“Perkenalkan saya Edy. Tadi saya pangling sendiri dipacaki semacam ini. Lho iki sapa?” ucap Edy yang kemudian disambut tawa para undangan yang hadir.

Edy mengaku terhormat karena diminta Djoko Herryanto untuk memberi pengantar diskusi. Dia kemudian membacakan sekapur sirih dalam buku Lemari Hati yang juga ia tulis, sebagai pembuka bedah buku.

Buku tersebut adalah pengalaman hidup Djoko dengan Rebeca, yang mengikat janji suci 35 silam. Pasangan ini selalu mencoba memahat kisah, baik kisah tentang sesuatu yang menggemberikan, mengecewakan, kegelisahan, atau ketenangan.

Kisah-kisah itu tidak hanya menjadi susunan kata yang indah, namun juga penuh makna. Bagi keduanya, puisi adalah alat komunikasi, penyaluran dialektika batin dan media untuk mendapatkan energi.

Usai Edy membacakan sekapur sirih buku Lemari Hati, Tsaqiva kemudian mengundang dua orang yang akan membedah buku untuk duduk di depan. Fajar Kartika menjadi orang pertama yang mengawali ulasannya.

- advertisement -
Fajar Kartika. Foto: Rabu Sipan

Fajar mengatakan, buku puisi berbeda dengan buku-buku yang lain, terutama buku ilmiah. Karya ilmiah tidak boleh menggunakan kode-kode, karena harus memiliki satu tafsir. Berbeda dengan buku puisi sebagai karya sastra, yang banyak menggunakan kode untuk menyampaikan pesan.

“Dengan membaca buku puisi ini, sebenarnya kita sedang melakukan proses decoding, atau membuka kotak pandora bahasa. Terkadang pula penulis menyembunyikan makna di balik kuncian-kuncian bahasa,” tutur Fajar.

Ketika membaca buku Lemari Hati, ungkap Fajar, terlintas dalam dirinya nama Ferdinand de Saussure, Roland Barthes, dan Michael Foucault. Dia menjelaskan, Ferdinand yang juga dikenal sebagai bapak semiotika pernah mengatakan, pemegang kuasa makna dalam karya sastra adalah penutur atau penulis puisi.

“Berbeda dengan Ferdinand, Roland yang juga melakukan kajian semiotika berpendapat, pemegang kuasa makna adalah pembaca. Roland pernah mengatakan quote yang sangat dikenal, pengarang telah mati. Itu artinya, setelah buku ditulis, pengarang tidak kuasa untuk mengendalikan makna,” jelasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini