Kaya Omega dan Rendah Kolesterol, Budidaya Udang Galah Jadi Peluang Usaha Menguntungkan

BETANEWS.ID, KUDUS – Budidaya udang galah mulai dilirik sebagai salah satu sektor perikanan air tawar yang menjanjikan dengan keuntungan tinggi. Selain memiliki nilai jual yang relatif mahal, perawatan udang galah juga dinilai tidak terlalu sulit selama kualitas air tetap terjaga.

Founder Ngramen Farm, Rio Krisdian, mengatakan bahwa udang galah merupakan salah satu komoditas perikanan dengan nilai ekonomi tinggi. Permintaan pasar, baik dalam negeri maupun luar negeri, hingga kini masih terbuka lebar.

Menurutnya, harga udang galah sangat bergantung pada ukuran. Untuk ukuran sekitar 60 ekor per kilogram, harga jualnya berkisar Rp70 ribu per kilogram. Sementara itu, untuk ukuran premium dengan jumlah ekor yang lebih sedikit per kilogram, harga jualnya dapat mencapai ratusan ribu rupiah.

-Advertisement-

“Harga tergantung ukuran. Kalau ukuran 60 ekor per kilogram sekitar Rp70 ribu. Semakin besar ukurannya, harganya semakin tinggi. Bahkan pernah ada pengiriman ke Singapura dengan harga Rp267 ribu per kilogram,” ujarnya.

Rio mengungkapkan bahwa tingginya harga jual tersebut tidak lepas dari kualitas gizi yang dimiliki udang galah. Komoditas ini dikenal memiliki kandungan omega yang tinggi, bahkan kerap dibandingkan dengan ikan salmon. Selain itu, udang galah juga rendah kolesterol sehingga banyak diminati konsumen.

“Keuntungan budidaya udang galah ini karena kandungan omeganya tinggi dan rendah kolesterol. Itu yang membuat permintaannya terus ada,” katanya.

Baca juga : Menengok Budidaya Udang Galah di Lereng Gunung Muria, Diklaim Terbesar se-Indonesia

Meski memiliki nilai ekonomi tinggi, Rio menilai budidaya udang galah tidak terlalu rumit. Faktor utama yang harus diperhatikan adalah kualitas sumber air yang digunakan dalam kolam budidaya.

Menurutnya, air sumur, air sungai, saluran irigasi, maupun mata air sangat baik digunakan untuk budidaya udang galah. Sebaliknya, penggunaan air PDAM tidak disarankan karena mengandung kaporit dan bahan pengolahan air lainnya yang berpotensi mengganggu pertumbuhan udang.

“Kesulitan perawatannya sebenarnya tidak ada yang terlalu berat. Yang penting sumber airnya bagus. Bisa menggunakan air sumur, sungai, irigasi, atau mata air. Yang tidak dianjurkan justru air PDAM karena mengandung kaporit,” jelasnya.

Saat ini, Ngramen Farm mengembangkan budidaya udang galah capit biru di kawasan lereng Gunung Muria, tepatnya di Desa Dukuhwaringin, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Budidaya tersebut dimulai pada Desember 2024 dengan mendatangkan sekitar 150 hingga 200 indukan dari Bandung.

Kini, Ngramen Farm memiliki 18 kolam budidaya dengan kapasitas sekitar 2.000 ekor udang per kolam. Ia menuturkan bahwa Ngramen Farm lebih fokus pada pengembangan pembibitan untuk memenuhi kebutuhan benih udang galah yang terus meningkat.

Rio menargetkan pada 2027 mendatang mampu memproduksi jutaan bibit udang galah. Untuk mencapai target tersebut, pihaknya saat ini lebih fokus memperbanyak indukan dibandingkan menjual hasil panen konsumsi.

“Kami sebenarnya sudah bisa panen dan menjual hasilnya. Namun, saat ini fokus utama kami adalah memperbanyak indukan dan produksi bibit karena target kami pada 2027 bisa menghasilkan jutaan bibit udang galah sehingga dapat diekspor ke berbagai negara,” terangnya.

Selain mengembangkan usaha secara mandiri, Ngramen Farm juga membina empat kelompok tani yang ikut mengembangkan budidaya udang galah. Melalui pendampingan tersebut, Rio berharap budidaya udang galah dapat menjadi alternatif usaha sekaligus mendukung ketahanan pangan dan peningkatan ekonomi masyarakat.

Dengan nilai jual tinggi, permintaan pasar yang terus tumbuh, serta perawatan yang relatif mudah, budidaya udang galah dinilai memiliki prospek cerah untuk dikembangkan di berbagai daerah, terutama di wilayah dengan suhu sekitar 29 derajat Celsius.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER