Beranda blog Halaman 136

1.226 Atlet Badminton Bersaing Rebut Poin Nasional di Polytron Muria Cup Sirnas C 2025

0
Ajang Polytron Muria Cup Sirnas C 2025. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Ajang Polytron Muria Cup Sirnas C 2025 yang diselenggarakan oleh Djarum Foundation menjadi magnet besar bagi para pebulutangkis dari seluruh Indonesia. Terlebih hasil dari kejuaraan tersebut dapat menambah rangking poin secara nasional. 

Kejuaraan yang berlangsung pada 11–16 November 2025 di GOR Djarum Jati, Kudus, ini diikuti 1.226 atlet dari berbagai daerah, mulai Kalimantan, Surabaya, hingga Batam. Total hadiah yang diperebutkan mencapai Rp636 juta.

Baca Juga: Sukun Youth Series Kembali Digelar, Ratusan Atlet Muda Tenis Meja Unjuk Gigi di Kudus

Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) PBSI Jawa Tengah, Akhmad Khafidz Basri Yusuf, menyebut antusiasme peserta tahun ini sangat tinggi. Bahkan klub-klub besar juga andil dalam ajang ini.

“Alhamdulillah, ada 1.226 peserta terdiri dari 23 kategori, mulai usia dini sampai dewasa putra-putri. Banyak yang memberikan respons positif karena klub-klub di Jateng berkesempatan ikut meskipun ini event nasional,” ujarnya.

Sirnas C merupakan kejuaraan yang diselenggarakan pihak swasta namun telah masuk dalam kalender resmi PP PBSI. Artinya, seluruh atlet berkesempatan meraih ranking poin nasional, yang menjadi parameter penting menjelang Kejurnas akhir tahun.

“Kejuaraan ini jadi salah satu daya tarik untuk menambah poin. Karena sebelum Kejurnas, rangking poin diambil dari poin nasional. Jadi ini momentum penting bagi para atlet,” jelasnya.

Ia menambahkan, kualitas pertandingan cukup kompetitif karena sejumlah klub besar seperti PB Djarum Kudus, Jaya Raya Jakarta, Exist Jakarta, Tangkas Jakarta, dan Mutiara Bandung menurunkan atlet terbaik mereka.

Secara keseluruhan, 23 gelar juara diperebutkan. Nomor tunggal putra dan putri memiliki pembagian kelompok umur terbanyak, yakni U-11 (usia dini), U-13 (anak-anak), U-15 (pemula), U-17 (remaja), U-19 (taruna), Dewasa. Untuk nomor ganda (putra, putri, dan campuran), kategori yang dipertandingkan adalah U-15, U-17, U-19, dan dewasa.

“Pantauan kami bagus semua. Hari ini mereka main dua kali, yakni perempat final dan semifinal. Besok tinggal final, ada 13 pertandingan,” katanya.

Akhmad menilai Sirnas C memiliki peran penting dalam proses pembinaan atlet nasional. Hal itu sekaligus sebagai ajang pembinaan bagi atlet muda mengembangkan bakat mereka.

“Kami berharap hasil Sirnas C ini menjadi bagian dari regenerasi pebulutangkis untuk Indonesia. Harapanya memang akan muncul atlet-atlet bagus dari sini,” jelasnya.

“Pembinaan memerlukan 10 tahun atau 10.000 jam. Mata rantai dari usia dini harus terus berjalan. Dalam talent scouting ada empat tahapan: talent detection, orientasi bakat, talent identification, dan development. Untuk usia dini, ini tahap talent identification,” paparnya.

Baca Juga: Xiang Qi Pati Bersinar, Lima Atlet Muda Melaju ke Porprov Jateng 2026

Selain mengejar poin nasional, kejuaraan ini juga menjadi wadah uji kemampuan bagi para atlet dari berbagai kelompok umur. “Manfaatnya jelas, selain meraih poin, mereka bisa mengukur kemampuan dan bersaing sejak usia dini sampai dewasa,” tambahnya.

Polytron Muria Cup Sirnas C 2025, katanya, diselenggarakan secara open, tanpa batasan kuota peserta. Hal ini memberi kesempatan lebih luas bagi klub-klub daerah untuk mengirimkan atlet terbaiknya demi meraih pengalaman bertanding di level nasional.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Siap-Siap! Mulai Senin Besok Polisi di Jepara Bakal Gelar Razia, Ini Sasarannya 

0
Razia polisi di Jepara. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Kepolisian Resor (Polres) Jepara akan melaksanakan Operasi Zebra Candi 2025 yang digelar serentak di seluruh wilayah Polda Jawa Tengah.

Operasi ini akan berlangsung selama dua pekan, mulai 17-30 November 2025 dengan fokus utama meningkatkan keamanan dan keselamatan berlalu lintas di wilayah Kabupaten Jepara.

Baca Juga: Asosiasi Pengusaha Jepara Usul UMK 2026 Hanya Naik 4 Persen 

Kapolres Jepara, AKBP Erick Budi Santoso menyampaikan, bahwa Operasi Zebra tahun ini merupakan langkah awal untuk menciptakan kondisi lalu lintas yang kondusif menjelang pelaksanaan Operasi Lilin Candi 2025.

“Operasi Zebra Candi 2025 dilaksanakan serentak di seluruh Jawa Tengah. Tujuannya untuk terwujudnya Kamseltibcarlantas yang aman, nyaman, dan selamat bagi seluruh masyarakat,” ujar AKBP Erick pada Sabtu,(15/11/2025).

Ia menjelaskan bahwa operasi ini menekankan pada peningkatan disiplin masyarakat dalam berlalu lintas, pengawasan titik rawan pelanggaran, serta penindakan terhadap pengendara yang berpotensi membahayakan pengguna jalan lain.

Menurutnya, Polres Jepara akan melakukan penegakan hukum secara humanis namun tetap tegas pada pelanggaran-pelanggaran, seperti tidak memakai sabuk keselamatan, tidak menggunakan helm SNI, melanggar rambu marka, melanggar APILL, menggunakan hp saat berkendara, kendaraan tidak memenuhi persyaratan teknis laik jalan, balap liar hingga tata cara pemuatan angkutan barang.

Baca Juga: Pernikahan Anak di Jepara Jadi Sorotan, Pemkab Bentuk Desa Layak Anak 

“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk mematuhi aturan lalu lintas. Keselamatan adalah prioritas utama. Dengan disiplin berlalu lintas, kita turut menjaga keamanan diri sendiri dan orang lain di jalan,” tambahnya.

Kapolres Jepara berharap Operasi Zebra Candi 2025 dapat menekan angka kecelakaan, menurunkan jumlah pelanggaran, dan menciptakan arus lalu lintas yang lebih tertib di Kabupaten Jepara menjelang akhir tahun.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Mudah Diternak, Budidaya Kambing Boer Mulai Diminati Peternak Jepara 

0
Budidaya kambing berjenis boer yang berasal dari Afrika Selatan di Jepara. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Budidaya kambing berjenis boer yang berasal dari Afrika Selatan kini mulai diminati peternak kambing di Kabupaten Jepara. Sebab, kambing dengan ciri khas berbulu putih dan merah itu memiliki keunggulan mudah beradaptasi di lingkungan baru.  

Salah satu tempat budidayanya yaitu Paleboer Gatra Farm, di Desa Bawu, Kecamatan Batealit. 

Baca Juga: Dekorasi Janur Kelapa Kembali Jadi Primadona, Perajin Pati Kebanjiran Pesanan

Pemilik peternakan kambing, Marsyudi (58) bercerita ia mulai membudidayakan kambing boer sekitar tahun 2001 lalu. Awalnya, ia memilih kambing jenis boer sebab di masa itu, belum banyak peternak yang membudidayakan. 

“Kebanyakan itu kambing PE (Peranakan Etawa), saya pengen yang beda aja, karena waktu itu saya kulik di Jepara belum ada,” katanya saat ditemui di lokasi peternakan, Sabtu (15/11/2025).  

Kini setelah hampir 24 tahun berjalan, Marsyudi bercerita banyak peternak yang mulai tertarik untuk membudidayakan kambing boer. Hal itu terlihat dari banyaknya peternak yang mulai membeli Kambing di tempatnya untuk perbaikan genetik. 

Kambing boer memiliki beberapa keunggulan. Diantaranya kambing boer memiliki sifat genetik yang mudah beradaptasi di lingkungan apapun. Sehingga mudah untuk dikembangbiakkan. 

Selain itu, kambing boer juga lebih tahan terhadap penyakit. Sehingga aman untuk ditempatkan dimanapun. 

Daging dari kambing boer juga tidak berbau, sebab dari sisi genetiknya kambing tersebut memang tidak meninggalkan bau seperti kambing lokal. Selain itu, daging kambing boer lebih padat, sehingga menghasilkan lebih banyak daging, serta tulangnya lebih kecil. 

“Prospek ke depan sepertinya bagus. Masyarakat ada yang mulai datang untuk beli perbaikan genetik. Dan semoga sih ke depan semakin bagus setelah kemarin ada kunjungan Bupati,” ujar Marsyudi. 

Di peternakan miliknya, Marsyudi kini total memiliki sekitar 140 ekor kambing boer dari awalnya hanya 35 ekor. Untuk bibit awal Marsyudi mengatakan dulu ia membeli dari daerah Jawa Timur, Lampung, dan Australia. 

Baca Juga: Dekorasi Janur Kelapa Kembali Jadi Primadona, Perajin Pati Kebanjiran Pesanan

Terdapat dua jenis kambing boer yang ia ternak, yaitu kambing boer ori. Ciri khasnya kepala merah dan badan putih dengan harga jual sekitar Rp30 juta untuk usia 10 bulan. Kemudian kambing boer jenis kalahari dengan ciri semua badannya berwarna merah dijual dengan harga kisaran Rp35 juta ke atas. 

“Saya jualnya ada dua jenis, jual daging per kg Rp80 ribu. Sama jual genetik (pembibitan), itu tergantung serinya. Kalau yang F3 (hasil persilangan) lepas sapih Rp4,5 juta per ekor, kalau yang fullblood atau darah asli itu Rp15-20 juta,” sebutnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Validasi Data Penerima TKGS 2026 Ditarget Rampung Awal Desember

0
Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Dasar Disdikpora Kudus, Anggun Nugroho. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus tengah memfinalisasi proses validasi data penerima Tunjangan Kesejahteraan Guru Swasta (TKGS) untuk tahun anggaran 2026. Awal Desember data penerima ditarget rampung.

Kabid Pendidikan Dasar Disdikpora Kudus, Anggun Nugroho mengatakan, mekanisme penetapan penerima sudah diatur ketat dalam Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 27 Tahun 2025, tentang Pemberian Tunjangan Peningkatan Kesejahteraan Bagi Guru Swasta. 

Baca Juga: Kudus Perjuangkan Kretek sebagai WBTb

Terutama pada pasal 5 yang membatasi penerima hanya pada guru dan tenaga kependidikan yang tercatat sebagai penerima TKGS tahun 2024 serta yang terdata dalam sistem Dapodik maupun Emis.

“Data penerima sedang kami padankan dengan Dapodik dan Emis. Kami tidak mewadahi penambahan jumlah penerima baru. Pasal 5 Perbup sudah membatasi penerima,” jelasnya saat ditemui di kantor Disdikpora, Jumat (14/11/2024).

Menurutnya, proses validasi terkait data penerimaan ditargetkan selesai pada awal Desember, dengan menggandeng Universitas Muria Kudus (UMK) sebagai tim verifikator. Setelah itu, data final akan diserahkan kepada Bupati Kudus untuk ditetapkan secara resmi.

“Harapannya pertengahan Desember sudah menyerahkan data ke bupati untuk penerima yang sudah terverifikasi,” ujarnya.

Secara data awal, katanya, terdapat 9.080 penerima yang terjaring dalam pendataan TKGS. Meski dalam Pasal 9 Perbup disebutkan bahwa penerima harus memiliki masa pengabdian minimal tujuh tahun.

“Untuk 2026 kita masih menggunakan Pasal 5. Pasal 9 baru diberlakukan tahun 2027,” kata Anggun.

Ia menegaskan, guru Madrasah Aliyah (MA) masih akan menerima TKGS pada tahun 2026 sesuai arahan Bupati Kudus. Sementara status penerima pada tahun 2027 masih dalam proses konsultasi, terutama terkait kewenangan pembinaan yang berada di luar pemerintah kabupaten.

“Untuk besaran TKGS, masing-masing penerima akan mendapat Rp1 juta. Terkait 2027 masih dikonsultasikan karena diperbolehkan TKGS di luar kewenangan pembinaan Pemkab Kudus. Draf sudah kami susun dan sedang dikoreksi,” jelasnya.

Baca Juga: Waktu Mepet, DPRD Kudus Minta Verifikasi Penerima TKGS 2026 Dipercepat

Disdikpora saat ini juga tengah menyiapkan surat rekomendasi lanjutan yang akan dipertimbangkan dalam penetapan kebijakan tahun berikutnya.

Dengan tahapan yang tengah dipercepat, harapannya skema penyaluran TKGS 2026, mulai berjalan pada tahun anggaran mendatang setelah data penerima ditetapkan secara resmi.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Bakaranwetan Bakal Gelar Festival Berkat Bandeng, Rayakan Tradisi dan Rawat Ekologi Tambak

0
Desa Bakaranwetan, Kecamatan Juwana, Pati, tengah bersiap menghelat sebuah hajatan besar yang memadukan meriahnya tradisi dengan kepedulian terhadap lingkungan, yakni Festival Berkat Bandeng. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Desa Bakaranwetan, Kecamatan Juwana, Pati, tengah bersiap menghelat sebuah hajatan besar yang memadukan meriahnya tradisi dengan kepedulian terhadap lingkungan, yakni Festival Berkat Bandeng. Kegiatan yang akan digelar pada 21–23 November mendatang ini, menghadirkan semangat ekologi yang dikemas melalui ritual budaya khas masyarakat pesisir.

Festival ini mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Bina Sumber Daya Manusia, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan, serta Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan dalam program Pemajuan Kebudayaan Desa.

Baca Juga: Sambut Musim Tanam, Petani Ngurenrejo Pati Gelar Tradisi Napak Tilas Kenduruan

Kepala Desa Bakaranwetan, Wahyu Supriyo menjelaskan, bahwa festival ini diharapkan menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kesadaran ekologis yang sejak lama tumbuh dalam budaya masyarakat tambak. Menurutnya, nilai-nilai pelestarian lingkungan sudah mengakar dalam sejumlah tradisi warga.

“Seperti halnya tradisi Krigan atau bergotong royong bersih-bersih sungai. Dulu itu ada. Melalui festival ini kami berharap dapat membangun kesadaran sekaligus merekonstruksi tradisi yang membawa pesan ekologi,” ujarnya.

Ia menegaskan, sungai memiliki posisi vital dalam siklus budidaya bandeng. Kualitas air sungai menentukan baik tidaknya hasil panen para petambak.

“Sungai bukan hanya jalur air, melainkan urat nadi kehidupan bagi ribuan petani tambak bandeng. Dari sanalah kehidupan mengalir. Masyarakat belajar tentang keseimbangan ekologi yang harus dijaga bersama. Alam terancam, ekonomi ikut terguncang,” terang Wahyu.

Dari kesadaran tersebut lahir gagasan “Festival Berkat Bandeng”, ruang merayakan relasi antara ekologi, tradisi, dan ekonomi rakyat. Festival ini bukan hanya selebrasi budaya, tetapi juga bentuk pengabdian ekologis masyarakat tambak terhadap alam yang menjadi sumber hidup mereka.

Tradisi setempat pun memperlihatkan kuatnya hubungan masyarakat dengan ikan bandeng. Dalam ritual manganan sigit, kirab tumpeng, hingga berkat bandeng, warga memilih ikan bandeng sebagai sesaji utama, berbeda dengan tradisi serupa di daerah lain di Pati yang menggunakan ayam. Hal ini menegaskan bahwa bandeng telah menjadi bagian penting dalam laku hidup masyarakat sejak generasi terdahulu.

Agenda festival terbilang lengkap dan sarat makna. Masyarakat akan disuguhkan Rembuk Kali, Prosesi Wiwit Panen, tari bandeng, pameran seni rupa, lomba olahan bandeng, hingga makan bandeng bersama. Lokasi kegiatan dipusatkan di Taman Batik Bakaranwetan dan kawasan tambak petinggen.

Festival ini juga diproyeksikan menjadi katalis untuk memperkuat branding Kecamatan Juwana sebagai salah satu sentra bandeng terbaik di Indonesia. Data Dislautkan Kabupaten Pati tahun 2025 mencatat, Juwana menyumbang 8.368,76 ton dari total 24.361,2 ton produksi bandeng di wilayah Pati, mayoritas dari tambak di Desa Bakaranwetan.

Hasil panen itu tidak hanya memenuhi pasar lokal, tetapi juga mengalir ke kota-kota besar seperti Semarang hingga Jakarta. Selain memasarkan bandeng segar, warga Bakaranwetan mengolahnya menjadi produk bernilai tambah, mulai dari bandeng presto, cabut duri, otak-otak bandeng, dan berbagai olahan lain. Kegiatan ini turut menggerakkan roda UMKM dan memperkuat ekonomi masyarakat pesisir.

Baca Juga: Hanya Dilakukan Kalangan Tertentu, Ini Makna Tradisi Prasah di Sidigede Jepara 

Pada akhirnya, Wahyu kembali menegaskan semangat utama festival tersebut.

“Maka menjaga sungai bukan hanya menjaga air, tetapi juga menjaga masa depan. Festival ini diharapkan menjadi inspirasi bagi masyarakat luas untuk memahami bahwa ekologi dan ekonomi bukan dua hal yang berseberangan, melainkan dua sisi dari satu keberlanjutan,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

IKASI Talk 2025: Alumni Sistem Informasi UMK Buktikan Daya Saing di Dunia Kerja

0
Program Studi Sistem Informasi Universitas Muria Kudus (UMK) kembali menegaskan eksistensinya sebagai pusat pengembangan talenta digital melalui acara Temu Alumni & IKASI Talk 2025 bertema “Gathering, Sharing & Celebrating”, Jumat (14/11/2025). Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Program Studi Sistem Informasi Universitas Muria Kudus (UMK) kembali menegaskan eksistensinya sebagai pusat pengembangan talenta digital melalui acara Temu Alumni & IKASI Talk 2025 bertema “Gathering, Sharing & Celebrating”, Jumat (14/11/2025). Bertempat di Ruang Seminar Lantai 5 Gedung J Fakultas Teknik UMK, kegiatan berlangsung meriah dan penuh kehangatan.

Lebih dari 100 alumni dari angkatan 2002 hingga 2021 hadir. Acara dipandu oleh Felistya Dea Oktavianti, alumni yang kini dikenal sebagai model dan content creator. Kehadirannya membuat suasana semakin interaktif.

Baca Juga: Kudus Perjuangkan Kretek sebagai WBTb

Dalam sesi IKASI Talk, dua narasumber berbagi pengalaman sukses di dunia digital. Anis Fajar Prakoso, programmer PT. Pura, menekankan pentingnya ketelitian teknis. “Inovasi tanpa ketelitian bisa berisiko besar dalam industri pemrograman,” katanya.

Sementara itu, Dwi Febri Yuda, CEO Idenative, menginspirasi audiens dengan strategi bisnis kreatif. “Personal branding adalah kunci bertahan di era kompetitif,” tegasnya.

Selain diskusi, acara juga diwarnai games, doorprize, dan sesi sharing alumni yang membuka peluang kolaborasi, mulai dari rekrutmen hingga mentoring mahasiswa.

Ketua Program Studi Sistem Informasi UMK, Diana Laily Fithri, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar temu kangen.

“Ini bagian strategis membangun ekosistem akademik yang relevan dengan kebutuhan industri modern,” ujarnya.

Baca Juga: Waktu Mepet, DPRD Kudus Minta Verifikasi Penerima TKGS 2026 Dipercepat

Pada kesempatan itu, UMK juga mengumumkan pembukaan Program S2 Magister Sistem Informasi. Program ini dirancang untuk mencetak lulusan yang mampu memimpin transformasi digital di berbagai sektor.

Dengan terselenggaranya acara ini, Sistem Informasi UMK menegaskan diri sebagai program studi adaptif dan inovatif, siap melahirkan generasi unggul di era digital.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pijar Jeep Adventure Hadirkan Alas Pijar 2, Sajikan Sensasi Wisata Alam hingga Makanan Khas Pedesaan 

0
Pijar Jeep Adventure, kini mereka resmi membuka Alas Pijar 2, sebuah area wisata baru yang mengusung konsep agrowisata dan edukasi alam di kawasan lereng Pegunungan Muria dengan mobil Jeep. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Pijar Park terus berinovasi dalam menghadirkan destinasi wisata baru yang memanjakan bagi para pengunjung. Melalui unit wisatanya, Pijar Jeep Adventure, kini mereka resmi membuka Alas Pijar 2, sebuah area wisata baru yang mengusung konsep agrowisata dan edukasi alam di kawasan lereng Pegunungan Muria dengan mobil Jeep.

General Manager (GM) Pijar Park, Pujiharto menjelaskan, pihaknya ingin memberikan pengalaman wisata yang lengkap bagi para pengunjung, utamanya di Pijar Park. Mulai dari petualangan alam hingga edukasi tentang potensi kawasan pegunungan.

Baca Juga: Satu Dapur MBG di Kudus Dilengkapi CCTV dan Tersambung dengan Aplikasi Kudus Sehat

“Pijar Jeep Adventure selalu berinovasi mengembangkan tambahan destinasi baru, yang tentu bisa memanjakan konsumen kami. Di antaranya yang baru buka ialah Alas Pijar 2 dengan konsep wisata agro dan edukasi,” jelasnya.

Pujiharto menuturkan, paket wisata Jeep di Pijar Park dibanderol mulai dari Rp100 ribu hingga Rp950 ribu tergantung durasi dan jalur yang dipilih. Namun, saat ini yang paling populer adalah trip medium, dengan rute menantang melintasi pegunungan Muria.

“Trip medium ini menyusuri pegunungan Muria, melewati aliran sungai untuk off-road yang menantang adrenalin, kemudian berhenti di situs peninggalan Sunan Muria seperti Gentong Suroh. Menurut penduduk sekitar, konon gentong ini diyakini berisi rembesan air dari makam Sunan Muria,” terangnya.

Durasi perjalanan setiap trip berkisar antara 1 hingga 2 jam, bergantung pada paket yang dipilih. Selain menikmati jalur yang ekstrem dan panorama alam yang menawan, wisatawan juga bisa bersantai di Warung Alas Pijar 2 yang menyajikan menu masakan kampung tradisional dengan bahan-bahan hasil bumi dari kawasan Muria.

Antusiasme pengunjung pun sangat tinggi. Pujiharto menyebut, rata-rata setiap hari ada 15–20 trip, dan meningkat hingga 40–60 trip saat akhir pekan panjang. Sebagian besar wisatawan datang dari luar daerah, seperti Surabaya, Bandung, Jakarta, dan berbagai kota besar lainnya.

“Antusias masyarakat bagus sekali. Rata-rata yang datang banyak dari luar kota,” ujarnya.

Baca Juga: Perputaran Tempat Tidur di RSUD Loekmono Hadi Kudus Terganggu Karena Mitos

Salah satu pengunjung asal Bekasi, Indi Videlia, mengaku terkesan dengan pengalaman perdananya menjelajahi jalur Pijar Jeep Adventure.

“Keren banget, kalian semua harus cobain ke sini. Lintasannya bagus, lika-likunya mantap. Rasanya luar biasa, drivernya profesional, suasananya adem banget, gak pengen pulang,” tuturnya sambil tersenyum.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Asosiasi Pengusaha Jepara Usul UMK 2026 Hanya Naik 4 Persen 

0
Salah satu pekerja sedang membuat pakaian di pabrik konveksi di Jepara. Foto: Ist

BETANEWS.ID, JEPARA – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Jepara mengusulkan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Jepara tahun 2026 hanya dinaikkan 4 persen dari UMK 2025. 

Ketua Apindo Jepara, Syamsul Anwar mengatakan usulan itu memang belum secara resmi disampaikan kepada Dewan Pengupahan Kabupaten (Depekab) Jepara. 

Baca Juga: Pernikahan Anak di Jepara Jadi Sorotan, Pemkab Bentuk Desa Layak Anak 

Dalam rapat perdana yang digelar Depekab Jepara di Kantor Dinas Koperasi, UKM, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Diskopukmnakertrans) Kabupaten Jepara pada Jumat, (14/11/2025) kemarin baru membahas terkait tata tertib pelaksanaan sidang. 

“Kemarin baru rapat perdana, membahas tata tertib, belum membahas terkait angka (kenaikan UMK 2026),” katanya melalui sambungan telepon, Sabtu (15/11/2025).  

Namun, Syamsul melanjutkan dari hasil kajian yang sudah dilakukan oleh pelaku usaha atau industri, terutama industri padat karya mereka mengusulkan agar UMK Jepara tahun 2026 hanya naik 4 persen dibanding tahun 2025. 

Jika dihitung UMK Jepara 2026 diusulkan naik sebesar Rp104.408,96 dari UMK 2025 sebesar Rp2.610.24 menjadi Rp2.714.633. 

Angka itu menurut Syamsul dihitung berdasarkan dampak dari kenaikan UMK 2025 serta diterapkannya Upah Minimum Sektoral Kabupaten (UMSK). Kemudian dikalkulasi dengan besaran inflasi serta tingkat pertumbuhan ekonomi berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik. 

“Dari angka itu (kenaikan UMK 2026) kisaran 4 persen, itu kalau (kajian) dari temen-temen pengusaha,” sebut Syamsul. 

Sebab kenaikan UMK 2025 serta diterapkannya UMSK di Jepara, menurut Syamsul sampai saat ini dampaknya masih dirasakan oleh para pelaku industri, terutama industri padat karya yang memiliki jumlah karyawan cukup banyak. 

Dampak itu, diantaranya yaitu turunnya order serta tidak adanya lagi lembur bagi para pekerja. 

“UMK ini juga bukan satu-satunya cost (biaya) yang harus dikeluarkan perusahaan. Masih ada skala upah, tunjangan sosial dan kesehatan juga ikut naik,” kata Syamsul. 

Sehingga apabila kenaikan UMK dengan besaran yang cukup tinggi kembali terjadi di tahun 2026, menurut Syamsul akan berdampak pada hengkangnya pelaku industri dari Kabupaten Jepara. 

“Ini kalau terus dipaksakan seperti tahun sebelumnya kan sama saja memperpendek usia investasi pabrik-pabrik di Jepara,” katanya. 

Untuk itu, Syamsul berharap pemerintah bisa melakukan kajian lebih mendalam sehingga bisa menghitung dampak jangka panjang dari kenaikan UMK. 

Meskipun sampai saat ini pemerintah pusat memang belum mengeluarkan secara resmi regulasi terkait penghitungan upah minimum tahun 2026. 

Baca Juga: Fanny Soegi Siap Hipnotis Gen Z Jepara dalam Konser Festival Musik Tradisi

Hanya saja, dari draft Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) terkait penghitungan upah minimum yang sudah beredar, penghitungan upah minimum akan kembali menggunakan mekanisme lama. Tidak seperti tahun ini yang besarannya langsung ditentukan oleh Presiden Prabowo sebesar 6,5 persen. 

“Kalau melihat RPP karena itu belum final, sepertinya UMK tidak seperti tahun kemarin. Bocoran RPP, ada hitung-hitungannya sendiri yang ditentukan oleh dewan (pengupahan) kabupaten,” sebut Syamsul. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Sukun Youth Series Kembali Digelar, Ratusan Atlet Muda Tenis Meja Unjuk Gigi di Kudus

0
Pembukaan Sukun Youth Series 2/3 Season 2025-2026. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Ratusan atlet kelompok umur tenis meja dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti ajang Sukun Youth Series 2/3 Season 2025-2026. Even itu berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat-Minggu (14-16/11/2025) di Arena Sukun Sport Center, Kudus. 

Turnamen bergensi itu diikuti 21 klub besar dari delapan provinsi di Indonesia. Di mana sekitar 200 peserta akan memperebutkan juara dalam setiap katagori, mulai dari kelompok usia (KU) 13 hingga KU 19.  

Baca Juga: Xiang Qi Pati Bersinar, Lima Atlet Muda Melaju ke Porprov Jateng 2026

Pembukaan even tersebut ditandai dengan pertandingan exhibition antara Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris melawan Sekda Kabupaten Kudus, Revlisianto Subekti di Arena Sukun Sport Center, Jumat (14/11/2026). 

Usai melakukan pertandingan persahabatan, Bupati Sam’ani mengapresiasi dan berterimakasih adanya even olahraga tenis meja tingkat nasional yang digelar di Kota Kretek. Dari dulu, PT Sukun telah setia membina dan memberikan ruang bagi atlet muda untuk mengembangkan bakatnya. 

“Ini menjadi kebanggan masyarakat Kudus, karena PT Sukun sejak dulu terkenal dengan cabang olahraga cabor tenis meja dan bola voli. Mereka dari dulu setia membimbing, membina, dan menginisiasi kejuaraan olahraga. Semoga adanya kejuaraan ini dapat menciptakan serta melahirkan atlet berprestasi dari tingkat nasional hingga internasional,” bebernya. 

Ia mengaku, ada aura berbeda saat turun bertanding secara langsung di lapangan. Tak hanya skil dan fisik, atlet juga harus mempersiapkan mental dalam setiap pertandingan yang diikuti.

Pihaknya juga mengapresiasi keterlibatan klub-klub besar di Indonesia yang turun dalam even tersebut. Dia berharap, dalam ajang berikutnya ada atlet luar negeri yang ikut tampil untuk memanaskan persaingan, sekaligus pengalaman para atlet.

Sementara itu, Corporate Secretary PT Sukun Wartono Indonesia, Deka Hendratmanto berkomitmen menggelar kejuaraan-kejuaraan cabang olahraga tenis meja secara rutin. Hal itu dilakukan dalam upaya pengembangan dan pembinaan bagi atlet untuk terus mengasah kemampuannya.

“Karena olahraga ini (tenis meja) sudah sejak lama kami bina. Sehingga kami akan terus menggelar pertandingan-pertandingan untuk pembinaan atlet,” tuturnya. 

Ia menjelaskan, ajang tersebut merupakan seri kedua dari tiga seri musim 2025-2026. Seri terkahir akan digelar pada Februari 2026, yang rencananya akan ada atlet luar negeri dari tiga negara, yakni Singapura, Malaysia, dan Australia. 

“Tak hanya itu, tahun depan kami juga akan menggelar kejuaraan tenis meja bagi senior dengan konsep yang lebih baik lagi. Agar atlet mempunyai ruang untuk menuangkan bakatnya,” terangnya. 

Baca Juga: Ratusan Atlet Sepatu Roda Siap Adu Cepat di Stadion Joyokusumo

Tiga peserta dari klub Visitama perwakilan Pekalongan, Tara Richie Lin Setiawan, Dias Aprilia Ligunamaya, dan Kanza Hananifa, bertekat untuk meraih gelar juara dalam even tersebut. Mereka telah mempersiapkan diri dari segi teknik pukulan, fisik, hingga mental di pertandingan tersebut. 

“Pada seri pertama dulu kami juga ikut, tapi belum bisa juara. Kali ini kami menargetkan bisa juara 1,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Kafilah MTQH Pati Sabet Juara II di Ajang MTQ Jawa Tengah 2025

0
Kafilah Musabaqah Tilawatil Qur’an dan Hadits (MTQH) Kabupaten Pati kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Juara II dalam gelaran  MTQH Tingkat Provinsi Jawa Tengah ke-XXXI yang diselenggarakan di Slawi, Kabupaten Tegal, pada 10–13 November 2025. Foto: Ist

BETANEWS.ID, PATI – Kafilah Musabaqah Tilawatil Qur’an dan Hadits (MTQH) Kabupaten Pati kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Juara II dalam gelaran  MTQH Tingkat Provinsi Jawa Tengah ke-XXXI yang diselenggarakan di Slawi, Kabupaten Tegal, pada 10–13 November 2025.

Dalam ajang tersebut, tiga peserta asal Bumi Mina Tani berhasil meraih Juara I di tiga cabang lomba. Yakni, Ubairis Mushoffa Al Fath, Juara I cabang Tilawah Golongan Anak-Anak, Asqina Marsya Rohadhotul ‘Aisyi, Juara I cabang Murottal Remaja Putri, dan Bagas Adhitama, Juara I cabang Hifdzil Qur’an 10 Juz dan Tilawah Putra.

Baca Juga: Venue Sepatu Roda di Kompleks Stadion Joyokusumo Bakal Dibongkar, Perserosi Pati Gelisah

Ketua Kafilah MTQH Kabupaten Pati, M. Ahsin, menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut.

“Alhamdulillah, kita meraih Juara II. Ini berkat kerja keras para peserta dan dukungan semua pihak. Ke depan, kami akan melakukan evaluasi agar bisa memperbaiki kelemahan dan kembali menjadi Juara Umum di MTQ berikutnya,” ujarnya.

Sementara, Ketua Panitia MTQH XXXI Jawa Tengah Iwanuddin Iskandar menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Pemerintah Kabupaten Tegal selaku tuan rumah yang telah menyelenggarakan MTQH 2025 dengan baik, tertib, dan khidmat.

Ia juga memberikan penghargaan kepada Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) se-Jawa Tengah yang dinilai telah berhasil mengasah talenta-talenta terbaik daerah.

“Seluruh rangkaian penyelenggaraan MTQH ini patut diapresiasi. LPTQ telah memberikan yang terbaik dan sangat cermat, sehingga kami sebagai panitia merasa tenang. Semoga ini bisa menjadi contoh untuk pelaksanaan MTQ selanjutnya,” ungkap Iwanuddin, yang juga menjabat sebagai Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Provinsi Jawa Tengah, pada malam penganugerahan piala Kamis (13/11/2025).

Lebih lanjut, Iwanuddin mengingatkan bahwa Jawa Tengah diminta bersiap  tuan rumah MTQ Nasional periode berikutnya, dah berhara bisa menjadi Juara Nasional.

Baca Juga: Semringahnya Sugiarto Dapat Bantuan Becak Listrik dari Prabowo

Adapun hasil akhir perolehan juara MTQH Tingkat Jawa Tengah 2025 adalah Kota Semarang (Juara Umum), Kabupaten Pati juara 2 dan Kabupaten Kudus sebagau Juara 3.

Kemudian, dilanjutkan  Kabupaten Rembang, Kabupaten Demak, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Magelang, dan Kabupaten Semarang sebagai Juara empat sampai sepuluh. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Kudus Perjuangkan Kretek sebagai WBTb

0
Sarasehan tentang kretek di Museum Kretek, Kamis (13/11/2025). Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus bertekad menjadikan kretek menjadi warian budaya takbenda (WBTb). Alasannya, kretek yang saat ini telah mendunia awal mula dari Kudus.

Salah satu upaya untuk mewujudkan WBTb itu di antaranya diadakannya sarasehan tentang kretek di Museum Kretek, Kamis (13/11/2025). Empat pemateri dari berbagai latar belakang dihadirkan untuk membahas persoalan ini.

Baca Juga: 37 Gudang dan Gerai Kopdes di Kudus Digenjot, Pacu Penguatan Ekonomi Desa

Awalia Rismala, perempuan yang menekuni industri kretek di Semarang. Berikutnya ada Valerie Yudhistira Pramudya selaku pelaku ekonomi kreatif Kudus. Dua pembicara lainnya adalah Moddie Alvianto Wicaksono dari unsur komunitas kretek, serta Edy Supratno, sejarawan.

Sesuai urutan, Awalia menceritakan pengalamannya dalam memproduksi kretek. Dari pengolahan bahan, memilih tembakau sampai di Temanggung, dan meraciknya hingga jadi wujud kretek. Valerie yang juga anggota DPRD Kudus menyoroti bahwa industri kretek terkait erat dengan industri kreatif.

Sementara itu Moddie lebih banyak menyoroti banyaknya tantangan dalam mewujudkan kretek sebagai WBTb karena isu kesehatan. Sedangkan Edy menyambung pernyataan Moddie dari aspek sejarahnya. Terutama sejarah tembakau yang semula jadi obat segala penyakit berbalik arah menjadi penyebab segala penyakit.

Di awal sarasehan Fajar Kartika selaku moderator sudah memberikan pertanyaan yang substansial, bisakah kretek dijadikan WBTb, mengingat kretek adalah benda.

“Jika membicarakan tentang WBTb, maka kita harus mengacu pada Permendikbud 106 Tahun 2013. Nah, di ketentuan itu, ada yang mengatur tentang pengetahuan dan keterampilan. Apa yang dibeberkan Mbak Rismala tadi adalah pengetahuan yang telah ditemukan oleh pengusaha-pengusaha Kudus sebelumnya,” jelas Edy.

Praktik industri kretek yang berlangsung sampai sekarang, lanjut Edy, adalah buah dari pengetahuan yang dimiliki Mbah Djamhari, Mbah Nitisemito, dan pelaku kretek lainnya, “Itu masuk ruang lingkup WBTb, yaitu pengetahuan dan keterampilan,” tandas ketua STAI Syekh Jangkung ini.

Terkait warisan budaya takbenda diatur dalam Permendikbud 106 Tahun 2013 tentang Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Ruang lingkup yang masuk sebagai WBTb tertuang dalam Pasal 3, yang meliputi (a). tradisi dan ekspresi lisan; (b). seni pertunjukan; (c). adat-istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan; (d). pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta; dan/atau; (e). keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional.

Badruddin, salah satu pegiatan komunitas kretek bercerita, pihaknya pernah mengajukan kretek sebagai WBTb pada 2014 dan 2016. Proses di daerah sampai level provinsi masih lancar.

“Tapi ketika sampai level pusat, usulan ini ditolak. Menurut saya persoalan ini lebih pada good will dari pemerintah,” jelasnya.

Di penghujung acara, Fajar menyampaikan bahwa pemerintah Kudus serius dalam memperjuangkan kretek sebagai WBTb.

“Baru saja kita mendapat kabar bahwa Bupati Kudus pada 12 November 2015 telah mengeluarkan keputusan resmi bahwa Kudus sebagai Kota Kretek dan pengajuan kretek sebagai WBTb,” katanya.

Baca Juga: Prihatin TPA Overload, BLDF Inisiasi Gerakan Kudus Asik dan Olah Sampah Organik 50 Ton Sehari

Keputusan itu tertuang dalam Keputusan Bupati Kudus Nomor 400.6/311/2025 tentang Penetapan Kudus Kota Kretek sebagai Citra Kabupaten Kudus. Pada poin ke-4 keputusan tersebut juga menetapkan tanggal peresmian Museum Kretek pada 3 Oktober 1986 sebagai Hari Kretek.

Acara sarasehan ini diikuti dari berbagai pihak. Di antaranya adalah, akademisi, pelajar, pelaku industri kretek dan pegiat kretek dari berbagai daerah. Selain sarasehan, di kompleks Museum Kretek juga digelar pameran selama tiga hari.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Waktu Mepet, DPRD Kudus Minta Verifikasi Penerima TKGS 2026 Dipercepat

0
Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kudus melakukan audensi dengan Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) terkat progres verifikasi guru swasta calon penerima Tunjangan Kesejahteraan Guru Swasta (TKGS), Jum'at (14/11/2025). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kudus melakukan audensi dengan Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) terkat progres verifikasi guru swasta calon penerima Tunjangan Kesejahteraan Guru Swasta (TKGS), Jum’at (14/11/2025). Pada audensi, tim verifikator dari Universitas Muria Kudus (UMK).

Ketua Komisi D DORD Kudus, Mardijanto menyampaikan, audensi ini dalam rangka ingin mengetahui progres verifikasi guru swasta penerima TKGS. Mengingat APBD 2026 Kabupaten Kudus sudah masuk pembahasan.

Baca Juga: 37 Gudang dan Gerai Kopdes di Kudus Digenjot, Pacu Penguatan Ekonomi Desa

“Audensi ini guna memastikan kerja verifikator selesai tepat waktu. Khawatirnya, APBD 2026 disahkan sementara virifikasinya belum kelar,” ujar Mardijanto di gedung DPRD Kudus.

Mardijanto mendorong agar Disdikpora selaku dinas terkait untuk mempercepat proses verifikasi. Tim verifikator supaya kerja cepat, tepat dan hasilnya bisa dipertanggung jawabkan.

“Jujur ini memang di kejar waktu. Jadi mohon dilakukan percepatan, sebab akhir November 2025 itu APBD 2026 didok (disahkan),” bebernya.

Mardijanto juga mengingatkan, agar kerja tim verifikator benar-benar independen. Guru swasta penerima TKGS di tahun 2026 harus sesuai aturan, yakni Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 27 Tahun 2025 tentang Tunjangan Kesejahteraan Guru Swasta (TKGS).

Sementara itu Kepala Disdikpora Kudus, Harjuna Widada menyampaikan, verifikasi guru swasta penerima TKGS tahun 2026 memang agak molor. Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan verifikator independen dari UMK mulai tanggal 4 November sampai 4 Desember 2025.

“Tahapan verifikasi sudah kita jadwalkan. Kita juga sudah meminta pihak UMK sebagai tim verifikator untuk Semoga bisa lebih mempercepat kinerjanya. Supaya sebelum habis masa kontrak, bisa selesai,” ujar Harjuna.

Baca Juga: Prihatin TPA Overload, BLDF Inisiasi Gerakan Kudus Asik dan Olah Sampah Organik 50 Ton Sehari

Dia mengungkapkan, bahwa data guru swasta penerima TKGS tahun ini sebanyak 9.020 sudah dimasukan ke dalam Aplikasi TKGS Diskominfo Kudus. Kendalanya, dari jumlah tersebut yang terbaca oleh tim verifikator baru guru swasta Kelompok Belajar (KB). Sementara yang lainnya belum.

“Meski terdapat kendala kami optimis verifikasi akan selesai tepat waktu. Terkait alokasi anggaran APBD untuk TKGS 2026, sementara ini kita mengusulkan sebesar Rp113 miliar,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pernikahan Anak di Jepara Jadi Sorotan, Pemkab Bentuk Desa Layak Anak 

0
Kepala DP3AP2KB Jepara, Mudrikatun. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Berdasarkan data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Jepara, hingga Bulan Oktober 2025 total terdapat 263 permohonan dispensasi menikah. 

Jumlah tersebut menunjukkan angka pernikahan anak atau pernikahan dini di Kabupaten Jepara masih cukup tinggi. Untuk itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara membentuk Desa/Kelurahan Layak Anak (Dekela) dan Pencegahan Perkawinan Usia Anak. 

Baca Juga: Buruh Jepara Usul UMK 2026 Naik Jadi Rp3,4 Juta 

Kepala DP3AP2KB Jepara, Mudrikatun, menyampaikan penyelenggaraan Dekela merupakan bagian dari komitmen nasional untuk mewujudkan ‘Indonesia Layak Anak 2030’, sebagaimana amanat Resolusi PBB Nomor A/RES/S-27/2-2002 tentang A World Fit for Children. 

“Program Kabupaten/Kota Layak Anak, kini diperluas hingga ke tingkat desa dan kelurahan, agar perlindungan anak bisa dirasakan langsung di lingkungan terdekat,” katanya pada Jumat, (14/11/2025). 

Menurut Mudrikatun, Pemkab Jepara memiliki kewajiban untuk mensosialisasikan kebijakan perlindungan anak serta memahami indikator Desa/Kelurahan Layak Anak (Dekela). 

Sementara pemerintah desa diharapkan melakukan pemetaan situasi anak, mendeklarasikan komitmen sebagai Dekela, membentuk tim pelaksana dan forum anak, serta menyusun kebijakan, profil, dan rencana pembangunan berbasis anak.

Lebih lanjut, Mudrikatun menjelaskan sejumlah indikator penting dalam penyelenggaraan Dekela. Di antaranya, desa atau kelurahan harus memiliki peraturan dan anggaran khusus untuk perlindungan anak, memiliki forum anak, kawasan tanpa rokok, layanan PAUD-HI, taman bermain anak, ruang baca ramah anak, hingga lembaga konsultasi keluarga. 

Selain itu, desa juga diharapkan tidak memiliki kasus perkawinan anak, dan memastikan seluruh anak memperoleh pendidikan serta memiliki akta kelahiran.

“Dekela bukan sekadar program administratif. Ini adalah sistem yang membangun norma, struktur, dan proses untuk melindungi serta memenuhi hak-hak anak di setiap lapisan masyarakat,” jelasnya.

Dalam sosialisasi itu juga dibahas pentingnya mewujudkan Desa Layak Anak, ia mengatakan pihaknya sebelumnya sudah melakukan sosialisasi dan penguatan kapasitas sumber daya manusia, termasuk tim pelaksana Dekela, forum anak, dan pendamping desa. 

Baca Juga: 20 Gerai Kopdes Merah Putih di Jepara Mulai Dibangun 

Penguatan dilakukan melalui pelatihan, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), hingga pelayanan langsung kepada anak dan keluarga.

Selain itu, pemantauan dan evaluasi juga menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan Dekela. Pemerintah desa dan kelurahan diharapkan melakukan pelaporan tahunan kepada bupati melalui camat, untuk mendukung evaluasi Kabupaten Layak Anak oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA).

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pokir DPRD Kudus Bakal Dihapus dari APBD 2026, Begini Penjelasan Bupati Sam’ani

0
Rapat paripurna yang membahas pandangan fraksi terhadap kebijakan anggaran daerah. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Rencana penghapusan alokasi pokok pikiran (pokir) anggota DPRD dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Kudus tahun 2026 memunculkan beragam respons dari sejumlah fraksi. Sorotan itu disampaikan dalam rapat paripurna yang membahas pandangan fraksi terhadap kebijakan anggaran daerah.

Menanggapi hal tersebut, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menegaskan bahwa keputusan tersebut mengikuti arahan resmi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia menyatakan bahwa mulai 2026, pokir tidak lagi dimasukkan dalam struktur APBD.

Baca Juga: 37 Gudang dan Gerai Kopdes di Kudus Digenjot, Pacu Penguatan Ekonomi Desa

“Silakan para anggota dewan menyesuaikan programnya dengan visi dan misi bupati dan wakil bupati,” ujar Sam’ani usai rapat paripurna dengan agenda jawaban Bupati Kudus atas tanggapan fraksi di Gedung DPRD Kudus, Jum’at (14/11/2025).

Sam’ani menjelaskan bahwa kebijakan tersebut bukan berarti seluruh kegiatan dewan dihilangkan. Menurutnya, agenda reses DPRD tetap berjalan, sementara yang ditiadakan hanyalah pokir yang selama ini dipetakan dalam bentuk usulan anggaran khusus.

Usai rapat paripurna dengan agenda jawaban bupati atas tanggapan fraksi, Sam’ani menegaskan kembali bahwa penyesuaian program legislator dapat dilakukan melalui kegiatan yang sudah terakomodasi di masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Dengan demikian, dewan tetap dapat menyerap aspirasi masyarakat melalui mekanisme yang sesuai aturan.

Dalam kesempatan yang sama, Sam’ani turut menyinggung soal penindakan tambang galian C di Kabupaten Kudus. Ia menyatakan akan segera berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengingat kewenangan perizinan pertambangan berada di tingkat provinsi.

“Kami akan melakukan komunikasi dengan provinsi, termasuk terkait penertiban tambang ilegal yang ada di wilayah Kudus. Langkah ini untuk memastikan aktivitas pertambangan berjalan sesuai regulasi serta tidak merugikan masyarakat,” jelasnya.

Terkait persoalan tenaga honorer yang belum memenuhi syarat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) karena masa kerja kurang dari dua tahun, Sam’ani menyebutkan akan membuka dialog dengan Badan Kepegawaian Negara (BKN). Ia ingin memastikan agar nasib para honorer tidak terkatung-katung.

Baca Juga: Prihatin TPA Overload, BLDF Inisiasi Gerakan Kudus Asik dan Olah Sampah Organik 50 Ton Sehari

“Kita tetap berpegang pada regulasi, tetapi tetap akan berkomunikasi dengan BKN agar masa depan tenaga honorer yang belum lolos PPPK bisa lebih jelas,” tuturnya.

Sam’ani berharap seluruh persoalan yang menjadi sorotan ini dapat diselesaikan secara bertahap melalui koordinasi yang baik antara pemerintah daerah, DPRD, dan lembaga terkait.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Fanny Soegi Siap Hipnotis Gen Z Jepara dalam Konser Festival Musik Tradisi

0
Kementerian Kebudayaan bekerjasama dengan Yayasan Gondrong Gunarto Gamelan akan menggelar Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) Ethno Groove Devanilaya di Pantai Kartini Jepara pada Sabtu-Minggu, (15-16/11/2025). Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID,JEPARA- Kementerian Kebudayaan bekerjasama dengan Yayasan Gondrong Gunarto Gamelan akan menggelar Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) Ethno Groove Devanilaya di Pantai Kartini Jepara pada Sabtu-Minggu, (15-16/11/2025).

Festival musik bertajuk “Suara-Suara Leluhur dalam Genggaman Gen-Z: Perjumpaan Musik Tradisi dan Teknologi Digital” ini akan menampilkan tujuh grup musik atau sanggar musik dari tujuh kabupaten dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

Baca Juga: Buruh Jepara Usul UMK 2026 Naik Jadi Rp3,4 Juta 

Yaitu grup musik Padokan Klapa Pitu dari Cilacap, Setyo Langon Budoyo dari Wonosobo, Dhom Sunthil dari Magelang, Mukti Laras dari Pemalang, Carang Pakang dari Jepara, Pride Music Culture dari Purwodadi, dan Wasafola serta Romanz.Pitu dari Karanganyar.

Selain tujuh grup musik tersebut, di penampilan puncak pada hari pertama, Sabtu (15/11/2025) akan menampilkan Marzuki Muhammad atau dikenal Kill The DJ.

Kemudian sebagai penutup festival, Musisi Fanny Soegi berkolaborasi dengan grup musik Gon Gun N Friends siap menghipnotis masyarakat Jepara pada Minggu, (16/11/2025).

Direktur Program FMTI, Gondrong Gunarto mengatakan festival ini lahir dari semangat untuk merayakan keberagaman bunyi Nusantara, menautkan tradisi dan kekinian dalam satu ruang perjumpaan yang hangat, terbuka, dan kreatif.

“Melalui Ethno Groove Devanilaya, kamu berupaya menegaskan bahwa musik tradisi bukanlah artefak masa lalu, melainkan denyut kehidupan yang terus berdialog dengan zaman,” kata Gunarto saat Konferensi Pers di Ruang Rapat Sosrokartono Kantor Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Jepara, Jumat (14/11/2025).

Ia berharap festival ini bisa menjadi ruang belajar bersama, berbagi inspirasi, dan menumbuhkan ekosistem musik tradisi agar terus berkelanjutan.

Dalam pelaksanaannya, Gunarto mengaku sengaja memilih spot panggung di depan Patung Kura-Kura Ocean Park agar kemasan musik tradisi lebih hidup dan tidak menimbulkan kesan konser musik yang kaku.

“Saat nanti didokumentasikan, memperlihatkan gagahnya Patung Kura-Kura, orang juga bisa langsung teringat bahwa, oh ini di Jepara,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Kelompok Kerja (Kapokja) Musik pada Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI, Irnie Wanda mengatakan FMTI 2025 merupakan gelaran festival musik tradisi yang ke-4.

Jepara menurutnya sengaja dipilih sebagai tuan rumah sebab Jepara yang selama ini dikenal sebagai Kota Ukir juga memiliki kekayaan tradisi dan budaya yang cukup kuat.

Baca Juga: 20 Gerai Kopdes Merah Putih di Jepara Mulai Dibangun

“Potensi kebudayaan di Jepara ternyata luar biasa dan cukup menarik untuk diselami. Tujuan kami semoga FMTI ini bisa mendrobak dulu karena festival musik tradisional jarang disentuh. Padahal ini kekayaan bangsa,” ujarnya.

Selain itu, dengan adanya FMTI ia berharap bisa menghidupkan kembali pelaku seni musik tradisi di Indonesia, khususnya Kabupaten Jepara.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -