Beranda blog Halaman 137

Fanny Soegi Siap Hipnotis Gen Z Jepara dalam Konser Festival Musik Tradisi

0
Kementerian Kebudayaan bekerjasama dengan Yayasan Gondrong Gunarto Gamelan akan menggelar Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) Ethno Groove Devanilaya di Pantai Kartini Jepara pada Sabtu-Minggu, (15-16/11/2025). Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID,JEPARA- Kementerian Kebudayaan bekerjasama dengan Yayasan Gondrong Gunarto Gamelan akan menggelar Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) Ethno Groove Devanilaya di Pantai Kartini Jepara pada Sabtu-Minggu, (15-16/11/2025).

Festival musik bertajuk “Suara-Suara Leluhur dalam Genggaman Gen-Z: Perjumpaan Musik Tradisi dan Teknologi Digital” ini akan menampilkan tujuh grup musik atau sanggar musik dari tujuh kabupaten dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

Baca Juga: Buruh Jepara Usul UMK 2026 Naik Jadi Rp3,4 Juta 

Yaitu grup musik Padokan Klapa Pitu dari Cilacap, Setyo Langon Budoyo dari Wonosobo, Dhom Sunthil dari Magelang, Mukti Laras dari Pemalang, Carang Pakang dari Jepara, Pride Music Culture dari Purwodadi, dan Wasafola serta Romanz.Pitu dari Karanganyar.

Selain tujuh grup musik tersebut, di penampilan puncak pada hari pertama, Sabtu (15/11/2025) akan menampilkan Marzuki Muhammad atau dikenal Kill The DJ.

Kemudian sebagai penutup festival, Musisi Fanny Soegi berkolaborasi dengan grup musik Gon Gun N Friends siap menghipnotis masyarakat Jepara pada Minggu, (16/11/2025).

Direktur Program FMTI, Gondrong Gunarto mengatakan festival ini lahir dari semangat untuk merayakan keberagaman bunyi Nusantara, menautkan tradisi dan kekinian dalam satu ruang perjumpaan yang hangat, terbuka, dan kreatif.

“Melalui Ethno Groove Devanilaya, kamu berupaya menegaskan bahwa musik tradisi bukanlah artefak masa lalu, melainkan denyut kehidupan yang terus berdialog dengan zaman,” kata Gunarto saat Konferensi Pers di Ruang Rapat Sosrokartono Kantor Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Jepara, Jumat (14/11/2025).

Ia berharap festival ini bisa menjadi ruang belajar bersama, berbagi inspirasi, dan menumbuhkan ekosistem musik tradisi agar terus berkelanjutan.

Dalam pelaksanaannya, Gunarto mengaku sengaja memilih spot panggung di depan Patung Kura-Kura Ocean Park agar kemasan musik tradisi lebih hidup dan tidak menimbulkan kesan konser musik yang kaku.

“Saat nanti didokumentasikan, memperlihatkan gagahnya Patung Kura-Kura, orang juga bisa langsung teringat bahwa, oh ini di Jepara,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Kelompok Kerja (Kapokja) Musik pada Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI, Irnie Wanda mengatakan FMTI 2025 merupakan gelaran festival musik tradisi yang ke-4.

Jepara menurutnya sengaja dipilih sebagai tuan rumah sebab Jepara yang selama ini dikenal sebagai Kota Ukir juga memiliki kekayaan tradisi dan budaya yang cukup kuat.

Baca Juga: 20 Gerai Kopdes Merah Putih di Jepara Mulai Dibangun

“Potensi kebudayaan di Jepara ternyata luar biasa dan cukup menarik untuk diselami. Tujuan kami semoga FMTI ini bisa mendrobak dulu karena festival musik tradisional jarang disentuh. Padahal ini kekayaan bangsa,” ujarnya.

Selain itu, dengan adanya FMTI ia berharap bisa menghidupkan kembali pelaku seni musik tradisi di Indonesia, khususnya Kabupaten Jepara.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Rela Antre Berjam-jam, Noor Senang Bakal Terima Uang Insentif 

0
Prosesi penerimaan insentif tendik dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Antrean panjang tampak memadati halaman kantor Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus, Jumat (14/11/2025). Ratusan tenaga kependidikan (Tendik) berkumpul dalam rangka pembuatan buku tabungan dan ATM Simpeda Hipprada Bank Jateng, untuk menerima insentif tendik dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus.

Bahkan sejumlah orang tersebut antre berjam-jam, karena banyaknya orang yang membuat buku tabungan tersebut. Salah satunya seperti yang dialami oleh Noor Jannatun Naim, sebagai administrasi di SD 4 Tenggeles.

Baca Juga: 37 Gudang dan Gerai Kopdes di Kudus Digenjot, Pacu Penguatan Ekonomi Desa

Ia menjelaskan, menunggu berjam-jam sampai tabungan yang diharapakan selesai dibuat. Dia mulai mengantre sejak pukul 8.00 WIB hingga pukul 10.30 WIB, untuk mendapatkan insentif yang merupakan program baru dari Bupati Kudus. 

“Sudah sejak tadi pagi antrenya, ya lumayan lelah. Untuk besarannya saya kurang tahu, akan mendapat berapa,” bebernya saat ditemui di lokasi, Jum’at (14/11/2025). 

Meski begitu, pihaknya mengaku senang bakal mendapatkan uang bonus. Rencananya, insentif tersebut akan digunakan untuk tambahan kebutuhan pokok untuk keluarganya di rumah. 

“Senang sekali, uangnya bis amwnjadi tambahan pendapatan (di luar gaji),” ujarnya.

Sementara itu Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Dasar pada Disdikpora Kabupaten Kudus, Anggun Nugroho mengatakan, bahwa saat ini pihaknya akan memberikan uang insentif kepada Tendik di Kabupaten Kudus. Hal itu sesuai dengan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 45 Tahun 2025, tentang pemberian insentif kepada tenaga kependidikan.

“Ini merupakan program baru, di mana Perbup itu baru disahkan pada Oktober 2025. Jadi uang insentif ini bakal keluar setiap bulan dan didistribusikan mulai November,” tuturnya. 

Menurutnya, pemberian insentif itu bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Kudus. Setidaknya ada sebanyak 1.198 penerima manfaat dalam program ini. 

“Tendik ini meliputi tata usaha (TU), penjaga sekolah, tenaga kebersihan, operator, dan pustakawan, baik dari sekolah dibawah naungan Disdikpora maupun Kemenag. Yang jelas diperuntukan bagi tenaga kependidikan yang tidak menerima TKGS dan TPG (Tunjangan Profesi Guru),” jelasnya.

Baca Juga: Prihatin TPA Overload, BLDF Inisiasi Gerakan Kudus Asik dan Olah Sampah Organik 50 Ton Sehari

Ia menegaskan, penerima insentif bakal mendapatkan Rp100 ribu per bulan. Sedangkan untuk skema penyalurannya diberikan per tiga bulan sekali melalui buku tabungan Hipprada yang telah dibuat.

“Jadi tahun ini, uang bonus untuk Tendik di Kudus keluar dua bulan, yakni November-Desember. Harapannya, uang ini dapat bermanfaat dan benar-benar digunakan semestinya,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Sambil Jalan Pagi, Bupati Kudus Cek Proyek hingga Temukan Saluran Tersumbat

0
Bupati Sam’ani memantau progres rehabilitasi Jalan R. Agil Kusumadya. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, memulai Jumat paginya (14/11/2025) dengan berjalan kaki menyusuri ruas Jalan A. Yani, Kecamatan Kota. Didampingi jajaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Dinas Perhubungan (Dishub), agenda jalan pagi itu dimanfaatkan sebagai inspeksi lapangan sejumlah proyek infrastruktur yang tengah dikerjakan.

Sepanjang rute, Sam’ani memantau progres rehabilitasi Jalan R. Agil Kusumadya, terutama di sekitar SMA NU Al Ma’ruf Kudus. Ia juga meninjau langsung pembangunan Gedung Stroke dan Onkologi di RSUD dr. Loekmono Hadi.

Baca Juga: 37 Gudang dan Gerai Kopdes di Kudus Digenjot, Pacu Penguatan Ekonomi Desa

“Kita mendorong agar seluruh pekerjaan bisa selesai tepat waktu,” ucap Sam’ani.

Perhatian Bupati kemudian tertuju pada trotoar di timur warung Kopi Klotok 24 Jam. Di lokasi itu ia menemukan genangan air hujan yang tak mengalir, diduga karena inlet drainase tertutup sampah. Tanpa menunggu lama, Sam’ani memerintahkan petugas untuk membersihkan inlet dan mengecek kondisi saluran di bawahnya.

“Kalau saluran bersih, air hujan langsung masuk ke drainase dan tidak menimbulkan genangan,” lanjutnya.

Temuan ini membuat Bupati menginstruksikan Dinas PUPR untuk mempercepat perbaikan serta normalisasi drainase di kawasan perkotaan. Langkah antisipasi tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko genangan saat puncak musim hujan tiba.

Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Kudus, Harry Wibowo, menyampaikan bahwa petugas rutin membersihkan inlet, gorong-gorong, dan jaringan drainase. Selain kegiatan rutin, saat ini juga tengah dikerjakan proyek besar pembangunan drainase di beberapa titik, mulai dari Jalan Subkhan ZE hingga ruas Kudus–Kaliwungu.

Baca Juga: Prihatin TPA Overload, BLDF Inisiasi Gerakan Kudus Asik dan Olah Sampah Organik 50 Ton Sehari

Harry menargetkan pembangunan drainase ini mampu menekan titik genangan di berbagai kawasan, terutama menjelang musim hujan akhir 2025 hingga awal 2026.

“Hampir semua wilayah di Kudus sedang dibangun drainase. Target kami, sebelum 20 Desember seluruh pekerjaan dapat rampung,” ujarnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Buruh Jepara Usul UMK 2026 Naik Jadi Rp3,4 Juta 

0
Ketua Konsulat Cabang Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Jepara Raya, Yopy Priambudi. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Menjelang penetapan upah minimum, serikat buruh di Kabupaten Jepara mulai mengusulkan konsep penghitungan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Jepara Tahun 2026. 

Sebagaimana diketahui, besaran UMK Jepara tahun 2025 yaitu Rp2.610.224,00. Nilai itu diusulkan naik menjadi Rp3.240.327,00 atau naik 33,98 persen dari tahun 2025. 

Baca Juga: 20 Gerai Kopdes Merah Putih di Jepara Mulai Dibangun

Ketua Konsulat Cabang Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Jepara Raya, Yopy Priambudi mengatakan pihaknya sudah menyampaikan usulan konsep itu kepada Bupati Jepara, pada Selasa, (28/10/2025) lalu. 

Dalam usulan konsep yang sudah ia sampaikan, Yopi berharap rumusan penghitungan upah minimum 2026 didasarkan pada nilai Survei Kebutuhan Hidup Layak (KHL). 

Hal itu menurutnya juga tercantum dalam Putusan MK Nomor : 168/PUU-XXI/2023 yang menekankan agar penghitungan upah minimum mempertimbangkan penghidupan layak bagi pekerja atau buruh.  

“Kita kemarin sudah melakukan survei KHL pada pertengahan September lalu di empat pasar berbeda. Yaitu di Pasar Pasar Mayong, Welahan, Kalinyamatan, dan Mlonggo,” kata Yopy saat ditemui di Kantor Dinas Koperasi, UKM, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Diskopukmnakertrans) Jepara, Jumat (14/11/2025). 

Dari hasil survei yang pihaknya lakukan, Yopy menyebut nilai KHL di Kabupaten Jepara tahun 2025 yaitu sebesar Rp3.240.326. 

Hasil survei tersebut, menurut Yopy kemudian ditambah dengan nilai penyesuaian upah minimum. Nilai itu dihitung berdasarkan nilai inflasi dan pertumbuhan ekonomi di tahun berjalan, serta indeks tertentu berupa alpha. 

“Dari hasil penghitungan itu, kemudian keluar nilai rekomendasi UMK Jepara tahun 2026, sekitar Rp3,4 juta atau naik sekitar 33 persen,” sebut Yopy. 

Yopy menuturkan, sampai saat ini pemrintah pusat belum mengeluarkan regulasi resmi terkait rumusan penghitungan upah minimum. 

Namun, dari draft Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) yang sudah beredar, terdapat poin kebijakan yang membuat serikat buruh merasa dilema. 

“2025 alphanya itu kan 0,1-0,3. Sekarang RPP yang keluar itu alphanya dibatasi 0,2-0,7 itu yang memberatkan bagi kita. RPP itu isinya seolah-olah membatasi untuk kenaikan alphanya untuk pekerja,” bener Yopy. 

Baca Juga: Sebelum Meninggal, Perempuan Asal Kerso Jepara yang Mayatnya Dibongkar Ternyata Sempat Dijemput Paksa 

Sebagai informasi, Kabupaten Jepara pada tahun 2025 juga menetapkan Upah Minimum Sektoral Kabupaten (UMSK) yang terbagi ke dalam tiga golongan. 

Besarannya, untuk Golongan pertama yaitu Rp2.949.553,00, golongan kedua, Rp2. 871.246,00, dan golongan ketiga, Rp2.792.940,00.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

37 Gudang dan Gerai Kopdes di Kudus Digenjot, Pacu Penguatan Ekonomi Desa

0
Bupati Kudus, Sam'ani Intakoris. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Upaya menghadirkan gerai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di Kabupaten Kudus terus dikebut. Sebanyak 37 desa kini tengah merampungkan persiapan pembangunan gudang dan gerai sebagai sarana penguatan ekonomi berbasis desa.

Pendirian fasilitas ini sepenuhnya didukung oleh anggaran pemerintah pusat. Kodim 0722/Kudus ditunjuk sebagai pendamping teknis untuk memastikan pembangunan berjalan cepat dan tepat sasaran.

Baca Juga: Prihatin TPA Overload, BLDF Inisiasi Gerakan Kudus Asik dan Olah Sampah Organik 50 Ton Sehari

Dandim 0722/Kudus Letkol Inf Hermawan Setya Budi menyebut, Kudus mendapat alokasi 37 titik pembangunan gerai dan gudang. Jumlah itu terbilang kecil dibandingkan daerah lain di Provinsi Jawa Tengah.

“Di Jepara ada 195 gerai, Rembang 190 gerai, Klaten 150 gerai. Kudus hanya 37, termasuk kecil,” katanya.

Meski begitu, tahapan persiapan di Kudus disebut berjalan cukup progresif. Beberapa lahan telah selesai disurvei, termasuk di Desa Singocandi yang membutuhkan proses urug sebelum didirikan bangunan. Di titik lain, pondasi mulai dikerjakan sebagai bentuk percepatan konstruksi.

Hermawan menjelaskan, satu paket pembangunan Kopdes Merah Putih mencakup gerai, gudang penyimpanan, dan toko obat. Namun dua fasilitas, yakni gerai dan gudang, dipastikan menjadi prioritas utama.

Pihaknya menargetkan seluruh pembangunan dapat tuntas pada 31 Januari 2026. Ia berharap keberadaan Kopdes Merah Putih dapat menjadi instrumen penting dalam pelaksanaan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, terutama dalam aspek pemberdayaan masyarakat desa dan ketahanan pangan.

“Biayanya langsung dari pusat, dan target kami 31 Januari sudah selesai,” tegasnya.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris menyatakan dukungan penuh terhadap pembangunan jaringan koperasi desa tersebut. Untuk memperkuat ekosistem koperasi, ia bahkan mewajibkan seluruh ASN Pemkab Kudus menjadi anggota Kopdes Merah Putih.

Baca Juga: Dugaan Percobaan Penculikan Siswa SD di Kudus Belum Terbukti, Polisi Minta Warga Tak Panik

Menurutnya, keberadaan gerai dan gudang koperasi ini kelak akan meningkatkan kelancaran distribusi barang hingga ke tingkat desa, menghadirkan harga yang lebih terjangkau, serta membuka ruang pelayanan kesehatan melalui penyediaan fasilitas toko obat desa.

“Kopdes Merah Putih ini kami harapkan menjadi motor ekonomi desa dan mempermudah akses kebutuhan masyarakat,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Xiang Qi Pati Bersinar, Lima Atlet Muda Melaju ke Porprov Jateng 2026

0
Cabang olahraga Xiang Qi (Catur Cina) Kabupaten Pati kembali mencatatkan torehan membanggakan. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Cabang olahraga Xiang Qi (Catur Cina) Kabupaten Pati kembali mencatatkan torehan membanggakan. Lima atlet muda berhasil memastikan langkah menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026, setelah tampil gemilang dalam ajang kualifikasi Pra Porprov yang digelar pada 7–9 November 2025 di Solo.

Ketua Pengurus Kabupaten Persatuan Xiangqi Indonesia (Pengkab PEXI) Pati, Sholihun Niam mengungkapkan, bahwa pada awalnya Pati menurunkan delapan atlet. Namun, persaingan ketat di arena membuat hanya lima atlet yang berhak melaju ke putaran berikutnya.

Baca Juga: Semringahnya Sugiarto Dapat Bantuan Becak Listrik dari Prabowo

“Kemarin mengirimkan delapan, lolos lima. Dilaksanakan di Solo selama tiga hari,” ujar Niam.

Kelima atlet yang lolos tersebut masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), sebuah pencapaian yang menunjukkan potensi besar generasi muda Xiang Qi Pati.

Menurut Niam, persiapan mereka ke depan akan berfokus pada peningkatan intensitas latihan serta pendalaman strategi serangan.

“Persiapannya memperbanyak latihan sama strategi penyerangan, supaya bisa mendapatkan sesuai yang diharapkan,” ucapnya.

Meski demikian, perjalanan menuju Porprov 2026 dipastikan tidak mudah. Niam menyebut,  Banyumas dan Batang sebagai dua daerah yang menjadi lawan terberat. Meski begitu, pihaknya terus menanamkan kepercayaan diri kepada para atlet agar tidak gentar menghadapi persaingan.

Baca Juga: Alami Kenaikan, Hasil Bulan Dana PMI Tahun 2025 Capai Rp1,3 Miliar

Optimisme tetap mengiringi langkah mereka. Melihat performa di Pra Porprov, Niam yakin peluang meraih medali emas terbuka lebar.

“Kalau lawan terberat Banyumas, Batang itu saja. Kalau dari hasil kemarin itu, kemungkinan ya bisa mendapatkan emas dua terus sama perak satu,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Venue Sepatu Roda di Kompleks Stadion Joyokusumo Bakal Dibongkar, Perserosi Pati Gelisah

0
Pertandingan Cabor Sepatu Roda nomor PTP Elim 10.000 meter kategori putra di Arena Sepatu Roda Kompleks Stadion Joyokusumo Pati, Kamis (3/8/2023). Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Rencana pembongkaran venue sepatu roda di kompleks Stadion Joyokusumo Pati dalam waktu dekat membuat Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Perserosi) Pati resah. Fasilitas yang selama ini menjadi pusat pembinaan atlet itu terancam hilang demi kelancaran proyek renovasi stadion.

Ketua Perserosi Pati, Harisman mengungkapkan, bahwa ia sudah menerima kabar resmi dan berkomunikasi dengan sejumlah pejabat terkait mengenai rencana pembongkaran tersebut. Meski begitu, kegelisahan tetap menyelimutinya.

Baca Juga: Semringahnya Sugiarto Dapat Bantuan Becak Listrik dari Prabowo

”Memang saya sedikit gelisah. Dari pengurus provinsi hingga nasional sudah tahu dengan rencana ini. Mereka support. Event sepatu roda (Kejurprov) besok juga bagian itu, berpesan kepada pemerintah ini jangan dihilangkan,” ujar Harisman, Jumat (14/11/2025).

Harapan sempat muncul ketika beredar informasi bahwa venue yang dibongkar akan diganti dengan fasilitas baru di Alun-alun Kembangjoyo Pati. Namun, ketidakpastian soal eksekusi dan pendanaannya masih membuat Harisman ragu.

”Tapi kemarin saat kunjungan DPR RI, kita diganti venue-nya di Alun-alun Kembangjoyo. Intinya diganti. Tapi penggantinya kan pasti dari APBD. Pembongkaran kan juga dari APBD. Anggaran Rp 150 M itu kan untuk renovasi stadion saja,” ucapnya.

Kegelisahan kian bertambah karena belum jelas di mana para atlet sepatu roda Pati akan berlatih selama masa transisi. Padahal, tahun 2026 menurutnya menjadi momentum penting dengan digelarnya Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jateng yang menuntut persiapan maksimal.

Secara teori, katanya, venue eksisting masih bisa digunakan hingga April 2026, sesuai jadwal pembongkaran. Namun, setelah itu Perserosi harus memutar otak mencari lokasi latihan pengganti.

”Kita latihan pengganti di mana. yang speednya kan kita perlu venue. Mungkin latihan bisa di Semarang. Tapi kan dibatasi jadwalnya. Apalagi banyak anak-anak yang sudah di kelas 6 dan 3 SMA dan 3 SMP. Dia mau lulusan juga perlu fokus kalau latihan di luar kasihan,” kata Harisman.

Baca Juga: Alami Kenaikan, Hasil Bulan Dana PMI Tahun 2025 Capai Rp1,3 Miliar

Ia berharap pemerintah daerah dapat menemukan titik temu demi keberlangsungan pembinaan atlet. Menurutnya, pembangunan stadion penting, tetapi jangan sampai mengorbankan masa depan olahraga sepatu roda Pati.

”Saya kira pemerintah bijaklah. Kalau tidak diganti menimbulkan gejolak juga. Kita kan pembinaan kita mulai dari usia dini. Inikan bukan hanya aset Pati tapi juga aset Jateng,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Sambut Musim Tanam, Petani Ngurenrejo Pati Gelar Tradisi Napak Tilas Kenduruan

0
Napak Tilas Kenduruan warga Ngurenrejo, Pati. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI — Menyambut datangnya musim tanam, ratusan petani Desa Ngurenrejo, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati, punya cara unik yang sarat makna. Kamis (13/11/2025) sore, mereka berbondong-bondong menuju Desa Tajungsari, Kecamatan Tlogowungu, untuk menggelar Napak Tilas Kenduruan, sebuah tradisi tua yang dipercaya sudah berlangsung sejak tujuh abad lalu.

Dengan pakaian sederhana, warga berjalan menuju Makam Nyai Ageng Kenduruan. Di sana, mereka berziarah, memanjatkan doa agar hasil panen melimpah serta desa mereka dijauhkan dari mara bahaya.

Baca Juga: Hanya Dilakukan Kalangan Tertentu, Ini Makna Tradisi Prasah di Sidigede Jepara 

Masing-masing warga membawa nasi dan seekor ayam ingkung utuh. Setelah doa bersama, suasana berubah menjadi hangat dan penuh keakraban. Bekal yang dibawa dari  rumah itu disantap bersama keluarga dan tetangga di sekitar makam.

Tak hanya warga Ngurenrejo, sejumlah warga Desa Tajungsari serta personel TNI dan Polri juga turut bergabung dalam kebersamaan itu.

Menariknya, bekal yang tersisa tidak dibawa pulang. Semuanya ditinggalkan di makam untuk diambil warga sekitar sebagai simbol keikhlasan berbagi rezeki.

“Warga Desa Ngurenrejo dilarang membawa bekal kembali sebagai simbol keiklasan untuk bersedekah. demikian tradisi yang terus dijaga turun-temurun, ” ujar Sekretaris Desa Ngurenrejo, Sutrisno.

Ia menjelaskan, bahwa napak tilas ini bukan sekadar ritual, melainkan penghormatan terhadap sejarah desa. Menurutnya, tradisi ini bermula dari kisah Ki Ageng Singopadu, pendiri Desa Ngurenrejo, yang selalu berkunjung ke kediaman kakaknya, Nyai Ageng Kenduruan, setiap menjelang musim tanam.

”Tradisi napak tilas Kenduruan merupakan tradisi desa kami, Ngurenrejo, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati dari sejak pendiri Desa Ngurenrejo, Mbah Singopadu. Ketika masa hidupnya, Ki Ageng Singopadu selalu sowan ke Kakaknya Nyi Ageng Kenduruan,” kata Sutrisno.

Kunjungan tersebut, lanjut Sutrisno, dilakukan untuk meminta izin dan doa restu kepada Nyai Ageng Kenduruan yang dipercaya memiliki kekuasaan di lereng Gunung Muria, terutama terkait sumber mata air irigasi yang mengalir ke lahan pertanian Ngurenrejo.

”Dengan harapan minta doa restu dan silaturahim agar mereka bersama rakyat Desa Ngurenrejo dapat pasokan air,” imbuhnya.

Dalam setiap kunjungannya, Ki Ageng Singopadu selalu membawa nasi ayam ingkung dan berbagai lauk pauk sebagai tanda hormat dan syukur. Tradisi itulah yang kini terus dijaga dan dilestarikan warga setiap tahun.

”Hingga saat ini tradisi ini dilestarikan setiap satu tahun sekali dengan Napak Tilas Kenduruan Ki Ageng Singopadu,” ungkapnya.

Baca Juga: Mengenal Tradisi Prasah, Arak-Arakan Kerbau dalam Adat Pernikahan di Sidigede Jepara 

Warga sepakat, tradisi sakral ini digelar setiap bulan November menjelang Jumat Kliwon. Tak hanya di Ngurenrejo, warga Desa Nguensiti pun melaksanakan tradisi serupa, hanya waktunya berbeda, yakni pada Jumat Kliwon pagi.

”Jelas ratusan tahun. Karena Singopadu merupakan Patih Kadipaten Carangsoko maupun tokoh Desa Ngurenrejo. Nguren ada dua. Ngurenrejo dan Ngurensiti. Dulu namanya Nguren saja. Sejak aman Belanda dipisah menjadi dua,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Kudus Tetapkan Sentra Industri Gebyok sebagai Program Strategis Desa

0
20171102_RS_Pembuatan gebyok khas Kudus
Pembuatan gebyok khas Kudus

BETANEWS.ID, KUDUS – Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Kudus tengah menyiapkan Rencana Pembangunan Kawasan Perdesaan (RPKP) untuk mengembangkan sentra industri kerajinan rumah adat Kudus.

Program ini menitikberatkan pada pelestarian seni gebyok sekaligus pemberdayaan ekonomi kreatif masyarakat di Kecamatan Kaliwungu dan Gebog.

Baca Juga: Nikmatnya Sajian Makanan Jadul di Tengah Hutan Pinus Kudus

Seni gebyok, ukiran kayu jati khas Kudus yang berfungsi sebagai penyekat ruangan maupun dekorasi rumah adat, kini dipandang sebagai produk unggulan desa (prukades). Selain bernilai estetika tinggi, gebyok juga memiliki potensi besar sebagai komoditas UMKM, baik untuk pasar lokal maupun ekspor.

Dalam laporan DPMD Kudus, disebutkan bahwa pengembangan kawasan perdesaan ini akan dijalankan selama lima tahun dengan mengacu pada kebijakan nasional dan daerah.

Fokus pengembangan kawasan tersebut meliputi, pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis kriya dan desain produk dan pelestarian sosial budaya melalui pewarisan keterampilan perajin.

Selain itu, penguatan regulasi agar legalitas dan yuridis pembangunan desa lebih kokoh juga menjadi hal penting dalam pengembangan.

Gebyok Ukir Kudusan. Foto: Erna Safitri

Sejarah panjang gebyok Kudus yang lahir sejak abad ke-16, dengan akulturasi budaya Jawa, Arab, Cina, dan Eropa, menjadi dasar penting dalam pengembangan kawasan ini. Namun, tantangan tetap ada, seperti keterbatasan bahan baku kayu jati dan berkurangnya generasi penerus perajin.

“RPKP ini diharapkan mampu menjaga warisan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui ekonomi kreatif,” tulis laporan tersebut.

Program ini juga menekankan prinsip gotong royong dan partisipasi masyarakat desa. Dengan dukungan kebijakan fiskal dan nonfiskal, pemerintah optimistis sentra industri gebyok Kudus dapat menjadi model pembangunan desa berbasis budaya yang berkelanjutan.

Penelitian juga menyoroti tantangan yang dihadapi, seperti keterbatasan bahan baku kayu jati dan berkurangnya generasi penerus perajin. Meski demikian, pengembangan kawasan ini diharapkan mampu menjaga warisan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui ekonomi kreatif.

Baca Juga: Validasi Data Penerima TKGS 2026 Ditarget Rampung Awal Desember

“RPKP ini menjadi draft penting untuk arah pembangunan lima tahun ke depan, dengan menyesuaikan kebijakan terbaru secara legalitas dan yuridis,” tulis laporan tersebut.

Dengan dukungan regulasi, termasuk Peraturan Bupati Kudus Nomor 45 Tahun 2020 tentang Pembangunan Kawasan Perdesaan, program ini diharapkan dapat memperkuat posisi Kudus sebagai pusat industri kerajinan berbasis budaya yang berkelanjutan. (adv)

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Prihatin TPA Overload, BLDF Inisiasi Gerakan Kudus Asik dan Olah Sampah Organik 50 Ton Sehari

0
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di Kabupaten Kudus kini bekerja sama dengan gerakan Kudus Asik (Apik, Resik) untuk pengelolaan sampah organik. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – PT Djarum melalui Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) sejak tahun 2018 mulai fokus terhadap pengelolaan sampah organik di Kabupaten Kudus. Langkah tersebut dilakukan karena keprihatinan atas fakta bahwa Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tanjungrejo yang sudah oveload.

Apalagi, data dari Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Kudus, setiap hari kurang lebih ada 200 ton sampah yang dibuang ke TPA Tanjungrejo. Dari jumlah tersebut 70 persennya merupakan sampah organik.

Baca Juga: Museum Kretek Gelar Pameran “Utsava Kretek”, Angkat Kretek Sebagai Warisan Budaya Kudus

Komitmen BLDF untuk membantu Kabupaten Kudus mengatasi persoalan sampah diwujudkan dengan mendirikan Pusat Pengolahan Organik (PPO) di OASIS Kretek Factory Kudus. Selain itu BLDF juga menginisiasi gerakan Kudus Asik (Apik dan Resik) untuk mewujudkan Kota Kretek zero sampah organik pada tahun 2030.

Staf PPO BLDF, Timothy Ariel Saputra mengatakan, Kudus Asik merupakan gerakan untuk mengurangi dan mengolah sampah organik di Kabupaten Kudus. Caranya dengan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memilah sampahnya dan menjadi mitra Kudus Asik.

“Sampah organik itu sumber masalah dan penyakit. Ketika menumpuk akan menimbulkan bau, didatangi banyak lalat dan tentunya mencemari lingkungan,” ujar ujar Timothy kepada Betanews.id di PPO OASIS Kretek Factory Kudus, Rabu (12/11/2025).

Dia menuturkan, bahwa gerakan Kudus Asik cukup bisa diterima oleh warga Kudus. Hingga saat ini sudah ada 400 mitra yang bersedia memilah sampahnya sendiri. Terdiri dari warga biasa, pemerintah desa, restoran, hotel, instansi pemerintah dan swasta, dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), pasar tradisional dan lainnya.

“Sampah organik yang sudah terpilah, lalu diambil oleh tim Kudus Asik untuk dibawa ke PPO. Pengambilan sampah gratis, tugas mitra adalah bersedia memilah sampahnya,” tandas Timothy.

Dia mengungkapkan, bahwa jumlah sampah yang diangkut ke PPO OASIS Kretek Factory cukup banyak. Dalam sehari kurang lebih ada 50 ton sampah organik yang diolah menjadi humisoil atau yang akrab disebut kompos..

Timothy menambahkan, sampah organik yang sampai di PPO akan dicacah dengan ukuran diamater lima sentimeter. Ketika sudah tercacah sampah dicampur dengan kotoran ayam dan arang.

“Setelah itu akan dimasukan ke dalam silinder mixer dan diberi bakteri anaerob. Lalu sampah organik akan difermentasi selama enam bulan dan siap digunakan sebagai humisoil (kompos),” jelasnya.

Dia mengatakan, kompos yang dihasilkan biasanya digunakan untuk mendukung program penghijauan BLDF. Selain itu juga dibagikan secara gratis kepada masyarakat.

“Bagi masyarakat yang ingin mendapatkan kompos gratis bisa datang langsung ke PPO OASIS Kretek Factory. Selain itu juga menghubungi call center Kudus Asik di nomor 08112982299,” imbuhnya.

Baca Juga: Pemkab Kudus Bakal Kaji Ulang Sewa Terminal Kargo Jati

Dengan mampu mengolah sampah organik sebanyak 50 ton sehari, gerakan Kudus Asik sangat bermanfaat bagi Kota Kretek. Keberadaan PPO juga diapresiasi oleh Bupati Kudus Sam’ani Intakoris saat berkunjung pada Kamis (3/7/2025).

Apalagi awal tahun 2025, TPA Tanjungrejo pernah disegel warga karena sudah overload. Saat itu, Kudus bahkan disebut darurat sampah.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Semringahnya Sugiarto Dapat Bantuan Becak Listrik dari Prabowo

0
Tukang becak di Pati menerima bantuan becak listrik. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Mengenakan baju batik lengan panjang, pria paruh baya itu tampak semringah begitu menaiki becak listrik yang ada di sebelah Pendapa Kabupaten Pati. Senyumnya terlihat mengembang begitu ia menghidupkan becak tersebut.

Apalagi, becak listrik tersebut akan menjadi miliknya. Nantinya, becak yang merupakan bantuan dari Presiden Prabowo Subianto itu, akan  digunakan pria bernama Sugiarto tersebut untuk menarik penumpang di sekitaran Tayu.

Baca Juga: Alami Kenaikan, Hasil Bulan Dana PMI Tahun 2025 Capai Rp1,3 Miliar

“Seneng banget, Alhamdulillah, ” ujar Sugiarto, salah satu penerima bantuan becak listrik.

Ia mengaku sudah sekitar 15 tahun mengayuh becak konvensional. Dengan adanya bantuan becak listrik ini, dirinya berharap dengan becak barunya itu, akan lebih meringankan pekerjaannya.

Bantuan tersebut diserahkan secara langsung di Pendapa Pati. Bantuan becak listrik ini disalurkan melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nusantara (YGSN). Dalam hal ini, Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) berperan sebagai fasilitator dalam penyaluran becak listrik tersebut.

Deputi Bidang Percepatan Pemberdayaan Kapasitas dan Penyedian Akses BP Taskin, Novrizal Tahar mengungkapkan, bantuan becak ini dari kantong pribadi Presiden Prabowo. Bantuan ini khususnya diberikan kepada para pengayuh  becak lanjut usia yang tetap aktif bekerja.

“Becak listrik ini bantuan langsung dari Bapak Prabowo Subianto. Jadi memang ini adalah inisiatif dari beliau untuk para pengemudi becak. Terutama yang sudah berusia senior lansia,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, becak listrik ini didesain secara khusus. Tujuannya diharapkan supaya para pengemudi becak bisa energi lebih hemat saat bekerja.

“Seandainya bisa 2 jam bekerja becak listrik ini mungkin bekerja lebih panjang karena energinya lebih hemat. Sehingga diharapkan meningkatkan penghasilan dari para pengemudi becak tersebut,” tuturnya.

Ia menilai bantuan ini juga untuk mendorong pengentasan kemiskinan di seluruh Indonesia. Termasuk kemiskinan di Bumi Mina Tani ini.

“Upaya ini diharapkan untuk pengentasan kemiskinan. Ada target 2026 di akhir 2026 seluruh kemiskinan ekstrim itu 0 persen. BP Taskin bersama teman-teman dari Kabupaten Pati GSN terus bersama-sama untuk mendorong percepatan kemiskinan,” terangnya.

Sementara itu, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Usaha Yayasan Gerakan Solidaritas Nusantara (YGSN), Mayjen TNI (Purn) Firman Dahlan menjelaskan, program bantuan becak listrik dengan target penyaluran hingga tahun 2025 sebanyak 10.000 becak listrik. Kemudian rencananya berkelanjutan sampai dengan tahun 2026 kurang lebih sebanyak 20.000 becak  listrik.

“Gerakan Solidaritas Nasional pendiri Pak Prabowo telah merencanakan untuk mendukung becak listrik untuk usia lanjut. Tahap pertama ini disalurkan 2 ribu. Kemudian 2025 nanti akhir tahun diharapkan 10 ribu sudah bisa terdistribusi ke penerima manfaat. 2026 didukung menjadi 20 ribu secara keseluruhan. Di Pati sementara 60,” jelasnya.

Baca Juga: Lima Kursi ‘Panas’ Kepala OPD Pati Akhirnya Terisi

Sementara itu, Bupati Pati Sudewo mengucapkan terimakasih kepada Presiden Prabowo yang telah memberikan bantuan becak listrik kepada tukang becak di daerahnya. Menurutnya, bantuan ini bermanfaat bagi para penerima.

“Kami atas nama masyarakat Kabupaten Pati khususnya para penerima becak listrik ini mengucapkan terima kasih kepada bapak Presiden Prabowo Subianto yang ini sangat bermanfaat bagi warga kami. Terutama yang menerima. Kami mengucapkan terima kasih kepada BP Taskin, pak deputi yang berkenan hadir pokoknya kami terimakasih dan akan monitor pengunaan penekanannya,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

20 Gerai Kopdes Merah Putih di Jepara Mulai Dibangun 

0
Groundbreaking atau peletakan batu pertama Kopdes Merah Putih di Jepara. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Pembangunan gerai dan gudang Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Jepara saat ini mulai memasuki tahap pengerjaan. 

Sebelumnya pada Jumat, (17/10/2025) lalu pemerintah pusat melalui Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) RI melakukan groundbreaking atau peletakan batu pertama pembangunan 80.000 gerai dan gudang Koperasi Merah Putih di seluruh Indonesia.   

Baca Juga: Diduga Jadi Korban Penculikan dan Penyekapan, Makam Perempuan Asal Kerso Jepara Dibongkar 

Saat itu, di Kabupaten Jepara baru terdapat tujuh desa yang melakukan groundbreaking pembangunan gudang dan gerai Koperasi Merah Putih. 

Pembangunan itu dilakukan oleh Kemenkop UKM bekerjasama dengan PT Agrinas Pangan Nusantara (APN) dan TNI. Namun, setelah pelaksanaan groundbreaking, pembangunan gerai dan gudang Koperasi Merah Putih sempat berhenti.  

Kepala Dinas Koperasi, UKM, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (Diskopukmnakertrans) Kabupaten Jepara, Zamroni Lestiaza mengatakan dari pendataan yang dilakukan oleh Kodim 0719/Jepara sebenarnya sudah terdapat 53 desa yang sudah menyiapkan lahan untuk pembangunan gerai dan gudang Koperasi Merah Putih. 

Namun dari 53 desa, baru 20 desa yang siap untuk dilakukan tahap pembangunan. Dengan rincian, 11 desa sudah mulai proses pembangunan dan 9 sisanya sedang tahap persiapan. 

“Sehingga total ada 20 lokasi yang sudah siap dibangun (gerai dan gudang),” kata Zamroni pada Betanews.id, Kamis (13/11/2025). 

Zamroni melanjutkan, gerai dan gudang yang saat ini sedang dibangun memiliki luas 20×30 m2 dengan luas lahan 1.000 m2. Anggaran pembangunan gerai dan gudang tersebut bersumber dari PT Agrinas. 

“Anggarannya sekitar Rp600 juta itu untuk pembangunan gerai dan gudang saja,” sebutnya. 

Lahan yang digunakan untuk membangun gerai dan gudang menurut Zamroni, harus lahan yang berstatus milik desa atau pemerintah daerah. Sehingga menurutnya banyak desa yang kemudian terkendala pada proses penyiapan lahan. 

“Sesuai ketentuannya itu kan harus memakai tanah desa. Kadang desa punya tanah tapi luasnya kurang, ada yang lahannya luas tapi tempatnya tidak strategis, atau malah tanah bengkok,” ungkap Zamroni. 

Pembangunan gerai dan gudang Koperasi Merah Putih di tahap pertama menurut Zamroni ditarget selesai pada tanggal 31 Januari 2026. 

Selain menyiapkan bangunan fisik, pemerintah menurut Zamroni saat ini juga sedang mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) pengurus koperasi dengan menggelar pelatihan peningkatan kompetensi. 

“Karena begitu gerai dan gudang selesai dibangun, harapannya koperasi merah putih ini bisa bersinergi dengan SPPG program MBG,” katanya. 

Terpisah, Ketua Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Tubanan, Sutrisno mengatakan pembangunan gerai dan gudang Koperasi yang ia pimpin oleh PT Agrinas sudah berjalan sekitar dua minggu yang lalu. 

Baca Juga: Ratusan Pengurus Kopdes Merah Putih di Jepara Mulai Dibekali Peningkatan Kompetensi 

Dalam pembangunan gerai dan gudang, pihak pengurus koperasi menurutnya tidak mengeluarkan uang atau Rp0,-. Sebab seluruh pembiayaan untuk saat ini menurutnya ditanggung langsung oleh PT Agrinas. 

“Modal dari PT Arginas atas rokemedasi dari Danantara dengan keputusan intruksi presiden. Kami tinggal menunggu serah terima gedung baru, kemudian menjalankan usahan sesuai arahan pusat,” katanya saat dihubungi melalui pesan tertulis.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Dugaan Percobaan Penculikan Siswa SD di Kudus Belum Terbukti, Polisi Minta Warga Tak Panik

0
Polsek Kudus Kota menegaskan bahwa kabar dugaan percobaan penculikan terhadap siswa sekolah dasar yang sempat beredar luas di masyarakat belum dapat dipastikan kebenarannya. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Polsek Kudus Kota menegaskan bahwa kabar dugaan percobaan penculikan terhadap siswa sekolah dasar yang sempat beredar luas di masyarakat belum dapat dipastikan kebenarannya. Setelah dilakukan penelusuran dan pemeriksaan sejumlah saksi, hingga kini polisi belum menemukan bukti kuat yang menunjukkan adanya tindak pidana penculikan.

Kapolsek Kudus Kota AKP Subkhan menjelaskan, pihaknya langsung bergerak cepat setelah menerima laporan yang sempat membuat para orang tua resah.

Baca Juga: Museum Kretek Gelar Pameran “Utsava Kretek”, Angkat Kretek Sebagai Warisan Budaya Kudus

“Begitu kabar itu muncul, kami segera menindaklanjuti dengan mengonfirmasi pihak sekolah dan memeriksa rekaman CCTV di sekitar lokasi,” terangnya, Kamis (13/11/2025).

Dari hasil penyelidikan awal, peristiwa yang disebut sebagai percobaan penculikan tersebut masih sebatas asumsi dan belum dapat dikategorikan sebagai tindak kriminal.

“Belum ada bukti yang mengarah pada aksi penculikan. Meski demikian, kami tetap menanganinya dengan serius karena menyangkut keselamatan anak-anak,” tegasnya.

Untuk memastikan situasi tetap kondusif, Polsek Kudus Kota telah menurunkan anggota dan Bhabinkamtibmas ke sejumlah sekolah saat jam pulang. Langkah ini dilakukan untuk memberikan rasa aman bagi siswa dan orang tua.

“Personel kami berjaga di beberapa titik sekolah, baik dengan seragam maupun tanpa seragam. Tujuannya agar masyarakat merasa tenang dan anak-anak bisa pulang dengan aman,” lanjutnya.

Selain itu, kepolisian juga menggandeng pihak sekolah untuk memperketat prosedur penjemputan siswa. Orang tua diimbau agar selalu memastikan anak dijemput langsung oleh keluarga atau wali yang sah.

“Kami mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada kabar yang belum terverifikasi. Tetap waspada, tapi jangan panik,” pesan AKP Subkhan.

Polsek Kudus Kota memastikan akan terus menjaga keamanan lingkungan sekolah melalui patroli rutin dan langkah preventif.

Baca Juga: Pemkab Kudus Bakal Kaji Ulang Sewa Terminal Kargo Jati

“Keamanan anak-anak adalah tanggung jawab kita bersama. Polisi akan selalu hadir di tengah masyarakat untuk memberikan perlindungan,” pungkasnya.

Dengan gerak cepat aparat dan koordinasi bersama pihak sekolah, diharapkan keresahan warga dapat segera mereda. Kepolisian juga meminta masyarakat untuk tetap tenang dan bijak dalam menyikapi setiap informasi agar situasi di wilayah Kota Kudus tetap aman, tertib, dan kondusif.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

50 Driver Speedboat Bendung Logung Kudus Kantongi Sertifikat

0
Pengunjung sedang menaiki speedboat Bendungan Logung, Kudus. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Keselamatan pengunjung wisata air di Bendung Logung menjadi prioritas utama. Untuk itu driver speedboat diharuskan menguasai medan dan kecapakan dalam berkendara di atas air. 

Dalam rangka memfasilitasi driver speedboat di Bendung Logung, pemilik The Garank Fillandra Resto & Resort menggelar pelatihan keselamatan. Kegiatan itu menghadirkan KSOP Kelas I Tanjung Emas Semarang bersama UPP Juwana, Kamis (13/11/2025).

Baca Juga: Alami Kenaikan, Hasil Bulan Dana PMI Tahun 2025 Capai Rp1,3 Miliar

Tujuan adanya kegiatan tersebut untuk memastikan setiap armada wisata air di Bendung Logung beroperasi sesuai standar keselamatan pelayaran. Setidaknya ada sebanyak 50 pengemudi speedboat dinyatakan lolos uji kecakapan dan resmi mengantongi sertifikat Surat Keterangan Kecakapan (SKK) setelah mengikuti pelatihan keselamatan yang digelar.  

Kepala Bidang Status Hukum dan Sertifikasi Kapal KSOP Tanjung Emas Semarang, Dimyati menjelaskan, para pengemudi harus melalui tiga tahapan uji kompetensi untuk mendapatkan sertifikat SKK, yakni uji kecakapan mengemudi, olah gerak kapal, serta teknik manuver yang aman.

“Pembekalan ini sangat penting untuk meminimalisir potensi kecelakaan di air. Dengan memahami cara bermanuver dan menjaga keseimbangan kapal, keselamatan penumpang bisa lebih terjamin,” katanya.

Selain sertifikasi, KSOP juga menyerahkan 100 unit jaket pelampung dan sertifikat e-pass kecil sebagai bukti kelayakan operasional speedboat di kawasan wisata tersebut. Dimyati menegaskan, faktor keseimbangan kapal antara penumpang dan pengemudi menjadi kunci utama keselamatan.

“Yang perlu digarisbawahi ialah sinkronisasi antara penumpang dan driver. Jangan sampai beban tidak seimbang saat berlayar, karena itu bisa memicu insiden,” tegasnya.

Ia juga menyinggung insiden jatuhnya kapal di Bendung Logung beberapa waktu lalu sebagai pembelajaran untuk memperkuat kesadaran bersama akan pentingnya prosedur keselamatan.

“Kita tidak mencari siapa yang salah, tapi bagaimana memperbaiki pelayanan dan memastikan setiap kapal dikemudikan oleh pengemudi yang sudah tersertifikasi,” lanjutnya.

Sementara itu, owner The Garank Fillandra Resort, Sumirkan menyampaikan, pelatihan ini sekaligus bentuk tanggung jawab sosial pengelola wisata untuk melindungi wisatawan dan meningkatkan profesionalitas para pengemudi.

“Kami ingin wisata air di Logung benar-benar aman. Kecelakaan bisa saja terjadi, tapi bisa diminimalisir dengan pembekalan dan perlengkapan keselamatan yang memadai,” ungkapnya.

Sumirkan menambahkan, pihaknya juga memberikan pengarahan rutin kepada wisatawan sebelum menaiki speedboat. Misalnya, pengunjung diminta untuk tidak berdiri atau melakukan gerakan ekstrem selama pengemudi kapal bermanuver, serta memahami perbedaan karakter antara kendaraan darat dan air.

Baca Juga: Lima Kursi ‘Panas’ Kepala OPD Pati Akhirnya Terisi

“Keseimbangan di atas kapal berbeda dengan di darat. Karena itu, penumpang dan pengemudi harus saling memahami agar perjalanan wisata tetap aman dan menyenangkan,” ujarnya.

Wisata The Garank Fillandra Resort, lanjutnya, memiliki sebanyak 13 speedboat dan dua unit perahu. Dengan memberdayakan masyarakat setempat untuk menjadi pengemudi armada speedboat di sana. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Sebelum Meninggal, Perempuan Asal Kerso Jepara yang Mayatnya Dibongkar Ternyata Sempat Dijemput Paksa 

0
Makam seorang perempuan asal Desa Kerso, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara dibongkar oleh Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Jepara pada Kamis, (13/11/2025). Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Kasus meninggalnya seorang perempuan asal Desa Kerso, RT 5 RW 1, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara yang mayatnya dilakukan pembongkaran sampai saat ini masih didalami oleh pihak kepolisian. 

Ketua RT tempat kediaman korban, Tholib bercerita tepat dua minggu sebelum korban yang bernama Khoiriyah (44) dilaporkan meninggal, korban sempat dijemput paksa oleh lima orang yang mengendarai mobil brio.  

Baca Juga: Diduga Jadi Korban Penculikan dan Penyekapan, Makam Perempuan Asal Kerso Jepara Dibongkar 

Hanya saja, karena tidak ada laporan kepada pihak RT, Tholib mengaku tidak mengetahui secara pasti identitas lima orang yang menjemput paksa korban. 

“Sekitar 2 minggu yang lalu, korban dijemput 5 orang pakai Brio, tapi waktu itu tidak ada laporan ke RT, yang tahu dari saya, yang punya laporan itu yang jual teh di depan rumah korban,” beber Tholib saat ditemui di TPU Datuk Sikangrang, Desa Kerso, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Kamis (13/11/2025). 

Saat korban dijemput paksa, Tholib melanjutkan korban sebenarnya sempat menolak dan terjadi keributan di kediaman korban. Akan tetapi, saat itu tidak terdapat warga yang bisa membantu mencegah peristiwa penjemputan paksa tersebut. 

“Sempat (digagalkan) kata yang jual teh, sempat geger, tapi karena yang jual es teh perempuan, ngga berani, kata yang jual es teh yang jemput besar-besar. Terus akhirnya bu khoiriyah dibawa kemana tidak tahu,” lanjutnya. 

Tholib melanjutkan, setelah dijemput paksa, sekitar tiga hari sebelum korban dilaporkan meninggal pada tanggal 5 November 2025, korban juga sempat datang ke Kantor Balai Desa Kerso untuk menemui kepala desa. 

Saat itu, korban menurut Tholib diantar oleh seorang pria bertato dengan niat untuk meminjam uang kepada Kepala Desa Kerso. 

“Tiga hari sebelum meninggal, korban sempat ke balaidesa ketemu pak inggi dianter orang bertato. Namanya siapa kita tidak tahu, katanya mau pinjam uang sama pak inggi,” ungkapnya. 

Tidak berselang lama setelahnya, korban menurut Tholib kemudian menghubungi orang yang menyewa kios di depan kediaman rumahnya. 

“Korban katanya minta tolong, saya sudah tidak kuat, saya tidak makan dua hari,” katanya. 

Sementara itu, Suharto(58), adik ipar korban bercerita korban selama ini tinggal seorang diri di kediaman rumahnya yang berada di RT 5 RW 1 Desa Kerso. 

Ketiga anak korban, menurutnya tidak lagi tinggal bersama korban. Anak pertamanya saat ini menetap di Kota Semarang, anak keduanya di Kecamatan Bangsri, dan anak terakhirnya tinggal dengan Budhe yang merupakan kakak dari alhamarhum suami korban. 

Kemudian terkait pekerjaan korban yang sebelum dilaporkan meninggal, bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) di kediaman JR, Warga Desa Ngasem, Kecamatan Batealit, Suharto mengatakan pihak keluarga tidak mengetahui hal tersebut. 

Baca Juga: Ratusan Pengurus Kopdes Merah Putih di Jepara Mulai Dibekali Peningkatan Kompetensi 

Dari informasi yang Suharto terima dari pihak JR, korban bekerja disana karena untuk membayar hutang.

“Hutangnya ini terkait apa, keluarga tidak tahu. Karena korban tertutup dengan keluarga,” kata Suharto.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -