Menurut Asa, Puisi-Puisi Karya Yit Prayitno Jadi Alarm Zaman

0
Fajar Kartika (kiri), Yit Prayitno (tengah) dan Asa Jatmiko (kanan). Foto: Kaeraul Umam

Setelah pembuakaan, acara dijeda dengan beberapa lagu dari penampilan RSP Band. Sambil menikmati alunan musik, hadirin dipersilakan menyantap hidangan yang telah disiapkan.

Memasuki agenda utama, panitia memutar video berdurasi tiga menit. Video tersebut berisi profil singkat Yit Prayitno, dan pembacaan puisi berjudul “Kudusem” yang dibawakan langsung olehnya. Ada sejumlah judul puisi karya Yit Prayitno yang akan dibedah dan dibacakan. Selain Kudusem, ada pula puisi berjudul “Petani”, “Angin Bireun”, “1918 dan 1980”, dan sejumlah judul lain.

Pemutaran video telah berakhir, Fajar Kartika yang didapuk sebagai pembedah puisi sekaligus pemegang acara utama, kemudian maju ke depan. Mengawali acara, Fajar menyampaikan perspektif dirinya terhadap puisi-puisi karya Yit Prayitno.

Dia mengungkapkan, jika dunia dianggap sebagai aksi, maka sikap diri adalah reaksinya. Menurutnya, reaksi yang muncul bisa sangat beragam. Saat marah, orang bisa diam, menangis, mengamuk bahkan mungkin tertawa. Saat bahagia, orang bisa tersenyum, tertawa ataupun menangis.

Baca juga: Penyelamatan Ekologi dan Perjalanan Hidup PvL Tersimpan Dalam Buku Lemari Hati

- advertisement -

Hubungan antara aksi dan reaksi, kata Fajar, seringkali arbitrer atau sewenang-wenang. Roland Barthes dalam Mitologi (1972) mengisahkan, bahwa dalam berinteraksi, manusia sebenarnya mengkomunikasikan kode atau tanda.

“Sedangkan, seorang filsuf Prancis, Michael Foucault, mengatakan bahasa adalah alat represif. Nah, apakah puisi-puisi Mas Yit ini hanya alat komunikasi biasa saja, atau puisi ini dijadikan Mas Yit sebagai alat dengan tujuan-tujuan tertentu? Nanti kita tanya langsung kebapa beliau,” tutur Fajar, yang kemudian mengundang Asa Jatmiko dan Yit Prayitno untuk maju.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini