Arif yang sudah terbiasa membantu orang tuanya produksi batik sejak sekolah menengah pertama (SMP). Karena terbiasa, dia mulai mencintai dunia batik hingga saat ini.
“Saya memang sejak SMP sudah disuruh bantu orang tua, sehingga saya sudah terbiasa dan mulai suka dengan dunia batik. Keunggulan batik saya ini dari warnanya. Kalau motif pakem, sudah dari nenek moyang. Tapi ada juga modifikasi sesuai selera atau tren zaman,” katanya sambil menunjukan motif-motif di tempat produksinya.
Arif mengungkapkan, selain memproduksi batik cap dia juga memproduksi batik printing. Menurutnya, batik printing bukan termasuk batik, karena prosesnya hampir sama dengan sablon. Hanya motifnya saja yang menyerupai batik. Selain itu bahan pewarna yang digunakan juga berbeda.
Baca juga: Ini Tiga Tempat Kuliner Legendaris di Solo, Ada yang Langganan Jokowi
“Batik kan pakai lilin, kalau printing itu menurut saya bukan batik. Tapi saya juga memproduksi. Kalau yang cap saya ada ratusan motif. Penjualan sekitar Pulau Jawa, bahkan hingga Sumatra,” bebernya.
Ia juga menjelaskan enam tahapan untuk membuat batik cap. Pertama proses pemotongan kain, pengecapan menggunakan lilin, kemudian proses mencolet, proses batik, pemberian warna, baru direbus dan dikeringkan.
“Ini sudah ada bagiannya masing-masing. Jadi saya bisa produksi 100 hingga 200 potong perhari. Karyawan sekitar delapan orang dan mayoritas bukan orang Laweyan,” katanya.




