Generasi Pengusaha Batik Laweyan Solo Kian Tergerus Zaman (2)

0
Explore KU Jurnalis Beta News Khalim Mahfur sedang mencoba membatik kain menggunakan cap, di Kampung Laweyan, Kota Solo. Foto: Kaerul Umam

Dua orang pria paruh baya tampak sangat piawai mengecap kain berwarna putih menggunakan malam, di Kelurahan Laweyan, Kota Solo. Di tangan mereka kain putih tersebut disulap menjadi kain batik yang disebut batik cap. Mereka adalah karyawan di Batik Grestenan, yang masih bertahan menjaga eksistensi Kampung Laweyan sebagai sentra industri batik.

Arif Wicaksono (32), owner Batik Grestenan sudi berbagi cerita kepada Tim Beta Explore tentang usahanya itu. Dia menjelaskan, pengusaha batik di Laweyan kini semakin sedikit karena tergerus zaman. Pada tahun 2009, jumlah pengusaha batik di Kampung Laweyan ada sekitar 30 orang. Namun kini hanya tersisa sekitar tujuh orang saja.

“Saya meneruskan usaha batik ini sejak 2009. Dulu ada sekitar 30 produsen (di Kampung Laweyan), tapi sekarang paling tinggal tujuh,” terang Arif saat ditemui di tempatnya memproduksi kain batik.

Baca juga: Sejarah Laweyan Solo, Kampung Batik Tertua di Indonesia (1)

Menurutnya, hal itu disebabkan minimnya minat generasi muda dalam membatik. Pemuda yang memiliki pendidikan tinggi biasanya memilih bekerja di kantor dan meninggalkan usaha batik keluarganya.

- advertisement -

“Kalau angkatan saya sudah hampir tidak ada. Menurut saya, karena orang tua yang sukses kemudian menyekolahkan anaknya hingga pendidikan tinggi dan mereka memilih kerja kantoran,” uangkap generasi ke lima Batik Grestenan itu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini