31 C
Kudus
Minggu, Juli 21, 2024

Novel Sang Tandak Dikuliti, Hasan: ‘Saya Kecewa, Konfliknya Kurang Berdarah-Darah’

Prosesi peluncuran novel Sang Tandak telah usai. Pj Bupati Kudus, Bergas C Penanggungan, Ketua Forum Kalen, Fajar Kartika, Ketua Ekraf Kudus, Valerie Yudistira, dan penulis novel, Prayitno, turun dari panggung.

Fajar yang didaulat menjadi moderator dalam acara Peluncuran dan Bincang Buku Sang Tandak karya Prayitno, memulai acara bedah buku. Dua pembedah buku, DR. Kanzunnuddin, dosen sastradi Universitas Muria Kudus (UMK), dan Hasan Aoni Aziz, pendiri Omah Dongeng Marwah (ODM), diundang ke depan.

Acara bincang buku ini digelar satu rangkaian dengan cara peluncuran buku, yang digelar di Sidji Coffee, Desa Getas Pejaten, Kecamatan Kota, Rabu (27/9/2023). Acara diselenggarakan oleh Forum Kalen, sebagai penerbit bersama Beta Media.

-Advertisement-

Mengawali binacang buku, Fajar menjelaskan secara singkat proses penerbitan novel Sang Tandak. Menurutnya, novel yang ditulis jurnalis senior di Kudus ini, tidak hanya berisi kisah-kisah fiksi dengan segala konfliknya. Tapi, novel ini juga mencatat sejumlah peristiwa sejarah yang terjadi di Kudus sekitar tahun 1800-an.

Selain itu, Fajar juga bercerita tentang proses penerbitan buku. Dia mengatakan sudah memilih editor yang tepat, yaitu Dr. Edy Supratno, yang juga anggota Forum Kalen. Aspek lain, misalnya tentang cover, digarap seniman seni rupa daei Sluke, Rembang, Abdul Chamim, yang juga anggota Forum Kalen.

Selesai memberikan pengantar, Fajar kemudian memberikan kesempatan pertama kepada Kanzunnuddin. Dalam pandangannya, pegiat sastra itu mengatakan, isi novel Sang Tandak tidak memiliki ketegasan. Menurutnya, sebagai novel, Sang Tandak tidak hanya memuat kisahfiksi, tapi memuat peristiwa-peristiwa sejarah.

“Apakah ini karya sastra, atau sejarah? Karena di dalam buku memuat tahun, dan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di Kudus,” tuturnya.

Meski begitu, Kanzunnuddin mengaku sangat gembira atas diterbitkannya novel Sang Tandak. Menurutnya, buku ini merupakan karya yang luar biasa.

Usai pembedah pertama memberikan pandangannya, kini giliran pembedah kedua, yakni Hasan Aoni. Mengawali pandangannya terhadap novel karya koleganya itu, Hasan mengaku baru tahu kata tandak, yang berarti seorang penari. Dirinya juga mengaku baru tahu ada tempat-tempat di Kudus yang ditulis dalam buku.

Setelah mengawali pandangannya, Hasan kemudian menguliti isi novel Sang tandak. Ada banyak catatan yang ia buat, setelah membaca novel Sang Tandak.

Hasan mengatakan sangat kecewa karena ada peristiwa yang diespektasikan tidak muncul dalam tulisan. Hasan membandingkan Sang Tandak dengan karya novel Ahmad Tohari berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk”. Di dalam novel yang telah difilmkan itu muncul peristiwasang penari sebagai tokoh utama hilang keperawanannya. Menurutnya, peristiwa itu menjadikan kisah sang penari lebih dramatis.

“Di Ronggeng Dukuh Paruk ada peristiwa Srintil sebagai tokoh utama, menyerahkan keperawanannya. Lha itu yang saya tunggu-tunggu saat saya baca (Sang Tandak), tapi tidak muncul. Terus terang saya kecewa,” tutur Hasan yang disambut gelak tawa peserta bedah buku yang hadir.

Menurut Hasan, Konflik dalam novel Sang Tandak juga menjadi landai, kurang dramatis. Ajeng yang diperistri bupati, konfliknya kurang berdarah. Padahal sebenarnya punya potensi dibuat berdarah-darah.

“Tapi, saya sangat senang buku ini bisa terbit. Bagaimanapun ini (Sang Tandak) merupakan karya yang sangat luar biasa. Saya ucapkan selamat untuk Mas Yit, yang telah berhasil membuat novel ini,” tutur Hasan.

Editor: Suwoko

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
30,973PengikutMengikuti
141,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER