BETANEWS.ID, KUDUS – LBH Ansor menegaskan, bahwa surat terbuka yang ditulis pelajar asal Kudus, Muhammad Rafif Arsya Maulidi kepada Presiden Prabowo Subianto bukan bentuk penolakan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya,Yusuf Istanto, surat tersebut merupakan bentuk kepedulian seorang pelajar terhadap kondisi guru di sekolahnya, khususnya terkait kesejahteraan guru. Kliennya ingin, bahwa jatah MBG untuk dirinya bisa dialihkan saja kepada guru untuk kesejahteraan mereka, karena ia sudah cukup mendapat gizi makanan dari orang tuanya.
“Ini bukan penolakan MBG. Ananda hanya meminta agar jatah yang menjadi haknya sendiri bisa dialihkan untuk membantu kesejahteraan guru,” ujar Yusuf, Kuasa Hukum Muhammad Rafif Arsya Maulidi dalam konferensi pers, Senin (13/4/2026).
Ia menjelaskan, Arsya menulis surat tersebut atas kesadaran pribadi setelah melihat kondisi guru, terutama di sekolah swasta di tempatnya belajar, yang dinilai masih membutuhkan perhatian lebih, khususnya dalam hal kesejahteraan.
“Ini bentuk kepekaan sosial. Dia melihat gurunya masih kurang sejahtera, sehingga muncul inisiatif untuk mengalihkan hak pribadinya,” jelasnya.
Yusuf menegaskan, bahwa dalam surat terbuka untuk Presiden Prabowo tidak ada ajakan dari Arsya kepada siswa lain untuk menolak program MBG. Keputusan tersebut murni bersifat personal.
“Kalau kita melihat dalam surat itu, tidak ada ajakan kepada teman-temannya maupun penolakan MBG. Ini murni sikap pribadi,” tegasnya.
Baca juga: Sebut Kesejahteraan Guru Kurang Diperhatikan, Siswa SMK di Kudus Surati Presiden Minta Hal Ini
Terkait beredarnya pernyataan di media, pihaknya menyebut bahwa Arsya belum pernah memberikan keterangan langsung kepada media mana pun.
“Anak ini belum pernah bertemu media. Jadi kalau ada kutipan langsung, itu perlu diluruskan,” imbuhnya.
LBH Ansor juga menanggapi isu dugaan intimidasi terhadap Arsya yang sempat beredar di media sosial. Yusuf memastikan, bahwa setelah dilakukan penelusuran, tidak ditemukan adanya tindakan intimidasi terhadap Arsya.
“Tidak ada intimidasi. Hanya ada satu orang yang sempat mengirim pesan langsung (DM), diduga oknum karyawan salah satu SPPG,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, oknum tersebut diduga salah paham dan mengira Arsyah menolak program MBG yang berpotensi berdampak pada pekerjaannya.
“Yang bersangkutan sudah datang ke rumah, meminta maaf, dan menjelaskan bahwa itu karena kesalahpahaman,” katanya.
Bahkan, lanjutnya, oknum tersebut juga telah membuat klarifikasi dan permintaan maaf secara terbuka melalui media sosial. “Dari pihak keluarga sudah menerima permintaan maaf tersebut,” tambahnya.
Kasus ini turut mendapat perhatian dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga pusat. Pemerintah disebut telah berkomunikasi dengan pihak keluarga untuk memastikan kondisi sebenarnya.
“Pemerintah juga sudah menghubungi kami untuk memastikan apakah ada intimidasi. Kalau ada, tentu akan ditindak tegas,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi anak sekarang dalam keadaan baik. Bahkan, anak bersekolah seperti biasanya.
Editor: Kholistiono

