Beranda blog Halaman 120

Tragis, Baru Dua Laga Awal, Persipa Pati Pecat Pelatih

0
Rudi Widodo, Pelatih Persipa. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI — Hanya butuh waktu enam hari dan dua kekalahan pahit bagi Manajemen Persipa Pati untuk menjatuhkan palu godam pemecatan. Rudi Widodo, sang juru taktik yang baru dipercaya menahkodai tim, harus angkat kaki dari kursi pelatih setelah gagal total mengangkat performa Laskar Saridin di awal Liga Nusantara 2025/2026.

Keputusan mengejutkan ini yang langsung memicu gejolak di kalangan Patifosi diambil saat Kebo Landoh terperosok di dasar klasemen Grup A.

Baca Juga: Persipa Takluk dari Dejan FC pada Laga Perdana Liga Nusantara

Kabar “cerai” ini mulai tersiar setelah Persipa Pati mengeluarkan pernyataan resmi melalui akun media sosial mereka.

Postingan tersebut mengindikasikan adanya kesepakatan damai dalam pengakhiran kerja sama, meski publik menduga ini adalah pemecatan paksa akibat performa tim yang mengenaskan.

Berikut pernyataan perpisahan yang diunggah klub. ”Terima kasih Coach Rudi Widodo atas komitmen dan perjuangan yang telah diberikan kepada Persipa Pati. Dengan penuh hormat, kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri kerja sama. Kami mendoakan yang terbaik untuk perjalanan Coach ke depan. Once Red Always Red,” begitu unggahan akun Persipa Pati.

CEO Persipa Pati, Rafi Rizqullah Arifin, membenarkan kabar tersebut. Ia mengaku jajarannya sudah sepakat memutus kerja sama dengan Coach Rudi Widodo. Meski tak menjelaskan alasan pemecatan secara rinci, performa skuad Persipa yang belum menunjukkan perbaikan di dua laga ditengarai menjadi faktor utama.

“Yes, betul. Tadi malam saya sudah bulat memutuskan kerjasama dengan Coach Rudi. Untuk penggantinya tunggu saja,” ujar Rafi, Kamis (4/12/2025).

Seperti diketahui, dalam dua laga awal Liga Nusantara 2025/2026, Laskar Saridin tak mendapatkan satu poin pun, bahkan sama sekali tak menunjukkan perlawanan berarti.

Laga Perdana pada 28 November 2025, Persipa Pati kalah 2-1 saat meladeni Dejan United FC di Stadion Moch Soebroto, Magelang. Penderitaan bertambah karena mereka harus bermain dengan 10 pemain di babak kedua setelah salah satu pemain diganjar kartu merah.

Baca Juga: Takluk 3-2 Lawan PSBS Biak, Pemain Persijap Akui Kesulitan

Kemudian, laga kedua pada 3 Desember 2025, hasil tak memuaskan kembali terjadi saat melawan Batavia FC di stadion yang sama. Persipa kalah dari Batavia dengan skor dua gol tanpa balas.

Kondisi ini membuat Laskar Saridin  tertahan di dasar klasemen Grup A, memaksa manajemen mengambil keputusan untuk menyelamatkan muka klub dari kejaran jurang degradasi.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Dituduh Halang-halangi Kegiatan Pertambangan, Aktivis Kendeng Gunretno Dipolisikan 

0
Ketua JMPPK, Gunretno. Foto Beta News: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Kabar mengejutkan datang dari kancah perjuangan lingkungan Pegunungan Kendeng. Aktivis kawakan yang juga Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), Gunretno, dilaporkan ke pihak kepolisian dan dijadwalkan diperiksa di Polda Jawa Tengah pada Kamis (4/12/2025) besok.

Pemanggilan ini diduga kuat sebagai respons balik terhadap sikap keras Gunretno yang konsisten menolak keberadaan tambang di kawasan penyangga ekologis tersebut.

Baca Juga: UMK Pati Tahun Depan Diusulkan Naik Sampai 21 Persen, Jadi Rp3 Juta Lebih

Surat pemanggilan terhadap tokoh sentral penolak tambang ini dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial dan aplikasi pesan singkat.

Dalam dokumen yang ditandatangani pada 28 November 2025 tersebut terungkap, Gunretno dilaporkan oleh seorang bernama Didik Setiyo Utomo pada awal November.

Tuduhan yang disematkan kepada Gunretno sungguh serius, menghalang-halangi Kegiatan Usaha Pertambangan (Izin Usaha Pertambangan) yang memiliki izin. Laporan tersebut teregistrasi dengan nomor LI/152/XI/RES.5.5./2025/Ditreskrimsus tertanggal 18 November 2025.

Dikonfirmasi mengenai surat yang beredar luas itu, Gunretno tak menampik keasliannya. Ia justru dengan tegas menyatakan sikapnya yang anti-penambangan, yang ia yakini berpotensi merusak alam.

”Pemanggilan besok. Saya juga tidak tahu. Katanya dilaporkan Didik Setiyo Utomo. Di surat (pemanggilan) itu disebutkan menghalangi penambangan. Dari dulu saya memang tidak suka tambang,” ujar Gunretno, Rabu (3/12/2025).

Aktivis yang dikenal vokal ini menunjukkan ketidaktakutan. Ia memastikan akan memenuhi panggilan Polda Jateng tepat waktu untuk memberikan klarifikasi.

”Tinggal besok jam 09.00 WIB. Besok datang,” katanya.

Gunretno menduga laporan polisi ini bukan sekadar kasus pribadi, melainkan salah satu upaya sistematis untuk “membungkam” perlawanan lingkungan terhadap eksploitasi di Pegunungan Kendeng.

”Mungkin (ini pembungkaman terhadap aktivis). Tapi saya tidak tahu siapa pelapornya,” ucapnya.

Meski demikian, hal tersebut tidak menggoyahkan semangatnya. Bagi Gunretno, perjuangan untuk Pegunungan Kendeng adalah harga mati.

Baca Juga: Gudang PT Dua Kelinci Hangus Terbakar, Kerugian Ditaksir Capai Rp25 Miliar

Ia mengingatkan, aktivitas penambangan di Kendeng adalah biang keladi kerusakan lingkungan dan pemicu utama bencana banjir yang melanda Kabupaten Pati, Kudus, hingga Grobogan.

”Harus terus berjuang agar Kendeng tetap lestari. Tetap semangat. Tidak menyurutkan perjuangan,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Antusias Tinggi, Lelang Bangunan Eks SMP 3 Kudus Capai Rp206,6 Juta

0
Gedung bekas SMP 3 Kudus yang mangkrak sejak tahun 2014. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Proses lelang aset daerah yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kudus kembali mencuri perhatian publik. Kali ini, bangunan eks SMP 3 Kudus yang berada di Jalan Loekmonohadi resmi terjual melalui lelang yang digelar Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL).

Kepala Badan Pengelolaan Pendapatan, Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Kabupaten Kudus, Djati Solechah, mengonfirmasi bahwa lelang tersebut menghasilkan nilai penawaran akhir sebesar Rp206.6 juta. Angka tersebut jauh di atas nilai limit awal yang dipatok sebesar Rp42.6 juta.

Baca Juga: Verifikasi Calon Penerima TKGS Kudus Tahun 2026 Gunakan Metode Sampling

“Alhamdulillah, bangunan eks SMP 3 Kudus sudah laku. Harga sewanya Rp 206,6 juta, jauh diatas harga limit yang ditentukan,” ujar Djati melalui aplikasi pengirim pesan, Rabu (3/12/2025).

Menurut Djati, lonjakan nilai penawaran tidak lepas dari tingginya minat masyarakat. Lelang itu diikuti oleh 40 peserta yang saling berebut memberikan penawaran sejak awal dibuka.

“Tingginya persaingan membuat harga lelang melesat signifikan hingga hampir lima kali lipat dari batas awal,” bebernya.

Ia menilai hasil lelang ini menjadi bukti bahwa optimalisasi pemanfaatan aset daerah melalui mekanisme lelang terbuka masih sangat diminati publik. Selain transparan, proses lelang juga memberikan kesempatan yang adil kepada seluruh peserta untuk bersaing secara sehat.

Djati menambahkan, bangunan eks SMP 3 Kudus berdiri di lahan seluas 1.300 meter persegi yang tercatat dalam Sertifikat Hak Pakai (SHP) No. 25 Panjunan. Pemenang lelang bernama Mulyadi dari Prambanan, Kabupaten Klaten.

“Alhamdulillah infomasinya, pemenang sudah melunasi harga lelang gedung eks SMP 3 Kudus,” sebutnya.

Sementara lahan eks SMP 3 Kudus, ungkap Djati, sudah disewa oleh investor untuk dibangun jadi restoran cepat saji dengan brand lokal. Rencana tersebut dinilai sejalan dengan kebutuhan pengembangan sektor kuliner yang terus tumbuh di Kudus.

Baca Juga: Jejak Teguh dan Peka Muria Menjaga Nafas Lereng Muria

Sesuai hasil penilaian Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP), nilai sewa lahan eks SMP 3 Kudus diperkirakan mencapai Rp78.046.000 per tahun. Pemanfaatan aset diberikan untuk periode awal selama lima tahun, dan mendapatkan hak eksklusif untuk memperpanjang hingga tiga periode berikutnya.

“Dengan demikian, total masa pemanfaatan dapat mencapai maksimal 20 tahun,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Memetik Inspirasi dari Oby, Sosok Disabilitas Asal Pati yang Sukses Buka Usaha Kuliner

0
Oby Achmad Widiyanto (38) merupakan sosok di balik berdirinya kedai Jahe Rempah Tempo Doeloe, tempat kuliner yang saat ini terkenal di Kabupaten Pati. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Oby Achmad Widiyanto (38) merupakan sosok di balik berdirinya kedai Jahe Rempah Tempo Doeloe, tempat kuliner yang saat ini terkenal di Kabupaten Pati.

Oby, merupakan penyandang disabilitas. Di tengah ketidaksempurnaan fisiknya, bukan berarti menjadi penghalang bagi dirinya untuk bisa meraih mimpi. Meskipun, ketidaksempurnaan itu pernah menjadi sempat membuat dirinya minder.

Baca Juga: Jalan ‘Jihad’ Chef Isman, Jadi Agen Kudus Asik Kampanyekan Pilah Sampah Melalui Konten

Oby pernah terpuruk hingga tak percaya diri. Tak lama, ia berhasil bangkit dan memilih mengembangkan usaha. Optimis dalam menjalani hidup terus digenggam olehnya. Di tengah kekurangannya sebagai disabilitas, ia kemudian tidak berkecil hati dan justru bangkit agar bisa berdaya.

Sebelum dikenal sebagai pengusaha kuliner, Oby sempat meniti karier mapan di sektor perbankan.

Pada tahun 2010, saat ia berusia 23 tahun, kecelakaan kerja merenggut fungsi normal salah satu tangannya dan membuatnya menjadi penyandang disabilitas permanen.

Karier sebagai pegawai bank pun harus ia relakan, karena proses pengobatan dan terapi memakan waktu panjang.

Di fase paling berat hidupnya, Oby sudah menyandang dua peran besar, suami dan ayah dari seorang anak kecil. Pilihan untuk menyerah tidak pernah singgah.

“Saya hanya punya dua opsi terpuruk, atau bangkit dan cari jalan baru,” ujarnya.

Dengan disabilitas fisik yakni gangguan gerak pada tangan kanannya, Oby beradaptasi dengan realitas barunya. Tak lagi berada di ruang kerja perbankan, ia justru membuka diri pada pekerjaan yang bisa dikerjakan dengan kemampuan yang ada.

Ia pernah berjualan ayam, membuka les privat, hingga mengerjakan jahit kain majun atau kain perca yang dikirim ke pabrik-pabrik menggunakan kendaraan pick-up setiap minggu.

Pengalaman bertahun-tahun bekerja serabutan itu menjadi pengalaman hidup bagi Oby. Ia belajar membaca peluang, mengenali kebutuhan pasar, hingga memahami perilaku konsumen dari berbagai lapisan.

Tahun 2019, ia menambah bekal baru dengan terjun ke dunia jurnalis, mengikuti pelatihan dan menulis isu seputar disabilitas. Selain itu, Oby juga aktif dalam komunitas difabel di wilayah Pati untuk memperjuangkan kesetaraan, bukan sekadar charity, melainkan pengakuan atas kemampuan dan kapasitas.

Langkah-langkah kecil itu perlahan menuntun Oby menemukan panggilan terbesarnya menjadi pengusaha.

Pada 23 Desember 2022, Oby bersama rekannya mendirikan usaha yang bernama Jahe Rempah Tempo Doeloe. Lokasinya berada di Jalan Kolonel Sugiono nomor 10, Desa Winong, Kecamatan Pati.

Kedai Jahe Rempah ini hadir di tengah dominasi kopi dan minuman kekinian, membawa diferensiasi minuman rempah tradisional yang dikemas modern, ramah lidah generasi muda, namun tetap berfokus pada kesehatan.

Ia terinspirasi oleh momen pasca pandemi COVID-19, ketika jahe dan rempah menjadi primadona. Namun, menurutnya, saat itu minuman rempah belum tersaji dengan citra menarik dan cenderung masih melekat pada stigma pahit seperti jamu.

Dengan riset pasar yang ia amati sendiri selama bertahun-tahun, Oby menciptakan minuman jahe yang manisnya alami, menggunakan gula batu dan gula aren tanpa pemanis sintetis, agar bisa dinikmati anak muda maupun mereka yang enggan pada rasa jamu tradisional.

Ia menambahkan, mengelola usaha dengan keterbatasan, itu bukan kendala baginya, melainkan rutinitas baru yang sudah ia kuasai.

“Saya butuh penyesuaian, tapi bukan halangan. Kalau saya bisa, teman-teman disabilitas lain juga pasti bisa,” katanya.

Kini, Jahe Rempah Tempo Doeloe bukan sekadar kedai minuman, tetapi juga simbol bahwa disabilitas tidak menghalangi seseorang untuk berkarier lebih tinggi, bahkan menjadi penggerak tren kesehatan tradisional.

Baca Juga: Deffa Aurelia, Model Menawan dari Kudus yang Juga Pegawai Bank

Ia membuktikan bahwa yang menentukan sukses bukan kesempurnaan fisik, melainkan keberanian memulai, kemampuan membaca peluang, dan keteguhan untuk terus melangkah.

Dukungan keluarga juga menjadi pondasi yang membuatnya tetap berdiri saat banyak pintu tertutup. Orang tuanya, guru-guru, teman dekat hingga komunitas difabel tempat ia berjejaring, bukan hanya memberi support moral, tetapi juga ruang mental untuk tetap percaya bahwa masa depannya masih luas.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Progam MBG di Jepara Ternyata Juga Rekrut Penyandang Disabilitas 

0
Bupati Jepara, Witiarso Utomo. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Progam Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Jepara ikut memberdayakan penyandang disabilitas. Saat ini terdapat dua relawan penyandang disabilitas yang bekerja di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jepara. 

Mereka yaitu M Syarifuddin Yahya, penyandang tuna rungu yang bekerja di SPPG Desa Jlegong, Kecamatan Keling dan Sutriyono, penyandang cerebral palsy (kelainan pada kaki dari kecil) yang bekerja di SPPG Mayonglor 1, Kecamatan Mayong. 

Baca Juga: Siap Jadi Sentra Peternakan, 110 Warga di Batealit Jepara Terima Bantuan Kambing Boer 

Bupati Jepara, Witiarso Utomo mengatakan peluang keterlibatan penyandang disabilitas di sektor pelayanan publik, khususnya program pangan bergizi, perlu diperluas untuk menghadirkan SPPG yang lebih inklusif.

Ke depan, ia berharap ada lebih banyak disabilitas yang bisa beraktivitas di SPPG. Selain itu, penerima progam MBG dari kalangan penyandang disabilitas juga bisa lebih banyak. 

Untuk saat ini, penyandang disabilitas yang sudah menerima progam MBG di Jepara yaitu 468 siswa jenjang SD-SMA di SLB Senenan. 

“Hari Disabilitas Internasional diperingati tiap 3 Desember. Kita akan selalu pastikan mereka mendapatkan hak-haknya baik terkait pendidikan maupun kesempatan kerja,” kata Wiwit pada Betanews.id, Rabu (3/12/2025). 

Berdasarkan data dari Badan Gizi Nasional (BGN), penerima MBG di Jepara tidak hanya kalangan siswa, tapi juga ibu hamil dan ibu menyusui. Dari 190.442 penerima, sebanyak 1.131 merupakan ibu menyusui dan 624 adalah ibu hamil. 

Serta sebanyak 2.564 bayi di bawah lima tahun dan 31.168 siswa taman kanak-kanak (TK) dan pendidikan usia dini (PAUD). Sisanya, sebanyak 156.710 merupakan siswa mulai jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA).

Baca Juga: Jelajah Wisata Jepara Kini Bisa Ditempuh Pakai Mobil Jeep 

Sementara itu, Kepala Satgas Percepatan Progam MBG Jepara Muhammad Ibnu Hajar mengingatkan tentang pentingnya operasional dan tata kelola distribusi bantuan pangan bergizi.

“Saya mengingatkan bahwa proses distribusi atau pemorsian harus dilakukan hati-hati, transparan, dan higienis. Banyak masukan masyarakat masuk ke kami. Tolong ini diperhatikan,” tegasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pedagang Pasar Baru Angkat Suara soal Rencana Relokasi Pedagang Bitingan

0
Pasar Baru Kudus. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Pedagang Pasar Baru Kudus menyatakan keberatan terhadap rencana Pemerintah Kabupaten Kudus yang bakal merelokasi pedagang Pasar Bitingan ke area dekat Pasar Baru. Rencana ini muncul karena bangunan Pasar Bitingan akan dirobohkan untuk pembangunan sarana dan prasarana gedung baru Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Loekmono Hadi.

Keresahan mulai merebak di kalangan pedagang. Mereka menilai kebijakan itu muncul di saat kondisi ekonomi sedang lesu, sehingga penyatuan dua pusat aktivitas perdagangan dianggap kurang tepat. Para pedagang khawatir kebijakan tersebut berdampak pada menurunnya jumlah pelanggan.

Baca Juga: Verifikasi Calon Penerima TKGS Kudus Tahun 2026 Gunakan Metode Sampling

Tidak hanya pedagang Bitingan yang merasa terancam, pedagang Pasar Baru pun merasakan kecemasan serupa. Mereka menilai relokasi itu berpotensi memicu persaingan yang tidak sehat di tengah penurunan daya beli masyarakat.

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Baru Kudus, Mufti Ali, mengatakan para pedagang pada dasarnya siap mengikuti keputusan pemerintah. Namun, ia berharap rencana tersebut tidak diambil secara tergesa-gesa.

“Bukan apa-apa, kami tentu sendiko dawuh. Tetapi kami berharap kebijakan itu bisa dikaji ulang,” ujar Ali kepada Betanews.id saat ditemui di kiosnya, Rabu (3/12/2025).

Ali menegaskan, para pedagang merasa keberatan apabila Pasar Bitingan dipindah ke lokasi yang terlalu dekat dengan Pasar Baru. Menurutnya, mendekatkan dua pasar bukan solusi yang bijak dan justru dapat mengganggu ekosistem dagang yang sudah terbentuk.

“Apalagi banyak pedagang di Pasar Baru ini kulakan ke Pasar Bitingan. Jika mereka dipindah dekat sini, nanti bakul kami banyak yang beralih,” bebernya.

Keluhan juga datang dari pedagang pakaian di Pasar Baru Anis Mafana, yang menilai relokasi tersebut berpotensi menurunkan omzet pedagang Pasar Baru.

“Kalau bisa, kebijakan tersebut dipertimbangkan lagi. Sebab itu akan merugikan pedagang Pasar Baru,” ujar Anis.

Ia menambahkan, kondisi Pasar Baru sendiri saat ini sudah tidak seramai dahulu. Selepas pukul 12.00 WIB, aktivitas pasar cenderung menurun drastis sehingga relokasi dianggap semakin memberatkan.

“Jika nanti ada relokasi pedagang Bitingan ke dekat Pasar Baru, pasti banyak pelanggan yang beralih. Kami benar-benar berharap kebijakan itu dikaji ulang,” harapnya.

Sebelumnya diberitakan, Pemkab Kudus akan melakukan pengembangan dan perluasan RSUD Loekmono Hadi. Pembangunan gedung baru di lahan eks Matahari Mall membutuhkan area tambahan, sehingga Pasar Bitingan termasuk dalam lokasi yang akan dibongkar.

Baca Juga: Jejak Teguh dan Peka Muria Menjaga Nafas Lereng Muria

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kabupaten Kudus, Djati Solechah, menyampaikan bahwa pembangunan gedung baru rumah sakit akan dimulai pada 2026 sesuai Peraturan Daerah (Perda) APBD 2026.

“Gedung baru RSUD di eks lahan Matahari Mall nantinya enam lantai. Karena membutuhkan sarana-prasarana pendukung serta akses emergency, nantinya bangunan Pasar Bitingan akan dirobohkan,” ujar Djati saat sosialisasi dengan pedagang sayur di Pasar Saerah, belum lama ini.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Jumlah Kasus HIV di Kudus Capai 144 Orang, Lonjakan pada Usia Remaja Picu Kekhawatiran

0
Ilustrasi HIV & AIDS. Grafis: Beta

BETANEWS.ID, KUDUS – Penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Kudus sepanjang Januari–Oktober 2025 menunjukkan perkembangan yang mengkhawatirkan. Dari total 144 kasus yang ditemukan, sebagian besar berasal dari kelompok usia muda, termasuk pelajar SMA berusia di atas 15 tahun. Kondisi ini menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus karena pola penularan yang mulai bergeser ke kelompok remaja.

Sekretaris DKK Kudus, Nuryanto, mengungkapkan bahwa kelompok laki-laki yang berhubungan dengan laki-laki (LSL) masih mendominasi temuan kasus, yakni sebanyak 40 orang. Ia menjelaskan bahwa karakter komunitas yang tertutup dan pola pergaulan berisiko membuat penularan lebih sulit dicegah serta membutuhkan pendekatan edukasi yang berbeda.

Baca Juga: Verifikasi Calon Penerima TKGS Kudus Tahun 2026 Gunakan Metode Sampling

“Komunitas ini tidak mudah dijangkau. Keterbatasan informasi dan tingginya pergantian pasangan menjadi faktor utama yang memperbesar risiko penularan,” jelasnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (3/12/2025).

Selain kelompok LSL, penularan juga banyak ditemukan pada pelanggan pekerja seks dengan jumlah 38 orang. Transaksi yang berlangsung di ruang-ruang tertutup seperti kos-kosan maupun tempat umum yang relatif bebas memperlihatkan bahwa pola penularan tidak lagi terjadi pada lokasi-lokasi konvensional.

Temuan lainnya berasal dari populasi umum dengan 29 kasus, pasien tuberkulosis (TB) sebanyak 17 kasus, calon pengantin sembilan kasus, pasangan orang dengan HIV delapan kasus, ibu hamil dua kasus, dan wanita pekerja seks satu kasus.

Menurut Nuryanto, deteksi pada calon pengantin merupakan hasil skrining kesehatan yang kini diperketat. Langkah tersebut terbukti penting dalam menekan penularan, terutama agar pengobatan dapat diberikan sedini mungkin.

Ia menegaskan bahwa stigma masih menjadi hambatan terbesar dalam penanganan HIV di Kudus. Banyak pasien datang ketika kondisinya sudah parah karena takut terbuka ataupun terhalang lingkungan yang belum ramah terhadap penderita.

Baca Juga: Jejak Teguh dan Peka Muria Menjaga Nafas Lereng Muria

“Kalau pengobatannya teratur, risiko penularan bisa ditekan hingga mendekati nol. Masalah utamanya adalah stigma dan keterlambatan datang untuk pemeriksaan,” ujarnya.

Tren kasus HIV di Kudus dalam lima tahun terakhir menunjukkan pola fluktuatif. Pada 2024 tercatat 146 kasus, 2023 sebanyak 150 kasus, melonjak hingga 217 kasus pada 2022, menurun ke 123 kasus pada 2021, dan 154 kasus pada 2020. Lonjakan pada kelompok usia muda tahun ini menjadi alarm baru bagi pemerintah untuk memperkuat edukasi dan upaya pencegahan yang lebih menyasar remaja.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pemkab Kudus Bakal Hutang Rp85 M untuk Pengembangan RSUD, DPRD Angkat Suara

0
Ketua DPRD Kudus, Masan. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) mendukung langkah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus yang bakal melakukan pinjaman daerah sebesar Rp85 miliar pada tahun anggaran 2026. Dana pinjaman tersebut akan digunakan untuk pengembangan dan pembangunan gedung Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Loekmono Hadi di lahan eks Matahari Mall.

Ketua DPRD Kudus, Masan menyampaikan, bahwa lagislatif mendukung program Bupati dan Wakil Bupati Kudus tersebut. Menurutnya, saat ini hampir semua rumah sakit di Kota Kretek, baik yang milik pemerintah maupun swasta tingkat Bad Occupancy Rate (BOR)nya penuh.

Baca Juga: Verifikasi Calon Penerima TKGS Kudus Tahun 2026 Gunakan Metode Sampling

“Oleh karena itu, guna meningkatkan pelayanan kesehatan, Pemkab Kudus melakukan pengembangan dan pengembangan atau pembangunan gedung baru RSUD Loekmono Hadi di lahan eks Matahari Mall,” ujar Masan di gedung DPRD Kudus belum lama ini.

Lebih lanjut Masan mengatakan, ketika ada pembangunan gedung baru tentu akan ada penambahan ruangan beserta fasilitasnya. Sehingga nantinya akan mampu memenuhi layanan kesehatan terhadap masyarakat.

“Pembangunan gedung baru untuk RSUD Loekmono Hadi di lahan eks Matahari Mall pada tahun 2026 menelan anggaran kurang lebih sebesar Rp125 miliar. Pembiayaan pembangunan tersebut, di antaranya dengan pinjaman ke Bank Jateng sebesar Rp85 miliar,” ungkapnya.

Masan tidak mempersoalkan pinjaman daerah dengan nominal yang cukup fantastis tersebut. Sebab, hutang untuk pembangunan rumah sakit merupakan pinjaman yang produktif.

“Saya katakan pinjaman yang produktif, karena rumah sakit itu menghasilkan. Sekarang ini pendapatan terbesar Pemkab Kudus bersumber dari Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) RSUD Loekmono Hadi,” ungkapnya.

Terkait potensi gagal bayar, Masan mengatakan hal tersebut kemungkinan tidak bakal terjadi. Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2026 disahkan kurang lebih sebesar Rp2 triliun, jika pinjaman Rp85 miliar tentu bisa membayarnya.

“Dalam hitung-hitungan kami kemarin, kita punya kemampuan untuk bayar. Ketika pinjaman Rp85 miliar dengan skema termin angsuran selama 3 tahun masih bisa terlunasi,” imbuhnya.

Baca Juga: Jejak Teguh dan Peka Muria Menjaga Nafas Lereng Muria

Diberitakan sebelumnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus bakal mengajukan pinjaman puluhan miliar pada tahun depan. Hal tersebut tertuang pada Pengantar Nota Keuangan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2026.

Kepala Badan Pengelolaan Pendapatan Keuangan Daerah (BPPKAD) Kudus, Djati Solechah, membenarkan bahwa Pemkab Kudus bakal mengajukan pinjaman daerah sebesar Rp85 miliar. Dana tersebut bakal digunakan untuk perluasan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Loekmono Hadi di lahan eks Matahari Mall.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Trotoar Jepara Bersih dari PKL, Ternyata Ini Penyebabnya 

0
Area trotoar di Jepara bersih dari PKL. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Sudah beberapa hari terakhir, Pedagang Kaki Lima (PKL) yang biasa berjualan di area trotoar maupun jalan-jalan strategis di kawasan Kota Jepara tidak terlihat berjualan.  

Kawasan kota yang biasanya padat dipenuhi pedagang serta lalu lintas kendaraan yang terjebak macet kini menjadi lengang. 

Baca Juga: Jelajah Wisata Jepara Kini Bisa Ditempuh Pakai Mobil Jeep 

Bupati Jepara, Witiarso Utomo, mengatakan bahwa sejak Senin-Rabu, (1-3/12/2025) Kabupaten Jepara sedang kedatangan tim penilai Adipura. 

Untuk itu, pihaknya melakukan penataan di beberapa kawasan publik agar kembali tertib dan rapi. Persiapan berupa koordinasi dengan berbagai lintas organisasi perangkat daerah pun sudah dilakukan sejak pekan lalu. 

“Tim penilai sudah dari hari Senin sampai Rabu. Kami juga sudah rapatkan mulai Jumat kemarin. Ini berjalan lancar, mudah-mudahan mendapatkan nilai maksimal,” kata Wiwit pada Rabu, (3/12/2025). 

Wiwit menarget, pada tahun ini, Kabupaten Jepara minimal bisa meraih kembali penghargaan Adipura, bahkan jika memungkinkan meningkatkan prestasi ke predikat Adipura Kencana seperti yang sebelumnya sudah pernah diraih Jepara pada tahun 2022. 

Untuk itu penataan kawasan ruang publik tidak hanya dilakukan di kawasan pusat kota, tetapi menyebar ke seluruh kecamatan di Kabupaten Jepara. 

“Penertiban di Jalan Pemuda itu bagian dari penataan persiapan Adipura. Tidak hanya di situ, tapi seluruh kecamatan. Saya mengajak semua camat untuk menggerakkan kebersihan lingkungan minimal seminggu sekali di satu desa,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Satuan Polisi dan Pamong Praja (Satpol PP) dan Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Jepara, Edy Marwoto mengatakan untuk sebagai persiapan menjelang penilaian Adipura, pihaknya sudah menertibkan para PKL sejak pekan lalu. 

Penataan dilakukan agar trotoar tetap menjadi ruang aman bagi pejalan kaki dan visual kota kembali tertata.

“Kami tertibkan pedagang di Jalan Pemuda biar tertib dan rapi. Dalam rangka penilaian Adipura, pedagang boleh berjualan tapi tidak memakan trotoar,” kata Edy.

Baca Juga: Resmi Diberlakukan Per 1 Desember, Seluruh Pasar di Jepara Mulai Terapkan E-Retribusi 

Edy menyebut pihaknya menerjunkan sebanyak 33 personel Satpol PP agar memberikan edukasi dan penertiban. Hal itu dilakukan tidak hanya di Jalan Pemuda, tetapi juga di wilayah Tahunan dan pusat Kota Jepara.

“Kami edukasi terus. Kota harus kembali pada aturannya bersih dan rapi momentumnya ya Adipura ini. Pedagang kami ingatkan supaya tetap tertib tanpa menghabiskan trotoar,” ungkapnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pemkab Kudus Wisuda 120 Lansia, Upaya Tingkatkan Kualitas Hidup

0
Ratusan lanjut usia (lansia) terlihat sumringah ketika mengenakan toga dalam prosesi wisuda di Pendapa Kabupaten Kudus, Rabu (3/12/2025). Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Ratusan lanjut usia (lansia) terlihat sumringah ketika mengenakan toga dalam prosesi wisuda di Pendapa Kabupaten Kudus, Rabu (3/12/2025). Program sekolah lansia menjadi langkah nyata Pemkab Kudus dalam meningkatkan kualitas hidup, sekaligus mendukung visi daerah menuju Kudus Sehat (sejahtera, harmoni, dan taqwa). 

Program tersebut diselenggarakan oleh Dinsos P3AP2KB Kudus dengan menggunakan anggaran APBD Kudus 2025. 120 peserta yang diwisuda, terdiri 30 orang dari Desa Kutuk Kecamatan Undaan, 30 orang dari Desa Jati Wetan Kecamatan Jati, 30 orang dari Desa Lau Kecamatan Dawe, dan 30 orang dari Desa Payaman Kecamatan Mejobo.

Baca Juga: Verifikasi Calon Penerima TKGS Kudus Tahun 2026 Gunakan Metode Sampling

Kepala Dinas Sosial P3AP2KB Kudus, Putut Winarno mengatakan, sekolah lansia merupakan program prioritas daerah yang dihadirkan untuk memastikan lansia tetap aktif, sehat, mandiri, serta memiliki ruang sosial yang kondusif. Terlebih, adanya sekolah lansia dapat memberikan manfaat lebih dari lansia di Kota Kretek.

“Sekolah Lansia bukan hanya ruang belajar, tetapi ruang untuk menjaga kebugaran, kesehatan mental, dan memperkuat nilai sosial bagi lansia. Kami ingin para lansia di Kudus tetap berdaya dan bahagia,” katanya dalam sambutannya.

Sekolah Lansia 2025 menghadirkan narasumber dari unsur kecamatan, pemerintah desa, puskesmas, perguruan tinggi, serta tenaga ahli lainnya. Para peserta dibimbing oleh kader desa, PLKB, dan fasilitator terlatih. 

“Ada 12 kali pertemuan dalam sekolah lansia yang berlangsung. Adapun untuk tempat pelaksanaan digelar di masing-masing balaidesa mulai awal September hingga akhir November lalu,” ujarnya.

Ia menuturkan, materi yang diberikan kepada peserta adalah perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), pencegahan penyakit degeneratif, senam lansia dan aktivitas fisik, kesehatan mental dan kebahagian lansia, pembinaan spiritual dan harmoni keluarga, konseling gizi dan pola makan seimbang, aktivitas sosial serta unjuk karya.

“Materi ini dipilih untuk menjawab kebutuhan esensial lansia agar tetap sehat secara fisik, mental, sosial, dan spiritual,” tuturnya.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris menyampaikan, melalui kegiatan tersebut dapat memberikan ruang interaksi bersama untuk mengasah pengetahuan mereka selama tiga bulan. Sehingga, spirit belajar para lansia di Kudus terus bertambah dalam mengejar cita-cita. 

“Jadi kita berikan apresiasi melalui wisuda ini, biar mereka bahagia dan memberikan contoh pendidikan bagi anak dan cucunya. Semoga semuanya produktif, kreatif, dan mandiri dalam kehidupan bermasyarakat,” bebernya. 

Pihaknya berencana tahun depan program tersebut akan terus berlangsung. Namun kata dia, pengadaan program itu bisa menyesuaikan dengan situasi dan kondisi keuangan daerah di tahun depan. 

“Kita usahakan (tahun depan) ada lagi, karena situasi dan kondisi. Ini dapat memberikan perubahan sangat baik dalam hal membaca literasi, informasi dan IT. Sehingga mereka melek terhadap pengetahuan setiap informasi yang ada,” jelasnya.

Baca Juga: Jejak Teguh dan Peka Muria Menjaga Nafas Lereng Muria

Sementara itu, salah satu peserta, Siti Khasanah (61) mengaku senang bisa mengikuti program tersebut. Menurutnya, ketertarikannya dalam mengikuti sekolah lansia dapat memotivasi diri supaya bisa menambah ilmu dan semakin sehat.

“Manfaatnya banyak mas, kita bisa mandiri, bisa menambah ilmu, dan tentunya semakin sehat,” imbuh warga Desa Jati Wetan RT 9 RW 2, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Menilik Renovasi Lantai Gor Bung Karno, Anggaran Rp1,1 Miliar untuk Parquet Berstandart Internasional 

0
Proses rehabilitasi lantai GOR Bung Karno Kabupaten Kudus tengah berjalan. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Proses rehabilitasi lantai GOR Bung Karno Kabupaten Kudus tengah berjalan. Progres pembangunan renovasi yang menggunakan lantai Parquet sesuai standart Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) saat ini sudah mencapai 75 persen. 

Diketahui, pelaksanaan rehabilitasi GOR Bung Karno menggunakan dana anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Kabupaten Kudus tahun 2025. Dalam proyek yang dikerjakan dengan target tiga bulan itu memakan dana hingga Rp1,1 miliar.

Baca Juga: Verifikasi Calon Penerima TKGS Kudus Tahun 2026 Gunakan Metode Sampling

Pewagas proyek, Mulyanto mengatakan, pelaksanaan rehabilitasi GOR Bung Karno yang fokus pada perbaikan lantai tersebut sudah dimulai sejak 12 September lalu. Adapun pengerjaan proyek ditarget selesai selama 90 hari atau sesuai kontrak hingga 24 Desember 2025.

“Pengerjaan lantai per hari ini sudah mencapai progres 75 persen. Kemarin (Senin) memang ada keterlambatan pengiriman barang, sehingga pengerjaan -0,75 persen. Namun berhubung barang sudah berada di lokasi kami targetkan dan pengerjaan kami kebutuhan biar selesai sesuai kontrak,” bebernya saat ditemui di lokasi, Rabu (3/12/2025). 

Mul menjelaskan, bahwa pemasangan lantai Parquet memakai tiga lapisan, yakni rubber, triplek, dan Parquet. Menurutnya pemasangan lantai terbilang cepat, namun demi mengejar target pihaknya memberlakukan lembur hingga malam hari. 

“Meski kontrak selesai sampai dengan 24 Desember, namun kami upayakan agar jauh sebelumnya bisa selesai. Kurang lebihnya 15 Desember bisa selesai, karena lapangan mau difungsikan untuk acara,” jelasnya.

Menurutnya, kelebihan Parquet yang dipasang sebagai lantai GOR sesuai dengan standart lapangan basket internasional. Terlebih penggunakan material itu pantulan bola menjadi stabil, mengingat lapangan tersebut biasa digunakan untuk even basket.

Sementara itu, Kepala Bidang Olahraga pada Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Kudus, Widhoro Heriyanto menyebut, rehabilitasi lantai GOR dilakukan secara utuh. Hingga saat ini fokus pengerjaan di pemasangan Parquet.

“Untuk lantai kami menggunakan Parquet yang sudah bersertifikasi dari Perbasi mas. Produk Parquet langsung dari Rajawali Bandung,” ujarnya. 

Baca Juga: Jejak Teguh dan Peka Muria Menjaga Nafas Lereng Muria

Ia menuturkan, penggunaan tempat olahraga tersebut nantinya bisa difungsikan sebagai tempat olahraga dan berbagai even seperti basket, volly, dan futsal. Ia menegaskan, bahwa GOR Bung Karno nantinya tidak bisa digunakan sebagai tempat konser.

“Kalau untuk konser ya janganlah, eman (sayang). Untuk konser bisa di tempat lain saja,” tegasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Siap Jadi Sentra Peternakan, 110 Warga di Batealit Jepara Terima Bantuan Kambing Boer 

0
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara bekerjasama dengan Baznas Jepara menyerahkan bantuan berupa 110 kambing Boer kepada 110 warga. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara bekerjasama dengan Baznas Jepara menyerahkan bantuan berupa 110 kambing Boer kepada 110 warga. 

Penyerahan bantuan kambing itu dilakukan di Paleboer Gatra Farm 1 yang merupakan sentra peternakan kambing boer di Desa Bawu RT 6 RW 1, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara pada Rabu (3/12/2025). 

Baca Juga: Jelajah Wisata Jepara Kini Bisa Ditempuh Pakai Mobil Jeep 

Salah satu penerima bantuan, Ali Mastur (57) warga Desa Bantrung RT 3 RW 1, Kecamatan Batealit mengaku senang mendapat bantuan satu ekor kambing boer berjenis betina. 

Ali mengaku sebelumnya ia memang belum pernah memiliki pengalaman sebagai peternak kambing. Namun, ia tidak merasa khawatir sebab nantinya dari pihak Paleboer Gatra Farm bersedia untuk memberikan pendampingan. 

“Ngga punya kambing di rumah. Ini baru pertama merawat kambing. InsyaAllah kalau nanti sudah terbiasa sih semoga ngga kesulitan dan ada pendampingannya juga,” kata Ali saat ditemui di lokasi penyerahan bantuan.  

Hal serupa juga turut dirasakan Adnan, Warga Desa Pekalongan, Kecamatan Batealit. Adnan setiap harinya memang sudah menjadi peternak kambing. Saat ini total ia memiliki empat ekor kambing berjenis Jawa Randu.  

Meskipun sudah menjadi peternak, karena jenis kambing yang diternak berbeda, Adnan mengaku masih kesulitan untuk merawat Kambing Boer. 

“Senang dapat bantuan. Tapi ada kesulitan, nyari rumputnya. Apalagi kalau kambing Boer ini kan ada tambahan pakan khususnya. Kalau Kambing Jawa biasanya cuma kita kasih pakan rumput,” ujar Adnan. 

Pemilik sentra peternakan Paleboer Gatra Farm, Marsyudi (58) mengatakan apabila warga merasa kesulitan untuk merawat kambing Boer, pihaknya bersedia untuk memberikan pendampingan. 

Sebab dari awal ia mengaku sudah berkomitmen untuk mengawal regenerasi Kambing Boer di Kecamatan Batealit. 

“Kalau dari peternak merasa kesusahan nanti akan kita edukasi. Kita berikan pendampingan agar bisa berkembang sesuai yang diharapkan pemerintah,” ujar Marsyudi. 

Untuk merawat Kambing Boer agar tetap sehat Marsyudi menghimbau kepada warga penerima bantuan agar selalu menjaga kebersihan kandang. Sebab kandang yang kotor bisa menjadi awal dari munculnya berbagai penyakit. 

“Saat pagi, saat masih ada embun jangan dikeluarin. Karena resikonya lebih tinggi kalau kambing makan rumput yang ada embunnya,” jelasnya. 

Kemudian untuk menjaga genetik Kambing Boer pihaknya menyarankan agar jangan mengawinkan Kambing Boer dengan Kambing Jawa. 

“Kalau dikawinkan dengan kambing Jawa, ya nanti kembali lagi genetiknya, tidak jadi Boer lagi. Kalau untuk menjaga genetik boer-nya harus (dikawinkan) ke kami,” tambahnya. 

Dengan adanya bantuan Kambing Boer dari Pemkab Jepara kepada warga di sekitar Kecamatan Batealit, Marsyudi berharap keinginannya awalnya pada saat mendirikan Paleboer Gatra Farm bisa terwujud. 

Baca Juga: Resmi Diberlakukan Per 1 Desember, Seluruh Pasar di Jepara Mulai Terapkan E-Retribusi 

“Dulu saat awal saya membuat Palebur, Palebur itu kan memang nama sebuah kerajaan ya. Harapannya ya bisa jadi kerajaan kambing Boer dan bisa mengangkat perekonomian warga,” ujarnya. 

Bantuan Kambing Boer sendiri merupakan tindak lanjut dari usulan warga yang disampaikan pada saat Bupati Jepara mengadakan Program Bupati Ngantor di Desa Mindahan Kidul, Kecamatan Batealit pada Selasa, (11/11/2025).

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

70 Ribu Rumah di Pati Tidak Layak Huni

0
Kepala Bidang (Kabid) Perumahan Disperkim Kabupaten Pati, Ahmad Qosim. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Pati bakal mengusulkan 2 ribu Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di daerahnya untuk dibenahi pemerintah pusat pada tahun 2026. Usulan ini menindaklanjuti program strategis nasional tentang pengadaan 3 juta rumah.

Kepala Bidang (Kabid) Perumahan Disperkim Kabupaten Pati, Ahmad Qosim mengungkapkan, akan lebih banyak lagi program bedah rumah untuk menyulap RTLH jadi RLH. Utamanya lewat usulan ke pemerintah pusat.

Baca Juga: UMK Pati Tahun Depan Diusulkan Naik Sampai 21 Persen, Jadi Rp3 Juta Lebih

“Tahun depan kita usulkan sejumlah 2.000 rumah untuk ke pemerintah pusat. Belum yang ke bantuan sosial dari APBD Provinsi. Tahun depan akan semakin banyak program kegiatan Rumah Layak Huni,” ujarnya.

Qosim menjelaskan, ada berbagai segmen program dijalankan untuk mendukung program 3 juta rumah dari pemerintah pusat. Mulai dari peningkatan RTLH menjadi RLH yang penganggarannya melalui APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) Kabupaten dan Provinsi hingga APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) melalui Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).

Ia menyebut, pihaknya masih memiliki pekerjaan rumah (PR) terkait RTLH. Sebab, di Kabupaten Pati masih ada 70.000 RTLH. Dari angka itu, baru 2.400 yang dikerjakan.

“Di 2025 ini untuk yang dibiayai 2.400-an yang sudah diperbaiki dari anggaran pusat, provinsi, kabupaten, Baznas, hinga ormas,” ungkapnya.

Baca Juga: Gudang PT Dua Kelinci Hangus Terbakar, Kerugian Ditaksir Capai Rp25 Miliar

Pihaknya juga mengajak lembaga sosial dan lembaga keagamaan untuk bergerak membantu program pemerintah dalam menyediakan hunian layak untuk masyarakat di Bumi Mina Tani. Sejauh ini, Pemkab Pati sedang berkolaborasi dengan Baznas yang telah meluncurkan 100 sasaran bedah rumah.

“Kami mendorong untuk ormas untuk bergerak ke sana, seperti Muhammadiyah dengan Baitul Jannati, NU untuk bedah rumah bagi fakir miskin. Kemudian ada juga Baznas yang tahun ini meluncurkan 100 titik bedah rumah, ini sebagai salah satu upaya yang diperuntukkan pada program 3 juta rumah,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Connect Souq Jajaki Kerja Sama dengan Pemprov Jateng Pasarkan Kopi dan Rempah

0
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin, menerima Kunjungan dari delegasi Kamar Dagang Islam Tingkat Dunia (Connect Souq), di Kompleks Kantor Gubernur Jateng, Selasa (2/12/2025). Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin, menerima Kunjungan dari delegasi Kamar Dagang Islam Tingkat Dunia (Connect Souq), di Kompleks Kantor Gubernur Jateng, Selasa (2/12/2025).

Delegasi dipimpin oleh Chairman Abdullah Hassan (Kuwait), didampingi Vice Chairman Salmaan Dalvi (Inggris), Leadership Team Parvez Hamduley (Uni Emirat Arab), Head of Spice Business Franchise Noor Ahmed (India), Imran Ahmed dan perwakilan dari Indonesia Abdul Wahid Maktub.

Baca Juga: Inilah Strategi Pemprov Jateng dalam Menggenjot PAD pada 2026

Taj Yasin, mengatakan, Connect Souq bermaksud membuka peluang kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, untuk mengangkat potensi produk lokal ke pasar dunia. Terlebih, organisasi ini memiliki jaringan investor atau pengusaha muslim yang besar di berbagai negara.

“(Pengusaha) dari beberapa negara ingin investasi ke Jawa Tengah. Tentang produk-produk seperti kopi, hingga (rempah) jahe,” katanya.

Menurut Taj Yasin, biji kopi dari Jawa Tengah memiliki kualitas yang bagus. Namun masih butuh promosi yang massif untuk meningkatkan penjualannya. Para pengusaha tersebut akan meninjau secara langsung produksi kopi di Jawa Tengah, kemudian ingin mengekspornya ke pasar Amerika.

Dalam kesempatan itu, pria yang akrab disapa Gus Yasin ini juga menawarkan potensi komoditas kelapa di wilayahnya untuk dijual di berbagai negara.

Chairman Connect Souq, Abdullah Hassan mengatakan, peluang pasar kopi asal Indonesia dan Jawa Tengah khususnya begitu besar. Saat ini kopi Indonesia hanya menguasai 5% pasar dunia, padahal menjadi produsen kopi terbesar keempat di dunia.

“Saya pikir ada peluang untuk meningkatkannya. Caranya adalah dengan membuka pasar baru. Dan Connect Souq ini ada di 40 negara,” kata dia yang juga pengusaha kedai kopi di Amerika Serikat.

Ia mengaku, akan serius membawa komoditas kopi asal Jawa Tengah ke Amerika Serikat. Bersama anggota Connect Souq yang lain, juga akan mencarikan pasar ke negara lain seperti Inggris, Italia, hingga Jerman.

Dengan semakin banyak membuka pasar baru, kata Abdullah Hassan, diharapkan akan meningkatkan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Jawa Tengah.

Perwakilan Connect Souq Indonesia, sekaligus mantan diplomat yang berpengalaman enam tahun di Timur Tengah, Abdul Wahid Maktub, mengatakan, tujuan kedatangan Connect Souq ingin menyampaikan besarnya potensi komoditas dari Indonesia. Salah satunya kopi.

Baca Juga: Gubernur Ahmad Luthfi Pastikan Kondisi Seni, TKI Asal Temanggung yang 20 Tahun Hilang di Malaysia Sehat dan Aman

“Kita hanya mengekspor bahan mentah, keuntungannya sedikit. Oleh karena itu, bagaimana kalau Indonesia itu lebih kreatif dan lebih produktif (pengolahannya),” katanya.

Rencananya, Connect Souq juga akan bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di Jawa Tengah untuk pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Jelajah Wisata Jepara Kini Bisa Ditempuh Pakai Mobil Jeep 

0
Bupati Ngantor di Desa di Pantai Prawean, Desa Bandengan, Kecamatan/Kabupaten Jepara. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara kembali mengadakan program Bupati Ngantor di Desa. Kali ini lokasinya berada di Pantai Prawean, Desa Bandengan, Kecamatan/Kabupaten Jepara. 

Pantai yang berjarak sekitar 5,4 km atau dengan waktu tempuh sekitar 12 menit dari pusat Kota Jepara itu, memiliki paket wisata Jeep yang bisa mengajak wisatawan untuk menjelajahi seluruh kawasan wisata di Kabupaten Jepara. 

Baca Juga: Gudang PT Dua Kelinci Hangus Terbakar, Kerugian Ditaksir Capai Rp25 Miliar

Bupati Jepara, Witiarso Utomo setelah kunjungan pada program Bupati Ngantor di desa tahap sebelumnya, Desa Bandengan menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. 

“Hari ini Alhamdulillah lancar, cepat, dan sudah maju tinggal menaikan lagi,” kata Wiwit usai kegiatan Bupati Ngantor di Desa Bandengan, pada Selasa, (2/12/2025). 

Salah satu fokus pembahasan pada kegiatan tersebut yaitu peningkatan sektor pariwisata. Wiwit meminta agar pemerintah desa serta OPD terkait untuk menambah fasilitas dan lampu penerangan, terutama untuk mendukung konsep wisata malam.

“Tadi meminta untuk wisata malam, penambahan lampu, dan infrastruktur supaya lebih bagus lagi,” ujarnya. 

Sebab Desa Prawean saat ini memiliki program wisata jeep yang sudah berjalan dan membantu wisatawan menjelajah berbagai destinasi di Jepara.

Sehingga melalui paket wisata tersebut bisa terbentuk konektivitas antarkawasan wisata di Kabupaten Jepara. 

“Disini ada wisata jeep keliling ke seluruh wisata di Kabupaten Jepara, jarak jauhnya sekitar Rp800 ribu. Kalau jarak pendek Rp 350 ribu, ini sudah jalan,” jelasnya.

Wiwit berharap inovasi tersebut bisa memicu peningkatan jumlah wisatawan di Kabupaten Jepara. Terlebih adanya rencana untuk menghidupkan kembali Desa Mulyoharjo sebagai sentra wisata ukir. 

“Mudah-mudahan ini bisa mendukung rencana penataan Mulyoharjo sebagai sentra wisata ukir. Sehingga bisa menambah jumlah wisatawan di Jepara,” katanya. 

Wiwit juga mengajak masyarakat untuk aktif berpartisipasi meningkatkan ekonomi daerah melalui wisata lokal. Ia bahkan telah meminta Dinas Pendidikan agar sekolah-sekolah di Jepara mengadakan kunjungan belajar ke destinasi wisata lokal.

“Dari dinas pendidikan kami sarankan juga agar mengajak siswanya berwisata di Jepara. Ada kesenian dan kebudayaan,” tegasnya.

Sementara itu, Camat Jepara, Arief Budiyanto menjelaskan paket wisata Jeep sebesar Rp800 ribu, merupakan paket wisata dari Pantai Praweyan hingga Desa Tempur selama sehari penuh. Wisatawan akan diajak untuk menjelajahi wisata Jepara yang tidak hanya memiliki keindahan laut tetapi juga kawasan pegunungan. 

“Jepara ini sebenarnya paket wisatanya lengkap, tidak hanya laut, tapi juga ada gunung. Sehingga cukup komplit,” katanya. 

Baca Juga: Soal Kabar Ada Karyawan PT Dua Kelinci yang Terjebak Kebakaran, Petugas Damkar Bilang Begini

Hanya saja, potensi wisata itu menurut Arief kurang mendapat dukungan dari sisi promosi. Sehingga ke depan, promosi wisata Jepara ia berharap bisa semakin diperkuat. 

“Promosinya masih kurang. Sehingga orang luar ini banyak yang belum begitu tahu, sehingga enggan datang,” ungkapnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -