Menurut Asa, Puisi-Puisi Karya Yit Prayitno Jadi Alarm Zaman

0

Asa menilai, Yit Prayitno adalah seorang yang penuh kasih dalam melihat kenyataan. Kemarahannya diisyaratkan dengan senyum, karena begitulah orang Jawa yang tinggal di Kudus. Hal tersebut membuat Asa tidak boleh gegabah dalam mengartikan puisi-puisi Yit Prayitno.

Asa melanjutkan, bahwa Yit Prayitno dalam menulis puisi menggunakan kesadaran memihak, yakni memihak kepada mereka yang “di-“. Dikalahkan, dicampakkan, ditahtakan, dikuasai, dinodai, dikepung, dan seterusnya. Ia tidak memihak yang “me-“ karena memang tidak membutuhkan pembelaan.

Asa menambahkan, bahwa puisi-puisi Yit Prayitno adalah alarm bagi zamannya. Namun, alarm itu berfungsi hanya bagi yang memahami dengan suka membaca, memaknai tanda-tanda dan peristiwa.

Baca juga: Kepada Generasi Muda, Prayit Berpesan Agar Terus Berkarya Karena Punya Kesempatan Sama

“Alarm itu yang mendengar dan lalu menyimak. Alarm itu hanya berfungsi untuk manusia yang mau memperbaiki dirinya. Kalau tidak, ia hanya suara kentut yang nyaring di siang bolong. Selamat Denmas Yit. Maturnuwun boleh belajar dari Panjenengan,” tambahnya.

- advertisement -

Dalam sesi bedah puisi, acara diselingi pembacaan puisi karya Yit Prayitno. Beberapa yang membaca puisi itu, di antaranya Adhitia Armitrianto, Basuki Soegita, Hasan Aoni Aziz, Gunadi, dan Mutrikah. Di akhir acara, Yit Prayitno mendapat kenang-kenangan dari Djoko Herryanto, berupa lukisan dirinya karya Abdul Chamim.

Editor: Suwoko

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini