BETANEWS.ID, KUDUS – Universitas Muria Kudus (UMK) kembali menambah jajaran profesor dengan mengukuhkan guru besar kelima pada Senin (13/4/2026). Pengukuhan tersebut diberikan kepada Prof Muh Syafei sebagai Guru Besar bidang Writing in English Language Teaching (ELT).
Rektor UMK, Prof Darsono menyebut, penambahan profesor ini menjadi modal penting dalam menjaga dan meningkatkan kualitas akademik kampus. Terlebih kampus sebelumnya telah meraih akreditasi unggul.
“Ini menjadi kapital bagi UMK untuk terus menjaga keunggulan, baik dari sisi mutu akademik, kualitas dosen, maupun tata kelola,” bebernya kepada awak media.
Ia menargetkan jumlah profesor di UMK dapat mencapai 50 persen dari total dosen sebagai syarat ideal kampus unggul. Untuk itu, pihaknya telah menyiapkan roadmap pengembangan hingga tahun 2029.
“Target kami hingga 2029 bisa mencapai 50 orang profesor. Bahkan setiap tahun diharapkan bisa bertambah 5 sampai 10 profesor baru,” jelasnya.
Menurutnya, capaian tersebut didukung dengan keberadaan Unit Pelaksana Teknis (UPT) layanan pengembangan karier dosen yang telah dibentuk sejak tiga tahun terakhir. Unit ini berperan dalam mendorong percepatan kenaikan jabatan fungsional dosen.
“Sekarang banyak dosen kami yang naik dari asisten ahli ke lektor hingga lektor kepala. Ini bagian dari hasil pembenahan tata kelola kampus,” katanya.
Baca juga: Jateng Dominasi Deretan Kota-Kabupaten Paling Maju di Indonesia
Darsono menegaskan, peningkatan jumlah profesor akan berdampak langsung pada kualitas ekosistem akademik kampus, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap mutu lulusan. Sehingga lulusan di UMK bisa berdampak di kalangan masyarakat.
“Kalau ekosistem akademiknya baik, maka diseminasi ilmu juga baik, dan outputnya adalah lulusan yang lebih berkualitas dan siap berkontribusi di masyarakat,” terangnya.
Sementara itu, karya ilmiah yang ditekankan oleh professor baru di UMKM bertema “From Pen to Artificial Intelligence: Transforming Writing & Language Learning for a New Generation”. Dalam karyanya Syafei menekankan sebagai proses kognitif dalam pembentukan makna.
Apalagi di sekolah Eropa seperti Swedia kini kembali ajarkan siswa dengan tulus tangan dan baca buku cetak. Kemajuan teknologi adanya AI dikhawatirkan berdampak pada kecemasan etis, di mana sekarang ini manusia dimudahkan dengan kehadiran AI ya v dapat membantu menulis dengan cepat, bahkan lebih cepat dari manusia.
Syafei menegaskan, bahwa prinsip penggunaan AI dapat meningkatkan pembelajaran, bukan menggantikan proses berpikir. Sebab menurutnya, yang menentukan kualitas tulisan bukan algoritma, tetapi kesadaran manusia.
Editor: Kholistiono

