Beranda blog Halaman 21

Kepatuhan Pajak Kendaraan di Kudus Tetap Tinggi Meski Sempat Viral Ajakan Boikot Bayar Pajak

0
Sejumlah wajib pajak saat mengantre untuk membayar pajak kendaraan bermotor. Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tengah maraknya ajakan di media sosial (medos) untuk menunda bahkan tidak membayar pajak kendaraan, tingkat kepatuhan masyarakat Kudus justru tetap tinggi dan tidak berdampak signifikan terhadap penerimaan daerah. Bahkan di triwulan pertama 2026 ini mampu melampui target.

Kasi Pelayanan Pajak Daerah Samsat Kudus, Agus Praviantho, menjelaskan bahwa Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) masih menjadi salah satu tulang punggung Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Jawa Tengah.

Pada 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan penerimaan PKB sebesar Rp 4,585 triliun.

Dari total target tersebut, Kabupaten Kudus mendapat porsi Rp 145 miliar. Hingga 31 Maret 2026, realisasi PKB di Kudus telah mencapai Rp 28,519 miliar atau sekitar 20 persen dari target tahunan.

“Capaian ini melampaui target triwulan pertama yang ditetapkan sebesar 15,65 persen. Artinya, kinerja penerimaan pajak di Kudus cukup baik dan menunjukkan kepatuhan masyarakat masih tinggi,” ujar Agus di ruang kerjanya belum lama ini.

Selain PKB, penerimaan dari Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) juga mencatat hasil positif.

Dari target Rp 71,8 miliar, realisasi hingga akhir Maret mencapai Rp 15,425 miliar atau 21,46 persen.Agus mengakui, pada Februari hingga Maret sempat beredar ajakan di media sosial yang mendorong masyarakat untuk tidak membayar pajak kendaraan. Namun, fenomena tersebut tidak memberikan dampak berarti di Kudus.

“Alhamdulillah, di Kudus tidak berdampak serius. Tingkat kepatuhan masyarakat masih cukup tinggi,” tegasnya.

Baca juga: Di Tengah Isu Boikot Bayar PKB 2026, Realisasi Pajak Kendaraan Kudus Capai 8,24 Persen

Menurutnya, stabilitas penerimaan pajak turut didukung oleh gencarnya sosialisasi yang dilakukan Samsat. Edukasi langsung telah menyasar sembilan SMA/SMK serta sembilan kecamatan di Kabupaten Kudus.

Dalam kegiatan tersebut, Samsat juga melibatkan kepala desa dan sekretaris desa guna memperluas jangkauan informasi kepada masyarakat. Dari hasil sosialisasi, potensi penerimaan pajak kendaraan di Kudus dinilai masih cukup besar.

“Ketika kami turun langsung ke lapangan, kesadaran masyarakat ternyata cukup baik. Ini tercermin dari capaian yang mampu melampaui target triwulan pertama,” imbuhnya.

Secara keseluruhan, Agus menegaskan bahwa ajakan untuk tidak membayar pajak yang sempat viral tidak berpengaruh signifikan di Kudus.

Ia optimistis, dengan tingkat kepatuhan yang tetap terjaga, target penerimaan pajak tahun 2026 dapat tercapai sesuai harapan.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Mendikdasmen Abdul Mu’ti Resmikan Revitalisasi 90 Sekolah di Pati

0

BETANEWS.ID, PATI — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, meresmikan revitalisasi 90 satuan pendidikan di Kabupaten Pati, Minggu (12/4/2026). Peresmian dipusatkan di SMP Negeri 8 Pati dan dihadiri Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, beserta jajaran.

Kegiatan tersebut turut diikuti perwakilan dari 90 sekolah penerima program revitalisasi tahun anggaran 2025, mulai dari tingkat TK hingga SMA atau sederajat. Revitalisasi ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan di daerah.

”Kami meresmikan 90 satuan Pendidikan yang mendapatkan revitalisasi anggaran 2025. Alhamdulillah semuanya sudah selesai 100 persen dan sekarang sudah dimulai digunakan untuk meningkatkan Pendidikan di Kabupaten Pati,” ujar Abdul Mu’ti.

Ia memaparkan, revitalisasi yang dilakukan menyesuaikan kebutuhan masing-masing sekolah. Pembangunan meliputi berbagai fasilitas penunjang kegiatan belajar mengajar.

Ia memaparkan, revitalisasi bervariasi dan berbeda-beda tergantung kebutuhan sekolahnya masing-masing. Mulai dari ruang kelas baru, ada laboratorium, perpustakaan, toilet, kemudian ada ruang komputer.

”Anggaran untuk Pati Rp 67 miliar sekitar untuk tahun 2025,” ujarnya.

Baca juga : 17.372 Guru di Jepara Jadi Sasaran Penerima Kartu Guru Sejahtera 

Selain meresmikan hasil revitalisasi, Abdul Mu’ti juga mengungkapkan rencana lanjutan pemerintah dalam memperbaiki sekolah-sekolah rusak di seluruh Indonesia pada tahun 2026. Program tersebut diprioritaskan bagi daerah terdampak bencana, wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta sekolah dengan tingkat kerusakan berat.

”Insya Allah tahun 2026 sesuai arahan Pak Presiden untuk meningkatkan mutu pendidikan ada anggaran di tahun ini 11,4 triliun itu nanti untuk sekolah daerah bencana, 3T dan sekolah yang kerusakan berat. Termasuk kemarin sebuah SD di NTT akan mendapatkan revitalisasi di tahun 2026“ ungkapnya.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan komitmen pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional sekaligus menekan jumlah sekolah rusak secara bertahap.

”Jadi kami berusaha semaksimal mungkin merespon masyarakat agar semua sekolah bisa kita perbaiki secara bertahap,” katanya.

Di sisi lain, Kementerian juga terus mendorong program digitalisasi pendidikan. Tercatat sebanyak 288.806 satuan pendidikan di Indonesia menjadi sasaran program tersebut.

”Kalau tidak menerima itu karena tidak mau menerima. jadi ada sekolah-sekolah yang dia tidak mengisi form dan memilih tidak menerima. Tapi yang menerima sudah kita kirim. Ada empat paket, IFP, laptop, hardisk dan pelatihan gurunya. Jadi gurunya kita latih. Tadi kita sudah cek pembelajaran di kelas bagaimana pembelajaran IFP di SMP 8 Pati ini,” ucapnya.

Salah satu sekolah yang merasakan manfaat langsung program revitalisasi ini adalah SMP Negeri 1 Gembong. 

Kepala SMP Negeri 1 Gembong, Istiana mengungkapkan rasa syukur karena gedung sekolahnya bisa diperbaiki. 

Dengan kucuran dana Rp3,336 miliar, sekolahnya kini memiliki fasilitas baru yang lengkap.

“Dulu sekolah kami memang sangat mengenaskan. Atap semua dibongkar karena kayunya keropos, lantai juga pecah-pecah karena akar pohon.Kondisi bangunan keropos semua dan baru kali ini direvitalisasi sejak 1983,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Momentum Halal Bihalal, PKS Pati Tegaskan Komitmen Wujudkan Pati Lebih Baik

0

BETANEWS.ID, PATI — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Pati menggelar acara halal bihalal di Gedung PGRI Pati pada Minggu (12/4/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat soliditas internal partai dari tingkat daerah hingga ranting, sekaligus mempertegas kesiapan kader dalam menjawab berbagai tantangan ke depan.

Melalui kegiatan itu, diharapkan soliditas internal partai dari tingkat daerah hingga ranting semakin kokoh, sehingga siap menjawab tantangan dan menjadi garda terdepan dalam menghadirkan kesejahteraan bagi warga Pati.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PKS Kabupaten Pati, Kunarto, dalam kesempatan tersebut mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali bersatu membangun Kabupaten Pati.

Dirinya menyampaikan, acara itu digelar untuk memperkuat ukhuwah, sehingga para kader dapat semakin bersemangat dalam bekerja membangun Pati, khususnya bagi PKS.

Selain itu, ia juga mendorong para kader yang duduk di parlemen agar mampu menciptakan suasana yang kondusif dan sejuk di tengah masyarakat.

Baca juga : Jateng Dominasi Deretan Kota-Kabupaten Paling Maju di Indonesia

Dalam momen itu, dia juga mengajak agar para kader yang ada di parlemen agar dapat membuat suasana Kabupaten Pati menjadi adem dan lebih baik lagi.

PKS Pati juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam menciptakan kondisi daerah yang lebih baik dan tenteram. Hal tersebut turut disampaikan kepada Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra.

Pihaknya juga menyampaikan ke Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra untuk bekerja sama antara pemerintah dan masyarakat agar suasana Pati lebih baik dan menjadi tenteram.

“Harapannya tentu bagaimana membawa Pati bisa lebih baik lagi. Situasi yang terjadi kemarin, ujian kemarin tidak terjadi lagi,” ucapnya.

Sementara itu, anggota DPRD Pati dari PKS, Narso, menilai momentum halal bihalal tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga sarana konsolidasi dan penyatuan potensi untuk pembangunan daerah.

Harapan senada juga diungkapkan oleh salah satu anggota DPRD Pati dari PKS, Narso. Dia menyebut, momen Halal Bihalal tak hanya sebagai bentuk konsolidasi, namun juga menyatukan semua potensi agar bersama-sama dapat membangun Pati ke depan menjadi lebih baik lagi.

“Kami juga berkoordinasi dengan Plt Bupati Pati agar bisa sengkuyung membangun Pati. Dimana jeda yang ada sekarang ini, nantinya bisa segera disikapi untuk segera membangun Pati menjadi baik,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

17.372 Guru di Jepara Jadi Sasaran Penerima Kartu Guru Sejahtera 

0

BETANEWS.ID, JEPARA– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara pada tahun ini kembali melanjutkan Program Kartu Guru Sejahtera yang merupakan salah satu program unggulan pada masa pemerintahan Wiwit-Hajar. 

Pada tahun ini, bantuan yang ditujukan bagi guru non-Aparatur Sipil Negara (ASN), TPQ, Madrasah Diniyyah (Madin), Pondok Pesantren (Ponpes) dan lembaga kursus itu menyasar sebanyak 17.372 guru. Alokasi yang diterimapun sama, baik di lembaga yang berstatus negeri maupun swasta.  

Bupati Jepara, Witiarso Utomo menegaskan, pembangunan yang paling mendasar terletak pada kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, hal tersebut berawal dari ruang kelas, madrasah, dan sekolah, serta peran besar para guru sebagai ujung tombak pendidikan.

“Peran besar guru, ustaz, kiai maupun para pendidik ini harus kita apresiasi karena anak-anak kita menjadi terdidik berkat beliau-beliau itu,” katanya saat menghadiri Halal Bihalal dan peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-74 Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) di Aula Sunu Ngesti Tomo, Jepara pada Sabtu, (11/4/2026). 

Wiwit melanjutkan, program tersebut sebelumnya sudah ia jalankan pada masa awal kepemimpinannya. Dengan alokasi anggaran sebesar Rp19,488 miliar, program tersebut telah memberikan manfaat kepada 10.827 guru non-ASN di Jepara. 

Baca juga : Paralegal Muslimat NU Jadi Mitra Strategis Pemprov Jateng dalam Pendampingan Hukum Warga

Selain Program Kartu Guru Sejahtera, di sektor pendidikan, Wiwit mengatakan, ia juga memiliki Program Kartu Sarjana Jepara yang telah membantu 2.398 mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. 

Program ini akan terus berlanjut pada tahun 2026 dengan penambahan penerima baru yang didukung oleh Baznas serta kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi.

Program tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas generasi muda di Jepara agar memiliki masa depan yang lebih baik.

“Ini adalah bagian dari ikhtiar kita agar anak-anak Jepara memiliki masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Ketua Pergunu Jepara, Ahmad Makhali mengapresiasi langkah yang dilakukan Bupati Witiarso Utomo. Menurutnya saat ini Pemkab Jepara sudah menunjukkan apresiasi positif terhadap dunia pendidikan, tanpa memandang status lembaga. 

Menurutnya jika kesejahteraan guru terangkat maka imbasnya juga dibarengi peningkatan kualitas pendidikan di Kota Ukir. 

“Kita sangat apresiasi sekali. Kartu Guru Sejahtera ini kabar gembira untuk para guru madrasah kita yang jumlahnya sekitar 2241 orang,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Buka Cuma 3 Jam, Pecel Pincuk Asli Madiun Ini Ludes Setiap Hari

0
Warung pecel Madiun di selatan Taman Gondangmanis, Jalan Kampus UMK, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Foto: Chindy Saifani Mahasiswa Magang PBSI UMK

Sebuah kios menjual pecel asli Madiun berada di sebelah selatan Taman Gondangmanis, Jalan Kampus UMK, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, terlihat ramai pembeli. Mereka tampak memenuhi kursi warna cokelat yang disediakan di depan kios tersebut.

Pagi itu, memang banyak pelanggan yang datang silih berganti memenuhi kiosnya. Ada yang memilih makan di tempat, ada pula yang membawanya pulang. Mereka tampak dilayani dengan ramah oleh seorang perempuan dan dua laki-laki. Satu di antara pria itu adalah Agung Cahyono (60), pemilik Nasi Pecel Pincuk Khas Madiun.

Usai melayani pembeli, Agung sapaan akrabnya, bersedia menjelaskan usaha kuliner yang dirintis 2020 lalu. Dalam penjelasannya, ia merupakan orang pertama asli Madiun yang mencoba melestarikan pecel Madiun di Kudus.

Baca juga: Cuma Rp5 Ribu, Lontong Tahu Napsiah Bertahan Puluhan Tahun

“Awal-awal pernah nyoba pecel Madiun di Kudus, standar rasanya beda, tidak seperti di Madiun asli. Akhirnya terinspirasi untuk menjual pecel Madiun karena memang saya orang Madiun asli, untuk memperkenalkan saja bahwa ini lho pecel Madiun yang asli, penyajian dan bumbunya seperti ini,” jelasnya.

Agung menambahkan, isian dari pecel Madiun ada kacang yang disangrai, cabe rawit, gula jawa, gula pasir, daun jeruk, asam jawa. Menurutnya, bumbu dan cara penyajian harus urut karena itu ciri khas pecel Madiun yang asli.

“Untuk satu porsi pecel Madiun, mulai dari tempat makan pecelnya pakai pincuk dilapisi daun pisang, nasi, semanggi, kacang panjang, kembang turi, kecambah pendek, bumbu, petai cina, kemangi, serundeng, kerupuk atau peyek, standarnya Madiun seperti itu,” tuturnya.

Terkait harga, ia menjual pecel pincuk Madiun mulai dari Rp8 ribu pakai kerupuk dan Rp9 ribu kalau tambah peyek. Agung hanya buka di hari Sabtu dan Minggu saja. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan 10 kilogram nasi.

“Biasanya saya buka hanya akhir pekan. Itupun cuma tiga jam, mulai pukul 06.00 hingga 09.00 WIB,” jelas Agus saat ditemui beberapa waktu lalu.

Baca juga: Modal Rp50 Ribu, Warung Mbak Yuni Jadi Andalan Sarapan Warga Kudus

Yeni, satu di antara banyaknya pembeli juga berbagi cerita. Menurutnya, perbedaan pecel Madiun terletak pada bumbunya. Jika pecel khas masakan Kudus cenderung manis, maka pecel Madiun tidak terlalu manis.

“Kalau pecel yang lainnya kan manis, kalau di pecel pincuk ini rasanya pas. Sayurannya kalau yang lain kan pakai bayam, kalau di sini nggak. Kebetulan saya juga tidak suka bayam,” terang Yeni.

Penulis: Chindy Saifani Mahasiswa Magang PBSI

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Setiap Hari Diserbu Pembeli, Ganesha Snack Jadi Andalan Berbagai Acara

0
Sejumlah pembeli datang di Ganesha Snack di Jalan Ganesha II, Desa Purwosari, Kota Kudus. Foto: Chindy Saifani, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Wanita berhijab hitam tampak begitu bersemangat melayani pembeli yang datang silih berganti di tokonya. Ia adalah Dwi Maria Ningsih (56), pemilik lapak Ganesha Snack di Jalan Ganesha II, Desa Purwosari, Kota Kudus. Dari pagi, aktivitas perdagangan di toko Ganesha Snack itu sangat ramai pembeli yang memenuhi lapaknya.

Di sela-sela kesibukannya, perempuan yang akrab disapa Dwi itu berbagi cerita tentang usahanya. Ia menjelaskan bahwa dagangannya selalu ramai setiap paginya. Dari sejumlah jajanan yang ia jual meliputi kue basah dan kue kering, menurutnya semua jajanannya sama rata banyak yang suka.

“Jajanannya mulai pedas, manis, asin semuanya ada macam-macam, ada puluhan lebih. Alhamdulillah semuanya sama, pasti ada pelanggannya masing-masing,” tuturnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Baca juga: Cuma Rp5 Ribu, Lontong Tahu Napsiah Bertahan Puluhan Tahun

Dwi juga menjelaskan, ia menerima banyak sekali pesanan setiap harinya, tentunya dengan kualitas jajanan yang selalu bagus untuk kepuasan pelanggannya.

“Setiap hari saya menerima pesanan, kadang 200 pcs snack box hingga 500 pcs, biasanya dari UMKM, kantor-kantor, proyek yang ada di Kudus, dan berbagai acara lainnya saya layani. Di sini minimal order 20 pcs,” kata Dwi.

Ketahanan dari jajanan yang ia jual, mulai dari kue basah biasanya 1 hari, jajanan kering bisa sampai 1 bulan. Menurutnya, untuk menjaga kualitas ia mempunyai prinsip untuk selalu menjaga dapurnya sendiri. Kualitas produk dan bahan baku yang bagus serta tata cara yang baik juga akan menjamin suatu produk itu berkualitas.

“Bahan-bahan yang bagus dan berkualitas, karena kita juga tidak ingin rugi, apalagi merugikan pelanggan. Dengan bahan dan kualitas produknya bagus untuk menjaga kepuasan pelanggan supaya tidak kecewa,” ujarnya.

Baca juga: Modal Rp50 Ribu, Warung Mbak Yuni Jadi Andalan Sarapan Warga Kudus

Berbagai jajanan yang ia jual mulai harga Rp 1.500 hingga Rp 6.500. Karena banyaknya pesanan, Ganesha Snack hanya libur dua pekan sekali di hari minggu.

“Namanya usaha tidak mungkin produksi terus, pasti ada istirahatnya. Pada hari Minggu selama dua minggu sekali itulah kita manfaatkan untuk istirahat. Kalau kita punya usaha sendiri otomatis akan berkembang, bisa mengatur waktu sendiri,” imbuhnya.

Penulis: Chindy Saifani, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Diuji Sepi Tiga Bulan, Lontong Tahu Napsiah Kini Ramai Pembeli

0
Napisah sedang mengobrol dengan pembeli lontong tahu di warungnya. Foto: Chindy Saifani Mahasiswa Magang PBSI UMK

Sebuah warung bertuliskan Lontong Tahu Kulon Jembatan di Desa Panjang, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, tampak mulai ramai pembeli. Terlihat ada beberapa orang memesan lontong tahu, sedangkan sebagian lainnya tampak duduk di bangku untuk menunggu pesanan lontong tahu dihidangkan.

Di belakang gerobak, terlihat seorang wanita sedang sibuk menyajikan lontong tahu pesanan para pembeli. Satu perempuan sedang menyiapkan gorengan dan lelaki berkaus biru navy. Wanita itu bernama Napsiah (54), pemilik Lontong Tahu Kulon Jembatan.

Dintengah kesibukannya, Napsiah sudi bercerita kepada betanews.id tentang usahanya yang ia mulai sejak tahun 2000 itu. Ia menceritakan, usaha tersebut dibuka karena pekerjaan suami sebagai kuli pasir mengalami banyak rintangan. Akhirnya ia memutuskan untuk berjualan mie ayam.

Baca juga: Cuma Rp5 Ribu, Lontong Tahu Napsiah Bertahan Puluhan Tahun

“Sebelum ada lontong tahu, jualannya mie ayam saja. Itu pernah tiga bulan tidak ada pembeli sama sekali, tapi pada saat itu tetap buka terus. Ternyata ada orang yang jahil, semacam itu ada pembuangan bunga di depan warung, tapi tetap sabar karena Allah sendiri yang memberi rezeki,” terangnya.

Setelah bertahan tiga bulan sepi, Napsiah akhirnya menambahkan menu untuk melengkapi dagangannya. Satu di antara menu tersebut adalah lontong tahu yang saat ini menjadi andalan warung tersebut.

“Lontong tahu, tahu campur, mie ayam harganya Rp5 ribu. Minuman mulai teh tawar Rp1 ribu, es teh manis Rp2 ribu, es jahe, es jeruk, dan juga aneka gorengan,” katanya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Hingga saat ini, dirinya sudah memiliki banyak pelanggan dan dikenal karena harganya yang murah tapi dengan porsi besar. Dirinya juga tetap bekerja di pabrik namun masih mengembangkan usahanya bersama suami dengan menambah menu dan membuka usaha lagi untuk dijalankan putrinya.

Baca juga: Modal Rp50 Ribu, Warung Mbak Yuni Jadi Andalan Sarapan Warga Kudus

Napsiah berharap untuk kejadian-kejadian yang menimpa usaha dan pekerjaannya ia pasrahkan pada Allah, ia tetap menekuni itu selagi apa yang dijalankan benar.

“Harapannya ke depan semoga lancar, disukai semua orang, sukses dan berkah. Apa pun rintangannya tetap disyukuri,” tambahnya.

Chindy Saifani Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Cuma Rp5 Ribu, Lontong Tahu Napsiah Bertahan Puluhan Tahun

0
Napisah sedang membuat lontong tahu yang dipesan pembeli, di Desa Panjang, Kecamatan Bae, Kudus. Foto: Chindy Saifani, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Siapa bilang makan enak harus mahal? Jika ada yang bilang enak harus mahal, berarti orang tersebut belum pernah mencoba Lontong Tahu Napsiah. Lontong tahu ini dijual dengan harga Rp5 ribu saja.

Menurut sang penjual, Napsiah (54), lontong tahu Kulon Jembatan ini memiliki cita rasa khas yang berbeda dari lontong tahu pada umumnya. Perbedaan itu terletak pada bumbunya yang melimpah serta harganya pas di kantong.

“Lontong tahu ini bumbunya pakai bumbu kacang dan pelengkapnya kecap manis sehingga terlihat kental. Tingkat kepedasan disesuaikan dari request pelanggan. Rasanya lebih gurih dan tentunya porsinya bisa mengenyangkan,” tuturnya.

Baca juga: Menikmati Hangatnya Adon-Adon Coro, Minuman Khas Jepara Favorit RA Kartini 

Tak heran, lontong tahu di Desa Panjang, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus itu selalu ramai pembeli. Dibantu dengan suami dan putrinya, warung yang buka mulai pukul 16.30 WIB tersebut biasanya bisa menghabiskan hingga pulihan porsi sehari.

“Untuk lontongnya buat 2 kilogram karena memang bukanya dari sore hingga pukul 22.00 WIB. Alhamdulillah setiap hari pasti ramai, harganya masih bertahan di Rp5 ribu,” bebernya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Karena lokasinya di desa, Napsiah memilih untuk tidak menaikan harga karena menyesuaikan kantong pelanggannya. Selama masih ada pemasukan, ia tetap bersyukur meski keuntungan per porsinya berkurang.

“Kalau ide berjualan ini awalnya karena kendala di pekerjaan sebelumnya, akhirnya buka usaha sendiri di rumah. Sudah mulai sejak sekitar tahun 2000,” ujarnya.

Selain lontong tahu, ia juga menjual beberapa menu lainnya, tahu campur, mie ayam yang harganya juga Rp5 ribu. Ia juga menawarkan beberapa menu minuman, mulai teh tawar Rp1 ribu, es teh manis Rp2 ribu, es jahe, es jeruk, dan lainnya.

Baca juga: Modal Rp50 Ribu, Warung Mbak Yuni Jadi Andalan Sarapan Warga Kudus

“Sini juga ada aneka gorengan. Kalau pelanggan biasanya mahasiswa dan masyarakat sekitar sini,” katanya.

Selain membuka pemesanan secara langsung, Napsiah juga sering mendapatkan orderan acara untuk hidangan di sekitar Kudus. Pembeli dapat menghubungi nomor melalui WhatsApp 085728413365.

“Kalau ingin pesan bisa lewat WA. Selain itu juga tersedia di GrabFood dan ShopeeFood dengan nama Rivon Food,” tambahnya.

Penulis: Chindy Saifani, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

5 Tahun Tanpa Solusi, Sampah di Gondoharum Kian Parah

0
Tumpukan sampah yang berada di kawasan Desa Gondoharum. Foto: Kaerul Umam.

BETANEWS.ID, KUDUS – Gunungan sampah yang berada di ruas jalan utama Dukuh Jajar RW 3 hingga Tompe RW 1 Desa Gondoharum, Kecamatan Jekulo semakin hari semakin mengkhawatirkan. Tumpukan sampah tersebut semakin bertambah dan dikhawatirkan menimbulkan bau menyengat yang dampaknya akan dirasakan oleh warga. 

Salah satu warga, Amang menyampaikan, bahwa kondisi seperti itu sudah berlangsung cukup lama. Bahkan persoalan sampah di sana disebut telah terjadi selama lima tahun terakhir. 

Menurutnya, lokasi pembuangan sampah tersebut menjadi titik akhir pembuangan sampah oleh petugas pemungut sampah desa. Oleh karena itu, volume sampah terus meningkat setiap hari tanpa ada penanganan yang serius. 

“Setiap hari bertambah dan baunya sangat mengganggu. Apalagi lokasinya dekat jalan utama,” keluhnya melalui rilis yang diterima Betanews.id, Sabtu (11/4/2026).

Tak hanya mengganggu kenyamanan, tumpukan sampah juga menimbulkan kekhawatiran baru bagi warga. Lokasi pembuangan yang berada di tepi sungai tersebut berpotensi mencemari aliran air, terutama saat musim hujan tiba.

“Kalau hujan deras, sampah bisa terbawa masuk ke sungai. Ini sangat berbahaya bagi lingkungan,” ungkapnya.

Baca juga: Tujuh Tahun Dibangun, Pasar Bangsri Jepara Akhirnya Bakal Dibuka

Diketahui, jarak lokasi penimbunan sampah hanya sekitar 100 meter dari permukiman warga. Pihaknya berharap ada langkah cepat dari pemerintah desa maupun pihak terkait agar persoalan ini tidak semakin melebar di kemudian hari.

Sementara itu, Kepala Desa Gondoharum, Kasmiran mengaku, persoalan sampah di desanya belum bisa tertangani secara optimal akibat keterbatasan anggaran. Ia menyebut, rencana pembangunan tempat pengolahan sampah sebenarnya sudah ada sejak tahun lalu, namun terkendala pencairan dana desa.

“Sebetulnya tahun kemarin sudah dianggarkan untuk tempat pemilahan dan mesin insinerator, tapi dana desa tidak cair, sehingga masih dibuang seperti biasa,” jelasnya.

Ia menambahkan, lokasi tersebut memang merupakan Tempat Penampungan Sementara (TPS). Namun, karena warga tidak dikenakan retribusi sampah, pengelolaan tidak maksimal.

“Kalau dibawa ke TPA terkendala biaya, karena harus bayar berdasarkan timbangan dan belum dianggarkan,” katanya.

Kasmiran menambahkan, pihak desa telah merencanakan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R). Bahkan, lahan desa seluas sekitar 3.500 meter persegi sudah disiapkan untuk mendukung program tersebut.

“Tahun ini ada bantuan khusus (Bansus) sampah dari Pemkab Kudus sebesar Rp50 juta, tapi itu untuk pembelian kendaraan roda tiga, bukan pembangunan fasilitas,” ujarnya.

Selain itu, rencana pembentukan bank sampah juga belum bisa direalisasikan karena belum tersedia gudang untuk penyimpanan. Pemerintah desa berharap ada dukungan anggaran dari Pemerintah Kabupaten Kudus untuk pembangunan fasilitas pemilahan dan pengolahan sampah. Dengan begitu, persoalan sampah yang selama ini dikeluhkan warga bisa segera teratasi.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Paralegal Muslimat NU Jadi Mitra Strategis Pemprov Jateng dalam Pendampingan Hukum Warga

0

BETANEWS.ID, SEMARANG — Sebanyak 400 kader Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Tengah yang telah dikukuhkan menjadi paralegal, bisa mitra strategis Pemerintah Provinsi Jateng dalam melakukan pendampingan hukum kepada warga.

“Mereka sudah dilatih menjadi paralegal. Mereka bisa menjadi kepanjangan tangan dari pemerintah untuk mendampingi masyarakat di tingkat bawah, yang berkaitan dengan masalah hukum maupun aspek lainnya,” kata Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi saat acara pengukuhan paralegal Muslimat NU Jawa Tengah di Balairung UTC Hotel, Kota Semarang, Sabtu (11/4/2026).

Dengan begitu, lanjut dia, Muslimat NU Jawa Tengah dapat meneguhkan perannya sebagai organisasi yang unggul dalam pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, serta pendampingan hukum masyarakat.

Sebagai informasi, sebanyak 400 paralegal Muslimat NU tersebut tersebar di 32 kabupaten/kota. Paralegal ini sudah dilatih dan dibekali kemampuan konsultasi hukum, mediasi, dan pendampingan non-litigasi. Paralegal Muslimat NU bisa menjadi pintu gerbang bagi masyarakat, terutama perempuan, anak, dan kelompok rentan, untuk mengakses layanan hukum dan mendapatkan hak-hak hukum secara adil.

“Kami pemerintah provinsi dan kabupaten/kota merasa senang karena Muslimat NU memiliki paradigma terkait paralegal ini,” kata Luthfi.

Dalam praktiknya, Paralegal Muslimat NU dapat berkerja sama dengan PKK tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, hingga desa. Juga dapat melalui program Kecamatan Berdaya yang menjadi salah satu program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk memberdayakan masyarakat di tingkat desa dan kelurahan.

“Peran Muslimat NU dan paralegalnya juga kita dorong untuk masuk ke Kecamatan Berdaya. Di sana ada pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, disabilitas, dan lainnya,” ujar Luthfi.

Ketua PP Muslimat NU Arifah Chooiri Fauzi mengatakan, Muslimat NU telah menunjukkan peran strategisnya dalam pemberdayaan ekonomi keluarga, pendidikan anak, dan penguatan ketahanan keluarga.

Hal itu menunjukkan pengabdian Muslimat NU dalam menjaga peradaban, membawa kedamaian, memperkuat persatuan, serta menjadi solusi atas krisis kemanusiaan.

“Perempuan dan anak mempunyai peran yang sangat penting dan strategis untuk Indonesia ke depan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pembina Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa mengatakan, bahwa paralegal yang digagas dan dibentuk oleh Muslimat NU agar menjadi pendamping hukum masyarakat. Praktiknya dapat berkolaborasi dengan Pos Bantuan Hukum (Posbakum) yang sudah ada di wilayah masing-masing.

Dalam kegiatan tersebut, Muslimat NU juga menyampaikan sembilan poin imbauan kepada Sekjen PBB untuk menghentikan perang dan mewujudkan perdamaian di seluruh dunia. Imbauan tersebut diserahkan kepada Menteri PPPA RI untuk kemudian dikirimkan ke Markas Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Telan Anggaran Rp225 M, Stadion Wergu Wetan Kudus yang Baru Nanti Belum Standar FIFA

0
Desain Stadion Wergu Wetan. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus memastikan pembangunan Stadion Wergu Wetan tidak lagi melalui skema renovasi, melainkan dibangun ulang dari awal. Keputusan ini diambil setelah pembahasan terakhir menetapkan bangunan lama harus dibongkar total.

Kepala Dinas PUPR Kudus, Harry Wibowo, mengatakan stadion lama akan segera masuk tahap pembongkaran. Lahan yang merupakan aset Pemkab Kudus itu nantinya akan digunakan untuk pembangunan stadion baru.

“Pembangunan stadion baru Wergu Wetan akan menelan anggaran kurang lebih Rp 225 miliar. Anggaran dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU),” ujar Harry belum lama ini.

Saat ini, proyek tersebut masih berada pada tahap perencanaan. Proses perencanaan yang dilakukan juga menggunakan anggaran dari pemerintah pusat, termasuk kajian teknis terhadap kondisi tanah lokasi pembangunan.

“Beberapa waktu lalu sudah ada tim konsultan tanah yang melakukan pengecekan di lokasi,” bebernya.

Baca juga: Pemkab Kudus Harapkan Desain Stadion Wergu Wetan Melingkar dan Dibangun secara Multi Years

Stadion Wergu Wetan yang baru ini dirancang memiliki kapasitas sekitar 8 ribu penonton. Sementara lahan yang disiapkan oleh Pemerintah Kabupaten antara 4,5 sampai 5 hektare.

“Proses pembongkaran stadion lama akan segera dilakukan lelang. Untuk pembongkaran nantinya menggunakan APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) Kabupaten Kudus,” tuturnya.

Dari sisi desain, stadion nantinya tetap melingkar. Tetapi tribun yang beratap hanya sisi barat saja. Hal tersebut menyesuaikan anggaran yang ada.

“Meski demikian, pembangunan tetap mengedepankan aspek kenyamanan dan standar yang ditetapkan oleh AFC. Standar FIFA tidak menjadi target karena keterbatasan biaya,” ungkapnya.

Dia mengatakan, proses perencanaan dan pengecekan tanah dijadwalkan berlangsung sepanjang April hingga Mei 2026. Adapun tahapan berikutnya, pada akhir Mei atau awal Juni 2026 akan dimulai proses lelang oleh Kementerian Pekerjaan Umum.

“Pada waktu yang sama, Pemkab Kudus diminta mulai melakukan pembongkaran stadion lama sebagai bagian dari percepatan proyek,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pacu Sport Tourism, Sekda Jateng Lepas Ratusan Pelari Tembus Gunung Ungaran

0
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, secara resmi melepas bendera start (flag-off) menandai dimulainya Semarang Mountain Race 2026. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Fajar belum sepenuhnya menyingsing di lereng Gunung Ungaran, bening embun masih menggelayut di hijau dedaunan, suara kokok ayam masih bersahutan. Walakin, asa ratusan pelari sudah membara di pelataran The Wujil Hotel, Kabupaten Semarang pada Sabtu, 11 April 2026. Mereka siap memacu langkah demi langkah paginya.

Saat jarum jam tepat menunjukkan pukul 05.00 WIB, Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, secara resmi melepas bendera start (flag-off) menandai dimulainya Semarang Mountain Race 2026.

Ajang lari lintas alam ini menantang fisik dan mental pelari di dua kategori ekstrem, yakni 50K dan 82K. Sebanyak 200 pelari berkompetisi di kelas 50K, sementara 52 pelari ultra lainnya menguji batas limit mereka di kategori 82K, menyusuri jalur teknis dan tanjakan terjal di pegunungan Ungaran.

Sumarno menegaskan, tingginya antusiasme peserta menjadi sinyal positif bagi pengembangan olahraga sekaligus pariwisata (sport tourism) di Jawa Tengah.

“Antusiasmenya luar biasa. Ini bagian dari pengembangan sport tourism di Jawa Tengah,” ujarnya.

Ia menambahkan, ajang tersebut juga menjadi sarana untuk mendorong masyarakat menerapkan pola hidup sehat melalui olahraga.

“Ini juga untuk mempromosikan gaya hidup sehat. Memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat,” kata Sumarno.

Narasi sport tourism yang digaungkan Pemprov Jateng terbukti bukan sekadar slogan. Jasmine Adli Putri Liza (24), pelari asal Jakarta, sengaja bertolak ke Semarang demi merasakan atmosfer lari di Gunung Ungaran.

Baginya, Ungaran memiliki daya tarik tersendiri yang membuatnya rela menempuh perjalanan jauh.

Baca juga: Porprov Jateng 2026 Diharapkan Jadi Pengungkit Perekonomian Daerah

“Aku sudah sering naik gunung sejak SMA, tapi lari di jalur trail itu tantangannya beda. Karena sebelumnya pernah mendaki Ungaran, aku penasaran ingin coba versi race-nya,” kata Jasmine.

Tak sekadar berlomba, Jasmine menjadi potret wisatawan yang menggerakkan ekonomi lokal.

“Setelah finis, aku rencana mau jalan-jalan dulu di Kota Semarang. Baru Minggu malam kembali ke Jakarta,” tambahnya.

Senada dengan Jasmine, Maulana Hairul Anam (25) pelari asal Solo, mengaku telah lama mengincar ajang ini.

Baginya, lari lintas alam adalah transisi alami dari hobi mendaki gunung.

“Ini debut pertama saya di kategori 50K. Momentumnya pas di awal tahun dan setelah Lebaran, jadi semangatnya masih baru,” jelasnya.

Dengan suksesnya pelepasan ratusan pelari ultra ini, Semarang Mountain Race diharapkan terus berkembang menjadi agenda ikonik yang memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai destinasi utama wisata minat khusus di Indonesia.

Semarang Mountain Race 2026 berlangsung pada 10–12 April 2026 dengan pusat kegiatan di kawasan The Wujil, Ungaran. Event ini menghadirkan lima kategori lomba, mulai dari 7K hingga 82K dengan total elevasi mencapai 5.500 meter lebih, melintasi jalur menantang di kawasan Gunung Ungaran.

Ajang ini juga telah terafiliasi dengan International Trail Running Association (ITRA), sehingga peserta yang berhasil finis berpeluang memperoleh poin untuk kualifikasi lomba lari tingkat internasional.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Menikmati Hangatnya Adon-Adon Coro, Minuman Khas Jepara Favorit RA Kartini 

0
Adon-adon Coro, minuman tradisional khas Jepara. Foto: Umi Nurfaizah.

BETANEWS.ID, JEPARA– Di antara gerobak yang saling berjejer di sebelah utara kawasan Shopping Center Jepara (SCJ), gerobak berbahan seng berkelir merah bertuliskan “Adon-Adon Coro” cukup ramai didatangi pembeli. 

Kristianto (40), Warga Desa/Kecamatan Bangsri memang tidak hanya menjual Adon-Adon Coro, tetapi juga es gempol pleret yang sama-sama merupakan minuman khas Jepara. 

Meskipun pembelinya tidak sebanyak Es Gempol Pleret, Kristianto mengatakan, Adon-Adon Coro memiliki pelanggan setia yang kebanyakan berasal dari luar daerah. Mereka selalu memesan minuman tersebut setiap kali datang ke Jepara. 

Di tengah menjamurnya berbagai jenis minuman beraneka rasa, minuman tradisional seperti Adon-Adon Coro menurut Kristianto memang jarang diminati oleh anak-anak muda. 

“Rata-rata yang beli memang yang sudah sepuh, yang sudah langganan lama, jarang kalau anak muda,” kata Kristanto.

Padahal, minuman berbahan rempah tersebut menurut Kristanto memiliki khasiat yang bagus untuk menjaga kebugaran tubuh. 

Selayaknya minuman, Adon-Adon Coro berbentuk cair dengan bahan utamanya terbuat dari campuran jahe, gula merah, dan potongan kelapa muda. Dalam penyajiannya, Adon-Adon Coro dicampur dengan santan dan bubuk jamu yang terbuat dari 15 campuran rempah. 

“Khasiatnya bisa untuk menghangatkan badan, masuk angin, meriang, pilek. Karena bahan utamanya dari jahe campur gula merah, terus dicampur jamu yang isinya rempah-rempah, total ada 15 jenis,” sebut Kristanto. 

Kristanto sendiri sudah 20 tahun menjadi penjual Adon-Adon Coro. Ia merupakan penerus generasi ke-4 yang mewarisi usaha tersebut dari mbah istrinya. 

Satu porsi Adon-Adon Coro yang disajikan dalam mangkuk kecil dijual dengan harga Rp7 ribu. Ia biasanya berjualan mulai pukul 16.00 WIB sampai habis. 

Terpisah, Subkor Sejarah dan Kepurbakalaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara, Lia Supardianik mengatakan, secara penyajian Adon-Adon Coro, hampir mirip dengan Wedang Jamu Coro dari Kabupaten Demak. 

Lia menjelaskan, Adon-Adon Coro memiliki tekstur cair menyerupai wedang jahe bersantan atau kolak yang encer. Isiannya berupa potongan kelapa muda atau kelapa bakar.

Sedangkan Wedang Jamu Coro teksturnya lebih kental, hampir menyerupai bubur sumsum yang sangat cair atau saus santan yang pekat. Hal ini karena Wedang Jamu Coro menggunakan campuran tepung beras.

“Menurut tutur lisan, minuman ini (Adon-Adon Coro) disukai oleh Ibu Kartini. Namun untuk bukti dukung historisnya belum ada,” ungkap Lia. 

Nama Adon-Adon Coro menurut Lia merujuk pada “coro” atau “cara” yang dalam pembuatannya diadon atau diolah. Sehingga Lia meluruskan nama tersebut bukan “coro” dalam bahasa Jawa yang berarti kecoa. 

Saat ini secara administratif, Adon-Adon Coro sudah tercatat dalam basis data Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) Jepara dalam domain pengetahuan tradisional. 

“Kami berencana untuk memasukkan Adon-Adon Coro sebagai nominasi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia sebagai salah satu minuman tradisional dari Jepara yang kaya rempah,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jateng Dominasi Deretan Kota-Kabupaten Paling Maju di Indonesia

0
Salah satu sudut Kota Semarang. Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Provinsi Jawa Tengah kembali mencatatkan capaian impresif dan menjadi perhatian di tingkat nasional. Pasalnya, beberapa daerah di Jawa Tengah masuk dalam penilaian paling maju di Indonesia.

Berdasarkan hasil pengukuran Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 yang dirilis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebagian besar kabupaten/kota di Jawa Tengah masuk dalam kategori daerah paling maju di Indonesia.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Jawa Tengah, Mohamad Arief Irwanto, mengungkapkan bahwa capaian tersebut menunjukkan daya saing Jawa Tengah berada jauh di atas rata-rata nasional. Secara nasional, indeks daya saing tercatat sebesar 3,50, sedangkan Jawa Tengah telah mencapai angka 3,87.

“Mayoritas kabupaten/kota di Jawa Tengah nilainya sudah melampaui nasional. Bahkan beberapa kota hampir menyentuh angka 4,” ujarnya di Semarang, Sabtu (11/4/2026).

Sejumlah daerah mencatatkan performa menonjol. Kota Surakarta menjadi yang tertinggi dengan skor 4,43, disusul Kota Semarang 4,37, dan Kota Magelang 4,29. Capaian ini menempatkan daerah-daerah tersebut dalam kategori kota paling maju di Indonesia.

Tak hanya kota, sejumlah kabupaten juga menunjukkan daya saing tinggi. Kabupaten Semarang mencatat skor 4,03, Kabupaten Klaten 3,86, serta Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Jepara masing-masing 3,85.

Arief menjelaskan, pengukuran IDSD dilakukan melalui 12 pilar utama, meliputi aspek institusi, infrastruktur, adopsi teknologi informasi dan komunikasi (TIK), hingga stabilitas ekonomi makro. Selain itu, indikator lain yang turut diukur mencakup kesehatan, keterampilan tenaga kerja, pasar produk, pasar tenaga kerja, sistem keuangan, ukuran pasar, dinamisme bisnis, dan kapabilitas inovasi.

Baca juga: Muara Pembangunan Jateng untuk Kesejahteraan Masyarakat

Menurutnya, kekuatan utama Jawa Tengah terletak pada sektor pasar dan tenaga kerja. Tingginya penyerapan tenaga kerja serta rendahnya tingkat pengangguran menjadi faktor kunci yang mendorong daya saing daerah.

“Penyerapan tenaga kerja di Jawa Tengah cukup tinggi, sehingga berdampak pada stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat,” jelasnya.

Dibandingkan wilayah lain di Jawa-Bali, Jawa Tengah juga unggul dalam komponen lingkungan pendukung dan ekosistem inovasi. Selain itu, kekuatan pada pilar institusi, ukuran pasar, dan kapabilitas inovasi turut memperkuat posisi provinsi ini.

Perkembangan kawasan industri di berbagai wilayah juga menjadi faktor pendorong signifikan. Selain membuka lapangan kerja baru, ekspansi kawasan industri memperluas akses pasar serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, akselerasi pembangunan ekonomi dinilai semakin terarah dan berdampak langsung pada peningkatan daya saing daerah.

Dengan capaian ini, Jawa Tengah dinilai masih memiliki peluang besar untuk terus berkembang dan memperkuat posisinya sebagai salah satu provinsi dengan daya saing terbaik di Indonesia.

“Potensinya masih sangat besar untuk terus berkembang dan menjadi yang terbaik,” pungkas Arief.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pengidap Penyakit Kronis di Kudus Diprioritaskan dalam Pembiayaan JKN

0
Kepala Dinsos P3AP2KB Kudus, Putut Winarno. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Kabar baik, warga Kabupaten Kudus yang memiliki penyakit kronis atau katagori katastropik dipastikan tetap aman mendapat perlindungan berupa bantuan iuran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Komitmen tersebut ditegaskan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus di tengah proses verifikasi ulang ribuan peserta yang berlangsung.
Pengidap penyakit kronis ataupun katastropik akan diprioritaskan dalam program jaminan kesehatan.

Kepala Dinsos P3AP2KB Kudus, Putut Winarno menyampaikan, walau saat ini dilakukan ground checking terhadap sekitar 8.000 peserta, kelompok dengan kondisi kesehatan berat tidak akan terdampak, bahkan akan menjadi prioritas utama. Menurutnya, pembiayaan berobat akan dijamin.

“Yang memiliki penyakit kronis atau katastropik tetap menjadi prioritas. Pembiayaannya dijamin, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir kehilangan akses layanan kesehatan,” katanya. 

Ia menegaskan, penyakit katastropik seperti gagal ginjal yang membutuhkan cuci darah, penyakit jantung, hingga kondisi medis berat lainnya tetap masuk dalam skema pembiayaan pemerintah. Terlebih sebagian besar pembiayaan ditanggung melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sehingga keberlanjutan pengobatan pasien tetap terjaga. 

“Saat ini proses verifikasi ulang tengah berlansung yang bertujuan untuk memastikan ketepatan sasaran penerima bantuan iuran. Data awal ada sekitar 10.000 peserta, saat ini difokuskan untuk 8.000 peserta yang perlu dicek ulang kelayakannya di lapangan,” ungkapnya. 

Putut mengatakan, proses ground checking tersebut melibatkan Badan Pusat Statistik (BPS) dan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Petugas turun langsung ke masyarakat guna memastikan kondisi sosial dan ekonomi peserta sesuai data yang tercatat. 

Baca juga: 8 Ribu Warga Kudus Diverifikasi Ulang Usai Dicoret dari JKN, Pemkab Siap Tanggung yang Tak Lolos

Hasil dari verifikasi tersebut akan menentukan apakah peserta masih berhak mendapatkan bantuan iuran atau tidak.

Meski demikian, pihaknya menyebut, bahwa aspek kesehatan tetap menjadi pertimbangan utama, khususnya bagi mereka yang membutuhkan perawatan jangka panjang. 

“Kalau ada peserta yang secara administrasi tidak lagi masuk kategori penerima, tetapi memiliki penyakit berat, tetap akan kita upayakan agar mendapat perlindungan,” jelasnya.

Tak hanya itu, Pemkab Kudus juga mengambil langkah agar tidak ada warga yang terputus dari layanan kesehatan yang disebabkan kendala administratif. Yakni dengan membuka peluang pengaktifan kepesertaan JKN bagi warga yang membutuhkan. 

Dia berharap, dengan penekanan pada kelompok yang mempunyai penyakit kronis tersebut, program jaminan kesehatan di Kudus dapat berjalan lebih adil dan tepat sasaran. 

“Intinya untuk yang sakit berat tetap kita prioritaskan. Pemerintah hadir untuk memastikan mereka agar tetap mendapat layanan kesehatan yang layak,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -