BETANEWS.ID, JEPARA – Lereng Gunung Muria saat ini rawan mengalami bencana tanah longsor. Salah satunya berada di jalur menuju tempat wisata Air Terjun Banyu Anjlok, Dukuh Sewengen, Desa Somosari, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara.
Jalur menuju tempat wisata tersebut beberapa waktu lalu juga terdampak bencana tanah longsor. Saat ini jalur sudah bisa dilalui, namun sejumlah fasilitas masih dalam kondisi rusak.
Sebagai upaya memulihkan alam, ratusan pohon berbagai jenis ditanam di kawasan lereng Gunung Muria tersebut.
Ketua panitia sekaligus pegiat alam, M. Ainul Muttaqin, mengatakan upaya ini menjadi bagian penting dalam memperkuat struktur tanah yang labil pascalongsor serta merehabilitasi ekosistem hutan yang terdampak.
Total pohon yang ditanam sekitar 140 bibit, terdiri dari pohon ficus, salam, dan tabebuya yang dinilai memiliki fungsi ekologis penting.
“Penanaman kemarin (Minggu, 19/4) kita fokuskan di area air terjun dan titik longsor. Jenis pohon yang dipilih punya fungsi menjaga resapan air dan memperkuat struktur tanah,” jelasnya pada Senin (20/4/2026).
Selain kepedulian lingkungan, kegiatan ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Kabupaten Jepara ke-476 sekaligus menjelang peringatan Hari Kartini Tahun 2026.
Baca juga : Kenang Perjuangan Ratu Kalinyamat, Tradisi Sedekah Bumi Jembul Tulakan di Jepara Dipadati Ribuan Warga
Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 50 peserta dari berbagai komunitas, seperti Jepara Green Generation (Jegeg), Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Jepara, Book Club Jepara, komunitas pendaki, hingga Perhutani serta unsur otoritas setempat.
Menariknya, konsep kegiatan dikemas seperti tur edukatif, di mana peserta dibekali pengetahuan tentang cara bertahan hidup di alam, menjaga lingkungan, hingga pemilihan tanaman.
Ainul berharap gerakan tersebut dapat menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga alam.
“Kami ingin kegiatan seperti ini terus berlanjut, fokus pada ekowisata berkelanjutan, dan memunculkan lebih banyak orang yang peduli pada lingkungan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Batealit, Nur Hamid, mengapresiasi inisiatif para pegiat alam yang telah melakukan penanaman di wilayah pascalongsor.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi wujud nyata kepedulian masyarakat terhadap kawasan hutan lindung di Muria.
“Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih. Ini bentuk kepedulian pecinta alam dan aktivis lingkungan terhadap hutan lindung Muria,” ujarnya.
Adapun lokasi penanaman, lanjut Hamid, masuk dalam kawasan hutan lindung Petak 64 RPH Batealit, BKPH Muria Patiayam, KPH Pati.
“Total luas kawasan hutan negara di wilayah RPH Batealit sendiri mencapai sekitar 1.810,36 hektare,” terangnya.
Nur Hamid menyebut, jenis tanaman yang dipilih memiliki manfaat ekologis penting. Ficus, misalnya, dikenal mampu menyimpan air, sementara pohon salam berperan dalam resapan air serta memiliki nilai manfaat bagi manusia dan satwa.
“Ficus itu bisa menyimpan air, salam juga bagus untuk resapan. Daunnya bisa untuk obat dan masakan, buahnya juga dimakan burung. Jadi manfaatnya tidak hanya untuk manusia, tapi juga menjaga ekosistem dan rantai makanan,” jelasnya.
Editor : Kholistiono

