BETANEWS.ID, PATI – Banjir yang melanda Kabupaten Pati pada awal 2026 menyisakan persoalan berupa penumpukan sampah di bantaran sungai. Kondisi ini mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUTR) bergerak cepat melakukan pembersihan di sejumlah titik aliran sungai.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUTR Kabupaten Pati, Widyotomo Kusdiyanto mengatakan, langkah tersebut dilakukan untuk menormalisasi aliran air agar tetap lancar sekaligus menekan risiko luapan yang dapat merendam permukiman dan jalan.
“Pasca banjir Januari hingga Februari, kami fokus pada pembersihan sampah. Jika tidak segera diangkat, saat curah hujan tinggi debit air meningkat dan berpotensi melimpas ke permukiman,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Ia menjelaskan, pembersihan dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana hingga pemerintah desa setempat. Sampah hasil banjir, baik organik maupun nonorganik, diangkut menggunakan armada milik DPUTR.
Selanjutnya, sampah tersebut dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) guna mencegah pencemaran ulang di sungai. Selain itu, pihaknya juga berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk menyediakan lokasi pembuangan sementara yang aman dari risiko banjir.
“Untuk wilayah perkotaan dibuang ke TPA. Kami juga berkolaborasi dengan desa agar tersedia tempat pembuangan yang tidak rawan terdampak banjir,” imbuhnya.
Sejumlah titik yang telah ditangani selama empat bulan terakhir meliputi Sungai Sani, Sungai Simo, Sungai Kersulo, Sungai Godi, Sungai Sentul, hingga Bendungan Tambahmulyo di Kecamatan Jakenan.
Menurut Widyo, Sungai Sani menjadi prioritas utama karena kerap memicu luapan di kawasan dalam kota, mulai dari wilayah Sidokerto hingga Sidoharjo. Selain itu, Sungai Simo di jalur Pati–Juwana juga mendapat perhatian karena sering melimpas ke permukiman warga.
Sementara itu, Sungai Kersulo di sekitar Alugoro dinilai rawan menyebabkan kemacetan saat terjadi genangan. Adapun Sungai Godi di Desa Ngurensiti, Kecamatan Wedarijaksa, sempat menjadi sorotan karena tumpukan sampah yang menyumbat aliran di bawah jembatan.
Ia menambahkan, jenis sampah yang terbawa banjir didominasi material alami seperti akar dan dahan pohon, enceng gondok, potongan kayu, hingga pecahan bambu. Penanganan pun harus dilakukan secara intensif dan berkelanjutan.
Di wilayah selatan, normalisasi Sungai Sentul di Desa Glonggong, Kecamatan Jakenan, juga terus dilakukan meski belum sepenuhnya tuntas. Bahkan, dua hari lalu, tumpukan sampah di Bendungan Tambahmulyo sempat berpotensi membahayakan konstruksi bendungan akibat tingginya tekanan air.
“Kalau tidak segera diambil, bendungan bisa jebol karena kapasitasnya terlampaui,” tegasnya.
Untuk mendukung upaya tersebut, DPUTR menyiagakan alat berat seperti ekskavator dan truk dump, serta mengatur jadwal pembersihan secara rutin. Selain agenda berkala, penanganan juga dilakukan berdasarkan laporan masyarakat dan pantauan media sosial.
Dengan pembersihan yang terus digencarkan, diharapkan aliran sungai kembali normal sehingga mampu menampung debit air saat hujan deras dan meminimalkan potensi banjir di wilayah Kabupaten Pati.
Editor : Suwoko
















