hasil.

“Keunikan donat kukus ini kan belum ada di sekitar sini, jadi saya yakin pasti menarik perhatian orang,” tegasnya.

Kini, usaha Donat Kukus Lumer milik Frisca menawarkan tiga pilihan menu andalan. Di antaranya donat kukus lumer, donat topping, dan donat goreng.

Setiap varian hadir dengan aneka rasa yang menggoda seperti strawberry, matcha, tiramisu, cokelat, hingga taro. Tahanya itu, ia juga melengkapi dengan beragam topping, mulai dari meses, kacang, oreo, dan keju.

“Satu box isi enam donat saya jual Rp10.000. Itu sudah lengkap dengan topping dan bisa pilih semua varian rasa,” kata Frisca.

Di balik kelembutan donatnya, Frisca tak main-main soal bahan baku. Ia memastikan semua adonan dibuat dari bahan pilihan, mulai dari tepung terigu, mentega, telur, gula, dan ragi. Proses pembuatannya sederhana, tapi membutuhkan kesabaran ekstra.

“Proses kukusnya cuma sekitar 10 menit, tapi proofingnya satu jam biar adonannya mengembang sempurna,” jelasnya.

Baca Juga: Perputaran Tempat Tidur di RSUD Loekmono Hadi Kudus Terganggu Karena Mitos

Setiap hari, Frisca buka setiap hari mulai pukul 16.00 hingga 20.00 WIB. Tak hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung, Frisca juga aktif memasarkan produknya melalui media sosial seperti Instagram, TikTok, Facebook hingga WhatsApp. Dalam sehari ia mampu memproduksi sekitar 80 box donat per hari.

“Sekarang sudah banyak pesanan online juga. Kalau omzet sekitar Rp800 ribu sehari,” tambahnya.

Penulis: Melly Andila Putri, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Dekorasi Janur Kelapa Kembali Jadi Primadona, Perajin Pati Kebanjiran Pesanan

0
Seorang perajin janur, Tutut Dwi Budiyanto, warga Dukuh Juwanalan, Kelurahan Pati Kidul, Kecamatan/Kabupaten Pati. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Siapa sangka janur kelapa yang dulu identik dengan tradisi adat kini kembali naik daun di dunia dekorasi modern. Sentuhan alami dari helai janur yang dirangkai indah kini makin digemari, terutama untuk acara pernikahan dan prosesi adat seperti tedak siten.

Tren ini makin populer setelah beberapa artis ibu kota, termasuk Luna Maya, menggunakan dekorasi bernuansa janur dalam prosesi adatnya. Sejak itu, permintaan terhadap dekorasi berbahan janur pun melonjak tajam, terutama di musim pernikahan.

Baca Juga: Pernah Rugi Ratusan Juta Rupiah, Purnomo Kini Sukses Geluti Budidaya Jamur, Hasilkan 100 Kg per Hari

Salah satu perajin yang turut merasakan berkah tren ini adalah Tutut Dwi Budiyanto, warga Dukuh Juwanalan, Kelurahan Pati Kidul, Kecamatan/Kabupaten Pati. Lelaki berusia 59 tahun itu mengaku kewalahan menerima pesanan dekorasi janur sejak awal tahun.

“Kalau pas ramai musim nikah, dalam satu malam saya bisa buat sampai 10 pasang kembar mayang dan 10 penjor,” ujar Tutut.

Karya Tutut beragam, mulai dari kembar mayang, umbul-umbul janur (penjor), anyaman bleketepe, hingga gembung tuwuhan, yang kerap dipadukan dengan bunga, sayur, buah, dan ornamen adat lainnya. Harga kreasinya pun bervariasi, antara Rp300 ribu hingga Rp700 ribu, tergantung tingkat kerumitan.

Menurutnya, janur sendiri bukan sekadar hiasan. Kata “janur” berasal dari serapan bahasa Arab sejatining nur, yang berarti sejatinya cahaya atau penerangan.

Lebih lanjut ia menyampaikan, bahwa dalam budaya Jawa, janur dipercaya sebagai simbol doa dan harapan akan kemakmuran, kesuburan, serta kebahagiaan bagi pasangan pengantin.

Menariknya, keterampilan merangkai janur Tutut diperolehnya secara otodidak sejak tahun 1994. Kini, ia dikenal sebagai sesepuh perajin janur di Kabupaten Pati, bahkan telah menularkan ilmunya ke puluhan perajin lain yang tersebar di 21 kecamatan di wilayah tersebut.

Baca Juga: Bamantara Guppy Farm, Hobi yang Berubah Jadi Sumber Rezeki

“Saya senang banyak anak muda mulai tertarik belajar. Jangan sampai janur hilang tergantikan plastik atau bahan sintetis,” tambahnya.

Kini, karya janur Tutut tak hanya menghiasi acara-acara adat di Pati, tapi juga telah menembus pesanan hingga luar Jawa. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Kisah Dua Sahabat Penjual Jajan Tradisional di Pati, Omzet Hariannya Capai Rp500 Ribu

0
Lapak jajanan tradisional milik dua sahabat. Foto: Wulan Divatia Dewi

BETANEWS.ID, PATI – Setiap sore di Margoyoso, Pati, dua pemuda tampak sibuk melayani pembeli di outlet yang dipenuhi aneka getuk. Mereka adalah Rizal (20) dan Fatoni (22), dua sahabat asal Juwana yang memilih melanjutkan usaha keluarga, menjajakan getuk tradisional warisan orang tuanya.

Setiap hari mereka melalui perjalanan dari Juwana dan sampai di Margoyoso sekitar pukul 14.00 WIB. Kemudian butuh sekitar 30 menit untuk menyiapkan bahan-bahan dagangan sebelum outlet siap dibuka pukul 14.30 WIB.

Baca Juga: Awalnya Coba-Coba, Sholikah Malah Sukses Bisnis Martabak Manis Mini

Rizal, pemilik outlet mengatakan, ide jualan itu datang dari orang tuanya yang sudah berjualan getuk jauh sebelum ia lahir. Ia menjual aneka jajanan tradisional, mulai dari kue puthu, getuk lindri, ongol-ongol dan cenil. Satu porsinya dijual dengan harga Rp5.000.

“Saya termotivasi oleh orang tua, kerena memang orang tua sebelum saya lair sudah berjualan getuk hingga sekarang,” ujar Rizal, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Meski berjualan dengan cara sederhana, hasilnya tak mengecewakan. Dalam sehari, mereka mampu meraup omzet sekitar Rp400 ribu.

“Ya kalau omzet memang gak tentu. Namanya jualan terkadang ada rame ada sepi. Biasanya bisa di angka rata-rata antara Rp400 ribu hingga Rp500 ribu,” katanya.

Baca Juga: Mengenal Laeli, Sarjana Psikologi yang Tak Gengsi Bantu Jualan Bumbu di Pasar KlIwon Kudus

Kini, usaha keluarga ini telah memiliki tiga cabang. Cabang pertama di Juwana yang dikelola langsung oleh orang tua Rizal, sedangkan cabang kedua ada di Pati dekat Rumah Sakit Fastabiq yang sudah berjalan sekitar satu tahun, dan cabang ketiga yaitu berada di Margoyoso yang belum genap enambulan mereka buka.

“Harapan kami ya semoga usaha ini lancar, laris, dan terus berjalan,” tambahnya.

Penulis: Wulan Divatia Dewi, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Manis Pedasnya Rujak Es Krim Mas Fian Jepara Bikin Nagih, Sehari Terjual Ratusan Porsi

0
Rujak Es Krim Mas Fian di depan Indomaret Pecangaan Kulon, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Di balik gerobak kecil yang berlokasi di depan Indomaret Pecangaan Kulon, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Ahmad Yusuf Alfianto (23) begitu cekatan melayani pembeli rujak es krim yang datang silih berganti. 

Meski baru tiga bulan berjualan, rujak es krim racikan Fian mampu menggoyang lidah para pembeli. Mereka yang datang, banyak yang berasal dari berbagai wilayah di Kabupaten Jepara. 

Baca Juga: Rica-Rica Pentol Mr. Bean, Nama Main-Main Tapi Larisnya Bukan Main

Sembari menyiapkan pesanan, Fian bercerita rujak racikannya hanya menggunakan buah-buahan yang sederhana. Yaitu timun, bengkuang, nanas, dan mangga muda. 

Buah-buahan itu kemudian ia serut. Untuk bumbu rujaknya, karena dicampur dengan es krim, Fian sengaja membuat bumbu rujak dalam bentuk cair. 

“Jadi kalau dicampur sama es krim, rasanya bisa menyatu. Buahnya ini juga diserut, bukan dicacah,” kata Fian saat ditemui di lokasi tempatnya berjualan, Sabtu (8/11/2025).  

Fian melanjutkan, es krim yang ia gunakan juga buatan sendiri. Varian rasanya yaitu stroberi. Untuk memilih varian rasa itu, menurut Fian juga tidak asal. Sebab, ia harus menyesuaikan rasa es krim dengan rujak agar bisa sesuai. 

“Rasa es krimnya cuma satu, stroberi, soalnya yang cocok cuma itu. Pernah nyoba rasa coklat, tenyata ngga cocok. Vanilla juga pernah nyoba, tapi warnanya kurang bagus,” beber Fian.  

Dalam sehari, saat cuaca mendukung Fian mengatakan ia mampu menjual 200 cup atau mangkok rujak es krim dengan harga Rp7 ribu per porsi.  

“Kalau hujan, sehari paling 50 porsi. Kalau lagi rame, cuaca bagus bisa 200 porsi sehari,” ungkapnya.  

Karena membuat es krim sendiri, Fian biasanya mulai berjualan dari pukul 09.00 WIB. Ia berjualan setiap hari.  

“Jualnya dari jam 9 sampai habis, kadang siap ya udah habis kalau pas rame banget, kalau biasa ya sore,” katanya. 

Sementara itu, salah satu pembali, Samiun Alim (24), Warga Desa Geneng, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara mengaku sering mencicipi Rujak Es Krim Mas Fian. 

Baca Juga: Pentol Kuplik, Jajanan Pedas Nampol dari Nalumsari Jepara

Karena cukup jauh dari rumahnya, saat pergi ke Kecamatan Pecangaan, Samiun mengatakan selalu menyempatkan waktu untuk membeli rujak es krim. 

“Rasanyaa enak soalnya, seger, ada manis campur pedes, bikin nagih lah. Kalau ke sini (Pecangaan) pasti beli,” katanya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Soto Kerbau Pak Achwan, Legenda Kuliner Kudus yang Tak Lekang Waktu

0
Warung Soto Kerbau Pak Achwan di Desa Nganguk Lor, Kecamatan Kota. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Di sudut Desa Nganguk Lor, Kecamatan Kota, aroma rempah tercium sejak pagi hingga malam. Dari warung sederhana itu, cita rasa khas Kudus tersaji dalam semangkuk soto kerbau yang gurih dan kaya rempah. Warung Soto Kerbau Pak Achwan bukan sekadar tempat makan, melainkan saksi perjalanan kuliner lintas generasi yang terus bertahan sejak era 1980-an.

Hartati (55), generasi kedua penerus usaha keluarganya. Ia melanjutkan perjuangan orang tuanya yang mulai meracik olahan daging kerbau sekitar tahun 1980. Sejak 1995, Hartati mengambil alih kendali dapur, memastikan setiap sendok kuah dan potongan daging tetap setia pada cita rasa asli yang diwariskan.

Baca Juga: Satu Dapur MBG di Kudus Dilengkapi CCTV dan Tersambung dengan Aplikasi Kudus Sehat

“Kami tetap menjaga cita rasa dan kualitas. Rempahnya asli semua, tidak ada yang instan,” tutur Hartati saat ditemui beberapa waktu lalu.

Bukan perkara mudah mengolah daging kerbau. Teksturnya yang lebih keras dibanding daging sapi membuat proses memasak membutuhkan ketelatenan dan keterampilan khusus. 

“Kalau tidak pintar mengolah, seratnya bisa alot. Tapi kalau tahu caranya, hasilnya empuk dan gurih, seperti yang selalu kami sajikan di warung ini,” ungkapnya.

Selain soto, warung ini juga menjajakan berbagai olahan serba kerbau seperti pindang kerbau, sate kerbau, dan empal kerbau. Setiap menu memiliki keistimewaan tersendiri, dengan rasa gurih-manis yang menjadi ciri khas kuliner Kudus.

“Untuk harga masing-masing menu berbeda, soto kerbau dan pindang kerbau Rp20 ribu, sate kerbau Rp40 ribu, dan empal kerbau Rp15 ribu. Untuk yang paling laris tentunya menu soto kerbau,” jelasnya.

Buka setiap hari pukul 09.00 hingga 21.00, warung ini tak pernah sepi pengunjung. Dalam sehari, Hartati bisa menjual sekitar 100 porsi, sementara pada akhir pekan atau hari libur nasional, penjualan bisa melonjak hingga 150–200 porsi.

“Alhamdulillah rezeki terus bertambah. Banyak pelanggan datang dari luar kota, baik mulai Jakarta, Kalimantan, Lampung, dan hampir semua daerah di Jawa. Nama Soto Kerbau Pak Achwan jadi makin dikenal,” terangnya.

Setiap malam antara pukul 7 hingga 8, suasana warung semakin ramai. Pembeli silih berganti, menikmati kelezatan kuah rempah yang menghangatkan tubuh dan membawa nostalgia bagi mereka yang rindu cita rasa khas Kudus.

Baca Juga: Perputaran Tempat Tidur di RSUD Loekmono Hadi Kudus Terganggu Karena Mitos

Di tengah banyaknya kuliner modern yang bermunculan, Hartati tetap teguh menjaga warisan rasa. Ia yakin, kunci keberlangsungan usaha bukan sekadar pada resep, melainkan juga pada kejujuran dalam menjaga kualitas.

“Kalau masak dari hati, hasilnya pasti enak. Orang datang bukan cuma karena lapar, tapi karena rasa yang ngangenin,” ujarnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Lawan PSDS Deli Serdang hingga Persikabo, Ini Deretan Musuh Berat Persipa di Liga Nusantara

0
Aksi pemain Persipa di salah satu laga uji coba. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Langkah Persipa Pati di Liga Nusantara 2025/2026 tampaknya tak akan mudah. Klub berjuluk Laskar Saridin itu tergabung di Grup A yang diisi tim-tim tangguh dari berbagai daerah.

Ahmed Syuhada dan kawan-kawan bakal menghadapi lima lawan berat, yakni Nusantara Lampung FC, Dejan FC, Batavia FC, PSDS Deli Serdang, dan Persikabo 1973. Hasil drawing yang digelar pada Jumat (7/11/2025) kemarin memastikan, Persipa harus berjuang keras untuk menembus babak berikutnya.

Baca Juga: Rencana Pendirian RS Bhayangkara di Pati Tuai Polemik

Meski begitu, semangat juang tetap menyala di kubu Laskar Saridin. CEO Persipa Pati, Rafi Rizqullah Arifin, menegaskan bahwa pihaknya tidak gentar menghadapi lawan-lawan kuat tersebut.

“Pembagian grupnya cukup menarik mas, dan cukup kompetitif. Banyak tim dengan gaya bermain yang berbeda. Jadi ini kesempatan bagus untuk mengukur kekuatan tim dan konsistensi sejak awal,” ujar Rafi Arifin, Sabtu (8/11/2025).

Ia menambahkan, timnya sudah menjalani persiapan panjang bersama jajaran pelatih. Fokus utama saat ini adalah menjaga performa dan kekompakan pemain agar mampu tampil konsisten di setiap laga.

“Fokus kita tetap sama, persiapan maksimal di setiap laga. Kita hormati dan hargai setiap lawan,” tandasnya.

Saat ini, tim asuhan Coach Rudi Widodo tengah menjalani uji tandang ke Jakarta. Dalam tur tersebut, Persipa dijadwalkan menghadapi tiga klub berbeda sebagai ajang pematangan strategi dan penguatan mental bertanding.

Baca Juga: Waktu Distribusi MBG di Dukuhseti Diubah Usai Protes Pedagang Keliling

Liga Nusantara musim ini diikuti 24 klub yang terbagi dalam empat grup, A, B, C, dan D. Kompetisi akan bergulir mulai 1 Desember 2025 hingga 14 Februari 2026. Juara dari masing-masing grup berhak melaju ke babak semifinal untuk memperebutkan tiga tiket promosi ke Divisi Championship 2026/2027, kasta kedua sepak bola nasional.

Sementara itu, tim yang menempati peringkat kedua hingga kelima akan bertahan di Liga Nusantara. Adapun tim yang finis di posisi keenam dipastikan terdegradasi ke Liga 4.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Rayakan Harlah ke- 30, MAN 2 Pati Hijaukan Pesisir dengan Tanam 3 Ribu Pohon Mangrove

0
MAN 2 Pati menggelar aksi penanaman ribuan pohon mangrove di Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, pada Sabtu (8/11/2025). Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-30, MAN 2 Pati menggelar aksi penanaman ribuan pohon mangrove di Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, pada Sabtu (8/11/2025).

Kegiatan bertajuk “Ekoteologi dan Konservasi 3000 Bibit Mangrove” tersebut, melibatkan berbagai pihak. Di antaranya, sekolah binaan yaitu MTs Negeri 2 Pati, MTs Manbaul Falah, MTs Mambaul Hidayah serta SD Muhammadiyah Tunggulsari. Ada pula, kelompok tani, pecinta lingkungan, kelompok tani dan masyarakat setempat.

Baca Juga: Rencana Pendirian RS Bhayangkara di Pati Tuai Polemik

Hadir pula dalam kegiatan itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pati, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah II Provinsi Jawa Tengah,  jajaran Forkopimcam Tayu. serta perwakilan guru dan tenaga kependidikan (GTK).

Kepala Desa Tunggulsari, Eko Setyo Wahyudi menyampaikan rasa bangga atas terselenggaranya kegiatan yang mengusung tagline “Bersama kita hijaukan pesisir, lindungi bumi, dan wariskan alam yang lestari untuk generasi mendatang,”. Ia berharap aksi tanam mangrove ini tak berhenti hanya di seremoni peringatan.

“Kami berharap program seperti ini berkelanjutan dan bisa membantu masyarakat pesisir menjaga ekosistem pantai,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala MAN 2 Pati Moh Kodri menyampaikan  terima kasih kepada semua pihak yang terlibat.

“Terima kasih atas dukungan dari semua pihak, terutama pemerintah desa dan instansi terkait. Kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen MAN 2 Pati dalam melestarikan lingkungan sesuai visi madrasah,” ungkapnya.

Apresiasi juga datang dari Ahmad Syaiku, Kepala Kangor Kemenag Kabupaten Pati. Ia menyebut kegiatan tersebut sejalan dengan program prioritas Kementerian Agama terkait penguatan ekoteologi dan Gerakan ASRI, yakni Aman, Sejuk, Rindang, dan Indah.

“Kita sebagai khalifah harus melestarikan alam. Upaya ini bagian dari ibadah. MAN 2 Pati luar biasa, matang bukan hanya akademik tapi juga kepedulian lingkungan,” tuturnya.

Salah satu kader Adiwiyata MAN 2 Pati, Alifia mengaku senang bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan penanaman ribuan pohon mangrove di Desa Tunggulsari tersebut.

“Senang banget. Hujan ditabras aja, yang penting bisa nanam mangrove,” ucapnya sambil tertawa.

Baca Juga: Waktu Distribusi MBG di Dukuhseti Diubah Usai Protes Pedagang Keliling

Guru pendamping Qoidul Umam menambahkan, kegiatan tersebut menurutnya bukan hanya peringatan Harlah MAN 2 Pati, tetapi juga bentuk aksi nyata dari program Adiwiyata.

“Kami berharap gerakan ini menjadi inspirasi bagi madrasah lain untuk terus menjaga kelestarian lingkungan,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Wabup Bellinda Kecam Penyebar Video Hoaks Keracunan di SD Getassrabi Kudus

0
Wakil Bupati Kudus, Bellinda Birton. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Ketua Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Kudus, Bellinda Putri Sabriba Birton, mengecam keras beredarnya video hoaks yang menyebut adanya siswa SD 1 Getassrabi, Kecamatan Gebog, mengalami keracunan makanan dari program MBG.

Wakil Bupati Kudus itu menilai, penyebaran informasi palsu tersebut sangat tidak bertanggung jawab dan bisa menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Baca Juga: Satu Dapur MBG di Kudus Dilengkapi CCTV dan Tersambung dengan Aplikasi Kudus Sehat

“Jangan main-main dengan isu seperti ini. Program Makan Bergizi Gratis dibuat untuk kebaikan anak-anak kita, untuk memastikan tumbuh kembang mereka lebih sehat dan kuat. Kalau disebarkan hoaks seperti ini, yang dirugikan justru masyarakat sendiri,” tegas Bellinda, Sabtu (8/11/2025).

Ia menjelaskan, setiap dapur dan menu dalam program MBG telah melalui proses pengawasan ketat, baik dari bahan baku, proses memasak, hingga distribusi ke sekolah.

“Seluruh proses dilakukan sesuai standar higienitas. Tim kesehatan dan petugas keamanan pangan selalu memastikan setiap makanan aman dan layak konsumsi,” lanjutnya.

Bellinda menambahkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, serta aparat penegak hukum untuk memverifikasi kebenaran informasi tersebut.

“Kami harap masyarakat lebih bijak dan tidak mudah percaya pada video atau pesan berantai yang belum jelas sumbernya. Pastikan dulu kebenarannya lewat pihak berwenang,” imbaunya.

Sebelumnya, sebuah video berdurasi tiga detik beredar di media sosial dengan caption: “Telah terjadi siswa SD 1 Getassrabi keracunan MBG.”
Dalam tayangan itu tampak mobil putih parkir di halaman sekolah dan sejumlah guru serta siswa terlihat panik. Unggahan tersebut sempat viral dan menimbulkan kepanikan publik.

Menindaklanjuti hal tersebut, anggota Polsek Gebog bersama Kanit Reskrim, Kanit Intel, dan beberapa personel segera turun ke lokasi untuk memverifikasi kebenaran kabar itu.

Kapolsek Gebog, AKP Siswanto, memastikan bahwa informasi tersebut tidak benar alias hoaks. Pasalnya, kejadian yang sebenarnya adalah kecelakaan lalu lintas.

“Salah satu siswa SD 1 Getassrabi ada yanv tertabrak sepeda motor warga yang melintas di depan sekolah. Jadi bukan keracunan,” ujarnya.

Baca Juga: Perputaran Tempat Tidur di RSUD Loekmono Hadi Kudus Terganggu Karena Mitos

Ia menambahkan, korban sempat dibawa ke ruang kelas untuk mendapat pertolongan pertama. Pada saat bersamaan, mobil program MBG datang ke sekolah untuk mengambil peralatan makan, sehingga menimbulkan kesalahpahaman yang direkam warga lalu disebarkan tanpa konfirmasi.

“Korban sudah dibawa ke RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus untuk mendapatkan perawatan medis,” imbuh AKP Siswanto.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Tersesat di Pegunungan Patiayam, Perempuan Asal Desa Klaling Kudus Ditemukan Meninggal

0
Proses evakuasi korban di pegunungan Patiayam, Kudus. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Warga Desa Klaling, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, bernama Dian Fatmawati (30) ditemukan meninggal di kawasan perbukitan Patiayam, Sabtu (8/11/2025) pagi. Korban dilaporkan hilang oleh kelurganya sejak Sabtu (1/11/2025).

Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kabupaten Kudus, Ahmad Munaji, membenarkan penemuan tersebut. Ia mengatakan, dari hasil identifikasi di lapangan, korban merupakan orang yang sama dengan laporan kehilangan yang masuk ke layanan Kudus Siaga 112 beberapa hari sebelumnya.

Baca Juga: Perputaran Tempat Tidur di RSUD Loekmono Hadi Kudus Terganggu Karena Mitos

“Korban pertama kali dilaporkan hilang oleh keluarga pada 1 November. Setelah dilakukan pencarian bersama tim gabungan, korban akhirnya ditemukan di area utara Bumi Perkemahan Karangsubur, Desa Klaling, dalam kondisi meninggal dunia,” ujar Munaji melalui siaran tertulis, Sabtu (8/11/2025).

Munaji pun mengungkap kronologi pencarian korban. Dari laporan keluarga, korban meninggalkan rumah pada Sabtu (1/11/2025) sekitar pukul 09.00 WIB dengan berjalan kaki. Sejak saat itu, keberadaannya tidak diketahui.

“Keluarga sempat melakukan pencarian mandiri dan mendapat informasi bahwa korban terlihat di warung milik Mbak Tin, Dukuh Slalang, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, pada sore hari. Namun saat didatangi, korban sudah tidak berada di lokasi,” bebernya.

Setelah hampir sepekan tanpa hasil, lanjut Munaji, keluarga akhirnya melapor ke Kudus Siaga 112 pada Kamis (6/11/2025) pukul 17.49 WIB. Informasi tersebut kemudian diteruskan ke BPBD Kudus, yang langsung mengerahkan tim gabungan SAR untuk melakukan pencarian pada Jumat (7/11/2025).

“Pencarian hari pertama dilakukan dengan menyisir area sekitar warung tempat korban terakhir terlihat, dengan radius satu kilometer. Kami libatkan berbagai unsur, termasuk relawan dan aparat desa,” terang Munaji.

Sekira pukul 13.00 WIB, tim menerima laporan tambahan dari Ketua RW setempat, yang menyebut ada warga melihat sosok mirip korban di sekitar Bumi Perkemahan Karangsubur. Informasi itu, kata dia, membuat posko pencarian dipindahkan ke lokasi baru, dan area penyisiran diperluas hingga ke perbatasan Desa Sukobubuk, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati.

“Namun hingga sore hari, hasil pencarian masih nihil,” ungkap Munaji.

Kemudian, tuturnya, pencarian dilanjutkan pada Sabtu (8/11/2025) pagi dengan melibatkan 25 personel gabungan menggunakan kendaraan trail untuk menjangkau medan perbukitan. Sekira pukul 09.00 WIB, tim menerima laporan dari warga bernama Haryono (66), warga Dukuh Karangsubur, yang menemukan sesosok mayat perempuan saat sedang mencari rumput.

“Begitu menerima laporan, tim langsung menuju lokasi dan memastikan identitas korban. Dari pakaian yang dikenakan dan ciri fisik, dipastikan bahwa jasad tersebut adalah korban hilang atas nama Dian Fatmawati,” ungkap Ahmad Munaji.

Korban ditemukan dalam posisi telungkup sekitar 700 meter di utara Posko Pencarian SAR Karangsubur. Saat ditemukan, wajah korban sudah sulit dikenali karena kondisi jasad yang mulai membusuk.

“Tim Inafis Polres Kudus segera dikerahkan ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Sekitar pukul 10.07 WIB, jenazah berhasil dievakuasi dan dibawa ke RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus untuk pemeriksaan lebih lanjut,” ucapnya.

Munaji mengatakan, dari keterangan keluarga, korban diketahui memiliki riwayat gangguan ingatan atau gejala demensia ringan, yang diduga menjadi penyebab korban tersesat di kawasan perbukitan Patiayam yang medannya cukup luas dan terjal.

Baca Juga: Ada Kudus Fashion Week, Gelaran CFN Bulan November Kembali Diundur

“Dugaan sementara, korban tersesat karena mengalami gangguan orientasi arah akibat kondisi tersebut. Lokasi kejadian juga cukup jauh dari pemukiman warga,” kata Munaji.

Pihak BPBD Kudus mengimbau masyarakat agar segera melapor melalui Kudus Siaga 112 apabila ada anggota keluarga yang hilang, sehingga proses pencarian dapat dilakukan lebih cepat dengan dukungan tim SAR dan unsur terkait lainnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Masuk Musim Pancaroba, Kasus DBD di Jepara Mulai Meningkat 

0
Ilustrasi nyamuk aedes aegypti

BETANEWS.ID, JEPARA – Memasuki musim pancaroba, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Demam Dengue (DD) di Kabupaten Jepara mulai meningkat. Hingga awal bulan November 2025, total terdapat 2.327 kasus. 

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara, Agus Charda menyebutkan Penderita DD di Kabupaten Jepara pada minggu ke 43, yaitu pada 20-26 Oktober 2025 adalah 19 kasus. 

Baca Juga: Pemkab Jepara Bangun Lapangan Tenis Baru, Masyarakat Nantinya Bisa Ikut Mengakses 

Pada minggu ke-44, yaitu pada 27 Oktober – 2 November 2025 jumlah penderita mengalami peningkatan menjadi 26 kasus. 

Adapun jika ditotal, dari minggu ke 1-44, yaitu 1 Januari – 2 November 2025, jumlah penderitanya ada 2.327 orang. Terdiri dari DD 2.224 kasus dan DBD sebanyak 102 kasus.

”Dari semua kasus tersebut, dari Januari sampai awal November ini terdapat satu kasus meninggal dunia,” sebutnya pada Sabtu, (8/11/2025). 

Agus menjelaskan, kondisi cuaca yang mulai memasuki musim pancaroba membuat nyamuk Aedes aegypti mudah berkembang biak. Sehingga kasus DD dan DBD meningkat pada periode ini. 

Kasus DBD di Jepara menurut Agus juga cenderung menyebar di seluruh kecamatan. Untuk itu, upaya pencegahan dan penanganan menurutnya akan dilakukan di semua wilayah.

Sebagai upaya pencegahan dan penanganan kasus, ia mengatakan Dinkes telah melakukan berbagai upaya. Seperti pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang melibatkan Puskesmas hingga desa dan kelurahan. Dalam program ini, Masyarakat diminta turut aktif dalam pengendalian sarang nyamuk melalui PSN. 

Dengan cara menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi terisi air, dan menaburkan bubuk larvasida pada penampungan air.

Baca Juga: Karimunjawa Akhirnya Punya Transportasi Umum, Siap Beroperasi Mulai Tahun Depan

”Yang paling penting adalah pencegahan. Kami terus mengajak masyarakat melalui berbagai sarana, termasuk video edukasi,” bebernya.

Terkait kesiapan fasilitas kesehatan dalam penanganan kasus, Agus Charda juga memastikan seluruh fasilitas kesehatan dan rumah sakit telah siap. Terdapat tujuh rumah sakit dan 22 puskesmas di Jepara yang siap menerima pasien DD atau DBD. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

336 Pesilat Kudus Unjuk Gigi di Kejurcab X Pagar Nusa 2025

0
Kejuaraan Cabang (Kejurcab) X Pencak Silat Pagar Nusa Kabupaten Kudus. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Ratusan peserta mengikuti Kejuaraan Cabang (Kejurcab) X Pencak Silat Pagar Nusa Kabupaten Kudus. Ajang yang digelar di GOR Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus itu berlangsung mulai Jumat-Minggu (7-9/11/2025). 

Turnamen tersebut merupakan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Pagar Nusa Kabupaten Kudus. Acara pembukaan dlaksanakan pada Jumat (7/11/2025) sekitar 19.00 WIB, sementara untuk pertandingan dimulai Sabtu-Minggu (8-9/11/2025). 

Baca Juga: Perputaran Tempat Tidur di RSUD Loekmono Hadi Kudus Terganggu Karena Mitos

Ketua Panitia Kejurcab X Pencak Silat Pagar Nusa 2025, Arfa Haqqil Azmi mengatakan, ada336 atlet yang mengikuti kejuaraan yang terbagi dua katagori, yakni jurus dan tanding. Masing-masing katagori bisa diikuti empat kelas, mulai usia dini (SD sederajat), pra remaja (SMP se-derajat), remaja (SMA se-derajat) dan kelas dewasa (mahasiswa atau umum usia 17 tahun ke atas). 

Menurutnya, turnamen itu sebagai wadah pembinaan dan pengembangan bakat talenta muda. Sehingga para atlet dapat mengukur potensi untuk bisa tampil lebih percaya diri ke level berikutnya. 

“Kejuaraan ini untuk menjaring bibit atlet yang nantinya dipersiapkan untuk Kejurda (Kejuaraan Daerah) atau tingkat provinsi,” bebernya, Sabtu (8/11/2025). 

Tak hanya sebagai wadah pembinaan, kejurcab diadakan dengan maksud untuk memberikan kegiatan positif terhadap para pelajar. Hal tersebut dinilai dapat mengurangi kenalakan remaja. 

“Untuk peserta diperuntukkan bagi atlet asal Kabupaten Kudus saja. Karena kami juga ingin menjaring atlet Kudus untuk tampil di level selanjutnya,” jelasnya. 

Arfa menuturkan, kelas tanding dan jurus dewasa, remaja dan pra remaja mempertandingkan kelas A hingga kelas I. Sementara untuk usia dini hanya mempertandingkan kelas A sampai kelas G.

Baca Juga: Ada Kudus Fashion Week, Gelaran CFN Bulan November Kembali Diundur

“Kejuaraan ini penting sebagai pembinaan para atlet. Di mana dari even ini bisa menjadi pengalaman atlet untuk turun di even seperti Popda tingkat kabupaten atau yang berada di bawah naungan Disdikpora Kudus,” terangnya. 

Ia berharap, ajang tersebut muncul bibit-bibit atlet terbaik cabang olahraga (cabor) pencak silat terbaik. ”Semoga dari Kejurcab bisa muncul bibit atlet yang dapat mengharumkan nama pagar nusa dan Kabupaten Kudus di kancah nasional,” imbuhnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -