31 C
Kudus
Minggu, November 27, 2022
BerandaEXPLOREIni Tiga Tempat...

Ini Tiga Tempat Kuliner Legendaris di Solo, Ada yang Langganan Jokowi

BETANEWS.ID, SOLO – Berbicara soal kuliner, Kota Solo memang tak ada habisnya. Kota asal Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu mempunyai ragam kuliner yang memikat para wisatawan untuk kembali ke sana.

Satu di antara makanan khas yang tidak bisa dipisahkan dari kota ini adalah Selat Solo. Bahkan, bisa dibilang, kuliner ini dapat ditemui di setiap sudut Kota Solo. Mulai dari yang biasa hingga yang legendaris.

Kali ini Tim Beta Explore mencoba salah satu restoran yang legendaris, yakni Selat Solo Mbak Lies. Lokasi restoran ini, berada di Jalan Yudhistira Nomor 9 Serengan, Kecamatan Serengan, Solo. Restoran tersebut sudah berdiri sejak 1987.

Sulastri saat membungkuskan pesanan tengkleng pelanggan. Foto: Ahmad Rosyidi.
- Ads Banner -

Baca juga: Asap Indah, Sentra Ikan Asap Terbesar di Jateng, Omzet Sehari Rp 500 Juta

Wulandari Kusmadyaningrum, Pemilik Selat Mbak Lies sudi berbagi cerita tentang usaha yang sudah berdiri sejak 35 tahun yang lalu itu. Sejak lulus sekolah menengah pertama (SMP), dia mulai menjual makanan kesukaannya itu.

“Selat ini memang makanan kesukaan saya, sehingga saya tertarik untuk membuka usaha ini. Saya sengaja racik di depan, agar pembeli tahu, kalau selat di sini fresh terus,” terangnya.

Ia juga membeberkan, bahwa banyak kalangan artis yang datang ke sana. Sejak tahun 1996 sudah ada Almarhum Dono Warkop dan beberapa tahun kemudian ada juga Indro Warkop.

“Kalau Pak Jokowi sebelum jadi Presiden sering ke sini. Biasanya siang hari waktu orang pada jajan. Setiap hari Selasa beliau juga minta dikirim Selat Bestik ke Loji Gandrung untuk para stafnya. Terus Mas Gibran, Pak Rudi juga ke sini. Dan kemarin Wisnutama,” bebernya.

Selat Mbak Lies biasanya ramai dikunjungi tamu dari luar kota saat akhir pekan dan hari libur. Pada hari-hari biasa juga tak kalah ramai.

Baca juga: Beginilah Proses Pembuatan Garam Beryodium di Pabrik Talenta Raya Pati

Setelah menikmati Selat Mbak Lies, Tim Beta Explore kemudian menuju Jalan Kapten Mulyadi, No 76 Kreteg Hantung Ketandan. Di tepi jalan tersebut tampak sebuah tenda pedagang kaki lima menjual Tahok, yang merupakan makanan legendaris dari bahan kedelai.

Rohmadi (28), generasi ketiga yang menjual Tahok di sana berbagi cerita, bahwa dia mulai berjualan sejak tahun 2021 lalu. Katanya, Tahok sudah mulai dijual kakeknya sekitar 60 tahun yang lalu.

“Kalau sejak Mbah Kakung sekitar 60 tahun lalu. Mbah meninggal ganti bapak, bapak sakit baru saya,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan, Tahok berbahan dasar kedelai yang dihaluskan hingga lebih halus dari tahu. Kemudian ditambah kuah jahe manis.

Untuk prosesnya, kedelai direndam sekitar satu jam, kemudian dibersihkan dahulu hingga bersih dan dua kali ditumbuk menggunakan batu besar. Tumbukan pertama masih kasar, kedua hingga lembut, kemudian diperas dan diambil sarinya.

Tahok, kuliner legendaris khas Solo. Foto: Ahmad Rosyidi.

“Agar padat, ini rahasia. Sedangkan untuk kuah menggunakan bahan rempah, seperti jahe, daun sereh, pandan, daun jeruk sedikit, garam dan pewarnanya gula aren,” beber Rohmadi.

Ia mulai memproduksi pukul 00.00 hingga pukul 04.WIB. Kemudian mulai berjualan pukul 05.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB. Setiap hari, Rohmadi bisa menjual sekitar 80 porsi.

Setelah puas makan Tahok, Tim Beta Explore kemudian menuju Pasar Klewer. Di sana juga ada kuliner legendaris, yakni Tenkleng Bu Edi. Sesampainya di lokasi, warung makan legendaris itu sudah penuh pengunjung. Butuh menunggu beberapa waktu untuk mendapat tempat duduk.

Sulastri (44) generasi ketiga penjual tengkleng itu membagikan cerita, bahwa neneknya sudah menjual tengkleng sejak tahun 1940 an. Kemudian di tahun 1971 dilanjutkan oleh ibunya.

Baca juga: Serunya Festival Layang-Layang di Jepara, Diikut Peserta dari Berbagai Negara

“Awalnya nenek melihat bagian tulang kambing yang tidak dipakai, kemudian dimasak saja. Ternyata banyak peminatnya, sehingga jualan sampai sekarang. Dulu jualan keliling, kemudian ibu saya mulai tahun 1971 di bawah gapura Pasar Klewer. Kalau saya tahun 1996 sudah mulai bantu ibu dulu,” kata Tri, sapaan akrabnya.

Ia juga menjelasakan, bumbu Tengkleng Bu Edi tidak menggunakan santen. Bahan bakunya dari tulangan dan kepala kambing. Menurutnya, untuk mendapat bahan bagian kepala cukup susah, sehingga Tri membeli bahan baku dari luar Solo juga.

Tengkleng Bu Edi buka mulai pukul 12.00 WIB dan tutup sekitar pukul 15.00 WIB. Tri juga mengaku sering menerima pesanan. Jika ada pesanan harus dikirim pagi, dia biasanya mulai masak pukul 02.00 WIB.

“Tadi ada pesanan 15 kuali, jadi saya masak jam 2. Kalau yang dijual ini sekitar empat hingga lima panci per hari. Biasanya jam 3 sora sudah habis. Untuk harga satu porsi Rp 50 ribu. Kalau tambah sum-sum jadi Rp 75 ribu. Biasanya juga ada yang bungkus Rp 200 hingga 300 ribu,” terangnya.

Editor: Kholistiono

LIPSUS 15 - Ketoprak Pati Pantang Mati

LIPUTAN KHUSUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

33,301FansSuka
15,628PengikutMengikuti
4,335PengikutMengikuti
97,028PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler