Beranda blog Halaman 8

Polisi Dinilai Lamban, Belum Tetapkan Tersangka Kasus Dugaan Pencabulan di Ponpes Jepara

0

BETANEWS.ID, JEPARA — Kepolisian Resor (Polres) Jepara hingga saat ini belum menetapkan tersangka dalam kasus dugaan pencabulan yang dilakukan oleh AJ, pimpinan salah satu pondok pesantren (ponpes) di Kabupaten Jepara terhadap santrinya.

Kuasa hukum korban, Erlinawati, mengatakan informasi terakhir yang ia terima dari penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Jepara, kasus tersebut masih menunggu gelar perkara untuk penetapan tersangka.

Erlinawati menilai penanganan kasus berjalan lambat. Pasalnya, laporan telah disampaikan ke Unit IV Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Jepara sejak November 2025.

Kasus tersebut kemudian naik ke tahap penyidikan pada 23 Februari 2026.

“Tahapan penyidikan kasus masih berjalan, tetapi lambat. Pihak keluarga juga terus menunggu dan menanyakan sejauh mana perkembangan penanganan kasus ini,” ujar Erlinawati saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (5/5/2026).

Ia pun mendesak Satreskrim Polres Jepara agar segera menetapkan tersangka. Menurutnya, jika hanya tinggal menunggu gelar perkara, maka seluruh tahapan penyidikan seharusnya telah rampung, termasuk pemeriksaan saksi dari pihak ponpes yang sebelumnya belum dilakukan.

Erlinawati menyatakan, dalam tiga hari ke depan, apabila belum ada penetapan tersangka, pihaknya akan melayangkan laporan ke Divisi Profesi dan Pengamanan (Divpropam) Polri terkait lambannya penanganan kasus tersebut.

Baca juga : Soal Kasus Dugaan Pencabulan oleh Oknum Pimpinan Ponpes di Jepara, Polisi Masih Tunggu Hasil Pemeriksaan Barang Bukti

“Saya berharap kasus ini segera ada perkembangan. Kami mendesak agar penetapan tersangka segera dilakukan,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Satreskrim Polres Jepara, AKP M. Faizal Wildan Umar Rela, mengatakan pihaknya berencana menggelar perkara pada Rabu (6/5/2026) pagi.

“Tinggal menunggu gelar perkara, rencananya besok pagi,” ujar Wildan.

Ia menambahkan, sejumlah barang bukti yang sebelumnya masih dalam proses pemeriksaan, termasuk hasil digital forensik dari Laboratorium Forensik Polda Jawa Tengah terhadap ponsel milik korban, kini telah diterima.

“Hasil digital forensik dari Polda sudah ada. Namun, ponselnya telah diatur ulang (reset), sehingga tidak ditemukan dokumen di dalamnya,” ungkapnya.

Sebagai informasi, peristiwa tersebut pertama kali terjadi pada 27 April 2025 di salah satu ruangan di lingkungan ponpes. Dugaan tindakan pencabulan itu disebut berlangsung berulang hingga 24 Juli 2025.

Kasus ini terungkap setelah adik korban secara tidak sengaja melihat isi percakapan di ponsel korban dengan terduga pelaku, kemudian melaporkannya kepada keluarga.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Empat Pelajar Diperiksa Polisi, Tawuran Tiga SMK di Kudus Dipicu Provokasi di Medsos

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Aksi tawuran antarpelajar yang melibatkan tiga sekolah menengah kejuruan (SMK) di Kudus berhasil dilerai oleh aparat kepolisian. Peristiwa tersebut diduga dipicu oleh provokasi di media sosial yang berujung aksi saling serang antarsiswa yang masih mengenakan seragam sekolah.

Kapolres Kudus, AKBP Heru Dwi Purnomo, menjelaskan, bahwa aksi tawuran melibatkan siswa dari SMK 2 Ma’arif, SMK Nusantara, dan SMKN 2 Kudus. Sekelompok pelajar dari SMK 2 Ma’arif dan SMK Nusantara mendatangi SMKN 2 Kudus.

“Kejadian diawali dari provokasi di media sosial, kemudian terjadi aksi spontan, yaitu siswa dari SMK Ma’arif dan SMK Nusantara mendatangi SMK 2 Kudus,” katanya.

Beruntung, kejadian tersebut tidak berlangsung lama. Aparat Polsek yang dibantu warga sekitar berhasil membubarkan keributan sebelum aksi tawuran semakin meluas.

“Alhamdulillah, berkat kesigapan personel dan bantuan masyarakat, tawuran bisa segera dilerai dan tidak berkembang lebih jauh,” lanjutnya.

Dari hasil penanganan awal, polisi telah meminta keterangan empat siswa yang diduga terlibat. Selain itu, dua unit sepeda motor juga diamankan karena mengalami kerusakan ringan akibat kejadian tersebut.

Baca juga : Diduga Tawuran Pelajar Berseragam Terjadi di Kudus, Saling Kejar hingga Saling Pukul

“Ada kerusakan pada bagian kendaraan, dan satu korban mengalami luka lecet. Saat ini sudah mendapatkan perawatan di RSUD dr Loekmono Hadi,” jelasnya.

Untuk mencegah kejadian serupa, pihak kepolisian langsung menggelar rapat koordinasi bersama berbagai pihak, mulai dari sekolah terkait, perwakilan cabang dinas pendidikan wilayah, hingga unsur TNI dan pemerintah kecamatan.

“Hasilnya, semua pihak sepakat menjaga kondusivitas dan mencegah tawuran pelajar terulang kembali,” tegasnya.

Saat ini, polisi masih melakukan penyisiran dan pendalaman guna memastikan tidak ada potensi lanjutan dari konflik tersebut. Situasi di Kudus pun dipastikan dalam kondisi aman dan terkendali.

Kapolres juga mengimbau kepada masyarakat, khususnya orang tua, agar lebih mengawasi anak-anak mereka, terutama menjelang momen kelulusan sekolah.

“Kami minta para wali murid untuk mengarahkan anak-anaknya menunggu pengumuman kelulusan di rumah bersama keluarga, tidak melakukan kegiatan yang berpotensi mengganggu ketertiban,” imbuhnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Peringati Hardiknas, Pemkab Jepara Klaim Salurkan Anggaran Rp 26,7 Miliar di Bidang Pendidikan

0

BETANEWS.ID, JEPARA – Momen upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Kabupaten Jepara baru digelar di Halaman SMAN 1 Jepara pada Senin (4/5/2026).

Kegiatan tersebut dilaksanakan berbarengan dengan peringatan Hari Otonomi Daerah yang diperingati setiap tanggal 25 April.

Bupati Jepara, Witiarso Utomo, mengatakan dua momen itu dilakukan bersama karena saling memiliki keterkaitan. Otonomi daerah, menurutnya, memberi ruang bagi daerah untuk berkembang, sementara pendidikan menjadi kunci utama dalam memanfaatkan peluang tersebut.

“Hari ini kita memperingati dua momentum sekaligus, Peringatan Hardiknas ke-67 dan Hari Otonomi Daerah ke-30. Ada benang merah yang sangat kuat di antara keduanya, yakni daerah diberi ruang untuk maju dan pendidikan adalah kunci utama untuk memanfaatkan ruang tersebut,” katanya usai pelaksanaan upacara.

Wiwit menyebutkan, di bidang pendidikan pihaknya menyediakan alokasi anggaran senilai Rp26,7 miliar.

Anggaran tersebut terbagi, yakni Rp1,7 miliar untuk pelaksanaan Program Kartu Sarjana Jepara pada tahun 2025 yang menyasar 2.398 siswa.

Kemudian, sisanya sebesar Rp25 miliar dialokasikan untuk Program Kartu Guru Sejahtera yang menyasar 17 ribu guru pada tahun ini.

Dukungan kepada guru tersebut diberikan karena, menurutnya, kualitas pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kualitas dan kesejahteraan guru.

“Kita semua sepakat, pendidikan yang baik tidak mungkin terwujud tanpa guru yang berkualitas dan sejahtera,” ujarnya.

Selain itu, penguatan sarana dan prasarana pendidikan juga terus dilakukan. Sepanjang tahun 2025, sebanyak 103 sekolah dari jenjang PAUD hingga SMP, baik negeri maupun swasta, telah direvitalisasi.

Pihaknya juga mendorong transformasi digital di dunia pendidikan. Lebih dari seribu perangkat pembelajaran digital telah didistribusikan, dan pada tahun ini akan ditambah lebih dari 3 ribu unit guna memperluas akses teknologi di sekolah.

Di sisi peningkatan kualitas tenaga pendidik, sebanyak 2.343 guru telah difasilitasi untuk mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG). Langkah tersebut diambil untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru di Kabupaten Jepara.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Keberangkatan Enam Calon Jemaah Haji Asal Jepara Tertunda, Ini Alasannya

0

BETANEWS.ID, JEPARA — Sebanyak enam calon jemaah haji asal Kabupaten Jepara menunda keberangkatannya ke Tanah Suci pada tahun ini.

Kepala Subbagian Tata Usaha pada Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Jepara, Zubed Siamun J, menyebutkan bahwa awalnya jumlah calon jemaah haji Jepara yang telah melunasi biaya haji dan dinyatakan istitha’ah sebanyak 1.547 orang.

Pada masa persiapan menjelang keberangkatan, terdapat lima calon jemaah yang dipastikan menunda keberangkatan, dengan rincian satu orang meninggal dunia, dua orang sakit, dan dua lainnya merupakan pendamping jemaah.

“Kemarin menjelang pemberangkatan kloter (kelompok terbang) pertama, ada satu calon jemaah lagi yang mengundurkan diri. Sehingga total yang menunda keberangkatan ada enam orang,” ujar Zubed saat ditemui usai pelepasan kloter 40 dari Pendopo Jepara ke Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Senin (4/5/2026).

Satu calon jemaah yang menunda keberangkatan tersebut masuk dalam kloter 37. Ia menunda keberangkatan karena sakit sehingga dinyatakan tidak istitha’ah. Surat keterangan tersebut terbit pada Jumat (1/5/2026).

“Jadi total calon jemaah haji Jepara yang berangkat tahun ini ada 1.541 orang,” tambahnya.

Jumlah tersebut terdiri atas 854 jemaah perempuan dan 687 jemaah laki-laki yang terbagi ke dalam lima kloter.

Kloter 36 terdiri dari 163 calon jemaah haji reguler dan satu Petugas Haji Daerah (PHD) yang bergabung dengan Kabupaten Demak.

Kemudian kloter 37 terdiri dari 353 calon jemaah haji reguler dan dua PHD, serta kloter 38 terdiri dari 351 calon jemaah haji reguler dan dua PHD.

Tiga kloter tersebut diberangkatkan dari Pendopo Jepara ke asrama haji pada Minggu (3/5/2026). Sementara dua kloter sisanya diberangkatkan pada Senin (4/5/2026).

Dua kloter tersebut yakni kloter 39 yang terdiri dari 353 calon jemaah haji reguler dan dua PHD, serta kloter 40 yang terdiri dari 313 calon jemaah haji reguler dan satu PHD yang digabung dengan Kabupaten Kudus.

Pada tahun ini, jumlah calon jemaah haji lansia berusia 65–79 tahun sebanyak 296 orang, sedangkan prioritas lansia berusia 80 tahun ke atas sebanyak 51 orang.

“Banyaknya calon jemaah haji lansia tentu menjadi prioritas bagi kami sebagai penyelenggara untuk selalu memastikan keamanan, kenyamanan, dan kelancaran saat beribadah,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Kisah Effy Rintis Brand Lokal Pakaian Anak Asal Jepara: Langkahnya Tak Ciut, Meski Sempat Dipandang Sebelah Mata

0

BETANEWS.ID, JEPARA – Bagi Effy Retno Indarwati (37), pemilik Kenes Lalita, brand lokal pakaian anak asal Kabupaten Jepara, dipandang sebelah mata oleh masyarakat di daerahnya sendiri saat mulai merintis usaha justru menjadi penyemangat untuk berinovasi.

Langkah ibu muda asal Desa Srobyong, Kecamatan Mlonggo itu tak ciut. Effy percaya stigma “brand lokal” yang kurang diminati oleh masyarakat bisa dipatahkan.

Hasil survei dari Jakpat pada 24–25 Juli 2025 terhadap 321 responden dari berbagai kalangan menyebutkan ada sejumlah alasan yang membuat masyarakat kurang berminat membeli atau menggunakan produk dari brand lokal.

Sebanyak 38 persen responden menjawab ragu terhadap kualitas, 21 persen karena klaim berlebihan dari penjual, 19 persen karena harga, 18 persen karena produk sulit dijangkau, 17 persen karena tingginya plagiarisme atau barang tiruan, serta 15 persen karena desain yang kurang menarik dan anggapan bahwa barang dari luar negeri lebih kredibel.

Namun, masyarakat Indonesia sebenarnya masih memiliki ketertarikan untuk membeli produk brand lokal. Lebih dari 70 persen responden menjawab alasan mereka membeli produk lokal karena harganya lebih murah.

Hasil survei tersebut menunjukkan fenomena brand lokal yang kurang diminati masyarakat menjadi salah satu tantangan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia.

Awal Merintis

Ditemui di tokonya yang berada di Jalan Dr. Sutomo, Kelurahan Kauman, Kecamatan Jepara, Effy bercerita Kenes Lalita tidak dirintis secara instan. Dulunya, ia merupakan karyawan di salah satu perusahaan swasta ternama di Kabupaten Jepara selama 13 tahun. Namun, pada tahun 2023 kontrak kerjanya tidak diperpanjang sehingga ia mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).

Saat masih menjadi karyawan, Effy sempat mengikuti les privat menjahit selama satu tahun, kemudian memberanikan diri membuka usaha pakaian wanita. Usaha itu berjalan mulai tahun 2014 dan berhenti pada tahun 2020 setelah ia melahirkan putrinya, Kenes Lalita Benedieta.

“Saat putriku berusia dua tahun, ada perasaan kosong, seperti ada skill yang aku pendam, pengen dikeluarkan. Akhirnya 2023, setelah tidak bekerja aku merintis Kenes, karena fashion is my passion,” tuturnya Senin (4/5/2026).

Kenes sebagai nama brand produknya terinspirasi dari nama putrinya yang berasal dari bahasa Sanskerta. Nama itu bermakna gadis kecil yang cantik, pintar, dan menggemaskan. Arti tersebut menjadi dasar bagi Effy dalam menciptakan berbagai desain pakaian anak yang ia produksi.

Berbagai jenis pakaian anak dijual, mulai dari pakaian kasual sehari-hari, pakaian formal untuk seragam sekolah, hingga edisi khusus Lebaran untuk usia 0 hingga 12 tahun, dengan harga Rp50 ribu hingga Rp200 ribu per potong.

Dalam proses produksi, Effy dibantu lima penjahit rumahan yang ia berdayakan serta satu karyawan untuk menjaga toko dan mengelola konten media sosial.

“Misi Kenes sejak awal adalah bisa bermanfaat untuk banyak orang di sekitar kita. Sedangkan untuk produknya, saya ingin anak-anak tidak sekadar mengenakan pakaian, tetapi bisa tampil sesuai usianya,” ujar Effy.

Dalam memilih bahan dan motif kain, Effy mengutamakan kualitas. Sejak awal ia juga telah memiliki standar desain dan warna pakaian yang akan diproduksi.

Dipandang Sebelah Mata

Sebagai brand baru, Effy mengaku salah satu kendala yang ia alami saat awal merintis adalah dipandang sebelah mata karena produknya merupakan brand lokal. Harga pakaian anak yang dijualnya dinilai terlalu mahal untuk ukuran brand lokal.

“Kalau saya jualnya banting harga, mereka (pembeli lokal) mau beli. Tapi kalau harga biasa, dengan harga yang sama, mereka bilang bisa mendapat pakaian serupa dari brand yang lebih terkenal,” ungkap Effy.

Keresahan itu akhirnya mendapat solusi saat Effy menjadi salah satu peserta BRIncubator, program pendampingan intensif dari Bank BRI bagi pelaku UMKM.

Effy dua kali mengikuti program tersebut. Pertama pada Oktober–November 2023 yang diselenggarakan oleh Rumah BUMN BRI Jepara. Pada tahun berikutnya, ia lolos kurasi dan menjadi peserta BRIncubator Nasional yang diadakan pada November–Desember 2024 secara daring.

“Saat di BRIncubator Nasional itu, saya curhat sama mentor saya, kalau di Jepara brand saya dipandang sebelah mata, kurang dilirik, justru yang melirik dari luar kota. Dari situ saya diajari untuk berinovasi, brand saya ini mau saya apakan, arahnya mau ke mana, planning ke depan bagaimana,” beber Effy.

Effy kemudian berinovasi dengan memadukan pakaian anak menggunakan kain wastra atau kain tradisional seperti batik dan tenun. Hingga akhirnya ia lolos kurasi dan mengikuti pameran BRI UMKM EXPO(RT) pada 30 Januari–2 Februari 2025 di ICE BSD City, Tangerang.

Setelah mengikuti pameran tersebut, pangsa pasarnya meluas hingga Jakarta dan Bandung. Effy juga sempat mengikuti pameran fashion show yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Jepara.

“Setelah mengikuti beberapa pameran itu, orang baru ngeh, oh ada brand lokal, Kenes. Jadi ketika kamu dipandang sebelah mata, tunjukkan dengan karya, dengan prestasi,” tutur Effy.

Sempat Ingin Menyerah

Tidak hanya dipandang sebelah mata, keterjangkauan produk untuk memperluas pasar juga menjadi kendala. Selama hampir empat tahun merintis Kenes Lalita, Effy mengaku pernah ingin menyerah dan menutup usahanya.

Hal itu dilatarbelakangi tingginya biaya operasional yang belum bisa tertutup dari hasil penjualan. Sebagai brand baru, pesanan yang masuk setiap bulan belum mampu memenuhi target. Namun, keinginan itu ia tepis karena yakin usahanya masih bisa berkembang.

“Sempat kepikiran untuk tutup, dengan keadaan ekonomi sekarang, berat di operasional. Tapi saya punya keyakinan bahwa suatu saat Kenes bakal ada titik terangnya. Saya sudah jalan sejauh ini, jadi kenapa harus saya tutup?” ujar Effy.

Dukungan pembeli menjadi salah satu penyemangat bagi Effy untuk terus bangkit dan berinovasi. Meskipun sempat dipandang sebelah mata, Kenes kini telah memiliki pelanggan loyal.

Salah satunya Marina (49), warga asal Jakarta yang telah lama menetap di Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara. Ia mengaku senang dengan adanya brand lokal yang menyediakan kebutuhan pakaian anak, terutama untuk seragam sekolah.

“Kalau saya bukan tipe yang lihat merek, tapi kualitas. Yang paling penting anak saya nyaman, tetap bisa tampil cantik dan stylish. Selama harganya sesuai, bagi saya tidak masalah. Di Kenes harganya juga masih terjangkau,” kata Marina saat ditemui di Toko Kenes Lalita.

Fenomena Foreignness

Akademisi dari Universitas Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara, Mohamad Rifqy Roosdhani, mengatakan dalam teori marketing fenomena tersebut disebut foreignness atau keasingan. Ia menjelaskan, masyarakat Indonesia masih terpaku pada stigma yang menganggap brand luar negeri lebih unggul.

Dalam konteks lokal, masyarakat cenderung lebih bangga menggunakan brand dari luar daerah dibandingkan dari daerahnya sendiri.

“Fenomena itu memang menjadi pembahasan di ilmu marketing, bahwa orang Indonesia cenderung foreignness, sehingga lebih membanggakan brand dari luar,” jelas Rifqy melalui sambungan telepon.

Menurutnya, fenomena tersebut masih menjadi tantangan besar bagi pelaku UMKM. Namun, di era teknologi saat ini, tantangan itu bisa diubah menjadi peluang melalui promosi di media sosial.

Pelaku UMKM juga dituntut untuk adaptif dengan meningkatkan kualitas produk, kemasan, serta pelayanan kepada pelanggan.

“Customer sekarang didominasi Gen Z yang tidak terlalu mementingkan brand. Ini bisa jadi peluang, diarahkan ke influencer Gen Z agar membantu produk lokal menjadi lebih dikenal dan dibanggakan di daerahnya,” ujar Rifqy.

Peran pemerintah daerah juga dinilai penting agar brand lokal tidak lagi dipandang sebelah mata, salah satunya melalui dukungan kegiatan pameran serta promosi yang menegaskan bahwa produk lokal juga berkualitas.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

1.541 Calon Jemaah Haji Jepara Resmi Diberangkatkan, Wiwit Titip Doa Khusus

0

BETANEWS.ID, JEPARA – Sebanyak 1.541 calon jemaah haji (Calhaj) asal Kabupaten Jepara yang terbagi ke dalam lima kelompok terbang (kloter) telah diberangkatkan ke Asrama Haji Donohudan, Boyolali.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jepara, Zubed Siamun J, menyebutkan Calhaj Jepara tahun ini terbagi ke dalam kloter 36 hingga 40.

Kloter 36 yang tergabung dengan Kabupaten Demak mulai diberangkatkan pada Minggu (4/5/2026) sekitar pukul 05.00 WIB dari Pendopo Jepara.

Sementara itu, kloter terakhir yang digabung dengan Kabupaten Kudus diberangkatkan pada Senin (5/5/2026) sekitar pukul 09.00 WIB.

“Seluruh kloter calon jemaah haji Jepara, alhamdulillah, sudah berangkat semua ke embarkasi,” ujar Zubed saat ditemui usai pelepasan Calhaj di Pendopo Jepara.

Zubed merinci, kloter 36 terdiri dari 163 Calhaj reguler dan satu Petugas Haji Daerah (PHD). Kloter 37 terdiri dari 353 Calhaj reguler dan dua PHD, kloter 38 terdiri dari 351 Calhaj reguler dan dua PHD, kloter 39 terdiri dari 353 Calhaj reguler dan dua PHD, serta kloter 40 terdiri dari 313 Calhaj reguler dan satu PHD.

Baca juga : Lima Calon Jemaah Haji Jepara Gagal Berangkat ke Tanah Suci

“Kloter pertama, kloter 36, sesuai jadwal pukul 06.00 WIB tadi sudah berangkat ke Arab Saudi, tepatnya ke Kota Madinah, dengan durasi perjalanan sekitar 9 jam,” kata Zubed.

Sementara itu, kloter 37 dijadwalkan terbang ke Madinah pada pukul 11.15 WIB, kloter 38 pada pukul 19.00 WIB, kloter 39 pada Selasa (6/5/2026) pukul 00.00 WIB, dan kloter 40 pada pukul 13.10 WIB.

Zubed menambahkan, awalnya jumlah Calhaj Jepara yang dijadwalkan berangkat sebanyak 1.542 orang. Namun, menjelang keberangkatan terdapat satu calon jemaah dari kloter 37 yang terpaksa menunda keberangkatan karena tidak memenuhi syarat istitha’ah.

Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menyampaikan doa dan harapan kepada seluruh jemaah. Ia berharap seluruh jemaah dapat menjalankan ibadah dengan lancar dan kembali dalam keadaan selamat.

“Semoga seluruh jemaah diberikan kelancaran dan keselamatan. Kami juga memohon doa agar Jepara menjadi makmur, unggul, lestari, dan religius,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Diduga Tawuran Pelajar Berseragam Terjadi di Kudus, Saling Kejar hingga Saling Pukul

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Peristiwa dugaan tawuran pelajar terjadi di wilayah Kabupaten Kudus, tepatnya di Jalan Bareng–Colo, Desa Rejosari, Kecamatan Dawe, Senin (4/5/2026). Sejumlah siswa yang masih mengenakan seragam sekolah terlihat terlibat aksi saling kejar dan pemukulan di jalan.

Dalam aksi yang beredar, tampak pula beberapa pelajar menyalakan petasan.

Salah satu saksi mata yang berada di lokasi kejadian, Ruslan, menuturkan bahwa keributan bermula dari sekelompok pelajar yang datang dari arah selatan menuju utara. Situasi kemudian memanas hingga terjadi aksi saling serang.

“Awalnya ramai dari arah sana, terus berhenti, lalu tidak tahu pasti di titik mana, tiba-tiba sudah berantem,” ujar pria yang biasa berjualan cilok di sekitar lokasi kejadian.

Menurutnya, para pelajar tersebut berlarian sambil saling memukul. Aksi itu berlangsung secara berkelompok dan sempat membuat situasi sekitar menjadi gaduh.

“Ada yang dipukul, ada yang saling pukul. Rame-rame soalnya banyak,” katanya.

Ia menyebut para pelajar yang terlibat masih mengenakan seragam sekolah. Namun, tidak terlihat adanya senjata tajam yang dibawa.

“Sepertinya tidak ada senjata tajam, paling hanya benda seadanya seperti bambu,” tambahnya.

Peristiwa tersebut diperkirakan terjadi pada Senin (4/5/2026) pukul 12.30 WIB, bertepatan dengan jam istirahat sekolah. Meski demikian, belum diketahui secara pasti jumlah pelajar yang terlibat maupun pemicu utama keributan.

Sementara itu, Kepala SMKN 2 Kudus, Budi Susanto, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti kronologi kejadian yang berada tak jauh dari lokasi sekolahnya.

“Saya tidak tahu secara pasti kronologi kejadian karena pada saat itu sedang ada acara di luar sekolah. Informasinya, siswa kami diserang dari dua SMK,” ungkapnya.

Ia menambahkan, untuk saat ini pihaknya mendatangi kantor Kepolisian Sektor (Polsek) setempat karena sebelumnya sudah diimbau oleh dinas terkait untuk datang ke Polsek.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang terkait insiden tersebut, termasuk apakah ada korban luka atau langkah penanganan yang telah dilakukan.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

46 CPNS Kudus Resmi Jadi PNS, Bupati Tekankan Peningkatan Pelayanan Publik

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebanyak 46 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kudus resmi menyandang status sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pengangkatan tersebut ditandai dengan pengambilan sumpah dan penyerahan Surat Keputusan (SK) oleh Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, di Pendapa Belakang Kabupaten Kudus, Senin (4/5/2026).

Dalam arahannya, Sam’ani menekankan pentingnya kesiapan aparatur dalam memberikan pelayanan publik. Ia meminta para PNS yang baru dilantik untuk segera beradaptasi dan menunjukkan kinerja terbaik.

“Status sudah berubah menjadi PNS, maka tanggung jawabnya juga semakin besar. Berikan pelayanan terbaik dan jaga etika sebagai aparatur pemerintah,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala BKPSDM Kudus, Tulus Tri Yatmika, menjelaskan bahwa puluhan PNS tersebut berasal dari berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) dengan beragam formasi jabatan fungsional.

Rinciannya meliputi tujuh analis keuangan pusat dan daerah ahli pertama di BPKAD, tujuh auditor ahli pertama di Inspektorat, serta sembilan dokter ahli pertama yang ditempatkan di RSUD Kudus. Selain itu, terdapat satu dokumentalis hukum di Bagian Hukum Setda dan satu operator administrasi kependudukan di Disdukcapil.

Baca juga : Usai Viral Pungutan Rp 100 Ribu, Bupati Kudus Perintahkan Pembubaran Lapak “Sekretariat” PKL CFD

Di sektor perencanaan, empat peneliti ahli pertama ditempatkan di Baperinda. Kemudian enam pengawas penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah di Inspektorat, dua perancang peraturan perundang-undangan di Bagian Hukum, serta tujuh tenaga sanitasi lingkungan yang tersebar di sejumlah puskesmas.

Tulus menegaskan, perubahan status dari CPNS ke PNS harus diiringi peningkatan kualitas kerja, meskipun para pegawai tersebut sebelumnya telah menjalankan tugas.

“Dengan status baru ini, kami berharap pelayanan kepada masyarakat bisa semakin optimal,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa disiplin tetap menjadi perhatian utama. Pegawai yang melanggar aturan, khususnya terkait kehadiran dan pelayanan, akan dikenai sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.

“Jika terbukti tidak menjalankan tugas dengan baik atau meninggalkan tempat kerja tanpa izin, tentu ada konsekuensi yang harus diterima,” tegasnya.

Salah satu ASN yang baru diambil sumpah, Gisela Adio Ros Maria, mengaku tengah beradaptasi dengan lingkungan kerja barunya. Sebelumnya, ia berkarier di sektor swasta sebagai asisten peneliti.

“Sekarang saya di bagian peneliti di Baperinda Kudus. Rencana ke depan akan fokus pada penelitian ekonomi syariah, seperti pengembangan perizinan halal dan kekayaan intelektual (HAKI),” tuturnya.

Perempuan asal Jakarta itu mengaku telah tinggal di Kudus selama satu tahun sejak diangkat sebagai CPNS dan kini semakin siap menjalankan peran barunya sebagai ASN. Ia pun merasa senang bisa diangkat menjadi PNS.

Selain pengangkatan 46 PNS, pada kesempatan yang sama Pemkab Kudus juga menetapkan 51 pegawai dalam jabatan fungsional. Pemerintah daerah berharap seluruh ASN yang dilantik dapat bekerja profesional dan berkomitmen dalam melayani masyarakat.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Empat Calhaj Kudus Gagal Terbang Tahun Ini

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Ribuan calon jemaah haji (calhaj) asal Kabupaten Kudus mulai diberangkatkan hari ini, Senin (4/5/2026). Sesuai jadwal, upacara pelepasan pemberangkatan calhaj asal Kudus menuju Asrama Haji Donohudan dilaksanakan di Pendapa oleh Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris.

Diketahui, ada dua kelompok terbang (kloter) yang diberangkatkan hari ini, yakni kloter 40 dilepas pada pukul 08.00 WIB dan kloter 41 dilepas pukul 11.00 WIB. Sedangkan kloter 42, 43, dan 44 dijadwalkan berangkat dari Pendapa pada Selasa (5/5/2026) mulai dini hari.

Dalam jadwal pemberangkatan calhaj Kudus tahun ini terdapat perubahan manifes. Berdasarkan data dari Kantor Kemenag Kabupaten Kudus, semula ada sebanyak 1.210 orang, termasuk tujuh Petugas Haji Daerah (PHD) yang diberangkatkan. Namun, data terakhir menunjukkan perubahan, dengan empat orang calhaj asal Kudus gagal terbang.

Ketua Panitia Pemberangkatan dan Pemulangan Haji (P4H) JHK/IPHI Kudus, Deka Hendratmanto, mengatakan bahwa setiap kloter dari Kabupaten Kudus bersifat utuh. Hanya saja, ada beberapa calhaj yang tidak lolos istitaah (tes kesehatan).

“Kloter 41, 42, 43 itu prinsipnya utuh, hanya memang ada satu-dua jemaah yang tidak istitaah. Gagal memenuhi istitaah harus digantikan dari kabupaten lain. Bukan sistemnya yang maju, tapi diganti agar lebih mudah,” bebernya usai pelepasan calhaj kloter 41 di Pendapa Kabupaten Kudus, Senin (4/5/2026).

Selain tidak lolos istitaah, ada juga calhaj yang batal berangkat karena mengalami kejadian tak terduga. Salah satu calhaj dari Kudus wafat, sehingga pasangannya melakukan tunda keberangkatan.

Baca juga : Jadwal Berubah, Dua Kloter Haji Kudus Berangkat Dini Hari Selasa

Oleh sebab itu, total calhaj Kudus yang berangkat ke Asrama Haji Donohudan berjumlah 1.206 orang, termasuk PHD. Ia merincikan, kloter 40 jumlah jemaahnya 38 orang sesuai dengan data awal dan bergabung dengan Kabupaten Jepara.

Kemudian, kloter 41 terdapat 355 calhaj yang semula 356 orang karena terkendala istitaah. Nantinya, kuota tersebut dipenuhi oleh calhaj dari Kabupaten Brebes.

Lalu, kloter 42 awalnya terdapat 356 calhaj, tetapi satu di antaranya tunda berangkat karena terkendala istitaah. Kursi kosong tersebut bakal diisi calhaj dari Kabupaten Cilacap.

Sementara itu, kloter 43 terdapat 352 calhaj yang berangkat ke asrama haji dari total awal 354 orang. Semula, kekosongan dua kuota tersebut digantikan oleh calhaj asal Tegal, tetapi berdasarkan informasi terbaru, dua kursi itu bakal diisi calhaj asal Kabupaten Pati.

Terakhir, kloter 44 dinyatakan aman tanpa ada calhaj yang tunda berangkat. Total calhaj yang tergabung dalam kloter tersebut adalah 106 orang.

“Kalau jumlahnya kemarin itu saya informasikan 1.210 orang, tinggal dikurangi empat,” ujarnya.

Deka menyebutkan, calhaj akan menjalani pengecekan kesehatan secara final saat berada di Asrama Haji Donohudan. Pengecekan tersebut dilakukan sebelum para calhaj memasuki embarkasi.

“Finalnya di sana sebenarnya. Jadi meskipun di sini lolos, tapi finalnya tetap di embarkasi. Pengecekan terakhirnya,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, yang melepas calhaj menitipkan pesan kepada seluruh calhaj kloter 41 yang telah diberangkatkan agar tetap menjaga kesehatan. Ia mengingatkan bahwa cuaca di Tanah Suci sangat panas.

“Alhamdulillah keberangkatan kloter 41 kumpul semua dari Kudus, semoga nanti para calhaj tetap sehat sehingga bisa melaksanakan rukun dan wajib haji, serta pulang mendapatkan gelar haji mabrur,” harapnya.

Ia juga memohon kepada para calhaj untuk mendoakan Kabupaten Kudus agar aman, sejahtera, makmur, dan terhindar dari bencana.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Geger Darah Berceceran di Jalan Desa Jurang Kudus, Ternyata Ini Faktanya

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Warga Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, sempat dibuat geger dengan temuan darah berceceran di ruas jalan Dukuh Manisan, Desa Jurang, Minggu (3/5/2026) malam. Temuan itu bahkan sempat viral di media sosial dan memicu berbagai spekulasi.

Kapolres Kudus AKBP Heru Dwi Purnomo melalui Kapolsek Gebog AKP Siswanto mengatakan peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 19.00 WIB. Informasi yang beredar di media sosial kemudian ditindaklanjuti petugas dengan mendatangi lokasi.

“Hasil pengecekan di lapangan dan keterangan warga, kejadian itu akibat kecelakaan lalu lintas berupa senggolan antar sepeda motor,” kata AKP Siswanto melalui siaran tertulis, Senin (4/5/2026).

Ia menjelaskan, korban berinisial MRM (14), warga Desa Jurang, saat itu mengendarai sepeda motor Honda Karisma bersama dua temannya. Mereka melintas di Jalan Rahtawu Raya, tepatnya di depan taman Desa Gondosari, Kecamatan Gebog.

Saat melaju dari arah utara, tiba-tiba muncul sepeda motor dari arah berlawanan yang hendak menyalip kendaraan lain. Kendaraan tersebut terlalu mengambil jalur kanan hingga menyerempet korban.

“Korban tidak sampai terjatuh, namun mengalami luka robek di kaki kanan bagian bawah hingga mengeluarkan cukup banyak darah,” jelasnya.

Usai kejadian, korban bersama rekannya pulang melalui jalan desa di wilayah Dukuh Manisan. Darah yang terus keluar membuat jejak berceceran di sepanjang jalan hingga memicu keresahan warga.

Petugas Polsek Gebog kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan meminta keterangan saksi. Polisi juga melakukan pengecekan ke sejumlah rumah sakit di wilayah Kudus untuk memastikan keberadaan korban.

“Setelah kami lakukan penelusuran, korban ditemukan sedang menjalani perawatan di RSI Sunan Kudus,” ungkapnya.

Diketahui, korban langsung dibawa keluarganya ke rumah sakit setelah tiba di rumah. Ia mendapatkan penanganan medis atas luka yang dialaminya.

Polisi menegaskan tidak ada unsur kriminal dalam peristiwa tersebut. Masyarakat juga diimbau tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya.

“Kami pastikan ini murni kecelakaan lalu lintas,” tegas AKP Siswanto.

Sebelumnya, warga yang menemukan darah di jalan sempat melapor ke Polsek Gebog. Petugas kemudian bergerak cepat untuk memastikan situasi tetap aman dan kondusif.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

562 Atlet Muda Ramaikan MilkLife Archery Challenge Seri 1 2026 di Kudus

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Sebanyak 562 atlet panahan usia dini dari berbagai daerah di Jawa Tengah ambil bagian dalam MilkLife Archery Challenge Seri 1 2026. Ajang ini digelar di Supersoccer Arena, Kudus, sejak 30 April hingga 2 Mei.

Para peserta berasal dari 120 SD/MI dan 17 SMP/MTs yang bersaing secara kompetitif membidik target untuk meraih poin tertinggi. Turnamen ini menjadi salah satu wadah unjuk kemampuan bagi atlet muda berbakat di cabang olahraga panahan.

Kompetisi yang diinisiasi Bakti Olahraga Djarum Foundation bersama MilkLife ini mempertandingkan lima kategori, yakni Nasional U-10, U-13, U-15 serta PVC U-10 dan U-13. Para atlet berlaga di nomor individu dan beregu untuk mengharumkan nama sekolah masing-masing.

Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, mengatakan turnamen ini bertujuan memberikan ruang kompetisi bagi atlet usia dini. Selain itu, ajang ini juga menjadi bagian dari pembinaan berkelanjutan untuk mencetak atlet panahan berprestasi.

“Ajang kompetisi seperti ini memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan pembinaan atlet usia dini,” ujar Yoppy.

Ia menambahkan, pengalaman bertanding secara konsisten akan membantu atlet mengasah teknik dan mental. Dengan begitu, para atlet memiliki bekal untuk berkembang dan berprestasi di masa depan.

Ketua Panitia Pelaksana, Vera Eka Wardani, menyebut cakupan usia peserta yang semakin luas memperkuat ekosistem panahan di level grassroot. Menurutnya, penggunaan kategori umur “under” sesuai aturan PB Perpani membuka peluang lebih besar bagi atlet muda untuk berpartisipasi.

“Harapannya, semakin banyak siswa yang mencintai olahraga panahan sehingga tercipta regenerasi atlet yang berkualitas,” kata Vera.

Baca juga : MilkLife Soccer Challenge 2025–2026 Memasuki Seri 2, Bayan Peduli Berkontribusi di Kalimantan

Persaingan Ketat di Babak Final

Partai final berlangsung dalam tensi tinggi dengan persaingan ketat antarfinalis. Para atlet menunjukkan fokus, presisi, dan konsistensi dalam setiap bidikan untuk mengumpulkan poin maksimal.

Di kategori PVC U-10 Putri, Anindhita Keysia Sukmawardhana dari MI NU Banat Kudus meraih juara usai mengalahkan Alesha Makaila Kheiran dengan set point 6-0 (78-64). Sementara pada PVC U-10 Putra, Louis Kafabillah Hasan dari SDUT Bumi Kartini Jepara menang 6-2 (100-93).

Pada kategori PVC U-13 Putri, Annahiza Qiana Syakira dari SD IT Al Ihsan menang 6-2 (111-109) atas Aura Nagita Anggraeni. Sedangkan di PVC U-13 Putra, Ahmad Umar Al Fatih keluar sebagai juara setelah mengalahkan Muhammad Rajib Mahasin dengan set point 7-1 (118-109).

Al Fatih mengaku kemenangan ini diraih berkat latihan rutin dan ketenangan saat bertanding. Ia juga bertekad untuk terus meningkatkan kemampuan agar tetap berprestasi.

“Tahun ini lawannya luar biasa, tapi saya berusaha tetap tenang saat membidik,” ujar Al Fatih.

Di kategori Nasional U-10 Putri, Latisya Innara Surya Putri dari SD Negeri 7 Wonogiri menang 6-0 (89-79) atas Azka Aulia Nurinnajwa. Sementara di sektor putra, Ardifa Oceano Mahasin keluar sebagai juara dengan skor 7-1 (115-107).

Latisya mengaku kunci kemenangannya adalah tetap rileks saat bertanding. Ia merasa percaya diri meski baru pertama kali tampil di partai final.

“Saya mencoba tetap tenang dan fokus pada target,” katanya.

Di kategori Nasional U-13 Putri, Aisyah Aulia Syifaunnisa menang 7-3 setelah bertanding lima seri. Sedangkan di sektor putra, Judistira Putra Wiarta memastikan kemenangan dengan set point 6-2.

Pada kategori Nasional U-15 Putri, Nadia Salsabila meraih juara setelah menang tipis 6-4. Sementara di sektor putra, Fathir Athailla Afandi menang telak 6-0 dalam tiga seri.

MI NU Banat Raih Juara Umum

MI NU Banat Kudus kembali tampil dominan dengan meraih gelar juara umum. Tim ini mengumpulkan tiga medali emas dan satu perak dari berbagai nomor pertandingan.

Keberhasilan tersebut menjadi hattrick bagi MI NU Banat dalam ajang ini. Prestasi itu diraih berkat konsistensi latihan serta dukungan sekolah dan orang tua.

Kepala MI NU Banat, Faukhil Wardati, menyampaikan rasa syukur atas pencapaian tersebut. Ia menegaskan pihaknya akan terus mempertahankan tradisi juara dengan menyiapkan atlet terbaik.

“Kami akan terus berlatih dan menyiapkan atlet berkualitas untuk mempertahankan gelar ini,” ujarnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Ribuan Pelari Ramaikan Muria Fun Run 2026, Angkat Sport Tourism Kudus

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Suasana pusat Kabupaten Kudus tampak semarak saat ribuan pelari memadati kawasan Simpang Tujuh Alun-alun Kudus dalam gelaran Muria Fun Run 2026, Minggu (3/5/2026). Ajang lari sejauh 5 kilometer ini sukses menarik 2.750 peserta dari berbagai daerah.

Momentum tersebut dibuat khusus untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei. Peserta yang ikut berasal dari beragam kalangan, mulai dari pelajar, guru, hingga masyarakat umum. Tak hanya dari Kudus, sekitar 30 persen pelari datang dari luar daerah, bahkan ada yang jauh-jauh hadir dari Makassar.

Penyelenggara kegiatan, Muhammad Antono, mengatakan pelaksanaan tahun ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya diikuti sekitar 2.200 peserta.

“Antusiasme masyarakat luar biasa. Tahun ini jumlah peserta meningkat cukup tajam, termasuk dari luar daerah,” ujarnya.

Ia menambahkan, seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan penuh semangat kebersamaan. Menurutnya, ajang ini bukan sekadar kompetisi, melainkan ruang untuk mempererat hubungan sosial sekaligus membudayakan hidup sehat.

Rute yang dilalui peserta dimulai dari Alun-alun Kudus, melintasi Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Diponegoro, hingga Jalan Sunan Muria. Pelari kemudian melanjutkan perjalanan ke Jalan Veteran, Jalan KH Turaichan, dan melewati kawasan ikonik Menara Kudus sebelum kembali ke titik finis di Simpang Tujuh.

Keberadaan Menara Kudus menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta, terutama pelari dari luar kota yang dapat menikmati suasana khas Kota Kretek selama berlari.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, menilai kegiatan ini memberikan dampak positif yang luas. Selain mendorong gaya hidup sehat, event tersebut juga berkontribusi pada sektor pariwisata dan perekonomian lokal.

“Ini bukan hanya olahraga, tetapi juga bagian dari pengembangan sport tourism. UMKM ikut merasakan dampaknya dari meningkatnya kunjungan masyarakat,” jelasnya.

Meski berlangsung meriah, Bupati juga menyoroti masih adanya sampah di beberapa titik rute. Ia mengingatkan pentingnya kesadaran bersama dalam menjaga kebersihan lingkungan agar kegiatan serupa ke depan semakin nyaman.

“Harapannya ke depan, event seperti ini tidak hanya meriah, tetapi juga bersih dan tertib,” ungkapnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Literasi Jateng Merosot ke Peringkat 12 Nasional, Nawal Targetkan Kembali ke Posisi Dua

0

BETANEWS.ID, KUDUS – Tingkat Gemar Membaca (TGM) dan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) di Provinsi Jawa Tengah (Jateng) pada tahun 2026 mengalami penurunan. Bunda Literasi Jateng sekaligus Ketua TP PKK Jateng, Nawal Arafah Yasin, menargetkan peringkat daerahnya kembali masuk dua besar nasional.

Pihaknya menegaskan sangat mendukung kegiatan yang dilakukan oleh Bunda Literasi Kabupaten Kudus. Menurutnya, hal tersebut merupakan salah satu langkah untuk meningkatkan literasi masyarakat, di antaranya dengan mendorong kunjungan ke perpustakaan.

“Perlu saya sampaikan di sini, untuk TGM dan IPLM kita (Provinsi Jateng) secara data menurun pada tahun ini. Untuk itu, saya akan berkoordinasi dengan banyak pihak untuk lebih menguatkan lagi bagaimana TGM dan IPLM ini bisa naik,” bebernya saat mengunjungi Gedung Perpustakaan Kudus, Jumat (1/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa saat ini peringkat TGM Provinsi Jawa Tengah berada di posisi ke-12 secara nasional. Mengingat sebelumnya pernah berada di posisi kedua, pihaknya menargetkan dapat mengembalikan capaian tersebut.

“Jadi dulu sempat di posisi kedua secara nasional. Sehingga kita ingin mengembalikan TGM kita ke posisi kedua secara nasional seperti sebelumnya,” terangnya.

Baca juga : Kunjungi Perpustakaan Kudus, Nawal Janjikan Bantuan Buku

Selain itu, kata dia, di Pulau Jawa, Provinsi Jateng menempati peringkat kedua terbawah setelah Banten dalam hal literasi. Oleh sebab itu, pihaknya tidak hanya akan mengembangkan literasi umum, tetapi juga memperhatikan kemampuan baca tulis Al-Qur’an yang juga berada di posisi bawah di Pulau Jawa.

“Harapannya semua literasi di Jateng ini akan kita kembangkan. Tidak hanya secara umum, tetapi ada juga yang perlu kita perhatikan yakni baca tulis Al-Qur’an yang saat ini juga peringkat kedua terbawah setelah Banten,” jelasnya.

Penurunan angka TGM dan IPLM Jateng tahun ini disebabkan lemahnya koordinasi serta belum masifnya pergerakan peningkatan literasi. Ke depan, pihaknya akan mengoptimalkan upaya tersebut, salah satunya dengan meningkatkan kunjungan ke perpustakaan sebagai salah satu indikator.

“Jadi kita harus tingkatkan juga, seperti mengadakan event-event supaya kunjungan ke perpustakaan lebih banyak lagi. Kami juga akan menguatkan koordinasi bersama OPD-OPD dengan budaya-budaya literasi di Jawa Tengah,” sebutnya.

Tak hanya itu, faktor lain yang menyebabkan angka IPLM Provinsi Jateng menurun adalah pengisian angket yang seharusnya dilakukan di sekolah-sekolah sempat tidak terlaksana.

Meski begitu, Nawal mengungkapkan bahwa saat ini perpustakaan desa dan desa-desa literasi mulai bermunculan. Hal tersebut menjadi kabar baik untuk mendorong peningkatan literasi masyarakat.

“Seperti di Batang mulai muncul desa literasi. Kemudian sebagai juara satu nasional desa literasi dengan perpustakaan desanya yaitu di Desa Salam, Kabupaten Magelang. Maka dari itu saya berkomitmen untuk bersama-sama bisa meningkatkan lagi,” ungkapnya.

Pihaknya menyadari bahwa peningkatan literasi masyarakat di Provinsi Jawa Tengah tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri. Oleh karena itu, diperlukan keterlibatan seluruh komponen, termasuk Dinas Pendidikan. Terlebih, dalam waktu dekat pihaknya akan menggelar rapat kerja (rakor) untuk memastikan semua pihak turut serta menyukseskan program literasi.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Brayo, Jualan Tradisional yang Ternyata Bisa Turunkan Gula Darah

0
Makanan tradisional brayo yang dijual di Pasar Soko Puluhan, Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati. Foto: Hanifah Febria Dwiyanti, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Di tengah ramainya para penjual di pasar tradisional, terlihat seorang perempuan cekatan mengambil beberapa brayo dan membungkusnya dengan daun jati. Hal itu tampak dari antrean pembeli yang silih berganti. Perempuan tersebut yakni Sunipah (54), penjual brayo di Pasar Soko Puluhan, Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati.

Setelah melayani pembeli, warga Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati itu bersedia berbagi cerita soal usahanya. Ia menuturkan, sudah puluhan tahun menjadi penjual brayo sejak tahun 2014, sejak anak bungsunya belum sekolah hingga kini sudah di bangku SMA.

“Saya sudah sepuluh tahunan lebih jualan brayo, dari anak saya belum sekolah sampai anak ketiga saya kelas sebelah SMA,” terang perempuan yang akrab disapa Um itu saat ditemui beberapa waktu lalu.

Baca juga: Gunakan Kuah Susu, Soto Betawi Jadi Favorit Baru di Warung Mubarok

Um memilih menjual brayo karena termasuk jajanan yang langka dan banyak khasiatnya. Brayo yang ia jual berasal dari tanaman mangrove yang ia dapat dari tepi pantai. Biasanya Um memetik dari Pantai Rembang, Juwana hingga Semarang.

“Brayo itu musiman, biasanya saya metik kalau kemarau. Kalau tidak musim ya saya tidak jualan, tapi Alhamdulillah dari Syawal sampai bulan ini saya jualan terus,” jelas ibu tiga anak itu.

Menurut Um, brayo memang disukai masyarakat sejak dulu. Meski rasanya cenderung pahit, brayo banyak khasiatnya, di antaranya sebagai penurun diabetes dan dipercaya mengobati sakit perut.

“Tetangga saya dulunya punya diabetes sampai 400, sekarang bisa turun sampai 100 karena rutin makan brayo. Apalagi minum air rebusannya, malah makin mujarab untuk menurunkan kadar gulanya,” ujar warga asli Jaken, Pati itu.

Ia menuturkan bahwa sebelum direndam, buah tersebut harus dikupas terlebih dahulu, dicuci berkali-kali hingga kulit luarnya terkelupas, lalu direbus dan dibolak-balik agar matangnya merata.

Baca juga: Dari Coba-Coba, Sosis Ayam Solo Siti Ternyata Digandrungi Warga Kudus

“Buahnya harus diplereti sampai kulit luarnya terkelupas, pencuciannya juga harus berkali-kali, karena kalau tidak begitu rasanya pahit banget,” bebernya.

Um juga menambahkan, dalam sehari ia bisa menjual 25 kilogram brayo. Satu bungkus brayo dengan topping kelapa parut dihargai Rp1.000 saja.

“Alhamdulillah peminatnya masih bangak. Biasanya saya mulai berjualan sejak pukul 05.30 WIB hingga 09.30 WIB,” tambahnya.

Penulis: Hanifah Febria Dwiyanti, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Dari Coba-Coba, Sosis Ayam Solo Siti Ternyata Digandrungi Warga Kudus

0
Lapak Sosis Ayam Solo milik Siti Masrofah di tepi Jalan Mayor H Basuno, Kudus. Foto: Hanifah Febria Dwiyanti, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Seorang wanita berbaju hitam terlihat sibuk melayani pembeli di lapak Sosis Ayam Solo di tepi Jalan Mayor H. Basuno. Dengan ramah, wanita itu juga sesekali mencairkan suasana dengan mengobrol bersama pelanggannya. Dia adalah Siti Masrofah (43), owner Lapak Sosis Ayam Solo.

Setelah melayani pembeli, Siti lalu berkisah soal rintisan usaha tersebut. Ia menuturkan, usaha Sosis Ayam Solo yang baru dilaunching pada 2023 itu merupakan sekian banyak usaha yang sudah dirintisnya.

“Beberapa usaha saya yang sudah berjalan sebelumnya harus tutup karena berbagai kendala. Sekarang fokus ini,” tegasnya.

Baca juga: Gunakan Kuah Susu, Soto Betawi Jadi Favorit Baru di Warung Mubarok

Ia mengaku ide usahanya itu muncul karena melihat YouTube. Setelah berkali-kali menonton, akhirnya Siti menemukan satu jajanan yang jarang ditemui di Kudus, yaitu Sosis Ayam Solo. Dengan kesabarannya, ia mulai berlatih dan mencoba menitipkan dagangannya di salah satu pedagang yang ada di depan pabrik. Ternyata banyak yang suka dengan jajanan buatan Siti itu.

“Berawal dari saya nyetori teman saya itu, mulailah ada pedagang lain yang minta untuk disetori. Dari situ saya banyak mendapatkan pesanan dan saya memutuskan untuk berjualan online,” beber Siti saat ditemui benerapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, awalnya ia berjualan sosis ayam solo itu tidak mendapatkan dukungan penuh dari sang suami, karena sebelumnya ia adalah owner di salah satu warung makan. Namun dengan tekadnya bersama sang anak, Siti bisa mewujudkan bisnis tersebut. Alhasil, kini sosis ayam solo buatannya banyak diminati hingga bisa mengantongi omzet per hari mencapai Rp700 ribu.

“Saya buka jualan di pinggir jalan ini dari ide anak saya. Ia membeli gerobak ini dari gaji pertamanya. Ia bertekad kuat untuk membuktikan ke ayahnya bahwa usaha ini bisa laris,” ujar ibu tiga anak itu.

Penulis: Hanifah Febria Dwiyanti, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -