“Saat SMA saya orang yang introvert, sempat berhenti menulis karena omongan teman-teman. Di perpustakaan itulah saya mendapat semangat dan kembali menulis,” ungkapnya saat ditemui di Kebun Pecuk Pecukilan, Desa Bae, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.
Ia berpesan kepada generasi muda untuk terus berkarya. Karena saat ini, semua orang memiliki kesempatan yang sama. Prayit meyakini, bahwa setiap zaman pasti akan lahir generasi penerus.
“Berbeda dengan zaman saya dulu, karena media terbatas, mau belajar tapi tidak tahu caranya. Sekarang kan berbeda, dari gadget kita bisa belajar. Jadi semua memiliki kesempatan yang sama. Manfaatkan gadget sebaik mungkin, terus membaca dan belajar,” pesannya.
Perlu diketahui, Prayitno merupakan Jurnalis senior yang mengawali karirnya di Harian Masa Kini, Yogyakarta, pada tahun 1988. Kemudian Harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, tahun 1988 – 1989. Dan berlanjut Harian Suara Merdeka, Semarang, tahun 1989 hingga sekarang.
Parayit juga menulis tiga antologi puisi, di antaranya Masih Ada Menara dan Menara 3 yang diterbitkan oleh Keluarga Penulis Kudus. Dan antologi puisi bertema Kudus(an) “Bermula dari Al Quds” diterbitkan oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Kudus.
Tak hanya antalogi puisi, Prayit juga menulis kolom berbahasa Jawa dialek Kudus(an) di Harian Suara Merdeka dari 2008 – 2019.
Secara informal, Prayit juga ikut berperan aktif dalam mendesain atau mengkreasi destinasi wisata, menjadi pendampingan untuk pelaku wisata, menulis naskah skrip shooting promosi wisata dan menulis naskah promosi wisata untuk siaran langsung di radio.
Baca juga: Mengenal Forum Kalen, Komunitas Kaum Intelektual di Kudus
Dirinya juga menulis naskah pementasan sendratari atau drama tari dan performance of arts. Ikut aksi Kretek Dalam Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI di Padang Panjang tahun 2009. Mengisi pembacaan berita dengan dialek Kudus(an) dalam rangka bulan bahasa oleh RRI Semarang tahun 2019.
Tak hanya itu, Prayit juga ikut menjadi peserta panggung aksi dalam kongres perubahan iklim dunia di Nusa Dua, Bali, tahun 2010. Menjadi anggota Marem (LSM untuk lingkungan hidup) tahun 2007 hingga 2012. Suporting program Konsorsium Muria Hijau (LSM penghijuan Gunung Muria) tahun 2004. Anggota Keluarga Penulis Kudus (KPK) dan anggota Forum Kalen (komunitas study sosial dan budaya) tahun 2014 hingga sekarang.
Editor : Kholistiono




