Djoko juga mengungkapkan tentang gagasannya tentang penyelamatan kawasan Muria. Seperti yang disampaikan Prayitno sebelumnya, Djoko tidak hanya bercerita tentang perjalanan hidupnya dalam buku Lemari Hati, tapi keinginan-keinginannya terhadap penyelamatan ekologi.
“Saya berandai-andai Jawa akan menjadi nihil karena beban 200 juta orang yang menghuni dan harus dihidupi. Maka kawasan mana yang bisa kita selamatkan, ya kawasan yang kita pertahankan ekosistemnya. Kalau kita perbaiki, maka kawasan itu akan berharga,” tuturnya.
Kawasan yang disebut Djoko tersebut, yakni kawasan aglomerasi tiga kota; Pati, Jepara dan Kudus. Kawasan ini dulu Djoko menyebut sebagai revolusi paraku dalam perlawanan terhadap PLTN sejak 2003.
“Sejak 2003 hingga 2016 melawan kekuatan besar yang memiliki syahwat energi berujung kemenangan. RTRW telah ditetapkan, kawasan Muria bebas dari PLTN fisi. Tapi kemenangan ini masih sementara, hingga nanti 2030,” katanya.
Usai Djoko memaparkan gagasannya terkait penyelamatan lingkungan, sejumlah sahabatnya yang juga hadir dalam diskusi menyampaikan tanggapan dan gagasan. Mereka di antaranya Abdul Chamim (Founder Gentong Miring), Fauzan Hidayatullah (Dosen UIN Walisongo), DR Rosyid (Tali Akrap Kudus) dan Hasan Aoni Aziz (Pendiri ODM), .
Setelah itu, acara kemudian ditutup dengan sejumlah lagu yang dinyanyikan Tsaqiva, grup musik Angin malam dan grup Keroncong Cap Petroek. (Suwoko)





