Beranda blog Halaman 16

Peringati Hari Kartini, Pemkab Jepara Gaungkan Perempuan Berdaya dan Berpengaruh

0

BETANEWS.ID, JEPARA – Sebagai daerah tanah kelahiran Raden Ajeng (RA) Kartini, pahlawan emansipasi perempuan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara menggaungkan pesan untuk menguatkan peran perempuan dalam pembangunan daerah, sehingga perempuan bisa berdaya dan berpengaruh.

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Jepara, Laila Saidah Witiarso mengatakan peringatan Hari Kartini tidak sekadar mengenang sosok, melainkan merawat warisan pemikiran besar yang lahir dari Bumi Jepara.

“Hari ini, di tanah kelahiran Raden Ajeng Kartini, kita tidak sekadar memperingati sosok, tetapi merawat warisan pemikiran besar yang lahir dari Bumi Jepara,” katanya usai memimpin upacara peringatan Hari Kartini di halaman Kantor Bupati Jepara, Selasa (21/4/2026).

Ia menambahkan, masyarakat Jepara memiliki tanggung jawab moral untuk melanjutkan semangat perjuangan Kartini.

Perempuan Jepara, menurutnya, harus hadir dalam menyelesaikan persoalan nyata seperti kemiskinan, kekerasan, stunting, hingga perkawinan anak, serta memastikan tidak ada anak yang putus sekolah.

“Jadikan Jepara sebagai pusat literasi Kartini. Ajarkan generasi muda keberanian berpikir dan semangat perubahan, bukan sekadar mengenal gambar beliau di buku,” tegasnya.

Baca juga : Tak Sekadar Jadi Budaya, Puluhan Siswa Perempuan di Jepara Rayakan Hari Kartini dengan Mengukir

Sementara itu, Bupati Jepara, Witiarso Utomo menekankan pentingnya transformasi semangat Kartini ke dalam aksi nyata. Ia menyampaikan bahwa peringatan Hari Kartini harus menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan belum selesai.

“Kartini telah membuka jalan, tugas kita hari ini adalah memastikan perempuan Jepara mampu berdiri sejajar, berdaya, dan menjadi solusi bagi berbagai persoalan sosial,” ujarnya.

Bupati juga menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Jepara berkomitmen memperkuat kebijakan yang berpihak pada perempuan dan anak, termasuk dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial.

Ia menilai, keterlibatan aktif perempuan dalam pembangunan menjadi kunci dalam menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Matangkan Kesiapan Calhaj, JHK/IPHI Kudus Gelar Pendalaman dan Praktik Manasik Haji

0

BETANEWS.ID, KUDUS – JHK/IPHI Kudus melalui Panitia Pendalaman Pemberangkatan dan Pemulangan Haji (P4H) menggelar kegiatan pendalaman sekaligus praktik manasik haji bagi calon jemaah haji (calhaj). Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis, 21–23 April 2026, di Gedung JHK/IPHI Kudus.

Ketua JHK/IPHI Kudus, KH Ma’ruf Siddiq, menegaskan bahwa pendalaman manasik menjadi bagian penting untuk memastikan kesiapan jemaah sebelum berangkat ke Tanah Suci.

“Ibadah haji itu bukan sekadar prosesi, seperti mengelilingi Ka’bah atau melempar jumrah. Semua membutuhkan pemahaman dan ilmu agar bisa dijalankan dengan benar,” ujarnya.

Ia menilai, meskipun para calhaj sebelumnya telah mendapatkan materi manasik, penguatan kembali tetap diperlukan agar pemahaman mereka semakin matang dan tidak lupa terhadap ketentuan yang ada.

Dalam kegiatan ini, peserta juga diberi kesempatan untuk aktif berdiskusi. Panitia bahkan menyediakan ruang tanya jawab, termasuk kotak pertanyaan, agar jemaah dapat menyampaikan hal-hal yang belum dipahami.

Baca juga : Lima Calon Jemaah Haji Jepara Gagal Berangkat ke Tanah Suci

“Kalau masih ada yang belum jelas, bisa ditanyakan. Kami fasilitasi agar semua bisa lebih siap dan matang ketika menjalankan ibadah di Tanah Suci,” ungkapnya.

Lebih lanjut, KH Ma’ruf menyebut para calhaj nantinya akan menjadi bagian dari keluarga besar JHK/IPHI setelah menunaikan ibadah haji. Organisasi tersebut akan menjadi wadah untuk terus membina para alumni haji agar tetap aktif dalam kegiatan keagamaan.

Sementara itu, Ketua P4H JHK/IPHI Kudus, Deka Hendratmanto, menjelaskan kegiatan dibagi dalam dua tahap utama. Pada dua hari pertama, peserta mendapatkan materi terkait syarat dan rukun haji, larangan ihram, dam haji, hingga gambaran perjalanan haji untuk gelombang 1 dan 2.

“Hari terakhir kita adakan praktik manasik. Ini dibuat semirip mungkin dengan kondisi di Tanah Suci,” jelasnya.

Dalam simulasi tersebut, peserta akan menjalani rangkaian ibadah mulai dari ihram, wukuf yang disimulasikan di lokasi JHK sebagai Arafah, hingga pergerakan ke titik lain seperti Alun-Alun Kudus untuk praktik lempar jumrah dan tawaf.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan para calon jemaah haji asal Kudus dapat menjalankan ibadah dengan lebih percaya diri, memahami setiap tahapan, serta mampu mengantisipasi berbagai kondisi saat berada di Tanah Suci.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Kasus Penolakan Tambang di Sumberrejo Jepara Terus Berlanjut, Warga: “Ini Pembungkaman”

0

BETANEWS.ID, JEPARA — Kasus pelaporan pidana yang dilakukan oleh CV Senggol Mekar G.S terhadap lima warga Dukuh Toplek dan Pendem, Desa Sumberrejo, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, hingga kini masih berlanjut.

Mereka dilaporkan ke Kepolisian Resor (Polres) Jepara dengan tuduhan dugaan tindak pidana perampasan dan perbuatan tidak menyenangkan pada Rabu, 29 Januari, sekitar pukul 12.30 WIB di jalan tambang CV Senggol Mekar, Dukuh Toplek, Desa Sumberrejo, RT 01 RW 03, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara.

Laporan tersebut tertuang dalam surat penyelidikan nomor Sp.Lidik/102/II/2025/Reskrim tertanggal 10 Februari 2025.

Pada Oktober 2025, Polres Jepara telah menaikkan kasus tersebut ke tahap penyidikan terhadap tiga warga yang dilaporkan. Mereka dikenai Pasal 262 KUHP terkait penganiayaan dan Pasal 162 Undang-Undang Minerba terkait perintangan kegiatan pertambangan.

Terbaru, pada 11 April 2026, dua dari tiga warga yang kasusnya telah naik ke tahap penyidikan kembali dipanggil oleh pihak kepolisian untuk dimintai keterangan.

Merespons hal tersebut, Purwanto, perwakilan dari Aliansi Jagat Caping Gunung di Dukuh Toplek, Desa Sumberrejo, mengatakan bahwa pemanggilan yang dilakukan pihak kepolisian bukan sekadar tindakan kriminalisasi terhadap pejuang lingkungan.

“Kita tidak melihat ini sebagai kriminalisasi, tapi ini suatu pembungkaman agar kita tidak meneruskan, agar warga takut, dan tambang tetap bisa berjalan,” katanya saat menggelar konferensi pers didampingi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang dan Lembaga Pendidikan, Kajian, dan Bantuan Hukum (LPKBH) UNISNU di Gedung DKD Jepara, Selasa (21/4/2026).

Baca juga : Pulihkan Alam Pascatanah Longsor, Ratusan Bibit Pohon Ditanam di Lereng Gunung Muria

Ia mengatakan bahwa warga saat itu melakukan penghentian aktivitas alat berat di lokasi tambang bukan tanpa alasan. Sebab, saat itu belum ada kepastian terkait izin pertambangan. Izin tersebut hingga kini juga belum dikeluarkan.

“Kita tidak akan berhenti, kita akan tetap mempertahankan ruang hidup kita, hak kita, tidak hanya untuk saat ini, tetapi untuk anak cucu kita di masa depan,” ujarnya.

Sementara itu, Amrina Rosyada, akademisi dari Universitas Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara, mengatakan bahwa upaya warga Sumberrejo dalam menjaga lingkungan hidup melalui penyampaian pendapat telah diatur dalam undang-undang.

Hal tersebut sebagaimana diatur dalam Pasal 28H ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi, “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.”

Sehingga, ia menilai upaya kriminalisasi yang dialami warga Sumberrejo tidak seharusnya terjadi.

“Peran penegak hukum sebenarnya sangat penting, karena kita tidak hanya terdiri dari pasal yang tertulis, tetapi juga ada hukum tidak tertulis di masyarakat yang juga harus diterjemahkan oleh aparat penegak hukum. Sehingga jangan saklek, jangan kaku. Ada alternatif lain yang seharusnya bisa dilakukan dalam kasus ini,” katanya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

PT Djarum Serahkan Bantuan 4 Ventilator, Diharapkan Percepat Penanganan Penyakit Paru

0

BETANEWS.ID, KUDUS – PT Djarum menyalurkan bantuan empat unit ventilator tipe Hamilton C3 Standard Neo to Adult kepada RS Mardi Rahayu, Selasa (21/4/2026). Bantuan ini merupakan program tanggung jawab sosial perusahaan yakni Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Djarum untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Kabupaten Kudus dan sekitarnya.

Bantuan tersebut merupakan bagian dari kolaborasi tripartit antara PT Djarum, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta dan RS Mardi Rahayu dalam upaya meningkatkan layanan kesehatan sekaligus mendukung pendidikan dokter.

General Manager Community Development PT Djarum sekaligus Program Director Djarum Foundation, Achmad Budiharto, berharap bantuan tersebut dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat Kudus dan sekitarnya. Menurutnya, PT Djarum secara konsisten memberikan dukungan berupa alat kesehatan guna membantu rumah sakit dalam meningkatkan mutu pelayanan.

“Jadi kami memang fokus bagaimana meningkatkan kualitas pelayanan terhadap masyarakat, terutama di bidang kesehatan. Dan itu kami jalani dengan dua cara, salah satunya dengan membantu pendidikan dokter dalam menciptakan dokter yang baik,” ujarnya usai penyerahan empat unit alat di RS Mardi Rahayu, Selasa (21/4/2026).

Oleh karena itu, pihaknya juga mendukung UKDW terkait pendirian Rumah Sakit Duta Wacana sekaligus membantu RS Mardi Rahayu dalam penanganan pasien dengan penyakit paru. Ia menyebut, bantuan empat unit ventilator tersebut bernilai sekitar Rp2 miliar.

“Semoga nanti bisa mempercepat penanganan penyakit paru-paru di Kudus,” terangnya.

Baca juga : Sinergi BLDF dan Pemkab Kudus Wujudkan Hutan Kota Rendeng Jadi Ruang Edukasi

Kolaborasi ini juga memperkuat peran RS Mardi Rahayu sebagai Rumah Sakit Pendidikan Satelit bagi mahasiswa Program Studi Profesi Dokter Fakultas Kedokteran UKDW.

Rektor UKDW, Wiyatiningsih, menyatakan, kerja sama ini menjadi langkah konkret dalam meningkatkan kualitas pendidikan kedokteran melalui dukungan fasilitas medis yang memadai.

“Kolaborasi ini tidak hanya berdampak pada peningkatan layanan kesehatan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam proses pembelajaran mahasiswa kedokteran,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama RS Mardi Rahayu, Pujianto, menyampaikan apresiasinya kepada UKDW dan PT Djarum atas terjalinnya kolaborasi ini. Ia menegaskan bahwa bantuan ventilator tersebut akan dimanfaatkan untuk mendukung pelayanan pasien sekaligus proses pendidikan tenaga medis.

Menurutnya, ventilator merupakan alat medis krusial di ruang perawatan intensif karena berfungsi membantu atau menggantikan pernapasan pasien, sehingga dapat meningkatkan peluang keselamatan bagi pasien yang membutuhkan bantuan napas.

Saat ini, RS Mardi Rahayu tengah mengembangkan Gedung Rawat Inap Betania sebagai bagian dari peningkatan kapasitas layanan.

Salah satu lantai gedung tersebut akan difungsikan sebagai unit perawatan intensif terpadu dengan kapasitas 8 tempat tidur Pediatric Intensive Care Unit (PICU), 9 tempat tidur Neonatal Intensive Care Unit (NICU), 10 tempat tidur Perinatal Risiko Tinggi (Peristi), serta 14 tempat tidur High Care Unit (HCU).

Sebagai salah satu pusat penanganan kecelakaan di Kudus, RS Mardi Rahayu terus berkomitmen meningkatkan mutu layanan melalui kecepatan respons, ketepatan penanganan, serta dukungan peralatan medis yang memadai.

Kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat layanan kesehatan sekaligus mencetak tenaga medis yang kompeten.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Ahmad Luthfi Terima Penghargaan Program Pengelolaan Sampah dari Kemendes PDT

0

BETANEWS.ID, JAKARTA — Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menerima penghargaan atas capaian Corporate Social Responsibility (CSR) dan Pengembangan Desa Berkelanjutan (PDB) Awards 2026 pada Program Sampah dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal.

Penghargaan itu diterima langsung oleh Ahmad Luthfi dalam acara Launching CSR dan Pengembangan Desa Berkelanjutan Awards 2026 di Kemendes PDT, di Jakarta, Selasa, 21 April 2026.

“Kita dapat penghargaan terkait dengan lingkungan hidup, yaitu program (pengelolaan) sampah,” kata Ahmad Luthfi usai menerima penghargaan.

Saat ini Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah memiliki 88 Desa Mandiri Sampah. Puluhan desa tersebut dijadikan sebagai prototipe untuk dikembangkan di desa-desa lain. Melalui program tersebut diharapkan agar desa-desa bisa mandiri dalam mengolah sampah. Dengan begitu, pengelolaan sampah bisa selesai di tingkat desa atau kelurahan.

“Jumlahnya akan kita tambah. Itu adalah salah satu penyelesaian sampah paling efektif, yaitu di tingkat hulu. Mulai rumah tangga, lingkungan RT, RW, bahkan desa,” jelas Luthfi.

Baca juga : Gubernur Ahmad Luthfi Mantapkan Aglomerasi Wisata Borobudur-Kopeng-Rawa Pening

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Jawa Tengah, timbulan sampah di Jawa Tengah sekitar 6,3 juta ton per tahun. Setiap tahunnya timbulan sampah meningkat sekitar 8–11%. Maka penyelesaian sampah di tingkat desa atau kelurahan tersebut merupakan salah satu roadmap (peta jalan) penuntasan masalah sampah di Jawa Tengah, di mana masyarakat harus memiliki kesadaran tentang memilah dan memilih sampah dari rumah.

Di samping itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga sudah membentuk Satgas Sampah dan telah direplikasi sampai tingkat kabupaten/kota. Terkait pengolahan sampah, setidaknya ada 18 kabupaten/kota yang mengolah menggunakan sistem refuse derived fuel (RDF). Pengelolaan RDF itu juga menggandeng pabrik-pabrik semen yang ada di Jawa Tengah. Selain itu juga ada pengolahan sampah menjadi energi listrik.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Widi Hartanto menambahkan, Gubernur Ahmad Luthfi juga telah menerbitkan surat edaran kepada bupati dan wali kota untuk akselerasi penuntasan sampah di wilayahnya. Di dalam surat edaran tersebut salah satunya adalah dengan membentuk desa mandiri sampah serta menyiapkan peraturan desa terkait penanganan sampah.

“Jadi, ada aturan di tingkat lokal supaya tidak membuang sampah sembarangan, memilah dan memilih sampah. Lalu ada pengelolaan dari Bumdes yang mengelola sampah, ada personel dan satgas sampah tingkat desa, itu juga penting untuk mendukung terbentuknya desa mandiri sampah,” imbuhnya.

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandi Susianto mengatakan, keterlibatan CSR dari perusahaan sangat penting dalam membangun desa. Ia juga menggandeng kementerian lain dalam penilaian penghargaan CSR dan Pembangunan Desa Berkelanjutan 2026 ini.

“Perusahaan juga jangan asal memberikan CSR kemudian pergi, tapi benar-benar membangun dari desa. Kerja sama lintas kementerian juga untuk mempercepat pembangunan dari desa tersebut,” katanya.

Sementara itu, Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Dias Faisal Malik mengatakan, kontribusi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi sangat besar untuk membersihkan lingkungannya dari sampah. Sudah ada enam TPA yang tidak lagi menggunakan sistem open dumping, yakni di Grobogan, Jepara, Banyumas, Cilacap, Wonosobo, dan Purworejo.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Tak Sekadar Jadi Budaya, Puluhan Siswa Perempuan di Jepara Rayakan Hari Kartini dengan Mengukir

0

BETANEWS.ID, JEPARA – Serambi belakang Pendopo Jepara dipenuhi puluhan siswa perempuan yang mengenakan pakaian kebaya. Dengan sigap, tangan mereka memegang pahat dan palu untuk membuat ukiran khas Jepara.

Total terdapat sekitar 50 siswa perempuan dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang ikut mengukir.

Kegiatan tersebut diadakan sebagai bagian dari perayaan Hari Kartini yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara pada Selasa (21/4/2026).

Ketua panitia sekaligus Ketua Paguyuban Ukir Kartini Jepara, Rumini (47), mengatakan pihaknya sengaja memilih siswa perempuan. Selain sebagai momen perayaan Hari Kartini, minat perempuan di Jepara untuk mengukir mulai menurun.

“Saat ini memang minat (perempuan untuk mengukir) minim, sehingga Alhamdulillah dengan dukungan Pak Bupati, dan pas di momen perayaan Hari Kartini kita ajak anak-anak perempuan untuk mengukir,” katanya saat ditemui di serambi belakang Pendopo Jepara.

Rumini ingin seni ukir di Jepara tetap lestari. Sebab, ukir tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga sektor yang menggerakkan roda perekonomian di Jepara.

“Ukir harus dilestarikan, karena ukir bukan hanya budaya Jepara, tetapi ukir juga mata pencaharian di Jepara. Ukir itu menjadi kekuatan ekonomi daerah di Jepara,” ujarnya.

Baca juga : Dua Siswi SMPN 3 Kudus Dipanggil Timnas U-17, Siap TC ke Prancis

Pengukir perempuan, menurut Rumini, masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah anggapan bahwa perempuan tidak mampu mengukir karena pekerjaan tersebut identik dengan laki-laki.

Akan tetapi, dengan kesabaran dan ketelatenan, hasil karya ukir perempuan juga tidak kalah dengan laki-laki.

“Ukir kalau kita mau belajar sungguh-sungguh, hasilnya bisa sama dengan laki-laki, karena itu tergantung skill. Perempuan pun kalau punya kemampuan yang tinggi, ukirannya juga pasti bagus,” katanya.

Mengukir, menurut Rumini, juga bisa menjadi penopang ekonomi keluarga yang dapat dilakukan perempuan tanpa harus meninggalkan pekerjaan rumah.

“(Mengukir) itu pekerjaan yang sangat menjanjikan dan hasilnya juga tidak sedikit. Istimewanya lagi bisa dikerjakan di rumah, sambil momong, sambil mengerjakan pekerjaan rumah. Sehingga kapan pun suami dan anak kita butuh, kita tetap ada di rumah,” ujarnya.

Salah satu peserta mengukir, Adelia Az-Zahra Kusuma (11), siswa kelas 5 SDN 1 Panggang Jepara, bercerita bahwa ia baru tiga kali mencoba praktik mengukir. Meski terbilang baru, ia mengaku senang bisa belajar mengukir.

“Iya (pengen belajar ukir lagi), agak sedikit sulit, tapi seru,” katanya.

Kegiatan perayaan Hari Kartini yang tidak hanya berupa kegiatan seremonial tersebut mendapat apresiasi dari Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Mugiyanto Sipin.

Baginya, perayaan Hari Kartini seharusnya tidak sekadar dimaknai dengan mengenakan pakaian kebaya, tetapi juga merefleksikan pemikiran Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan.

“Kartini lebih dari sekadar kebaya. Pikiran-pikiran Kartini bisa menginspirasi masyarakat Jepara, Indonesia, bahkan dunia, supaya perempuan-perempuan bisa menjadi perempuan yang berdaya, sehingga bisa berkontribusi terhadap ekonomi keluarga dan bangsa,” ujarnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Maknai Hari Kartini, RS Aisyiyah Kudus Beri Hadiah untuk Bayi Lahir 21 April

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Peringatan Hari Kartini tahun 2026 diwarnai dengan cara unik oleh RS Aisyiyah Kudus. Rumah sakit tersebut memberikan souvenir khusus kepada bayi yang lahir tepat pada 21 April sebagai bentuk apresiasi sekaligus simbol harapan masa depan.

Setiap bayi yang lahir pada hari tersebut mendapatkan paket perlengkapan bayi. Hadiah ini bukan sekadar bingkisan, tetapi juga bentuk perhatian terhadap generasi penerus yang diharapkan tumbuh dengan semangat emansipasi seperti yang diperjuangkan Raden Ajeng Kartini.

Humas RS Aisyiyah Kudus, Ika Oktaviani Risanti, menjelaskan, bahwa kegiatan ini menjadi cara rumah sakit menghadirkan makna Hari Kartini secara nyata.

“Tidak hanya seremoni, kami ingin hadir langsung di momen bahagia masyarakat. Bayi yang lahir hari ini menjadi simbol harapan masa depan,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).

Selain berbagi kebahagiaan dengan keluarga pasien, RS Aisyiyah Kudus juga menggelar kegiatan internal bagi pegawai perempuan berupa edukasi literasi finansial. Kegiatan ini bekerja sama dengan Bank Mandiri.

Dalam sesi tersebut, para peserta mendapatkan pemahaman terkait pengelolaan keuangan keluarga, perencanaan masa depan, hingga pentingnya literasi finansial dalam menjaga ketahanan ekonomi rumah tangga.

Baca juga : Dua Siswi SMPN 3 Kudus Dipanggil Timnas U-17, Siap TC ke Prancis

Menurut Ika, perempuan memiliki peran strategis, tidak hanya dalam menjaga kesehatan keluarga, tetapi juga dalam mengatur keuangan.

“Harapannya para pegawai perempuan bisa semakin berdaya, mampu mengelola keuangan dengan baik, dan berkontribusi pada ketahanan keluarga,” tambahnya.

Kegiatan ini pun mendapat respons positif dari berbagai pihak. Keluarga pasien merasa terbantu sekaligus terharu dengan perhatian yang diberikan, sementara para pegawai mengaku mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, RS Aisyiyah Kudus menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pemberdayaan perempuan sekaligus meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Kudus.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Gubernur Ahmad Luthfi Mantapkan Aglomerasi Wisata Borobudur-Kopeng-Rawa Pening

0

BETANEWS.ID, MAGELANG — Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyatakan akan memantapkan kawasan wisata Borobudur-Kopeng-Rawa Pening menjadi aglomerasi pariwisata.

Hal itu disampaikan saat melakukan peninjauan Candi Borobudur di sela kegiatannya di Kabupaten Magelang pada Minggu, 19 April 2026.

Dalam peninjauan tersebut, Ahmad Luthfi sempat berkeliling untuk melihat perawatan dan pemeliharaan candi yang dilakukan oleh petugas. Ia juga mendapatkan penjelasan dari petugas terkait bagian-bagian candi dan reliefnya, termasuk konsep pengembangan kawasan candi.

Ia mengatakan, Candi Borobudur dan kawasan di sekitarnya merupakan kebanggaan Jawa Tengah yang harus terus dilestarikan. Tidak hanya sebagai tempat yang memiliki nilai sejarah dan arkeologis, tetapi juga sebagai salah satu pusat interaksi budaya dan destinasi wisata di Jawa Tengah.

“Candi Borobudur ini adalah heritage dan sudah tercatat di UNESCO sebagai salah satu warisan dunia. Kami harus bisa nguri-uri budaya dan pemanfaatannya,” kata Luthfi saat mengunjungi kawasan Candi Borobudur di sela kegiatan di Magelang, Minggu, 19 April 2026.

Apalagi, Candi Borobudur tidak hanya sebagai destinasi wisata regional, nasional, maupun internasional, tetapi juga dikenal dunia sebagai salah satu pusat studi sejarah, budaya, dan arkeologi.

Dalam perkembangannya, Candi Borobudur juga telah dimanfaatkan sebagai tempat ibadah agama Buddha. Berbagai kegiatan keagamaan secara rutin diselenggarakan di kawasan tersebut. Salah satu yang terbesar adalah peringatan Waisak yang rutin digelar setiap tahun dan dihadiri ribuan umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.

Baca juga : Ahmad Luthfi Dorong PPRT Batang Direplikasi di Seluruh Jawa Tengah

Di samping itu, berbagai kegiatan lain seperti sport tourism dan kegiatan seni budaya juga banyak diselenggarakan di kawasan tersebut. Di antaranya Borobudur Marathon yang sudah masuk dalam kalender maraton dunia. Di bidang budaya, ada kirab pusaka yang baru saja digelar oleh Kementerian Kebudayaan.

“Candi Borobudur merupakan kebanggaan bangsa Indonesia yang perlu kita tonjolkan dan dikenal di dunia,” kata Luthfi.

Melihat keberadaan Candi Borobudur yang menjadi denyut nadi budaya dan ekonomi masyarakat, pengembangan kawasan terus dilakukan. Pemerintah pusat telah melakukan penataan kawasan, dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga mendukung penuh dengan menyiapkan wilayah penyangga.

Bahkan, Ahmad Luthfi pernah menyampaikan rencana pembentukan wilayah aglomerasi wisata Borobudur, Kopeng, dan Rawa Pening. Aglomerasi wisata ini menjadikan Borobudur sebagai titik pusat, kemudian diintegrasikan dengan destinasi wisata Kopeng dan Rawa Pening di Kabupaten Semarang.

Konsep aglomerasi wisata tersebut saat ini masih terus digodok. Koordinasi juga terus dilakukan dengan kementerian terkait agar konsep tersebut benar-benar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam mendongkrak pariwisata dan perekonomian di Jawa Tengah.

“Aglomerasi wisata ini akan kita kembangkan,” katanya beberapa waktu lalu.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Pulihkan Alam Pascatanah Longsor, Ratusan Bibit Pohon Ditanam di Lereng Gunung Muria

0

BETANEWS.ID, JEPARA – Lereng Gunung Muria saat ini rawan mengalami bencana tanah longsor. Salah satunya berada di jalur menuju tempat wisata Air Terjun Banyu Anjlok, Dukuh Sewengen, Desa Somosari, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara.

Jalur menuju tempat wisata tersebut beberapa waktu lalu juga terdampak bencana tanah longsor. Saat ini jalur sudah bisa dilalui, namun sejumlah fasilitas masih dalam kondisi rusak.

Sebagai upaya memulihkan alam, ratusan pohon berbagai jenis ditanam di kawasan lereng Gunung Muria tersebut.

Ketua panitia sekaligus pegiat alam, M. Ainul Muttaqin, mengatakan upaya ini menjadi bagian penting dalam memperkuat struktur tanah yang labil pascalongsor serta merehabilitasi ekosistem hutan yang terdampak.

Total pohon yang ditanam sekitar 140 bibit, terdiri dari pohon ficus, salam, dan tabebuya yang dinilai memiliki fungsi ekologis penting.

“Penanaman kemarin (Minggu, 19/4) kita fokuskan di area air terjun dan titik longsor. Jenis pohon yang dipilih punya fungsi menjaga resapan air dan memperkuat struktur tanah,” jelasnya pada Senin (20/4/2026).

Selain kepedulian lingkungan, kegiatan ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Kabupaten Jepara ke-476 sekaligus menjelang peringatan Hari Kartini Tahun 2026.

Baca juga : Kenang Perjuangan Ratu Kalinyamat, Tradisi Sedekah Bumi Jembul Tulakan di Jepara Dipadati Ribuan Warga

Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 50 peserta dari berbagai komunitas, seperti Jepara Green Generation (Jegeg), Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Jepara, Book Club Jepara, komunitas pendaki, hingga Perhutani serta unsur otoritas setempat.

Menariknya, konsep kegiatan dikemas seperti tur edukatif, di mana peserta dibekali pengetahuan tentang cara bertahan hidup di alam, menjaga lingkungan, hingga pemilihan tanaman.

Ainul berharap gerakan tersebut dapat menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga alam.

“Kami ingin kegiatan seperti ini terus berlanjut, fokus pada ekowisata berkelanjutan, dan memunculkan lebih banyak orang yang peduli pada lingkungan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Batealit, Nur Hamid, mengapresiasi inisiatif para pegiat alam yang telah melakukan penanaman di wilayah pascalongsor.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi wujud nyata kepedulian masyarakat terhadap kawasan hutan lindung di Muria.

“Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih. Ini bentuk kepedulian pecinta alam dan aktivis lingkungan terhadap hutan lindung Muria,” ujarnya.

Adapun lokasi penanaman, lanjut Hamid, masuk dalam kawasan hutan lindung Petak 64 RPH Batealit, BKPH Muria Patiayam, KPH Pati.

“Total luas kawasan hutan negara di wilayah RPH Batealit sendiri mencapai sekitar 1.810,36 hektare,” terangnya.

Nur Hamid menyebut, jenis tanaman yang dipilih memiliki manfaat ekologis penting. Ficus, misalnya, dikenal mampu menyimpan air, sementara pohon salam berperan dalam resapan air serta memiliki nilai manfaat bagi manusia dan satwa.

“Ficus itu bisa menyimpan air, salam juga bagus untuk resapan. Daunnya bisa untuk obat dan masakan, buahnya juga dimakan burung. Jadi manfaatnya tidak hanya untuk manusia, tapi juga menjaga ekosistem dan rantai makanan,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Pemkab Kudus Gelar Operasi Pasar di Setiap Kecamatan

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar operasi pasar di sembilan kecamatan. Program ini dilakukan sebagai upaya membantu masyarakat di tengah harga bahan pokok yang kian mahal.

Dalam program tersebut, tiga komoditas dijual lebih murah atau sesuai harga normal, yakni gas elpiji, beras SPHP, dan Minyakita yang masing-masing dipasarkan di bawah harga pasaran. Seperti yang terlihat di Kantor Kecamatan Jati, warga berbondong-bondong memanfaatkan momen yang hanya digelar sehari itu.

Sekretaris Disdag Kabupaten Kudus, Sugiharto, menyampaikan bahwa masing-masing kecamatan nantinya akan mendapatkan jatah kegiatan serupa untuk membantu masyarakat. Adapun kuota ketersediaan barang di setiap kecamatan meliputi beras SPHP total 21 ton, Minyakita 14 dus atau 160 liter, dan gas elpiji sebanyak 1.000 tabung.

“Sehingga masyarakat bisa memanfaatkan momen ini. Harapannya harga bahan pokok di Kudus bisa stabil dan dapat dijangkau oleh masyarakat,” bebernya saat mengunjungi program tersebut di Kecamatan Jati, Selasa (21/4/2026).

Baca juga : Bank Jateng Gelar Mini Expo KKB dan KPR, ASN Bisa Tanpa Uang Muka

Ia mengatakan, program itu merupakan kegiatan Pemkab Kudus yang dilaksanakan secara maraton di sembilan kecamatan. Pada hari ini, program digelar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Jati, Undaan, dan Kota.

“Tujuannya agar masyarakat tenang dan nyaman, bahwa ketersediaan ini masih ada, sehingga isu yang berkembang terkait kelangkaan dan sebagainya bisa diminimalisasi. Dengan adanya kegiatan ini, masyarakat menjadi lebih tenang dan tidak takut akan pasokan barang, sehingga harga dapat tetap stabil,” jelasnya.

Camat Jati, Muhammad Zainuddin, menuturkan bahwa program tersebut, khususnya di wilayahnya, menyasar warga kurang mampu. Bahkan, warga diwajibkan membawa fotokopi KTP untuk membeli bahan pokok yang tersedia.

“Sasaran kami utamakan masyarakat kurang mampu, dibuktikan melalui KTP masing-masing serta kami sinergikan dengan data DTSEN sehingga bisa dicek apakah yang bersangkutan benar-benar membutuhkan atau tidak,” terangnya.

Ia menyebut antusiasme warga cukup tinggi terhadap program tersebut. Menurutnya, pihak kecamatan telah menyosialisasikan kegiatan itu melalui kanal media sosial agar diketahui masyarakat, khususnya warga Kecamatan Jati.

“Alhamdulillah, antusiasme masyarakat cukup tinggi. Semoga ketersediaan paket sembako ini mencukupi dan bisa memberikan sedikit kebahagiaan bagi saudara-saudara kita yang kurang mampu,” ujarnya.

Untuk harga bahan pokok dalam program itu tergolong standar, yakni beras SPHP 5 kilogram seharga Rp56.500, gas elpiji 3 kg Rp18.000, serta Minyakita 1 liter Rp15.700. Harga tersebut sesuai dengan ketentuan pemerintah, sehingga banyak warga tertarik untuk membeli.

Salah satu warga, Yesi Amalia, mengaku terbantu dengan adanya program tersebut. Ia berharap kegiatan ini dapat digelar secara rutin untuk membantu masyarakat yang membutuhkan seperti dirinya.

“Ini baru beli beras, rencananya mau beli semua karena harganya jauh lebih murah dibandingkan harga di pasaran,” ujar warga Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus tersebut.

Hal senada juga disampaikan Mustaidah. Warga Desa Pasuruan Kidul, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu mengaku senang dapat membeli elpiji dengan harga lebih murah, yakni Rp18 ribu. Meski tidak mendapatkan minyak goreng karena stok habis, hal itu tetap membantunya.

“Tadi mau beli beras dan minyak, tapi minyak goreng sudah habis. Tapi tidak masalah karena sudah mendapat tabung gas elpiji dengan harga lebih murah,” imbuhnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Dua Siswi SMPN 3 Kudus Dipanggil Timnas U-17, Siap TC ke Prancis

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Prestasi membanggakan datang dari SMPN 3 Kudus. Dua siswinya, Della Citra Ayu Anggraeni dan Asyifa Sholawa, berhasil dipanggil untuk mengikuti seleksi Timnas Indonesia U-17 bersama 17 pemain lainnya dari seluruh Indonesia.

Kepala SMP 3 Kudus, Sunaryo, mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian tersebut. Menurutnya, kedua siswi ini merupakan atlet berprestasi yang telah menekuni sepak bola sejak usia sekolah dasar.

“Ini kebanggaan luar biasa, karena dari 38 provinsi ada dua anak dari Kudus yang bisa mewakili, termasuk perwakilan dari Provinsi Jawa Tengah,” bebernya saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (20/4/2026).

Ia menjelaskan, Della dan Asyifa sama-sama masih berusia 14 tahun dan saat ini duduk di kelas 7 dan 8. Keduanya telah menunjukkan bakat sejak kecil dengan berbagai prestasi dan sertifikat di bidang sepak bola sebelum bersekolah di kelas khusus olahraga (KKO) SMP 3 Kudus.

Della lebih dulu bergabung di SMP 3 Kudus pada 2024, disusul Asyifa setahun kemudian. Sebelumnya, keduanya aktif berlatih sejak SD, termasuk mengikuti berbagai kompetisi seperti MilkLife dan Hydroplus di kelompok usia 14 dan 15 tahun.

“Della itu posisi gelandang bertahan, punya visi bermain yang bagus. Kalau Asyifa striker, keunggulannya di finishing, shooting power, dan akurasi bagus,” jelas Sunaryo.

Baca juga : Dua Siswa SMK PGRI 1 Kudus Sabet Juara LKS Jateng‎

Pemanggilan keduanya bermula dari informasi yang diterima sekolah pada 10 Februari 2026 dari PSSI. Awalnya hanya Della yang dihubungi, namun kemudian diketahui Asyifa juga masuk dalam daftar pemain yang dipanggil.

Rencananya, para pemain sepak bola putri akan menjalani training center (TC) di Prancis mulai 24 April 2026 selama satu minggu.

Sunaryo menambahkan, perjalanan Della sebelumnya tidak selalu mulus. Ia sempat mengikuti seleksi Timnas U-16 dalam ajang Piala Pertiwi, namun belum berhasil karena faktor usia dan pengalaman bermain.

“Dulu masih terbiasa main setengah lapangan, 9 lawan 9. Setelah di SMP, kita biasakan 11 lawan 11 di lapangan besar, dan itu sangat membantu perkembangan mereka,” ungkapnya.

Selain itu, pihak sekolah juga akan mengembangkan sepak bola putri sebagai salah satu unggulan. Bahkan, dalam ajang Gala Siswa Indonesia (GSI) tahun lalu, SMP 3 Kudus berhasil meraih juara 1 dengan kontribusi enam pemain, termasuk Della.

“Sekarang kita tambah pelatih untuk putri. Latihan dibagi, tiga hari putra dan tiga hari putri. Potensinya sangat bagus dan harus terus dikembangkan,” jelasnya.

Sunaryo berharap, kedua siswinya mampu memanfaatkan kesempatan ini dengan baik dan terus berkembang hingga ke level yang lebih tinggi.

“Harapannya tidak hanya sampai U-17, tapi bisa konsisten hingga timnas senior,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Lima Calon Jemaah Haji Jepara Gagal Berangkat ke Tanah Suci

0

BETANEWS.ID, JEPARA – Sebanyak lima orang calon jemaah haji dari Kabupaten Jepara gagal menunaikan ibadah ke Tanah Suci pada tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jepara, Siti Zuliyati, mengatakan lima calon jemaah haji yang gagal berangkat tersebut karena mengundurkan diri.

“Ada lima yang mengundurkan diri karena tidak memenuhi syarat kesehatan dan ada yang meninggal dunia,” kata Zuli pada Senin (20/4/2026).

Dengan rincian, satu orang meninggal dunia, dua orang karena sakit, dan dua lainnya merupakan istri serta pendamping. Sehingga jumlah calon jemaah haji asal Jepara yang sebelumnya berjumlah 1.547 orang, kini menjadi 1.542 orang.

Zuli menjelaskan, seluruh jemaah akan diberangkatkan dalam kelompok terbang (kloter) 36 hingga 40. Kloter 36 dijadwalkan berangkat pada 3 Mei 2026 bersama jemaah dari Kabupaten Demak.

Kloter 37, 38, dan 39 diisi penuh oleh jemaah asal Jepara. Sementara kloter 40 merupakan gabungan dengan jemaah dari Kabupaten Kudus.

“Kloter 36 sampai 38 berangkat pada 3 Mei 2026. Kloter 39 dan 40 dijadwalkan berangkat pada 4 Mei 2026,” sebutnya.

Baca juga : Pemprov Jateng Bangun Kemandirian Ekonomi Santri Melalui Koperasi

Dari hasil koordinasi terbaru, Zuli mengatakan calon jemaah haji asal Jepara nantinya akan menempati kawasan Raudah di Madinah, yang sebelumnya direncanakan berada di Misfalah.

“Alhamdulillah, jemaah haji Jepara mulai kloter 36 sampai 40 akan berada di kawasan Raudah,” ujarnya.

Zuliyati menyebut jemaah juga akan mendapatkan skema tanazul selama di Tanah Suci. Skema ini memungkinkan jemaah kembali ke hotel setelah menjalani rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Ia mengingatkan seluruh jemaah untuk menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah. Selain itu, jemaah diminta mematuhi seluruh ketentuan yang ditetapkan pemerintah.

“Seluruh jemaah harus menaati ketentuan dalam penyelenggaraan ibadah haji. Setiap jemaah memiliki hak dan kewajiban yang wajib dipatuhi,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Sinergi BLDF dan Pemkab Kudus Wujudkan Hutan Kota Rendeng Jadi Ruang Edukasi

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus melakukan revitalisasi tahap I Taman Lalu Lintas dan Hutan Kota Rendeng. Upaya ini dilakukan untuk mengoptimalkan fungsi ruang terbuka hijau (RTH) yang inklusif dan edukatif bagi masyarakat.

Revitalisasi tahap awal telah dilaksanakan sejak Oktober 2025 dengan fokus pada pembenahan sarana dan prasarana. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam meningkatkan kualitas fasilitas publik di kawasan tersebut.

Perbaikan yang dilakukan meliputi penataan lanskap taman, baik hardscape maupun softscape. Selain itu, dilakukan juga perbaikan gedung edukasi serta penambahan pergola dan sarana informasi.

Tidak hanya itu, fasilitas edukasi turut diperkuat dengan penyediaan alat peraga berupa 12 unit mobil dan motor aki. Sarana ini diharapkan dapat menunjang pembelajaran disiplin berlalu lintas bagi masyarakat, khususnya anak-anak.

Sebelumnya, taman yang diresmikan pada 2017 ini telah dimanfaatkan masyarakat sebagai sarana edukasi dasar berlalu lintas. Keberadaan taman ini menjadi salah satu ruang pembelajaran publik yang cukup diminati warga Kudus.

Penyelesaian tahap pertama revitalisasi ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST). Penandatanganan dilakukan antara BLDF yang diwakili Director Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, dan Bupati Kudus Sam’ani Intakoris.

Kegiatan tersebut turut melibatkan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Kudus. Dalam kesempatan itu, Plt Kepala Dinas PKPLH diwakili oleh Sekretaris Dinas Rima Mulyani.

Baca juga: Muria Fun Run Hardiknas 2026 Siap Digelar, Peserta Ditargetkan 3.000 Peserta

Prosesi serah terima juga disaksikan oleh Wakil Bupati Kudus Bellinda Putri Sabrina Birton, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus Mundir, dan Kapolres Kudus AKBP Heru Dwi Purnomo.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemotongan pita sebagai simbol peresmian selesainya tahap pertama revitalisasi. Momentum ini menandai kesiapan fasilitas untuk kembali dimanfaatkan masyarakat.

Director Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, menyampaikan revitalisasi ini merupakan upaya peremajaan fasilitas taman. Tujuannya untuk mengoptimalkan kembali fungsi taman sebagai sarana edukasi dan interaksi publik.

Ia menegaskan bahwa taman tidak hanya berfungsi sebagai ruang terbuka hijau semata, tetapi juga penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.

“Kolaborasi lintas pihak menjadi kunci dalam menghadirkan ruang publik yang berkelanjutan. Hal ini juga diharapkan mampu menciptakan ruang yang nyaman sekaligus edukatif,” ujarnya di Hutan Kota Rendeng Kudus, Senin (20/4/2026).

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menyampaikan apresiasi atas dukungan BLDF dalam pengembangan ruang publik. Ia menilai kolaborasi ini penting untuk meningkatkan kualitas fasilitas edukasi bagi masyarakat.

“Edukasi disiplin berlalu lintas sejak dini menjadi salah satu manfaat utama dari revitalisasi ini. Upaya tersebut diharapkan dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan,” tuturnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran berbagai pihak dalam menjaga keberlanjutan program. Dengan dukungan bersama, manfaat yang dihasilkan diharapkan semakin luas dirasakan masyarakat.

Pengelolaan taman juga melibatkan peran Polres Kudus dalam mendukung aspek edukasi. Hal ini dilakukan untuk memastikan fungsi pembelajaran berjalan secara optimal.

Kapolres Kudus AKBP Heru Dwi Purnomo menyatakan dukungannya terhadap program revitalisasi tersebut. Ia menilai inisiatif ini sejalan dengan upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas.

“Kolaborasi antara pemerintah dan pihak swasta sangat penting dalam menjaga lingkungan. Program ini diharapkan mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” bebernya.

Dengan rampungnya tahap pertama revitalisasi, diharapkan minat masyarakat untuk berkunjung semakin meningkat. Kawasan ini diharapkan menjadi ruang publik yang aktif dan bermanfaat.

Selain memberikan manfaat ekologis, taman ini juga memiliki nilai edukatif yang kuat. Kehadirannya diharapkan mampu membentuk perilaku masyarakat yang lebih sadar akan keselamatan dan lingkungan.

Program ini juga diharapkan menjadi contoh pengembangan ruang publik berbasis kolaborasi lintas sektor, tidak hanya memperbaiki fasilitas tetapi juga berkontribusi pada perubahan perilaku masyarakat.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Kenang Perjuangan Ratu Kalinyamat, Tradisi Sedekah Bumi Jembul Tulakan di Jepara Dipadati Ribuan Warga

0

BETANEWS.ID, JEPARA – Tradisi Prosesi Jembul Sedekah Bumi Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara kembali digelar pada Senin (20/4/2026).

Ribuan warga sejak pagi tampak memadati area jalan di depan rumah Petinggi Desa Tulakan yang menjadi lokasi berlangsungnya tradisi tersebut.

Dalam sejarahnya, Petinggi Desa Tulakan, Budi Sutrisno, menjelaskan tradisi itu merupakan bentuk penghormatan warga Desa Tulakan atas perjuangan Ratu Kalinyamat saat meminta keadilan atas terbunuhnya Sultan Hadlirin.

Sebagaimana diketahui, Sultan Hadlirin merupakan suami Ratu Kalinyamat yang dibunuh oleh Arya Penangsang.

Untuk mencari keadilan tersebut, Ratu Kalinyamat kemudian bertapa di Bukit Donorojo yang berada di Dukuh Sonder, Krajan, Desa Tulakan.

Laku tersebut dikenal dengan nama Topo Wudo Sinjang Rikma. Topo tersebut bukan bermakna bertapa tanpa mengenakan pakaian, melainkan merupakan laku Ratu Kalinyamat yang meninggalkan gemerlapnya kehidupan di istana.

Saat bertapa, Budi menjelaskan Ratu Kalinyamat tidak akan turun dari pertapaannya sebelum mendapatkan keadilan untuk suaminya.

“Ora pisan-pisan ingsun jengkar saka topo ingsun, yen ingsun durung bisa nganggo kesed jembule Arya Penangsang lan keramas getihe Arya Penangsang (tidak akan turun dari pertapaan sebelum mendapatkan rambut dan darah Arya Penangsang),” kata Budi saat menirukan perkataan Ratu Kalinyamat.

Baca juga : 32 Rupang Dewa se-Indonesia Diarak dalam Kirab Tolak Bala di Klenteng Hian Thian Shiang Tee Jepara

Arya Penangsang sendiri akhirnya berhasil terbunuh oleh Danang Sutawijaya. Darah dan rambut Arya Penangsang tersebut kemudian dibawa oleh prajurit dari Mataram ke tempat pertapaan Ratu Kalinyamat.

Pada saat Ratu Kalinyamat melakukan pertapaan, warga Desa Tulakan merasa terpanggil dan tergerak hatinya untuk memberikan dukungan moral berupa upacara perayaan yang dikenal dengan istilah Jembul Tulakan.

“Tradisi itu kemudian setiap tahunnya terus kami adakan sebagai tradisi sedekah bumi, sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan hasil bumi bagi masyarakat Desa Tulakan,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, terdapat dua jenis jembul yang dibawa, yaitu jembul lanang (laki-laki) dan jembul wadon (perempuan).

Jembul lanang merupakan usungan atau ancak yang di dalamnya berisi aneka makanan, kemudian diberi hiasan dari bambu yang disisir atau diirat kecil-kecil. Di atasnya dipasang golek yang mencerminkan tokoh dari asal jembul tersebut.

Sedangkan jembul wadon merupakan usungan atau ancak yang di dalamnya juga berisi aneka makanan, namun tanpa hiasan bambu yang diirat.

Jembul tersebut berasal dari empat dusun yang dipimpin oleh masing-masing kamituwo. Yaitu dari Dusun Krajan yang ditandai dengan golek yang menggambarkan tokoh bernama Sayyid Utsman.

Jembul kedua dari Dusun Ngemplak yang ditandai dengan golek yang menggambarkan tokoh bernama Mangun Joyo.

Jembul ketiga dari Dusun Winong yang ditandai dengan golek yang menggambarkan barisan prajurit. Dan jembul keempat dari Dusun Drojo dan Pejing yang ditandai dengan golek yang menggambarkan tokoh bernama Mbah Leseh.

“Jembul itu melambangkan menghadapnya Nayoko Projo (utusan pemerintah) yang memberikan hulu bekti (rasa hormat) kepada Ratu Kalinyamat,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, tradisi tersebut juga menampilkan kesenian tayub. Dahulu, sebelum para prajurit menghadap Ratu Kalinyamat, mereka disambut oleh para danyang Ratu Kalinyamat yang sekarang disebut ledek.

“Dalam penyambutannya itu kemudian diteruskan dengan kesenian tayub, dan itu juga masih kami teruskan sampai sekarang,” katanya.

Tradisi sedekah bumi tersebut diadakan setahun sekali pada hari Senin Pahing bulan Apit atau Dzulqa’dah.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Dua Siswa SMK PGRI 1 Kudus Sabet Juara LKS Jateng‎

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswa bidang kecantikan dari SMK PGRI 1 Kudus dalam ajang Lomba Kompetensi Siswa (LKS) tingkat Provinsi Jawa Tengah yang digelar pada 13–16 April 2026 di SMK Negeri 3 Purwokerto. Menariknya, torehan prestasi juara 1 tingkat provinsi ini pertama kali dipersembahkan, karena sebelumnya hanya berhasil juara 2.

‎Dua peserta berhasil meraih hasil gemilang, yakni Fahriya Agustini yang meraih juara 1 pada bidang lomba Teknik Perawatan Kecantikan/ Terapi Kecantikan serta Selvia Delma Permata yang meraih juara 2 pada bidang lomba Teknik Penataan Rambut.

‎Ketua Program Keahlian Kecantikan dan Spa SMK PGRI 1 Kudus sekaligus pembimbing, Fitria Noorvitasari menjelaskan, bahwa keberhasilan tersebut tidak lepas dari persiapan matang, baik dari sisi teknis maupun mental.

‎“Persiapan menuju nasional itu manajemen harus kuat, memahami kisi-kisi, studi kasus, dan kesiapan alat. Tapi yang paling penting adalah mental dan komunikasi,” ujarnya.

‎Ia menambahkan, dalam kompetisi seperti LKS, peserta tidak hanya diuji keterampilan, tetapi juga kemampuan problem solving. Hal ini karena adanya soal “on the spot” yang diberikan hanya beberapa menit sebelum lomba dimulai.

‎“Biasanya lima menit sebelum lomba keluar soal tambahan. Itu yang sering membuat peserta bingung. Makanya kami latih anak-anak untuk cepat beradaptasi dan mengatur waktu,” jelasnya saat dimintai keterangan, Senin (20/4/2026).

‎Menurutnya, dari 12 peserta SMK yang mengikuti itu, hanya dua orang yang mampu menyelesaikan seluruh modul tepat waktu, termasuk Fahriya. Apalagi menurutnya komuniksi dengan bahasa Ingris yang digunakan Fahriya jadi nilai tambah dalam perlombaan tersebut.

Baca juga : Mengenal Aulia, Mahasiswi UMK Berprestasi di Ajang Seni yang Siap Melaju ke Peksimida Jateng

‎“Keunggulan Fahriya ada di teknik, ketepatan waktu, dan kepercayaan diri. Itu jadi nilai lebih,” ungkapnya.

‎Ia menambahkan, Dua di antara siswanya akan masuk tingkat nasional karena berhasil juara satu di tingkat provinsi. Fahriya akan mewakili Provinsi Jawa Tengah melaju ke tingkat nasional dalam ajang LKS pertengahan tahun ini.

‎Fahriya Agustini (19), siswi kelas XII jurusan kecantikan dan spa, mengaku harus berlatih intens dari pagi hingga malam demi menghadapi lomba tersebut. Dalam kompetisi, ia harus menyelesaikan tiga modul utama, mulai dari facial dan waxing, body treatment, hingga make up dan nail art.

‎“Setiap modul sudah ada durasinya, jadi harus benar-benar tepat waktu. Selain teknik, kecepatan juga sangat menentukan,” ujarnya.

‎Ia mengaku sempat merasa tertekan saat melihat peserta lain lebih cepat, namun tetap berusaha fokus dan percaya diri.

‎“Yang penting tetap yakin dan tidak mau kalah. Saya juga berusaha lebih vokal saat presentasi supaya terdengar juri,” katanya.

‎Keberhasilan ini menjadi pengalaman berharga bagi Fahriya, yang sebelumnya juga pernah masuk Top 10 dalam ajang ASEAN Massage Competition di Jakarta. Ia pun menargetkan bisa kembali meraih juara di tingkat nasional.

‎“Targetnya bisa juara satu lagi di nasional, membawa nama sekolah, Kudus, serta Jawa Tengah,” tegasnya.

‎Dengan capaian prestasinya, saat ini sudah ada dua tawaran masuk dari perusahaan kecantikan, yakni Martatilaar dan Resort di Labuan Bajo. Menurutnya, ia akan lebih memilih perusahaan Martatilaar karena merupakan perusahaan kecantikan tingkat internasional.

‎”Tentu saja lebih memilih di Martatilaar, karena perusahaan tingkat internasional. Terlebih di sana saya bisa belajar dan mengembangkan potensi diri, hingga pengalaman di bidang kecantikan,” ujarnya. 

‎Sementara itu, Selvia Delma Permata (19), yang meraih juara 2 bidang penataan rambut, juga menunjukkan performa apik meski harus menguasai berbagai teknik, mulai dari cutting, coloring, styling hingga kepang.

‎“Semua modul harus dikuasai. Latihannya cukup intens, dari pagi sampai malam,” ujarnya.

‎Ia mengakui tantangan terbesar adalah manajemen waktu karena setiap modul memiliki durasi ketat.

‎“Kadang ada yang selesai tepat waktu, ada juga yang mepet. Tapi karena sudah sering latihan, jadi tahu step-by-stepnya,” jelasnya.

‎Atas prestasi tersebut, Selvia bahkan mendapatkan tawaran untuk menjadi educator di salah satu brand kecantikan di Jakarta. Namun, ia masih mempertimbangkan rencana ke depan.

‎Editor : Kholistiono

- advertisement -