31 C
Kudus
Minggu, Juli 21, 2024

Novel Sang Tandak Dibedah di Rembang, Jepang Kubro Menggema

BETANEWS.ID, REMBANG – Novel Sang Tandak karya Yit Prayitno dibedah di Gentong Miring Art Gallery, Sluke, Rembang, Jumat (8/12/2023) malam. Hadir sebagai pembedah, Didik Wahyudi, penulis novel asal Bojonegoro, dan M Akid AH, pegiat budaya di Rembang.

Acara dengan tajuk “Bincang Buku Sang Tandak” ini diselenggarakan Gentong Miring Art Gallery milik Abdul Chamim, seorang seniman lukis asal Sluke, Rembang. Selain itu, acara ini juga didukung oleh Forum Kamis Legen (Kalen) dan Beta Media. Musik Kolaborasi Petroek van Loano dan Giwang Topo, juga memeriahkan acara.

Acara bedah buku ini diawali penampilan musik kolaborasi Peteoek van Loano dan Giwang Topo dengan dua lagu, antara lain berjudul “Ngunjuk Kopi” dan “Taru Tandak”. Setelah itu acara dilanjutkan dengan sambutan dan orasi kebudayaan.

-Advertisement-

Baca juga: Novel Sang Tandak Karya Prayitno Resmi Diluncurkan

Dalam sambutannya, Ketua Forum Kalen, Fajar Kartika mengatakan, novel Sang Tandak bercerita tentang Kudus di era kolonial Belanda. Meski begitu, novel yang diterbitkan Forum Kalen dan Beta Media ini, cukup relevan dengan wilayah pantura timur, termasuk di Rembang.

Penampilan Musik Kolaborasi Peteoek van Loano dan Giwang Topo dalan acara Bincang Buku Sang Tandak, di Gentong Miring Gallery Art, Jumat (8/12/2023) malam. Foto: Ahmad Rosyidi

Sementara itu, Pembina Forum Kalen, Petroek van Loano dalam orasi kebudayaannya menyatakan, pantura timur menjadi wilayah yang tertinggal di Jawa Tengah. Dia mengatakan, ada beberapa indikator yang membuat wilayah-wilayah di eks Karesidenan Pati ini tertinggal, antara lain tidak memiliki jalan tol, jalur kereta api, rumah sakit kelas A, dan kampus negeri unggulan.

“Wilayah di eks Karesidenan Pati ini saya sebut Jepang Kubro, Jepara, Pati, Rembang, Kudus, Blora, dan Grobogan. Saya mengajak anak-anak muda di Jepang Kubro berani melakukan revolusi. Kemajuan di Jepang Kubro ini menjadi mimpi saya,” ucap Petroek, menyudahi orasinya.

Novel yang telah diluncurkan di Kudus pada September lalu ini, bercerita tentang kisah seorang penari bernama Ajeng Taru. Dirinya sering tampil di Pendapa Kabupaten Kudus, dalam acara-acara yang digelar Bupati Kudus pada saat itu. Selain dibumbui dengan konflik tokoh utama dan bupati, novel yang ditulis wartawan senior ini, juga mengungkap banyak sejarah tentang Kudus dan sekitarnya.

Baca juga: Novel Sang Tandak Dikuliti, Hasan: ‘Saya Kecewa, Konfliknya Kurang Berdarah-Darah’

Dalam bincang buku ini, Didik Wahyudi sebagai pembedah yang pertama, menyatakan kekagumannya pada Yit Prayitno yang berhasil menulis novel Sang Tandak. Gaya penulisan khas jurnalis begitu kental dalam deskripsi-deskripsi cerita yang ditulis dalam novel.

“Menurut saya, penulis sangat berani karena novel ditulis berdasarkan sejarah. Ada risiko-risiko untuk menggambarkan apa yang terjadi pada saat itu. Tapi inilah khasnya seorang jurnalis, dan saya yakin akan kebenarannya. Terlebih kisah-kisah sejarah telah diakurasi oleh sejarawan,” tuturnya.

Sementara itu, pembedah kedua, M Akid AH sependapat dengan pernyataan Didik, yang menyatakan penulis berani mengambil risiko karena mengambil landscape tahun 1800-an. Meski begitu, menurutnya novel Sang Tandak menyajikan jendela-jendela baru tentang peristiwa masa lampau bagi pembaca.

Editor: Suwoko

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
30,973PengikutMengikuti
141,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER